Mr Balcony |Chapter 4

tumblr_ntqnr7blsh1suyhhho1_1280

 

Tittle       : Mr  Balcony ( Chapter 4 )

Author    : PJ

Cast         :

  • Kim Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Park Chanyeol
  • Other member of EXO

Lenght     :  Chapter

Genre      :   Romance

Rate         : PG -17

Poster  : cr. exoplosion

 

Greeting !!!  Hallo  guys, i’m back  again, kali  ini  aku bawakan FF  gajeku,pasti typo bertebaran, jalan cerita  yang aneh dan pasaran , nggak ngefeel banget , tapi asli cerita  ini  keluar  dari  otakku  sendiri … okey , di simak deh .

Summary  :  Kim  Hana ( 29) seorang  wanita  karier  yang  polos  yang  tidak  pernah  berkencan  dan  berinteraksi  dengan  laki-laki  seumur  hidupnya. Hidupnya  berubah  saat  dia  bertemu  dengan  seorang  laki-laki , Byun Baekhyun (26) yang  tidak  sengaja  masuk  kedalam  apartemennya  lewat  balkon  karena  melarikan  diri  setelah  kepergok  berselingkuh  dengan  kekasih  orang (yeoja apartemen  sebelah).Sejak  saat  itu Hana  merasakan perasaan  yang belum  pernah  dia  rasakan, yaitu  fall in love with  Baekhyun .

First Encounter | Why i got you in my mind? |Confession |

 

HAPPY  READING  !!!!

 

Chapter 4!

Ignorance And Awkwardness

I ‘ll  never  feel  this  way  since  i  met  you

You’d  changed  my  world

I  love   you ,  ‘cause  you  are  amazing

Just  the  way  you  are

 

Dua hari, sebenarnya sudah dua hari sejak insiden di sungai Han terjadi. Hana ingat meninggalkan Baekhyun di sana. Pengakuannya membuat laki-laki itu tidak bisa berkata apa-apa dan membuat jantungnya berdetak sangat kejam sehingga merasa ingin melompat keluar saat itu. Wanita itu merasa begitu tersesat dan gugup.

Hana mendesah dengan berat saat dia berdiri di antara antrian untuk membayar di toko groseri. Beberapa hari terakhir ini dia telah melampaui batas, dia tetap berharap menunggu laki-laki itu menghampirinya, mengharapkan dia mengatakan sesuatu yang diinginkannya.

Apa ada peraturan bahwa kau tidak boleh menyukai seseorang yang sudah milik orang lain?

Dia tersenyum mengejek pada dirinya sendiri saat wanita itu teringat kata-katanya. Dia tidak tahu apakah harus merasa lega atau menyakitkan.

Lega karena setelah dua hari menunggu, setelah dua hari lamanya perasaan khawatir akan memakannya, dia tidak mendapatkan apapun. Baekhyun tidak pernah muncul setelah itu, tidak ada panggilan telpon, tidak ada pesan, dia tidak muncul lewat balkon, tidak, tidak ada apapun. Dia seperti tertelan bumi, kecuali Hana tahu dia tidak menghilang. Dia melihatnya di koridor apartemen, tiba-tiba dia ada di mana-mana. Hana berpikir dia di sana untuk melihatnya karena laki-laki itu  berada di gedung yang sama dengannya. Tapi tidak, dia di sana karena gadis itu, karena cinta pertamanya. Dan Hana melupakan hal itu.

Setelah membayar di kasir, Hana mulai berjalan keluar, tapi berhenti disaat dia mendengar seseorang memanggil namanya. Dia berbalik pada seseorang dan saat itu pula dia ingin sekali berlari darinya karena saat ini dia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa tapi sudah terlambat karena orang itu sudah tahu bahwa Hana sudah melihatnya. Orang itu berlari kecil menuju ke arahnya. Dia tersenyum sedikit saat dia mencoba untuk bernapas dengan benar.

“Hallo, Hana.”

“Sehun –ssi.” Hana menyapa dengan sebuah senyuman. Tidak ada alasan baginya untuk menghindarinya, lagi pula, dia juga tidak punya alasan untuk melakukannya juga.

“Kau belanja banyak sekali di sana.” Katanya saat dia mengambil beberapa kantong plastik darinya sementara Hana hanya tersenyum atas tindakannya. “Ah, ini kedua kalinya kita bertemu di sini. Ini pasti yang dinamakan takdir, tidakkah kau pikir?” laki-laki itu tertawa kecil atas pemikirannya.

Hana sedikit merona karena kata takdir, dia tidak tahu apakah ini takdir ataukah hanya kebetulan saja, tapi dia tidak mau berspekulasi seperti itu. “Aku tidak tahu, Sehun –ssi. Mungkin saja.”

Mereka mulai berjalan beriringan dengan kedua tangan mereka menjinjing beberapa kantong plastik yang berisi groseri. Sehun sesekali menolehkan kepalanya pada wanita yang berjalan di sampingnya. Dia ingin berbicara sesuatu tapi dia kelihatannya ragu untuk mengutarakannya. Entah kenapa situasi menjadi canggung sekali. Laki-laki itu mencuri lirikan lagi padanya sebelum berdehem pelan, membuat Hana menolehkan kepalanya, sadar kalau selama itu dia berjalan bersama dengan seorang laki-laki.

“Kau tahu aku akan mengantarmu pulang, kan?” tanya Sehun ragu-ragu. Itu sepertinya sebuah pernyataan ketimbang sebuah pertanyaan.

Hana bergumam sambil menganggukkan kepalanya. Dia tidak perlu berpikir keras untuk pertanyaan itu jadi dia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dia pasti sudah tahu jika bertemu dengan laki-laki ini dia akan mengantarnya pulang sampai ke apartemennya, seperti sebelumnya.

Laki-laki tinggi itu tersenyum setelah mendengar jawabannya. Dengan gerakan cepat dia meraih lagi beberapa kantong platik dari tangan Hana meninggalkan wanita itu dengan tangan hampa, membuat wanita itu kaget.

“Yah! Apa yang kau lakuakan?” tanyanya protes

“Sudahlah, jangan protes. Mobilku di arah sana.” Jawab Sehun, mulai berjalan sedikit cepat dengan beberapa kantong platik di kedua tangannya. Sepertinya dia tidak peduli dengan pandangan beberapa orang yang berpapasan dengan mereka yang melihatnya dengan tatapan heran. Seorang laki-laki tinggi, tampan, berkulit putih dengan mengenakan navi blue jeans dan kemeja  biru langit, menjinjing begitu banyak kantong plastik belanjaan yang diikuti seorang wanita berkaca mata yang mengekorinya dari belakang. Hana berusaha menyusul laki-laki itu dengan melangkahkan kakinya dengan cepat, tentu saja dia kesusahan.

Aish, kenapa dia berjalan cepat sekali? Sehun –ssi, tunggu!”

Mendengar Hana yang memanggil namanya membuat laki-laki itu memelankan langkahnya, “Ah, maaf, apa aku terlalu cepat?”

Hana berdecak, “Yah, apa kau tidak sadar kakimu itu panjang-panjang?!  Itu membuatku harus berlari, kau tahu?” katanya, dengan sedikit cemberut di wajahnya, membuat laki-laki itu cekikikan.

“Aku suka kau seperti ini.” Kata Sehun, mereka mulai berjalan beriringan lagi dengan pelan. “Kau tahu, aku suka kau memanggilku seperti itu. Tidak ada embelan apapun, tidak ada Sehun –ssi, tidak ada Oh kwajangnim, atau yang lainnya. Biasakan seperti itu, mau kan?”

“Tapi aku tidak bisa melakukan itu jika kita berada di kantor, kau tahu?” Hana berkomentar.

“Ah, ya, itu pengecualian.”kata Sehun, menolehkan pandangan matanya pada Hana. “Tapi kau akan melakukan apa yang kuminta, kan?” tanyanya lagi, membuat Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Itu mobilku.” Sehun menghentakkan kepalanya menunjuk pada sebuah mobil Audi warna merah yang terparkir di depannya.

Sesaat kemudian, mereka sudah berada di dekat mobil Sehun. Laki-laki itu meletakkan semua bawaannya di atas tanah kemudian dia merogoh kunci mobil dan menekan tombol kecil pada kunci itu. Dia membuka pintu, meletakkan semua kantong plastik di atas kursi belakang.

“Masuklah, Hana.” Suruh Sehun padanya, membuka pintu depan. Wanita itu segera masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Sementara laki-laki tinggi itu berjalan memutar menuju kursi kemudi.

Beberapa saat kemudian, mobil itu mulai bergerak dan berjalan menjauhi tempat itu. Dalam perjalanan pulang, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Suasana menjadi canggung tak terelakkan dan mereka masih saja saling terdiam di dalam mobil.

Sehun mengantar Hana pulang menuju ke apartemennya. Dia yang sedang duduk di samping wanita itu dengan tangan memegang stir mobil, sesekali memperhatikan wanita itu yang sedang menghadapkan wajahnya pada kaca jendela mobil, seakan mengerti jika wanita itu sedang merasakan sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.

Dipihak lain, Hana, dia masih tenggelam dalam pikirannya. Dia masih memikirkan laki-laki yang telah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Dia berulang kali menanyakan pada dirinya, ‘apakah dia harus melupakannya? Tapi tidak semudah itu disaat dia sering kali mengunjungi tetangga apartemennya. Oh, kencan buta. Dia hampir saja melupakan hal itu. Dan dia rasa dia harus memulainya sejak laki-laki yang bersangkutan ada di dekatnya sekarang’.

Hana masih saja terdiam, pikirannya tampak melayang kesuatu tempat. Sehun yang saat ini berada di sampingnyapun, tidak dihiraukan seakan dia tidak bisa melihat keberadaan Sehun.

Sehun berdehem sehingga membuat Hana tersadar dari lamunannya. Melihat Sehun disampingnya langsung memberikan senyuman datar padanya, namun laki-laki itu malah menatap Hana dengan tatapan penuh tanya.

“Kenapa?” tanya Hana dengan wajah datar.

“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Hana?” tanya Sehun padanya.

“Tidak.” Jawab Hana singkat, mengalihkan pandangannya lurus ke depan.

“Jangan bohong, Hana. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu.” Apa ini karena kencan buta kita?

“Tidak, Sehun. Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Tidak ada.” Jawab Sehun, dia memfokuskan lagi pada arah jalan yang ada di depannya. Sejenak mereka terdiam. Terdengar mereka saling membuang napas  panjang.

“Tentang kencan buta itu –“ kata Hana tiba-tiba, sehingga membuat laki-laki yang ada di sampingnya menolahkan kepalanya kearahnya dengan tatapan terkejut.

‘Apa kau menolaknya, Hana?’ dalam hati Sehun.

Hana menghela napas panjang sebelum dia meneruskannya, “ –Apa kau sudah mendengarnya dari Ibumu?” tanya Hana, sedikit gugup, dia meremas-remas jari-jarinya yang ada dipangkuannya. Dia tidak yakin jawaban apa yang akan diberikan padanya oleh Sehun. Apa dia akan menolaknya seperti yang Baekhyun lakukan, atau dia akan menerimanya karena menurut fakta laki-laki tinggi itu menyukai Hana, dilihat dari perilakunya terhadapnya, dan juga dari omongan Hyejin terhadapnya.

Sehun mengerjap beberapa kali, menyerap kata-kata Hana sebelum dia berkata, “Ah.” Sehun mengangguk-nganggukkan kepalanya memahami sesuatu dan bernapas lega, kukira kau menolaknya, Hana, “Aku sudah mendengarnya,” kata Sehun, dengan senyuman lembut dia menolehkan wajahnya pada Hana. “Bagaimana menurutmu?” tanya Sehun padanya.

Jangan menolaknya, Hana, please.

“Itu –“

Sehun menatap wanita itu dengan tatapan memohon, please.

“Apa kau menolaknya?”

“Bu –bukan.” Jawab Hana, terbata-bata dan memberi gestur tidak setuju dengan menggoyang-goyangkan tangannya.

Sehun menautkan kedua alisnya, penasaran. “Lalu apa?”

“Aku –“ Hana menundukkan kepalanya, dia sedikit menyembunyikan rasa malunya karena ingin mengatakan setuju padanya. Tapi kelihatannya ragu-ragu, “Aku menerimanya, Sehun.” Akhirnya dia memberi jawaban.

Sehun ingin sekali menghambur padanya dan memeluknya dengan erat. Tapi dengan posisi dia sedang memegang stir mobil, dia tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa mengakibatkan  kecelakaan pada mereka berdua,walaupun dia ingin sekali melakukannya. Akhirnya, setelah sekian lama penantiannya tercapai juga. Akhirnya, setelah lamanya memendam perasaannya terhadap wanita itu, dia menerimanya, tidak secara langsung, tapi Sehun puas dengan hal itu.

Sehun tersenyum girang, wajahnya yang sedikit tersorot oleh cahaya matahari bagaikan malaikat pembawa kebahagiaan.

“Jadi –“

Hana mengangguk samar, tiba-tiba saja wajahnya merona dan hawa panas mulai menyebar dikedua pipinya.

Oh, thanks God.

Sementara di tempat lain, di depan gedung Manchu Tower –dilihat dari namanya bukanlah seperti yang kalian bayangkan, itu adalah gedung apartemen berlantai 7 dikawasan kota Seoul –ada beberapa mobil yang terparkir didepannya, salah satunya ada sebuah mobil Chevrolet Stingray warna hitam dengan nomor plat yang tidak asing di sana. Seorang laki-laki yang ada di dalamnya sepertinya sedang menyebarkan pandangan matanya pada sekeliling dengan ponsel diletakkan di telinganya. Sepertinya dia sedang menelpon seesorang, tepatnya sedang menunggu seseorang, jika ditebak seperti itu.

“Noona, apa kau masih lama?” tanya laki-laki itu pada receiver sambil mengetuk-ngetukkan jari-jarinya pada stir mobil dengan tidak sabar. Kedua matanya masih melihat pada beberapa mobil yang melintasinya.

Sebentar lagi, Baek. Tunggu saja beberapa menit lagi.” Kata receiver itu.

“Okay, Noona.” Baekhyun menutup panggilan itu dan kembali memfokuskan pandangannya pada sekeliling. Dia berharap melihat sebuah mobil Mercedes Benz dengan nomor plat yang dikenalnya muncul di depannya. Melainkan mobil yang disebut, dia malah melihat sebuah mobil yang tidak terduga baru saja melintas. “Bukankah itu mobil Sehun?”

Sebuah mobil Audi warna  merah berhenti beberapa meter tepat di depannya. Cukup jelas dia bisa melihat orang yang ada di dalamnya.

“Benar, itu dia.” Baru saja dia akan turun dari mobilnya untuk menghampirinya, dia tiba-tiba saja menghentikan aksinya, setelah melihat dua orang mulai keluar dari dalam mobil itu.

Sehun dan seorang wanita. Baekhyun melihat mereka, tapi semakin lama dia mengenali wanita yang bersama laki-laki itu. “Bukankah itu –tidak.” Kata Baekhyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak kebenaran.

Baekhyun memicingkan kedua matanya menatap pada kedua orang itu dengan geram. Dia mengeratkan pegangannya pada stir mobilnya tanpa melepaskan pandangannya ke depan. Rasa cemburu mulai mengisi dirinya.

Tunggu, cemburu? Apa aku cemburu?

Tapi dia malah tertawa mencemooh dirinya sendiri sambil memukul-mukul dengan pelan dadanya.

Berjalannya waktu saat Hana keluar dari mobil Sehun dan sekarang sudah berada di depan pintu apartemennya suasana gelap mulai merayap dan dia merasa lelah dan sangat mengantuk. Tapi rasa senang sedikit mengisi dirinya sajak dia bertemu dengan Sehun. Entah kenapa dia merasa seperti itu, paling tidak ada seseorang yang memperhatikan dia sekarang.

Hana menscroll pada screen ponselnya saat dia mendengar beberapa suara tawa kecil dari arah koridor. Dia mendongak dan melihat dua orang –Baekhyun dan seorang gadis, ‘that’s her’. Saat tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan milik Baekhyun, dia segera memfokuskan lagi pandangannya pada ponsel yang ada di tangannya, menghindari tatapan matanya. Entah kenapa jantungnya masih saja berdegub dengan keras dan hawa panas mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Tapi dia terus mengulang kalimat ‘jangan menoleh, jangan menoleh’ dalam kepalanya.

Tapi sepertinya otak dan tubuhnya tdak bisa bekerja sama dengan baik, alhasil dia menolehkan lagi kepalanya melihat mereka berdua yang berjalan menujunya –menuju arah pintu apartemennya, tanpa menoleh pada Hana dan sepenuhnya mengabaikan keberadaan Hana saat mereka berdua melewatinya. It hurts, so fucking hurt, tapi Hana harus menerimanya, being ignorance.

Sudah cukup, “Baekhyun!” panggil Hana, membuat kedua orang itu menghentikan langkahnya saat mereka sudah berada di depan pintu. Mereka menolehkan kepala mereka pada Hana bersamaan dan Baekhyun memberikan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah, itu sedih, terkejut, marah atau apapun itu, Hana tidak bisa menebaknya. Dan sepertinya gadis yang ada di sampingnya mengerti apa yang akan dilakukan Baekhyun selanjutnya, jadi dia menepuk-nepuk pundak Baekhyun berkali-kali seolah mengerti.

“Baekhyun, noona masuk dulu, okay?” gadis itu mulai menekan tombol pada pintu dan membukanya, kemudian berjalan masuk meninggalkan Baekhyun yang masih mematung.

Hana mulai melangkahkan kakinya menuju kearah Baekhyun dengan tatapan mata yang saling terkunci dengan milik Baekhyun. Tapi, Baekhyun mulai merasakan hal aneh dalam dirinya setiap kali wanita itu semakin mendekat.

Satu langkah

DEG

Dua langkah

DEG  DEG

Jangan membuat masalah, jantung. Berhentilah berdetak begitu cepat.

Tiga langkah

DEG  DEG  DEG

Aish, ada apa denganku?

Sampai akhirnya Hana sudah berada beberapa inci di dekatnya. Hana berdehem, memutus kontak mata mereka sebelum menyapanya, “Hai, Baekhyun.” Dengan senyuman paksa.

Baekhyun terkesiap, “H –hai.” Sapa Baekhyun kembali dengan terbata-bata.

“Maaf, mengganggu momen kalian. Bisa beri waktu sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu.”

Tatapan mata Baekhyun seolah mengatakan ‘silahkan’.

“Okay –“ Hana menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, sebelum meneruskan. “Tentang kejadian di sungai Han, bisa kau lupakan itu? Tolong, lupakan semua hal yang kukatakan saat itu. Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa padamu. Anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi. Anggap saja kita tidak saling mengenal dan –“ Hana mengatakannya dengan kecepatan kereta api ekspress. Dia terengah-engah, sangat membutuhkan udara untuk paru-parunya, entah kenapa napasnya begitu sesak, dan setelah kondisinya kembali normal, dia meneruskan kalimatnya lagi. “Tolong, lupakan semuanya, Baekhyun. Dan jangan menggangguku.” Dia membungkukkan badannya sebelum berkata lagi. “Terima kasih. Selamat tinggal.”

Dengan begitu, Hana segera membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju Apartemennya, dia meraih kembali semua kantong plastik belanjaannya di atas lantai, menekan tombol pintu, membukanya dan sesegera mungkin dia masuk ke dalam.

Baekhyun, masih diam mematung di sana, mencerna semua kalimat yang di katakan oleh Hana dalam otaknya. Tiba-tiba dadanya terasa  begitu sesak.

“Kau jahat sekali. Kenapa kau mengakhiri hal yang baru saja kau mulai, Hana? Aku baru saja ingin menegnalmu, kau tahu?”

***

Setelah melakukan penyelesaian akhir, Hana meregangkan tangan-tangan kurusnya dan menutup Laptopnya, membelai tekstur lembut Macbooknya dengan jari-jari kurusnya, dia mendesah dengan berat dan mengembangkan sebuah senyuman kecil nan tipis. Gemetar dan dipaksakan, tapi jika itu akan membuat otaknya berpikir dia akan hidup bahagia, dia akan tersenyum selamanya.

Lemah dan sedikit pelan, dia berjalan keluar menuju balkon kamarnya dan disambut oleh dinginnya malam, membelai dengan lembut kulitnya layaknya seorang teman lama. Malam begitu cerah disinari dengan bintang-bintang. Mereka berkedip terlalu banyak yang mungkin orang akan berpikir mereka adalah sekawanan anak-anak kecil yang hidup. Saat benaknya berkeliaran mondar-mandir memikirkan bagaimana kehidupan dan bagaimana meneruskannya, angin bagaimanapun menjadi dingin dan sangat mengerikan, dingin sampai menusuk tulang.

Hana menahan air matanya terjatuh. Dia tidak ingin orang lain mengasihaninya. Jadi dia tidak akan membiarkan dirinya lemah. Menarik napas dalam-dalam, dia memundurkan kakinya dan sedikit enggan untuk berpamitan pada bintang-bintang di langit dan bergumam.

“Good night ….. semoga tetap indah selamanya di sana.”

Hopefully, Baekhyun would come to me, soon.

***

Angin kecil semilir menembus di sela-sela jendela kamar membuat lembaran kain gorden meliuk-liuk indah menyambut indahnya pagi. Ditambah sinar mentari  pagi yang menembus ruangan itu. Terlihat sosok tubuh wanita yang masih bergelut dengan selimut warna pastel itu terbaring di atas sebuah tempat tidur yang cukup nyaman. Perlahan wanita itu  menggerakkan bola matanya dan mulai membuka kedua matanya pelan. Sinar matahari pagi yang masuk itu sedikit memasuki iris matanya membuat dia sedikit menyipitkan matanya . dia sedikit menggeliatkan tubuhnya dan enggan untuk turun dari tempat nyaman itu. Tapi tiba-tiba hidungnya bergerak-gerak mengendus aroma yang membuat otaknya langsung bekerja. Aroma pancake rasa vanilla yang menguar melalui udara mulai mengusik perutnya.

Siapa yang pagi-pagi sekali sudah membuat aroma enak seperti ini? Sepertinya tetangganya rajin sekali memulai aktivitas mereka sepagi ini. Tapi aroma ini semakin menyengat dan dia yakin  aroma ini tidak jauh dari tempat dia berada.

Dia mulai turun dari tempat tidurnya, perlahan melangkahkan kakinya dengan hidungnya yang bergerak-gerak mengendus menelusuri  aroma itu. Saat akhirnya dia keluar dari kamarnya tanpa sadar sudah berada di dapurnya, dengan mendapatkan sosok Baekhyun yang berdiri dekat counter dapur mengenakan apron pink  dengan kedua tangan yang memegang piring berisi pancake.

“Hai.” Sapa Baekhyun pada Hana saat dia melihat wanita itu muncul dibingkai pintu. Laki-laki itu meletakkan kedua piring itu di atas meja, melepas apron dari tubuhnya dan melipatnya.

Sementara itu, Hana yang melihatnya terus berjalan menuju kulkas tanpa menghiraukan sapaannya. Dia bermaksud mengabaikan kehadiran Baekhyun seolah laki-laki itu tidak terlihat. Saat Hana tidak memberi respon padanya dan mulai mengambil sebotol air putih dari dalam kulkas, Baekhyun berjalan menghampirinya dan merebut botol itu dari tangan Hana.

I m’ talking to you,” katanya.

I don’t want to talk to you,” Hana merebut lagi botol air dan mulai menuangkannya ke dalam gelas. “Leave me alone.”

Are you mad?” tanyanya, terdengar serius. Sebelum Hana bisa mengatakan sesuatu, laki-laki itu mencondongkan wajahnya untuk melihat pada kedua matanya saat Hana menolak untuk melihat padanya. “Kau terlihat marah. Walaupun aku tidak yakin kenapa kau menjadi marah.”

I have no reason to be mad at you.” Sebenarnya Hana berbohong, berharap laki-laki itu segera pergi meninggalkan dia sendiri tapi Baekhyun hanya mencebikkan bibirnya kecewa.

“Jadi kau benar-benar marah.” Katanya, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hana, meletakkan gelas setelah meminum isinya.

“Apa kau tidak lihat? Aku membuat pancake.” Katanya sambil menunjuk pada makanan yang ada di atas meja.

Hana hanya memutar bola matanya, “Aku tahu itu. Maksudku, kenapa kau lakukan ini? Tidakkah kemarin sudah jelas apa yang kukatakan padamu?”

“Aku hanya ingin membuat sarapan untuk –“

“Jangan menggangguku lagi, Baekhyun,” potongnya sebelum Baekhyun bisa meneruskan kalimatnya. Hana menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan kasar, merasa sedikit kesal. “Kau membuat situasiku semakin sulit, kau tahu?”

“Aku tidak bisa membencimu.”

“Tapi kau juga tidak bisa menyukaiku.”

Baekhyun yang mendengarnya hanya bisa membelalakkan kedua matanya lebar terkejut dan mulutnya menganga tapi tidak mengeluarkan sedikitpun kata-kata dari mulutnya. Entah kenapa kata-kata Hana membuat hatinya seperti tertusuk-tusuk dengan benda tajam. Baekhyun tidak bermaksud begitu. Dia hanya tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.

Aku tidak mengerti perasaanku, Hana. Kumohon, bantu aku untuk mengerti. Tatapan matanya terlihat seperti mengatakan seperti itu.

Mata mereka saling bertemu dalam hening. Beberapa detik yang terasa seperti selamanya mereka habiskan saling menatap satu sama lain. Napas Hana terhenti saat bola mata mereka saling bertatapan tanpa bisa lepas. Wanita itu mulai menyelami apa yang ada dibenak Baekhyun. Tapi sayangnya tidak berhasil, menyisakan rasa sakit dalam hatinya jika dia berlama-lama memandangi kedua matanya.

“Aku tidak akan sarapan denganmu. Kau boleh memakannya sendiri jika kau mau,” Hana akhirnya memutus kontak mata dengannya dan memutar tubuhnya, mulai berjalan beberapa langkah, tapi berhenti untuk sesaat sebelum berkata, “Tolong tutup pintunya kembali saat kau pulang nanti.” Kata Hana tanpa menolehkan kepalanya, mulai melangkahkan kakinya lagi meninggalkan dia sendirian.

Walaupun Baekhyun mendengar suara debaman pintu kamar Hana yang tertutup dengan pelan tapi itu terdengar lebih keras bagi hatinya yang mendengarnya. Dia tidak bisa bergerak untuk sesaat, bingung dan merasa sesak.

***

Hana berpikir sudah berhasil menghindari Byun Baekhyun selama ini, menolak bertatap muka kapanpun dia melihatnya dikoridor apartemen, menolak melihat kearahnya kapanpun dia berjalan ke arahnya. Tapi itu kelihatannya sesulit yang dibayangkan sejak laki-laki itu terus-terusan muncul di sekitar apartemennya. Dan kemunculannya sangat beralasan sejak dia memiliki Taeyeon, lagi pula. Dia adalah orang yang dia sukai, kan?

“Okay, kurasa pasta itu cukup menyedihkan.” Suara Hyejin menggema di sekitar kepalanya sebelum dia merasakan satu tangan seseorang mengambil garpu dari tangannya. Hana melihat pada pasta yang ada di atas piring dengan keadaan yang sudah seperti bubur, hampir karena diacak-acak ratusan kali dan wanita itu mengerang frustrasi, dia menyandarkan punggungnya pada kursi.

Byun Baekhyun tidak hanya mengacaukan hari-harinya, dia juga telah mengacaukan makan siang Hana dengan teman baiknya di Restoran favoritnya tanpa berada di sekitar. Oh God, how i hate that guy.

“Aku tidak ingin menanyakan ini karena ini bukanlah urusanku dan kau tidak mengatakannya setelah kau melakukan pengakuan padaku tempo hari.” Hyejin bicara setelah beberapa saat keheningan, menurunkan garpunya sendiri dan mendiamkan pastanya  sekarang. “Tapi kau bertingkah aneh sejak kau mengatakan ketertarikanmu pada Mr Balcony itu.  Ada apa?”

Hana melihat padanya, benar-benar tahu apa yang terjadi dalam kepala temannya dan pertanyaan apa yang akan ditanyakan padanya. “Tidak ada apa-apa.”

“Itu tidak terlihat tidak apa-apa bagiku,” hyejin ragu-ragu, menyangga dagunya dengan satu tangannya dan menetapa intens pada Hana. “Kau sudah membuat pengakuan padanya?”

“Aku sudah mengatakan dia menyukai gadis lain.” Jawab Hana, memasukkan pasta ke dalam mulutnya dengan rasa tidak berselera. Sebenarnya dia tidak ingin membahas tentang Byun Baekhyun, mendengar namanya saja kepalanya ingin sekali meledak.

“Kurasa bukan itu intinya,” kata Hyejin dengan kepercayaan diri dalam suaranya. “Kau tahu, kau juga cantik.”

Kali ini giliran Hana yang tertawa mengejek. Sebanyak dia menghargai dukungan temannya yang membuat kepercayaan dirinya meroket, dia telah berkaca ribuan kali dan menyadari bahwa dirinya tidaklah cantik dan menarik. Dan pengetahuan itu sudah cukup baginya untuk menyadari bahwa Hana jauh dari tipe ideal Baekhyun. Apa yang harus dibanggakan? Fisiknya saja tidak memenuhi syarat.

“Oh, tidak,” dia melempar asal garpunya diatas piring pastanya, melihat Hyejin dengan tatapan horor, “Aku akan selamanya sendirian dengan ribuan kucing yang mengelilingiku di apartemenku dan hanya kau dan Park Chanyeol lah sebagai temanku –“

“Mwo?” Hyejin mendengus kesal, dia menelan makanannya sekali sebelum makanan itu berakhir di wajah Hana dan meraih kain serbet dan mengelap mulutnya. “Kau bicara apa?”

“Aku terlalu jelek untuk mendapatkan kekasih, kau tahu?” katanya panik, akhirnya menyadarinya. “Not to mention that anyone who would miraculously get interested, will definitely freak out and run away after knowing my sickness.”

Hyejin yang mendengar gerutuan yang tak terduga itu hanya tertawa padanya, duduk dengan menyilangkan kaki bak model dengan kedua tangannya dilipat di depan dada.

“Apanya yang lucu?” tanyanya, memautkan bibirnya, cemberut.

“Pertama, kau tidaklah jelek, Hana,” kata Hyejin dengan suara tenang. “Dan kedua, itu semua tentang kepercayaan diri. Laki-laki suka saat para wanita tahu apa yang mereka inginkan.”

Hana mendesah dengan rasa menyerah, “Well, bahkan aku lebih parah dari itu.”

“Kau hanya butuh sedikit lagi berusaha,” Hyejin mengakui, dia tersenyum meyakinkan, “Oya, bagaimana dengan kencan butamu? Paling tidak ada seseorang yang menyukaimu, kan? Manager Oh.” Sambil menggoyang-goyangkan kedua alisnya, tersenyum menggoda.

“Ya, aku menerimanya.” Hana mengakui, sebelum dia meneguk minumannya karena tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering.

“Paling tidak, kau tahu apa yang akan kau lakukan.” Tambah Hyejin lagi.

Good afternoon, Ladies~” tiba-tiba saja Chanyeol datang menyapa mereka. Hana tidak menyadari kapan laki-laki bertelinga lebar itu memasuki tempat itu. Laki-laki itu tersenyum lebar pada mereka berdua sebelum mendaratkan sebuah ciuman singkat pada bibir istrinya a.k.a teman baiknya. Aish, PDA everywhere, pikir Hana, memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa malu pada kelakuan suami istri di depannya.

Hyejin yang melihat reaksi Hana hanya cekikikan dan berkata, “Kau iri melihat kami,kan? Maka dari itu menikahlah dengan Mr. Oh atau Mr. Balcony mu itu, Hana.”

Hana yang mendengarnya hanya memutar bola matanya, “Jangan sebut nama merek di sini, maukan?” gerutu Hana, mencebikkan bibirnya  kesal.

“Kenapa?” tanya Hyejin, cekikikan.

“Ommo! Ommo! Apa aku melewatkan sesuatu? Siapa Mr. Balcony itu?” Chanyeol, yang sudah duduk di samping Hyejin mendengar pembicaraan mereka berdua, mulai bergabung.

“Apa?!” seru Hana.

“Kau tadi menyebut Mr Balcony. Siapa dia?” tanya Chanyeol ingin tahu.

Nobody.” Jawab Hana singkat.

“Seseorang yang membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan dan membuat dirinya kacau beberapa hari ini, Honey.” Bisik Hyejin pada Chanyeol, tapi bisikan itu  masih terdengar jelas ditelinga Hana, membuat wanita itu jengah.

“Sebaiknya aku pergi dari sini.” Hana mulai berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari meja mereka.

“Yah! Hana, kau mau ke mana?” teriak Hyejin pada wanita itu  yang mulai meninggalkan mereka.

“Aku mau ke kamar kecil sebentar. Mendengar pembicaraan kalian membuat kepalaku rasanya ingin pecah.” Kata Hana dengan suara yang sedikit keras agar didengar oleh keduanya.

Come back soon, okay?” teriak Hyejin padanya yang dibalas dengan menaikkan ibu jarinya keatas tanpa menolehkan kepalanya, berjalan menjauh.

Hyejin memandangi punggung Hana sampai tak terlihat. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi dan mendesah dengan berat. Chanyeol yang melihat reaksi khawatir yang terplester di wajah Hyejin membuat menautkan kedua alisnya, penasaran. “Apa dia ada masalah?”

Hyejin hanya mendesah lagi, menganggukkan kepalanya dengan pelan, “I guess so.” Katanya.

“Masalah pekerjaan?” tanya Chanyeol, dijawab dengan menggelengkan kepalanya, “Apa ini karena Mr Balcony itu?” tanyanya lagi. Dan lagi di jawab dengan menganggukkan kepala. “Aku jadi penasaran siapa Mr Balcony itu.”

“Jangan tanyakan soal itu, dia sangat sensitiv sekarang.” Saran Hyejin pada Chanyeol.

“Aku tahu.

Mereka berdua berbincang-bincang tentang pekerjaan mereka dan mulai beradu argumen tanpa arti tentang siapa salah satu dari mereka yang sangat sibuk sekali. Chanyeol melihat seorang laki-laki yang sangat dikenalinya baru saja memasuki Restoran, dan Hyejin yang berada di sampingnya menoleh ke arah yang sama. Chanyeol terlihat mengembangkan senyuman lebar di wajahnya seolah telah melihat belahan jiwanya yang sudah lama tidak bertemu. Tanpa ragu lagi dia memanggil laki-laki itu dengan nada suara yang sedikit keras, membuat beberapa orang melihat ke arahnya, termasuk laki-laki tersebut.

“Baekhyun!” panggil Chanyeol.

Tapi kelihatannya laki-laki itu terlihat bingung dan melihat sekeliling jadi Chanyeol menaikkan satu tangannya untuk mendapatkan perhatiannya.

Baekhyun langsung melihat ke arahnya dan tersenyum cerah sebelum berjalan ke arah mereka. Saat dia hampir mencapai meja mereka, Hyejin hampir tersedak karena minumannya saat menyadari orang tersebut adalah orang yang familiar baginya.

Chanyeol yang melihat reaksi wanitanya yang sedang tersedak segera menepuk-nepuk dengan pelan punggungnya, menenangkannya. Setelah situasi menjadi normal, Baekhyun diberikan sebuah pelukan oleh Chanyeol, “Hai, Bro.” Sapanya, masih berpelukan dan menepuk-nepuk punggung dengan pelan.

What’s up, Man,” Baekhyun balas menyapa, mulai melepaskan pelukan mereka. “Bagaimana kabarmu?” tanya Baekhyun pada Chanyeol setelah mereka mendudukkan diri mereka pada kursi.

“Seperti yang kau lihat sekarang. I absolutely am fine, Bro.” Jawabnya dengan cengiran kuda, Baekhyun tersenyum dan mengalihkan pandangan matanya pada seorang wanita di samping Chanyeol.

“Siapa dia?” tanya Baekhyun, sedikit penasaran.

“Oh, sorry, aku lupa memperkenalkannya.” Dia bergerak ke samping sedikit meninggalkan pusat perhatiannya. “Ini Hyejin, istriku. Dan Hyejin, ini Byun Baekhyun. Dia teman sekolah menengahku dulu.” Jelas Chanyeol panjang lebar.

“Annyeong haseo.” Sapa Baekhyun pada wanita itu.

Chanyeol yang melihat wajah bengong istrinya dan tidak membalas sapaan Baekhyun, laki-laki itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya sebelum mengerutkan wajahnya dengan rasa jengkel, membuat wanita itu terkesiap dari pikirannya.

“Oh, annyeong haseo, Sa Jang nim.” Katanya, sedikit membungkukkan badannya.

“Wah, kalian saling mengenal?” Chanyeol melempar tatapannya pada Hyejin dan beralih pada Baekhyun bergantian.

Hyejin mencondongkan tubuhnya kesamping berserta wajahnya untuk membisikkan sesuatu di telinga Chanyeol. “Dia adalah CEO di perusahaan kami, Honey.” Dengan suara pelan sekali, hampir tak terdengar, sementara laki-laki tinggi itu hanya membelalakkan matanya lebar, terkejut dan bicara tanpa bersuara, ‘jjinja?’ pada wanita itu dan Hyejin membalasnya dengan menganggukkan kepalanya pelan.

Chanyeol menolehkan kepalanya berfokus lagi pada Baekhyun sebelum berkata, “Benarkah kau CEO muda itu?”

“Istrimu adalah Sekertaris sepupuku, Chan. Dan kebetulan beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya di meeting.” Kata Baekhyun, tersenyum. “Sebenarnya, itu pertama kali aku bertemu dengan Nyonya –Park.”

Chanyeol hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti. Mereka mulai menghabiskan momen mereka dengan berbincang-bincang tentang kehidupan mereka. Chanyeol yang mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Hyejin waktu pertama kali sampai mereka menjadi suami istri sementara Baekhyun menceritakan kehidupannya saat dia menempuh kuliahnya di luar negeri, bekerja keras hingga dia menjadi seorang CEO di perusahaan Ayahnya sendiri sampai saat ini. Sepertinya percakapan mereka menyenangkan sampai menimbulkan gelak tawa diantara mereka.

Disaat ekor mata Chanyeol melihat sosok Hana dari kejauhan yang berjalan menuju meja mereka, dia berseru pada wanita itu, “Hana!” seru Chanyeol, sambil memberi gestur dengan tangannya untuk mendekat.

Hana melihat gestur itu, segera dia mempercepat langkahnya menuju meja mereka, tapi tiba-tiba menghentikan langkahnya langsung saat dia mendapatkan sosok Baekhyun diantara temannya. “Kenapa bisa dia ada di situ?” sementara Baekhyun yang tidak sengaja melihat Hana pun tak kalah terkejutnya, dan menghentikan tawanya seketika.

 

TBC

 

Huff! Panjang dan mungkin membosankan. Apa kalian mengantuk selama membacanya? Hehe… mungkin. Entahlah, kenapa cerita ini semakin lama semakin absurd, seperti authornya, wkwkwkwk…… LOL, okay, that’s enough. Ditunggu komentarnya ya…. thank you…..

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

32 thoughts on “Mr Balcony |Chapter 4

      1. Dan disaat sudah complete kenapa jadi runyam kak??
        Duduuduhh baek kau semakin membuat penasaran?!
        Oke kak, nie belum ada moment baekna. So, aku bingung mau coment apa?? Hahhaa tp cerita’nya good n’ kg bikin ngantuk juga, krna aku baca’nya sangat pagi2 sekali *kg nanya* oke abaikn yg itu kkkk~ seperti kata mu, moment baekna susah carii jadi aku juga belum bisa meresapi/apalah ini/ #AbaikanLagii -_-
        So, thank you so much for always tag :* :* :* *cipok basah kak J* hahhaa..

        Like

  1. Itu yg terakhir si baekhyun kan kak? haduh rindu deh sama bebek. Jd Baekhyun bener2 ngindarin si Hana 😟 . Haa kapan bebek ketemu sama Hana nya kak?

    Like

  2. Ahhh seneng nyaaa walaupun unfinished tapi sangat kehibur sama couple hanna sehunie merekaa ituuu lucuu dehhh jadiin couple lahh dari pada sama baekhyun maka ati 😂😂😂 semogaa cepetan di selesaikann semangat author 😍😍😚

    Like

  3. Sedihnyaaaaa,,,, hana nerima sehun???? 😦

    Maunya sama baekkkkkk
    baek baek baek
    🙂

    Ah baekk…

    Knpa ada tae siihhhhh
    Baek
    Baek
    MAUNYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA SAAAAAAAAAAAAAAMAAAAAAAAAAAAA
    BAEKHYUNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN

    KAK PJ,,,, HUWAHHH

    AKU TAU INI BLM BERAKHIR 🙂

    Like

  4. Dunia perff an kecil sekali sampe2 baek ada di mana2, blom lagi klo Hana tau baek sepupu sehun -,-
    Aku juga ikutan seneng waktu momen Hana sama sehun di mobil, kebayang muka bahagianya sehun waktu Hana nerima kencan buta mereka :3
    Well moga berakhir bahagia deh buat Hana, tapi nama seseorang yg secara tidak langsung terlibat masih bikin baper, keflashback terus2 an jadinya hiks
    Fighting ne, thanks udah ngetag… ^^

    Like

  5. Kenapa baekhyun ada di mana? Please biarkan Hana hidup tenang, 😭
    Seneng banget sih si sehun karna Hana nerima kencan buta mereka, kebayang sih muka2 bahagianya dia gimana hihihi… Peyuk sini peyuk/?
    Ciee baek cemburu cieee uhuk uhuk wkwkwk
    Ngomong aja sih baek ke Hana soal permasalahan hati mu yg nggak jelas, Hana aja udah nyoba masa kamu nggak/? *apa ini
    Kasian sih Hana, moga endingnya bahagia deh buat si Hana, buat cast yg lain terserah pada mu lah mau dibikin gimana buat mereka aku manut aja, tapi please buat Hana bahagia, sama sehun juga gk papa aku ikhlas kok suka aja gitu momen mereka so sweet so sweet gimana gitu hehe 😳
    Makasih loh udah ngetag, fighting yaaa
    *ini komenan ke dua gk tau deh yg pertaman ke sand apa ngk 😭

    Like

  6. Wae? Aq nemu baekhyun krg tegas di chapter ini. Maka.a jgn ngejar2 Taeng mulu Baek. Jemarimu yg lentik trlalu kecil utk menggenggam 2 wanita sekaligus/ hahaha bahasa apa pula ini/ aq suka hana.a tegas,tp kyk.a tetep bakal goyah nih, kasian ntar sehunnya ditarik ulur/ oke, fighting noona 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s