The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 3a

tumblr_m3zmqrrXGM1qg9zoro2_500
Tittle : THE MARRIAGE LIFE OF MR BYUN BAEKHYUN (Chap 3a)
Author : PJ
Cast :
• You (OC)
• Byun Baekhyun
• Xi Luhan
• Park Chanyeol
• and other member of EXO
Rate : 19 +
Length : Chapter
Genre : Romance , comedy
Greeting !! Hello guys i’m back again. STILL, dengan hasil translitanku dari fanfic favorite ku ‘ The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun by sundaysundaes ‘. Walaupun tidak se bagus aslinya, tapi tetep saja telah menguras otakku sangat keras, dan semoga kalian bisa menikmatinya, ya..walaupun agak berantakan bahasanya,just keep reading guys, dan jangan lupa like and comentnya, Oya ,kau bisa cek Original storynya di sini,

Link : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/3/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

 

Previous : https://noonabyun.wordpress.com/2015/07/01/the-marriage-life-of-mr-byun-baekhyun-chapter-2b/

 

HAPPY READING !!

Chapter 3a !

The Unofficial First Date

Kau pikir hari ini akan jadi hari yang baik

Kau pikir hari ini, untuk sekali, kau tidak akan bertemu Byun Baekhyun – si egois , tidak bertanggung jawab, brengsek bermuka dua itu (walaupun kemarin kalian berdua bergabung membuat lelucon dengan Luhan, tapi masih , dia adalah sebuah penderitaan yang mungkin lebih baik bagimu untuk kau hindari )

Kau berpikir bahwa hari ini kau akan pergi ke pesta dansa yang bagus, mahal dengan teman gadismu –yang –btw mengaku bahwa dia akan mengenalkanmu dengan seorang laki-laki yang canggih dan baik. Jadi kau memakai gaun yang, yang bagus untuk mengesankan nya pada pandangan pertama. Kau benar-benar memakai make up dan melakukan sedikit shaving, kau mengikal rambutmu, memakai maskara, menaruh parfum mahal pada tubuhmu. Pada dasarnya, kau telah melakukan begitu banyak hal yang tidak biasanya dalam satu malam hanya untuk mengesankan bisa di bilang –seorang laki-laki.

Kau memakai gaun hitam yang paling ketat, memikat, sexy nan elegan yang membungkus seluruh tubuhmu dengan cara yang paling sempurna, kau juga memakai sebuah kalung dengan berlian putih yang elegan melingkar di lehermu, dan kau mengikat rambutmu ke atas agar orang-orang bisa melihat betapa mulusnya kulit leher, bahu dan selangkamu.

Kau sempurna di setiap cara karena kau berpikir kau akan bertemu seorang pria baru yang sempurna di tempat yang paling sempurna dan memiliki dansa yang paling sempurna dan sebuah ciuman yang sempurna untuk mengakhiri sebuah malam yang sempurna.

Jadi saat kau melihat Byun Baekhyun berdiri di depanmu, kau marah besar. Tidak, tidak, anggap saja benar-benar marah.

“Apa yang kau lakukan di sini?” kau bertanya, mengeratkan gigimu saat dia melihat ke arahmu. Kemudian matamu saling bertemu, alis matanya menaut dan dia terlihat sebingung dirimu.

Kau dibuat marah, kau sungguh-sungguh. Tapi Baekhyun sedang memakai tuxedo, dipadu dengan sepasang sepatu pantofel hitam yang elegan dan terlihat mahal dan rambutnya di tarik kebelakang dengan gel. Dia terlihat seperti salah satu laki-laki dari kerajaan Inggis (dengan tampang Asia, tentu saja) saat itu dan kau coba begitu, begitu keras untuk tidak menganga dan hanya ngiler pada pandangannya.

Damn, that boy is fine.

“ Apa yang kau lakukan di sini?” Baekhyun merespon, tangannya dimasukkan di sakunya seperti biasa. Kau melihat cara dia memandangmu dari atas dan bawah, mencatat kehadiranmu, “Dan ada apa dengan gaun itu?”

Kau melipat lenganmu di depan dadamu, dan balas bertanya, “Ada apa dengan tuxedo itu?”

Baekhyun menaikkan alisnya pada nada suaramu. “Well teman Chanyeol sedang memiliki sebuah pesta sarjana kelas tinggi dan pastinya di sebuah hotel berbintang lima, dan dia menyuruhku untuk datang jadi aku berpakaian seperti ini,” jelasnya, menunjuk pada jasnya.

Kau melihat pada sekelilingmu. Sekarang kau sedang berdiri di tepi jalan beberapa meter dari pintu masuk Adventureland Seoul. Sebuah taman hiburan baru yang baru saja di buka tiga bulan yang lalu. Tempat yang tidak ramai sama sekali, berhubung hari itu adalah hari rabu malam dan tidak akhir pekan. Ada beberapa orang yang melintas dan berjalan di jalanan di sini dan di sana. Beberapa dari mereka berjalan memasuki pintu masuk taman hiburan tapi kau tidak melihat Chanyeol atau temanmu – yang tentu saja, menyuruhmu untuk menunggu di sini untuk mereka menjemputmu.

“Jadi dimana Chanyeol sekarang?” tanyamu pada Baekhyun.

Laki-laki itu melihat jam tangannya. Warnanya silver dan jelas-jelas bermerek dan menunjukkan pukul 7.30 malam. “Aku tidak tahu,” jawab Baekhyun, “Kita seharusnya bertemu di sini setengah jam yang lalu –tunggu.” Sorot matanya mengindikasi bahwa dia sedang mulai menyadari sesuatu. “Apa kau menunggu seseorang juga?”

“Yeah, aku seharusnya pergi ke pesta dansa, dan –“

“Apa temanmu yang memintamu?”

“Yeah, dia –“ kau mulai menyadari sesuatu juga. “Oh, shit. Oh no, oh no, oh no!”

Baekhyun melempar tangannya di udara. “Mereka menipu kita!”

“Kenapa mereka menipu kita?” Kau mengerang, menghentak-hentakkan sepetumu di atas tanah, “Dia coba menjodohkanku denganmu lagi, kan? Oh my God, aku akan membunuhnya!”

“Apa?” tanya Baekhyun, tiba-tiba terlihat tidak marah, “Mereka ingin kita jadian? Tunggu, itu masuk akal! Itu sebabnya Chanyeol melihatku aneh akhir-akhir ini. Kupikir itu karena aku menciumnya –“

“God, apa yang akan kulakukan?” kau merengek. “Aku menghabiskan banyak waktu untuk berpakaian seperti ini karena kupikir aku akan bertemu seorang laki-laki yang hot –“

Baekhyun berdehem dan menaikkan satu tangannya, “Hello –“

“Yang jelas-jelas bukan kau, brengsek!” Kau menatap dan menunjuk pada dadanya.

“Hey, hey, hey, simpan pemanasan kasar itu di ranjang, my cute little dongsaeng ~” Sebuah suara yang begitu familiar tiba-tiba saja muncul. Kalian berdua menoleh pada seorang laki-laki yang baru saja menyalami itu.

“Selamat malam, Lovelies~” Kata Luhan, senyuman mata.

“Luhan.” Baekhyun bernafas berat, seolah-olah dia akan meledak.

Luhan menggerakkan jarinya sambil mengklikkan lidahnya. “Luhan –hyungmu, Baekhyun –ah~”

“Luhan.” Ulang Baekhyun, suaranya rendah. “Jika ini salah satu idemu, aku bersumpah –“

“Whoa, whoa, tenang, aku tidak ada hubunagnnya dengan ini.” Jawab Luhan tiba-tiba dengan mengangkat tangannya di udara, menyerah. “Maksudnya, aku mendukungnya tapi itu saja.”

“Mendukung apa?” Potongmu.

“Kencan,” Kata Luhan dengan senang. Tiba-tiba menaikkan tangannya memperlihatkan dua –tiket itu? –kertas tipis di antara jari-jarinya.

“Apa itu?” tuntut Baekhyun, siap manatap mereka.

“Your mother ‘s Dome coupons.” Laki-laki tertua menjawab biasa sebelum dia melempar senyum laki-lakinya. “Tentu saja tiket Adventureland!”

“Kau ingi kita pergi ke taman hiburan?” tanyamu. Luhan mengangguk senang. “Sekarang? Tidakkah kau lihat apa yang kita pakai?”

“Yep. Hanya pakaian sempurna untuk kesempatan sempurna.” Luhan menyeringai lebar.

“Tidak. Pakaian sempurna itu hanya sepasang kaos dan jeans dengan sneaker kotor. Aku tidak akan datang ke sana dengan seperti ini.” Kau menatap intens pada pria China itu sebelum meunjuk jari telunjukmu pada Baekhyun. “Aku tidak akan pergi dengan dia!”

“Hey, hati-hati kau, brengsek,”teriak Baekhyun kembali.

“Tentu saja, tentu saja.” Luhan mengangguk mengerti, lalu dia menghampiri cukup dekat hany untuk melingkarkan lengannya pada bahumu dan bahu Baekhyun. “Tapi hal itu adalah, guys, kalian harus.”

“Kenapa –“ kau sedang di kunci dengan satu klik, dan kau merasa sebuah baja dingin melingkar di pergelangan tangan kirimu. Kau melihat kebawah dan menyadari bahwa kau sedang di borgol. Dan itu bukanlah bagian terparah.

“LUHAN WHAT THE FUCK?!” Maki Baekhyun, menaikkan pergelangan tangan kanannya ke atas di udara dengan kuat dan kau harus meringis saat pergelangan tangan kirimu mengikuti gerakannya.

Ya, kau di borgol pada Baekhyun.

Good bye, handsome, dreamy prince, Hello insolent asshole.

“LEPASKAN INI SEKARANG JUGA!” kau berteriak begitu keras, kau membuat telingamu sendiri berdengung. Luhan tertawa, hampir terjatuh ke lantai saat melihat tampang kalian berdua.

“Bahkan aku ingin saja –“ Luhan berhenti untuk lebih menghirup udara karena dia begitu banyak menghabiskannya untuk tertawa begitu banyak. “ –Aku tidak bisa karena hey, kuncinya di sembunyikan di dalam Haunted Mansion! Jadi kalian harus pergi ke sana, menuju ke Manssion itu dan temukan sendiri.”

Kalian berdua menganga sebelum akhirnya berhenti kembali, “Apa?!”

“Kau mendengarku –“ Luhan benar-benar punya waktu untuk hidupnya. “Dan bagaimana kau menyukai borgolku? Manis, kan?”

Kau melirik kembali pada borgol dan melihat itu, wow, itu bukanlah borgol biasa yang biasanya kau lihat di berita kriminal. Borgol itu tertutup oleh bulu bergambar leopard dan ukurannya lebih besar dari yang biasanya. Mereka juga memberi sedikit lebih ruang untuk pergerakanmu dari yang biasanya, yang tentu saja berubah sungguh aneh.

“Itu adalah salah satu barang favoritku yang kugunakan saat aku, well, kau tahu.” Luhan menggoyangkan alisnya dengan nakal,jari-jarinya melakukan sebuah gerakan cabul yang telah membuatmu malu di situasi yang berbeda. “Aku akan membiarkan kalian menggunakannya juga setelah kencan berakhir. Baekhyun di sini terlihat seperti tipe yang suka mengikat gadisnya di headboard dan –HOLYSHIT BAEKHYUN!”

“Itu untukmu karena berada di sekitar kami, brengsek,” kata Baekhyun, menarik kembali lengannya setelah dia meninju rahang kiri Luhan.

“Great job.” Komentarmu saat kau melihat Luhan tersungkur di tanah dengan kedua tangannya meraba rahangnya.

“Itu keterlaluan! Benar-benar sakit, kau tahu!” Luhan meringis, matanya berair. “God, kenapa aku jadi satu-satunya orang yang mendapatkan pukulan setiap saat? Aku tidak ada hubungannya dengan ini!”

“Jangan khawatir,” kata Baekhyun, menjulurkan lehernya, “Aku akan membunuh Yeol kemudia aku bertemu dia nanti.”

Kau mengngguk. “Dan kekasihnya.”

Baekhyun mengambil tiket dari jari-jari Luhan dan mengibas-ngibaskannya di depanmu. “Ayo selesaikan ini secepat yang kita bisa.” Katanya, “Aku ingi pulang.”

Kau mengangguk lagi setuju dan mengikuti langkahnya saat dia mulai beranjak.

Luhan hanya berdiri. Melambaikan tangannya padamu selamat tinggal sambil berkata, “Have fun, Little dongsaengs ~” saat kau berbalik dan menendangnya dengan sepatumu.

Luhan jatuh lagi ke tanah. “GODDAMN IT –“

“Nice kick.” Komentar Baekhyun.

Kau setengah tersenyum, sangat puas atas tindakanmu, “Thanks.”

***

Kalian berdua memasuki taman hiburan dan kau merasa senang karena tempat itu sedikit sepi saat itu berhubung hari ini bukanlah salah satu akhir pekan yang sibuk. Tapi itu jelas-jelas cukup memalukan memasuki taman hiburan dengan memakai pakaian lengkap dan high class seperti ini –dan juga di borgol satu sama lain.

Ada seorang laki-laki, satu staff yang memeriksa tiket di depan barisan, yang melihatmu dengan tatapan kotor pada wajahnya. Dia sedang melucutimu dengan matanya, meneliti penampilanmu dari ujung kepala ke ujung kaki seolah-olah kau adalah santapan yang lezat untuk dikomsumsi. Kau tidak nyaman dengan caranya memandang, khususnya bagian di mana dia terang-terangan main mata pada bokongmu. Kau ingin sekali mangatakannya untuk berhenti memandangmu seperti itu. Saat tiba-tiba saja Baekhyun bergerak ke depan, menyembunyikanmu di balik punggungnya saat dia dengan keras berkata pada laki-laki itu, “Tolong cek tiket kami.”

Laki-laki itu terkejut untuk beberapa saat dan dia mengambil tiketmu sebelum dia melempar pandangannya pada Baekhyun. Pada saat yang bersamaan, dia melihat borgol dan tersenyum.

“Bukankah kalian terlalu muda bermain dengan mainan semacam itu?” Staff laki-laki itu bertanya, menengok ke sisi sehingga bisa melihatmu lagi. Kau menyadari itu saat dia melihatmu, matanya selalu tertuju pada dadamu, “Dan kupikir itu hanya untuk waktu di ranjang, Nona muda.”

Kau ingin sekali memukulnya tapi Baekhyun lebih cepat.

“Lihat sini, brengsek.” Baekhyun meraih kerahnya dengan tangannya yang bebas dan mendorongnya ke belakang sampai belakang kepalanya membentur dinding terdekat di belakangnya. “Kau seharusnya mulai melepaskan mata kotormu padanya dan lakukan tugasmu dengan benar karena aku benar-benar dalam mood yang tidak bagus sekarang ini.”

Saat laki-laki ingin kembali berkata padanya, Baekhyun memukul lehernya dan laki-laki itu kesakitan.

“B –Baekhyun –“ katamu, mulutmu menganga dan sedikit gugup karena semua orang di sekitarmu sedang memandang melihat kearahmu dengan sorot mata mereka yang terganggu. “Baekhyun, stop it –“

“Apa kau mengerti?” Baekhyun bertanya pada laki-laki itu dan akhirnya dia melepaskan saat dia melihat laki-laki itu mengangguk kepalanya, terlihat seperti dia baru saja menjauh dari kemarahannya.

“K –Kau boleh pergi.” Kata laki-laki itu.

Baekhyun tidak berterima kasih padanya atau bahkan memandang kearahnya. Dia hanya meraih tanganmu dan membawamu pergi.

“T –Thanks.” Katamu, masih sedikit terkejut atas apa yang terjadi.

Baekhyun tidak melihatmu. “Aku tidak melakukannya untukmu. Dia hanya mengesalkanku.”

Kau putuskan hanya untuk tetap diam, karena MAN, Baekhyun benar-benar marah sekarang. Kau tetap diam untuk beberapa saat, hanya membiarkan dia membawamu berkeliling sampai akhirnya dia menggerutu dengan keras dan berteriak, “Where the hell is that Haunted Mansion?!”

Ada sebuah maskot pinguin raksasa berjalan mengelilingimu, memberimu brosur gratis dan kau mengambil satu. “Ada map di sini. Mungkin bisa memberitahu kita di mana Haunted Mansion.”

Baekhyun berhenti dan merebut brosur darimu. Dia membukanya dan mengambil waktu untuk memahami seluruh hal. “Sial! Bagaimana aku bisa membaca map ini?” Baekhyun menggerutu sebelum dia mengubah brosur Adventure Land menjadi sebuah bola kertas yang tidak berguna dan melemparnya ke tempat sampah. “Brosur itu hanya lembaran kertas yang tidak lebih dari apapun yang bahkan membuatku lebih marah!”

Kau menunggu sampai dia sedikit tenang, dan memanggil dengan lembut. “Baekhyun….”

“Apa?” tanyanya lagi dengan kasar, tetap berjalan dan tetap menarikmu dengan paksa. “Jalanlah cepat, bisakan?! God!”

“Baekhyun, hey, berhenti sebentar.” Kau menarik borgol dan tetap dian di tempatmu sampai dia mengerang dan menyerah sejak dia tidak bisa pergi kemana-mana tanpa kau mengikutinya.

“Apa?” tanyanya terengah-engah, tanpa melihatmu.

“Hey, lihatlah aku.” Tiba-tiba kau punya keberaniana untuk menaruh kedua tanganmu pada wajahnya, menangkup pada pipinya dan memaksanya untuk melihatmu. “Katakan kenapa kau begitu marah.”

Dia melihat kembali padamu. Alisnya masih menaut marah. “Tidak ada.” Katanya melalui eratan gigi.

“Well, kemudian tenanglah, oke?” katamu, dengan tidak sadar meraba pipinya dengan ibu jarimu dengan gerakan memutar menenangkan. Dia terlihat terkejut atas tindakanmu tapi dia tidak mengatakan apapun untuk protes. “Dengar, kita di sini bersama, Baek. Aku tahu aku juga malu sepertimu, dan percayalah saat aku mengatakan bahwa aku juga sesemangat dirimu ingin keluar dari tempat ini. Tapi buanglah amarah seperti ini tidak akan membuat hal jadi lebih mudah, okay? Apa kau mengerti?”

Dia melunak sedikit saat dia melihat senyummu. Dengan lembut kau berkata, “Kita mungkin bisa bersenang-senang sedikit sementara kita di sini. Bukan begitu, kan?”

“Kenapa kau tiba-tiba saja begitu senang?” tanyanya saat kau menurunkan tanganmu dari wajahnya.

“Aku tidak tahu,” kau sedikit tertawa, menaruh beberapa anak rambutmu di belakang telingamu. “Kurasa, mungkin karena beberapa laki-laki yang baru saja diserang seorang laki-laki biasa di depan umum untuk membela gengsiku.”

“Seperti yang kubilang.” Baekhyun mendengus, “Aku tidak melakukannya untukmu.”

“Aku tidak pernah mengatakan itu kau,” kau menyeriangai menggoda dan saat dia membuka mulut untuk menjawabnya kembali, kau menautkan jari-jarimu pada miliknya dan membawanya pergi. “Ayo, cari sesuatu untuk di makan, aku lapar.”

***

Matahari mulai turun saat kalian berdua selesai dengan makan malam awalmu. Baekhyun tidak terlalu banyak makan, hanya sepotong cheese burger dan beberapa frech fries, tapi kau, yang benar-benar kelaparan, menghabiskan semua makanmu dari yang kau bisa. Kau tersenyum tanpa malu dan melakukan aegyo jadi Baekhyun akan meminjamimu uang untuk membayarnya saat itu.

Beberapa jam berlaku. Kau mulai melihat lebih pasangan-pasangan yang berjalan bersama sekarang dan kemudian, saling mencuri ciuman satu sama lain. Kau membuat tatapan menjijikkan pada mereka dan berkata, “Gosh, anak muda sekarang. PDA dimana-mana.”

Baekhyun menguap, berjalan dengan satu tangan meraba rambut belakangnya. “Yeah, apa hebatnya tentang hal itu?” komentarnya.

“Apa kau tidak melakukan ‘PDA (Public Dispaly of Affection)’?” tanyamu

“Tidak.” Katanya, menyeringai sedikit saat dia menambahkan, “Aku melakukan ‘Public Dispaly of Sex’.”

“Aww, pipimu terlihat begitu mulus, boleh aku memukulnya?”

Baekhyun hanya memutar bola matanya.

“Mommy –“ kau mendengar suara anak laki-laki kecil, berasal dari beberapa meter di belakangmu dan kau menengok melalui bahumu untuk melihat anak laki-laki dengan mata melebar, berkilauan, menatap tepat kearahmu dan Baekhyun sebelum dia menunjuk jarinya pada arahmu. “Lihat mommy! Chinderella dan Prince Charmingnya di sini! Aku ingin berfoto bersama mereka!”

Kau langsung menolehkan kepalamu kembali dan mencoba untuk tidak malu, kau tidak bisa mempercayainya. Ada seorang anak kecil yang menganggapmu sebagai salah satu maskot karena caramu berpakaian. Ya, tentu saja, kau sebenarnya berpakaian sedikit terlalu berlebihan. Untuk kesempatan –okay, lebih seperti banyak sebenarnya. Tapi tidak seperti kau memakai gaun panjang dengan mahkota di atas kepalamu.

Baekhyun kelihatannya tidak menyadari apa yang terjadi di belakangnya, tapi dia melihat bagaimana kau tiba-tiba saja membeku di tempat. “Ada apa?” tanyanya, menoleh kepalanya penasaran.

“Ti –Tidak ada, hanya……” kau berdehem dan meraih tangannya, mendesaknya untuk berjalan lebih cepat. “Ayo pergi kesana.”

Anak laki-laki itu menjerit lagi, “Mommy, cepat! Mereka mulai pergi!”

“Hey, kalian berdua, tunggu!” saat ini suara seorang wanita tua muncul pada pendengaranmu.

“Tunggu, kurasa seseorang memanggil kita –“ Baekhyun mencoba untuk berhenti tapi kau mendesaknya untuk tetap berjalan.

“Tidak ada yang memanggil kita, oke? Ayo, pergi –,” kau terlambat. Seorang wanita tua, dengan anak laki-laki yang terlihat sama padanya, menghampirimu dengan lamgkah tergesa-gesa, sedikit terengah-engah saat mencapai tempatmu.

“H –Hi,” katanya, tersenyum ramah dan masih sedikit terengah-engah. “Bisa minta waktumu sebentar, kumohon?”

Kau menggigit bibir bawahmu gugup sebelum kau coba untuk menjelaskan. “Ahjumma, anda salah. Kita bukan –“

“Ssshh!” dia cepat-cepat meletakkan jarinya pada bibirnya, mengisyaratkanmu untuk diam. Kemudian dia berbisik. “Aku tahu kalian bukan salah satu dari maskot, tapi kumohon, anakku di sini ingin malihat dongengnya jadi hidup. Jadi bisakah kalian berpura-pura sedikit?” Dia melihat anaknya dan menggandeng tangannya erat. “Kumohon, untuk dia?”

Anak laki-laki kecil itu melihat kearahmu dengan bintang menari-nari dalam mata coklatnya, senyumnya melelehkan hatimu langsung. Tapi kau hanya tidak bisa berpura-pura menjadi Cinderellanya saat ini. Kau seorang dancer, bukan seorang aktor.

Baekhyun, walaupun, terlihat sepertinya.

Pertama-tama dia diam, hanya mendengarkan kata-kata wanita tua itu dengan sebuah pandangan mengerti di matanya. Tapi kemudian tiba-tiba saja dia turun berlutut dengan satu lututnya di sampingmu dan mengambil tangan kirimu –tangan yang tidak di borgol padanya –pada tangan kanannya dan mencium punggung tanganmu.

Kau otomatis tersipu malu pada pandangan bibir pink, lembutnya menyentuh lembut pada kulitmu. Mereka lebih hangat dari yang kau kira.

“Good evening, Cinderella.” Kata Baekhyun, suaranya memikat dan yakin saat dia mengunci pandangannya dengan milikmu.

Kau menganga dan kau memandangnya seperti seorang idiot. Baekhyun mengisyaratkanmu untuk berakting bersama melalui lemparan sebuah tatapan dan itu menyadarkanmu, “Oh, uh….” kau berdehem canggung, “H –Helo, Prince Charming.”

Baekhyun melempar senyum sipitnya dan kau kagum pada bagaimana mudahnya dia berperan dengan karakternya. Baekhyun yang benar-benar sengit, mischievous tidak lama lagi di sana, meninggalkan jejak. Dia adalah Prince Charming, seorang Prince Charming yang manis dan halus, tampan.

“Cinderella!” anak laki-laki itu tiba-tiba saja melompat dan memeluk kakimu. Dia begitu kecil dan imut, bahkan saat dia berdiri, puncak kepalanya hanya bisa mencapai perutmu. Kau kembali sedikit terpaku dan membeku, tidak tahu apa yang harus di lakukan.

“Cinderella, kau cantik sekali!” kata anak laki-laki itu. “Aku ingin punya pacar sepertimu di masa depan!”

Hatimu menghangat bukan karena kata-katanya melainkan cara dia memandang dengan mata yang lebar, suci, penuh harapan.

“Bolehkah aku ambil foto kalian berdua dengan anakku?” tanya ibunya, siap dengan kamera di tangannya.

Kau melirik tak berdaya pada Baekhyun yang hanya tersenyum dan mengacak rambutnya.

“Hey, tiger. Siapa namamu?” tanya Baekhyun, suaranya lembut dan halus. Cara dia bertingkah dan cara dia melihat benar-benar mengingatkanmu pada seorang pangeran. Pendeknya, ya, tapi bukan seorang pangeran.

“Jin Tuo.” Kata anak laki-laki itu, tersenyum.

“Kau ingin gadis seperti ini saat kau tumbuh besar?” tanya Baekhyun, melihat kearahmu saat dia menanyakan pertanyaan. Kau merasa hatimu berhenti sesaat.

“Ya! Ya!” Jin Tuo melompat-lompat. “Aku ingin menikahinya!”

“Benarkah?” tanya Baekhyun, mudah dan nyata. “Itu bagus, tapi kau ingin tahu satu rahasia?” Saat Jin Tuo menganggukkan kepalanya tertarik dan lebih mendekat pada Baekhyun, dia membisikkannya tidak –terlalu –rahasia. “Princess ini makannya banyak sekali.” Kemudian Baekhyun berpura-pura menganga, melebarkan matanya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Anak kecil itu langsung menirukan tindakannya, melihat ke arahmu dengan mata yang semakin melebar, “Princess, tidak!” kata Jin Tuo, dan ibunya tertawa bersama dengan Baekhyun.

“A –Aku tidak –“ kau malu dan melihat dengan marah pada Baekhyun untuk sesaat tapi laki-laki tersebut masih melihatmu dengan mata kagumnya. Kau harus menahan dirimu dan mencoba untuk berakting juga. “Well kukatakan padamu, nak. Prince Charming ini di sini juga tidak selalu charming. Kadang dia sedih dan menggembungkan pipinya seperti seekor ikan kembung saat dia marah.”

“Hey~” Baekhyun pura-pura cemberut saat dia berdiri lagi.

Anak laki-laki itu dan ibunya tertawa terbahak-bahak dan hatimu menghangat pada suara itu. Mungkin berpura-pura untuk sementara waktu akan baik-baik saja, pikirmu.

Dia seperti baru saja membaca pikiranmu. Baekhyun membagi senyum rahasia denganmu sebelum dia meraih tanganmu pada tangannya dan saat ini, menautkannya bersama dalam cara yang lebih intim untuk kau atasi, tapi kau putuskan untuk memainkannya.

“Kesinilah, Jin Tuo,” kata Baekhyun, merentangkan tangannya terbuka untuknya. Anak laki-laki itu meloncat dan tersenyum gembira sebelum dia melihat borgol.

“Cinderella, apa ini?” tanyanya, dan kalian berdua membeku.

“Uh, k –ki ….” kau terbata-bata. Benar-benar tertangkap dan hampir memunculkan sebuah alasan yang kuno, saat Baekhyun tiba-tiba menyelanya.

“Prince Charming ingin Cinderella tetap di sisinya selamanya.” Jelas Baekhyun, suaranya lembut dan menenangkan, hampir seperti sebuah nyanyian ninabobo. “Tapi sejak Prince Charming adalah pangeran kecil yang kekanak-kanakan, dia menaruh benda ini melingkari pergelangan tangan mereka jadi mereka bisa bersama selamanya.”

“Oh …..” kata Jin Tuo, benar-benar terpesona. “Oke, aku paham!”

Kalian berdua bernafas lega. Walaupun wanita tua itu terlihat tidak gembira. Kau sedang di hakimi tanpa henti dan kau coba untuk mengabaikannya dan hanya fokus pada kehangatan tangan Baekhyun pada dirimu.

“Jin Tuo, ayo siap-sipa berfoto, oke?” kata ibunya, berdiri sedikit terpisah jadi dia bisa mengambil sudut yang sempurna. Jin Tuo langsung melakukan v sign dengan kedua tangannya dan tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Kau dan Baekhyun berbagi lirikan sederhana sebelum tersenyum pada kamera.

“Pada hitungan ke tiga, 1, 2, say kimchi ~”

“Kimchiiiiii!” Jin Tuo berteriak dengan senang. Setelah pengambilan gambar, Jin Tuo menaikkan jarinya dan menunjuk pada jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Prince Charming, cepat! Kau harus mencium Cinderella sebelum jam melintasi angka 12 jika tidak sihirnya akan rusak!”

“Apa?!” kau terkejut, mulai panik. Baekhyun, walaupun dia terlihat cool di luar, dia juga sedikit terkejut.

“Sekarang, sekarang, Jin Tuo, ayo jangan ganggu mereka.” Ibunya tertawa tapi membungkuk meminta maaf padamu dan Baekhyun. “Saya minta maaf, dia cenderung dalam imajinasinya sendiri.”

“Cepat! Cepat! Tinggal 3 detik!” Jin Tuo masih saja malompat-lompat. “Tiga! Dua –“

Kau coba untuk menenangkannya, “Jin Tuo, kenapa kita tidak berfoto lagi saja –“

Jin Tuo bahkan tidak mendengarmu. “Satu!”

Baekhyun tiba-tiba mendekat, menangkup lehermu dengan kedua lengannya dan memiringkan kepalamu sedikit saat dia menaruh sebuah ciuman di ujung bibirmu.

Ciuman berakhir tepat 2 detik, tapi kau tetap membeku.

“Apa aku melakukan semuanya baik-baik saja?” Baekhyun berlutut untuk menyetarakan tinggi badan anak laki-laki itu. Dia melihat kearah Jin Tuo dengan dengan sebuah ekspresi pura-pura panik pada wajahnya. “Apa sihirnya masih ada?”

Jin Tuo melihat jam tangannya dan membalas dengan sebuah senyum yang lebar. “Ya! Sekarang kalian berdua bisa hidup bahagia selamanya! Horee!” dia langsung melingkarkan lengannya memeluk leher Baekhyun dan Baekhyun menepuk-nepuk punggungnya, tertawa bersama, dengan si kecil.

Itu tadi adalah sebuah tanda yang tidak pernah kau pikirkan kau akan lihat dalam hidupmu. Seorang yang kasar, sinis, brengsek seperti Byun Baekhyun bisa tertawa dan bermain dengan anak-anak seperti ini. Well, Apa yang kau tahu? Mungkin dia punya hati.

Ibunya tertawa dan berterima kasih pada kalian berdua untuk bermain-main. “Aku minta maaf untuk mengganggu kalian seperti ini.”

“Tidak masalah,” kata Baekhyun, mengibaskan tangannya. “Sampai jumpa lagi, Jin Tuo!”

“Bye –bye!” kata Jin Tuo kecil setelah menggandeng tangannya lagi pada ibunya. “Bye, Cinderella!”

Kau tidak membalas lambaian padanya, masih sibuk memproses momen saat Baekhyun menciummu.

“Hey, dia memanggilmu!” kata Baekhyun, membisikimu langsung pada telingamu. Kau terlonjak kembali, hampir terjatuh dari hak sepatumu.

“Jangan lakukan itu!” katamu, menepuk bahunya. “God, kau mengejutkanku!”

Baekhyun menyeringai setelah menyadari kau sedang bertingkah beda. “Apa kau menikmatinya?”

“Apa?” tanyamu kasar, membenahi gaunmu, “Menikmati apa?”

“Ciuman.” Ulangnya. “Kau terlihat sungguh menyukainya.”

Kau menghempaskannya melalui dadanya dan mencoba untuk terlihat sedih walaupun dalam dirimu tersipu dan marah, “Oh diamlah, brengsek.”

Baekhyun tertawa kecil dan saat itu kau melihat bahwa versi Baekhyun yang ini adalah Prince Charming yang sebenarnya yang anak kecil tak bisa temui. Dan kau merasa menyesal padanya karen versi ini lebih, lebih baik.

Karena kadang, tidak di butuhkan senyum ramah dan cara lembut untuk mengesankan seorang perempuan. Jujur, senyum laki-laki yang bisa membuat hati kita lebih berdebar.

***

“Hey, kau tahu apa yang harus kita lakukan?” tanyamu dengan mulutmu penuh dengan hotdog. Setelah insiden memalukan itu, kau putuskan untuk menenangkan dirimu dengan memasukkan lebih dan lebih junkfoods ke dalam tubuhmu. Tidak ada logiknya hal itu, tentu saja, tapi itu berhasil bagimu.

“Katakan pada orang tuamu bahwa anak gadis mereka tidak tahu cara makan?” Baekhyun balik bertanya, membuat wajah menjijikkan saat melihatmu, “Atau memiliki waktu untuk eyelinermu, karena demi Tuhan, itu terlihat mengerikan padamu. Bagaimanapun juga, aku kecewa.”

Kau cemberut padanya, “Mungkin berterima kasih pada iblis apapun yang menjual jiwamu karena jika aku tidak sedang memakai gaun ini, sekarang juga, aku akan lakukan seperti Keri Scarr padamu.”

“Siapa itu Keri Scarr?” respon Baekhyun dengan penarasan.

“Siapa itu – serius? Kau tidak kenal?” kau menatapnya dengan tatapan menghakimi. “Dia adalah petinju wanita paling terkanal di dunia! Damn, Baek, ku rasa kau harus berhenti menonton E!News –“

“Aku tidak menonton E!News –“

“Dan berhentilah menonton Make –up 101 juga.”

Baekhyun berhenti beberapa saat dan kau menyeringai padanya karena kau benar. Dia mendengus keras dan bergumam, “Mungkin kau harus menonton program ‘How –to –Talk –Without –Spitting –at –Other –People’ di Dork TV.”

Kau hanya memutar bola matamu sebelum berkata, “Kau tahu? Kupikir kita harus membuat sebuah taruhan.”

“Kupikir kau sudah tidak punya uang yang tersisa,” Baekhyun mengingat.

“Yeah, tapi aku bisa membayarmu saat di Dorm, kan? Di samping itu,” kau mejilat bersih jari-jarimu dan Baekhyun mendengus jijik, “Aku yakin, aku bisa mengalahkanmu, Baek.”

Baekhyun terlihat tidak tertarik sama sekali, “Taruhan macam apa?”

“Saat kita memasuki Haunted Mansion,” katamu, mata menantang, “Aku bertaruh aku bisa melaluinya tanpa menjerit atau bahkan bersuara keras –bahkan tidak sekalipun –dan aku bertaruh kau akan melakukannya.” Kau mendekat dan berbisik pada salah satu telinganya.

“Harapmu.” Katanya, mengejek, “Buatlah lebih menarik?”

“Bagaimana?”

“Kita tidak taruhan uang.” Mata Baekhyun berkilat-kilat dengan sebuah sorot mata menyenangkan di setiap sudut. “Pemenang akan mendapatka satu permintaan dan yang kalah tidak akan menolaknya.”

“Buatlah tiga permintaan, dan kau ikut.” Kau balas menantang.

“Deal.” Baekhyun terlihat sombong dan bangga, “Tapi untuk saat ini, kutantang kau untuk menaiki itu.” Dia menunjukkan jari telunjuknya pada salah satu permainan yang paling berbahaya yang pernah ada di tempat ini. Pendulum.

Kau beberapa saat menonton bagaimana tumpangan itu bekerja. Ada 10 kursi kosong –sejak orang-orang paling takut untuk menaikinya –tapi tumpangan itu masih bergerak seperti biasanya untuk menarik perhatian orang. Kau menonton dan menelan salivamu sedikit saat kau melihat bagaimana tumpangan itu bergerak pada kecepatan yang mengerikan dan pada satu tujuan, berbalik dan berubah 360 derajat, begitu tinggi di udara.

Kau tidak begitu menyerah untuk ini, tapi saat kau melihat ke samping, kau menyadari Baekhyun balas melihatmu dengan mata menantang.

“Scared?” tanyanya.

Sekarang dia semakin sombong seperti itu, kau terlalu gengsi untuk mundur, “Bring it on.”

***

“Tunggu sebentar,” katamu, suara yang kering dan berat dengan horor saat kau di beri kesempatan untuk memilih salah satu 10 kursi itu –sekarang 9, dengan Baekhyun termasuk –kursi kosong. “Aku tidak seharusnya naik ini, karena, kau lihat, aku sedang memakai gaun. Dan akan memalukan jika, kau tahu, tertiup –“

“Itu omong kosong.” Kata Baekhyun, menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya. “Ayolah, Cinderella. Kau pasti tidak cukup punya hati meningggalkan Prince Charmingmu sendirian, kan? Itulah inti dari hal ini.” Dia menunjuk pada borgol dan kau memutar bola matamu jika kau tidak terlalu takut saat itu.

“Apa kalian berdua siap?” staff, yang siap menekan tombol ‘start’ bertanya.

“TUNGGU DULU!” kau kembali berteriak dan naik ke kursimu. Kau coba untuk tidak menangis saat kau menaruh safety belt dan berdoa pada Tuhan agar kau baik-baik saja.

Baekhyun melihat ini dan berkomentar, “Wow, kau benar-benar takut.”

“T –Tidak.” Responmu pelan dan terbata-bata seperti tiba-tiba saja 20 derajat lebih dingin. Baekhyun tetap diam dan hanya menunggu saat staff barkata, “Selamat datang di Pendulum. Nikmati tumpangan kalian dan biarkan waktu berhenti!”

Dan kemudian tanduk mesin tertiup, menunjukkan bahwa tumpangan sedang mulai. Saat bergerak, kau tanpa sadar mengeluarkan sebuah rengekan dan memegang pada ujung tempat dudukmu erat-erat sampai ujung-ujung kukumu memutih.

Kau tidak mendengar apapun yang dia katakan tapi kau bisa merasakan bagaimana Baekhyun mencoba untuk melepaskan tangan kananmu dari safety rail. Kau membuka matamu, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat jelas-jelas tidak aman untuk melepaskan tanganmu tapi kemudian dia menyelipkan tanganmu diantara tangannya.

Untuk sesaat di sana, waktu benar-benar berhenti untukmu.

“Aku tidak ingi kau menghancurkan tanganmu sendiri, oke? Tuntut aku.” Katanya saat dia melihat kau memandang padanya dengan mata bingung.

“Baek –“

Kau tidak mengatakan apapun padanya karena kau tiba-tiba saja di di tinggal di udara dan tumpangan berhenti untuk beberapa detik dengan kau menggantung terbalik di udara.

“SIIAALLLL, TUUURUUUUNNNKAAAAN AAAKUUU!”

***

“Are you okay?”

“No”

“Kau masih ingin muntah?”

“Kurasa begitu.”

Baekhyun mendesah dan melihat wajah pucatmu, Kalian berdua duduk di bangku terdekat dan kau hanya muntah 2 kali di tempat sampah. Tampaknya, makan hotdog sebelum menaiki itu bukanlah ide yang bagus.

“Aku merasa seperti….” katamu, sedikit mendengus, kau berhenti menagis setelah tumpangan dan itu sangat sulit bagimu untuk tetap mengeluarkan isimu sementara kau punya ingus di hidungmu. Bernafas mungkin sulit untuk di lakukan. “Aku merasa sebagian diriku baru saja mati dan pergi ke surga –“

Baekhyun memutar bola matanya beberapa kali malam itu. “Berhentilah jadi sedramatis itu.”

“Tumpangan itu pasti di buat khusus bagi pemuja setan.” Kau menganggukkan kepalamu, setuju dengan dirimu sendiri. “Oleh karena itu kau baik-baik saja dengannya.”

Baekhyun mendengus, “Benar, karena kau seperti malaikat.”

“Boleh aku menangis lagi? Aku rasa aku ingi menangis.”

“Tidak. Kita harus pergi.” Baekhyun berdiri, rambutnya berantakan setelah menyelesaikan tumpangan yang menakjubkan itu tapi bagaimanapun dia masih terlihat tmpan. “Tempat ini tutup satu jam lagi dan jika kita tidak menemukan kunci di waktu ini, kita jadi terborgol sepanjang malam.”

“Tidak apa-apa bagiku,” kau menderita masih tidak menemukan kekuatan dalam dirimu, “Tinggalkan aku mati sendiri. Aku tidak punya jiwa lagi.”

“Benarkah?” tanya Baekhyun. “Jadi kau tidak keberatan mandi bersamaku –“

Kau langsung berdiri dan memaksanya untuk barjalan, “Ayo, kita tidak punya banyak waktu.”

TBC…
YOUR LIKES AND COMMENTS KEEPS ME A LIVE GUYS!!! SO , PLEASE RCL. THANKS, AND I HOPE U ENJOY THE STORY …….

Advertisements

23 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 3a

  1. Luhan bales dendam tuh sok2an gk ikut campur/terlibat buktinya bawa borgol gituan kemana2 haha.. astagah Baekhyun manis banget :3 ok I know that feeling, aku tau rasanya mual setengah mati setelah naik wahana ekstrim, dan aku berjanji untuk gk akan lagi naik wahana sejenis itu.. lucu banget pas bagian endingnya, ancamannya ampuh :”D lanjut please :3

    Like

  2. Ending nya ngakak banget, luhan kesian banget di gebukin.
    Hi, ak readers baru. Biasanya aku baca ff destiny di fp fb. Oh iya ff destiny kapan di lanjutin aku penasaran nih.

    Like

    1. hi juga, thx ya udah baca n comment 🙂 ’bout ff destiny sorry dear lg stuck,soalnya respon di chap ter terakhir nggak memuaskan, but don’t worry i’ll try my best,thx udah ngikutin ff destinyku ❤ ❤

      Like

  3. Kasiannya itu sama Luhan. Nasibnya… ya begitulah..

    Lucu waktu si Jin Tuo minta Baek ciuman. Gak tau kenapa,lucu aja.. 😁😁

    Aku tunggu kelanjutannya. Jujur,awalnya aku gak terlalu tertarik sama ni ff, tapi,akhirnya aku baca juga karna aku kepo.. hehee… fighting buat nulisnya kak!!😊😊

    Like

  4. hehehe…tu luhan ksian bgt sh dipukulin trs…sabar ya… 😀
    woah,trnyata biarpun mrk kyk kucing sm anjing,mrk menghayati bgt ya pas jd cinderela ma prince charming… 😀
    kr2 dpt gk ya kuncinya???gk kbyg kl gk dpt…hehehe…

    Like

  5. g salah kalau banyak yang rekomendasiin ff ini,meskipun baru beberapa chapter tapi bikin ketagihan
    semangat thorr
    makasih dah mau translate

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s