Lust, And No Regret

33b73cbc70e644e7bb89d4c78dbf10c6
Tittle : Lust, And No Regret
Author : PJ
Cast : Xi Luhan, Kim Hana (OC)
Lenght : Drable
Genre : Romance
Rate : M

Greeting !!! Hallo guys, i’m back again, kali ini aku bawakan FF gajeku,pasti typo bertebaran, jalan cerita yang aneh dan pasaran , nggak ngefeel banget … okey , di simak deh . Oh God, please forgive me for writing this smut.

Warning !! If you’re under 18, please don’t read this story, it contents with mature things.
HAPPY READING !!!!

 

Aku ingin merasakannya sedikit lebih lama lagi. Setelah merasakan kebahagiaan yang tidak masuk akal ini. Walaupun hanya sebentar saja, biarkan aku merasakan kebahagiaan juga, untuk sekali saja.

GREEEK…..

Hana tidak menoleh saat mendengar pintu yang di geser itu di balik tubuhnya yang sedang duduk membelakangi pintu itu.

“Nugu –ya?” tidak ada respon. “Xi Luhan?” tanpa mendengar jawaban pun, Hana sudah tahu pasti jika itu adalah Luhan.

Hana menutup matanya lelah, dan saat itulah ia merasakan ada sesuatu yang hangat melingkar di perutnya, sejujurnya Hana terkejut karena ada seseorang yang kini tengah memeluknya dari belakang itu. Dia tidak berbalik, ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. dia membiarkan laki-laki itu melakukannya dan menyentuhnya seperti itu.

“Apa yang kau lakukan, Luhan?” tanyanya pada seseorang yang tengah memeluknya itu.

“I just wanna do this with you.”

“This is wrong, Luhan.” Gumam Hana.

“I know.” Jawab Luhan yang lebih mirip suara gumaman. “I don’t care, just let me in.”

Hana hanya membiarkan Luhan tetap melakukannya. Laki-laki itu membenamkan wajahnya ke dalam rambut Hana dan menghirup aroma yang menguar dari sana, dan membuat sensasi panas menjalar dalam tubuhnya. Hana tahu dia pernah melakukannya, tapi tidak seperti saat ini, dia sangat sadar betul akan dirinya.

Tiba-tiba saja Luhan memutar tubuh hana menghadap laki-laki itu dan mendorongnya ke dinding dan memenjarakan gerakan tubuh Hana dengan kedua tangannya. Laki-laki itu mulai mencium bibir wanita itu dengan kasar dan tidak sabar.

“mmhhff –hentikan, Luhan. Kita tidak boleh melakukan hal ini.” Pinta Hana lirih. Dia masih sadar dengan apa yang sedang terjadi padanya. Mati-matian dia menggigit bibir bawahnya saat ciuman-ciuman kasar itu mulai turun ke area lehernya.

“Kenapa tidak boleh?” tanya laki-laki itu, sedikit mengerang frustrasi saat Hana mencoba menghentikan gerakannya dengan cara menjambak rambutnya.

“Bukan begini caranya.” Hana mulai merasa kesal.

“Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku sekarang.” Luhan mulai mengangkat kepalanya dan memandang Hana dengan dalam, lalu dia menyeringai tipis. “Aku ingin melakukannya denganmu. Biarkan aku merasakan kabahagiaan juga, untuk sekali saja. Jadi kumohon –“

Kata-katanya terpotong oleh bibir Hana. Dia mengunci bibirnya dengan milik Luhan untuk membuatnya berhenti mengeluarkan kata-kata lagi. Mulai dari seperti itu, yang artinya untuk diam …..dan kemudian berubah menjadi sesuatu yang lain, sebuah perasaan yang terbawa oleh keinginan panas dari tubuh mereka berdua. Mereka saling berciuman secara intens dan mendesak seolah-olah dunia akan runtuh dan tidak akan saling bertemu lagi. Jari-jari mereka saling meraba. Mencium apapun yang bisa diraih oleh bibir mereka –wajah, bahu, leher.

Luhan menarik tubuh Hana dari dinding dan membawanya ke tempat tidur. Sedetik kemudian laki-laki itu merangkak, langsung menindihnya dan memeluknya erat. Luhan kembali membungkam bibir Hana, dan kali ini dia memberikan wanita itu ciuman panas dan juga bergairah.

Luhan menghisap dan juga menggigit bibir bawah Hana, laki-laki itu bahkan dengan mudahnya mengobrak-abrik isi mulut Hana, mengabsen deretan gigi putihnya dan membelitkan lidahnya pada wanita itu.

Bibir Luhan perlahan mulai turun menyusuri leher, bahu dan bahkan tulang selangka. Luhan juga tidak membiarkan tangannya tidak melakukan apa-apa. Dengan ahlinya, dia mulai membuka kancing-kancing baju wanita itu dan sukses mengekspos kulit bahu yang putih dan mulus itu. Namun tidak berlangsung lama, dia bangkit dan melucuti kemeja yang dipakai Hana dan melemparkannya begitu saja.

Bibir Luhan yang hangat kembali bergerak. Mencium kening dan beralih menuju pipi dan bibir Hana yang hampir membengkak. Laki-laki itu terus membagikan ciuman panasnya, bibirnya terus menekan dengan kuat. Tangannya bergerak menyusuri leher jenjang wanita itu dan semakin turun ke bawah.

Luhan menggesekkan kedua jarinya di sana, dengan satu hentakan dia berhasil melepaskan bra hitam berenda itu dari pemiliknya dan membuangnya begitu saja, dan mengekspos kulit putih dan mulus tubuh bagian atas dan tentu saja dua gundukan besar dan sempurna itu.

Luhan menempatkan bibirnya pada telinga kiri Hana, dan berkata, “I miss you, Hana. I miss you so damn much.”

“Aaahhh!” Hana mengerang saat jari-jari tangan Luhan memelintir niple dan meremasnya bergantian. Laki-laki itu mengalihkan bibirnya dari telinga Hana ke bibir wanita itu dan melumatnya rakus. Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi Hana, tapi dia tidak bisa menahan lenguhan-lenguhan itu. Dia merasakan dadanya benar-benar akan pecah sekarang, karena laki-laki itu melakukannya dengan kasar.

Luhan terus saja bergerak gelisah diatas tubuh Hana. Dia benar-benar melakukannya dengan emosi dan mengebu-gebu. Dengan erat Luhan mengeratkan jari-jari Hana dan semakin memperdalam aktivitasnya.

Dia tidak perlu menjadi munafik untuk tidak melakukannya. Dia sangat menginginkannya, ingin melakukan hal itu dengan wanita yang selama ini memenuhi hati dan pikirannya. Dan dia sangat merindukannya.

Udara disekitar yang semakin dingin membuat tubuh Luhan malah menjadi berkeringat dan merasa panas. Dia menghentikan aktivitasnya dan mulai melucuti pakaiannya sendiri dan melemparnya entah kemana.

Laki-laki itu kembali merangkak dan menindihnya.

Dan karena gerakannya yang gelisah, tanpa sadar dia menyenggol tubuh bagian sensitiv Hana yang lain, membuat wanita itu mengeluarkan desahan lagi. Mengetahui hal itu, laki-laki berwajah baby face itu dengan sengaja melakukan hal yang sama dan menggigit bibir bawah wanita itu secara bersamaan.

Luhan melepaskan tautan bibirnya beberapa saat untuk membiarkan Hana untuk menghirup udara untuk bernafas. Wanita itu terengah-engah karena luhan dengan cepat mengambil nafasnya.

Tangan Luhan yang sedari tadi menggenggam erat jari-jari nya kemudian melepasnya dan melarikan tangannya pada pinggang Hana dan semakin turun kebawah.

“Lu….”

Hana menatap laki-laki itu dengan tatapan iba dan putus asa. Dia juga tidak perlu menjadi munafik karena dia juga merindukan laki-laki itu, sangat merindukannya, walaupun dia tahu ini salah, sangat salah.

Hana menggigit bibir bawahnya saat tangan hangat Luhan mulai turun dan mencoba untuk membuka celana miliknya. Dan beberapa saat, semua terealisasi saat Luhan berhasil membuka celana itu beserta celana dalamnya secara bersamaan.

Laki-laki itu menyeringai. “I want you, i want mine in you.”

“No –“

Tanpa aba-aba, Luhan langsung menempatkan bibirnya pada payudara Hana yang terlihat seksi dan indah itu. Laki-laki itu mulai mencium, menghisap, menggigit dan meremasnya bergantian.

Hana merasakan sensasi itu, wanita itu mulai merasakan rasa perih dan nikmat mulai menjalar di tubuh bagian atasnya, membuat kewanitaannya mulai basah. Dia memejamkan matanya dan mulai meremas rambut kecoklatan itu dengan gemas. Namun tidak berlansung lama karena detik selanjtnya, Hana membelalakkan matanya lebar di saat jari-jari panjang Luhan mulai menggodanya.

Wanita itu mengerang lagi saat dua jari Luhan menusuk tubuh bagian bawahnya, perutnya terasa teraduk-aduk saat dengan sengaja dia mulai memutarnya di bawah sana. Lenguhan tertahan meluncur begitu saja. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana laki-laki itu melakukan semua itu secara bersamaan.

“Luhan, aaahhh….please….” Hana berteriak dan mencengkeram bahu Luhan dengan erat.

Sayangnya, laki-laki itu tidak perduli dan terus melakukan aktivitasnya. Luhan terlihat senang melihat Hana mendesahkan namanya. Luhan mengangkang sekarang, dengan gairahnya yang berdenyut tepat diantara kaki-kaki Hana, laki-laki itu dengan lembut mengguncang tubuh Hana sehingga kewanitaannya tergesek pada ereksinya. “Bisa kau rasakan itu? Bisa kau rasakan betapa aku menginginkanmu, Hana?”

Dia tidak bisa bicara kecuali mengangguk, dia mempererat cengkeramannya pada bahu Luhan, menariknya lebih dekat.

“Tell me what do you want?” luhan menggesekkan tubuhnya di bawah sana, dia benar-benar tidak sanggup lagi menahannya.

Wanita itu mulai merasakan tubuhnya yang gemetar dan juga panas. Dengan wajah yang memerah Hana menggigit bibir bawahnya, dan menjawab. “Don’t stop, please. I want you in me.”

Dan kemudian

“Lu –Lu han aakkhh!!!”

Hana menjerit saat tubuh Luhan melesakkan bagian tubuh bawahnya dengan tubuhnya, melesakkan kedalam dan keluar dengan kecepatan penuh.

Akhirnya mereka melakukannya, melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Mengingat status mereka masing-masing yang sudah memiliki pasangan. Tapi masih, cinta dan nafsu mengalahkan segalanya.

Di balik selimut itu terlihat mereka sangat menikmati sensasi yang mereka ciptakan tanpa menghiraukan kedipan-kedipan lampu ponsel mereka yang menyala di atas meja.

***

Sinar matahari yang mulai bersinar sejam yang lalu belum cukup untuk mengusik Luhan dari tidurnya. Dia mungkin masih merasa lelah dengan apa yang dilakukannya semalam. Setelah beberapa saat, dia baru terusik karena mendengar suara pesan masuk dari ponselnya. Luhan berusaha mengerjapkan matanya yang lengket. Bahkan kedua matanya terlalu berat untuk dibuka saat ini.

Luhan langsung terbangun saat dia mengingat dengan jelas semalam dia tidur tidak sendirian. Ada Hana di sampingnya, tangannya meraba sisi sebelahnya. Dia mendadak panik saat melihat sisi sebelahnya kosong. Dia hanya mendapati dirinya sendirian di tempat tidur.

Dia meraih ponselnya yang berkali-kali bergetar itu. Dia mulai menekan dan menyentuh layar ponsel itu untuk melihat beberapa panggilan masuk. Dan benar saja, ada beberapa panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan yang masuk tadi malam, tepat disaat dia melakukan hubungan seks dengan Hana.

09.01 – 20 missed calls

09.50 PM –Eunji to Luhan msg : “Luhan”

09. 52 PM –Eunji to Luhan msg : “Apa kau sudah tidur?”

09.55 PM –Eunji to Luhan msg : “Luhan, jawablah.”

09.58 PM –Eunji to Luhan msg : “Luhan –“

10.01 PM –Eunji to Luhan msg : “Ah sudahlah.”

10.05 PM –Eunji to Luhan msg : “Baiklah, selamat malam, take care, Hannie.”

07.15 AM –Hana to Luhan msg : “Bersiaplah, Luhan. Kita ada pertemuan dengan klien kita. Kita harus memenangkan tender itu. Kutunggu di luar.”
FIN

 

Park G 2

10559739_591262354325082_3847993462894757506_n
Aaaaarrrgg! Just one word ‘AWEFUL’. Beneran, ini ff absurd banget, nggak ngefeel, berantakan dan –whatever, jujur ini pertama kali aku nulis cerita smut seperti ini (Oh God i ‘m so sorry), sebenarnya ini bagian scene dari ff Destiny yang entah nanti chapter berapa aku nggak tahu. Ah sutralah, just reading guys, if you’re under 18, please dont! Karena ini mature banget. Okay, komennya di tunggu pake banget. Thank you.

 

 

 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Lust, And No Regret

  1. Aduhaduh bahaya.kenapa mereka seperti ituu itu salah banget ..kalau ini scene nya destiny baek nyaa pasti brokenheart dong .. Tapi sumpah ff nya keren sekalih sekalih .dan jujur pasti sangat susah bikin ff seperti ini .salut saha author nyaa.. 👍
    Figthing buat author 👍
    Dan sangat di tunggu cerita2 selanjut nyaa
    Aku selalu menunggu 😄

    Like

  2. Kenapa harus malu. Justru mini salut ihh sangat terkesan. Sampe mini sendiri sebagai readers kebawa suasana.serasa kita masuk ke dalam alur cerita nyaa .
    Mini selalu nungguin lanjutan2 dari semua cerita2 nyaa
    Keep writting yaaa figthing
    Di tunggu 😄😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s