Destiny(Short Version)

Park G 3
Title : Destiny Short Version
Author : PJ
Cast :
• Sabrinna Aspinnal /Kim Hana (OC)
• Xi Luhan
• Byun Baekhyun
• Park Chanyeol
• And other cast
Lenght : Chapter
Rating : PG-17
Genre : Romance, school life, family, married life

NOTE : Ini adalah short version dari fanfiction Destiny, dan kalian pasti tahu ff ini, kan? So aku buat short versionnya,intinya copy paste aja, wkwkwk… okay di simak aja deh!

Hana, Among Her Mans

Hana kini mulai acuh tak acuh terhadap Luhan, mungkin sedikit kecewa dengan Luhan yang telah bertunangan dan Luhan merasa hari-harinya hampa, terlebih sekarang Hana sudah resign dari pekerjaanya dan sekarang lebih fokus dengan kuliah dan pekerjaan barunya di cafe milik Baekhyun.

Hana menatap hamparan taman dari atas balkon kamarnya. Sesekali dia menghirup udara segar dan membuangnya pelan. Dia masih teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Dia masih belum menyangka dia dan Baekhyun bisa melakukannya,dan itu semua benar-benar terjadi, dan bukan sebuah mimpi. Kadang tersirat senyum tipis diwajahnya, entah apa yang ia rasakan. Bahagia? Ah yang benar saja, bukankah dia telah melakukan hal itu bersama Baekhyun, dan artinya dia telah menghianati Luhan. Dan begitu juga dengan Luhan, dia telah menerima pertunangannya dengan Eunji dan berarti Luhan juga telah menghianatinya, bukankah itu impas? Mungkin itulah yang Hana pikirkan saat itu.

Hana terus saja memikirkan hal-hal yang terjadi padanya beberapa hari ini , sampai terkejutnya ia

DEGG

Tiba-tiba ada sepasang lengan yang kekar melingkar di perutnya. Hana merasakan tubuhnya menegang dan bahunya terasa berat, saat dirasakan ada sebuah dagu yang bertengger di bahunya. Dia menoleh pada seseorang yang tengah memeluknya erat dan meletakkan dagu laki – laki itu di bahunya.

“Luhan-ah..”

“Aku merindukanmu, biarkan aku memelukmu seperti ini.” Luhan mengeratkan pelukannya pada wanita itu dan membiarkan jantung wanita itu berdegub dengan kencang. Luhan mulai merasakan kenyamanan saat ia memeluk Hana, seolah seluruh masalah yang mengendap dalam otaknya memudar saat memeluk wanita itu.

“Luhan-ah.” Luhan tidak menjawab, dia masih diam dan tetap memeluk erat tubuh seksi itu. Karena tak mendapat jawaban, Hana memutuskan untuk melepaskan Luhan dan membalikkan tubuhnya serta menatap laki-laki itu.

“Aku ingin mengatakan sesuatu, Luhan-ah.” sekali lagi Hana berujar pada Luhan, Hana menatap intens wajah Luhan yang merunduk, kedua tangannya ditelangkupkan pada kedua pipi Luhan untuk mendongakkan wajah Luhan agar terlihat padanya.

“Wae??” tanya Hana kepadanya, sementara itu Luhan menatap Hana sayu dan wajah yang terlihat sedih, Luhan merasakan dadanya terasa sesak dan sakit saat mendengar Hana akan mengatakan sesuatu. Dia sangat khawatir jikalau Hana akan mengatakan hal yang menyangkut tentang pertunangannya.

“Wae Luhan?” tanyanya lagi

“Eottoke..apa yang harus kulakukan, Guru.” Hana terdiam, sungguh, lidahnya sungguh kelu tidak bisa menjawab pertanyaan menyesakkan itu. Tentunya Hana tahu arah pembicaraan Luhan padanya.

“Kau tak perlu menjelaskannya, karena aku tak ingin mendengar semua hal yang membuat hatiku terasa sakit. Aku sudah mengetahuinya Luhan, dan besok aku akan pergi dari sini, tak seharusnya aku berlama-lama tinggal di rumah ini.” perkataan terakhir Hana benar-benar membuat hati Luhan terpukul. Dan tak lama, air matanya yang menganak meluncur mulus di kedua pipinya.

“Guru –“ Luhan menatap sendu wajah Hana.

“Aku bukan lagi gurumu, Luhan. Dengar, kurasa saat inilah yang tepat untuk mengakhiri hubungan kita, aku tahu walaupun hubungan kita baru berjalan beberapa hari saja,kurasa aku tak sanggup untuk melanjutkannya untuk kedepan.” lanjut Hana dengan napas tersengal manahan rasa sesak didadanya, Luhan hanya terdiam, lidahnya kelu, dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia pun merasakan sesak yang teramat sangat didadanya apalagi mendengar keputusan Hana yang mengakhiri hubungannya secara sepihak, Luhan ingin sekali berujar bahwa dia tidak ingin kehilangan Hana saat itu.

Hana mulai melangkah meninggalkan tempat itu dan keluar dari kamarnya. Luhan terduduk lemas, dengan kepala merunduk menatap lantai, pandangannya kosong seakan tubuhnya tak mampu lagi menopang semua kegelisahan hatinya saat itu. Terlalu berat sangat, tak terasa cairan bening itu terjun bebas ke lantai. Jika siapapun sekarang melihatnya, mereka yakin bahwa laki-laki itu tidak baik-baik saja, dan memang itu kenyataannya, namun ia tak perduli.

Hana melangkahkan kakinya sembari menyambar tas dan mantelnya keluar dari kamar dan rumah itu . Dengan air mata yang terus meluncur deras, wanita itu terus melangkahkan kakinya tanpa arah tujuan. Wanita itu terus saja mengikuti di manapun kakinya melangkah , hembusan angin yang dingin terus saja menerpa tubuhnya yang terus saja menelusuri jalan itu . Dalam untaian – untaian air mata yang terus saja mengalir dalam pelupuk matanya , ia terus melangkah , walau ia mulai merasakan sakit di kedua kakinya, dia tak perduli . Walau acapkali ia tertabrak oleh pejalan kaki dan tentu saja mendapatkan ocehan –ocehan dari pejalan kaki yang marah akibat tertabrak olehnya, tetap saja dia tak perduli.

Sampai pada akhirnya, kakinya terasa sangat letih dan lelah tak mampu untuk berjalan lagi, wanita itu terhenti . Wanita itu mendongakkan wajahnya, ekor matanya menangkap sebuah bangku. Sesaat kemudian ia menuju pada sebuah bangku yang ada di taman kota itu. Wanita itu memerosotkan tubuhnya lunglai, ia menyekat air matanya yang terus saja mengalir, dan membuang napas kecilnya.

Drrtttt 3x..

Ponselnya bergetar, ia melihat sepintas ponsel yang ada di genggamannya itu dan menaruhnya di atas bangku itu.

Drrrtttt 3x ….

Ponsel itu bergetar lagi, akan tetapi wanita itu tidak bergeming untuk mencoba melihatnya . Untuk ke tiga kalinya ponsel itu bergetar lagi . Dengan desahan kecil ia meraih ponsel itu , terlihat nama Byun Baekhyun tertera di layar ponsel itu , dan ia pun menekannya.

“Hallo… “ jawab Hana dengan suara parau.

“Eodisseo? Di mana kau? Kenapa lama sekali kau menjawab panggilanku?” serangan pertanyaan bertubi – tubi bersarang padanya.

“Di sebuah taman kota , wae?” ujar Hana lagi pada laki –laki yang ada di telepon itu.

“Tetaplah di situ, jangan kemana-mana, hum! Aku tahu pasti ada yang tidak beres, okay? Just stay!”

“Hmm.. “ jawab Hana singkat dan di ikuti dengan anggukan saja.

PIIIPP…. telepon itu pun di tutup.

Dari jarak yang tidak terlalu dekat, terlihat seorang laki –laki berbadan tinggi besar dengan setelan jas kaca mata hitam sedang mengawasi Hana dari tempat tersebut. Kelihatannya pria tersebut bukan warga asli Korea, dari perawakannya laki – laki tersebut adalah warga negara asing. Laki-laki itu merogoh sakunya dan mengeluarkan benda persegi yang ternyata adalah sebuah ponsel. Terlihat laki-laki tersebut menelpon seseorang sambil terus memandang dan mengamati setiap gerak gerik Hana.

“ I found her, Sir.” ujar laki-laki misterius itu pada seseorang yang ada di telpon itu.

“ Just keep an eye on her.” suara yang ada di telpon itu.

“ Yes, Sir.“ jawab laki- laki itu.

Dengan segera Baekhyun menepikan mobilnya dan keluar dari mobil mewah itu. Laki-laki itu bergegas menuju sebuah bangku di sebuah taman yang mana terdapat seorang wanita yang sedang duduk sendirian. Dengan wajah yang kusut dan mata yang sembab, wanita itu mendongakkan wajahnya melihat ke arahnya. Sedangkan Baekhyun yang sudah melihat sosok Hana melengkungkan senyumnya lebar.

“ Hana –ya!” Baekhyun sedikit berlari menghampiri wanita itu dengan senyum lebar. Setelah mendekat dan melihat raut muka wanita yang di hampirinya, ia segera merubah mimik mukanya heran dan sedih.

“ Waeyo, Hana –ya? Waeyo? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Baekhyun pada Hana, sementara Hana hanya diam saja tidak mengatakan sepatah katapun. Hana beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah Baekhyun, dan tiba- tiba saja Hana memeluk erat tubuh Baekhyun, melihat perlakuan wanita itu padanya, Baekhyun kaget, ada apa dengan wanita ini yang tiba-tiba saja memeluk erat tubuhnya.

Mereka berdua terdiam, namun terdengar suara tangisan dalam pelukannya itu. Baekhyun mendengar Hana menangis, tangan yang sedari tadi bebas kini mulai melengkungkannya pada tubuh Hana sambil menepuk-nepuk pelan punggung Hana. Tangis yang sudah lama di tahannya kini terdengar lagi, ia menumpahkan rasa sedih dan sakitnya dalam pelukan hangat Baekhyun. Air bening terus saja mengalir tanpa hentinya dari kedua kelopak mata wanita itu.

Ada apa dengan wanita ini? Oh shit! Kenapa aku tidak bisa mengetahuinya? Oh God, aku sangat membutuhkan kemampuan itu saat ini, jebal…. Aku tidak tahu apa yang di alami wanita ini sampai ia menangis di pelukanku.“ batin Baekhyun yang terus saja menepuk-nepuk pelan punggung Hana.

“ Menangislah, mungkin dengan begitu kau bisa melepaskan semua kesedihan yang ada di hatimu. Menangislah, aku akan ada di sini untukmu.“ ujar Baekhyun padanya sambil sesekali membelai surai rambut Hana yang lembut itu. Beberapa menit kemudian, Hana mulai melepaskan pelukannya pada Baekhyun pelan.

“ Maaf.“ ujar Hana dengan suara parau. Baekhyun menautkan kedua tangannya pada wajah Hana, dia mengulurkan jemarinya untuk menghapus air mata yang terus saja mengalir, Baekhyun menurunkan tangannya dan menatap wanita itu dengan intens.

“ Sebenarnya, apa yang terjadi padamu?” tanya Baekhyun dan sedikit memicingkan matanya menatap Hana yang sedari tadi tertunduk.

“ Eobseo.“ jawab Hana sekenanya

“ Eobseo? Kenapa kau menangis kalau tidak terjadi apa-apa?” tanya Baekhyun, lalu dia meraih kedua tangan Hana dan menggenggamnya erat.

“ Listen, katakan saja apa masalahmu, percayalah, aku akan selalu membantumu, aku akan selalu melindungimu, aku akan selalu ada untukmu.“

“ Gumawo.“ ujar Hana lirih.

Hana mendongak ke atas melihat raut muka Baekhyun yang terlihat sangat khawatir dan cemas, ya, dia sangat mencemaskan dirinya saat itu. Pandangan mereka saling bertemu , tidak dapat di pungkiri oleh ke duanya, debaran jantung yang begitu cepat di rasakan oleh keduanya. Dengan pelan Baekhyun meraih dagu Hana, sedangkan tangan kirinya menyentuh tengkuk Hana membuat wajah Hana begitu dekat dengan nya. Dengan pelan Baekhyun mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir mungil itu. Hana memejamkan matanya dan merasakan sentuhan – sentuhan lembut bibir Baekhyun. Mereka saling menikmati ciuman – ciuman itu , ciuman –ciuman yang lembut, dan berbeda dengan ciuman yang mereka lakukan beberapa hari yang lalu, ciuman yang penuh dengan nafsu birahi.

Semburat cahaya merah kekuningan di ufuk barat mulai menyinari keduanya yang tengah menikmati ciuman diantara mereka. Angin mulai berhembus menerpa helaian –helaian rambut mereka. Mereka tidak menyadari keberadaan orang asing yang sedari tadi mengawasi mereka dari jarak yang tidak terlalu dekat.

***

Luhan ‘ s House

Terlihat sebuah Luxury bedroom with an ahcove yang di design menggunakan dazzling mirror terkesan sangat mewah, yang di padu dengan warna –warna yang lembut menggambarkan karakter pemilik ruangan itu. Angin kecil semilir menembus di sela-sela jendela kamar membuat lembaran-lembaran kain gorden meliuk-liuk indah menyambut indahnya pagi. Pancaran sinar mentari pagi mulai menembus ruangan itu.

Terlihat sosok tubuh yang masih bergelut dengan selimut coklat itu terbaring di atas sebuah tempat tidur yang cukup besar dan kelihatannya cukup nyaman. Perlahan laki-laki itu menggerakkan bola matanya dan mulai membuka mata yang sedikit sembab itu . Sinar matahari pagi yang masuk itu sedikit memasuki iris matanya membuat dia sedikit menyipitkan kedua bola matanya. Dia sedikit menggeliatkan tubuhnya dan enggan untuk turun dari tempat itu. Hari ini dia ingin sekali bermalas-malasan karena menurutnya dia sudah tidak mempunyai semangat untuk menjalankan aktivitasnya.

Drrrtttt 3x

Ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidur itu bergetar, dia menoleh kearah benda tersebut dan dengan malasnya ia meraih dan menekannya.

“Ada apa?” tanyanya dengan nada malas ,dia tahu siapa yang menelponnya pagi-pagi, karena menurutnya sudah sangat mengganggu sekali.

“Bangunlah Luhan! Kita ada janji.“ pekik suara yang ada di telpon itu

“Janji?” tanyanya

“Ya, janji. Bukankah ayahmu sudah mengatakannya kemarin? Cepatlah, kita harus pergi untuk mengecek gedung pernikahan dan fiting baju, bukankah beberapa hari lagi adalah hari pernikahan kita?” Luhan mendengus kesal mendengar kata pernikahan.

“Pergilah sendiri, aku tidak bisa menemanimu.“ ujar Luhan kesal.

“Yah! Luhan, kenapa kau bicara begitu?” gerutu Eunji di dalam telpon itu

“Apa kau tidak mendengarnya tadi? Aku tidak bisa pergi denganmu, aku ada urusan sendiri.“ tukasnya lagi

“Yah! Luhan, kau tidak bisa be –“

PIIIPPP

Belum sempat Eunji meneruskan omongannnya,Luhan memutus sambungan telepon dengan Eunji begitu saja. Dia melempar asal ponselnya di atas tempat tidurnya itu. Dia mendengus kesal dan mengacak rambutnya asal.

“Aish, benar-benar cerewet.”

Dengan penampilan yang cukup berantakan karena bangun dari tidur, dan rambutnya yang coklat dan sedikit acak-acakan, membuat dia terlihat sangat seksi. Luhan turun dari tempat tidurnya, dan perlahan melangkahkan kakinya menuju cermin wastafel. Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin wastafel itu dengan tatapan sayu . Terdengar decakan sedih keluar dari mulutnya sambil mengusap sekali wajahnya dan terutama matanya yang sedikit sembab itu.

“Aish… Yah! Sang namja, kenapa kau jadi seperti ini, huh? lihatlah, mata indahmu jadi tidak menarik lagi. Ck.. aku tidak bisa melupakanmu begitu saja Kim Hana. Lihatlah, kau telah membuat diriku seperti ini, tunggu saja, karena cintaku sudah terlalu besar untukmu.“ terdengar sangat menyedihkan memang, tapi begitulah sang namja, atau Xi Luhan berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin wastafel seperti orang gila, gila karena terlalu mencintai seorang Kim Hana.

Dia membasuh mukanya kasar dan membuang nafasnya panjang. Tiba-tiba saja terbesit di otaknya akan sosok Kim Hana . Luhan segera beranjak dari tempat itu melangkah keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Hana . Dia menghentikan langkahnya di saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar itu. Dengan perasaan ragu ia mulai memegang knop pintu dan memutarnya.

CKLEK

Pintu itu perlahan terbuka. Tidak dapat di pungkiri oleh nya , dia masih berharap ada sosok Hana terlihat di balik pintu itu . Dia ingin sekali berharap bahwa Hana saat ini tidak pergi meninggalkannya. Dan sedikit demi sedikit pintu itu pun terbuka dan benar terlihat sosok wanita di sana. Akan tetapi, Luhan merasa tubuhnya lemas seketika di saat matanya melihat sosok itu bukanlah sosok yang diharapkannya.

“Oh Tuan muda.“ sosok wanita itu membalikkan tubuhnya yang menyadari keberadaan Luhan di ruang itu. Dan ternyata wanita itu adalah seorang pelayan yang sedang merapikan beberapa pakaian dan tempat tidur itu.

“Apa Tuan muda mencari wanita yang tinggal di kamar ini?” tanyanya pada Luhan, dan tepat sekali, kenapa pelayan itu sepertinya tahu apa yang di pikirkan Luhan saat itu. Luhan mencari dan sangat mengharapkan wanita yang tinggal di kamar itu masih ada.

“Hmm.” jawab Luhan dengan sedikit anggukan kepala.

“Tapi sayang nona yang di kamar ini sudah pergi, Tuan muda.“ jelas pelayan itu yang masih sibuk saja membenahi tempat tidur itu.

“Benarkah? Kapan perginya?”

“Pagi –pagi sekali, Tuan. Dia pergi pagi- pagi sekali d engan membawa tas dan koper kecilnya itu.“ terdengar desahan panjang, Luhan merasa sangat kecewa sekali. Harapannya untuk melihat Hana untuk yang terakhir kali pun pupus sudah. Tidak bisa di hindari lagi, perasaan saat ini hanyalah ingin melihat wajah Hana, dan sangat di sesalkan lagi, dia tidak bisa mewujudkan keinginannya itu. Perlahan dia mulai meninggalkan tempat itu, akan tetapi langkahnya terhenti saat pelayan itu memanggilnya.

“Tuan muda, tunggu sebentar.“ Luhan membalikkan badannya dan memandang kearah pelayan itu. Pelayan itu datang menghampirinya dengan membawa secarik kertas ditangannya. Kemudian pelayan itu menyodorkan kertas itu padanya.

“Sepertinya dia meninggalkan ini untuk tuan muda.“ dengan raut muka heran dan menyerngitka dahinya, Luhan segera menerima lembaran kertas itu. Lembaran kertas yang ternyata adalah sebuah surat yang ditujukan padanya dari Kim Hana sebelum wanita itu pergi meninggalkan rumah itu.

Luhan mulai melangkah meninggalkan kamar Hana dengan memegang secarik kertas ditangannya. Dia melangkahkan kakinya gontai dan lemas. Luhan mulai memasuki kamarnya dan duduk ditepi ranjang itu . Hatinya mulai bergelut dengan pikirannya, dia ingin sekali membuka dan membaca isi kertas itu , akan tetapi pikirannya menolak untuk melakukannya. Dia tidak ingin hatinya terluka lagi karena telah membaca isi kertas itu. Akan tetapi , dia juga ingin sekali mengetahui apa yang Hana tulis untuknya. Tangannya mulai mengepal keras , dan kertas itu dipegangnya erat-erat . Giginya gemeretup menahan gemuruh hatinya . Tapi perlahan dia bangkit dan berjalan menuju nakas sampingnya . Dia mulai membuka laci itu dan meletakkan kertas itu dengan hati-hati di dalam laci itu dan menutupnya kembali .

***

Hour later

 

At Cafe

 
Luhan memarkirkan Chevrolet Stingray hitamnya dekat dengan cafe milik Baekhyun . Dia melepas sabuk pengaman yang menempel pada tubuhnya dan bergegas berjalan memasuki cafe itu . Setibanya di dalam cafe , matanya menelisik kesegala sudut ruangan cafe itu . Sepertinya dia sedang mencari seseorang .

 
Dia berjalan menuju sebuah meja dekat dengan jendela lalu mendudukkan dirinya di kursi . Masih saja, sudut matanya bergerak gelisah ke sana ke mari . Dia tetap saja sedang mencari –cari seseorang di dalam cafe tersebut . Beberapa menit kemudian , seorang pelayan datang menghampirinya .

 
“Pesanannya?”

 
“Satu Capucino dan Blue velvet. “

 
“Ada yang lain, Tuan?” tanya pelayan itu padanya. Luhan hanya menggeleng.

 
“Hmm, boleh bertanya, Nona?” tanya Luhan dan pelayan itu tersenyum.

 
“Boleh , tanya apa, Tuan?”

 
“Bukankah di sini ada seorang pelayan yang bernama Kim Hana?”

 
“Benar tuan.“

 
“Tapi, kelihatannya aku tidak melihatnya, apa dia tidak masuk?” tanya Luhan sedikit menyelidik.

 
“Ah, nona Kim minta cuti beberapa hari ini.“ jelas pelayan itu pada Luhan dan sebentar kemudian pelayan itu beranjak dari tempat itu. Terdengar desahan panjang keluar dari mulut Luhan setelah mendengar penjelasan dari pelayan terhadapnya . Luhan berjalan menuju ke tempat kasir untuk membayar pesanannya dan kemudian diapun duduk kembali ke tempat semula. Terlihat, Luhan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja dengan perasaan gelisah.

 
“Apa yang kau lakukan di sini?” Luhan sedikit menaikkan kepalanya dan mencoba memfokuskan pandangannya pada obyek di hadapannya , yang entah sejak kapan Baekhyun berdiri di hadapannya .

 
“Apa maksudmu, Tuan Byun?”

 
“Bukankah kau seharusnya pergi dengan Eunji? “ dia menyipitkan matanya dan memandang Luhan tidak suka.

 
“Sejak kapan kau mencampuri urusanku?” perkataan Luhan terdengar sangat menusuk . Baekhyun berusaha tidak langsung menghabisi laki-laki yang ada di hadapannya .

 
“Dengar –“ Baekhyun menarik nafasnya pelan, “Itu memang bukan urusanku, tapi kau tahu Eunji itu siapa? Dia itu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Berhentilah mempermainkannya Luhan.“

 
“Memangnya kenapa?” Luhan menarik satu alisnya

 
“Tidak seharusnya kau mempermainkan Eunji, berhentilah mengejar wanita itu dan berfokuslah pada calon istrimu itu. Tidakkah kau merasa kasian pada keduanya, huh?”

 
“Apa maksudmu?” tanya Luhan

 
“Bukankah kau ke sini mencari wanita itu?”

 
“Itu bukan urusanmu.“

 
Itu urusanku , Luhan , karena dia adalah milikku.“ batin Baekhyun yang terus saja menatap tajam pada Luhan . “Apa kau takut dengan keluargamu? Kalau kau menolak perjodohan itu dan tentu saja kau jadi seorang pembangkang, dan tentunya kau akan di coret dari daftar warisan . Apa kau sangat takut akan hal itu, Luhan? atau mungkin –“

 
“KAU!!” pekik Luhan , kurasa emosinya sudah mencapai maksimal yang siap meledak kapan saja . Luhan mengepalkan kedua tangannya geram akan perkataan Baekhyun . Tanpa babibu lagi , Luhan langsung melayangkan pukulannya pada laki-laki yang ada di hadapannya itu .

 
BUGGHH !

 
Luhan tidak bisa mengendalikan emosinya, dia terlanjur sakit dan marah mendengar perkataan Baekhyun. Terlihat darah keluar di sudut bibir Baekhyun . Dia menyekanya dengan punggung tangannya dan, tanpa aba-aba pun dia juga melayangkan bogeman terhadap Luhan.

 
BUGGHH !

 
“Jangan pernah ambil milikku, Luhan!” setelah berhasil mendaratkan satu pukulan , Baekhyun beranjak meninggalkan tempat itu.

 
“Aish jjinja! Apa maksud perkataannya itu?“ sambil memegang pipinya, Luhan mengedarkan pandangannya keseluruh pengunjung cafe yang sempat melihat mereka berdua beradu jotos . Dia mengendus kesal lantas dia meninggalkan tempat tersebut dengan hati penuh emosi dan marah .

 
Luhan keluar dari cafe itu dan masuk ke dalam mobilnya. Dia mengerang kesal dan memukul stir mobil itu , lantas menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam. Dia terus saja memikirkan perkataan-perkataan Baekhyun di dalam cafe tadi .

 
Di mana kau Kim Hana?”gumamnya dalam hati . Beberapa menit kemudian , dia meraih ponsel dan menatapnya lekat . “Apa aku harus menelponnya ?” jari-jarinya mulai menekan tombol yang ada pada layar ponsel itu. “Eunji – ah –“

 
“Yeoboseo?“ suara yang ada di telpon itu

 
“Yah ! Eunji –ah, apa kau tahu di mana Guru kuliah?” tanyanya pada Eunji

 
“Yah! Luhan, apa kau menelponku hanya untuk menanyakan hal itu?” jawab Eunji dengan kesal.

 
“Cepat jawab aku Eunji –ah, atau aku akan membatalkan pernikahan itu.“ ancam Luhan terhadapnya .

 
Apa kau yakin dengan perkataanmu itu, Luhan?” jawab Eunji yang berbalik bertanya dengan sedikit nada mengejek .

 
“Ck!“ Luhan berdecak kesal

 
“Ara … dia kuliah di Universitas Seoul, apa kau puas, Luhan ?”

 
“Gomawo, Eunji-ah.“

 
PIIPP

 
Luhan mematikan ponselnya, dan dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Universitas Seoul.

 

***

Seoul University

Terlihat hamparan rumput yang hijau terbentang dan di bawah pohon rindang terdapat sosok laki-laki yang sedang asyik memainkan gitar . Dengan suara bassnya dia bersenandung dengan memainkan petikan-petikan gitarnya. Sementara itu , ada seorang wanita dengan membawa tas dan koper kecil berjalan menghampiri laki-laki tersebut . Laki-laki itu menoleh kearah datangnya wanita itu, laki-laki itu menyunggingkan sebuah senyuman pada wanita itu, dan wanita itu juga membalasnya dengan tersenyum, sebentar kemudian wanita itu duduk di samping laki-laki itu dan ikut menikmati alunan musik yang dimainkan oleh laki-laki itu .

When you were here before

Couldn’t look you in the eye

You’re just like an angel

Your skin makes me cry

You float like a feather

In a beautiful whirl

I wish i was a special

You’re very special

Hana sedang menikmati petikan –petikan gitar Chanyeol, laki-laki yang duduk di sampingnya dan memandang datar ke hamparan rumput di depannya . Udara yang bertiup sedikit kencang membuat helai rambut yang terurai panjang itu berlarian keman-mana hingga menutup sedikit wajahnya. Wanita itu membenarkan rambutnya dan ia taruh di belakang telinga, terlihat cantik, memang .

Laki-laki yang ada di sampingnya sesekali melirik ke arah wanita itu dengan menyunggingkan sebuah senyum kebahagiaan , bahagia telah melihat wajah yang lama tidak dapat di lihatnya .Wanita itu mungkin tidak menyadari bahwa laki-laki itu telah memendam perasaan khusus terhadapnya . Dengan cara memandang laki-laki itu pada Hana , terlihat bahwa laki-laki itu juga mempunyai rasa terhadap Hana , sahabatnya sendiri .

Beberapa saat laki-laki itu berhenti memainkan gitarnya dan memandang intens wajah wanita yang ada di sampingnya itu karena dia mendengar desahan kecil keluar dari wanita itu . Dia menopang kepalanya di atas lipatan tangannya yang ada di atas gitar itu sementara Hana hanya menatap hamparan rumput yang ada di depannya.

“Hana –ya.“ terdengar suara bass yang keluar dari mulut laki-laki itu, dia akhirnya membuka percakapan setelah beberapa saat mereka saling menikmati alaunan petikan gitar dan nyanyian-nyanyian itu . Wanita itu menoleh kearahnya dengan muka datar.

“Hmm?” jawab Hana singkat

“Apa kau sakit?” tanyanya lagi pada Hana, Hana menyerngitkan dahinya heran.

“Chanyeol –ah, apa maksudmu?” tanya Hana pada Chanyeol dengan tatapan heran kearahnya.

“Kau terlihat sangat pucat, apa kau sakit?” Hana hanya menggelengkan kepalanya .

“Apa tadi pagi sudah makan?” Hana mendengarnya hanya tersenyum kecil kearah laki-laki itu .

“Kenapa kau sangat perhatian sekali padaku, Chanyeol?”

“Ayolah , sebagai sahabat apa aku tidak boleh menayakan keadaanmu, huh?” Hana mengalihkan pandangannya dan membuang nafasnya kasar .

“Oh, sarapan pagi? sejak kapan hal itu jadi rutinitasku , kau tahu , aku jarang melakukan hal itu .“ ujar Hana sambil tersenyum ringan seolah tidak ada beban sekali dalam hidupnya .

“Nah itu dia, karena tadi kau tidak makan di pagi hari , wajahmu terlihat sangat pucat . Lain kali kau harus mengingat dan melakukannya karena sarapan itu sangat penting sekali , seperti sinar matahari ini, araseo?”

“Ara ara, kau ini seperti orang tua saja.

“Kenapa kau membawa tas dan koper kesini?” tanyanya lagi pada Hana heran karena melihat tas dan koper yeng tergeletak di samping mereka berdua. “Apa kau akan pergi lagi ?”

“Aku kesini minta ijin libur untuk beberapa hari ini , aku ingin pulang ke rumah ibuku.”

“Bukankah rumah ibumu jauh dari sini?”

“Benar, butuh waktu dua jam untuk pergi ke sana.“ ujar Hana lagi

“Kalau boleh usul, di rumah bibiku masih ada kamar kosong di sana , kau bisa tinggal di sana, bibiku pasti akan sangat senang sekali karena ada seseorang yang menemaninya.“ usul Chanyeol padanya, Hana membuang nafasnya kecil dan berujar lagi.

“Terima kasih Chanyeol atas tawaranmu, tapi saat ini aku ingin tinggal bersama ibuku , sudah lama aku tidak memperdulikannya , dan sekarang aku rasa aku mulai merindukannya . Ya.. walau kadang –kadang dia sangat cerewet sekali . Tapi , mungkin suatu saat aku akan menerima tawaranmu.“ Hana menoleh kearah Chanyeol dan tersenyum .

“Kapan kau akan berangkat ke sana?”

“Mungkin sebentar lagi, tadi aku telah menghubungi ibuku dan dia akan menjemputku kemari.”

“Ough.“ ujar Chanyeol singkat dan terlihat raut muka yang sedikit kecewa , secara tidak langsung dia memperlihatkan rasa kekecewaannya itu terhadap Hana. Dia pun mulai memetik senar-senar gitar itu untuk menutup rasa kecewanya itu .

Drrtt 3x

Hana merogoh ponsel yang ada di sakunya dan menyentuh benda itu . Terlihat sebuah pesan dari ibunya . Kelihatannya ibunya sudah datang untuk menjemput Hana . Hana berdiri dari tempat duduknya ,dan menoleh kearah Chanyeol yang ada di sampingnya . Sementara Chanyeol melihat ke arah di mana Hana mulai berdiri , dia menganggukkan kepalanya memberi tanda bahwa dia tahu Hana akan pergi .

“Aku pergi, Chanyeol –ah.“

“Hum, pergilah. Be carefull your life, okay?”

“Okay.“ Hana tersenyum kearahnya sambil mengacungkan ibu jarinya keatas, Chanyeol pun membalasnya dengan tersenyum.

Hana mulai berjalan meninggalkan Chanyeol sendirian di bawah pohon rindang itu . Dia berjalan menuju luar kampus di mana ada sebuah mobil shilver terparkir di pinggir jalan.

Chanyeol menatap punggung Hana hingga wanita itu tidak terlihat lagi , ada desahan kecil keluar dari mulutnya ketika dia tidak lagi melihat sosok Hana . Terlihat raut muka yang sedih tersirat di wajahnya .

Hana segera masuk ke dalam mobil beserta ibunya . Dia memasang sabuk pengamannya dan kemudian mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang . Di dalam mobil , Hana terus saja memandang keluar jendela mobil , dia tetap saja membisu . Hari itu Hana meninggalkan kota Seoul untuk beberapa hari . Tidak ada tangisan , tidak ada air mata , Hana hanya menatap keluar jendela dengan tatapan hampa . Ibunya yang duduk di sampingnya dengan memegang stir mobil sesekali melirik ke arah anak semata wayangnya itu . Nyonya Kim berpikir ada sesuatu yang telah terjadi pada Hana , anaknya . Hana tetap saja memandang kaca yang mulai mengeluarkan embun , entah mengapa udara saat itu menjadi semakin dingin , sedingin hati Hana saat itu .

Tapi di lubuk hatinya yang terdalam , masih saja terdapat sosok Luhan di sana . Tidak bisa dipungkiri , Hana sadar bahwa dirinya telah terjatuh dan semakin dalam pada laki-laki itu pada pertemuan mereka yang pertama .

Luhan , you’re my light, you’re my soul, i can’t live without you.“ air mata itu mengalir di pipi Hana . Dan lagi –lagi melukai hatinya seperti itu. Hana teringat pertemuan terakhir dengan Luhan di atas balkon kamarnya . Mata wanita itu basah , sekeras apapun dia menahan air matanya dan berusaha tidak menangis , tetap saja , air bening itu meluncur dengan sendirinya. Dia merasa seluruh kenangan-kenangan itu tiba-tiba saja memenuhi dadanya , dan membuatnya begitu sesak. Dia sangat merindukan Luhan, sangat!

***

Cheongdo

 

“Rina –ya, aku pergi dulu, hati – hati di rumah.“ nyonya Kim pergi keluar rumah untuk membeli sesuatu . Di rumah ibunya , Hana sibuk membersihkan setiap pojok rumah untuk menghilangkan pikirannya yang tertuju pada Luhan . Tapi sayangnya ingatan –ingatan akan Luhan tidak bisa hilang begitu saja . Di saat dia menyiram pot-pot bunga yang ada di halaman rumahnya , terlihat dari kejauhan ada sosok laki-laki yang datang memasuki halaman rumah itu dan menghampirinya .

 
“Anneyeong haseo.“ sapa laki-laki itu terhadapnya yang berdiri di belakangnya .

 
DEGG

 
Suara itu , bukankah sangat familiar di telinganya ? Hana membalikkan badannya pelan dan ia sangat terkejut mendapatkan sosok laki-laki yang terus memenuhi pikirannya berdiri di depannya . Begitu juga dengan Luhan , laki-laki itu yang melihat sosok wanita yang ada di hadapannya berbalik menghadapnya ternyata wanita yang ia cari .

 
“Ough , guru!” pekik Luhan dengan raut muka tidak percaya . Hana segera membalikkan tubuhnya kembali dan bergegas masuk ke dalam rumah , setelah melihat sosok pria yang ada di hadapannya adalah Luhan .Dengan hati berdebar dan detak jantung yang tidak normal , Hana segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu itu . Luhan berlari mengejarnya dan berhenti di depan pintu yang tiba-tiba saja di tutup oleh pemiliknya . Sementara Luhan masih saja berdiri di depan pintu rumah itu .

 
“Guru, tolong buka pintunya.“ pinta Luhan . Dia tahu kalau Hana masih saja berdiri di balik pintu itu. Dari balik pintu Hana mendengar apa yang Luhan bicarakan .

 
“Guru, bukalah pintunya sebentar , jebal.. aku ingin sekali bicara denganmu.“ Luhan masih saja berujar pada Hana kalau dia ingin menemuinya dan ingin bicara dengannya.

 
“Aku tahu guru masih berdiri di situ.“ Luhan tahu saat itu Hana masih saja berdiri di balik pintu itu , Hana mendengarnya , perlahan dia menjauh dari pintu dan berjalan menuju lantai atas . Tapi langkahnya berhenti saat Luhan berkata lagi.

 
“Aku paling benci menunggu , tapi aku akan menunggumu sampai kau membuka pintu ini untukku . Guru.. bukalah pintunya!” Hana masih saja terdiam di tempatnya dan masih saja mendengar suara Luhan . Tidak bisa di pungkiri , di lubuk hatinya yang paling dalam masih saja tersimpan perasaan cinta untuk Luhan .

 
“Aku tahu aku memang pengecut , aku tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri . Aku tidak bisa menolak perjodohan itu , tapi seandainya kau ada untuk mendukungku untuk menolak perjodohan itu , aku pasti mampu untuk melakukannya , karena aku tahu kau adalah kekuatanku guru.“

 
“Kumohon … hentikan, Luhan, ini sangat menyakitkan.“ gumam Hana lirih di balik pintu itu . Terdengar sangat menyedihkan memang , dia begitu terluka saat mendengar penjelasan Luhan saat itu .

 
“Apa yang harus kulakukan kalau aku merindukanmu setiap hari , 24 jam terus menerus? Aku rindu padamu sampai rasanya ingin mati. Apa yang harus kulakukan ? Kim Hana , aku mencintaimu.. Xi Luhan mencintaimu.“ Hana mulai menagis saat mendengar ucapan-ucapan Luhan . Seperti halnya Hana , Luhan pun mulai tak kuasa menahan air matanya , dadanya bergemuruh hebat dan air bening mengalir di kedua pipinya . Hana terus saja meringkuk di balik pintu itu dan menangis tersedu –sudu tidak kuat menahan rasa sakit di hatinya . Sementara itu Luhan masih saja berdiri menunggu di luar sampai gelap .

 

 

Nyonya Kim Haneul berjalan memasuki halaman rumah. Setibanya di depan pintu , beliau terkejut mendapatkan sosok laki-laki meringkuk di depan pintu rumahnya . Sepertinya laki-laki itu kedinginan karena udara di luar sana yang mencapai minus derajat.
“Ommo … siapa ini?” Nyonya Kim berjalan menghampiri Luhan , laki-laki itu . Dia menanyakan keadaan laki-laki itu apakah baik –baik saja .

 
“Gwaenchana?” tanyanya pada Luhan ,akan tetapi Luhan tidak bergeming dan menjawabnya . Luhan menggigil kedinginan , melihat keadaan itu nyonya Kim segera menggedor pintu itu dan berteriak histeris pada Hana yang berada di dalam rumah .

 
“Yah! Sabrina! Buka pintu! Apa kau tahu ada orang di luar sini? Cepat buka pintu! Aisshh..jjinja! Yah! kenapa kau ini? Membiarkan pria ini kedinginan? Kau ini tidak berperikemanusiaan, Rina –yah! Buka pintunya cepat!” pekik nyonya Kim sembari memegang tubuh Luhan yang berada di depan pintu .Mendengar teriakan ibunya dari luar ,Hana kaget dan terperanjat . Sedetik kemudian dia segera bangkit dan membuka pintu itu . Perlahan pintu itu terbuka , Hana melihat ibunya memegangi tubuh Luhan yang menggigil . Untuk siapapun pasti tidak akan kuat bertahan di luar dengan suhu yang semakin dingin.

 
Nyonya Kim dan Hana memapah Luhan masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di tempat tidur . Hana mengecek dahi Luhan .

 
“Astaga! kenapa tubuhnya panas sekali?” , sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi Luhan , sekilas dia mendengar Luhan bergumam tidak jelas .

 
“Jangan tinggalkan aku.“ gumam Luhan terbata-bata dengan suara lirih .

 
“Kau bilang apa?” tanya Hana sambil mendekatkan telinganya pada bibir Luhan.

 
“Jangan tinggalkan aku.“ gumam Luhan lirih

 
“Ara , gwaenchana?” Hana masih saja mengecek panas pada tubuh Luhan . Demamnya masih tinggi dan Luhan ,menggigil . Hana melihat keadaan Luhan seperti itu menjadi sangat panik .Dia keluar dari kamar itu dan meminta pertolongan pada ibunya. “Eomma , apa yang harus aku lakukan? Demamnya tinggi sekali.“ tanya Hana panik.

 
“Kompres dia Rina . Paling baik saat demam adalah buka semua pakaiannya , jika ingin panasnya cepat turun.“ jelas nyonya Kim pada Hana.

 
“Apa aku harus melakukannya, Eomma?” Hana menoleh dan menghampiri Luhan yang terbaring di atas tempat tidur .

 
“Sudah?” tanya ibunya

 
“Belum.“ kata Hana pelan

 
“Tunggu apa lagi? lepaskan pakaiannya dan kompres seluruh tubuhnya dengan kain yang di rendam air suam-suam kuku.“

 
“Kompres seluruh tubuh? Apa aku harus melakukannya?” teriak Hana dari dalam kamar pada ibunya.

 
“Itu cara tercepat Hana , apa kau ingin laki-laki itu mati kedinginan?”

 
“Tapi omma , aku tidak bisa membuka bajunya begitu saja.“ keluh Hana yang masih saja bingung apa yang harus ia lakukan.

 
“Ah kau ini, anggap saja dia itu suamimu Rina, bereskan?”

 
“Eomma ini bicara apa.“ gumam Hana . Hana memutuskan ia harus menyelamatkan Luhan . Dia mengompres dahi Luhan dengan handuk lalu mulai membuka kancing bajunya . Kemudian , dengan berusaha tidak melihat , Hana menggosok dada Luhan dengan handuk basah .

 

***

Keesokan harinya ,angin segar mulai berhembus melalui jendela yang sedikit terbuka . Angin itu sedikit menerpa tubuh laki-laki yang masih terbalut selimut hangat terbaring di tempat tidur . Kini perlahan dia terbangun ,laki-laki itu mulai membuka matanya pelan . Tangannya meraba dahinya , karena ia merasa ada sesuatu di atasnya .

 
“Handuk?” dia menyerngit heran , seingatnya dia berada di depan pintu rumah itu. “Apa aku pingsan? aaghh.. “ pikirnya dan ia sedikit meringis pelan tatkala ia merasa pening pada kepalanya . Dia mulai bangun dari tempat tidur dan duduk di samping tempat tidur itu . Sudut matanya menangkap sesuatu di atas nakas sampingnya . Ada semangkuk bubur hangat yang masih mengepulkkan asap dan segelas susu hangat juga di atas nakas itu . Dia meraih sebuah note yang berada di sampingnya dan membacanya.

 
‘Good morning Luhan , makanlah bubur itu selagi hangat dan minum susu itu untuk memulihkan kesehatanmu , kalau kau tidak melakukannya , tanggung akibatnya , aku akan mendiamkanmu selamanya’ … Hana .

 
Dia tersenyum kecil setelah membaca note kecil itu . Tidak butuh waktu yang lama , laki-laki itu menyantap bubur dan meminum susu itu sampai habis . Mungkin dia melakukannya karena dia tidak ingin di diamkan oleh penulis note itu .

 
Luhan keluar dari kamar itu , dia berjalan menuju keluar dengan pandangan mata yang menelisik setiap sudut rumah itu, kelihatannya dia sedang mencari seseorang . Setelah melangkah lebih lanjut ,akhirnya dia mendapatkan sosok wanita yang sedang duduk di teras depan rumah . Diapun melengkungkan senyumnya . Tiba-tiba saja nafas Luhan tercekat dan menahan diri untuk tidak menangis ataupun memeluk wanita yang sedang duduk di teras itu . Rasa rindu dalam dirinya terasa meluap , ingin rasanya memeluk Hana erat dan menanyakan mengapa wanita itu meninggalkannya . Luhan perlahan menghampiri Hana dan duduk di sampingnya . Hana menoleh kearahnya dan tersenyum.

 
“Apa kau sudah baikan?” tanya Hana pada Luhan . Luhan tersenyum kecil dan mengangguk pelan . “Senang bisa bertemu denganmu lagi, Xi Luhan.“ Hana tersenyum kecil ,senyuman Hana semakin menggoyahkan pendirian Luhan untuk tidak memeluknya . Sampai akhirnya , Luhan tidak kuasa untuk memeluknya , dan diapun memeluk wanita itu dengan cepat , Hana kaget melihat perlakuan Luhan terhadapnya .

 
“Aku merindukanmu.“ Luhan mengucapkan kata-kata itu berulangkali . Perasaannya pada Hana penuh dengan kerinduan yang tidak bisa di jelaskan . Sementara Hana memasang muka datar , tapi perlahan tangan Hana bergerak dan membalas pelukan Luhan . Hana mengelus punggung badan Luhan dengan lembut .
“Kenapa kau melakukannya, Guru?”, tanyanya pada Hana ,Hana perlahan melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya , kemudian membuang nafasnya kasar .
“Kumohon , jangan tanyakan itu lagi Luhan.“ pintanya

 
“Kenapa? Apa kau tidak mencintaiku lagi?”, tanyanya lagi pada Hana . Pertanyaan yang sangat sulit sekali di jawab oleh Hana . Hana menelan pahit ludahnya dan nafasnya tercekat saat Luhan melontarkan pertanyaan itu . Tapi apa boleh buat , dia harus menjawabnya karena terlihat sekali Luhan menatapnya dan sangat menanti jawaban darinya .

 
“Aku tidak mau berhubungan dengan seseorang yang sudah milik orang lain.“ tukasnya lagi.

 
“Tapi sebelum acara pernikahan itu di mulai aku bukan milik siapa- siapa Guru.“

 
“Tapi tetap saja , pada akhirnya kau adalah milik orang lain , dan itu tetap membuatku sakit.“ mendengar penjelasan Hana kali ini , Luhan diam seribu bahasa . Dan benar saja apa yang Hana katakan , tetap saja pada akhirnya Luhan adalah milik orang lain , bukan milik Hana .

 
Sejenak mereka diam dalam pikiran mereka masing-masing . Sekilas Hana menoleh ke arah Luhan , dan Luhan hanya memandang lurus ke depan .

 
“Luhan –ah.“ sapa Hana pada Luhan yang sedari tadi diam . “Luhan –ah.“ Hana memanggilnya lagi , Luhan menoleh kearahnya .

 
Tanpa mengucapkan sepatah katapun , Luhan segera mendekatkan wajahnya pada Hana dan membungkam bibir itu cukup dalam . Awalnya , Hana ingin menolak perlakuan Luhan padanya dengan cara mendorong dada laki-laki itu dengan pelan . Namun entah mengapa , seakan tidak ingin membuat Luhan kecewa untuk kesekian kalinya ,jadi , dengan tulus Hana menutup matanya dan membiarkan Luhan mencium bibirnya secara perlahan .

 
Luhan meraih tengkuk Hana untuk memperdalam ciumannya. Dia mulai mengulum , melumat bibir Hana dan menjelajahi isi mulut Hana .

 
“Sshh…” Hana membelalakkan matanya dan mengerang saat Luhan menggigit bibirnya pelan . Kini Luhan melakukannya dengan nafsu bahkan membuat nafas mereka terengah-engah . Hana sedikit terkejut atas perlakuan Luhan yang menciumnya dengan penuh nafsu itu . Kini lumata –lumatan lembut berubah menjadi liar . Luhan semakin menekan wajahnya dan menghisap bibir Hana , dan membuat tubuh Hana terdorong ke belakang . Hana menopang tubuhnya dengan ke dua tangannya ke belakang . Terlihat berkali-kali Hana kewalahan menerima ciuman –ciuman Luhan , nafasnya terengah-engah karena pasokan oksigen yang menipis dalam tubuhnya .

 
Luhan terus saja melakukan aktivitasnya . Tanpa Hana sadari , tangan Luhan yang sedari tadi menganggur mulai meraba dada Hana dan mulai membuka kancing baju itu . Kancing pertama mulai lepas , saat Luhan akan meraih kancing yang ke dua ,dengan cepat Hana menghentikan pergerakan tangan Luhan yang akan membuka kancing ke dua itu . Hana melepaskan pautan bibirnya dengan Luhan dan menggeleng bermaksud agar Luhan tidak malakukannya .

 
“Luhan-ah! Michoseo? Apa kau tahu kita berada di mana, huh?” Hana mendorong tubuh Luhan dan membenarkan kancingnya yang terlepas tadi .

 
“Mianhae.“ ujar Luhan sambil mengusap bibirnya pelan . Tiba-tiba saja ponsel yang ada di saku celananya bergetar .

 
Drrtt 3x

 
Dia segera merogoh benda persegi itu dan melihat layar benda itu , dan ternyata ada sebuah pesan masuk .

 
Private Number :

 
Pulanglah !

 
Luhan menyerngitkan dahinya heran setelah membaca pesan itu . Tapi dia tidak menggubrisnya dan ia masukkan lagi benda persegi itu dalam sakunya .

 
“Maaf guru, aku tadi lepas kendali.“

 
“Aku tahu.“ Sahut Hana dengan sedikit kesal . Untuk kedua kalinya ponsel Luhan bergetar lagi . Dengan kesal ia merogohnya lagi , siapa yang iseng sedang mempermainkannya , mungkin begitulah yang dia pikirkan . Dia melihat sebuah pesan lagi pada ponselnya .

 

 

Private number :

Pulanglah ! atau sesuatu akan terjadi pada orang-orang di sekelilingmu !

Hana berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah . Luhan masih saja memandang layar ponselnya dengan rasa penasaran . Dia mengerutkan dahinya dan menautkan kedua alisnya seraya berpikir keras . Dia berpikir , apakah pesan itu adalah sebuah ancaman ? ancaman yang ditujukan padanya ? Beberapa saat kemudian , dia memutuskan untuk tidak ambil pusing atas perbuatan seseorang yang mengiriminya pesan ancaman itu . Dia segera beranjak dari tempatnya dan berjalan masuk ke dalam rumah itu menyusul Hana .

Luhan menghampiri Hana yang sedang duduk di sofa dan menonton tv dengan serius . Dia memicingkan matanya dan memandang Hana dengan penasaran , penasaran dengan apa yang di lihat Hana pada layar tv itu sehingga terlihat sekali keseriusan pada wajah Hana . Luhan mengalihkan pandangannya dari Hana ke layar tv dimana ada sebuah program berita yang sedang di tayangkan . Dia membelalakkan matanya setelah melihat tayangan berita di tv itu .

Luhan duduk di samping Hana dan berusaha meraih remote tv untuk mematikan tv itu . Dia tidak ingin Hana melihat berita di tv itu lebih lama . Dengan segera dia menyambar tanpa ijin remote yang ada di pegangan Hana . Akan tetapi , wanita itu dengan gerakan cepatnya juga sedikit menjauhkannya , membuat Luhan mendengus kesal karena usahanya gagal .

Semangat Luhan untuk merebut remote tidak berhenti di situ saja . Dia berusaha untuk merebut remote yang ada di tangan Hana untuk mematikan tv itu . Hana juga tak kalah dengan Luhan , dia juga berusaha menghindar dari serangan Luhan , dan kelihatannya mereka berdua sedang perang berebut remote . Akhirnya Luhan naik ke sofa dan memegangi kedua tangan Hana , dan tanpa sengaja tubuhnya terjatuh sehingga menindih Hana yang berada di bawahnya . Dalam posisi seperti itu , orang yang melihatnya akan salah paham .

Hana kaget menyadari tubuh Luhan yang berada di atasnya . Jarak keduanya sangatlah dekat sekali , tanpa ada sekat apapun . Hana menatap wajah Luhan yang ada di depannya lekat-lekat . Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menelan salivanya, dadanya berdetak begitu cepat begitupun dengan Luhan . Demi apapun , Hana masih saja terpesona dengan ketampanan wajah yang ada di hadapannya itu . Sementara itu , Luhan dengan tatapan mata seduktiv menatap Hana dan membisikkan sesuatu pada Hana .

“Bagaimana kalau kita lanjutkan yang di teras tadi, Guru?” dengan senyum kecil yang menggoda Luhan berujar pada Hana .

PLETAKK

Sedetik kemudian satu sentilan keras sukses mendarat tepat di dahi Luhan dan ia pun meringis kasakitan .

“Yah! Minggir kau Luhan!” Hana segera mendorong tubuh Luhan dari tubuhnya . Mereka segera bangkit dan duduk di sofa seperti sebelumnya , dan kini Luhan berhasil memegang remote tv dan segera mematikan tv itu. Tv yang tadi menyiarkan berita tentang pernikahannya dengan Jung Eunji, anak dari pemilik salah satu perusahaan besar di Korea Selatan .

“Pulanglah Luhan.“ ujar Hana dengan wajah merunduk . Dia tidak mampu menatap wajah Luhan dan berujar begitu . Luhan menatap dan mengarahkan pandangannya ke arah Hana yang menundukkan wajahnya .

“Apa kau mengusirku?” tanya Luhan dengan nada serius . Sementara Hana hanya mengangguk pelan . Masih saja , dia menudukkan kepalanya dan menatap jari-jari tangannya yang ia letakkan di atas pangkuannya , terlihat jemari-jemarinya itu sedikit gemetar .

“Apakah kau benar-benar ingin aku pergi dari sini? Kim Hana , kau tidak ingin melihat wajahku lebih lama lagi?” Luhan mendekatkan wajahnya dan menatap Hana dengan intens . Tangan Luhan meraih dagu Hana dan mengarahkan pandangan wajah Hana tepat di depannya membuat kedua wajah itu berhadapan .

“Lihat aku, apa kau serius kau ingin aku pergi?” lagi-lagi Luhan melontarkan pertanyaan itu padanya , untuk meyakinkan diri Luhan atas keinginan Hana terhadapnya .

“Hum.“ jawaban yang singkat, Hana menjawabnya dengan mengangguk pelan . Dia segera menundukkan kepalanya lagi dan menggigit bibir bawahnya . Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Hana atas ucapannya tadi . Dia merasa tidak enak hati terhadap ucapannya . Dia menyuruh Luhan untuk pergi , padahal dalam hatinya yang terdalam , dia masih saja berharap Luhan tinggal lebih lama lagi .
Luhan terdiam sesaat , sepertinya harapan Luhan akan pendirian Hana berubah tidak akan tewujud . Luhan menghela nafasnya panjang dan berdiri dari tempat duduknya .

“Baiklah.“ ujar Luhan dengan nada rendah

“Aku akan pulang.“ ujarnya lagi, terdengar rasa kecewa terselip di nada bicaranya.

“Hum.“ gumam Hana, mengangguk pelan dan memaksakan diri untuk tersenyum seiklas mungkin untuk menyembunyikan rasa sedih.

“Sampai jumpa.“

Luhan tidak menoleh kembali , dia memilih untuk melangkah dan keluar dari rumah Hana , sementara itu Hana hanya terdiam dan menatap punggung laki-laki itu dari belakang yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya .

Tidak bisa di pungkiri , kepergian laki-laki itu membuat parasaannya membuncah , rasa amarah , ataupun kecewa bercampur aduk jadi satu . Dia meremas dadanya yang terasa begitu sakit . Bohong kalau dia terlihat baik-baik saja . Kepergian Luhan kini mampu membuat hatinya menjerit sakit . Bibirnya yang terkatup terlihat bergetar menahan isakan tangis . Tak terasa , air matanya yang menganakpun meluncur pelan di kedua pipinya . Dan lagi-lagi , Hana telah membuat dirinya sendiri menangis .

 
FIN

 
Karena otak lagi mampet, jadi dari pada nganggur, kubuat aja cerita di atas, Cuma copy paste aja sih, kekeke…. tapi lumayanlah masih enak di baca. Gimana guys? Absurd banget kah? Di tunggu komennya

10845977_1507928796156858_8769865452024689706_n

10540642_384069825087202_8873128344532175650_n

1514569_614182528650403_2076808041282915067_n

Gimana guys? tampan2 semua, kan? aaaa….nggak kuat! kurang si maknae doang yang kagak ada, semua pria di atas bias semua…..okay, happy reading aja deh. salam dari noonabyun, muah..muah….

tumblr_mx83n6q3271r3xllho4_250

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Destiny(Short Version)

  1. aku belum baca yang berchapter tapi hampir sama kan ya ama yang ini
    jadi akhirnya mereka berpisah luhan tetap menikahi eunji

    Like

    1. iya, tapi siapa tahu berjalannya waktu semua akan berubahkan? itu sih tergantung si authornya saja kekekeke….ah sutralah, sebenrnya mau nerusin ff ini, ada sih ide di otak, tapi cari kata2nya masih susah, jadi di simpen aja di otak. thx ya udah baca n komen, kirain nggak ada yg baca 🙂

      Like

  2. luhan bingung “kenapa wanita ini meninggalkannya?” …lu nggak nyadar lu mau nikah sama orang laen *esmosi gua … eonni aq belum baca yang berchapter …eren eon …nge-feel berasa masuk di cerita, ikut emosi …fighting and keep writing yeth 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s