DESTINY | Chapter 8

cover
Title : Destiny ( Chapter 8 )
Author : PJ
Cast :
• Sabrinna Aspinnal /Kim Hana (OC)
• Xi Luhan
• Byun Baekhyun
• Jung Eunji (Apink)
• And other cast
Lenght : Chapter
Rating : PG-17
Genre : Romance, school life, family, married life

 
Warning !! Cerita yang mungkin sangat membosankan , typo bertebaran , and tentunya mungkin nggak ngefeel banget , but at least this is pure my imagination . Always say thanks to readers thanks to all , don’t forget to RCL …. let’s check it out !

 
HAPPY READING !!!!

 

 

Chapter 7 : https://noonabyun.wordpress.com/2015/06/20/destiny-chapter-7/

 

 

Destiny !!! Chapter 8 !

 

 

Luhan menyerngitkan dahinya heran setelah membaca pesan itu . Tapi dia tidak menggubrisnya dan ia masukkan lagi benda persegi itu dalam sakunya .

 
“Maaf guru , aku tadi lepas kendali “

 
“Aku tahu “, Sahut Hana dengan sedikit kesal . Untuk kedua kalinya ponsel Luhan bergetar lagi . Dengan kesal ia merogohnya lagi , siapa yang iseng sedang mempermainkannya , mungkin begitulah yang dia pikirkan . Dia melihat sebuah pesan lagi pada ponselnya .

 
Private number :

 
Pulanglah ! atau sesuatu akan terjadi pada orang-orang di sekelilingmu !

 

 

Hana berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah . Luhan masih saja memandang layar ponselnya dengan rasa penasaran . Dia mengerutkan dahinya dan menautkan kedua alisnya seraya berpikir keras . Dia berpikir , apakah pesan itu adalah sebuah ancaman ? ancaman yang ditujukan padanya ? Beberapa saat kemudian , dia memutuskan untuk tidak ambil pusing atas perbuatan seseorang yang mengiriminya pesan ancaman itu . Dia segera beranjak dari tempatnya dan berjalan masuk ke dalam rumah itu menyusul Hana .

 
Luhan menghampiri Hana yang sedang duduk di sofa dan menonton tv dengan serius . Dia memicingkan matanya dan memandang Hana dengan penasaran , penasaran dengan apa yang di lihat Hana pada layar tv itu sehingga terlihat sekali keseriusan pada wajah Hana . Luhan mengalihkan pandangannya dari Hana ke layar tv dimana ada sebuah program berita yang sedang di tayangkan . Dia membelalakkan matanya setelah melihat tayangan berita di tv itu .

 
Luhan duduk di samping Hana dan berusaha meraih remote tv untuk mematikan tv itu . Dia tidak ingin Hana melihat berita di tv itu lebih lama . Dengan segera dia menyambar tanpa ijin remote yang ada di pegangan Hana . Akan tetapi , wanita itu dengan gerakan cepatnya juga sedikit menjauhkannya , membuat Luhan mendengus kesal karena usahanya gagal .

 
Semangat Luhan untuk merebut remote tidak berhenti di situ saja . Dia berusaha untuk merebut remote yang ada di tangan Hana untuk mematikan tv itu . Hana juga tak kalah dengan Luhan , dia juga berusaha menghindar dari serangan Luhan , dan kelihatannya mereka berdua sedang perang berebut remote . Akhirnya Luhan naik ke sofa dan memegangi kedua tangan Hana , dan tanpa sengaja tubuhnya terjatuh sehingga menindih Hana yang berada di bawahnya . Dalam posisi seperti itu , orang yang melihatnya akan salah paham .

 
Hana kaget menyadari tubuh Luhan yang berada di atasnya . Jarak keduanya sangatlah dekat sekali , tanpa ada sekat apapun . Hana menatap wajah Luhan yang ada di depannya lekat-lekat . Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menelan salivanya, dadanya berdetak begitu cepat begitupun dengan Luhan . Demi apapun , Hana masih saja terpesona dengan ketampanan wajah yang ada di hadapannya itu . Sementara itu , Luhan dengan tatapan mata seduktiv menatap Hana dan membisikkan sesuatu pada Hana .

 
“Bagaimana kalau kita lanjutkan yang di teras tadi , guru ?” dengan senyum kecil yang menggoda Luhan berujar pada Hana .

 
PLETAKK

 
Sedetik kemudian satu sentilan keras sukses mendarat tepat di dahi Luhan dan ia pun meringis kasakitan .

 
“Ya! Minggir kau Luhan !” Hana segera mendorong tubuh Luhan dari tubuhnya . Mereka segera bangkit dan duduk di sofa seperti sebelumnya , dan kini Luhan berhasil memegang remote tv dan segera mematikan tv itu. Tv yang tadi menyiarkan berita tentang pernikahannya dengan Jung Eunji , anak dari pemilik salah satu perusahaan besar di Korea Selatan .

 
“Pulanglah Luhan “, ujar Hana dengan wajah merunduk . Dia tidak mampu menatap wajah Luhan dan berujar begitu . Luhan menatap dan mengarahkan pandangannya ke arah Hana yang menundukkan wajahnya .

 
“Apa kau mengusirku ?” tanya Luhan dengan nada serius . Sementara Hana hanya mengangguk pelan . Masih saja , dia menudukkan kepalanya dan menatap jari-jari tangannya yang ia letakkan di atas pangkuannya , terlihat jemari-jemarinya itu sedikit gemetar .

 
“Apakah kau benar-benar ingin aku pergi dari sini? Kim Hana , kau tidak ingin melihat wajahku lebih lama lagi ?” Luhan mendekatkan wajahnya dan menatap Hana dengan intens . Tangan Luhan meraih dagu Hana dan mengarahkan pandangan wajah Hana tepat di depannya membuat kedua wajah itu berhadapan .

 
“Lihat aku , apa kau serius kau ingin aku pergi ?” lagi-lagi Luhan melontarkan pertanyaan itu padanya , untuk meyakinkan diri Luhan atas keinginan Hana terhadapnya .

 
“Hum “ jawaban yang singkat ,Hana menjawabnya dengan mengangguk pelan . Dia segera menundukkan kepalanya lagi dan menggigit bibir bawahnya . Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Hana atas ucapannya tadi . Dia merasa tidak enak hati terhadap ucapannya . Dia menyuruh Luhan untuk pergi , padahal dalam hatinya yang terdalam , dia masih saja berharap Luhan tinggal lebih lama lagi .

 
Luhan terdiam sesaat , sepertinya harapan Luhan akan pendirian Hana berubah tidak akan tewujud . Luhan menghela nafasnya panjang dan berdiri dari tempat duduknya .

 
“Baiklah “, ujar Luhan dengan nada rendah

 
“Aku akan pulang “, ujarnya lagi , terdengar rasa kecewa terselip di nada bicaranya.

 
“Hum “ Hana mengangguk pelan dan memaksakan diri untuk tersenyum seiklas mungkin untuk menyembunyikan rasa sedih.

 
“Sampai jumpa “

 
Luhan tidak menoleh kembali , dia memilih untuk melangkah dan keluar dari rumah Hana , sementara itu Hana hanya terdiam dan menatap punggung laki-laki itu dari belakang yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya .

 
Tidak bisa di pungkiri , kepergian laki-laki itu membuat parasaannya membuncah , rasa amarah , ataupun kecewa bercampur aduk jadi satu . Dia meremas dadanya yang terasa begitu sakit . Bohong kalau dia terlihat baik-baik saja . Kepergian Luhan kini mampu membuat hatinya menjerit sakit . Bibirnya yang terkatup terlihat bergetar menahan isakan tangis . Tak terasa , air matanya yang menganakpun meluncur pelan di kedua pipinya . Dan lagi-lagi , Hana telah membuat dirinya sendiri menangis .

 

***

 
Luhan mulai melajukan kendaraannya meninggalkan rumah Hana . Dalam mobilnya , sudut ekor matanya menangkap sebuah mobil hitam yang di lewatinya terparkir di pinggir jalan sedikit jauh dari rumah Hana .

 
“Sepertinya aku pernah melihat mobil itu “, gumam Luhan yang masih saja melihat mobil hitam yang mencurigakan dari spion samping mobilnya .

 

***

 
“Makanan sudah siap “, terdengar suara nyonya Kim dari ruang makan . Hana mendengarnya segera menyeka air matanya dan beranjak dari duduknya lalu melangkah masuk ke dalam ruang makan .

 
“Ajaklah temanmu itu untuk makan dulu “, pinta nyonya Kim terhadapnya sambil menyiapkan beberapa lauk dan makanan di atas meja .

 
“Dia sudah pulang , omma “, jawabnya seraya duduk dan mengambil copsticknya .

 
“Sudah pulang ? Ya ! Sabrinna ! seharusnya kau suruh dia makan dulu , baru pulang , aisshh… kau ini “, Beberapa saat kemudian mereka berdua mulai menyantap makanan yang ada di atas meja .

 
“Apa dia itu namja chingumu ?” tanya Nyonya Kim pada Hana di sela-sela makan mereka .

 
“Hum , tadinya “, jawab Hana

 
“Kenapa ? apa kalian putus ?” tanya nyonya Kim lagi

 
“Dia akan menikah , omma “,

 
“Hah , berani sekali dia memutuskanmu dan ingin menikahi orang lain “,

 
“Aku yang memutuskannya , bukan dia , omma “.

 
“Apa dia anak orang kaya ? dari penampilannya sepertinya begitu “

 
“Hum “,

 
“Ya ! kenapa kau tidak mempertahankannya , Rina ? dasar pabo!” sambil menjitak kepala Hana nyonya Kim berujar padanya , sementara Hana hanya meringis menahan sakit pada kepalanya akibat jitakan ibunya .

 
“Ya ! omma ! sakit tahu , aku bukan perempuan matre , omma “,

 
“Anaknya siapa ? dari perusahaan mana ?” tanya nyonya Kim dengan antusias dan menyelidik .

 
“Anak dari tuan Han Wooyoung , pemilik perusahaan C & G Company “, mendengar dari penjelasan Hana , nyonya Kim membelalakkan matanya dan menelan begitu saja makanan yang ada di mulutnya sehingga membuatnya tersedak . Kelihatannya dia sangat terkejut mendengar penjelasan dari Hana .

 
“Huk..huk..huk..”, Nyonya Kim terbatuk-batuk karena sedakannya itu . Hana segera menghampiri ibunya dan menepuk-nepuk pelan punggung ibunya .

 
“Gwaenchanna ?” tanyannya sambil menepuk-nepuk pelan punggung ibunya dan menyodorkan segelas air putih kepadanya . Nyonya Kim segera meraihnya dan meneguk air putih itu untuk menetralkan sedakannya . Setelah merasa lebih baik , dia membuang napasnya panjang dan berujar pada Hana .

 
“Baguslah kalau kalian sudah putus “, Hana mengerutkan dahinya heran atas ucapan ibunya barusan . Bukankah dia menyuruhnya untuk mempertahankan hubungannya ? mungkin itulah yang Hana pikirkan . Dia tidak habis pikir mengapa ibunya berujar begitu padanya .

 
“Bukankah omma tadi yang menyuruhku untuk memper- “,

 
“Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian “, belum sempat Hana meneruskan omongannya , nyonya Kim telah memotongnya ,mendengarnya lagi , membuat Hana menautkan kedua alisnya menjadi sangat penasaran .

 
“Wae ??”

 
“Suatu saat pasti kau akan tahu sendiri “, jelas nyonya Kim padanya , tapi itu tidak membuat penasaran Hana menghilang begitu saja .

 
“Apakah ini berhubungan dengan Appa ?” nyonya Kim tidak menjawabnya , dia hanya terdiam dan melanjutkan makannya.

 
“Apa kau mencintainya ?” tanyanya pada Hana

 
“Sangat !”

 
“Jika saja seandainya dia bukan anak dari keluarga Han , aku pasti akan merestui kalian.”

 
“Begitu besarkah Omma membenci keluarga itu ?”

 
“Omma bukannya membenci Rina , tapi keadaanlah yang membuatku melakukan hal itu . Jika saja , dia berani menentang sedikit keluarganya , ya.. sedikit saja , pasti rasa benci itu tidak akan muncul dalam diri Omma “.

 

 

Keesokan harinya , Hana keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan dress panjang warna nut yang di sertai mantel yang cukup bagus . Kelihatannya dia ingin pergi ke suatu acara yang formal . Rambutnya yang diikat ekor kuda melihatkan leher jenjangnya dan terlihat sangat cantik .

 
“Mau kemana ?” tanya ibunya Hana yang melihat Hana dengan penampilan yang sedikit berbeda .

 
“Pergi “, jawabnya singkat

 
“Aku tahu kalau kau ingin pergi ,bodoh . Omma tanya mau pergi kamana ?” tanya nyonya Kim kesal

 
“Ke pernikahan “.

 
“Bocah yang kemarin ?”

 
“Hum “, Hana mengangguk singkat

 
“Tunggu sebentar “, nyonya Kim pergi meninggalkan Hana sebentar menuju kamarnya . Sebentar kemudian , nyonya Kim kembali dengan membawa sesuatu di tangannya .

 
“Ini , pakailah , pasti akan terlihat bagus padamu “, sebuah kalung dengan liontin berbentuk dua hati di pasangkan pada leher jenjang Hana .

 
“You look beautifull my dear “, nyonya Kim tersenyum setelah mengenakan kalung itu pada leher Hana . Dan Hana , dia menyunggingkan senyum simpulnya .

 
“Benarkah Omma ?”

 
“Hum , cepatlah pergi ,atau ingin Omma antar ?” tawar nyonya Kim padanya .

 
“Tidak usah “.

 
“Nanti kalau kau pulang aku akan jemput “.

 
“Baiklah , nanti akan aku hubungi Omma nanti “, Hana melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu dan ibunya .

 

***

 
Gangnam , Seoul 09 . 05 AM

 
Di Korea Selatan , hal pertama yang orang lihat dari sebuah undangan pernikahan adalah alamatnya . Dan , di negara yang penduduknya sangat memperhatikan status , punya acara di daerah Gangnam berarti kaya dan makmur .

 
Bagi puluhan ribu pasangan korea , Gangnam adalah tempat yang paling tepat untuk mengikat janji setia , termasuk bagi Jung Eunji dan Xi Luhan . Kedua keluarga itu menganggap itu tempat pernikahan bergengsi . Memang , kedua keluarga itu adalah keluarga yang mempunyai aset-aset yang berharga dan tak ternilai di Korea Selatan dan juga Cina .

 
Dan terlihat sebuah ruangan bernuansa serba putih di hiasi bunga tulip dimana-mana terlihat sangat indah . Choi Seonghee , seorang perencana pernikahan terkenal di Korea Selatan bahkan Internasional , yang menangani pernikahan kedua keluarga itu .

 
“Hari ini adalah hari pernikahanku , pernikahan ?” gumamnya dalam hati . Dengan tampang yang datar , Luhan yang memakai pakaian tuxedo lengkap berdiri di samping pendeta menunggu kadatangan sang mempelai pengantin perempuan . Walaupun itu pernikahan yang tidak diinginkannya , namun dia pun merasa cukup gugup saat itu .
Suara lonceng yang berdentum itu membuat dia membalikkan tubuhnya dan menatap dari kajauhan sosok gadis yang mengenakan gaun putih yang sangat elegan dengan segala atributnya .

 
Jung Eunji , gadis yang sebenarnya tidak ingin dia nikahi itu berjalan sambil bergandengan dengan ayahnya , Tuan Jung . Mereka berjalan menuju altar pernikahan di mana di sana sudah berada sang pendeta dan Luhan , calon suaminya yang sudah menunggu . Jung Eunji yang memakai gaun putih dengan rambut yang terurai di hiasi mahkota kecil di kepalanya terlihat sangat cantik , tidak bisa dipungkiri , Luhan yang menatapnya pun terkesima dan sedikit melengkungkan senyumnya .

 
“Ternyata kau cantik , Eunji –ah “, gumamnya , saat ayah Eunji menyerahkan anak semata wayangnya padanya di depan pendeta .

 
Acara pernikahanpun di mulai dan pendeta mulai membacakan janji pada kedua mempelai itu . Setelah pendeta membacakan doanya , suara tamu terdengar sangat bergemuruh dan ramai . Seperti ritual pada umumnya , sang pendeta memberikan tangan mulus Eunji pada Luhan , dia kemudian mengambil cincin dan di pasangkannya pada jari manis Eunji , begitupun sebaliknya , Eunji melakukan hal yang sama pada Luhan .

 
Setelah beberapa saat , Luhan kemudian mambuka penutup kepala Eunji . Dengan perlahan Luhan mengangkat dagu Eunji dan mengecup bibirnya singkat . Eunji merasa sangat gugup saat itu , menurutnya itu adalah ciuman pertamanya . Rasa panas di wajahnya dapat ia rasakan . Jantungnya berdetak begitu kencang , walaupun Luhan sudah mengalihkan pandangannya . Rasa senang yang menyeruak itu memenuhi hati Eunji saat itu bagai menerbangkan jutaan kupu-kupu yang menggelitiknya .

 
Acara sakral itu berjalan sangat lancar . Kedua pasang orang tua mereka terlihat menyunggingkan senyum mereka bahagia , karena akhirnya anak mereka menikah dan pastinya urusan bisnis mereka juga lancar .

 
Akan tetapi , di tengah-tengah kerumunan para tamu , ada seorang wanita yang berkali-kali menyeka air matanya . Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan pesta yang meriah itu .

 
Saat Luhan mengalihkan pandangannya dari Eunji , sudut ekor matanya menangkap sosok wanita yang ia kenal meninggalkan tempat itu . Dia menolehkan kepalanya kearah wanita yang meninggalkan tempat itu . Luhan sangat kenal akan sosok itu .

 
“Kau ingin aku melupakanmu ? maafkan aku ,aku ingin saja melupakanmu , tapi aku tidak bisa . Aku terlalu mencintaimu , sangat , sangat mencintaimu Kim Hana , maafkan aku , mianhae “, gumam Luhan dalam hati .

 
Hana keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang meniknati pesta pernikahan itu. Dia melangkahkan kakinya pelan menuju tepian jalan . Dia tahu hal ini akan terjadi . Wanita itu menyeka air matanya , dan kali ini tidak akan ada air mata lagi . Sudah merasa cukup baginya , dia ingin sekali pulang . Terlihat dia merogoh ponselnya dan mulai menekan tombol itu untuk menelpon ibunya. Akan tetapi , kelihatannya dia tidak berhasil , dia terus saja menekan ponsel itu untuk menghubungi ibunya .

 

***

 
Jalur Cheongdo

 
Seorang wanita setengah baya sedang mengendarai mobilnya di sebuah jalan yang sepi. Meski sepi , dia tak henti-hentinya melirik kaca spion seakan-akan ada yang sedang membuntutinya atau mengejarnya . Wajahnya tampak tegang dan panik . Ia memegang kemudinya erat-erat , wanita itu terus saja memacu mobilnya dan tidak menghiraukan ponselnya yang terus berdering .

 
Dari belakang muncul sebuah mobil hitam yang melaju sangat cepat , lalu menabrak mobil wanita itu dari belakang . Wanita itu berusaha mengemudikan mobilnya agar tetap stabil , namun tidak bisa menghindari mobil di belakangnya itu , mobil itu terus menabraknya . Mobil yang di tabrak mobil hitam itu akhirnya berguling jatuh dari jalan , dan wanita yang ada di dalam mobil itu terluka parah .

 
Beberapa menit kemudian terlihat seorang polisi menyusuri jalan untuk mencari kedua kendaraan itu . Polisi itu telah menerima laporan dari talki walkinya bahwa ada kecelakaan di jalur Cheongdo . Polisi itu menemukan mobil shilver terdampar di pinggir jalan dalam keadaan rusak parah . Polisi itu turun dari mobil patrolinya dan segera melihat pengemudi mobil yang terluka parah dan mengeluarkan banyak darah .

 

 

Polisi itu mendekati wanita itu dan bertanya apakah dia baik-baik saja dan menenangkannya kalau ambulan segera tiba . Polisi itu lega setelah mendengar mobil sirine ambulan dari kejauhan . Beberapa saat kemudian mobil ambulan datang , beberapa petugas medis segera melarikan korban itu ke Rumah Sakit .

 

***

 
Drrtt 3x

 
Ponsel Hana bergetar , ia segera merogohnya dan mengangkat ponsel itu .

 
“Ya ! Omma ! kenapa tidak menjemputku , huh ?”

 
“…..”

 
“Mwo ??” dia merasa tubuhnya lemas seketika , kakinya bergetar dan tak mampu menopang tubuhnya , dia terhuyung kebelakang , ia merasakan kekhawatiran yang teramat sangat . Entah kabar apa yang baru saja di dengarnya , yang pasti berita yang tidak baik tentunya .

 
Hana berjalan untuk mencari taxi . Kedua tangannya di masukkan kesaku mantelnya , karena udara yang semakin dingin . Matanya sesekali menoleh kebelakang berharap ada taxi yang datang . Untuk beberapa lama , taxi pun belum juga muncul , akhirnya dia berhenti dan berdiri di tepi jalan . Kakinya bergerak-gerak gelisah karena dia ingin sekali pergi ke Rumah Sakit . Karena Hana menerima telepon yang serius dari pihak Rumah Sakit .

 
Dari kejauhan terlihat motor sport yang datang menghampirinya . Dia menyipitkan kedua matanya saat melihat motor sport itu yang semakin lama semakin mendekatinya dan akhirnya berhenti di hadapannya . Terlihat seorang laki-laki jangkung dan membawa sebuah gitar di punggungnya . Laki-laki itu melepaskan helmnya .

 
“Hana –ya “, panggilnya.

 
“Ough , Chanyeol –ah “, Hana sedikit melengkungkan senyumnya , paling tidak dia bisa minta bantuan laki-laki itu untuk mengantarnya ke RS .

 
“Sedang menunggu taxi ? mau kemana ?” tanya laki-laki itu padanya.

 
“Ya , kebetulan sekali , kau dari mana ?” tanya Hana

 
“Dari gedung sebelah mengisi acara pernikahan . Ayo naik , aku akan mengantarmu “, Chanyeol menyodorkan helm lainnya pada Hana . Dia memakai kembali helmnya dan juga Hana . Tanpa ragu Hana segera naik ke motor sport itu , dia menaikkan sedikit gaunnya agar tidak terlihat ribet saat menaikinya .

 
“Mau kemana?” tanyanya pada Hana.

 

“Kita ke Rumah Sakit , cepatlah ini darurat “, pinta Hana pada laki-laki itu.

 
“Arasseo , pegangan jika kau tidak ingin jatuh “, Hana segera kenautkan kedua tangannya pada tubuh Chanyeol saat laki-laki itu mulai menyalakan mesin , dan motor itupun melaju dengan cepat menuju Rumah Sakit .

 

***

 
Seoul Hospital

 
“Aku tidak bisa mengantarmu masuk ke dalam , Hana . Mianhae “, ujar Chanyeol setibanya di depan gedung Rumah Sakit Seoul .

 
“Gwaenchana , gomawo Chanyeol –ah , jangan khawatir ,aku akan masuk sendiri “, Hana segera turun dari motor sport itu dan melangkah masuk ke dalam RS dengan tergesa-gesa .

 
Kini Hana berlari menyusuri Rumah Sakit . Dia menanyakan pada perawat tentang korban kecelakaan di Cheongdo yang terjadi di pagi hari . Hana menyusuri ruang yang di beritahukan oleh perawat itu . Dia menatap korban kecelakaan itu , yang terbaring di ruang isolasi rumah sakit , korban yang ternyata adalah ibunya .

 
“Omma , berjuanglah , kau akan selamat . Jangan tinggalkan aku sendiri “, gumam Hana pada wanita yang terbaring lemah itu .

 
Ponselnya bergetar , sekilas ia melihat ponselnya , terlihat Baekhyun yang menelponnya , akan tetapi dia tidak menjawab telpon tersebut . Hana terus saja menatap ibunya .

 
Beberapa jam kemudian

 
Hana duduk di halte menunggu bus kota . Dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi . Dia menangis tersedu-sedu , air bening itu terus saja meluncur deras membasahi kedua pipinya . Dia menangisi ibunya , menangisi ketidakmampuannya mendampingi ibunya , dan selalu menyia-nyiakan ibunya dan selalu tidak memperdulikan ibunya . Hana terus duduk di sana meski bus yang di tunggunya datang dan pergi . Hana mengangkat kepalanya melihat seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya .

 
TBC ……………..

 

 
Gimana readers ? don’t know what to say deh… paling tidak Like dan Coment kalian sangat berharga sekali buatku . Semoga terhibur and THX…..

Advertisements

5 thoughts on “DESTINY | Chapter 8

  1. siapa yang berniat membunuh eomma hana sich apa mungkin nyonya xi
    dia masih belum menerima jika tuan han masih mencintai wanita lain
    jahatnya keluarga itu
    bahkan kecelakaannya keliatan banget disengaja

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s