The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun|Chapter 6b

jVIVHn8
Tittle : THE MARRIAGE LIFE OF MR BYUN BAEKHYUN (Chap 6b)
Author : PJ
Cast :
• You (OC)
• Byun Baekhyun
• Xi Luhan
• Park Chanyeol
• and other member of EXO
Rate : PG -17
Length : Chapter
Genre : Romance , comedy
Greeting !! Hello guys i’m back again. STILL, dengan hasil translitanku dari fanfic favorite ku ‘ The Marriage Life Of Mr Byun by sundaysundaes ‘. Walaupun tidak se bagus aslinya, tapi tetep saja telah menguras otakku sangat keras, dan semoga kalian bisa menikmatinya, ya..walaupun agak berantakan bahasanya,just keep reading guys, dan jangan lupa like and comentnya, Oya ,kau bisa cek Original storynya di sini,

Link : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/6/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol
Previous :https://noonabyun.wordpress.com/2016/02/05/the-marriage-life-of-mr-byun-baekhyunchapter-6a/
HAPPY READING !!

Chapter 6b!

Recounting The Time

Pertengkaranmu dengan Baekhyun berakhir sampai berhari-hari –berminggu-minggu, bahkan. Ini mulai buruk untuk tujuan dimana kalian berdua sebenarnya tidak bisa menanggung untuk tinggal di ruangan yang sama dengan satu sama lain. Pada jam-jam makan siang, contohnya. Saat Baekhyun yang pertama kali datang sebelum dirimu, kau tiba-tiba saja berbalik dan menuju arah yang berlawanan, tidak ingin melihatnya dan harus setuju dengan semua drama lagi. Kau agak malu karena kau yakin Baekhyun sadar kenapa kau begitu sedih dan tidak bisa menatap matanya lagi. Kau yakin bahwa dia sekarang tahu dengan sempurnanya bagaimana yang kau rasakan tentangnya.

Kau mendesah saat kau mendudukkan dirimu di bangku kosong di pojok taman belakang kampus. “Aku heran jika inilah kenapa dia membuat ‘batasan-batasan’ itu?” kau bertanya-tanya sendiri. “Jadi kita tidak akan merasa seperti ini?” kemudian kau sebenarnya cekikikan sendiri. “apanya yang lucu? Mungkin aku saja yang merasa seperti ini.”

“Merasa seperti apa?” Chanyeol tiba-tiba saja muncul di pandangan matamu.

“Chanyeol!” kau menepuk pundaknya saat dia mentertawai ekspresimu. “Kau menakutiku! Apa yang kau lakukan di sini?”

Chanyeol duduk di sampingmu. “Aku menunggu gadisku. Dia masih ada kelas.”

Gadismu kebetulan teman baikku dan kau mencurinya dariku.” Dengan jenaka kau mencibir dan dia tersenyum sambil mengatakan ‘sorry’.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Chanyeol, mengeluarkan kotak makan siang dari tasnya. “Kenapa kau tidak bersama gang lainnya, makan siang di Cafetaria?”

“Eew berhentilah mengatakan ‘gang’, rasanya aku seperti salah satu penjual obat-obatan terlarang itu.” Kau menghadap.

“Kau terlalu cantik menjadi penjual obat, menurutku.”

Kau melempar senyuman kecil saat itu. “Dan karena itulah aku menyukaimu, Yeollie.”

“Tapi gadisku lebih cantik.” Dia sebenarnya mengerling.

“Daaaan kita kembali,” kau mendesah dengan keras, menyodok perutnya sampai dia mulai terkekeh. “Lagi pula, aku hanya tidak ingin makan, jadi aku pergi ke sini. Kau tahu, untuk mengurangi pikiranku atau apapun.”

“Hmmm….” Chanyeol membuka sebuah sandwich buatan sendiri dan berkata, “Ingin mencobanya sedikit? Temanmu yang membuat ini untukku.” Kemudian dia tersenyum dengan lebar. “Ini di penuhi dengan cinta, jadi aku tahu ini akan terasa enak.”

“Kau tahu, Yeollie,” katamu, menajamkan matamu padanya. “Kapanpun kau bicara, kau selalu membuatku ingin menamparmu dengan palu, atau memuntahkan isi perutku sampai ginjalku tersangkut di tenggorokan.”

“Woah, itu bukanlah gambaran yang bagus,” kata Chnayeol dengan ramah, berpura-pura meringis tapi kemudian dia tertawa. Tawanya berubah menjadi hening saat dia sadar kau tidak mengikuti aksinya. “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.” Menjawab seperti itu mulai menjadi kebiasaan bagimu sejak hari kau dan Baekhyun mulai bertengkar.

Chanyeol berhenti mengunyah sandwichnya dan mendesah seolah-olah dia lah yang dalam masalah. “Hey, aku tahu aku terlihat bodoh –“

“Kau tidak bodoh.”

“Aku tahu, karena itulah aku berkata ‘terlihat’.”

“Ah ….benar.”

“Tapi hey,” kata Chanyeol lagi, membuatmu berbalik dan menatap matanya. “Aku tahu kau dan Baekhyun sedang semacam bertengkar sekarang ini.”

Kau tidak sadar kau sedang memasang senyuman lelah pada wajahmu. “Terlalu jelas, huh?”

“Well, semacam itu.” Dia mengangkat bahunya. “Sebenarnya, semua orang tahu dari bagaimana kau berperilaku di sekitar satu sama lain, tapi karena aku terlalu tidak peka, aku tidak tahu tentang hal ini sebelumnya. Aku hanya tahu sekarang karena Baekhyun datang padaku tadi malam.”

Mendengar nama Baekhyun lagi dan lagi sedikit terlalu sulit untuk kau kendalikan untuk sesaat, tapi kau putuskan untuk menanganinya. “Benarkah?” tanyamu, sebenarnya tidak perduli, tapi untuk percakapan, kau hanya melanjutkan.

“Yeah.” Chanyeol menggigit lagi sandwichnya dan dia melenguh saat dia merasakannya dalam mulutnya. “God, ini rasanya enak sekali. Aku benar-benar akan mengajaknya menikah denganku satu hari.”

“Whoa, tenanglah, Tiger,” katamu, tanpa sadar kau tersenyum pada tingkah lakunya.

“Aku serius, ini rasanya enak sekali!” dia menelan dan meneruskan topik sebelumnya. “Omong-omong, dia datang padaku tadi malam, terlihat stress dan depresi, dan walaupun, aku sedang, uhh …” dia berdehem canggung sebelum dia mereda dengan, “ …..sibuk saat itu, kubiarkan dia masuk dan mendengar apa yang ingin dia katakan.”

Kau hanya bergumam dengan ringan, tidak menanggapi informasi itu sampai ke dalam hati.

“Apa kau tahu apa yang dia katakan?” tanya Chanyeol dan dia harus menanyakannya dua kali sampai kau berkedip dan melihatnya dengan mata setengah sadar.

“I ‘m sorry?” tanyamu, tidak menangkap kata-katanya dengan jelas.

“Antara kau dan aku,” kata Chnayeol berbisik, mata bulatnya bergerak ke belakang dan ke depan meneliti sekelilingnya, yakin bahwa kalian berdua sendirian. “Kurasa aku tidak seharusnya mengatakan ini padamu, tapi kurasa kau harus tahu.” Dia mengeledah tasnya untuk sebentar, mencoba menemukan sesuatu. Dia menggumamkan sesuatu tidak sabar sebelum akhirnya berteriak. “Aha! Ini dia!” dia mengeluarkan sebuah kamera digital dari tasnya. “Ini.”

Kau mengambilnya dari tangan lebarnya. “Apa ini?”

“Kamera.” Jawab Chanyeol menurut fakta.

“Aku tahu ini kamera, Park Chanyeol.” Kau memutar bola matamu. “Yang ingin kuketahui kenapa kau memberiku ini?”

“Lalu kau seharusnya bertanya ‘kenapa kau memberiku ini, Yeollie?’ dari pada yang itu.” Chanyeol menirukan aksimu sebelumnya, sebelum dia tersenyum dan menyenggol bahumu dengan miliknya.

“Kau terlalu banyak hang out dengan Luhan, Yeol.” Kau balas bergumam, sedikit tersenyum.

Chanyeol kembali memakan sandwichnya dengan biasa. “Nyalakan saja dan tekan play.”

Kau mencari tombol power kamera dan melakukan seperti yang dia katakan. “Seperti ini?” kau menekan ‘play’ dan sebuah video mulai berputar dalam layar kecil pada samping belakang kamera.

Layar menampilkan syutingan Chanyeol yang close-up saat mencoba menaruh kamera di meja. Saat dia mundur sedikit, kau melihat dia hanya memakai boxernya dan kamera menghadap tempat tidur. Kamar ini terlihat sedikit familiar bagimu sebelum akhirnya kau tersadar kau pernah ke sana sekali saat kau ingin memainfa maaf pada Chanyeol. Itu adalah kamar Minseok dan Chanyeol.

Minseok tidak ada di sana. Tempat tidur kosong. Dan Chanyeol yang setengah telanjang.

“YAH!” kau hampir melempar kamera saat tersadar. “Apa ini video sexmu?! Kenapa kau memperlihatkan ini padaku?!”

“Santai, itu bukan video sexku,” Chanyeol cekikikan. “Paling tidak bukan versi komplitnya.”

“CHANYEOL!”

Halo, uhh ….aku Park Chanyeol,” Chanyeol yang ada di layar berkata dengan canggung saat dia berlutut di atas lantai, menghadap pada kamera, dan kau coba, benar-benar mencoba untuk mengabaikan betapa lebarnya bahu Chanyeol, tapi itu satu hal yang hampir tidak mungkin di lakukan. “Jadi … err …hal yang, kita –yang seharusnya ku, uhh, apa yang kukatakan? Apa yang kau katakan saat kau membuat rekaman sex?” terusnya tergesa-gesa dengan sebuah tawa yang canggung.

Kau cemberut; merasa sedikit terkejut untuk melanjutkan. “Kenapa aku menonton ini, Yeol?”

“Tunggu saja ~”

Jadi, yeah, aku menunggu kekasihku sekarang. Dia, uh, dia sedang bersiap-siap,” Chanyeol yang di layar berkata, sedikit merona dan kau pikir dia lebih dari cute saat itu, “Aku tidak tahu kenapa dia harus ‘bersiap-siap’,” dia membuat gestur dengan jari-jarinya di udara, “Maksudku, dia sudah begitu cantik dan perfect, dan God, maaf aku meracau, aku hanya begitu mencintainya –“ dia terpotong oleh sebuah suara ketukan pintu. Chanyeol yang di layar menautkan alis-alisnya dan menggumamkan sesuatu dengan tidak jelas sebelum dia berjalan ke arah pintu dan dia menghilang dari pandangan. Kamera hanya memperlihatkan tempat tidur kosong dengan beberapa bunga –mawar-mawar itu? Ouch –berserakan di mana-mana di atasnya. Ada suara-suara di belakang dan kau tidak bisa mendengar mereka dengan baik, sampai Chanyeol muncul di layar lagi dengan seseorang yang mengikuti tepat di belakangnya.

God, berapa kali aku harus mengatakan padamu?” ancam Chanyeol sedikit keras, dan walaupun kau tidak bisa melihat wajahnya karena dia sedang berdiri dekat sekali dengan kamera, kau bisa menggambarkan ekspresinya dengan benar di kepalamu –wajahnya yang diwarnai dengan kejengkelan, satu mata melebar dan yang satunya saat dia mengerutkan kedua alisnya bersamaan. “Sudah kukatakan untuk tidak berkelahi! God, kita bukan di SMA lagi, okay?”

“Well, dia yang memulainya!”

Baekhyun.

Kau mengenali suaranya semudah melihat bintang-bintang di langit yang cerah setelah hujan badai. Kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman mengaduk-aduk di dalam dadamu dan kau ingin melempar kamera. Pada beberapa tujuan mungkin sebenarnya kau melakukannya, karena kau yakin Chanyeol sedang berteriak, “JANGAN RUSAK KAMERA, KEHIDUPAN SEKSKU TERGANTUNG ITU!”, tapi kau menenangkan dirimu dan meneruskan untuk melihat pada layar.

Di layar memperlihatkan Baekhyun duduk di atas tempat tidur Chanyeol, tapi karena Chanyeol ,dirinya menjadi amatir, meletakkan kamera di meja terlalu rendah dari yang seharusnya, kau hanya bisa melihat bibir Baekhyun saat dia bicara, tapi tidak matanya. Kamera tidak merekam separoh bagian atas wajahnya, tapi itu masih bisa memberi petunjuk bagaimana sekspresi yang dia pakai di wajahnya dengan gestur tangannya dan tubuhnya yang lain. Untuk sekarang, menyangga dagu sebelah kiri dengan telapak tangannya, menggosok rasa sakit perlahan-lahan, kau berasumsi, seseorang telah mendaratkan beberapa maksud yang berkaitan padanya (=maksudnya, pukulan).

Chanyeol mendesah dan membuka kulkas mininya –kau bisa melihat melalui suaranya –dan berjalan untuk duduk di sebelah Baekhyun setelah memberinya sekantong es batu. Bahu Baekhyun mencondong ke depan dalam rasa lelah, tapi tubuhnya yang lain masih tegang dan gelisah. Dia meraih kantong es dan meletakkannya pada rahangnya yang memar, mendesis saat kulitnya menyentuh dinginnya es.

Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol, dia terdengar mengalir begitu saja.

Mungkin,” kata Baekhyun acuh tak acuh, “Setelah kau jelaskan padaku kenapa kau setengah telanjang di dalam kamarmu dengan mawar-mawar di atas tempat tidurmu.”

J –jangan khawatirkan hal itu.” Chanyeol mengibaskan tangannya, mencoba cool dan santai, tapi tawa kecilnya yang guup tetap masih ada padanya. “I –ini hanya bagaimana aku suka memanjakan diriku sendiri kadang-kadang.”

Tentu saja,” jawab laki-laki yang lainnya, jelas-jelas tidak percaya apapun yang Chanyeol baru saja katakan. Kau berpikir Baekhyun akan menggumamkan sesuatu yang lain tentang topik tapi laki-laki itu hanya diam, memegang kantong es dengan satu tangan, dan tangan yang satunya dengan gelisah mengetuk-ngetuk pada pahanya.

Kau ingin menceritakan padaku apa yang terjadi?” tanya Chanyeol lagi, mungkin menyadari ada sesuatu yang aneh dengan laki-laki itu juga. “Kenapa kau terlibat perkelahian, Baek?”

Baekhyun tetap diam untuk beberapa saat sampai dia mengucapkan, “Kau tahu bagaimana orang-orang suka membicarakanku di belakangku, kan?”

Chanyeol tidak menjawab, tapi kau bisa membayangkan dia menjadi simpati padanya sekarang.

Dan aku tidak perduli. Yeol, aku sungguh tidak menganggap satupun hal-hal itu yang mereka katakan tentangku,” terusnya, suara yang tenggelam dalam kejengkelan. “Tapi aku hanya tidak tahan saat mereka mengatakan hal jelek tentang teman-temanku. Dan kali ini, mereka mengatakannya langsung di depanku, Yeol! Sungguh, aku hanya akan tetap tenang dan berpura-pura tidak mendengar apapun!”

“Mereka hanya ingin mengalahkanmu, Baek.” Chanyeol bernafas berat, mencoba untuk sabar. “Tentang siapa kali ini? Luhan –Hyung lagi? Baek, dia bahkan tidak memperdulikannya, jadi –“

Bukan tentang dia,” gumam Baekhyun di balik nafasnya, jelas dia masih masih mencoba untuk menahan kegusarannya.

Lalu, siapa?” goda Chanyeol. “Baek, jika kau terlibat perkelahian untuk membela harga diriku, jujur aku tersanjung tapi itu tidaklah layak –“

Ini bukan tentang kau!” teriak Baekhyun, melempar bantal ke wajah Chanyeol. “Ini bukan tentang kalian semua, hanya saja –“ dia biarkan kalimatnya terakhir menggantung tapi kalian berdua dan Chanyeol tahu apa yang dia maksud.

Ini tentang dia, bukan?” terka Chanyeol dan jantungmu tersentak sedikit, walaupun dalam beberapa cara, kau sadar mengharapkannya muncul.

Baekhyun tidak mengetahui itu tapi dia juga tidak menolaknya. Setelah sebentar. Dia hanya menambahkan, “Mereka memanggil dia seorang pelacur.” Kau bisa melihat bagaimana jari-jarinya mengepal. “Mereka bahkan tidak kenal siapa dia, tapi dia memanggil dia seorang pelacur karena mereka melihat dia berkeliaran dengan ku, dan aku hanya ….aku membentak. Ada tiga laki-laki, dan aku bahkan tidak berpikir, Yeol. Aku hanya merasa marah sekali.”

Chanyeol hanya tidak mengatakan apapun untuk menjawabnya.

Dan kau menghela nafas yang tanpa sadar kau tahan.

Kurasa aku mengacau, Yeol,” bisik Baekhyun. Bagaimanapun, suaranya terdengar lelah, tapi kau coba untuk mengabaikan kenyataan itu dan hanya percaya bahwa Baekhyun sedang berakting, mencoba menarik simpati dari teman baiknya jadi Chanyeol akan berpihak padanya saat kalian berdua bertengkar di depan umum. Tapi pada tujuan ini, kau pikir kau tidak bisa. Segalanya hanya terlihat begitu nyata ketimbang sebuah akting.

Dan kemudian Baekhyun menceritakan pada Chanyeol apa yang kalian berdua telah lalui dalam perspektivnya. Kau dengar sudut pandangnya dan tidak perduli betapa keras kau mencoba untuk tidak percaya apa yang dia katakan, kau hanya tidak bisa.

Ternyata, Baekhyun hampir kebalikan dengan apa yang kau pikirkan.

Aku kacau, yeol. God, aku kacau begitu buruk, aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa kali ini!” kata Baekhyun, dan karena kau hanya bisa melihat bibirnya dari samping, kau benar-benar tidak bisa melihat ekspresi macam apa yang dia taruh di wajahnya. “Aku seharusnya tidak melakukan ini. Aku seharusnya tidak mengajaknya melakukan ini denganku. Aku seharusnya mengontrol diriku dan membiarkan saja dia sendiri.”

Lalu kenapa kau tidak?” Chanyeol yang ada di layar, yang masih memakai boxernya, berkata dengan hati-hati, “Kenapa kau hanya tidak membiarkan saja dia sendiri?”

Bibir Baekhyun berhenti bergerak sejenak, sampai sia berkata dalam sebuah bisikan, hampir tidak terdengar, tapi kau membaca bibirnya. “Karena aku tidak bisa,” sebuah desahan kecil, dan, “Karena aku menyukainya. Yeol, aku menyukainya.”

Kau tidak ingat kau seharusnya bernafas untuk hidup saat itu.

Kau tahu dia selalu menjadi orang yang menderita, kan? Dia sangat keras kepala, dan menjengkelkan, dan egois, dan seharusnya aku membenci semua itu tapi –“ saat dia menghela nafas, terdengar seperti dia gemetar. “ –dia hanya berbeda sekali, kau tahu? Dia cukup berani untuk berdiri sendiri, membantahku, atau bahkan menjerit padaku saat aku melakukan sesuatu yang tidak dia sukai. Aku dulunya membencinya, tentu saja. Atau begitu yang kupikirkan, karena …” nafasnya tersentak asedikit saat dia melanjutkan, “Maksudku, kau tahu bagaimana egoisnya aku, kan? Bagaimana aku tidak suka disuruh-suruh? Yeah, aku sangat membencinya dulu, tapi kemudian aku sadar aku hanya berusaha membencinya. Seperti, aku tahu jauh di lubuk hati aku tidak membencinya lagi –mungkin aku sungguh tidak pernah –tapi aku berusaha keras untuk membencinya karena –“

“Karena kau takut?” tanya Chanyeol, gemetar sedikit saat udara dingin menyentuh punggung polosnya. “Karena kau takut kau mungkin sangat menyukainya sekali? Karena kau takut dia mungkin membalas menyukaimu?”

Baekhyun menjadi terdiam lama. Dia membuka bbibirnya perlahan dan akhirnya menjawab, “iya.”

Kau mengeluarkan nafas gemetarmu.

Baekhyun menggaruk tengkuknya saat dia meneruskan, “Dan kemudian banyak hal terjadi, Yeol, dan aku menjadi bodoh karena aku mengajaknya tidur denganku. Kupikir itu karena dia tidak dalam hubungan dan komitmen dan lainnya, kita akan baik-baik saja. Kita hanya bisa bersenang-senang tanpa harus membicarakan masalah perasaan dan itu hanya akan menyenangkan dan bermain-main, tapi aku salah!”

Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan. Tubuhnya terlihat tegang dan kaku, sementara tangannya tetap bergerak dalam gerakan lambat.

Sesaat kemudian, aku mulai sadar aku sebenarnya menikmati berdebat dengannya. Bisa kau percaya itu?” baekhyun tertawa sedikit tapi itu terlalu lembut, kau bertanya-tanya apa aku salah dengar. “Aku tidak tahu, Yeol, kurasa aku hanya menyukainya kapanpun dia kalah berdebat atau cara dia akan menghembuskan pipinya dan cemberut padaku seperti –oh God, kenapa aku mengatakan ini –aku …” dia berhenti untuk memulihkan nafasnya. “Semua yang kukatakan adalah, aku hanya merindukannya saat dia tidak ada, kau tahu? Terdengar klise. Dan aku baru menyadarinya sekarang. Dan aku menyesal setiap detik yang berlalu tanpa mendengar suaranya. Apa kau tahu bahwa aku tidak pernah memanggilnya dengan nama aslinya? Aku kehilangan kesempatan, Chanyeol, dan kupikir aku tidak akan mendapatkan kesempatan kedua.” Dia menundukkan kepalanya jadi wajahnya tiba-tiba saja pada kamera, dan walaupun kau hanya bisa melihat sisi mukanya, kau bersyukur karena kau bisa menangkap sekilas ekspresinya untuk beberapa detik.

Itu semacam ekspresi yang terlihat begitu familiar bagimu, karena kau melihatnya sering di cermin, pada bayanganmu sendiri yang menatap kembali padamu dengan mata-mata sedih, menyakitkan, kerinduan kapanpun kau memikirkan tentang laki-laki bereyeliner itu dan betapa kau sangat merindukannya.

Melihat Baekhyun memasang ekspresi semacam itu menyakitkan hati, dan membuat mempercayai kata-katanya sepenuhnya. Membuatmu berharap dia menjadi jujur sejujur-jujurnya,karena ekspresi semacam itu tidak bisa di palsukan.

“Aku kehilangan dia, Chanyeol,” bisik Baekhyun, “Dan aku ingin mendapatkanya lagi tapi aku hanya tidak tahu bagaimana.”

Kenapa tidak kau katakan saja padanya kau menyukainya?” tanya Chanyeol yang ada dilayar perlahan setelah melewati keheningan yang canggung lainnya.

Apa kau bercanda?” Baekhyun tertawa kwcil tanpa ada humor di dalamnya. “Setelah apa yang kulakukan padanya, dia pantas mendapatkan orang lain yang lebih baik dari aku. Aku selalu merasa kami bisa memiliki kesempatan bersama, kau tahu? Bahwa kita bisa berakhir bersama seperti –well tidak semenjijikkan dirimu dan gadismu, tapi paling tidak dalam beberapa cara –kami bisa seperti itu jika kami mencobanya. Tapi aku seorang pengecut –kau tahu bagaimana takutnya aku berkomitmen dan hal seperti itu. Itu hanya bukan diriku.”

Lalu ubah saja,” komentar Chanyeol, “Kau tahu, untuk nya.”

Aku tidak bisa,” kata Baekhyun, suara yang sakit dan kecewa pada dirinya sendiri. “Tidak semudah itu. Dengar, walaupun aku berubah, aku sudah kacau sekali, okay? Imageku sudah rusak. Aku tidur dengan gadis-gadis dan bahkan tidak perduli untuk mengingat nama-nama mereka. Aku bicara tanpa berpikir. Aku lari dari masalahku. Keluargaku hancur. Aku terkenal akan semua hal-hal itu dan –“

Chanyeol memotongnya, “Jika dia menyukaimu, dia tidak akan perduli pada hal-hal yang baru saja kau katakan itu.”

Jangan memberiku omong kosong, Yeol.” Tiba-tiba saja suara Baekhyun menjadi lebih rendah 10 kali. “Kau tidak lihat apa yang baru saja terjadi? Beberapa pria baru saja memanggilnya pelacur karena mereka melihat dia bicara padaku. Mereka tidak tahu apapun tentangnya, tentang hubungan kami, dan mereka memanggilnya seorang pelacur!”

“Mereka tidak bersungguh-sungguh, Baek. Mereka hanya ingin mendapatkan reaksimu.”

Bukan itu masalahnya!” teriak Baekhyun frustrasi. “Tidakkah kau perduli bagaimana perasaannya kemudian? Katakan saja bahwa kami berkencan, tidakkah kau pikir dia akan terluka saat beberapa gadis menceritakan kebenaran tentangku? Bagaimana mudahnya aku, tidur dengan orang senbarangan tanpa pertimbangan lebih banyak dari pada tampang-tampang mereka? Bagaimana jika dia berpikir aku akan menyelingkuhinya, Yeol? Bagaimana jika dia tidak mempercayaiku? Bagaimana kau pikir hubungan kami akan berhasil setelah itu?”

“Kau terlalu banyak memikirkan ini, Baek.”

Oh benarkah?” bentak Baekhyun. “Dengar, aku sangat perduli padanya, Chanyeol, tapi aku hanya tidak ingin mengambil resiko dan berakhir menyakitinya. Karena itulah kukatakan padanya untuk mematuhi peraturan; memiliki batasan-batasan, membiarkan saja itu hanya sex, sex , dan sex tanpa melibatkan perasaan. Tapi aku kacau!” Baekhyun menjambak rambutnya sendiri frustrasi. “Aku mengacaukan semuanya saat aku pergi ke kamarnya malam itu! Aku menjadi tidak rasional. Aku membiarkan perasaanku mengambil alihku. Aku sedang sedih dan aku hanya sungguh membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, dan aku sedang mabuk jadi aku tidak bisa berpikir lurus, tapi bagaimanapun juga aku berakhir mengunjunginya di kamarnya. Dan ….” dia berhenti untuk menarik nafas dalam-dalam karena bicara terlalu cepat dan terlalu panjang. Suaranya terengah-engah dan bergetar saat dia berkata, “Dan aku tidak tahu kenapa, tapi dia membiarkanku masuk. Dia tidak seharusnya melakukan itu. Tidak, dia tidak seharusnya melakukan itu. Tapi dia melakukannya dan aku –“

Baek …” Chanyeol meraih tangannya untuk menenangkannya, tapi laki-laki pendek itu menepisnya.

Baekhyun menelan dan menggigit bibir keringnya, “Aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun setelah itu, tapi kurasa kami melakukan percakapan, dan mungkin tidur bersama pada akhirnya, tapi saat aku bangun di pagi hari, dia sudah tidak ada dan ada sebuah note dan –“

Baekhyun berhenti dengan satu tangannya pada dada beratnya. Dia menrik nafas dan menghembuskannya berkali-kali, seolah-olah dia mengalami serangan panik, sebelum dia akhirnya tenang dan berkata, “Dia menulis ‘aku mempercayaimu’.”

Aku mempercayaimu?” tanya Chanyeol.

Yeah, diantara banyak hal itu yang seharusnya tidak dia katakan,” jawabnya. “Kurasa aku mengatakan sesuatu padanya –maksudku, kau tahu bagaimana saat aku mabuk, aku mengatakan semua yang masuk dalam benakku.”

Aku suka mabuk, Baekhyun.” Chanyeol cekikikan dengan ringan. “Dia jujur.”

Katanya dia melihat sisiku yang lain,” kata Baekhyun, “Katanya tidak apa bagiku untuk berhenti menaruh topeng untuk menyembunyikan diriku yang sebenarnya. Katanya dia menyukai diriku yang asli. Dia tahu, Yeol. Dia tahu bagian diriku yang coba kusembunyikan dan saat itu, aku sadar mungkin aku sudah begitu menyukainya. Dan aku takut dia akan merasakan hal yang sama seperti diriku. Kucoba mengingat apa yang terjadi pada malam sebelumnya, dan aku ingat apa yang kukatakan padanya. Aku ingat betapa bodohnya aku membuka pikiranku padanya, bagaimana aku mengatakan padanya bahwa dia seharusnya diperlakukan dengan baik. Bahwa aku ingin memperlakukan dia dengan baik. Dan aku melakukannya. Aku sungguh, sungguh ingin. Dan itu tidak berubah –itu tidak akan berubah, tidak sekarang, tidak akan pernah. Tapi di pagi harinya, aku takut membiarkan dia masuk dan mengatakan kata-kata itu lagi. Dan saat itulah aku mengacaukan segalanya.”

Kau merasakan kenyerian tiba-tiba dalam hatimu saat kau teringat bagian pertama yang kau lihat saat kau membuka pintumu hari itu.

Kucoba untuk menyakitinya, Yeol,” Baekhyun mengakuinya dalam sebuah bisikan lembut. “Kucoba untuk memperingatkan dia bahwa dia tidak seharusnya memiliki perasaan padaku dengan melakukan hal itu padanya. Kucoba membuatnya sadar, dengan mengejek meniru kata-kata yang kuucapkan padanya pada malam sebelumnya, jadi dia akan berpikir kata-kata itu tidak berarti apa-apa. Itu bukanlah diriku yang sebenarnya, karena aku tidak ingin dia menyukaiku sebanyak aku menyukainya. Aku tidaklah baik untuknya, Yeol. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik.”

Chanyeol yang ada di layar tidak berkata apa-apa. Dia hanya menunggu dan menunggu.

kupikir setelah itu kami bisa kembali normal,”kata Baekhyun, hampir terdengar seperti sebuah rengekan memohon. “Kupikir dia tidak akan sesedih itu –aku idiot. Aku tidak berpikir banyak tentang perasaannya sampai …… sampai aku melihatnya menangis.”

Setelah itu, layar menjadi hening dan hanya suara nafas berat Baekhyun yang bisa kau dengar.

Aku merindukannya, yeol.” Baekhyun menutup wajahnya sengan kedua telapak tangannya, jadi suaranya yang keluar teredam tapi kau masih bisa mendengarnya. “Aku sangat merindukannya. Aku tahu inilah yang kuinginkan, untuk dia membenciku jadi dia bisa menjauh dariku dan bersama seseorang yang bisa memperlakukannya dengan baik. Tapi aku hanya ….” desahan jengkel yang lain. “Aku terlalu egois untuk melepasnya.”

Lalu pergilah,” kata Chanyeol dengan berani. “Dapatkan dia kembali.”

Baekhyun membuka mulutnya untuk bicara tapi kemudian kamera mati. Kau bingung untuk sesaat, mencoba memproses apa yang baru saja kau lihat dan kau dengar.

“Oh, baterenya mati,” kata Chanyeol, mengambil kamera dari tanganmu. “Tunggu, aku punya yang lain –“

“Tidak, tidak apa,” katamu, dengan halus mendorong kembali kamera pada tangannya dan menggenggamnya dengan jari-jari panjangnya. “Kurasa aku cukup mendengarnya.”

Chanyeol tetap diam sampai dia tidak bisa menahan dirinya lagi. “Bisakah kau maafkan dia sekarang?”

Kau tidak tahu. Kau benar-benar tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu.
TBC
Leave you comments after reading the story above. Please, pretty please…..

 

 

 

 

Advertisements

35 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun|Chapter 6b

  1. Aaaaa… baekhyun.. sorry aku baca duluan sebelum ke tag haha, astagah ternyata, awww so sweet, 2 chapter yg menguras emosi, meskipun chapter 6a lebih, but ya ampun, sebenernya udah duga baekhyun suka, tp nggak nyangka kalau ternyata dia suka udah lama, dan kejadian selama ini hanya akal2 an dia supaya bisa deket? Oh God,
    Keren noonabyun,.di chapter ini pun km masih mempertahanin ciri khas mu, suka banget, kembangin lagi ya, fighting ^^

    Like

  2. Ahhh banjir air mata deh
    Chapter ini sungguh menguras hati 😢😢😢
    Gak nyangka ternyata selama ini baekhyun menderita 😢 semangat buat baekhyun nyaa semoga mereka baikan menjadi pasangan ter so sweet .. 😐
    Keren sungguh keren ini ff lovelove deh 😍😍😍

    Like

  3. HHAAAAIIIIII aku harus manggil kamu apa? Pokoknya ini bagus banget nget nget. yah meskipun ada beberapa bahasa yang rancu tapi bukan masalah besar kok. Seneng banget bisa dapet ff Baek di sini. Izinkan aku menjelajah ke fanfict yang lainnya yaaaa hehehe. Pokoknya semangat terus!!!

    Like

  4. haii min aku dah baca FF kamu tapi Maaf bru comendxa skrng..😊

    oh ya aku suka semua tulisan kamu..
    dn dah hmpr smua ku baca…

    oh ya untk tlsn kmu yg ini, jjur aku suka cma emng agk pndk n kura greget n aku krng rasa dlm ff kli ini cz alurxa cpt n lngsung gitu aja…😊 heheh maaf yaa…

    Like

    1. thanks ya udah baca n komen, emang part ini sambungan dari chap sebelumnya, pendek sih, tapi kalo kamu baca chap sebelumnya trus kau lanjutkan yg part ini pasti kau bisa dapatkan feelnya, okay, itu sih menurutku, lol, thanks again for reading all my stories 🙂

      Like

  5. gilee ini ff bikin nguras otak&air mata.. sorry baru comment:v btw kenalin newreaders nih
    God ceritanya tambah seru aja bikin penasaran dan well si cabe ternyata udh suka lebih dulu,suka banget sama karakter masing” tokohnya pas banget…next chapter dtunggu yoo..

    Like

  6. Sumvah kak!! Nyesek banget… Baekhyun ternyata suka banget sama Aku 😂😂👍👍 Baekhyun -ah, aku juga suka sama kamu kok. Terima cintaku ya? #abaikan
    Btw, kak, maaf banget aq baru komen pas chap ini sedangkan yang sebelumnya enggak. Soalnya pas lihat rate nya udah masuk M, aku memutuskan untuk enggak baca, dan begitu pula ang sebaliknya. Maafkan aku :3 aku tidak ingin otakku ternodai. Wkwkwkk, pokoknya chap ini nyes banget!!!
    Keep writing kak,
    From, Cantikapark61

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s