The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 8

tumblr_mmfie377081rojekuo1_1280

 

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 8)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

Link  : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/8/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

Previous

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 8!

Honesty

 

Dengan setiap langkah yang kau ambil, kau teringat cara Baekhyun yang tetap saja menutup mulutnya dan membiarkanmu terlepas dengan mudah dari tangannya lebih awal. Itu menyakitkan, tentu saja, karena kau memasang harapanmu terlalu tinggi pada awal percakapan. Kau berpikir Baekhyun telaah berubah, bagaimanapun juga; bahwa ditengah-tengah renungan dengan masalah-masalahnya, dia telah membuka hatinya padamu. Tapi nyatanya, itu hanyalah imajinasimu.

“Tunggu!”

……Bukankah itu?

Jujur kau sudah berpikir bahwa Baekhyun sedang melarikan diri  dari masalahnya lagi kali ini. Kau juga berasumsi bahwa Baekhyun hanya akan tinggal di sana, bersembunyi dan sendirian di Cafe, berpikir bahwa mungkin itu akan lebih baik membiarkan saja kau pergi dan menjauh darimu seumur hidupnya. Kau telah menyiapkan dirimu untuk itu. Jadi saat dia mengejarmu dan meraih tanganmu untuk menghentikanmu dari berjalan lebih jauh lagi, kau benar-benar terpaku oleh aksinya.

“Tunggu,” ucap Baekhyun, terengah-engah sedikit berat karena berlari menyusuri jalan untuk mengejarmu.

Kau berbalik dan menatap lurus pada matanya. Suaramu tenggelam karena suara mobil-mobil yang bergerak di jalan yang hanya beberapa kaki dari trotoar di mana kau berada. “What?” tanyamu, sedikit kasar sekali untuk dia sukai tapi dia menahan dirinya kembali untuk protes dengan keras.

“Aku, uhh…..” Baekhyun tidak punya keberanian untuk meneruskan kalimatnya. Dia mengalihkan tatapan matanya darimu saat dia melepas pegangannya dari pergelangan tanganmu. “Dengar, apa yang ingin kau dengar? Apa yang kau ingin aku katakan?”

Kau membuka mulutmu tidak percaya. “Kau pikir kau sudah punya semua yang kau ketahui saat kau mengejarku ke sini, Baek!” kau memutar bola matamu tidak sabar dan melipat  mengibaskan tanganmu di udara. Tidak ada banyak orang di sekitarmu saat itu, jadi kau tidak menahan dirimu untuk melempar luapan kemarahan di tempat umum. “God, serius! Apa, kau bodoh?”

Kupikir ini akan menjadi seperti salah satu scene romantis di film, demi Tuhan! Kalimat itu hampir saja keluar dari mulutmu.

“Well, aku tidak –“ dia menggelengkan kepalanya, mencoba kembali pada tujuan. “Dengar, aku hanya ingin –“

“Tidak, kau yang dengar,” kau menginterupsi, berkacak pinggang. “Kau dengar dan jawab aku, Byun Baekhyun. Kenapa dalam dunia ini kau hanya mengejarku ke sini jika kau tidak tahu –atau punya –sesuatu untuk dikatakan padaku?”

“Ah ….aku tidak tahu, aku hanya…..” Baekhyun merunduk menatap ujung-ujung sepatunya, seperti anak kecil yang baru saja tertangkap dengan tangan yang masih berada dalam toples kue. “Aku hanya merasa seperti itu adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan.”

“Oh, benarkah?” tanyamu dengan kejam. “Dan kenapa kau merasa seperti itu, kalau boleh tahu?”

Baekhyun menjadi sangat, sangat diam. Itu mengherankan, sungguh. Kau masih mendengar dia menggumamkan sesuatu di balik napasnya. “ ….. tidak ingin kau pergi …”

Kau mendengus keras dan berteriak sembarangan, “Jadilah seorang laki-laki, dan tataplah aku saat kau bicara!”

Baekhyun memasang kedua matanya lurus, menatap padamu dengan alis berkerut dan dia mengepalkan tangannya saat dia mengakui dengan keras, “Karena aku tidak ingin kau meninggalkanku!” pipinya menggembung dan terkuas dengan warna merah, dan dadanya naik dan turun, seolah dia telah tercekik karena meneriakkan sedikit kata-kata itu. Kau tidak bisa  mengatakan bahwa kau tidak puas dengan dirimu telah membuat dia bereaksi seperti ini.

Jujur  saja, kemarahanmu sedikit luntur di sepanjang jalan karena, well, kau akhirnya mendengar apa yang kau inginkan. Tapi Baekhyun secara praktis mengaku padamu, sehingga kau mungkin juga menikmati dari itu.

“Kenapa?” kau kembali bertanya, sedikit halus kali ini. “Kenapa kau tidak ingin aku pergi?”

“Aku –“ Baekhyun menjambak rambutnya pada tujuan itu. “Aku tidak tahu, okay? Aku hanya –setelah semua hal yang baru saja terjadi dengan Tao, aku hanya merasa seperti aku –Goddamn it, kenapa ini begitu sulit untuk menjelaskan?!”

Kau menggerakkan kakimu selangkah mendekat di tempat di mana dia sedang berdiri, “Kau hanya merasa seperti apa, Baekhyun?”

“Aku merasa ….” Baekhyun menghembuskan napasnya dengan kasar, memejamkan matanya dan menekan satu telapak tangannya pada sisi wajahnya. “Aku hanya tidak ingin kehilangan orang yang penting bagiku lagi.”

Kau tidak mengatakan apapun, hanya mencoba melukis kata-katanya dalam setiap dinding memorimu. Kau mengambil langkah lagi ke depan padanya.

Baekhyun menurunkan tangannya dan menggigit bibir bawahnya gelisah, sebelum dia mengulang dengan suara yang gemetar. “Aku tidak ingin kau meninggalkanku.”

Sebelum dia menyadarinya, kau sudah berdiri begitu dekat untuk menyentuh pipinya dengan jemari-jemari tanganmu. “Jadi kau ingin aku untuk tinggal?”

Merasakan sentuhanmu, dia mendongakkan wajahnya. Kedua matanya mencari  milikmu, bergerak tidak tentu seolah dia sedang mencari sesuatu yang sudah kau sediakan selama ini.

“Ya,” dia mendesah. “Ya, benar.”

“Apa lagi yang kau inginkan?” terusmu, mendorongnya untuk mengatakan lagi dan lagi.

“Aku ingin …” dia berhenti untuk beberapa detik mungkin untuk mendapatkan kembali keberanian lagi untuk mengucapkan kalimat dia berikutnya. “Aku ingin kita kembali pada apa kita sebelumnya.”

“Dan apa kita sebelumnya?” tanyamu dengan samar-samar, membiarkan  ujung-ujung jarimu membelai tulang pipinya.

Dia memejamkan kedua matanya dan memiringkan kepalanya, mencari lagi sentuhanmu. “Berteman.”

Kau mengijinkan dirimu untuk tersenyum tapi menahan kembali keinginan yang besar untuk menekan tubuhmu padanya dalam pelukan hangat yang lama. Melainkan, kau hanya meletakkan kedua tanganmu pada pundaknya. “Hanya berteman?”

Baekhyun terjatuh kedalam keheningan sekali lagi, tapi sorot matanya tidak pernah meninggalkan kedua matamu. Sepasang coklat itu tampaknya meninggalkan begitu banyak kata-kata ketimbang  mulutnya yang mengeluarkan kata-kata verbal. Itu seolah-olah  mereka sedang mengatakan. Tidak, aku ingin kita bersama.

Itu ada di sana. Jawabannya ada di sana. Kau bisa melihatnya, tapi itu tidaklah cukup. Kau ingin –tidak, kau harus mendengarnya.

“Baekhyun,” katamu, “Jika kau ingin aku mengatakan sesuatu, kau harus mengekspresikannya dengan kata-kata. Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Katakan apa yang kau inginkan.”

“Aku …..” dia melarikan kedua matanya ke tanah lagi. Kedua telinganya berwarna merah. “Itu ….”

“Kau menyukaiku?” tanyamu, menuntunya pada pertanyaan inti.

Baekhyun menolehkan kepalanya ke samping, menarik pandangannya darimu dengan cemberut kecil pada wajahnya yang merona. “Kau –kau sudah mendengarnya dari video lagi pula, kan?”

Kau melihat dia tidak mencoba menyangkal perasaannya padamu lagi. “Ya, tapi aku ingin kau mengatakannya.”

Dia tiba-tiba melotot padamu, mungkin merasa marah dengan caramu yang tetap menyuruhnya.

“Kenapa?” bentak Baekhyun. “Apa perlunya melakukan itu? Kau sudah tahu seberapa banyak –“

Kau tidak meringis ataupun memberikan reaksi yang sama saat kau memotongnya dan berkata, “Jadi aku bisa mengatakannya kembali.”

Itu secara efektiv membuatnya terdiam.

Rahangnya mengendur, menggantung dengan longgar pada wajahnya saat dia menatapmu  dengan lebar, mata-mata ketidak percayaan.

Kau miringkan kepalamu ke samping, bibirmu membuat sebuah senyuman. “Apa kau akan mengatakannya sekarang atau apa?”

“Aku –“ dia menelan salivanya dengan gugup dan membasahi bibir bawahnya sebelum dia memperoleh keberanian yang cukup dan berkata, “Aku menyukaimu.”

Kali ini, kau biarkan senyuman terlihat di wajahmu saat detak jantungmu berdetak semakin cepat dalam dadamu. “Aku juga menyukaimu.” Kau mengijinkan dirimu mencurahkan dan kau melakukan apa yang telah kau rencanakan untuk dilakukan sejak detik dia tiba di sini: untuk memeluknya.

Baekhyun menjadi membeku/mematung saat dia menarik napas dengan tajam, kedua tangannya tidak pernah bergerak untuk membalas cara kau melingkarkan kedua tanganmu pada lehernya. Kenyataan, Baekhyun hanya ada di sana, berdiri seperti patung dengan napasnya yang tercekat di tenggorokannya

“Be –“ dia berdehem karena suaranya keluar lebih seperti sebuah cicitan sebelumnya. “Benarkah?

Kau ignin terkekeh pada reaksinya, “Apa, kau ingin aku meneriakkan pada dunia?” tanyamu sebelum kau menarik rambutnya dengan jenaka. “Tidak dalam jutaan tahun, Bodoh.”

“T –tidak, aku hanya …umm …” dia tetap gagap. Baekhyun terlihat seperti dia sedang setengah bermimpi dan itu mengesankanmu, seperti halnya bagaimana yang selalu sukses dia lakukan. Dia begitu imut pada tujuan bahwa kau benar-benar tidak bisa mengingat kenapa kau begitu keras mencoba membencinya dulu, “Kupikir kau benar-benar tidak pernah menyukaiku begitu.” Ungkapnya diam-diam.

Ada begitu banyak hal yang ingin kau katakan saat itu, menunjukkan padanya bagaimana kau telah menunggu selamanya untuk dia mengatakan padamu  perasaannya dan menunjukkan sisi dia yang rentan dan jujur. Kau ingin mangatakan betapa banyaknya kau membalas menyukainya; menjelaskan betapa banyaknya kau telah merindukannya; menunjukkan betapa sulitnya bagimu menghabiskan berjam-jam tanpa dirinya di sisimu.

Tapi setelah beberapa saat kau berpikir, kau  putuskan hanya meletakkannya saja, “Kau konyol sekali, Baek, kau tahu itu?” kau mendesah dengan berat dan menenggelamkan wajahmu pada lekukan lehernya. “Tentu saja aku menyukaimu begitu. Apa, kau pikir aku hanya berada di sekitarmu karena aku ingin tidur denganmu? Aku bukan dirimu, kau tahu.”

Oke, itu keterlaluan. Tapi dia pantas mendapatkannya, kan?

Kau tidak mengharapkan jawaban untuk itu, tapi untuk membuatmu terkejut, Baekhyun bergumam –hampir tidak terdengar –dibalik napasnya, “Itu bukan alasan kenapa aku suka berada di sekitarmu juga.”

Kau diam-diam tersenyum saat kau sedikit menarik dirimu.

Aku tahu, Baekhyun, aku lihat video, ingat?

“Apa ada hal lain yang kau inginkan?” tanyamu, masih tersenyum saat kau mencondongkan wajahmu lebih dekat padanya.

“Uuh ….aku …”dia terdiam, kehilangan akal dengan cara kau menyerang daerah pribadinya.

Kau membentuk seringaian di wajahmu saat kau berbisik, “Kau ingin mneciumku?”

Baekhyun tampaknya tidak yakin, tapi dia jelas-jelas menginginkannya melalui cara dia terus-terusan memandangi bibirmu. “B –bolehkah?” tanyanya.

Cutenya, dia sedang meminta ijin.

“Tunggu,” kau berkata padanya, menekan jari telinjukmu pada bibirnya disaat dia mulai berinisiativ mencium, “Sebelum itu, aku ingin kau berjanji padaku kau akan berhenti menaruh tingkah palsu di depanku,” Baekhyun menautkan kedua alisnya dan menatapmu, menuntut penjelasan yang lebih. “Jika kau bisa berjanji padaku,” kau menjelaskan, “Bahwa kau akan jujur denganku, bahwa kau akan mulai menjadi dirimu sendiri kapanpun kau bersamaku –“

“Aku tidak bisa,” dia memotongnya, terlihat sedikit kesakitan saat dia mengatakannya. “Kau akan membenciku.”

“Biar aku yang menilai itu,” tukasmu kembali, dan dengan tergesa-gesa meneruskan sebelum dia bicara kata yang lain. “Apa kau ingin bersamaku, Baekhyun?”

Dia biarkan kedua matanya menjelajah, terlihat lembut dan menawan walaupun masih terlihat sedikit bingung dan takut. “Ya,” jawabnya dan sesuatu telah menarik satu untaian dalam hatimu. “Ya, benar, tapi tidak sesimpel itu.”

Kau ulurkan tanganmu untuk memegang tangannya, “Memang sesimpel itu.”

“Tidak, itu –“ dia menjauhkan tangannya sebelum kau bisa meraihnya, “Kau tidak mengerti,” alis-alisnya mengerut, terlihat sedikit bermasalah saat dia menangkup pipi kananmu dengan telapak tangannya dan memaksamu untuk menatap matanya, “Dengar, aku egois. Aku manja dan –“

“Baek,” kau menyela, menggelengkan kepalamu, ”Aku tidak peduli –“

“Aku kekanak-kanakan. Aku ceroboh. Aku melakukan hal-hal tanpa berpikir –“

“Tidak apa, aku juga –“

“Tidak, kau tidak membiarkanku bicara,” Baekhyun mendesah, menyentuhkan dahinya padamu dan memejamkan kedua matanya. “Tolong dengarkan aku. Masalahnya adalah, aku tidak mempercayai diriku sendiri.”

Aku terlalu peduli padanya, Chanyeol, tapi aku hanya tidak ingin mengambil resiko dan berakhir menyakitinya.

Kau hanya mendengar dan mencoba menahan dirimu dari betapa dekatnya dia. Saat laki-laki itu menarik dirinya kembali, dia meneruskan menelusurkan jari-jarinya sepanjang sisi wajahmu, membuatmu merinding dan kau balas melihat padanya lagi.

“Baekhyun,” katamu, mencondong  kedalam sentuhannya, “Itu tidak masalah, aku –“

Dia mengeras/kaku dan menjatuhkan tangannya. “Tidak, itu masalah! Bagaimana jika aku menyakitimu lagi?” tanyanya, suara yang dipenuhi dengan kekkawatiran dan kecemasan. “Bagaimana jika aku kehilangan langkah atas apa yang kulakukan dan menyakitimu dalam proses?”

“Hentikan.” Itu bukanlah marah yang kau rasakan saat itu; itu adalah rasa frustrasi. Kau tahu dia merasa lega karena akhirnya dia mampu menutup hal-hal antara kalian berdua, tapi sekarang dia terjebak ke dalam situasi  problematik lainnya, yang mana sedang menjalin hubungan denganmu. Kau mengerti itu. Tapi kau menjadi sedikit putus asa. Kau membenci mendengar dia mencoba menyakinkan dirimu bahwa dia tidaklah baik untukmu. Itu bukanlah pilihan yang dia buat; itu adalah pilihanmu. Dan kau telah membuat keputusan.

“Bagaimana jika hal-hal menjadi buruk dan aku kehilangan kamu lagi?” tapi Baekhyuntidak berhenti. Jika apapun, dia bisa menjadi lebih buruk. “Bagaimana jika aku tidak bisa membenahinya? Aku tidak ingin –“

Kau menamparnya. Keras, tepat di pipinya membuat wajahnya menoleh kesamping dengan paksa.

Baekhyun menjadi kaku. Kedua bibirnya terbuka dan kedua matanya tidak berkedip untuk beberapa detik. Dia hanya memandang udara yang kosong, merasakan sengatan pada pipi kanannya.

Bernapas dengan berat, Baekhyun memutar wajahnya kembali melihat  lurus padamu. Kedua matanya keras dan stabil, tapi tidak ada kemarahan di dalamnya. Dia hanya gugup pada aksimu yang tiba-tiba dan dia melarikan satu tangannya pada wajahnya, menggosok pada tempat yang kemerahan.

“Untuk apa itu?” tanyanya, wajah yang tenang.

“Itu untuk membuatmu diam,” jawabmu tanpa tedeng aling-aling, walaupun kedua tanganmu masih gemetar karena aksi tiba-tiba yang baru saja kau lakukan. Aku tidak tahu dari mana kau temukan keberanian untuk menampar wajahnya. “Dan juga, untuk mengingatkanmu bahwa aku lelah kau berpikir terlalu rendah  tentang dirimu.” Nada suaramu kejam, dan mungkin sedikit tidak sensitiv. Jadi kau tidak terkejut saat Baekhyun tidak menjawab dan hanya, memandang ke bawah. Dia terlihat terluka dan bersalah, dan itu membuatmu merasa bahkan lebih buruk.

“Dengar,” katamu, suara yang lebih tenang dan lebih lembut. “Aku tahu apa yang kudapatkan, Baek. Aku tahu resikonya. Tapi aku percaya padamu dan aku ingin bersamamu. Kau dengar aku?”

Dia perlahan mendongak menatap padamu lagi, dan walaupun dia masih terlihat sedikit tersesat, ada semacam kepastian dibalik kedua bola coklatnya. “Aku mendengarmu.”

“Bagus,” kau menghembuskan napas dengan keras dan kembali melompat kedalam dekapannya. “Oh God, maaf karena menamparmu. Aku tidak tahu apa yang merasuki diriku.”

“Itu sakit sekali,” komentarnya diam-diam setelah beberapa detik berlalu.

Kau hampir tersenyum. “Aku tahu. Bahkan bisa kurasakan tanganku terbakar.”

“Masih sakit sekali, sebenarnya.,” katanya lagi, menonjolkan bibir bawahnya. Dia terlihat seperti anak anjing yang terbuang, jujur saja.

Kau menyerah dan hanya tertawa kali ini, “Maaf, kemarilah,” kau menarik kepalanya ke bawah dan mendaratkan kecupan kecil pada pipinya yang memerah. “Sorry, aku hanya ingin membuatmu berhenti bicara.”

“Well, kau berhasil melakukan itu,” katanya, membalas memelukmu. Dia mnegeluarkan desahan panjang di saat dia menekan tubuhmu lebih dekat padanya, dan jantungmu berdetak sedikit lebih cepat pada itu.

“Aku berhasil, kan?” kau tertawa kecil dengan ringan, membelai rambut halus pada tengkuknya. “Dengar, berjanjilah padaku kau akan mencobanya, okay?”

Dia memikirkannya untuk sesaat sebelum dia membuat keputusan. “Okay, aku janji.”

Kau tersenyum lagi, “Dan berjanjilah padaku, kau akan berhenti berpikir bahwa kau tidak pantas buatku –“

Baekhyun melepas pelukan dan membuka mulutnya untuk protes lagi. “Tapi aku –“

“Aku tahu kau tidak pantas mendapatkanku, Baek,” katamu, menutup mulutnya dengan telapak tanganmu untuk membuatnya diam. “Maksudku, ayolah, aku lebih baik darimu.” Baekhyun memutar bola matanya pada tujuan itu, dan kau merasa sedikit lega karena dia mulai menjadi dirinya lagi. “Aku mengerti bahwa kau adalah si brengsek yang kekurangan seks dengan masalah kepercayaan yang sangat besar, dan kau mengenalku sebagai seorang dancer yang seksi, tak tertahankan yang baru saja dicampakkan oleh kekasih masa lalunya. Kita berdua tahu bahwa kita payah dalam hubungan, tapi semua itu tidak masalah lagi, karena kau tahu kenapa?”

Baekhyun tidak mengatakan apapun –atau lebih seperti, dia tidak bisa, berhubung kau masih menyumpal mulutnya dengan tanganmu, tapi dia menarik satu alisnya penasaran seolah dia bertanya, “Kenapa?”

Kau melepasnya dan meletakkan kedua tanganmu di dadanya secara halus. “Karena aku menyukaimu,” katamu, “Karena walaupun kau bukanlah apa-apa kecuali sebuah kemaluan bagiku, aku masih tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku tidak tahan kecuali rindu perilaku kasarmu saat kau sendirian, dan seringaian sialanmu, dan eyeliner bodoh yang selalu kau pakai itu. Dan karena walaupun aku tahu bagaimana marah dan pengecutnya dirimu, aku masih tidak bisa melupakan tentang hal-hal yang kau ucapkan dalam video itu. Bagaimana asli, dan sakit kau terlihat kemudian. Dan percaya atau tidak, Baekhyun, setelah semua yang kita lalui, sebenarnya aku peduli padamu. Banyak. Sebut saja aku bodoh telah jatuh cinta pada orang brengsek seperti dirimu, tapi itu hanyalah bagaimana hal ini. Tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu.”

Baekhyun hanya berhenti dan menatap padamu, dengan mulut terbuka dan kedua matanya tanpa berkedip.

“Jadi, uhh, apa yang kukatakan adalah …” kau mulai merasakan  rona merah merayapi wajahmu tapi kau tetap  bicara, mencoba untuk tetap tenang dan stabil. “Yeah, okay, mungkin kita tidak sempurna, aku berkeinginan mencoba. Aku siap memberimu –memberi kita kesempatan lain untuk memperbaiki ini. Aku tidak akan menyerah atas kita begitu saja, okay?”

Dia perlahan mengangguk, mengambil setiap kata yang baru saja kau ucapkan.

“Apa kau ingin menyerah atas diriku, Baek?”

Dia menggelengkan kepalanya, kedua matanya stabil dan penuh tekad. “Tidak.”

Kau tersenyum dan mengacak rambutnya. “Kemudian selesai.”

“Bagaimana jika kita berakhir bertengkar?” katanya, merunduk menjauhi tanganmu.

“Kemudian aku akan menyebutmu orang brengsek, dan kau akan menyebutku wanita nakal, dan kita akan saling berteriak sampai seluruh Dorm datang menerobos masuk ke kita.” Kau mengangkat bahu secara biasa dengan sebuah godaan terpancar di kedua sudut matamu. “Tapi kemudian kau akan sadar betapa kau menjadi idiot saat itu, dan aku akan sadar betapa rindunya diriku padamu, jadi kemudian kita akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan berproses pada perbaikan hubungan seks kita.”

Pandangan Baekhyun melembut saat dia melihatmu tersenyum dengan mischeivous padanya. “Kau gila.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman yang nyaris, malu.

“Dan kau tergila-gila padaku,” katamu, menyikut perutnya dengan ringan.

“Dan bagaimana jika aku berselingkuh di belakangmu?” tanyanya, mengambil kedua tanganmu dan hanya menggenggamnya dekat.

“Kemudian aku akan menikammu dalam tidurmu,” jawabmu dengan simpel, masih tersenyum. “Luhan akan sangat bersyukur untuk membantuku.”

“Si brengsek itu.” Baekhyun cekikikan, memangkas jarak antar wajah kalian, tapi berhenti tepat sebelum bibirnya menyentuh milikmu, ragu-ragu. Dia masih takut kau mungkin akan mendorongnya, jadi dia menunggu ijin mu.

“Kau sepuluh kali lebih buruk dari dia.” Kau mendekatkan jarak antara bibir kalian dan membiarkan dia menciummu penuh di mulut. Kau mendesah dalam ciuman, menyengkram jaketnya seperti kau berpegangan pada hidupmu. Kau merindukan ini begitu banyak. Kau merindukan kehangatannya, kelembutan bibirnya, dan rasa mulutnya. Kau begitu merindukannya.

“Tapi kau menyukaiku,” katanya diantara ciuman, dan kau bisa merasakan dia tersenyum di bibirmu.

“Jangan terlalu sombong, Mr. Byun,” katamu kembali terkekeh saat dia menekan ciuman-ciuman kecil pada setiap bagian wajahmu: hidungmu, pipimu, dagumu, sebelum akhirnya dia mendaratkan bibirnya kembali pada bibirmu. Dia tetap menciummu dengan cukup gairah membuat lututmu gemetar, tapi juga dengan cukup perasaan di dalamnya, membuat ciuman ini berbeda dari ciuman-ciuman lain yang pernah kau bagi dengannya sebelumnya.

“God, i missed you,” katanya, tergesa-gesa dibalik napasnya, seola-olah kau akan mejauh darinya lagi. Dia menyelipkan jari-jarinya diantara rambut-rambut halusmu, dan menangkup belakang kepalamu saat dia menciummu lebih dalam. Kau tidak punya kesempatan untuk mengatakan betapa kau merindukannya juga. Mungkin lebih banyak darinya.

Setelah kau merasa butuh untuk mengisi paru-parumu dengan udara, kau memutus ciuman dan mencoba untuk tidak terengah-engah. Baekhyun masih tetap memejamkan matanya dan menempelkan dahinya padamu. Bibirnya tidak melengkung ke atas tersenyum atau seringaian, tapi ekspresinya kelihatannya tenang, lega dan hanya murni bahagia –seperti orang tua yang baru saja bertemu dengan anaknya yang hilang setelah bertahun-tahun berpisah.

“Jadi …” kau berdehem, tiba-tiba saja merasa malu dan canggung setelah pengakuan terus terangmu. Kau tidak menyiapkan dirimu untuk itu. “Apa yang kau katakan?”

“Aku ….” Baekhyun tersenyum, senyum yang nyata, asli dan lembut yang membuat bibirmu sendiri sedikit melengkung ke atas. “Aku hanya ingin mengatakan terima kasih.”

“Setelah semua kata-kata itu yang kukatakan, Baek.” Kau mendengus, tapi tidak bisa menyimpan senyuman untuk muncul. “Sama-sama.”

Baekhyun menggerakkan tangan kanannya untuk menangkup belakang kepalamu saat dia membawamu ke dalam pelukannya. Tangan yang lainnya melingkar pada pundakmu dan kau merasa dia meletakkan ciuman cepat –mungkin terlalu memalukan untuk tetap lebih lama –pada puncak kepalamu. Kau memeluknya kembali dan memejamkan kedua matamu, menghirup aromanya. Dia masih beraroma senyaman yang kau ingat, dan hatimu sedikit terhentak setelah menyadari betapa banyaknya kau sebenarnya ingin memanjakan dirimu dalam momen semacam ini dengannya

“Jadi bagaimana kita sekarang?” tanyamu, bibirmu berada beberapa inci dari telinganya. “Apa ini berarti kita resmi berkencan sekarang?”

Baekhyun menarik dirinya kembali dan menyerngitkan hidungnya dengan jenaka. “Kau begitu menginginkanku, huh?

“Kenapa kau bertingkah begitu tinggi dan berkuasa?”

“Well ….”Baekhyun mengangkat bahu acuh tak acuh. “Kau meminta aku untuk mengencanimu ….”

“Brengsek!” kau menyalak. Wajahmu sedikit memerah. “Katamu kau menyukaiku duluan –“

Kesombongan Baekhyun terlihat bimbang. “W –well, aku –“

“Dan katamu kau ingin aku tinggal.” Kau bahkan mengejeknya lagi. “Bahkan kau tidak ingin aku meninggalkanmu sendiri dalam dunia yang dingin, dingin ini.”

Wajahnya menyala merah. “Aku tidak mengatakan –“

“Katamu aku terlalu sempurna untukmu –“

“Aku –“

“Bahwa kau tidak pantas mendapatkanku dan –“

“Ugh, okay, okay!” Baekhyun menjadi semerah kepiting rebus saat dia menutup mulutmu dengan telapak tangannya. “Diamlah, mau kan? Aish!”

Kau mengeluarkan kekehan yang teredam dan kau menggigit tangannya.

“Eew!” Baekhyun berulang kali menarik tangannya kembali. “Apa kau baru saja menggigit tangan –“

Protesnya terpotong dengan ciuman lainnya.

Kali ini lebih inosen. Hanya kau, yang menempelkan bibirmu padanya, dalam waktu tersingkat yang kau bisa. Saat kau melepasnya, dia sedikit gugup karena ciuman tiba-tiba, tapi kau hanya tersenyum.

“Ayo kembali, Baekhyun,” katamu, mengaitkan jemari-jemarimu dengannya dan menuntunnya turun ke jalan, kembali ke Dorm, “Aku kedinginan, dan kurasa secangkir coklat hangat akan bagus.”

Baekhyun mengikutimu seperti anak anjing yang tersesat, jari-jari yang hangat pada jari-jarimu.

“Okay.”

Kau tidak harus menoleh ke belakang untuk melihat apakah dia tersenyum atau tidak. Kau hanya tahu dia tersenyum.

 

TBC

 

Huff! Akhirnya….. selesai juga. Sorry guys, i’m so sorry…. udah buat kalian lama nunggu cerita ini. Memang, kehidupan nyata telah menguras tenaga, pikiran dan kesehatan, dan akhirnya aku hampir, hampir lupa untuk mentranslit cerita ini. Sekali lagi maaf ya… okay deh, sekarang di tunggu komennya pake banget, semoga kalian suka, thank you……

 

 

 

 

 

 

Advertisements

41 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 8

  1. huwaaa akhirnya comeback juga ff ini….
    wkwkk dunia nyata emang lebih kejam dari dunia per ffan(?)kkkk
    keep writing kakak semangat lanjutin ff yg lainnya jg.
    btw chapter ini kok greget banget ke byun cabenya sih,ewhhh,kek puppy banget sumpah.bukan style cabe bgt di chapter ini,hahahhah tp tetep syuuukaa ko sama ff ini,next dtunggu banget kakak.

    Like

  2. Ahhhhh sweet bangett ini melted dehh
    Senyum2 sendiri baca nyaaa 😁
    Semoga kemesraan ini berlangsung lama yahhh 😊 .. Baekhyun nyaaa bikin gemes pengen gigit 😅
    Lovelove buat author nyaaa 😚

    Like

  3. Huuuaa .. Kangen pake bangett sama nie cerita kak.
    Saking kangen’nya ampe pernah neror kak PJ hehhee 😛
    Sweet moment weeehh *tepuk tangan yg gemuruh* baek bikin gregett di chapter nie, mayu2 gitu. Padahal sudah jelas dy syuka tp msiih malu buatt menyatakn yg sebenarnya huuh berasa bukan baekhyun yg sesungguhnya hehhee..
    Semangatt kak buatt lanjutkan translate nie cerita, sangatt menunggu sekali dgn nie cerita 😀 sampaii bulak balik blog kak PJ. Semangatttt !!! 🙂 😉

    Like

  4. Aaaaa sweet sweet banget thor, lucu dama baekhyun nya, mau nyatain perasaannya susah banget kek msh anak2 gituu hahaha

    Like

  5. HUaaa so sweet, hmmm bukan cuma baekhyun sih sepertinya kebanyakan laki2 Sekarang seperti itu, huft
    Kyaaaa akhirnya publish jugaaaaaa, kangen banget, yeah akhirnya mereka bisa berkencan sungguhan haha ribet banget ngeyakinin baekhyun ‘-‘
    Well aku senang akhirnya ff ini ditranslate lagi aku kangen sama kata2 translate mu yg beda dari yg lain, gk ngerubah suasana yg coba dibentuk sama penulis aslinya good job, fighting 😃

    Like

  6. Hohoho… akhirnya comeback jg, barengan sma nungguin comebacknya exo yg tinggal ngitung hari tp lamane puolll.. manis manis manis, kesannya itu sih, baek lucu banget, dari cowok mesum gak berperasaan jadi puppy yg super innocent. Baek, km gak bipolar kan ya? Makasih noona udah diterjemahin ffnya, asli kalo baca yg masih pake bhs inggris feelnya kurang dapet gmana gitu. Otaknya mesti mikir dua kali. Btw, udah liat spoiler dance exo yg baru blm kak? Baek kayak kesurupan. Perlu diruqyah kayaknya… hahaha

    Like

  7. ahhh authornim aku udh lama nunggu translitanmu. wks mian mian ini firts comen aku gegara baru tau cara komennya bhak :v.
    baekhyun takut banget nyakitin org yg dia sukai dan itu cool tapi ngeselin, rendahin diri mlu.
    nextt ga sabar buat nunggu moment meridnya 😘

    Like

  8. Aaaaaaa finallyyyy~aku nunggu lama banget update ff ini kaak.
    Gosh~byun baekhyun jadi gugup begitu 😂 aaah so cute 😘
    thanks masiih translet and update ff ini yaa ka..
    Fighting!! 😍

    Like

  9. “Itu sakit sekali,”
    pas baek ngomong gitu aku ngebayanginnya….. aahhh sialan imut bangeeeeeeeeett. wkwkwkwkwk. ntah kenapa aku ngerasanya baek kaya anak kecil banget di chap ini, kaya lagi di nasehatin sama ibunya wkwkwk

    Like

  10. mereka itu lucu, tapi aku suka couple ini, menunjukan rasa sayangnya dengan hal yg berbeda
    heheheh

    maaf y kak baru komen

    Like

  11. Huaa, baebaekkie ku sweet banget disini!!! Melting aku bacanya. Bahasanya Bagus kak, sumvah aq beneran nge-feel banget. Aahhh!!! #pingin teriak2 rasanya.
    Keep writing and translate kak, aku setia menunggumu 👍😄😍😘
    From,
    Cantikapark61

    Like

  12. Baek disini berasa kek anak sd deh malu2 tp mau pokoknya imut2 dah tp td waktu ditampar diem aja ya tp untung tuh dapet bonus kisseu hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s