Mr Balcony |Chapter 2

68184_849727831747898_9022813877733852533_n

Tittle : Mr Balcony ( Chapter 2 )
Author : PJ
Cast :
• Kim Hana (OC)
• Byun Baekhyun
• Other member of EXO
Lenght : Chapter
Genre : Romance
Rate PG- 17
Cover : by THhnnYL @Cover FanfictionArt
Greeting !!! Hallo guys, i’m back again, kali ini aku bawakan FF gajeku,pasti typo bertebaran, jalan cerita yang aneh dan pasaran , nggak ngefeel banget , tapi asli cerita ini keluar dari otakku sendiri … okey , di simak deh .
Summary : Kim Hana ( 29) seorang wanita karier yang polos yang tidak pernah berkencan dan berinteraksi dengan laki-laki seumur hidupnya. Hidupnya berubah saat dia bertemu dengan seorang laki-laki , Byun Baekhyun (26) yang tidak sengaja masuk kedalam apartemennya lewat balkon karena melarikan diri setelah kepergok berselingkuh dengan kekasih orang (yeoja apartemen sebelah).Sejak saat itu Hana merasakan perasaan yang belum pernah dia rasakan, yaitu fall in love with Baekhyun .

Previous :https://noonabyun.wordpress.com/2015/07/26/mr-balcony-chapter-1-3/
HAPPY READING !!!!

Chapter 2!

Why i got you on my mind?

I ‘ll never feel this way since i met you

You’d changed my world

I love you , ‘cause you are amazing

Just the way you are

Saat Hana pulang petang itu, dia terkejut melihat beberapa makanan di atas meja, tertutup dengan sebuah net yang mencegah agar lalat tidak masuk ke dalam makanan. Dia mengedarkan matanya ke segala sudut pada apartemen kosongnya. Pintu kamarnya tertutup, memberi tanda bahwa tidak ada orang yang memasukinya.

Dia menajamkan pendengarannya, mencoba untuk menangkap suatu suara air yang mengalir di balik pintu itu. Tidak ada tanda-tanda ada orang lain di dalam ruangan itu. Jadi, dia melangkah lebih dekat pada meja makan, rasa penasaran merasuki dirinya, menaikkan penutup dan menengok apa yang ada di dalamnya.

Hana tidak tahan kecuali menelan salivanya saat melihat sebuah omlet yang lucu pada sebuah piring dan semangkuk bulgogi bibimbap. Secarik kertas tertangkap oleh matanya. Hana meraih note itu dan meletakkan penutup itu kembali ke tempatnya. Dia membaca note itu. Tulisan tangan yang sedikit kacau dan benar-benar ditulis oleh seorang laki-laki.

‘I made you dinner and because i owe you one, i hope you’ll enjoy it – Mr Balcony’

Hana tetap membaca itu lagi dan lagi. Dia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata itu. Mungkin dia berasumsi lain dengan kata-kata itu, sejenak dia teringat kejadian di Cafetaria saat dia menerima telepon dari Baekhyun, dia tidak mengira bahwa Baekhyun akan benar-benar memasak untuknya. Dia menatap makanan yang ada di atas meja itu, memandangnya seperti suatu hal yang aneh. Baru pertama kali ada seorang laki-laki yang memasak untuknya. Hana mendesah, menggelengkan kepalanya, mungkin Baekhyun hanya ingin berterima kasih padanya karena telah menyelamatkannya tempo hari.

Dia mulai meninggalkan tempat itu, meletakkan barang-barangnya dan segera membersihkan diri. Setelah beberapa menit, dia kembali duduk di meja makan sambil terus memandangi makanan itu, jelas tidak yakin apa yang harus di lakukannya. ‘Kenapa aku bertingkah seperti ini? Aku tidak pernah begitu mudah di perlakukan seperti ini jadi kenapa saat seseorang memasak untukku adalah hal yang sangat besar sekarang?’ Walaupun Baekhyun tidak melakukannya untuk tujuan khusus, tapi kenapa laki-laki itu telah membuat efek pada dirinya? bahkan dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi padanya sekarang.

Hana mulai meraih copstick di samping mangkuk yang ada di atas meja, membelahnya dan menggunakannya untuk mengambil bulgogi bibimbap itu. Dia memakan makanan itu dalam diam. Hana sedikit tersenyum setelah makan beberapa gigitan.

“Delicious. Bagaimana bisa dia memasak seenak ini? Seharusnya dia membuka restoran saja.” Dia mengambil lagi makanan itu dan memakannya, begitu seterusnya, tanpa disadari dia telah menghabiskan makanan-makanan itu. Entah itu karena makanan itu yang benar-benar lezat atau memang rasa laparnya saja yang mengalahkan segalanya.

Hana berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kulkas. Dia membukanya dan mengambil satu botol air putih dan menuangkannya ke dalan gelas dan meminumnya sampai habis. Dia menghela nafas panjang dan merasakan kenyang yang memenuhi tubuhnya. Dia menaruh kembali botol itu kedalam kulkas, “Kau benar-benar kosong,” sambil mengelus-elus kulkas itu layaknya seorang anak kecil. “Aku harus mengisimu besok.” Hana mencuci piring-piring kotor itu segera dan setelah selesai dia kembali ke kamarnya.

Malam ini adalah salah satu dari malam-malam lainnya dimana dia tidak punya rencana apa-apa. Dan dia sangat menghargainya. Dia tidak mengerjakan proyeknya walaupun waktu yang di tentukan sudah dekat. Dia ingin sekali merelekskan tubuhnya, dia berbaring di atas tempat tidurnya, membaca sebuah buku dan sangat nyaman dengan hal itu. Tapi tiba-tiba terdengar suara aneh, seperti suara kaca yang di ketuk-ketuk. Dia melihat sekeliling, menajamkan pendengarannya kembali pada sumber suara itu.

Dia menolehkan kepalanya ke arah jendela yang terhubung dengan balkonnya, ada seorang laki-laki yang sedang berdiri di balik kaca pemisah itu. Dia tersenyum manis padanya sebelum menunjuk dengan jari-jarinya pada knop jendela, mengatakan pada Hana untuk membuka untuknya.

Hana sedikit mengendus, memutar bola matanya malas, “No.” Katanya pada sosok laki-laki itu, dia kembali mengalihkan perhatiannya pada buku yang ada di tangannya.

Sekali lagi, dia mendengar suara ketukan pintu kaca. Hana mendesah, melihat saat Baekhyun berusaha menarik knop itu dengan serius, tapi cemberut yang tidak puas yang sangat besar terlukis di wajahnya. Dia melempar pandangannya pada wanita itu dan menaikkan alisnya dengan penasaran, seolah-olah dia tidak bisa mengerti kenapa pintunya masih tertutup.

Hana tidak bisa menahan dirinya dan hanya mengedipkan matanya dengan cepat, berpura-pura terkejut dan mengangkat bahunya seolah-olah dia juga tidak tahu.

“This guy is seriously driving me crazy…..” keluhnya, menggelengkan kepalanya ‘tidak’ saat Baekhyun berkacak pinggang dan menunjuk pada knop jendela itu sekali lagi. Saat ini dengan sentakan cepat kepalanya. Saat dia melihat gestur penolakan Hana, mulutnya terbuka lebar dengan tidak percaya, mungkin sebuah umpatan yang tidak menyenangkan.

“Aaargghh –“ Hana mengerang dengan frustrasi.

Hana menendang selimutnya sampai terjatuh ke lantai meninggalkannya hanya dengan piyamanya saja. Dalam ruangan tidaklah terlalu panas, tapi tingkat frustrasi dan kebencian dalam dirinya, yang cukup membuat tubuhnya menghangat.

Kenapa dia selalu melakukan ini padaku?

Dia berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela yang terhubung dengan balkon. Dia meraih knop itu dan membukanya, sedangkan Baekhyun yang melihat itu langsung melarikan dirinya menuju ke dalam ruangan itu tanpa pikir panjang.

“Yah! Apa yang kau lakukan?” teriak Hana, tapi Baekhyun bahkan tidak memperdulikannya dan terus berjalan menuju ke dalam, membuka pintu kamar itu, keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruangan yang lain di apartemen Hana.

Hana hanya memandang Baekhyun yang keluar begitu saja sampai punggung laki-laki itu tidak terlihat. Dia duduk di pinggir tempat tidur, dan mendengus dengan kasar, “Dia benar-benar menyebalkan.” Beberapa saat kemudian, dia putuskan untuk mencari Baekhyun ada di mana, dia melangkah keluar meninggalkan kamarnya, dan menuju ruang tengah dimana ada sofa di sana, yang kemungkinan menurut pemikiran Hana dia sedang berada di sana.

Dan benar saja, Hana melihatnya meringkuk seperti bola menghadap ke samping dengan lengannya sebagai tompangan kepalanya dan sepertinya dia sudah tertidur pulas. Hana berjalan dengan pelan mendekat pada sofa dan berjongkok, setingkat dengan mata Baekhyun. Rambutnya terjatuh dengan berantakan di wajahnya, helaian-helaian panjang yang kusut tapi masih saja menarik yang membuat pipi wanita itu mulai memanas. Bibirnya sedikit terbuka dan saat Hana melihatnya, ada sebuah tahi lalat kecil yang hampir tidak terlihat terdapat di atas bibir atasnya. Cute. Hana tersenyum pada dirinya sendiri, senang dengan temuannya. Meletakkan kedua sikunya di bibir sofa untuk menyangga dagunya, Hana masih saja meneliti setiap lekuk wajah Baekhyun dalam diam.

Bohong jika Baekhyun tidaklah setampan itu. Betapapun dia tidak ingin mengakuinya bahwa Hana sudah merasa simpati padanya, dia tidak akan tidak setuju dengan seseorang yang mengagumi kecantikan Baekhyun. Dia benar-benar tampan, mengagumkan dan menawan, khususnya saat dia tidur.

Berapa banyak wanita yang akan begitu beruntung melihat pemandangan seperti ini di awal pagi?

Tiba-tiba merasa sedikit sakit pada dadanya mengingat laki-laki ini telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Hana menyentuh pundak Baekhyun dengan jari telunjuknya, “Yah, bangun.”

Beruntungnya, Baekhyun belum terlelap tidur, dia mengerutkan keningnya saat mendengar suara Hana. “Biarkan aku tidur di sini, okay?”

“Kau tidak bisa tidur di sini.” Kata Hana, memundurkan tubuhnya dan melihat Baekhyun yang perlahan membuka matanya.

“Please –“ Baekhyun menatap wanita itu, dan setelah beberapa saat, Hana menyadari ada sedikit keraguan padanya, “Untuk malam ini?” laki-laki itu memohon.

Apakah gila jika berpikir Baekhyun terdengar lebih ragu-ragu dan takut untuk menyakan ini? Hana tahu ini bukanlah pertama kali dia melakukan hal ini, dan mungkin karena itulah jawaban adalah lebih dari jelas baginya.

“No.” Protesnya langsung, menggelengkan kepalanya jika kata-kata itu tidaklah cukup untuk menjelaskan ketidaksetujuannya.

“Kenapa?” tanyanya, terdengar lebih percaya diri sekarang.

“Dan kenapa?” Hana balik bertanya, mendengus sedikit kesal, “Aku bahkan tidak cukup mengenalmu dengan baik untuk membiarkanmu tidur di sini.”

“Tidak.” Dia tidak setuju, mulai berdiri dan berhenti tepat di depan Hana. “Kenapa kau begitu marah? Itulah yang ingin kutanyakan.”

Hana menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengerti kenapa dia ingin sekali mendengar jawaban dari Hana. Itulah masalahnya Byun Baekhyun –dia tidak mengerti sama sekali, kenapa Hana merasa sedikit marah –tidak, dia merasa jengkel itu saja.Tidak ada jawaban yang keluar kecuali keheningan, Baekhyun memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan memandang langit-langit. Setelah beberapa menit menarik nafas, dia kembali melihat Hana, saat ini nada suaranya terdengar tidak tentu, “Dia hampir saja menemukanku.”

Jelasnya tiba-tiba membuat hati Hana sedikit berpacu dengan cepat, Hana menautkan alisnya, mendongak padanya dengan bingung. “Kenapa kau katakan ini padaku?”

“Itu alasannya,” jawabnya dengan jujur, dengan sedikit menaikkan sudut bibirnya ke atas dengan senyum. “Dan, tentu saja –untuk membiarkanku tidur di sini.”

“No, you don’t.” Protes Hana lagi. “You can’t sleep here, Baekhyun.”

“I can.” Saat mata mereka bertemu, Baekhyun hanya tersenyum lebar, memiringkan kepalanya ke samping dia melihat Hana dengan matanya yang tenang.

Saat ini, Hana benar-benar menyerah, selalu saja dia melakukan ini padanya, dan akhirnya wanita itu menuruti apa yang Baekhyun minta. “Whatever.” Hana melangkah meninggalkan Baekhyun sendirian di ruang tengah, dia pergi menuju kamarnya. Setelah beberapa saat, ternyata Hana muncul lagi dari balik pintu kamarnya dengan membawa selimut dan satu bantal di lengannya. “Ini.” Dia melempar benda itu di atas sofa, dan tanpa melihat ke belakang pada Baekhyun dia kembali menuju kamarnya.

Sudah setengah jam berjalan, Hana masih saja terbaring di atas tempat tidur dan masih membaca buku. Dia berdebat dengan dirinya sendiri atas haruskah dia pergi keluar untuk berterima kasih atas makan malamnya, walaupun itu bukanlah hal yang besar. Di samping itu, akan aneh jika dia hanya pergi keluar hanya untuk berterima kasih, dan juga, bukankan Hana juga sudah mempersilahkan dia untuk tidur di sofanya?

Dia fokuskan lagi pada buku yang ada di tangannya. Hana tidak lagi mendengar suara apapun di ruang tengah. Sepertinya Baekhyun sudah tertidur.

Hana menutup bukunya dengan kasar dan menaruhnya di atas nakas, dia menatap pintu kamarnya dengan intens seolah-olah dia bisa melihat menembusnya di balik pintu kayu itu, penasaran ingin melihat situasi di luar apakah Baekhyun benar-benar sudah tertidur.

Dia menyibak selimutnya dari tubuhnya, turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamar itu. Hana memijit matanya yang tertutup sebentar itu saat dia memutar knob pintu. Membuka pintu itu dengan ringan, menengok pada ruangan luar yang sudah gelap.

Wanita itu meninggalkan kamarnya yang nyaman itu, perlahan menuju dapur. Tangan-tangannya mulai berkeringat dan dia merasakan punggungnya juga berkeringat. Hana mengigit bibirnya, untuk mencoba menekan semua reaksi-reaksi ini. Ini bodoh, dia hanya Baekhyun, tapi bagaimanapun bisa membuat wanita itu sedikit gugup.

Dia menuangkan segelas air walaupun dia tidak membutuhkannya. Dia menyesapnya sedikit saat dia berada di dapur, walaupun begitu sangat membuat tenggorokannya lebih segar. Dia memandang sosok yang ada di sofa itu, terlihat kakinya sedikit keluar dari batas sofa itu, bagaimanapun laki-laki itu punya kaki yang panjang walaupun dia punya postur tinggi yang kurang dari Chanyeol, tentu saja, Park Chanyeol itu adalah raksasa.

Hana terkesiap dari pikirannya saat dia melihat laki-laki itu bergerak. Wanita itu mematung, berharap Baekhyun tidak akan bagun. Di saat tidak ada gerakan lagi, dia merasa lega. Hana bergerak sedikit lebih dekat ke arahnya, masih mematap seluitnya.

“Thanks for dinner.” Gumamnya dengan sangat halus, bahkan Hana sendiri tidak bisa mendengarnya, dan begitu juga dengan Baekhyun.

Masih hening setelah itu dan Hana lega Baekhyun tidak mendengarnya. Hana ingin mengucapkan terima kasih tapi wanita itu tidak ingin dia mengetahui bahwa dia benar-benar perduli dan punya perasaan padanya. Dia berbalik, berjalan menuju kamarnya. Hanya beberapa langkah dari pintu kamarnya saat dia terkejut, mendengar suara Baekhyun yang rendah dan kasar, jelas-jelas mengantuk. Gumamannya masih saja membuat hatinya berpacu sedikit cepat.

“Good night.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam tapi entah kenapa mata Hana tidak mau menutup dari tadi. Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan pada Baekhyun, dan mungkin dia berharap laki-laki itu belum tidur sepenuhnya.

To : Mr Balcony

“Yah, Mr Balcony, apa kau sudah tidur?”

Hana tersenyum ketika melihat pesannya terkirim. Tidak selang waktu yang lama ponselnya berkedip, tanda pesan masuk. Dia tidak mengira Baekhyun membalas pesannya secepat itu. Itu pertanda laki-laki itu belum tidur sepenuhnya. Dengan segera Hana membuka pesan itu sambil tersenyum.

To : Nona kaca mata

“Oppa sudah tidur, jadi kau tidurlah.”

Kedua mata Hana membelalak lebar ketika membaca balasan dari Baekhyun, “Mwo? Oppa? Yang benar saja?! Apa dia bercanda?” ujar Hana seraya menunjukkan wajah tidak percaya.

Di saat Hana hendak membalas, tiba-tiba saja datang kembali pesan dari Baekhyun.

From : Mr Balcony

“Gomawo.”

Seketika itu juga Hana tersenyum, dia menarik selimut lalu menggigitnya dengan perasaan senang. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia merasakan senang yang luar biasa seolah-olah telah mendapatkan sebuah hadiah yang sangat di nanti-nantikan. Seperti anak belasan tahun yang lagi jatuh cinta, Hana berguling-guling dengan senyum yang tak kunjung luntur dari wajahnya. Dia menutup badannya menggunakan selimut sampai kepala.

***

Drrttt …..Drrtt…..

Ponsel di atas nakas bergetar. Hana dengan mata yang masih tertutup itu meraba-raba benda itu pada sisi sampingnya dengan menggunakan tangannya. Dia tidak menemukannya, dia membuka matanya sedikit, dengan tubuh yang masih berbalut selimut hangat dia merangkak mendekat pada nakas samping tempat tidur, dia meraih ponsel itu. Dengan pandangan mata yang tidak jelas, dia menekan tobol hijaau dan di taruhnya di telinganya, dan merebahkan lagi tubuhnya di atas tempat tidur.

“Yeoboseo.” Hana menjawab panggilan itu.

“Dear.”

“Eomma, kenapa menelpon pagi-pagi sekali?” gerutunya.

“Lihatlah jam digital di sampingmu,” Hana menolehkan kepalanya pada jam digital di atasnya, 08.25 AM. “Apa ini masih pagi-pagi sekali, dear?” tanya suara yang ada di telpon.

“Ada apa?”

“Apa hari ini kau ada di rumah?”

Hana menarik nafas dan mengeluarkannya, hari ini adalah hari minggu, dan tentu saja dia tidak kerja hari ini, tapi dia sudah membuat banyak rencana untuk hari ini. Rencana yang sebenarnya tidaklah penting sama sekali. Menyelesaikan buku bacaannya yang sampai hari ini dia belum sempat untuk menyelesaikannya, berhubung dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Mengisi kulkasnya yang akhir-akhir ini dia sadari kosong, dia berencana untuk pergi ke toko groseri untuk membeli beberapa makanan dan sayuran. Dan hal terakhir yang ingin dia lakukan adalah merelekskan dirinya dan pikirannya yang di penuhi dengan pekerjaan dan –Baekhyun? Teringat laki-laki berambut hitam yang menyebalkan dan –tampan yang tadi malam telah menginap di apartemennya, dia langsung bangun dari tidurnya.

Dia menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, dia berjalan menuju ruangan tengah. Nope –laki-laki itu sudah pergi. “Hana? Apa kau mendengarku?”

“Aku ada di rumah hari ini.” Ada sedikit rasa kecewa dalam dirinya.Dia sudah pergi, bahkan tanpa berpamitan. “Apa dia pergi lewat balkon lagi?” dia bergumam pada dirinya sendiri, tapi sayangnya ibunya mendengarnya karena dia masih bicara di telpon.

“Hana, apa yang kau bicarakan?”

“Ani –“ Hana berjalan kembali ke kamarnya, dia melangkahkan kakinya menuju jendela yang terhubung dengan balkon. “Aku libur, Eomma.”

“Bagus.”

PIIIIPPPP

Sambungan itu terputus atau bisa dikatakan ditutup sepihak. That’s it? Hana bergumam sambil menatap ponsel yang ada di tangannya dengan alis yang menaut penasaran.

Dia melempar ponselnya di atas tempat tidur sebelum berjalan menuju jendela, meraih knob itu dan membukanya. Hana keluar menuju balkon sambil meregangkan tangannya, sedikit lenguhan dan desahan-desahan adalah hal pertama kali yang dia dengar. Seorang gadis sedang mendesah dengan ekstasi di balkon samping. Hana menolehkan kepalanya pada suara gadis itu. Wanita itu melihat seorang gadis dan seorang laki-laki sedang bercumbu di atas balkon. Taeyeon –maybe that’s the girl dan Baekhyun sedang bermain-main di balkon dan Hana melihat mereka sedang bercumbu dengan sangat mesra, membuatnya ingin muntah saat dia melihat realisasi yang menghantamnya seperti sebuah kereta dengan kecepatan penuh.

“Menjijikkan sekali.” Tubuhnya bergoyang dalam penolakan saat dia berjalan menuju ke komputer yang saat ini terhubung dengan DVD Playernya. Tidak akan, dia tidak ingin mendengar suara berisik dari kedua orang itu, khususnya pada Baekhyun dan Taeyeon. Dengan satu klik cepat pada mouse, Hana memutar lagu dengan sangat keras pada komputer itu dan mengeraskan volumenya, berharap bisa mengganggu mereka.

“Right in your face, Baekhyun.” Katanya dengan puas saat lagu ‘Super Heroes’ dari The Script terdengar sangat keras memenuhi seluruh ruangan apartemen. Sangat sempurna untuk menjadi semangat di pagi hari yang cerah. Hana ikut bernyanyi bersama walaupun dia tidak berbakat sama sekali dalam bernyanyi, tapi dia menikmatinya.

Sambil bernyanyi dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. lagu demi lagu terus berbunyi dengan sangat keras, dan terdengar samar-samar suara Hana yang masih saja ikut menyanyikan lagu demi lagu.

Beberapa saat kemudian, dia selesai mandi, wanita itu keluar dengan mengenakan bathrobe dan sebuah handuk yang membungkus rambutnya, Hana berjalan menuju lemari pakaian dan berdiri tepat di depannya –dimana lagu berikutnya mulai berputar. Sebuah lagu ‘Monster’ dari Eminem yang sangat dia sukai 2 tahun yang lalu, masih dengan suara keras dia menirukan lagu itu.

“I ‘m friends with the monster that’s under my bed.” Hana berteriak dengan keras, “Get along with the voices inside of my head. You’re trying to save –HOLY SHIT!” Hana terlonjak kaget saat seseorang dengan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya, menariknya sehingga membalikkan tubuhnya.

Matanya terkunci pada Baekhyun, tangannya mendarat pada dada laki-laki itu dan jari-jari lentiknya masih menggenggam pergelangan tangannya membuat Hana tidak bisa bergerak. Nafasnya terhalang saat dia menyadari betapa cepatnya jantungnya berdetak sekarang. Hana tidak yakin jika suara lagu itu adalah penyebabnya atau karena Baekhyun yang terlihat menawan dengan rambut hitamnya yang dikombinasi kesamping, jaket kulit hitam yang menggantung di pundaknya, menampakkan T –Shirt putih yang dia pakai.

Hanya masalahnya adalah cemberut pada bibirnya.

“Kau berisik sekali.” Katanya, menatap lurus pada mata Hana dengan intens yang membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Baekhyun meringis saat mendengar suara musik yang mengeras lagi, melepas tangan Hana, dia berjalan menuju komputer dan mematikannya.

Kemudian, seperti seseorang yang baru saja membangunkannya, Hana terkesiap dari kebingungan dan kehadiran Baekhyun yang tiba-tiba itu. Hana berjalan cepat menghampiri, dengan mata lebar tidak percaya dan horor, “What do you want?”

Pertanyaan yang terdengar bodoh, tapi dia tidak tahan untuk menanyakannya. Baekyun duduk di pinggiran meja dengan tangan yang dilipat di depan dadanya, “Aku sudah mengatakannya.”

“Kau menggunakan apartemenku untuk tempat berlindungmu?” jelas Hana, sebenarnya dia tahu alasannya, “Pulanglah, Baekhyun. Apa kau tidak punya tempat tinggal?”

“Aku nyaman di sini.” Baekhyun mulai menegakkan tubuhnya dan ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tapi Hana berteriak, Baekhyun berhenti dan berbalik.

“Yah! Kau tidak boleh di sini.”

“Kenapa?”

“Karena –“ Think Hana, think, “ –Karena, aku akan pergi ke toko groseri.”

“Kalau begitu pergilah. Aku akan disini menjaga apartemenmu.” Kata Baekhyun, dia berbalik lagi dan keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan teriakan Hana menuju ruang tengah.

“Yah, Baekhyun! Yah! Kau tidak bisa lakukan ini padaku!” teriak Hana dengan frustrasi.

Huff, Hana terengah-engah, dia duduk di pinggir tempat tidur sambil memejamkan matanya, menenangkan dirinya dari emosi-emosi yang tidak terkendali. Okay, Baekhyun. Terserah padamu. Kau bisa lakukan apa saja padaku, aku menyerah.

***

Di dalam apartemen Hana, Hana dan Baekhyun tengah menonton TV bersama dengan beberapa cemilan di tangan Hana.

Baekhyun melirik pada Hana, namun tidak lama kemudian dia mengalihkan padangannya kembali. Dan begitu seterusnya, sampai membuat Hana yang menyadari hal tersebut akhirnya menatap Baekhyun dengan tatapan curiga.

“Yah, Baekhyun. Kenapa kau terus memperhatikanku, huh? Apa aku terlihat begitu cantik?”

Baekhyun yang sedang mengunyah cemilan itu sontak saja menyemburkan isi mulutnya karena terkejut dengan pertanyaan Hana barusan.

“Aish, kau itu jelek, dan lihat gayamu! Kau terus saja memakai kaca mata, setidaknya ubahlah gayamu itu. Apa kau tidak pernah mencoba untuk memakai kontak lens?”

Hana menghela nafas panjang, kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada layar tv sambil mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk hal itu.

Baekhyun menganggukkan kepalanya memahami penjelasan Hana. Tidak selang waktu yang lama, Baekhyun kembali melirik dan melihat Hana, lebih tepatnya melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita itu. Dan begitu seterusnya, sampai akhirnya membuat Hana merasa jengkel dan dia berteriak padanya.

“Yah! Ada apa lagi? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau menyukaiku?”

Mendengar pekikan Hana, Baekhyun hanya memutar bola matanya dengan malas dan berdecak, “Apa kau tahu maksud dari tulisan itu?”

Hana menautkan kedua alisnya, “Tulisan apa?” tanyanya.

Baekhyun dengan satu sentakan kepalanya menunjuk pada tulisan besar pada hoodie yang dipakai Hana saat itu ‘FUCK ME HARD’.

Wanita itu lalu melemparkan pandangannya pada tulisan yang ada di hoodie yang sedang dia pakai, dan berkata, “Tulisan ini?” sambil menunjuk tulisan itu. “Memang apa masalahnya?”

“Memang tahu benar artinya?” tanya Baekhyun dengan mata seduktivnya.

“I know exactly what it means, Baek. Memang apa masalahnya?” Hana masih menerka-nerka apa yang ada dalam kepala Baekhyun. Tidak butuh waktu yang lama, dia tahu apa yang dimaksudnya. Dengan segera, Hana meraih bantal sofa yang ada di punggungnya dan melemparnya pada wajah Baekhyun. “Dasar, PERVERT!”

Baekhyun yang terkena oleh bantal itu hanya meringis, dan berteriak, “Yah! Kenapa kau lakukan ini padaku?!” sementara Hana hanya menyeringai puas. “Bukankah kau ingin pergi ke toko groseri?” tanya Baekhyun yang masih tetap menonton tv, tidak ada respon dari Hana, dia mencuri lirikan padanya. Masih tidak ada jawaban, dia berteriak, “Yah! Aku bicara padamu!”

Hana berdecak kesal, dan memalingkan wajahnnya menatap Baekhyun yang sedang duduk di sampingnya. “Mwo?! Apa kau ingin mengusirku? Dari apartemenku sendiri? Aish….”

“Bukan begitu –“ jawab Baekhyun, “Bukankah kau tadi berkata ingin pergi ke toko groseri? Ayolah –aku akan memasak untukmu. Bagaimana?” tawarnya.

“No, thanks. Aku bisa memasak sendiri, Baekhyun.”

“Ayolah, ijinkan aku untuk memasak untukmu lagi, hum?” sambil melakukan sedikit gerakan aegyo dia memohon pada wanita itu.

“Dasar laki-laki aneh, kenapa dia melakukan ini padaku? Aish…Kau membuat aku bingung pada diriku sendiri, Baekhyun. Kenapa aku membiarkanmu masuk ke dalam kehidupanku? Tsk –aku benar-benar tidak mengerti diriku sendiri.”

“Kau tidak ingin pergi?” tanya Baekhyun lagi.

“Fine!” teriak Hana dan langsung berdiri dari tempat duduknya, “I ‘ll go!” sambil melempar tangannya di udara, dia melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil dompet.

Sementara itu Baekhyun, yang masih duduk di sofa masih saja memandang layar tv yang ada di depannya dengan senyum yang lebar. Beberapa saat, dia terlonjak kaget karena ponsel yang dalam saku celananya bergetar, dia mengeluarkannya dan menjawab panggilan itu.

“Hyung.” Suara yang ada dalam telpon itu.

“Ada apa, Sehun –i?” tanya Baekhyun sambil memegang remote tv untuk mengecilkan volumenya.

“Kau ada di mana? Apa kau semalam tidak pulang? Bibi mencarimu.”

“Sehuni,Sehuni. Aku bukan anak kecil lagi, okay? Berhentilah mengikutiku.”

Terdengar suara yang ada di telepon itu berdecak kesal. “Bibi hanya khawatir padamu. Itu saja.” Jelas suara yang ada di telpon itu.

“Katakan pada Nyonya Byun anaknya baik-baik saja.”

“Kau sudah berjanji padanya untuk menghadiri meeting besok, kan?”

“Gantikan aku.”

“Shireo! Aku tidak akan melakukan dua pekerjaan sekaligus, Hyung. Aku capek. Kapan kau akan kembali ke perusahaan? Berhentilah bermain-main.”

“Aish, anak ini.” Sambil memandang ponselnya, dia menggerutu. Lalu dia letakkan kembali ponselnya di telinganya, “Okay, aku akan menghadiri meeting besok. Puas?!” terdengar suara cekikikan di ponselnya, sepertinya bujukan Sehun telah berhasil.

“Apa kau sekarang bersama Taeyeon Noona?” tanya Sehun

“Hum.” Jawab Baekhyun sambil mengangguk.

“Ingatlah Hyung, dia akan segera menikah –“ belum sempat Sehun melanjutkan kalimatnya, Baekhyun menutup sambungan telpon secara sepihak dan melempar ponselnya di atas sofa dengan kasar, untung ponsel itu tidak terjatuh di lantai. Dia mengacak rambutnya frustrasi.

***

Hours Later

Pintu lift terbuka, Hana dan sehun yang sedang membawa belanjaan keluar dari lift. “Nomor 213.” Hana memberitahu tempatnya pada laki-laki itu.

Sebenarnya dia tidak ingin mengundang laki-laki itu untuk datang ke apartemennya. Tapi rasa bersalahnya pada Hana karena telah menjatuhkan belanjaannya membuat laki-laki itu ingin mengantarkan Hana sampai ke apatemennya. Hana dan Sehun tidak sengaja bertemu di depan toko groseri, dan tanpa sengaja dia menabrak Hana saat berjalan cepat sehingga menjatuhkan barang bawaan yang ada di tangan Hana.

“Apa ruangan itu?” Sehun menunjuk pada pintu yang tertulis angka 213 dan Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Kurasa sampai di sini saja, Tuan –“

“Oh Sehun. Panggil aku Oh Sehun saja. Atau Sehun saja, Hana.”

Hana tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Ah, ne –“ Hana mengangguk, suasana canggung mulai di rasakan olehnya.

“Aku boleh masuk?”

“Sebenarnya –“

“Sebentar –“ potong Sehun tiba-tiba di saat dia merasakan ponsel yang ada dalam sakunya berbunyi. Dia segera mengambil ponsel itu dari dalam sakunya dan menjawab panggilan itu. “Yeoboseo?”

“Sehun –a!” suara receiver itu terdengar keras membuat Sehun menjauhkan ponselnya dari telinganya dan meringis. Sesaat kemudian dia meletakkan lagi ponsel itu pada telinganya.

“Eomma, berhentilah berteriak seperti itu. Kau seperti seorang gangster saja.” Keluh Sehun pada receiver itu.

“Pulanglah segera! Aku membutuhkanmu!” suruh suara di sebrang sana.

“Tapi Eomma, aku lagi –“ keluh Sehun pada receiver itu atau Eomma , karena dia menyebut seseorang yang ada di telpon itu dengan ‘Eomma’.

“Tidak ada penolakan, Sehun. Kau harus cepat kemari.” Sepertinya Eommanya tidak menerima penolakan apapun. “Apa kau bersama Baekhyun?” tanyanya lagi.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Baiklah kalau begitu. Cepatlah.” Tanpa memberi kesempatan pada Sehun untuk bicara, telpon itu sepertinya di putus sepihak.

Sehun mengalihkan perhatiannya dari ponselnya pada Hana dengan tatapan menyesal. “Sepertinya aku harus segera pulang. Mianhae.”

Thanks God. Tapi sebenarnya aku tidak bermaksud mengundangmu, Sehun. Karena ada Baekhyun di dalam. Kurasa. Apa dia masih di dalam?

“Gwaenchana, Sehun-ssi. Gomawo.” Hana membungkuk berterima kasih padanya.

Sehun tetap saja melempar tatapan keengganannya untuk pergi meninggalkan Hana, tapi dia harus pergi dan ibunya sedang memanggilnya. Akhirnya Sehun membungkuk sebentar, berbalik dan melangkah meninggalkan Hana yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya sendirian.

Hana memandang kepergian laki-laki itu sampai punggungnya tidak terlihat. Dia bernafas lega, Hana mulai membuka pintu apartemennya dan melangkah masuk. Setelah berada di dalam, dia menutup pintu dibelakangnya dan berbalik. Terkejutnya dia setelah membalikkan tubuhnya di saat dia hampir menabrak seorang laki-laki yang sedang berdiri tepat di belakangnya. “Oh my Godness!” sambil memegang dadanya, karena terkejut. “Kau mengagetkanku. Apa yang kau lakukan di sini?”

Baekhyun berdecak, “Otakmu memang butuh di perbaiki.” Laki-laki meraih kantong yang berisi groseri, Hana secara otomatis memberikannya pada laki-laki itu. “Apa kau sudah lupa aku akan menjaga apartemenmu selama kau pergi ke toko groseri?” Baekhyun mulai melangkah masuk, sementara Hana melepas sepatunya dan menggantinya dengan slipper, mengikuti Baekhyun masuk ke dalam. “Kenapa kau lama sekali?” Baekhyun bertanya melalui bahunya.

“Aku bertemu dengan managerku tadi. Ah –seharusnya dia juga berada di sini, Baek.”

Baekhyun menyerngitkan keningnya, “Managermu?” tanyannya penasaran dan Hana hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Mereka mulai meletakkan belanjaan itu di atas counter, dan juga ke dalam kulkas. Hana mulai memasukkan bahan-bahan itu ke dalam kulkas, sementara Baekhyun mulai memotong lobak dan sayuran. Keheningan yang canggung mulai terasa di antara mereka. Mereka terlalu sibuk pada pekerjaannya atau mereka mulai canggung untuk memulai percakapan.

Hanya suara pisau dan papan pemotong yang saling beradu yang terdengar di dapur, hana mencuri lirikan pada Baekhyun saat laki-laki itu fokus memotong sayuran-sayuran itu. Karena dia tidak tahan dengan kecanggungan yang lama, Hana berdehem untuk mencairkan suasana. “Baekhyun….” panggilnya sambil melirik pada laki-laki itu. Baekhyun tidak merespon, dia masih fokus melakukan pekerjaannya itu. “Kenapa –“ Hana berdehem lagi tapi kali ini lebih pelan. “Kenapa kau ingin sekali memasak untukku –, tidak, kenapa kau suka sekali memasak?” tanya Hana sambil menggigit bibir bawahnya, menunggu reaksinya.

Baekhyun berhenti memotong dan menolehkan kepalanya ke arah Hana, dan berkata. “Aku tidak tahu kenapa aku suka sekali memasak. Paling tidak aku punya sisi baik selain menjadi laki-laki yang brengsek, kan?” jawabnya, dia tersenyum. Damn it! Senyuman itu membuat pipi Hana semakin memanas.

“Apa kau akan selalu memasak untukku untuk membalas kebaikanku karena selalu menyelamatkanmu?” damn, kenapa aku bertanya seperti itu? Hana meringis dan merutuki dirinya karena telah bertanya seperti itu pada Baekhyun.

“Bisa juga.” Katanya dengan singkat tanpa mengalihkan perhatiannya pada papan pemotong yang ada di depannya. “Apa kau tidak suka?”

“Bukan begitu –hanya saja –“ Hana tidak meneruskan kalimatnya, Baekhyun menunggu kata-kata selanjutnya tapi wanita itu tidak mengatakan apapun lagi.

Mereka menjadi terdiam sekarang, hanya suara berisik dari panci penggorengan yang terdengar di dalam dapur. Hana mencuri lirikan pada Baekhyun lagi, merenungkan jika hanya haruskah dia bertanya tentang gadis itu – apartemen sebelah. Apakah pertanyaan itu terlalu personal?

“Bertanyalah.” Suara Baekhyun terdengar di telinganya, membuatnya sedikit terkejut. Dia mengetahui jika Hana ingin menanyakan sesuatu padanya.

“A –apa?” jawab Hana dengan terbata-bata karena sedikit terkejut.

“Bertanyalah. Apa yang ingin kau ketahui?”

“Taeyeon.”

“Taeyeon?” tanya Baekhyun untuk mengklarifikasi seseorang yang ada dalam pikiran Hana.

Hana bergumam, dia tidak tahu kenapa nama itu yang tiba-tiba keluar dari mulut wanita itu, dia bahkan tidak tahu. “Kenapa kau menyukainya disaat dia sudah memiliki kekasih?”

“Apa ada peraturan bahwa kau tidak boleh menyukai seseorang yang sudah milik orang lain?” dia menjawabnya dengan pertanyaan yang lain, nada suaranya tinggi, hati Hana tenggelam dalam kepedihan di saat kebenaran di balik kata-katanya terdengar sangat jelas di telinganya. Jadi dia menyukainya.

“Tidak….”Hana mengakui, hampir berbisik, kesedihan tercekat pada tenggorokannya. Membuatnya sulit untuk bicara dengan keras.

Baekhyun mendesah dengan berat sebelum dia bicara lagi. “Kau tahu, aku mungkin akan menyesal mengatakan ini padamu, tapi ada satu alasan kenapa aku tetap menemui Taeyeon.”

What?

Hana menautkan kedua alisnya bingung, katanya berputar-putar dalam kepalanya. “Aku tidak mengerti.” Hana mengakui. Wanita itu mulai meletakkan makanan yang sudah masak di atas meja makan diikuti Baekhyun yang melakukan hal yang sama.

“Aku tetap menemui Taeyeon karena dia adalah cinta pertamaku. Aku bahkan tidak bisa menolak atau marah disaat dia memilih orang lain dalam hidupnya.”

“Bukankah itu akan menyakitkanmu?”

“Aku tahu,” dia mengakuinya dengan cepat. “Pertama, itu mungkin hanya masalah waktu saja. Tapi kurasa aku harus –“ dia tidak meneruskan kalimatnya yang membuatnya menggentung dan membuat Hana menjadi bingung dengan informasi yang baru saja dia dapatkan.

“To stop?” terusnya tiba-tiba. Apakah ini yang sebenarnya Hana inginkan di balik pikirannya akhir-akhir ini?

“Aku tidak tahu.” Jawab Baekhyun. Mereka mulai duduk di meja makan, mereka berdua mulai makan makanan itu dalam diam. Baekhyun tenggelam dalam pikirannya, sementara Hana merasa sedikit kasihan pada Baekhyun dan sakit pada hatinya secara bersamaan. Hana tidak tahu apa yang harus dilakukan, apa dia harus memberi dukungan padanya atas hubungan Baekhyun atau dia harus menyuruhnya untuk berhenti demi kebaikan dia di masa depan?

Bel pintu berbunyi

Mendengar suara itu, Hana dan Baekhyun saling berpandangan. “Apa kau ada tamu?” tanya Baekhyun dan Hana hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Tapi kurasa aku harus melihatnya.” Hana berdiri dari tempat duduknya dan bergegas menuju pintu luar.

“Honey!” seorang wanita setengah tua langsung menghamburkan dirinya pada Hana saat dia membuka pintu apartemennya, membuat Hana sedikit terhuyung dalam pelukan yang tiba-tiba itu. “My lovely daughter! How are you, sweetheart?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya, melepaskan dirinya dari pelukan ibunya. Hana melihat ke belakang ibunya melalui bahunya untuk melihat ayahnya tapi tidak ada seorangpun di belakang ibunya. “Apa Eomma datang sendiri?”

“Benar,” ibunya membenarkan, dia melepas sepatunya dan memberikan sebuah bungkusan yang penuh dengan makanan. “Ini, taruh ke dalam kulkas sebelum mereka menjadi basi.”

Hana berbalik saat ibunya mulai masuk ke dalam ruang tengah. “Dimana Appa?”

“Dia ada urusan bisnis.” Teriaknya dari dalam ruangan sebelum Hana mendengar teriakannya lagi, “Oh Tuhan, kenapa berantakan sekali? Kenapa ada bantal dan selimut di sini?”

Oh bagus, tentu saja ibunya selalu mengunjunginya setiap akhir pekan dan dia lupa untuk menaruh benda-benda itu lagi ketempatnya, bantal dan selimut yang telah di gunakan oleh Baekhyun tadi malam. “Itu karena –“ Hana mendesah, ingin menjelaskan situasi tapi dia putuskan untuk tidak mengatakannya. “ –lupakan saja.”

Hana mulai melangkah menuju ke dalam mengikuti ibunya. Setelah beberapa langkah tidak jauh dari meja makan, langkahnya terhenti melihat sosok laki-laki yang sedang duduk di meja makan membuat Hana hampir menabrak ibunya, yang ada di depannya.

“Siapa dia?” suara ibunya membuatnya sedikit terkejut dan Baekhyun yang sedang duduk di meja makan mendengar suara wanita yang bersama Hana langsung berdiri dan memberi salam dengan membungkuk cepat.

“Anyeong haseo.” Sapa Baekhyun, membungkuk dengan sedikit dan wanita setengah tua itu menyenggol Hana dengan sikunya dengan rasa tertarik, dan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal bagi Hana.

“Apa dia kekasihmu?”

Baekhyun langsung menolehkan kepalanya dengan cepat kearah Hana. Wanita itu bisa melihat betapa terkejutnya dia saat mendengar pertanyaan ibunya dan perasaan malu menghantam langsung pada wajah Hana di saat dia menyadari betapa konyolnya pertanyaan itu. Baekhyun dan Hana? Sepasang kekasih? Itu pasti sebuah lelucon. Hana sadar baekhyun sudah memiliki wanita yang di cintai, walau kadang terselip keinginan itu, sedikit. Hanya sedikit, seujung kuku.

“Eomma,” Hana merengut dalam penolakan. “Dia hanya teman.” Sebenarnya Hana ragu dengan kata ‘teman’. Hana menoleh kearah Baekhyun, dan melanjutkannya. “Dia –dia tetangga sebelah, Eomma.”

Tapi ibunya benar-benar mengabaikan apa yang dia katakan dan mulai mendekat pada Baekhyun, “Kurasa aku harus meluangkan waktuku untuk minum teh bersamamu.”

Baekhyun melirik pada Hana dengan bingung saat ibunya mulai meraih tangannya. What the hell was that woman doing now? Sebelum ibunya bertindak lebih jauh, dengan segera Hana meraih tangan ibunya dan membawanya pergi dari sana.

“Eomma, Baekhyun sedang makan sekarang. Apa kau tidak lihat?” jelasnya dengan suara keras, mencoba untuk mengalihkan perhatian ibunya dari Baekhyun. Hana membawa ibunya menuju ruang tengah. Dan setelah beberapa saat, akhirnya mereka duduk di ruang tengah, dan Hana menghela nafas dengan lega.

Di pihak lain, ibunya semakin tersenyum lebar pada Hana membuat wanita itu sedikit bingung dan Hana melempar tatapan ‘ada apa’ pada ibunya. Wanita tua itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memperlihatkanya pada Hana.

“What’s this?”

“Your future husband.”

“Eomma!”

“Dear, sampai kapan kau akan sendirian, hum? Apakah kau tidak ingin menikah?”

Hana cemberut saat ibunya menyodorkan sebuah amplop besar di atas meja. Hana menengok ke belakang, ke arah dapur dimana Baekhyun masih berada di sana, lalu melempar kembali pandangannya pada ibunya yang sedang duduk di depannya, dan melihat pada amplop besar itu.

“Kau tidak ingin membukanya? Kuyakin kau akan suka dari satu diantara mereka.” Hana mulai membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, ada beberapa lembar foto laki-laki yang –tentu saja –sangat tampan. “So what do you think?” tanya ibunya, “You better pick one of them.”

“I don’t know, Eomma.” Hana mengetuk-ngetuk dagunya.

“Pilih salah satu, Hana. Mereka semua laki-laki baik, Eomma jamin itu.”

Hana menghela nafas panjang, memejamkan matanya sebentar dan kemudian membukanya kembali, “I can’t do this!” Hana bersandar pada sofa dengan tangan yang dilipat di depan dadanya. Sementara ibunya hanya melemparkan tatapan ‘kenapa’ pada Hana. “Aku tidak bisa melakukan kencan buta.”

“Paling tidak cobalah sekali.” Saran ibunya.

“No –“ tolaknya.

“Wae? Apa –kau sudah punya kekasih? Apa kau menyukai pria tadi?” pertanyaan ibunya yang bertubi-tubi itu membuatnya gelagapan dan sulit untuk menjawabnya.

“AP –“ Hana kacau. “Ani –“ jawabnya bingung.

“Jadi cobalah. You should try, okay? Just once.” Kata ibunya meyakinkan Hana. Dia akhirnya mengangguk sebagai respon dan terlihat sudut bibir ibunya tertarik keatas dengan tersenyum lebar. “Good girl.”

Hana melihat satu persatu foto yang tergeletak di atas meja.

“Jadi bagaimana menurutmu?”

“A –a –aku tidak tahu.”

Ibunya cemberut saat Hana sedang memandangi lembaran-lembaran foto itu. Hana tetap melirik ibunya saat dia membaca profil yang tertulis pada belakang setiap foto itu. Dia terlonjak kaget saat ibunya berdehem keras, “Apa maksudmu kau tidak tahu?” dia mendesah. “Mereka semua tidak jelek, kan?”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Hana mengusap belakang rambutnya dan mendesah. “Tapi kelihatannya mereka tidak akan suka pergi dengan wanita sepertiku.”

“Hana, apa kau ingat apa yang Eomma katakan tentang pria dan wanita?” ibunya tersenyum lembut, “Tidakkah aku sudah mengajarimu?”

“Yeah, laki-laki suka wanita dengan pribadi yang baik.” Hana melihat pada dirinya sendiri, “Dan aku punya itu.”

“Tapi?”

“Tapi, mereka kelihatannya tipe orang yang tidak suka parawan tua sepertiku, Eomma.”

“Tapi kau punya karier yang bagus, punya apartemen sendiri. Apa yang harus di khawatirkan, sayang?” jelas ibunya dengan jengkel. Untuk beberapa saat ibunya hanya memandang anaknya yang masih saja menatap lembaran-lembaran foto itu, tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengubah pendirian anak nya itu. Dan dengan tiba-tiba ibunya mengklikkan jarinya, sepertinya ada sebuah ide yang muncul dalam kepalanya. “Aha –aku masih punya satu lagi, Hana.” Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Hana mengerang dengan frustrasi, “Aaaarggh –not again!” protesnya sambil melusuhkan bahunya

Ibunya mengeluarkan satu lembar foto dan memberikannya pada Hana. “Dia adalah anak dari temanku. Dia adalah laki-laki yang baik, Hana.”

Hana mengambil foto dari tangannya dan melihatnya. Setelah melihat sosok yang ada di foto itu, matanya membelalak lebar, terkejut, sambil menutup mulutnya yang menganga lebar dengan telapak tangannya. “Oh Kwajangnim!” teriak Hana.

Ibunya menautkan kedua alisnyaa penasaran, “Apa kau mengenalnya?”

Hana menganggukkan kepalanya, “Dia managerku.”

TBC

Huff! Panjang ya, guys? tetap menguras otak but it’s okay. tetep RCL guys, tell me what you know about this story, and i hope you enjoy and like it!

PS : Penasaran sama lembaran-lembaran foto yang Hana pegang? ini mereka!

10353171_1414359482187888_3456848299568369961_n

Nama : Wu Yifan

panggilan : Kris

Tgl lahir dan sodiac : 6 November 1990

Tinggi : 187 cm

Berat : 73 kg

Gol darah : O

Famili : Ibu (hidup), Ayah (tidak diketahui), tdk memiliki saudara

Kebangsaan : China – Kanada

Pendidikan : Lulus di Seoul Natiaonal University with MBA for Business

Pekerjaan : Executive Director at Wu enterprises( gaji 400.000.000 won atau $400.000)

Personality : serius dan kekanakan di saat bersamaan, menguasai 4 bahasa(inggris, mandarin,korea dan china). Atletik sejak dia bermain Basket selama  beberapa tahun. Dan dia percaya akan takdir.

10371484_10154161292000008_1848003118325378892_n

Nama : Kim Joonmyeon

Panggilan : Suho

Tgl lahir dan sodiac : 22 may 1991 dan Gemini

Tinggi : 173 cm

Berat : 65 kg

Gol darah : AB

Famili : Ibu (hidup), Ayah(hidup), satu kakak laki-laki

Kebangsaan : Korea

Pendidikan : Lulus di Korean National University of Arts

Pekerjaan : Acting CEO at Kim Group (gaji 500.000.000 won atau $500.000)

Personality : Perhatian dan perduli, memiliki kulit yg mulus, pendengar yang baik dan menyukai gadis yang suka membaca.

10392584_1598081183748950_193724309896239533_n

Nama : Lu han

Panggilan : Luhan

Tgl lahir dan sodiac : 20 April 1990 dan Taurus

Tinggi : 178 cm

Berat : 73 kg

Gol darah : O

Famili : Ibu (hidup), Ayah(hidup), satu saudara

Kebangsaan : China

Pendidikan : Lulus di Seoul Institute of The Arts

Pekerjaan : Acting CEO at Deer Industries (gaji 400.000.000 won atau $400.00)

Personality : Polos dan malas, easy going dan gentle. memiliki wajah yg cantik dan tampan secara bersamaan, atletik sejak dia bermain soccer. takut ketinggian, dan tidak menyukai seseorang yang dekat dg tempat tidurnya.

DAN INI ADALAH MANAGER OH SEHUN!

10403674_671472012922435_5576703248630890875_n

Handsome isn’t he?

Bagaimana menurut kalian, siapa yang akan di pilih Hana untuk pasangan hidupnya?

Advertisements

25 thoughts on “Mr Balcony |Chapter 2

  1. oh jadi baekhyun sama sehun sodaraan ceritanya, ohalah
    coba aja sehun mampir ke apartemen hana, udah pasti terkejut banget liat baekhyun ada di apartemen hana yang notabene nya sehun suka.
    hana sama baekhyun aja, ayo hana jangan termakan sama rayuan eommamu untuk kencan dengan managermu itu. aduh baekhyun lupain taeyeon dong, kan dia udh mau nikah, wakakaka semangat autornim^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s