The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 5a

mlomb1_2

Tittle : THE MARRIAGE LIFE OF MR BYUN BAEKHYUN (Chap 5a)
Author : PJ
Cast :
• You (OC)
• Byun Baekhyun
• Xi Luhan
• Park Chanyeol
• and other member of EXO
Rate : M
Length : Chapter
Genre : Romance , comedy

Greeting !! Hello guys i’m back again. STILL, dengan hasil translitanku dari fanfic favorite ku ‘ The Marriage Life Of Mr Byun by sundaysundaes ‘. Walaupun tidak se bagus aslinya, tapi tetep saja telah menguras otakku sangat keras, dan semoga kalian bisa menikmatinya, ya..walaupun agak berantakan bahasanya,just keep reading guys, dan jangan lupa like and comentnya, Oya ,kau bisa cek Original storynya di sini,

Link : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/5/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol
Previous : https://noonabyun.wordpress.com/2015/11/09/the-marriage-life-of-mr-byun-baekhyun-chapter-4b

HAPPY READING !!

Chapter 5a!
Crossing The Boundaries

“Baekhyun, tunggu seben –“ kau terengah-engah dengan beratnya disaat dia mengangkatmu dan mendudukkanmu di atas meja.

“Mmm?” tanyanya, membuka pahamu dengan kedua tangannya sehingga dia bisa duduk di antara kedua kakimu.

Kau menggigit bibirmu sendiri saat dia mencium leher sampingmu, “Baek, kita tidak harus melakukan ini.”

Jawaban yang hanya Baekhyun berikan adalah sebuah lenguhan yang parau saat kau melingkarkan kaki-kakimu pada pinggangnya dan menekan tubuhnya untuk mendekat padamu. “Ya.” Dia bernafas dengan berat, “Kita harus.”

“Bagaimana jika seseorang masuk?” tanyamu, mencium bahunya yang terbuka setelah kau dengan sukses membuka kancing pertama kedua bajunya.

“Tidak seorangpun menggunakan kelas ini lagi.” Baekhyun, dengan mulut terbuka menelusuri dagu sampai tulang selangkamu dengan ciuman-ciuman basah. “Cobalah untuk tidak begitu keras, okay?”

Kau merona, “Bukankah kau yang berteriak dalam –oh!” kau langsung meletakkan tanganmu pada mulutmu di saat kau merasakan dia mulai menurunkan rokmu.

Baekhyun tersenyum dengan seduktiv. “Kau tahu betapa aku suka saat kau memakai rok?”

Kau tidak bisa menggumamkan respon apapun dan hanya memejamkan matamu saat dia menelusurkan ujung-ujung jarinya pada bagian tubuhmu yang paling sensitiv. “Baek, jangan menggodaku.”

“Memohonlah padaku untuk berhenti,” katanya sebelum membenturkan bibirnya kembali pada milikmu. “Atau lebih cepat. Aku ingin mendengar kau meneriakkan namaku seperti kemarin malam.” Ciuman nafsu hanya berlangsung lebih dalam dan lebih keras sampai ponselmu tiba-tiba mulai berdering.

Kau coba untuk menahan lenguhan dan mengembalikan otakmu untuk bekerja. “Tunggu, p –ponselku berbunyi –“

Baekhyun melepaskan kaosmu dan mengulum dadamu. “Biarkan saja.”

Kau paksa dirimu untuk tidak dipenuhi dengan suara kasar, memikatnya. “Bagaimana jika –ah! –penting?”

“Lebih penting dari apa yang sedang kita lakukan sekarang?” tanyanya, menyeringai saat dia merebahkanmu diatas meja, kaki-kakimu menggantung di pinggir. Dia meraih pinggulmu dan menaikkan rokmu. “Kuragukan itu, sweet heart.”

“Tunggu!” kau menepis tangannya dengan satu tanganmu sementara tangan yang lain sedang sibuk mencari ponselmu. Baekhyun terus melawan dan kau melempar tatapan untuk menghentikan pergerakannya. “Tidak bisakah kau berhenti untuk se –hello?”

Hello, BFF!” sebuah suara, yang benar-benar dari temanmu, berteriak dengan riang di line lain. “Apa aku menelpon di waktu yang salah?”

“Uh, tidak, tidak sama sekali. Ada apa?” tanyamu dengan nada yang penuh gembira. Kau menenangkan Baekhyun dengan meletakkan jarimu pada bibirmu dan laki-laki tersebut mengerang, benar-benar frustrasi secara seksual karena aksimu.

“Apa kau sekarang sibuk?” tanyanya, “Aku ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa yang kau –“ kau berhenti di saat kau menahan sebuah lenguhan dari mulutmu di saat Baekhyun memulai gerakannya di bawah sana dengan jari-jari ahlinya yang sangat luar biasa. Tidak masalah berapa kali dia menyentuhmu di sana, kau tidak pernah merasa bosan karenanya. “A –apa itu?”

Kau bertanya kembali dengan banyak dukungan untuk tetap menenangkan suaramu.

Kau menggerakkan mulutmu ‘BAEKHYUN , STOP. AKU LAGI MENELPON’ sehingga dia bisa menahan aksinya. Tapi seperti biasanya, dia selalu melakukan hal sebaliknya yang kau suruh. Dan untuk mengejutkanmu, dia berjongkok dan membuka pahamu lebih lebar, menggeser-geserkan jari-jarinya lebih dalam di dalammu. Dia mengirimi tubuhmu getaran-getaran sampai kau sedekat ini dari lenguhan yang keras masuk keponselmu.

Temanmu berbunyi lagi. “Kau tahu betapa kita jarang bicara hari-hari ini, kan? Aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak rindu padaku?”

Yes!” kau berteriak di saat Baekhyun mengenai G-spot, yang membuat kakimu menggelitik dan kau melihat bintang-bintang(berkunang-kunang).

“Wow, okay, great!” ulang temanmu dengan senang, mungkin tidak tahu dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kalian berdua. “Jadi aku ingin bertanya jika kau ingin hang out hari ini? Hanya kita para gadis, aku janji.”

Kemudian Baekhyun melakukan satu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya pada bagian lebih rendah tubuhmu. Kali ini, melibatkan gerakan tidak senonoh dari lidahnya.

Kau hampir pingsan pada tujuan itu.

“Hey, kau masih di sana?” temanmu bertanya lagi dan kau benar-benar kesulitan mendengar apa yang dia katakan, karena demi Tuhan, Baekhyun lebih ahli menggunakan lidahnya dari pada jarinya.

Yes!” kau berteriak pada ponsel, mengusutkan tanganmu yang lain pada rambut Baekhyun, menjambaknya keras.

“Okay kalau begitu!” temanmu tertawa dengan senang. “Jadi, kurasa aku akan menjemputmu jam 8 malam ini.”

Faster!” kau menuntut dengan frustrasi di saat Baekhyun memelankan kecepatannya. Kau bisa merasakan dia tertawa kecil(cekikikan) beberapa saat di sana.

“H –huh?” dia terdengar sedikit tersentak. “Okay, well, bagaimana kalau jam 7?”

“YES!” kau menyentakkan kepalamu ke belakang (mendongak) dengan ekstasi(senang) saat Baekhyun mulai mempercepat kecepatannya dan menggunakan tangan yang lainnya untuk menjelajahi sekitar area dadamu. “Oh, God, YES!”

“Err, okay, aku senang kau sesenang diriku. Mungkin bahkan lebih senang.” Temanmu cekikikan.

Kau begitu sulit untuk tidak meneriakkan nama Baekhyun karena demi nama semua hal, dia sedang memberimu oral di saat kau masih dalam telpon dan God, perasaan yang hampir meledak seperti ini bagaimanapun begitu seksi dan menarik, bahkan membuatmu lebih senang.

“Hey, kau baik-baik saja?” dia bertanya lagi dimana kau terengah-engah dengan berat di telpon. “Kau terdengar sedikit aneh…”

“Aku –aku baik-baik saja hanya –oh, FU –!” Baekhyun membungkam mulutmu dan dengan cepat mengakhiri panggilan di saat kau hampir saja mencapai momen yang kau tunggu-tunggu itu. Kemudian Baekhyun hanya melepas dan meninggalkanmu di sana terengah-engah dan tidak puas.

“Baekhyun!” kau merengut, cemberut mati-matian padanya saat dia merangkak di atasmu dan mengikat kedua tanganmu di atas kepalamu dengan salah satu miliknya. “Kenapa kau berhenti, brengsek?! Aku baru saja akan –“

Dia menciummu dengan keras di mulut, dengan efektiv membuatmu diam dan menarik kembali lenguhan-lenguhan lagi dan desisan-desisan darimu, saat dia membelitkan lidahnya pada milikmu.

“Lain kali kau berpikir akan menjawab telponmu saat kau bersamaku,” katanya sarkas diantara ciuman-ciuman, dan dia berhenti untuk menggigit bibir bawahmu sebelum dia menghisapnya, membuat lututmu bergetar. Dia kembali melihat padamu. “Aku akan membuatmu menyesalinya lebih banyak dari pada ini.”

Kau mematung di tempat bukan karena kata-katanya, tapi karena apa yang tersembunyi di balik matanya. Kau bisa merasakan betapa dia menjadi posesiv terhadapmu, seolah-olah dia mengatakan padamu bahwa kau adalah miliknya, dan hanya miliknya.

Walaupun kau tidak cukup berani untuk mempercayai asumsimu sendiri.

***

“Hey, Bestie ~” temanmu menyapamu dengan senyuman cerah saat kau membuka pintumu untuknya. “Kau siap pergi?”

“Yeah, biar kubasuh mukaku sebentar,” katamu, berjalan menuju kamar mandi dengan melusuhkan bahumu dan tidak ada tenaga dalam tulang-tulangmu.

“Kau terlihat lelah,” kata temanmu dengan khawatir, “Hari yang panjang di studio dance hari ini?”

Pikiranmu melayang pada apa yang Baekhyun lakukan padamu siang ini di ruang kelas yang tidak terpakai lagi dan kau mendesah, memilih untuk percaya bahwa berbohong adalah cara yang lebih mudah untuk sekarang. “Pretty much, yeah.”

“Maaf,” katanya, terlihat khawatir. “Tapi hey, aku akan mentraktirmu es krim saat keluar, bagaimana?”

Kau balas tersenyum dan mengangguk. “Itu bagus.”

Setelah beberapa saat menyegarkan dirimu dan mengganti pakaianmu dengan yang paling nyaman ( sebuah kaos v-neck sederhana dengan masih tanpa membiarkan tubuhmu melekuk tegak terlalu banyak, di kombinasi dengan jeans biru terang dan sepasang sneaker usang), kau mengikat rambutmu keatas ekor kuda dan menggambarkan kau siap untuk pergi.

“Jadi bagaimana hubunganmu dengan Baekhyun?” temanmu tiba-tiba bertanya setelah dia membelikanmu satu es krim rasa green tea dan satu es krim choco –vanila untuk dirinya sendiri.

Kau hampir tersedak. “W –what?”

Dia tertawa pada reaksimu, “You’re so into him now, huh?”

“Apa yang kau katakan? Kau gila!” kau balas menyumpahi. “I ‘m not into him, not now, not ever.”

“Oh, yeah, tentu.” Dia memutar bola matanya. “Karena kau tidak bercinta dengannya siang ini saat aku masih menelpon denganmu.”

“What?!” okey, sekarang kau benar-benar tersedak pada es krimmu. Kau terbatuk-batuk beberapa kali sementara dia menepuk-nepuk punggungmu dengan rasa mengerti.

“Tidak apa-apa, aku tidak akan mengatakan pada siapapun.” Katanya.

“Kau seharusnya tidak mengetahui itu.” Kau merona dengan marahnya dan mencoba fokus memakan es krimmu dengan baik kali ini. “Maaf, kau pasti takut untuk hidup sekarang.”

“Pretty much, yeah. Aku harus melakukan yoga untuk membersihkan pikiranku.”

“I ‘m sorry.”

“It’s okay, kata Chanyeol bokongku terlihat bagus saat aku melakukan yoga.”

Kau meringis, “Terlalu banyak informasi.”

Dia tertawa dan memukul pundakmu dengan ringan. “Tidak sebanyak kau memberiku 6 jam yang lalu.”

“Bisa kau hentikan saja?” kau tidak yakin kau bisa mengatasi rasa memalukan ini lebih lama. “Jadi bagaimana Chanyeol? Kalian berdua yakin terlihat bersenang-senang.”

“Oh, memang, tapi jangan bicara tentangku. Aku ingin tahu apa yang kau rasakan pada Baekhyun.”

Kau mendesah. Kadang dia bisa keras kepala sekali.

“Fine,” gumammu, “To be honest, i have this huge crush on him.”

“Yaay ~” dia menepukkan tangannya dengan rasa senang.

“Tapi!” kau menunjukkan jarimu padanya. “Hanya secara fisik. Jika kita bicara tentang kepribadiannya, kemudian no –hell to the no.”

“Oh ….” dia terlihat menyesal. “Well, itu sayang sekali.”

“Kenapa?” kau balik bertanya, melempar sisa es krim yang kau makan pada tempat sampah terdekat.

“T –tidak ada alasan!” jelasnya dengan canggung dan tiba-tiba mengambil tanganmu dan membawamu menuju sebuah coffee shop kecil hanya beberapa meter dari kalian berdua berdiri. “Ayo, cari beberapa muffin. Aku ingin sesuatu yang manis.”

Kau mengerutkan kedua alismu, mencoba untuk menguraikan arti di balik nada kegugupannya, tapi memutuskan hanya untuk pergi bersama dengannya saat itu.

Sesaat kau memasuki Coffee Shop, kau sadar kenapa dia bertingkah aneh.

“Yeollie! Baekhyun –ssi!” sapa temanmu dengan lambaian ramah pada kedua pria yang sedang duduk bersebrangan pada sebuah meja kecil (yang di design sempurna untuk 4 orang, pikirmu).

“Apa yang kau lakukan?” kau menyalak padanya. “Kenapa dia ada di sini?”

Chanyeol menyambutmu dengan senyuman buta dan dia membawamu pada tempat dudukmu, yang tentu saja, tempat tepat di samping Baekhyun. Laki-laki dengan tinggi 184 cm itu mengecup bibir kekasihnya dengan lembut sebelum dia menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.

Baekhyun, yang tidak melakukan apa-apa kecuali melotot padamu tepat dari saat kau baru saja datang, mengalihkan pendangannya pada Chanyeol, dan berkata. “Bagus sekali, Park Chanyeol. Kau baru saja menipuku.”

Chanyeol sedikit meringkuk pada tempat duduknya.

“Tentang apa semua ini?” tanyamu dengan tidak sabar, menatap pada laki-laki berambut poodle dan kekasihnya saat itu. “Aku bersumpah, jika kau coba untuk menjodohkan kami lagi –“

Chanyeol membuka mulutnya untuk bicara. “Kami ingin melakukan double date –“ tapi dia disikut oleh orang di sampingnya.

“Kami hanya ingin hang out bersama kalian berdua.” Kata temanmu, tersenyum dengan sopan yang hanya membuatmu lebih marah. Kau tidaklah sedih dengan apa yang pasangan idiot ini lakukan padamu, walaupun yeah, kau sedikit kesal karenanya. Tapi alasan utama kau marah karena bertemu Baekhyun seperti ini mengingatkan pada apa yang dia lakukan padamu siang ini di ruangan kelas. Bagaimana dia hanya meninggalkanmu di sana hot dan mengganggu seperti itu dengan sebuah tampang sombong pada wajahnya.

“Masa bodoh, aku pergi.” Jelas Baekhyun, berdiri dan meraih kembali jaket kulitnya dari punggung kursi.

“Baekhyun –ssi,” temanmu memanggil dan dia mematung pada nada dingin suaranya. “Kumohon kembali ke tempat dudukmu.”

“Tapi aku –“

“Sit. Down.”

Baekhyun berhenti bergerak untuk sesaat sebelum akhirnya dia mencemooh dan mendudukkan dirinya pada tempat duduk, semua cemberut dan tersinggung tapi tidak mengatakan sepatah katapun.

Kau mengdengus padanya, “Pengecut.”

Baekhyun balas menatapmu dan menggerakkan mulutnya, kenapa kau tidak mencoba dan lalu pergi?

Kau akan melakukannya, tentu saja, jika tidak setakut dia saat itu. Betapapun dia terlihat santun yang baik hati dan feminim, temanmu bisa berubah sedikit buas saat dia sedih. Kau tidak ingin menekan keberuntunganmu pada itu.

Kau bisa mendengar Chanyeol bergumam dengan terengah, “God, kau seksi sekali saat kau seperti ini.”

“Thank you,” katanya, tersenyum dengan malu pada Chanyeol, membuatmu ingin muntah, “Sekarang, sejak kita semua di sini, kenapa kita tidak berbincang-bincang sedikit? Tunggu, biar kupesan beberapa muffin dulu.”

***

“Menurutmu apa dia masih melihat kita sekarang?” tanya Baekhyun padamu saat kalian berdua berjalan bersama berdampingan.

Kau tidak berani menengok melalui bahumu, “Aku tidak tahu. Mungkin.”

“Tengoklah dan cek jika mereka masih di sana.” Baekhyun memerintah dan kau cemberut padanya.

“Kau saja.”

“Tidak, kau saja.”

“Kau benar-benar pengecut, Baek.”

“Hey, aku juga tidak melihat kau melakukannya!”

“Well, kau laki-laki, lakukan sesuatu!”

Baekhyun mendesah dan akhirnya melirik kembali pada dimana Chanyeol dan temanmu sedang berdiri setelah berpamitan pada kalian berdua. “Mereka pergi.” Baekhyun menginformasikan, matanya naik keatas dengan senang.

“Oh, thank God.” Kau menghela nafas dengan lega dan merentangkan tanganmu. Pasangan idiot menakutkan itu telah membawa kalian berdua pada shopping mall, mengatakan bahwa itu adalah hal normal yang pasangan lakukan pada double date mereka. Dan tentu saja, kau ingin berteriak padanya bahwa kau dan Baekhyun bukanlah pasangan, tapi dia membuatmu merasa kau menghadapi ibu tiri cinderela kemudian, jadi kau hanya diam dan menurut. Dia bahkan bersikeras bahwa kau dan Baekhyun harus saling bertingkah baik satu sama lain jadi ini, sulit bagi kalian berdua, mencoba memenuhi harapannya seperti itu. Syukurlah, semuanya selesai sekarang.

“Damn, dia menakutkan,” kata Baekhyun, “Seperti, aku tidak tahu, ada semacam aura gelap yang mengitarinya atau apa kapanpun dia sedih. Merasa seperti dia ingin memakanku hidup-hidup sebelumnya.”

“Dan sekarang kau tahu alasan kenapa kami tidak sekamar,” katamu. “Apa Chanyeol juga menipumu seperti ini?”

“Si brengsek itu,” Baekhyun mengutuk, “Katanya kami akan menonton Iron Man III, jadi aku –“

“Tunggu!” kau berhenti berjalan dan memberi gestur berhenti padanya dengan tanganmu. “Iron Man III sudah keluar?”

“Yeah, baru premier hari ini.”

“Holy shit!” kau mulai melompat kegirangan. “AKU SUKA IRON MAN! Serius, Baek, kau tidak tahu betapa aku mengagumi pria itu! Dia adalah super hero terkeren! Seperti, aku tidak bercanda. Bruce Wayne bisa saja mencium pantat Tony karena damn, Iron Man sangat keren!”

“AKU TAHU, kan?” mata Baekhyun melotot dengan rasa senang, menirukan dirimu. “Aku senang sekali pertama saat kupikir kami benar-benar akan menontonnya. Maksudku, ayolah, ini Iron Man!”

“Oh my God, kita harus melihatnya sekarang! Kita masih bisa tepat waktu?” kau melihat pada jam tanganmu sesaat. “Kurasa kita masih bisa mendapatkan pertunjukan tengah malam jika kita sedikit buru-buru. Ayo!” kau meraih tangannya tanpa berpikir dan sedikit berlari sampai akhirnya kau mendapatkan sebuah taksi kosong untuk membawamu ke cinema terdekat di kota itu.

“Dua tiket Iron Man III, please!” kalian berdua berkata disaat yang bersamaan saat kau mencapai tiket box(loket). Staff itu terkejut pada keberadaan kalian berdua yang tersenyum seperti anak 5 tahun.

“Wow, bukankah kalian berdua senang?” dia tertawa kecil, “Okay, 2 tiket Iron Man III. Ada yang lain? Apa kau ingin popcorn? Lemonade?”

“Kau mau apa?” Baekhyun bertanya padamu, dan kau mengetuk-ngetuk dagumu dalam respon, berpikir.

“Mungkin beberapa popcorn rasa caramel dan segelas besar es teh akan bagus.” Jawabmu, masih tersenyum.

Baekhyun kembali melihat pada staff dan berkata, “Buatkan dua.”

“Okay, bisa kau tunggu sebentar?” dia pergi untuk menyiapkan apa yang kau pesan dan saat dia kembali, dia membawa 2 bungkus popcorn dan 2 minuman dengan sebuah senyum dan mengatakan jumlah yang harus kau bayar.

Kau baru saja ingin meraih dompetmu saat Baekhyun tiba-tiba memotongnya dan memberi uang yang lebih dari cukup untuk kalian berdua. “Kau bisa membayarku nanti,” katanya, “Ayo, aku ingin menonton trailernya.” Kemudian dia meraih tanganmu dan mengajakmu ke studio 4 di mana Iron Man III akan dimulai.

***

“Aku tidak percaya si brengsek itu tertidur!” kau berteriak dengan keras di tengah malam yang dingin dan sepi. Kalian berdua berjalan bersama lagi disisi jalan, dan tidak ada orang di area sekarang ini mengingat betapa malamnya saat ini, “Maksudku, scane itu bagian terbaik dari film itu, dan dia tertidur begitu saja!”

Baekhyun menganggukkan kepalanya setuju. Dia meringis secara dramatis saat dia berkata, “Kadang, aku masih bisa mendengar dengkurannya, terdengar di telingaku.”

“Uh, dia mengerikan.” Kau membuat sebuah tatapan, “Tapi filmnya layak setiap detiknya.”

“Kulihat itu,” Baekhyun setuju. Kemudian kalian berdua di serab ke dalam pembicaraan tentang betapa hebatnya film itu walaupun kau yakin telah membicarakan ini sebelumnya dengannya sambil menontonnya. Kau tidak sadar bahwa kau seharusnya membenci, membenci, dan menghinanya untuk apa yang sudah dia lakukan , sampai kau tidak memiliki apapun untuk di katakan kecuali film.

Kemudian, percekcokan dimulai lagi.

“Aku tidak percaya aku baru saja menonton film bagus seperti ini dengan seseorang seburuk dirimu,” katamu, yang sebenarnya tidak mencari pertengkaran, tapi saja merasa seperti itu tidaklah perlu kau lakukan. Kau telah menghabiskan banyak waktumu dengan Baekhyun melalui berdebat dengannya, jadi merasa normal saja bagimu melakukannya disaat tidak ada topik untuk dibicarakan.

Baekhyun merespon dengan mendengus. “Wow, kau benar-benar tahu bagaimana mengacaukan momen baik yang sempurna.”

Momen baik yang sempurna?” ulangmu dengan mata yang menggoda. “Itukah yang kau rasakan kapanpun kau menghabiskan waktumu bersamaku, Mr Byun?”

“Aku –tentu saja tidak!” kata Baekhyun dengan tiba-tiba, langsung menjauhkan pandangannya (berpaling) darimu.

Kau mencondong lebih dekat untuk melihat wajahnya dengan benar. “Tunggu, apa kau merona?”

“AP –“ Baekhyun menggerutu dalam terkejut, “Aku tidak merona, okay? Ini karena udara dingin, pipiku mudah merah saat kedinginan.”

Sekarang yang dia sebutkan, kau tiba-tiba merasa menggigil dan udara dingin terhirup melalui kulitmu pada setiap bagian tulang-tulangmu. “Memang dingin,” katamu, menggosok-gosok dan memelukkan kedua tanganmu pada tubuhmu untuk menghangatkan dirimu sendiri. Kau melihat padanya dengan sebuah lirikan yang penuh arti, berharap dia akan tahu maksudnya. “Oh, kuharap ada seorang pria yang tampan, baik hati yang akan memberiku jaketnya sekarang karena demi Tuhan, aku mati kedinginan.”

“Nope, itu tidak akan berhasil padaku.” Baekhyun menggelengkan kepalanya mengejek. “Ini salahmu sendiri kau tidak membawa jaketmu dalam cuaca seperti ini tadi.”

“Wow, kau orang yang brengsek.”

Dia hanya mengangkat bahunya dan terus berjalan seolah-olah kau tidak mengatakan apa-apa. Kau cemberut tapi mengikuti langkahnya.

Kau katakan pada dirimu sendiri untuk diam dan mencoba untuk menghiraukan udara malam yang dingin tapi kemudian tubuhmu menolakmu. Kau bersin di saat udara dingin menyentuh hidungmu dan mulai bersin sedikit.

Baekhyun tiba-tiba mennghentikan langkahnya dan mengerang dengan keras. “Oh, fine!”

“W –what?” kau terbata-bata pada ledakan tiba-tibanya dan kemudian menatap pada laki-laki itu dalam diam saat dia melepas jaketnya dan secara harfiah melemparnya pada wajahmu.

“Ini!” teriaknya. “Yakin memakainya dengan baik dan jangan sakit. Aku tidak ingin temanmu membunuhku dalam tidurku karena membiarkanmu membeku seperti ini.”

Kau seharunya mengejek atau mengatakan komentar snarky tanpa berpikir pada kata-katanya, tapi saat kau memakai jaketnya, aromanya mulai menguasaimu –aroma khusus itu yang begitu familiar; menyamankanmu dalam cara teraneh mungkin –dan tiba-tiba, segalanya terlihat tidak bermasalah lagi.

Baekhyun tidak mengantarmu sampai ke ruanganmu malam itu, tapi kau tetap tersenyum saat kau mencapai tempat tidurmu dan tidak masalah untuk tidak melepas jaketnya sebelum kau jatuh tertidur.
TBC

Akhir2 ini aku telah mengetahui bahwa hasil translitanku ini ada yang nyuri, baru chapter 1 sih dan itu ternyata udah lama (bln juli kalau nggak salah) dia updatenya, dan itu sbg hasilnya, hanya 90% sih, tapi tetap saja itu hasil kerja otakku. Lucunya, ada kalimat atau kata yg memang nggak kutranslit dlm bahasa karena menurutku itu bhs slang, umpatan, ataupun panggilan, dan dia mentranslitnya ke dlm bahasa, kekeke..lucu aja menurutku. Tapi itu tidak akan membuatku berhenti, karena aku suka banget sama ff ini dan aku ingin membaginya dengan kalian.

That’s it! Itu aja uneg2ku, semoga kalian mengerti, dan hargailah hasil otakku ini, okay guys??? I love you my lovely readers, jangan lupa komennya 🙂

 

 

 

 

 

 

Advertisements

21 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 5a

  1. Aaa… aku baru baca, ada momen romantis diakhir, kekeke thanks chingu udah tag aku lagi, translate nya keren, nyebelin sih klo ada yg nyuri gitu -_- ketauan banget apalagi ini unik kamu banget jadi yaa Aku rasa dia seorang yg idiot karena berani melakukannya, haha but seriusly, keren banget thanks alot yah.. tag me again ok? Fighting..!

    Like

  2. Huuuu baek ini td siang di kelas kosong aja romantis giliran sekarang yg cocok banget sama cuacanya buat romantisan malah di lemparin jaketnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s