The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun | Chapter 3b

tumblr_inline_mpd8mtk2ks1qz4rgp

Tittle : THE MARRIAGE LIFE OF MR BYUN BAEKHYUN (Chap 3b)
Author : PJ
Cast :
• You (OC)
• Byun Baekhyun
• Xi Luhan
• Park Chanyeol
• and other member of EXO
Rate : M
Length : Chapter
Genre : Romance , comedy
Cover : by Metanyeol
Greeting !! Hello guys i’m back again. STILL, dengan hasil translitanku dari fanfic favorite ku ‘ The Marriage Life Of Mr Byun by sundaysundaes ‘. Walaupun tidak se bagus aslinya, tapi tetep saja telah menguras otakku sangat keras, dan semoga kalian bisa menikmatinya, ya..walaupun agak berantakan bahasanya,just keep reading guys, dan jangan lupa like and comentnya, Oya ,kau bisa cek Original storynya di sini,

Link : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/3/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

HAPPY READING !!

previous  :https://noonabyun.wordpress.com/2015/08/08/the-marriage-life-of-mr-byun-baekhyun-2/
HAPPY READING !!

Chapter 3b !

The Unofficial First Date

Setelah 10 menit pencarian. Kau akhirnya menemukan tempatnya.

“Haunted Mansion.” Katamu dengan kagum. “Akhirnya! Apa aku bermimpi? Apa aku benar-benar akan terbebas dari si telur setan bernama Byun Baekhyun seumur hidupku?”

“Hey.” Baekhyun kembali menggerutu. “Aku menderita melewati ini sebanyak dirimu, brengsek.”

“Selamat datang di Haunted Mansion!” seorang gadis berpakain seragam staff, menyapa dengan sebuah senyuman. Kau mundur saat kau melihat sepasang taring – taring yang panjang dan berdarah – keluar dari balik bibirnya, “Pasangan, huh? Ini, ambil senter ini dan hati-hati pada jalan keluarmu, okay? Di sana mungkin ada beberapa mayat yang tergeletak di sana. Kau tidak ingin perjalanan dirimu dan bergabung dengan mereka di sana seumur hidupmu –“

“Oh, diamlah, aku tidak takut pada boneka,” katamu, merampas senter dari tangannya. “Terima kasih atas omong kosongmu, tapi tidak terima kasih.”

Baekhyun meminta maaf atas namamu sebelum kau membawa paksa dirinya. Dengan satu senter yang kecil, sangat redup pada satu tanganmu, kau menunjukkan jalan seperti Indiana Jones menunjukkan sekelompok Armadillio dalam gua. Tentu saja, Baekhyun menjadi Armadillio yang bodoh dan kau jadi Cowgirl yang tak dapat di tolak.

Ruangannya tak bercelah. Jika kau tidak memiliki senter, kau tidak akan bisa dengan mudah mengatakan apapun. Katamu kau tidak takut hantu, dan itu benar, tapi sesuatu tentang aura di dalam tempat ini yang membuat kulitmu dingin dan jantungmu memukul lebih cepat.

Kau berjalan dengan hati-hati dengan Baekhyun yang mengikutimu dari belakang dengan diam.

Itu tadi menjadi begitu tenang sekali dan keheningan mulai meremang di kulitmu seperti seperti air yang dingin.

“Hey, Baekhyun?” tanyamu, suara gemeretak borgolmu memenuhi ruangan. “Kau pikir baik-baik saja jika aku mulai membuat sedikit percakapan? Aku benci keheningan yang canggung seperti ini.”

Tidak ada jawaban. Bahkan tidak ada suara nafas manusia.

Kau berhenti bergerak dan berbalik pelan-pelan. “B –Bekhyun?”

Kau tidak melihat apapun. Baekhyun hilang.

“Bagaimana bisa dia –?”

“BOO!” Baekhyun, yang berjongkok di belakangmu, melompat tiba-tiba dan kau membeku, benar-benar takut. Syukurlah kau tidak menjerit dan kau tidak bisa mengatakan apapun saat dia tertawa padamu, tapi saat kau balas mengejutkannya dengan melompat, kaki kananmu memukul sesuatu di atas tanah dan merusak high heelmu. Kau terjatuh terduduk dan tidak di sangka-sangka tiba-tiba nyeri menyentak pada kaki kananmu.

Baekhyun berhenti tertawa. “Hey, you okay?”

“Aku….” kau menarik nafas dan mengeluarkannya pelan-pelan. Kau bisa dengan mudah mendengar suara jantungmu yang berdetak melalui telingamu. “Aku baik-baik saja, hanya saja…” kau coba untuk mengangkat kaki kananmu dan meringis dari rasa sakit, “Aku….. tidak bisa berdiri.”

“What?” tanya Baekhyun, mengerang, “God, kupikir katamu kau cukup berani melakukan ini!”

“Aku tidak bisa berdiri bukan karena aku takut, brengsek!” kau balas berteriak, “Kakiku terkilir saat aku terjatuh.”

“Kau dan kaki bodohmu,” Baekhyun bergumam di balik nafasnya. “Jadi sekarang apa? Apa aku harus membawamu lagi seperti waktu itu?”

“Well, semua salahmu jadi normal saja kau bertanggung jawab untuknya.”

“Kau memang terburuk.” Baekhyun mengerang, “Kenapa high heelmu harus semurah dirimu?”

“Excuse me?!” kau berteriak dan mengancam dengan keras.

“Kau mendengarku.”

“Damn it, Baek, tidak bisakah kau jadi seorang laki-laki untuk sesaat dan mengangkatku?”

“Oh fine.” Dia mengerang keras saat dia berjongkok dan memutar punggungnya, “Cepatlah dan naik ke punggungku.”

“Apa kau gila?” kau bergetar, “Aku memakai gaun!”

“Jadi?” dia balik berteriak. “Aku tidak akan membawamu dengan gaya bridal, jika itu maumu.”

“Tapi aku akan terlihat konyol!”

“Apa perduliku?”

“Pergilah dan lalu tinggalkan aku di sini, karena aku tidak akan pergi keluar seperti ini. Mereka akan melihat celana dalamku!”

“Apa kau bodoh?” tanya Baekhyun dengan kasar, “Bagaimana bisa aku meninggalkanmu, bodoh? Kita terborgol satu sama lain.” Lalu dia melempar sebuah lirikan melalui bahunya dan berkata, “Dan jangan khawatir, tidak ada yang akan melihat celanamu. Mereka benar-benar tidak tertarik . Maksudku, polkadot? Sungguh?”

Kau menganga dan menutup rapat kakimu bersama. “Baekhyun, kau brengsek!” kau mendorongnya ke depan dengan melempar sebuah tendangan pada punggungnya. Baekhyun akan tersungkur jika refleknya tidak cukup cepat menahan tubuhnya dengan tangannya.

“Serius?” Baekhyun berbalik untuk melihat padamu dan melemparkan tangannya di udara, “Kenapa kau selalu melakukan ini padaku, huh? Kenapa kau selalu membuat hidupku menyedihkan?”

“Karena kau adalah –Aah!” kau terlonjak saat dia tiba-tiba membawamu dengan tangannya dan mengangkatmu dengan kedua tangannya yang memegangmu erat pada tubuhnya. Kau mrengkuh kedua tanganmu yang bebas melingkar pada lehernya dengan reflek, untuk tetap membuat dirimu tidak terjatuh.

“Kau baru saja menjerit.” Kata Baekhyun tiba-tiba dan kau bisa melihatnya tersenyum di kegelapan.

Kau pertama harus menenangkan dirimu (karena holyshit, Baekhyun sedang membawamu dengan gaya bridal). Kedekatan antara tubuhmu dengan miliknya cukup membuatmu merasakan kehangatan yang dia pancarkan dari tubuhnya dan itu semacam…meyakinkan. Kau berdehem sebelum kau balas menjawab, “Kapan aku melakukan itu?”

“Baru saja.” Katanya, “Saat aku mengangkatmu.”

“Itu bukanlah sebuah jeritan.”

Baekhyun mengangkat bahunya dengan biasa. “Yeah well, itu lebih seperti sebuah teriakan, tapi itu masih terhitung, kalah. Jadi sekarang aku dapat 3 permohonan dan kau tidak.”

“Ap –oh, terserah.” Kau berpaling darinya, “Ayo selesaikan sekarang.”

Dia tertawa dan mulai berjalan ke depan. “Siapkan sentermu, sweet heart.”

Kau memautkan bibirmu, cemberut. “Jangan menyuruhku.”

“Diam saja dan lakukan sepeprti apa yang aku katakan.” Teriaknya. Nada mischievous sebelumnya pada suaranya telah hilang. “Kita masih memiliki perjalanan panjang dan jika aku harus membawamu sampai akhir, terakhir yang bisa kau lakukan adalah menutup mulutmu.”

Dengan desahan, kau memegang senter dengan tanganmu yang terborgol dan mengarahkannya pada arah yang benar.

Setelah 10 menit berjalan, Baekhyun menggerutu, “God, kau benar-benar harus meletakkan hotdog-hotdog itu. Kau sungguh berat sebelum memakannya.”

Kau bingung, “Yah, itu –“

Gemuruh muncul entah dari mana saat sebuah mummy muncul pada sisi kananmu. Kau terkejut tapi tidak sekeras saat Baekhyun mengejutkanmu di awal.

“Jangan bergerak terlalu banyak, gendut. Aku sekarat di sini!” Protes Baekhyun, memegang erat sekitar area bawah lututmu jadi kau tidak akan terjatuh.

Saat ini, sebuah boneka perawat tanpa kepala muncul pada pandanganmu tapi dengan mudah kau mengabaikannya. “Mungkin kau terlalu lemah, kau bahkan tidak bisa membawa seorang gadis dengan tanganmu.”

“Seorang gadis? Lebih seperti seekor sapi besar,” balas Bakhyun mengabaikan drakula palsu di sampingnya dan hanya berjalan melewatinya dengan biasa.

“Aku bahkan tidak tahu bagaimana kau bisa mendapatkan gadis-gadis untuk tidur denganmu,” kau mengakui sambil memukul sebuah boneka zombie di sebelah kirimu, “Kau bicara seperti seorang gangster yang tidak –berpendidikan.”

“Well, kau terlihat seperti penghibur tanpa malu dengan gaun itu.” Baekhyun mulai marah pada boneka-boneka pada beberapa tujuan, jadi dia berteriak dengan marah. “Kenapa boneka-boneka jelek ini tetap saja muncul?”

“Ini rumah hantu, apa yang kau harapkan?” kemudian kau melihat sesuatu yang bersinar saat kau mengarahkan sentermu pada mulut Vampire palsu. “Itu kuncinya!” Baekhyun berjalan mendekat padanya dan kau menyambarnya dengan tangan kosongmu. “Got it!”

“Oh thank God.” Gumamnya, sedikit terengah-engah dari membawamu dan berbicara padamu di saat yang bersamaan. “Sekarang kita bisa pulang.”

***

Kalian berdua mencapai pintu keluar dari taman hiburan dengan Baekhyun yang masih membawamu dalam lengannya, dan menggerutu sepanjang jalan di sana. Jasnya tidak lagi halus licin. Sekarang kusut disetiap pojok dan kau merasa semacam bersalah untuk berkontribusi untuk hasil itu, tapi kemudian kau putuskan untuk melupakannya karena Baekhyun menjadi menjengkelkan setiap saat. Kau sejujurnya sadar atas fakta bahwa kau tidak lagi terborgol padanya.

“Baekhyun –ah!” kau mendengar suara, meledak keras dan jelas melalui udara saat kalian berdua baru saja keluar dari taman hiburan. Kau melihat lurus ke depan dan melihat Park Chanyeol, bersama dengan kekasihnya itu yang kau yakin jadi banyak menderita sekali kemudian malam itu karena kau tidak akan membiarkannya begitu mudah.

“Fucking Park Chanyeol.” Kau mendengar Baekhyun menggerutu di balik nafasnya saat mereka berdua dengan gembiranya menghampirimu yang sedang berdiri.

“Apa kalian bersenang-senang?” tanya Chanyeol, matanya bersinar terang seperti bintang-bintang. “Aww, lihatlah kau, membawanya dalam dekapanmu seperti itu! Romantisnya! Apa kau menyukai rencana kami? Di mana Luhan –hyung? Apa kau punya kesempatan bicara padanya?”

Temanmu tersenyum sipit padamu dan kau hanya memandangnya tanpa ekspresi padanya.

“Bisa minta waktu sedikit, Yeol?” tanya Baekhyun, suaranya ceria dan terlalu diluar karakternya. “Aku harus menurunkannya sebentar.”

Baekhyun merendahkan dirinya, melepasmu dari lengannya dengan mudah. Kau meringis saat kakimu menyentuh tanah dan temanmu langsung pergi ke sampingmu, bertanya dengan khawatir pada wajahnya. “Apa yang terjadi? Apa kau terluka?”

Itu tadi tidak di rencanakan, sungguh, tapi di saat yang bersamaan, pada beberapa detik, kau dan Baekhyun menjerit pada kedua pasang burung idiot itu.

“KAU AKAN MATI UNTUK INI!”

***

Setelah berdebat untuk beberapa saat –dan bagaimanapun berlansung sedikit brutal –kau berempat berjalan kembali ke Dorm, semuanya pindah dan hanya ingin tidur dengan nyaman. Kakimu masih sedikit sakit tapi merasa lebih baik setelah temanmu memijit pada kakimu yang terluka dan meletakkan ice pack di atasnya. Chanyeol membelikanmu sepasang sandal yang murah untuk kau ganti, dan walaupun terlihat buruk dan kau membencinya, kau putuskan untuk memakainya jadi kau sekarang paling tidak bisa berjalan sendiri.

“Dia memukulku,” Chanyeol terisak dengan lembut, sementara temanmu menepuk-nepuk kepalanya. “Baekkie memukulku dan itu sakit.”

“Aku tahu, Sayang, aku tahu.” Kata temanmu, juga sedikit menangis karena kau telah menjambak rambutnya dengan kejam sekali di awal. Kau pikir kau mungkin telah mencabut beberapa rambutnya sampai keakar.

“Tidak heran Luhan –hyung tidak di sini.” Chanyeol terus menggerutu. “Dia mungkin lari untuk menyelamatkan dirinya sendiri.”

“Dia membuang kita, Oppa itu,” temanmu memegang tangan Chanyeol dan mencium jari-jarinya. “Jangan khawatir, Yeollie, aku bersamamu.”

“Aku senang kau di sini.”

“Aku senang aku di sini bersamamu juga.”

“Oh, diamlah, kalian berdua.” Baekhyun bergabung. “Kau tahu ini semua salahmu.”

Chanyeol berbalik sedikit dan menunjukkan sebuah pautan yang lucu, “Kita hanya ingin kalian berdua sadar betapa kalian saling mencintai.”

“Excuse me?!” Kalian berdua berteriak bersamaan dengan kata-kata yang sama.

“See?” kata temanmu, menunjuk pada kalian berdua. “Kau bahkan punya reaksi yang sama. You guys are so meant to be.”

“No, we’re not!” lagi, waktu yang sama, dengan kata-kata yang sama.

“Aku tidak tertarik dalam berkencan,” tambah Baekhyun, setelah deheman canggungnya, “Maksudku, aku tidak ingin berkomitmen atau lainnya.”

“Kedua itu, tapi pada dasarnya, aku hanya tidak tertarik berkencan dengannya. Periode.” jelasmu

“Itu juga –dia.” Baekhyun mengangguk. “Maksudku, apa hebatnya berkencan?”

“Seks tanpa batas, tentu saja,” kata Chanyeol, tersenyum. Temanmu menyikutnya dengan gembira dan dia kembali menjawabnya dengan sebuah ciuman pada pipinya. Kau membuat sebuah tatapan. Kau hanya ingin memukul keduanya itu dengan s ebuah palu dan menenggelamkan mereka ke dalam kolam lumpur.

“Lebih dari memiliki seorang teman, seorang kekasih dan sebuah keluarga di saat yang bersamaan?” temanmu bertanya dengan cheseenya. “Kau pasti dihujani dengan cinta.”

“Dan seks tanpa batas.”

“Dan ciuma-ciuman cinta.”

“Dan seks tanpa batas.”

“Dan menikmati sedikit kejutan-kejutan cinta setiap sekarang dan kemudian.”

“Plus seks tanpa batas.”

“Ya, dan plus seks tanpa batas.” Temanmu mengakhiri pidato buruknya. “Date is great!”

“Tapi aku sudah memiliki seks tak terbatas.” Kata Baekhyun, dan dia memeletkan lidahnya saat dia melihatmu mendengus padanya.

“Tapi tidak dengan seseorang yang kau cintai.” Kata Chanyeol sebelum dia menyondolkan hidungnya dengan milik temanmu. “Bukankah itu benar, Sweetie –pie?”

“My God, tidakkah kalian menjijikkan diri kalian sendiri? Kalian berdua terlalu memuakkan. Pergilah,” katamu, reflek. “Baekhyun, katakan pada mereka bahwa mereka memuakkan.”

Tidak ada jawaban yang datang padamu.

“Baekhyun?” tanyamu, melirik kesamping untuk menangkapnya sedang memandang cara Chanyeol yang tersenyum pada temanmu, semua cinta dan bahagia saat dia menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman kecil. “Yah, Baekhyun –ah!”

“Huh? What?” tanyanya, berkedip saat dia kembali menatapmu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyamu dengan pelan

“Tidak ada.” Katanya dengan tenang. Walaupun kau menatapnya lebih dekat, matanya benar-benar berbohong.

“Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu.” Katamu, mengarahkannya lebih dalam.

Baekhyun berpaling, “Tidak.”

“Guys,” panggil temanmu, bersiap menjauh dari tempat dimana kau sedang berdiri dengan Chanyeol tersenyum di sampingnya, “Aku akan pergi ke tempat Chanyeol sebentar untuk… uuh…..”

Kau mengangkat tanganmu keatas, “Tidak perlu dijekaskan. Pergilah.”

“Bagus, sampai jumpa besok.” Dia berlari kembali untuk memelukmu dan mencium pipimu, kemudian dia menuju ke Baek. “Baekhyun –ssi, berjanji kau akan membawanya pulang ke ruangannya, okay?”

“Kenapa harus aku?” tanyanya dan untuk pertama kali, kau sungguh melihat temanmu yang sopan itu memutar bola matanya begitu tidak sabar pada seseorang.

Dia menjawab, “Karena kau seorang laki-laki, Byun Baekhyun, dan seorang laki-laki harus mengembalikan wanitanya pada tempatnya di akhir berkencan.”

Baekhyun membuka mulutnya. “Tapi kita bukan ber –“

“Aku tidak akan mendengar alasan.” Dia berkacak pinggang, menatap, “Pulangkan dia ke ruangannya atau lainya. Apa. Kau. Mengerti?”

Baekhyun membeku. “Yes ma’am.”

“Sekarang berjanjilah, Anak muda.”

“Aku janji.”

“Bagus!” dan dia menjadi grogi lagi sebelum dia meninggalkan sebuah ciuman ramah di pipi Baekhyun, “Have a good night, you two!” teriaknya dengan riang dan berlari kembali ke sisi Chanyeol.

“Dia wanita yang menakutkan,” komentar Baekhyun, menaruh tangannya kembali ke sakunya bahkan saat Chanyeol melambai padanya berpamitan. “Kurasa aku menyukainya.”

Kau memberinya sebuah tatapan, “Dia akan menggigit kepalamu jika kau coba untuk mengacau dengannya.”

Dia gemetar, “Yeah, aku tahu.”

***

“Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu!”

“Tidak! Tidak bisakah kau biarkan saja? Fuck, kau mengesalkan!”

Kau melipat tanganmu di depan dadamu saat kalian berdua mencapai pintu kamarmu. Kau membuka kuncinya tapi kau menghentikan dirimu untuk masuk ke dalam, masih penasaran tentang pikiran-pikirannya. “Aku akan masuk ke dalam sampai kau katakan apa yang sedang kau pikirkan.”

Baekhyun tertawa keras, “Terserah kau, hanya jangan salahkan aku saat kau kedinginan diluar sini.”

“Oh, tidak akan.” Kau menyeringai, “Kecuali dia akan membunuhmu.”

“Damn it!” Baekhyun mengacak rambutnya, benar-benar kesal, “Apa yang kau inginkan?!”

“Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan!”

“Aku tidak memikirkan apapun!”

“Apa kau sedang memikirkan tentang apa yang mereka katakan?”

“Tentang apa?” tanya Baekhyun acu tak acuh. “Aku tidak mendengar kata-kata mereka.”

“Tentang kencan, Tentang kita.” Jawabmu, sedikit malu mengulangnya.

Baekhyun tetap diam, tidak menjawab dengan kat-kata kecuali dengan sebuah tatapan.

“Memang benar!” kau menganga, menahan mulutmu dengan tanganmu. Bagaimanapun kau senang bahwa Baekhyun memiliki rasa suka padamu –mungkin. Itu membuat harga dirimu melambung sampai ke bulan.

Baekhyun merendahkan suaranya dengan kejam, “Tidak.”

“Oh my God, memang benar.”

“Tidak!”

“Memang benar! Memang benar! Memang be –“

Baekhyun memotongmu dengan sebuah ciuman tiba-tiba dan ciuman itu bukanlah sesimple itu. Itu sebuah pikiran –mati rasa. Ciuman keras dan terengah-engah. Ciuman yang membuatmu tiba-tiba saja lepas kendali pada tubuhmu, ciuman yang membuat lututmu melemas, jantungmu turun sampai ke perutmu, dan paru-parumu berhenti bernafas. Dia mendorongmu ke pintu dan meletakkan tangannya ke setiap sisi pada kepalamu, menjebakmu sampai kau menyerah padanya. Bibirnya panas, membakar dengan tidak sabar sampai kesetiap inci pada tubuhmu.

Saat dia memutus ciuman, dia hanya membiarkanmu tidak lebih dari 5 detik. Kau hanya menemukan suaramu kembali untuk bertanya, “Baekhyun, what the heck do you think you’re doing –“ sebelum kau di dorong kembali dengan paksa ke pintu dan dia menendangnya terbuka dengan kakinya.

Dia membawamu ke dalam ruangan sebelum dia merebahkanmu di atas lantai, menutup pintu itu kembali dengan menendang dengan satu kakinya. Dengan tangan-tangan ahlinya, dia membuka pahamu dengan mudah dan mendudukkan dirinya diantaranya. Dia meraih rambutmu dan menariknya hingga kepalamu jatuh ke samping dan dia cukup bebas untuk menciummu pada sisi lehermu.

Tanpa merencanakannya, kau mengeluarkan lenguhan tanpa malu dan kau bisa merasakan dia tersenyum dalam kulitmu. Karena itu, kau kembali mempertahankan apa yaang telah tertinggal pada gengsimu dan mendorongnya melalui bahunya sebelum kau membalikkannya.

Berdiri di atas perutnya, kau ingin menanyakan pertanyaan yang sama tentang kenapa dia melakukan ini padamu. Tapi kemudian kau melihat –benar-benar melihat padanya. Cara dia menatapmu dengan sebuah ekspresi tegar pada wajahnya, tapi di saat yang bersamaan, ada juga banyak sekali kerapuhan dalam matanya seolah-olah dia tidak melakukan ini sebagai nafsu. Seolah-olah ada sesuatu di dalam apapun ini –sesuatu yang tidak bisa kau sebut apa itu.

Baekhyun terbaring di sana tak berdaya, terengah-engah dan tidak bicara. Dia mendongak padamu saat kau dalam kendali saat itu, dan bibirnya memar dan memerah dan kau menelan nafasmu saat dia menjilat bibir bawahnya.

“I hate you so much, Byun Baekhyun.” Katamu sebelum menyentuhkan bibirmu lagi padanya, tidak membuang banyak waktu untuk memaksanya untuk membuka mulutnya dan melesakkan lidahmu kedalamnya. Kau tidak tahu apa yang terdapat dalam dirimu. Kau bertindak berdasarkan instingmu. Dan ini –hal ini yang sedang kau lakukan sekarang –merasa begitu benar dalam cara yang mungkin paling berbahaya.

Baekhyun mengerang dalam suaranya yang seduktiv, parau itu saat kau melarikan tanganmu pada rambutnya dan menjambaknya kembali seperti yang dia lakukan padamu di awal.

Kalian berdua kembali berdiri tanpa memutus mulutmu. Dia mendorongmu kembali ke dinding,membungkus tangannya di bawah pahamu dan mengangkatmu untuk melingkarkan kakimu pada pinggangnya. Kau mendesah saat bagian bawahmu membuat kontak dengan miliknya dan dia menyeringai padamu saat kau melepaskan kancing pertama kedua pada bajunya.

“That’s fucking expensive, you better be ready to pay for that.” Dia menggeram di telingamu, bernafas dalam aromamu saat dia menarik kain gaunmu, melepaskannya untuk lebih memperlihatkan kulit yanag tersembunyi pada pahamu.

“Damn it, Baekhyun!” kau mendorongnya sampai dia terjatuh ke sofa, “Gaun ini di buat khusus!”

Dia menarikmu dengan tangannya hingga kau naik di pangkuannya. “Diamlah dan cium aku lagi.” Dan kau melakukannya dengan tulus. Kau membiarkannya mendominasi ciuman saat ini dan membuka mulutmu untuk membiarkan dia masuk dan melesakkan lidahnya sepanjang gigimu.

Kau melempaar blazer hitamnya sebelum kau mulai melepaskan dasi hitamnya. Itu sungguh sulit untuk melepaskan ikatannya tapi kau menangkapnya. Baekhyun tertawa , saat kau berusaha membuka seluruh kancingnya dengan teratur dan kemudian berakhir dengan melepaskannya dengan paksa. “Ooh, feisty.” Katanya, menyeringai.

Kau letakkan kakimu di setiap sisi pahanya dan menekan tubuhmu kebawah untuk bertemu miliknya dan bergerak dengan kecepatan pelan yang menyiksa yang membuat Baekhyun merengek di bawah kendalimu. “God, kau begitu –“

“Hot?” kau memutusnya, sedikit terengah-engah saat kau taruh sebuah seringaian yang sama.

Baekhyun kembali melihat padamu dengan sebuah tatapan sombong, bangga melihatmu bermain-main. “Aku akan mengatakan ‘nakal’ tapi apapun yang membuatmu senang, sweet heart.”

“Wha –shit!” kau menarik kepalamu kebelakang saat dia meraih pergelangan tanganmu begitu keras yang mungkin akan memar besok, dan menekanmu pada selangkanya kembali saat dia menaikkan pinggulnya untuk bertemu dengan milikmu di pertengahan. Kalian berdua melenguh bersamaan dan kau bisa melihat begitu seksinya ekspresinya saat dia membuka mulutnya dan menutup matanya. Kau maju untuk menjilat bibir bawahnya sebelum menghisapnya.

Baekhyun mendesah dengan dalam saat dia menurunkan resleting gaunmu dan mencium bahumu sementara dia di situ. Dia menjilat pada satu tempat dan menekan giginya, membuat kulitmu geli dengan sensasi baru. Kau mendesah, meraih rambutnya dan menutup matamu, merasakan kelembutan bibirnya pada tubuhmu.

Baekhyun mengangkatmu kembali melalui pinggang dan membawamu dengan mudah dengan tangannya hingga dia melemparmu ke tempat tidur. Dia merangkak di atasmu. Semua mata menggodanya dan senyum seksinya, saat kau coba untuk menyentuh wajahnya dan membawanya kembali padamu, dia menahan tanganmu dengan menyatuka tanganmu dan meletakkannya di atas kepalamu.

“Kau tidak di ijinkan untuk menyentuhku.” Katanya, suara yang benar-benar mamatikan tapi pandangannya bersenang-senang. Dia menciummu dengan keras, menghentikan otakmu dari bekerja rasional dan hanya menyerah pada ciumannya, karena wow, dia tahu bagaimana menggunakan lidahnya.

“What the –?” kau mendongak ke atas saat kau merasakan sesuatu yang melingkar pada pergelangan tanganmu dan menyadari tanganmu sedang –sial –terikat pada headboard dengan dasi hitamnya. Kau coba untuk melepaskannya, tapi Baekhyun maju dan mengikatnya lebih kencang sekitar pergelangan tanganmu.

“Luhan hanya sebagian benar.” Baekhyun berbisik dengan lembut di telingamu, “Aku suka mengikat gadis-gadis pada headboard, hanya tidak dengan borgol.” Kau bisa merasakan dia tersenyum sebelum dia menggigit ujung daun telingamu.

Kau menggigit bibir bawahmu untuk meredam desahanmu, “Baekhyun, lepaskan tanganku sekarang juga atau aku akan –“

“Kau tidak dalam posisi mengancamku, sweet heart.” Dia terkekek, menempatkan tangannya di atas pahamu dan membukanya dengan paksa. “Diamlah dan biarkan aku….” dia tidak menyelesaikan kalimatnya tapi kau merasakan bibirnya bergerak di atas kulit terdalam pahamu. Dia menggigit bagian tertentu yang mebuat perutmu meletup-letup dan membuat semua tubuhmu memenas dan mengganggu sebelum dia menenggelamkan giginya ke dalam, menghisap dan menggigit dan menandaimu.

Kau menjeritkan namanya pada tujuan itu.

“Ssshh.” Kata Baekhyun menenangkan, sedikit tertawa. Dia bergerak keatas lagi untuk menemui wajahmu, “Apa itu sakit?”

“Benar, brengsek!” tapi itu sangat menyenangkan, oh my God, apa yang laki-laki ini lakukan padaku?

“Good, mmm….” dia menekan mulutnya yang terbuka pada bibirmu lagi, dan God, dia benar-benar pencium yang handal. Kau pikir dari pengalamanmu dengan kekasihmu sebelumnya, kau begitu ahli padanya, tapi itu berubah, tehnik ciumanmu bukanlah apa-apa di banding dengan Baekhyun.

Dalam satu kedipan mata, gaunmu benar-benar telah terlepas, meninggalkanmu dengan pakaian dalam sementara dia masih berpakaian lengkap. “Baekhyun.” Kau menghembuskan nafasmu, benar-benar terengah-engah.

“Hmm?” tanyanya, menggores lidah dan giginya sepanjang tulang selangka

“Itu tidak adil.” Katamu lagi.

“Apa?” dia berhenti dan melihat padamu dengan sebuah seringaian familiar pada bibirnya.

Bahkan pada tujuan ini, bagaimanapun kau masih terlalu malu untuk memohon, tapi dia tahu kau sudah putus asa sekali untuk menyentuhnya.

“Ayolah,” dorongnya, “Katakan apa yang kau inginkan dan aku akan melakukannya.”

“Lalu lepaskan tanganku.” Balasmu.

“Umm, biar kupikirkan sebentar –tidak.” Dia tersenyum seksi dan dia melepaskan bibirnya hanya beberapa milimeter dari telingamu. “Tapi jika kau memohon padaku, mungkin aku melakukannya.” Dia membuat sebuah suara seksi dari balik tenggorokannya saat dia mencium tepat dibawah telingamu. Kau mengutuk dengan dalam saat membuatmu menggilil sampai ke tulang belakangmu.

“Kau benar-benar brengsek!”

“Bukan kata-kata yang tepat, sweet heart,” katanya, sedikit tertawa. “Ayolah… hanya satu kata.”

Kau mulai merasakan bulukudumu merinding di belakang lehermu saat dia melarikan tangannya pada perutmu sebelum akhirnya berhenti pada dadamu. Bahkan kemudian, kau tidak mengatakan apapun padanya karena betapa keras kepalanya dirimu.

“Okay, fine,” akhirnya Baekhyun berkata saat dia mundur, “Mulai membosankan.” Jadi dia maju dan melepasmu.

Kau tidak menunggu terlalu lama untuk mendorongnya dengan pahamu kau letakkan di setiap sisi pada pinggulnya. “Kau harus membalas untuk itu, Baek. Kau tahu itu, kan?”

Dia menyeringai lagi, “Aku suka bagaimana kau melawanku lagi.”

“Benarkah?” kau menaikkan alismu dengan seduktiv. “Well, kau dalam banyak mengancam sekali, karena aku tidak akan membuat ini mudah untukmu.”

Baekhyun menjilat bibir bawahnya dengan seduktiv. “Aku tidak sabar untuk melihatnya.”
TBC

Sorry guys, bahasanya berantakan banget, harap maklum  pikiran lagi nggak jernih, but i’d tried my best.
STILL, YOUR LIKES AND COMMENTS KEEPS ME A LIVE GUYS!!! SO , PLEASE RCL. THANKS, AND I HOPE U ENJOY THE STORY …….

Advertisements

24 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun | Chapter 3b

  1. Hahaha niatnya buat mereka deket tp berantem mulu di dalem Haunted Mansion alias rumah hantunya kekekekeke tp berhasil jg tuh baekhyunnya buktinya lg ehmmm tau lah maksdnya 😀

    Like

  2. kapan mereka nikah? :v endingnya lagi gantung nie? sumpah aku gk akan pernah maksa cowok buat ngungkapin apa yg lagi dia pikirin, bisa gawat klo endingnya gini :3 gila aja mah klo mereka bakal ngelakuin hal ‘itu’ sama aja kayak ngejilat ludah sendiri wkwkwkwk btw thanks for tag yaw.. semangat yak ..!!!

    Like

  3. Bagian awal aku kira cerita fantasi atau apa… ehh ternyata lagi di dalam rumah hantu wkkkwk.
    Wow, itu mah udah bagian yadong Pj -_- haduhhh bacanya harus tarik ulur napas. Apa lagi bagian ceweknya yang diiket, Itu fifty shades of grey bgt >< Tapi akhirnya dilepasin sih 😀 hehehe
    Coba… coba sosok baek hyun kaya christian grey wooooo so sexy X_X
    Otak jadi mulai ngaco kaannn

    Like

  4. chap ini kan terusannya chap 3a,beb. di awal kan udah di ceritain mereka berada di adventureland park, oke, menurutgue sih nggak yadong 🙂 cuma agak yadong alias adegan hot aja kekeke Baekhyun mah lebih sexy daripada christian grey 😀 menurut gue, oya thx udah baca n komen, kirain kagak jadi baca 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s