The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun|Chapter 6a

7ca71637jw1du603bld2xj
Tittle : THE MARRIAGE LIFE OF MR BYUN BAEKHYUN (Chap 6a)
Author : PJ
Cast :
• You (OC)
• Byun Baekhyun
• Xi Luhan
• Park Chanyeol
• and other member of EXO
Rate : PG -17
Length : Chapter
Genre : Romance , comedy
Greeting !! Hello guys i’m back again. STILL, dengan hasil translitanku dari fanfic favorite ku ‘ The Marriage Life Of Mr Byun by sundaysundaes ‘. Walaupun tidak se bagus aslinya, tapi tetep saja telah menguras otakku sangat keras, dan semoga kalian bisa menikmatinya, ya..walaupun agak berantakan bahasanya,just keep reading guys, dan jangan lupa like and comentnya, Oya ,kau bisa cek Original storynya di sini,

Link : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/6/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol
Previous : https://noonabyun.wordpress.com/2015/12/14/the-marriage-life-of-mr-byun-baekhyunchapter-5b/
HAPPY READING !!

 

Chapter 6a!

Recounting The Time

Pernahkah kamu memiliki satu hari dimana segalanya hanya berjalan begitu salah di matamu dan semua orang yang hanya terlihat begitu menjengkelkan yang bahkan kau tidak bisa melihat mereka dengan baik lagi.

Hari ini banyak, lebih parah dari itu.

Setelah insiden Baekhyun –tidur –dengan –seorang –pelacur –sembarangan -dalam –kamar –ku, kau putuskan untuk berangkat ke studio dance yang kosong untuk melepaskan ketegangan dalam benakmu. Menari selalu menjadi cara bagimu untuk menyalurkan kemarahan atau kesedihanmu, atau dalam beberapa kesempatan langka, untuk mengekspresikan perasaan senangmu –yang tidaklah cukup banyak terjadi lagi karena beberapa alasan. Di samping itu, kau harus latihan lebih sering untuk menyiapkan dirimu pada pertunjukan musim semimu jadi itu sungguh keputusan yang bijak ; membunuh dua burung dengan satu batu, kata mereka.

Tetapi kemudian, kau hanya tidak bisa berhenti memikirkan tentang Baekhyun. Seringaiannya. Kata-katanya. Segala yang baru saja dia lakukan padamu. Pikiranmu hanya tidak bisa konsentrasi jadi kau selalu mengacaukan langkah-langkah dancemu sendiri –sebuah rutinitas yang seharusnya di ingat oleh hati dari sekarang.

“Damn it!” gerutumu saat kau gagal melakukan gerakan mudah –satu gerakan tari paling dasar dimana kau seharusnya berdiri dengan berat badanmu pada satu kaki dan kemudian menggeser beratmu sambil masih dalam sebuah sikap mencecar, sebelum akhirnya kau melompat sehingga kedua kakimu membentuk vertikal bersama di udara. Kau memutar pergelangan kakimu saat proses itu. Dan itu sangat menyakitkan. Kau rasakan air matamu mulai mengumpul diujung matamu, tapi kau berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Kau lempar tubuhmu ke lantai, tergeletak di atas lantai kayu yang keras. “Damn it! Damn it! Damn it!” itu sangatlah sakit, tapi kau tidak perduli. Rasa sakit yang kau rasakan tidaklah separuh dari seburuk apa yang kau rasakan pada pergelangan kakimu, dan kau bahkan tidak mencoba membandingkannya dengan perasaan yang terluka yang kau miliki di hatimu karena pemenangnya sangatlah jelas.

Pada beberapa tujuan, kau rasa ingin menangisi atas segalanya yang terjadi hari ini. Tapi setiap kali kau ingin melakukannya, kau teringat itu tidaklah layak. Dia tidaklah layak. Kau tetap mengulangnya pada dirimu sendiri bahwa kau lebih kuat dari ini.

Kau tahu Baekhyun sedang memainkan lelucon denganmu, seperti biasanya. Walaupun ini terlihat begitu mengerikan ketimbang lelucon yang dia sodorkan sebelumnya, itu masihlah caranya bersenang-senang. Atau begitu juga kau berpikir karena sejujurnya, kau tidak memiliki satu pun petunjuk kenapa Baekhyun melakukan hal semacam itu.

“Malam Sweet heart ~”

Rahangmu mengeras dalam rasa jengkel saat kau mendengar suara Baekhyun datang memasuki zone pendengaranmu dalam cara yang meyenangkan. Kenapa kau ke sini, kau ingin berteriak begitu keras di telinganya sampai berdarah, tapi diluar, kau putuskan hanya mengabaikannya dan mencoba mengurangi perasaanmu.

Dia tidak layak.

Tapi kau bingung; bukan hanya karena kehadirannya yang tiba-tiba, tapi karena alasan sebenarnya kenapa kau begitu marah dengannya. Ya, kau punya hak untuk marah oleh apa yang dia lakukan, karena jujur, dia menggunakan tempat tidurmu untuk hubungan seks dengan pelacur disiang bolong, tanpa seijinmu. Katamu kau mempercayainya, dan kemudian dia hanya membuang semua itu dengan membiarkan dia masuk. Dia bahkan tidak terlihat malu sekarang ini, saat dia menghampiri tempatmu dengan seringaian biasanya. Itu lebih dari satu alasan menjadi marah karenanya.

Tapi alasan yang lebih tidak logis kenapa kau begitu sedih saat itu karena kau tidak berpikir kau merasa sakit sekali seperti ini saat itu. Kau punya batasan-batasan. Kau tidak seharusnya menyukainya lebih dari penampilan fisiknya. Kau tidak memiliki hubungan spesial dengannya untuk memulai, jadi itu tidak harus jadi masalah apa yang dia lakukan dengan gadis lain karena dia bukan siapa-siapa bagimu. Dia seharusnya bukan siapa-siapa bagimu dan kau tahu itu. Byun Baekhyun bahkan bukan temanmu, walaupun ya, kalian berdua telah menghabiskan banyak waktu bersama, tapi kalian berdua masih mengklaim kalian benci satu sama lain, kan? Kau benci satu sama lain. Kau hanya saling memanfaatkan untuk sex, dan itu saja. Itu yang seharusnya. Tidak lebih.

Jadi lalu, kenapa?

Kenapa aku merasa seperti ini?

Kau tidak menyadari sebelumnya karena kau di penuhi rasa marah, tapi sekarang kau punya waktu untuk mencari tahu sedikit, akhirnya tenggelam. Perasaan ini, rasa sakit semacam ini yang kau rasakan saat kau melihat dia tidur dengan gadis lain tepat didepan matamu dan menyeringai padamu seolah-olah itu adalah sesuatu yang dibanggakan, mengingatkanmu bagaimana yang kau rasakan saat Kris memutuskan meninggalkan kota tanpa kau disisinya. Kau juga memiliki sekilas ayahmu yang meninggalkanmu untuk wanita lain. Dari kematian ibumu, meninggalkanmu sendirian di dunia. Itu perasaan yang sama saat seorang pengantin wanita yang ditinggalkan sendirian di altar, hanya sedetik sebelum berkata ‘aku bersedia’.

Itu sangat, sangat menyakitkan sekali.

“Aku belum pernah melihatmu menari sebelumnya,” kata Baekhyun, seperti biasa tangannya dimasukkan dalam sakunya, saat dia mendekat pada sisimu dan mencondong ke bawah untuk melihat figur patetikmu yang terkapar di atas lantai. “Tapi melihat bagaimana tidak profesionalnya dirimu sekarang ini, berhenti di tengah-tengah latihan seperti ini? Kukatakan kau seorang penari yang payah.”

Kau secara harfiah harus menahan nafasmu, jadi kau tidak akan mencoba mengulitinya hidup-hidup di sana, kemudian.

Kau coba menanggung dan mengabaikan rasa sakit pada pergelangan kakimu untuk sesaat saat kau bangkit dari lantai. Tanpa melihat padanya, kau berjalan –menaruh banyak dukungan untuk tidak lemas saat berjalan –menuju ke dinding terdekat. Kau tidak mengatakan sepatah katapun, dan tetap mencoba menahan dirimu tegak dengan tenagamu sendiri.

Peluh mulai terbentuk di dahimu dan kau menggigit bibir bawahmu untuk menahan dirimu mengerang kesakitan. Saat kau taruh tanganmu pada dinding untuk membuat dirimu tetap berdiri, kau merambat perlahan pada tempat milikmu yang berada di pojokan studio dance.

Baekhyun, tentu saja, melihat apa yang kau coba sembunyikan.

“Sweet heart,” panggilnya, suara yang sungguh lembut, “Kau baik-baik saja? Kau terlihat aneh.”

Diam. Kau bahkan tidak membiarkan matamu menjawabnya.

“Hey,” panggil Baekhyun, suara yang sedikit keras dan menuntut saat dia mengikuti langkahmu. “Aku bicara padamu.”

Tetaplah berjalan, hanya….tetaplah berjalan.

“Yah!” Baekhyun tiba-tiba saja menarik pergelangan tanganmu dan membalikkanmu untuk melihat padanya dengan paksa. “Lihatlah aku saat aku –“

Kau tidak tahu apa yang dia lihat dalam matamu, tapi sedetik saat dia lakukan, dia berhenti bicara dan hanya memandangmu dengan mata menyelidik dan bibir yang terbuka, “Kau…” dia memulai, terdengar tidak yakin dan bingung saat dia menganalisa ekspresimu. “Kau sedih.”

Oh, benarkah? Rahangmu mengeras.

“Boleh tahu kenapa kau begitu kesal sekarang ini?” tanyanya lagi, perlahan melepasmu, dan kali ini matanya terlihat sedikit khawatir. Tapi tampang bisa saja menipu, kau belajar. Semua keberadaannya bisa saja menipu.

Kau tidak menjawab apapun kembali. Kau bahkan tidak melirik padanya, karena setelah menarik banyak pikiran, kau sadar kau hanya….well, kau hanya tidak perduli lagi.

Kau selesai.

Kau selesai dengan semua ini.

Kau selesai dengan nya.

“Kembalikan kunciku,” katamu, suara dingin dan keras tapi tidak cukup dirimu mencurahkan.

Baekhyun merogoh salah satu saku jeansnya dengan satu tangan dan mengeluarkan kunci kamarmu. “Ini,” katanya, membiarkan kunci itu diatas telapak tangannya jadi kau bisa mengambilnya sendiri. Saat kau hampir meraihnya, dia menjauhkannya dari jangkauanmu dan hanya tersenyum padamu, “Oops, cepat sekali kau, bodoh!”

Kau akhirnya mendaratkan pandanganmu padanya. “Baekhyun.”

“Ya?” Baekhyun mengayunkan kunci yang melingkar di jari-jarinya.

“kembalikan kunciku.”

“Memohonlah.” Dia lakukan satu seringaian marah itu dan kau hampir memukul wajahnya, tapi kau berhasil menahan dirimu saat itu. Dia kelihatannya tidak menangkap betapa marahnya dirimu dengannya –atau paling tidak, dia tidak perduli. Alih-alih meminta maaf atas apa yang dia lakukan, dia malah meletakkan satu tangannya pada satu pipi kananmu dan mencondongkan wajahnya kedepan lebih cepat sampai bibirnya bergerak pada sisi tenggorokanmu saat dia mendengung, “Kau tahu betapa aku menyukainya saat kau memohon padaku, kan, Sweetheart?”

Kau berpikir telapak tanganmu akan berdarah karena betapa kerasnya kau menekan kuku-kukumu pada telapak tanganmu. Kau coba meringankan nafasmu saat kau berujar dengan dinginnya, “Baek, aku tidak dalam mood.”

“Oh, benarkah?” Baekhyun mundur hanya memberimu tatapan seduktiv dari matanya dan dia gigit bibir bawahnya saat dia berkata, “Lalu ayo kita ubah itu, mau?”

Sebelum kau mengetahuinya, kau didorong kembali ke dinding dan dia menekan tubuhnya padamu di setiap cara mungkin. Dia mendongakkan wajahmu dan menciummu dengan begitu banyak paksaan. Jika insiden itu tidak terjadi, ini akan jadi satu cara efektiv baginya untuk membuatmu melayang, tapi itu bukanlah masalahnya sekarang ini.

Dengan sederhana kau hanya tidak membalas mencium.

Baekhyun, dia orang yang keras kepala, tidak ingin menyerah begitu saja dan menanyakanmu ada apa. Dia mencoba melakukan apapun yang dia bisa: menyapu bibir bawahmu dengan lidahnya, mengusutkan rambutmu dengan tangan kanannya, menggilas-gilas pinggulnya padamu. Tapi kau tetap dalam kendali dan tetap tidak bergerak.

Frustrasi, dia menarik tubuhmu dengan wajah cemberut. “Lepaskan bajumu,” tuntutnya.

Dengan sengit kau kembali menatap padanya. “Tidak.”

Baekhyun melempar sebuah tatapan jengkel sebelum dia menggenggam kain bajumu dan mulai menaikkannya tanpa ijin.

“Jika kau tetap melakukan ini,” katamu dengan suara yang taktergoyahkan. Walaupun kau sedikit takut pada kemungkinan dirinya memaksakan dirinya padamu. “Kau akan dianggap sebagai pemerkosa, Baek.”

“Pemerkosa? Aku?” dia sebenarnya tertawa, tapi tangannya berhenti saat kain hanya mencapai diatas garis pinggangmu. “Jelaskan padaku, sweetheart, bagaimana ini dianggap sebagai memperkosa? Kau tahu kau menginginkan ini sebanyak diriku.”

Kau hampir terkesiap dan menampar wajahnya, hampir. “Tidak.”

Dia hanya tertawa kecil mengejek. “Ya,” bisiknya mencium telingamu sebelum dia melanjutkan, “Memang.”

Tidak tahan lagi, kau mendorongnya dengan dorongan kuat pada dadanya: kau hampir saja membuatnya terjatuh di lantai.

Itu terlihat untuk menamparnya tersadar, “Jadi beginikah kau ingin bermain?” tanyanya, matanya mulai mengeras dan menakutkan.

“Aku hanya ingin kunciku kembali,” jawabmu ringan. “Sekarang.”

Baekhyun memandang dengan marah seperti dia ingin menenggelamkanmu hidup-hidup sebelum akhirnya dia mengeluarkan desahan jengkel dan hanya menjatuhkan kuncimu kembali ke tanganmu. Setelah meletakkannya kembali kesakumu, kau kumpulkan milikmu dan menatuhnya ke dalam tas olah ragamu. Kau melingkarkan handuk disekitar lehermu dan menggantungkan tasmu di pundakmu sebelum berjalan.

“Hey!” Baekhyun memanggil lagi, suaranya terdengar benar-benar putus asa dan sedih. “Apa yang terjadi? Kau mau kemana?!”

Kau pejamkan matamu sesaat untuk mengatur nafasmu. Kau tersenyum saat kau berbalik untuk menghadapnya langsung. “Baekhyun,” katamu, tersenyum dengan bibirmu tapi bukan dengan matamu. “Aku selesai denganmu.”

Kemudian kau berjalan melalui pintu, meninggalkan Baekhyun dengan semua kebingungan, frustrasi dan marah sekali.

Itu sebenarnya berjalan lebih baik dari yang kau pikirkan.

***

Saat kau katakan kau selesai dengannya, kau benar-benar bersungguh-sungguh. Kau bahkan tidak bisa mempercayainya sendiri saat pertama kali: bahwa kau bisa saja melanjutkan tanpa harus melihat dan melucu padanya seperti biasanya dirimu. Bahwa kau hanya bisa melihatnya pada waktu makan siang atau berpapasan di koridor tanpa memperhatikan kehadirannya. Ya, kau masih merasa sakit atas apa yang dia lakukan dan sebenarnya, itu membuatmu menderita tidak bisa bicara dengannya dengan mudah, atau berbagi lirikan-lirikan mischievous diam-diam, atau ngobrol tentang betapa menjijikkan Chanyeol dan kekasihnya dan tentang bagaimana Luhan yang tidak akan mudah berhubungan seks dengan gadis aljabar bahkan setelah seribu tahun telah berlalu.

Kadang kala, kau sangat rindu sekali pada Baakhyun, kau ingin menangis sendiri sampai tidur.

Tapi kemudian kau teringat kata-katanya –sudah kuperlakukan kau dengan baik? Dan itu selalu terasa seperti sebuah tamparan pada wajahmu, membuatmu sadar bahwa Baekhyun hanya tidak perduli pada perasaanmu, atau tentangmu pada umumnya. Dia hanya mengabaikanmu seperti gaids-gadis lainnya di dalam kampus sialan ini. Dia tidak pernah memikirkanmu seperti kau memikirkannya. Dia tidak pernah merasakan hal yang sama. Dia memanfaatkanmu dan itu saja.

Jadi hal terakhir yang bisa kau lakukan untuk membalasnya adalah hanya berlagak bahwa kau tidak perduli padanya sebanyak dia tidak perduli padamu.

Walaupun, itu tidaklah mudah, mengingat bagaimana Baekhyun tetap mencari perhatianmu kembali padanya.

Satu saat, saat kau sedang melakukan riset di perpustakaan untuk membantumu menyelesaikan tugas 2000 kata bahasa Inggris, Baekhyun menyelinap di belakangmu dan menekanmu pada rak buku yang berdebu.

“Hey, sweetheart,” kata Baekhyun, mata mengerling dengan seduktiv. “Tempat ini membosankan sekali. Mau lakukan hal yang lucu bersama?”

Kau hanya balas tersenyum dan memberi jawaban simpel ‘tidak’ sebelum kau mendorongnya menjauh. Kau dengar Baekhyun mengutuk dibalik nafasnya saat kau berjalan menjauh mencari lagi buku-buku puisi untuk di baca. Ada dua macam aksi Baekhyun yang biasa dia lakukan dalam situasi semacam itu: mengerang protes tapi meninggalkanmu sendirian seharian, atau mencoba lebih keras sampai dia mencapai apa yang dia inginkan. Walaupun dia tidak melakukan, jadi di ujung hari dia hanya menyerah dan meninggalkanmu sendiri.

Kapanpun dia pergi menjauh meninggalkanmu sendiri, kau selalu menatap punggungnya sampai dia menghilang dari pandanganmu. Itu sulit bagimu untuk menahan suaramu untuk memanggilnya kembali sebelum dia pergi, tapi kau ingin melakukannya.

Kalian berdua tetap saling bertemu selama makan siang, karena well, kau tidak ingin temanmu yang lain menyadari sesuatu terjadi antara kau dan Baekhyun. Itu sudah cukup melelahkan bagimu saat teman baikmu menemukan kau dan Baekhyun adalah teman seks dan dia masih tetap memasangkan dirimu dengan laki-laki bereyeliner itu. Kau tidak tertarik menceritakan padanya tentang situasimu dengannya sekarang.

Dan kau lebih bersyukur pada Tuhan untuk menciptakan dua laki-laki menjengkelkan dan tidak peka bernama Park Chanyeol dan Lu Han, karena tanpa kedua orang bodoh itu, kau tidak akan bisa melalui hari ini dengan mudah. Luhan, yang menjadi si brengseek mesum seperti dia biasanya, selalu berpikir bahwa bicara tentang gadis aljabar adalah menghibur bagi semua orang. Jadi setiap kali gerombolanmu duduk bersama untuk makan siang, Luhan selalu mengocehkan usahanya untuk mendapatkan perhatian gadis tersebut –yang selalu berakhir sia-sia, tapi bukan itu tujuannya –dan itu membuat situasi antara kau dan Baekhyun kurang menyesakkan.

“Guys, guys, dengar,” kata Chanyeol tiba-tiba, memotong Luhan yang menjelaskan bagaimana, kalimat, “Rok barunya membuat pantatnya terlihat begitu lezat, kurasa aku ingin bercinta dengannya di depan semua orang, dan aku tahu aku katakan pada kalian harus memperlakukan wanita kalian dengan benar, tapi DAMN, gadis itu HOT SEKALI, kurasa aku tidak bisa menahan diriku lagi.” Kalmat berakhir.

“Tepat dibagian terbaik dari cerita ini, Yeol, fantastik.” Gumam Luhan, menatap dongsaengnya yang berambut ramen itu.

“Hyung, maaf, tapi ini masalah serius,” kata Chanyeol, wajah yang benar-benar serius.

“Ya, dengarkan dia,” Minseok bergabung, dengan diam dia menyesap kopinya, “Sebaliknya, aku harus setuju dengan itu sendiri malam ini dan aku tidak ingin. Tidak untuk jutaan kali, terima kasih banyak.”

“Bukankah kau mayor dalam Psicology?” Baekhyun yang duduk tepat di sebrangmu, bertanya, sambil perlahan mengalihkan matanya darimu dan mengubahnya pada Minseok.

Minseok mengangguk ringan. “Yeah, terus?”

“Bukankah seharusnya kau, aku tidak tahu seperti, mendengar masalah orang dan mencoba menyelesaikannya?”

Minseok menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Matanya mengerikan. “Tidak yang satu ini, tidak.”

“Kenapa? Apa sulitnya mendengarkan orang-orang?” kata Baekhyun. “Maksudku, aku tidak melakukan itu, tapi …”

Minseok hanya mengedikkan bahunya. “Tunggu dan lihatlah. Chanyeol sedikit berbeda.”

“Apa maksudnya itu?” Chanyeol cemberut pada Minseok tapi dia putuskan untuk membiarkannya. “Aku punya sesuatu yang ingin kutanyakan pada kalian semua,” katanya setelah dia meraih tangan kekasihnya. “Kami berdua ….” dia memperlihatkan tatapan penuh kesedihan yang lama pada kekasihnya dan akhirnya kontak mata mereka putus saat kekasihnya memberikan tatapan sedih yang sama dan berkata, “Tidak apa-apa , sayang. Kau bisa mengatakannya.”

Luhan jelas-jelas masih sedih dari apa yang Chanyeol katakan sebelumnya. “Berhentilah bertingkah seperti kau berada dalam mv murahan Justin Beiber dan langsung saja!” teriaknya.

“Kami pikir bahwa ….”Chanyeol menarik desahan dalam, berat. “Kami merasa bahwa kami berada di ambang kebahagiaan kami sebagai sepasang kekasih.”

“What?” tanyamu, sedikit terkejut karena ini pertama kalinya kau mendengar sesuatu seperti ini terjadi pada mereka. “Kupikir kalian berdua bahagia. Maksudku kau masih saja membuat mataku melotot setiap kali aku melihat kalian berdua, menjadi lengket dan menjijikkan seperti kelinci yang bergairah dalam sebuah ladang.”

“Apa kau ….”Luhan penasaran pada kata-katamu.

“Oh, kami bahagia, benarkan?” jelas Chanyeol, mencium punggung tangan kekasihnya sekali –dan membuat yang lainnya mengerang bersamaan –sebelum dia meneruskan, “Itulah masalah yang sebenarnya. Kami terlalu bahagia.”

“Maaf,” Luhan menginterupsi, mengangkat tangannya di udara dan berkata, “Aku tidak ingin bergabung dengan omong kosong ini.”

Luhan,” kata Minseok, suara rendah dan mengancam. “Diam dan dengarkan.”

Luhan, yang ingin berdiri dan pergi, mendudukkan dirinya kembali dan cemberut. “Baozi, kau keterlaluan.” Gerutunya dengan halus.

“Jadi lalu apa masalahnya?” tanyamu, mengembalikan semua perhatian pada topik.

“Kami….” Chanyeol ragu-ragu tapi kekasihnya mengangguk dengan berani. “Kami bosan dengan situasi kami. Berkurangnya hubungan kami yang hal denamik, kau tahu?”

“Apa, seperti seks?” Luhan tiba-tiba saja terlihat tertarik.

“Tidak, Hyung, ini seperti …”Chanyeol mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir dengan hati-hati. “Seperti, pasangan lain selalu bertengkar tentang sesuatu, kan? Lihatlah, kita tidak melakukan itu. Kita tidak bertengkar satu sama lain.”

“Maaf,” Baekhyun menyela. “Apa kau bertanya pada kami kalian berdua ingin bertengkar?”

“Aku tidak tahu,” Chanyeol melihat kekasihnya dan bertanya, “Apa kita ingin bertengkar?” dia menggelengkan kepalanya. “Tidak, kami tidak ingin bertengkar.” Chanyeol mengklarifikasi.

Luhan berteriak langsung. “Lalu apa yang kau inginkan?!”

“Lihatlah?” Minseok bicara pada Baekhyun, menunjuk pada perdebatan mereka diawal. “Berbeda.” Baekhyun mengangguk simpati dan menepuk-nepuk punggung Minseok menjadi sabar sekali tentang ini sebelumnya.

“Kami tidak tahu! Karena itulah kami memintamu!” Chanyeol melempar tangannya di udara. “Kami butuh sesuatu untuk membumbui cinta kami sedikit.”

Lalu sesuatu melintas di mata Luhan dan dia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dengan senyum lebar di wajahnya. “Ah, jika itu kasusnya, Park Chanyeol, kau harus datang pada orang yang tepat!” dia benahi kaca matanya –ya, saudara-saudara, orang cina selalu memakai kaca mata palsu sehingga dia terlihat lebih pintar dalam perhatian untuk mengesankan gadis aljabar, tapi jelas-jelas dia tidak terkesan oleh itu –dan berkata, “Okay, ayo mulai pelajaran kita bagaimana membumbui kehidupan seksmu –“

Kau membenarkan, “Kehidupan cinta.”

“ –kehidupan cinta sebelum menjadi begitu membosankan; yang membuat kalian berdua ingin membunuh diri kalian sendiri. Atau lebih buruk,” Luhan berhenti untuk menaruh nada yang lebih dramatis, “Tidur dengan orang lain.”

Baekhyun berkomentar, “Bagaimana tidur dengan orang lain lebih buruk ketimbang membunuh dirimu sendiri, aku bahkan tidak tahu.”

Chanyeol mengunci pandangannya dengan kekasihnya. “Aku lebih baik membunuh diriku sendiri dari pada tidur dengan wanita lain, kau tahu itu, kan? Aku hanya menginginkanmu.”

Mata gadis itu mulai berair sedikit pada tujuan itu. “Aku hanya menginginkanmu juga, Park Chanyeol. Selamanya.”

“Dan selamanya.” Chanyeol menyelesaikannya, menunjukkan sebuah ciuman pada keningnya.

Minseok tiba-tiba berdiri. “Okay, aku tidak ingin bergabung dengan omong kosong ini.” Dia meraih tasnya dan pergi.

“Minseok –Hyung, kau tidak bisa hanya –!” Protes Baekhyun saat laki-laki tersebut buru-buru pergi melintasi pintu Cafetaria.

“Lucky bastard,” gumammu.

“Anak-anak, perhatiannya please!” kata Luhan, menepukkan tangannya bersama. Matanya berkilauan dengan gairah yang berapi-api. Dia mwnjauh dari tempat duduknya dan menautkan tangannya bersamaan di belakang, punggungnya saat dia berjalan pelan-pelan, mengitari meja. Dia terlihat tidak perduli ada banyak mahasiswa yang menontonya dengan mata menghakimi dan tampang apa –yang –dia –lakukan pada wajah-wajah mereka. Luhan berada dalam momennya. Posturnya mengingatkanmu pada guru yang berbulu –pengerat putih yang secara sungguh menakutkan berjalan dengan kedua kaki belakangnya –dalam Teenage Mutant Ninja Turtle : The Series.

“Aku telah melalui masalah ini sebelumnya, dan biar kuyakinkan kamu, anak-anakku,” kata Luhan dengan bijak, “Walaupun jalan menuju ke sana sulit dan panjang dan berangin –“

“Potong omong kosong itu, Luhan,” bentak Baekhyun.

“Pada akhirnya akan menjadi layak,” Luhan mengakhiri. “Bersabarlah, dan kehidupan seksmu –“

Kau terbatuk. “Kehidupan cinta!”

“ –kehidupan cinta, goddamn it!” lalu dia berdehem dan memejamkan matanya untuk sesaat untuk menenangkan dirinya. saat dia membuka matanya, matanya penuh dengan kebijaksanaan (atau amomg kosong, jika kau ingin berpikir dengan cara berbeda). “Kehidupan cinta mu,” dia berhenti untuk memberimu sebuah senyuman halus dan kau mengacungkan ibu jarimu padanya. “Akan jadi sehebat biasanya.”

Luhan –seosaengnim!” kata Chanyeol, meraih tangan Luhan saat dia memohon, “Aku butuh bimbinganmu! Ajari aku cara-caramu!”

“Park Chanyeol!” teriak Luhan, suaranya menggema di seluruh Cafetaria. “Hal pertama yang harus kalian berdua lakukan adalah membuat sebuah rekaman seks!”

Keheningan sesaat.

“Chanyeol, honey,” katamu, seolah-olah Luhan tidak hanya mengatakan sesuatu yang sangat gila sekali. “Biar kupinjami kau majalah Cosmo ku, okay? Ada banyak jawaban yang beralasan dari pada yang baru saja laki-laki china –breangsek ini katakan.”

“Kasarnya!” Luhan menganga dengan keras, menamparkan tangannya pada hatinya(dadanya). “Dan rasis!”

“Sebenarnya,” Baekhyun merespon, “Aku sedikit setuju dengan apa yang Luhan baru saja katakan.”

Kau diam-diam memutar bola matamu. Ini tipikal dia sekali. Baekhyun selalu mencoba mengkontradiksikan kata-katamu untuk medapatkan perhatianmu dan kau mengabaikannya setiap waktu dan hanya berpikir betapa kekanak-kanakannya dia.

“Teruskan,” kata temanmu, dan kau terkejut sekali dia menerima saran semacam ini.

“Baekhyun, magang terbaikku! Jelaskan pada para petani!” teriak Luhan dengan bangga, hanya mendapatkan sebuah bekas tatapan memalukan dari sebut saja –temannya.

“Dengar, mungkin alasan kalian berdua mulai bosan dengan hubungan kalian,” jelas Baekhyun, “Karena kehidupan seksmu terlalu … aku tidak tahu, normal? Kurang kejutan? Selalu menggunakan posisi yang sama ulang dan berulang lagi?”

“Posisi- posisi…” cHnayeol mengetuk-ngetuk dagunya, melihat dalam-dalam benaknya. “Ada berapa banyak posisi seks? Karena yang aku tahu hanya satu.”

“Oh, poor baby!” seru Luhan dengan keras, merangkul Chanyeol dan menyandarkan kepalanya pada pundaknya. “Ada, ada, segalanya akan baik-baik saja. Lulu akan mengajarimu semua yang ingin kau ketahui, okay, Yeollie?”

Seonsaengnim!” Chanyeol membalas memeluknya, melingkarkan lengan-lengan panjangnya pada perut Luhan.

Wajahmu berkerut dengan jijik pada tujuan itu.

“Dalam beberapa kasus,” Baekhyun meneruskan. “Kehidupan seks mu mulai membosankan sekali.”

Temanmu merona. “Kami …well….”

“Aku ingin belajar!”Chanyeol bersiul dengan senangnya dan kau ingin menutup wajahmu dengan telapak tanganmu.

Baekhyun bersandar pada tempat dudukmu, “Bagus. Kemudian kau bisa memulainya dengan memfilmkan.”

“Memfilmkan….” Chanyeol ragu-ragu. “Saat memfilmkan kami berhubungan seks?”

“Tidak, memfilmkan kalian berdua membuat kue ulang tahun bersama,” kata Luhan tidak sabar –terlalu banyak menjadi seorang guru, “Duh! Tentu saja!”

“B –Bagaimana?” tanya temanmu.

“Kau serius menanggapinya?” kau menganga. “Jujur saja! Itu adalah saran terburuk yang per –“

“ITU ADALAH SARAN TERBAIK!” Chanyeol melompat dengan bodohnya. “Karena dengan menonton, kami bisa melihat kesalahan-kesalahan kami dan belajar dari kesalahan itu, dan melakukan posisi-posisi yang tidak kami lakukan sebelumnya dan melihat bagaimana mereka terlihat –oh wow, aku bisa merasakan diriku sudah mulai tertarik!”

“Maksud ‘tertarik’,” kau meringis. “Kuharap kau tidak membicarakan hal yang ada dalam celana itu.”

“Luhan –seosaengnim, Baekhyun –seosaengnim!” panggil Chanyeol dengan keras, menyalami mereka satu per satu dengan menggoyangkan tangan mereka. “Akan kubuat kalian bangga!”

“Oh, Chanyeol!” Luhan memeluk pundaknya. “Kau sudah tumbuh besar sekarang!”

“KENAPA AKU BERTEMAN DENGAN KALIAN!” kau ingin menjambak rambutmu saat itu. Temanmu hanya tertawa malu-malu dan dengan menurut mengikuti langkah-langkah Chanyeol di manapun –tempat –mereka –akan –gunakan –untuk –memfilmkan –posisi-posisi –seks –baru –mereka dan kau jujur saja khawatir padanya.

“Selamat bersenang-senang, my lovely ~” Luhan tersenyum lebar saat dia melambai pada kedua orang naiv pamit. “Sekarang, kedua orang itu sudah pergi,” dia kembali duduk ke tempat duduknya hanya di sampingmu dan meletakkan jari-jarinya di atas meja bersamaan. “Aku ingin tahu apa yang terjadi antara kalian berdua.”

Kau sedang minum saat dia tiba-tiba mengatakan itu dan kau hampir tersedak oleh orange juice mu. “ I ‘m sorry, what?”

“Berhentilah berbohong, bodoh. Kau pikir aku tidak tahu tentang hal ini?” tanya Luhan, memicingkan matanya dalam cara yang imut aku –marah –pada –mu. “Tentu saja aku tahu! Kau pikir aku siapa?”

“Si brengsek mesum?” Baekhyun mencoba.

Kau bergabung, “Si brengsek yang mendua?”

“Si brengsek, egois?”

“Anak setan?”

“Gigolo kelas 3?” kata Baekhyun, dan sebnayak kau membencinya, kau pikir itu adalah terbagus dan kau hampir gagal membendung tawamu.

Luhan mwnunggu sampai kalian tidak bisa berkata apa-apa. “Selesai?” tanyannya, melipat tangannya di depan dadanya.

Baekhyun membuka mulutnya. “Aku masih punya satu lagi –“

“Itu pertanyaan retorik, brengsek.” Luhan menatap.

Baekhyun mengangkat tangannya keatas, seolah-olah dia menyerah. “Terserah, brengsek.”

Laki-laki tertua mendesah dan mengalihkan pandangannya darinya jadi sekarang dia sedang melihatmu. “Dengar, kita sudah berteman sejak lama, okay? Aku tahu sesuatu sedang tidak benar dan aku tahu itu berhubungan dengan si –“ Luhan menunjukkan jarinya dengan kasar pada Baekhyun. “ –brengsek ini.”

“Terakhir kuperiksa, aku adalah anak yang legal. Dan asal kau tahu, aku tidak melakukan hal yang salah.” Baekhyun mengklaim dan kau hanya memandang padanya.

“Diamlah sebentar, kau?”caci maki Luhan padanya.

“Tidak ada yang perlu dikatakan, sungguh,” katamu, berbohong adalah alasan yang lebih baik. “Kami baik-baik saja, benarkan, Baekhyun?” kau memberinya senyuman dan laki-laki itu hanya terdiam.

Luhan mengalihkan matanya kebelakang dan kedepan antara kalian berdua dan mendesah. “Dengar, okay, mungkin ini bukan tempatku untuk melibatkan diri dalam masalah kalian. Tapi aku tahu sesuatu terjadi. Jadi apapun itu, aku ingin kalian menyelesaikannya, okay?”

Kau hanya tersenyum kembali pada Luhan, dan dia mengacak rambutmu dengan halus sebelum membawamu dalam pelukannya. Kau yaki kau hanya satu-satunya orang yang bisa mendengar kata-katanya selanjutnya. “Jangan tersenyum seperti itu jika kau tidak sungguh-sungguh. Itu menyakitiku.”

Setelah dia melepasmu, meninggalkanmu diam dan mematung, Luhan berdiri dan meraih tasnya dari atas meja. “Baekhyun,” panggil Luhan, “Jika kau menyakitinya, kau akan harus menjawabku.”

Baekhyun mendongakkan wajahnya untuk melihatnya. “Oh diamlah, Hyung, kau bahkan tidak bisa memukul –“

Baekhyun tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Luhan tiba-tiba saja meraih kerah bajunya dan menariknya keatas dari tempat duduknya sampai mereka saling berhadapan langsung. Kau menganga dan merasakan jantungmu mulai berdetak lebih cepat karena Luhan tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah suka kekerasan, kau ingat, tapi sekarang …

“Aku bersumpah, Baekhyun,” kata Luhan dengan nada suara yang paling menakutkan yang tidak pernah kau dengar yangkeluar dari mulutnya. “Jika kau menyakitinya, aku akan membalas menyakitimu.”

“Hey, kalian berdua –“ kau langsung melerai mereka karena orang-orang mulai memperhatiakan kedua laki-laki itu. Kau bersumpah kau baru saja mendengar seseorang berteriak. “Lawan, lawan, lawan!” di belakang. “Hentikan, okay? Tidak di sini. Please.”

“Kau mengerti?” tanya Luhan dan Baekhyun hanya menatap kembali tanpa menjawab apapun sampai akhirnya laki-laki yang lebih tinggi itu menghempaskannya dengan dorongan keras dan berjalan keluar dari Cafetaria.

Saat itulaah, kau tidak berpikir apa yang Luhan katakan padanya akan menarik reaksi semacam itu dari laki-laki bereyeliner. Tidak lama teorimu sudah terbukti salah.

***

Di hari berikutnya, sekitar 3 jam tengah malam, ketukan keras pada pintumu terdengar membuatmu gugup, memecahkan kesunyianmu dalam sekali. Berdiri dari sofa, kau lempar buku puisi bahasa Inggrismu kembali ke mejamu sebelum kau berjalan untuk membuka pintu.

Kau membukanya dan melihat Baekhyun, berdiri dilorong yang sepi karena orang-orang telah kembali ke dorm mereka masing-masing atau pergi clubbing atau apapun karena ini adalah sabtu malam. Kau tidak berpikir Baekhyun akan ke sini, sejujurnya.

“Good night, Baekhyun,” katamu dengan cepat dan hampir berhasil menutup pintumu lagi, tapi Baekhyun melayangkan satu tangannya ke dalam beberapa detik sebelumnya dan kau tidak punya hati untuk membanting pintu akan menjepit tangannya dalam proses itu.

“Kita harus bicara,” kata Baekhyun, mendorong pintu agar terbuka.

“Tidak.” Kau kembali mendorongnya tapi kau terlalu lemah untuk menahan kekuatannya. “Pergilah, Baekhyun, aku tidak ingin bicara!”

“Dengarkan aku sebentar!” Baekhyun mendorong dirinya pada pintu dan kau berteriak saat kau tidak bisa menahannya lagi dan mundur jadi pintu membentur sisi dinding, membiarkan Baekhyun masuk.

“What?!” kau menuntut, menatap padanya sengan mata melotot. “What do you want?!”

Dia menutup rapat bibirnya dan hanya melihat padamu, mencari apa yang kau sembunyikan di balik matamu saat dia berjalan mendekatimu.

Menjauhlah dariku,” kau memohon, mundur satu langkah setiap kali dia melangkah ke depan.

Baekhyun tersentak pada nada suaramu yang kau pakai dan dia menghentikan langkahnya. Kau terdengar seperti kau takut padanya. Seperti kau begitu jijik padanya.

Dia menghela nafas dengan lembut dan bertanya dengan sedihnya. “Apa kau begitu membenciku?”

Kau merinding pada kelembutan yang tiba-tiba dalam suaranya. “What?”

Baekhyun menelan nafasnya dan mengacak rambutnya putus asa, “Dengar,” katanya, “Aku tidak tahu apa aku telah berbuat kesalahan, okay? Jujur aku tidak tahu kenapa kau begitu marah padaku.”

Hari ini adalah hari yang tidak baik bagimu. Kau lelah dan letih. Kau begitu terancam, hampir begitu berkali-kali hari ini karena kau terlambat masuk kelas, karena tidak mengerjakan PR yang seharusnya kau kerjakan, karena tidak mengingat langkah-langkah dance mu saat rehearsal(gladi bersih). Segalanya, segalanya berjalan begitu salah dan kau tidak dalam mood untuk bertengkar atas apapun –tinggalkan saja tentang hal ini.

Jadi kau tidak bisa menaruh topeng tenangmu seperti biasanya.

Kau hanya membentak.

“Kau tidak tahu ada apa?!” Ulangmu begitu keras dan begitu tiba-tiba, kau membuatnya meringis mendengar suaramu. “Baekhyun! kau bercinta di atas tempat tidurku dengan pelacur yang tidak kukenal tanpa seijinku. Apa kau tidak mengerti ada apa sekarang? Benarkah?!”

“Aku punya alasan, okay?” balasnya tanpa berpikir. “Setelah aku bangun, aku membaca note mu, dan aku ingin kembali ke kamarku sendiri tapi terkunci dan Luhan tidak di sana, dan aku tidak membawa kunci, jadi –“

“Jadi kau bawa saja gadis itu dan tidur dengannya di sana, itukah yang ingin kau katakan?” kau lempar tanganmu di udara dengan marah. “God, Baekhyun! Aku tidak percaya dirimu! Apa kau tahu aku telah tidur di sofa karenamu? Apa kau tahu betapa menjijikkan tempat tidurku rasanya bagiku sekarang? APA KAU TAHU?”

“Kau bisa mengganti seprainya –“

“Bukan itu masalahnya!”

“FINE! Aku tidak bermaksud, okay?” Baekhyun balas berteriak, terdengar lebih frustrasi. “Dia dan aku hanya bicara dan kemudian dia tiba-tiba saja –“

“DIAMLAH!” kau melemparinya sesuatu dan mengenai dadanya –sebuah buku, mungkin, tapi kau tidak perduli saat itu. “Apa aku terlihat ingin tahu apa yang terjadi antara kau dan pelacur itu –jujur, Baekhyun!” matamu mulai memanas dan basah karena rasa marah dalam dirimu. Kau begitu marah, dan sakit, tapi di saat yang bersamaan kau hanya sangat merindukannya. Kau tidak tahu perasaan yang mana yang lebih kuat saat itu.

“Dengar, aku minta maaf,” kata Baekhyun, menenangkanmu, “Jika itu yang ingin kau dengar.”

Jika itu yang ingin aku –“ kau menganga. “OH, FUCK YOU!”

“HEY!” teriak Baekhyun. “Aku tidak tahu kenapa kau begitu jengkel tentang hal ini! Kataku aku minta maaf karena menggunakan kamarmu untuk tidur dengan gadis itu, tapi itu saja, kan? Aku tidak melakukan hal lain lagi lebih dari itu dan kau tahu itu!”

Kau membuka mulutmu tapi tidak ada apapun yang keluar, karena dia benar. Kau seharusnya marah untuk alasan itu saja. Kau tidak punya hak untuk sedih karena fakta dia tidur dengan gadis lain. Kau tidak punya hak untuk merasa sakit dan dihiananti karena kau tidak dalam hubungan semacam itu dengannya. Dia bebas tidur dengan siapa saja, tapi kau hanya tidak bisa menghentikan rasa sakit.

Kau ingin berteriak, menjerit, menangis, dan menamparnya sampai seluruh wajahnya memar, dan memeluk dan menciumnya di saat yang bersamaan dan itu tidak masuk akal. Kau tidak masuk akal, tidak bahkan untuk dirimu sendiri.

Saat kau rasakan air matamu mulai turun, kau berpaling darinya dan berkata dengan pelan, “Pergilah, Baek.”

“Tapi –“ protes Baekhyun dan kemudian kau akhirnya melihat padanya lagi, dan kau tidak perduli jika kau sedang menangis, kau tidak perduli jika semua emosimu mulai terlihat di wajahmu karena damn it, kau ingin dia tahu apa yang telah dia lakukan padamu. Untuk beberapa alasan, kau ingin dia tahu karena dia memberimu harapan, dan dia membuatmu merasakan sesuatu tentang drinya dalam cara berteman –tinggalkan saja, musuh –yang tidak seharusnya.

Kau ingin dia tahu bahwa malam itu berarti sesuatu bagimu.

Bahwa saat dia mengatakan ‘let me treat you right’ kau benar-benar mempercayainya dan memberikan perasaanmu.

Dan bahwa kau ingin dia tahu bagaimana dia hanya melempar semua itu di wajahmu. Dengan sebuah seringaian, dan seorang gadis yang menggeliat di bawahnya.

Bahkan memikirkan tentang gambaran itu menghancurkan hatimu sekali lagi.

“Kumohon,” pintamu, suara yang pecah dan tercekat di tenggorokan. “Pergilah, Baekhyun.”

Setelah menghabiskan maksimal 5 detik manatapmu dengan tatapan bingung tapi khawatir di wajahnya, dia menggerakkan kakinya kembali ke pintu.

Sesaat sebelum kau menutup pintumu, kau dengar sebuah bisikan kecil dan lembut, “Please, don’t cry.”
TBC

 

Otte, guys?? Honestly, ada beberapa kalimat yang menurutku susah, aku bingung menterjemahkannya, alhasil, itu ambigu sekali, kekeke… maaf, aku memang payah! Okay, happy reading aja deh, jangan lupa tinggalkan komentar atau kritik kalian setelah baca di atas, thank you….

 

 

 

 

 

 

Advertisements

16 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun|Chapter 6a

  1. Baekhyun emang menyebalkan 😠Greget sendiri deh jadi nyaa …. Makinseru semakin seru baca ff ini seraba kerasa campur aduk . kereeen sekaliiihhh 👍
    Figthing author di tunggu semua kelanjutan ff nyaa 😊

    Like

  2. Aku nangis, huaaaa hiks, bahkan kucing ku sampai datang karna cemas, oh luhan,pertahanan ku runtuh waktu dia bersikap seperti itu, beneran mau nangis, sahabat yg baik, apalagi kata2 nya waktu memeluk tokoh utama wanita dan peringatannya pada baekhyun, ah sungguh waktu dia pergi jk aku jd.si aku di sini ingin lari dan langsung memeluk luhan dan menangis sepuasnya, aaaa luhan dari pembahasan brengsek mu soal gadis aljabar, ternyata hanya kau lah yg paling peka di antara semuanya hiks, chapter ini menguras emosi, bahkan aku jg ikut menangis seakan akan aku lah yg sedang menangis saat di akhir part, hiks, sukses pj, translate yg keren, suka.banget, thanks for tag, meskipun hasil.dari translate tp damn ini kereeennnn, bisa nyampaiin isi sebenarnya dari penulis asli, serius ini kerennnn, aku gk tau istilah apa lagi yg bisa ngungkapin, thanks noonabyun

    Like

  3. mengusutkan rambutmu dengan tangan kanannya, menggilas-gilas pinggulnya padamu. Ketawa aku beb bagian menggilas2 ini berasa lg nyuci baju deh 😀

    nah di kalimat ini ntah kebalik atau emang hanya perasaan aku “Saat memfilmkan kami berhubungan seks?” kalo menurutku enaknya gini “ memfilmkan kami saat berhubungan seks?”

    Like

    1. aku jg pingin ketawa bagian itu :v apaan…bener2 payah dlm bahasa,lol, bisa kasih masukan yg bagian di atas? soalnya ada gambaran di otak tp nggak bisa di tuangkan ke dlm tulisan, trus bag akhir, kekeke… kurasa emang salah tulis, ntar di benahin lg, thanks ya reviewnya, bener2 membantu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s