The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 10b

tumblr_mw3pxqxPc51sv213vo1_500

 

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 10b)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

 

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/10/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

Previous

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 10b!

            Three Cheers For Reality

 

Kalian berdua sedang berjalan di koridor kembali ke ruanganmu (Baekhyun suka tinggal dan berkumpul bersama denganmu setelah jadwal kelas kalian selesai). Baekhyun tidak pernah menggandeng tanganmu di tempat umum kecuali kau terlebih dahulu yang mengambil inisiativ, dan kau sering melakukan itu, mengaitkan jari-jarinya dengan milikmu dengan malu-malu. Tapi hari ini, kau hanya berjalan di sampingnya dengan bibirmu yang tertutup rapat dan kau tetap membiarkan kedua tanganmu. Kau juga tidak banyak bicara. Sebenarnya, dia tidak bicara apapun lebih dari, ‘tarianmu terlihat lebih baik sekarang’, saat dia menjemputmu di Studio tari malam ini lebih awal.

Deklarasi cintanya  Chanyeol kepada temanmu benar-benar mengusikmu. Itu bukanlah kata yang kau takutkan –bahwa satu kata yang berisi perasaan yang lebih serius dan komitmen yang lebih dalam ketimbang satu kata sederhana ‘suka’ atau ‘peduli’. Itu lebih seperti kau tidak tahu apakah kau harus mengatakannya sekarang atau menunggu beberapa hari lagi –atau bertahun-tahun, jika kau harus –melakukan dan mengatakan itu padanya. Kau juga tidak ingin menjadi orang yang mengatakannya terlebih dahulu. Well, lebih dari fakta kau memiliki begitu banyak ego untuk itu, kau juga berpikir bahwa pria itu harus menjadi orang yang mengutarakan cinta mereka terlebih dahulu. Masalahnya adalah, Baekhyun selalu saja tidak cocok dengan kategori pria pada umumnya. Kalian berdua telah bersama-sama hampir 10 bulan dari sekarang, apa itu terlalu cepat bagi kalian berdua sebenarnya untuk menukar kata-kata ‘i love you’? jika begitu, lalu kapan waktu yang tepat? Apa dia akan membalas mengatakannya jika kau mengatakannya terlebih dahulu?

Pertanyaan-pertanyaan itu menakutkanmu.

Kalian berdua tidak pernah saling mengatakan sepatah katapun  sampai kalian berdua tiba di ruanganmu. Kau membuka pintumu, merasakan tangan-tanganmu yang sedikit gemetar dalam proses, dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam seperti biasanya. Hanya saja kali ini, Baekhyun masih berdiri dan menggaruk tengkuknya dengan jari-jari panjangnya.

“Kurasa aku akan kembali ke kamarku sendiri saja malam ini,” kata Baekhyun, benar-benar tidak melihat pada kedua matamu. “Aku, uhh ….” dia berdehem dengan canggung. “Aku ada …. sesuatu untuk dikerjakan.”

“Oh, umm …..” kau sedikit terbata-bata juga. “Okay kalau begitu, sampai jumpa besok?”

Baekhyun memberikan sebuah anggukan lemah dan dia mencondong lebih dekat untuk memberimu satu kecupan, ciuman sederhana di bibir –seperti halnya yang selalu kalian lakukan sebelum kau berpisah. Tapi di saat dia hanya beberapa inci dari bibirmu, dia berhenti dan malah mengarah pada pipimu.

“Good night,” katanya, tidak lebih dari sebuah bisikan napas. Kau merasakan sesuatu menyentak tidak nyaman dalam dadamu, tapi kau putuskan untuk menyimpannya sendiri dan hanya mengulang kata-kata yang sama yang baru saja dia katakan.

Baekhyun tidak tersenyum –bahkan dia tidak melihat padamu, dan hanya berjalan menjauh, melangkah dengan langkah ragu-ragu pada waktu yang bersamaan. Kau menyadari kedua matamu mengikuti kehadirannya dan kau gelengkan kepalamu kembali fokus pada dirimu dan perasaanmu sendiri.

“Sebenarnya, tunggu,” kata Baekhyun tiba-tiba, berbalik dan buru-buru kembali menemuimu tepat di depan pintumu lagi. Kau menarik napas dengan tajam, sedikit gugup, tapi membalas memandangnya, bersyukur bahwa sekarang dia melihat ke dalam matamu. “Kita tidak harus mengatakannya, kan?” tanyanya, dan kau sedikit bingung apa yang dia maksud dengan ‘nya’, tapi kemudian kau sadar dia sedang membicarakan tentang hal yang sama yang telah menembus benakmu: kata-kata ‘ i love you’.

“Maksudku, lagi pula kata-kata itu kuno sekali,” kata Baekhyun, memaksa tertawa. “Di samping itu, kita sudah tahu bagaimana kita saling merasakan satu sama lain. Tidak harus didiskripsikannya dengan keras.”

Inilah yang kau katakan dalam benakmu: Tidak, aku tidak tahu bagaimana yang kau rasakan tentangku. Apa kau pedulu sebanyak aku peduli padamu? Apa kau menyukaiku sebanyak aku menyukaimu? Apa kau hanya mencintaiku sebanyak aku mencintaimu?

Inilah yang kau katakan dengan keras: “Tentu, lagipula kata-kata itu kuno. Maksudku, memang kita apa, Romeo and Juliet? Please.”

Itulah pertama kalinya kau menyadari betapa menyakitkannya untuk berpura-pura tertawa saat hatimu merasa sakit.

“Yeah, kau benar,” jawab Baekhyun dan dia tersenyum dengan asli kali ini. Dia terlihat benar-benar lega bahwa kau tidak mengharapkan dia mengatakan kata-kata itu. Kenyataan bahkan lebih menyakitimu. “Aku senang kau berpikiran sama denganku.”

Tidak. Aku ingin kau mengatakan padaku kau mencintaiku. Aku ingin kau meyakinkan aku itu, seperti halnya bagaimana kau memintaku untuk tinggal pada saat itu.

“Saling sempurna, bukankah kita begitu?” katamu, terus menerus tersenyum palsu sampai tulang-tulang pipimu terasa sakit.

Baekhyun membalas tersenyum dan kali ini, dia benar-benar mencium dengan benar di mulutmu. Sebenarnya kau bisa merasakan bagaimana dia bersyukur karena sikapmu dengan setiap sentuhan di bibirnya. Kau tidak menikmati ciuman sama sekali.

“Mimpikan aku malam ini,” katanya, mengirimimu satu kerlingan setelah mencium ujung hidungmu dengan jenaka.

Kau tersenyum lagi dan melambaikan tanganmu saat dia mundur dan pergi ke kamarnya sendiri.

Senyuman tidak bertahan lebih lama tapi rasa sakit dalam dadamu tetap ada bahkan disaat kau jatuh tertidur di alam mimpimu.

***

Dua hari kemudian, Luhan datang mengetuk pintu kamarmu. Sekitar sore hari, dan Baekhyun belum di sana karena dia masih ada latihan untuk performnya dan dia mengatakan padamu untuk tidak menunggunya, jadi kau lakukan apa yang dia minta. Kau baru saja pulang dari latihan tarimu sendiri dan baru saja tiba di kamarmu saat Luhan mengetuk pintumu.

“Luhan oppa?” kau naikkan sebelah alismu saat laki-laki berambut pink itu berdiri dengan lemah di depanmu. Kedua pundaknya merosot, dan walaupun menarik sebuah senyuman kecil di bibirnya, kedua matanya tidak terdapat kebahagiaan di dalamnya. Luhan selalu ceria dan easy-going. Pada beberapa pertemuan, dia sering berubah-ubah mood, tapi pada dasarnya Luhan hanyalah seorang laki-laki yang ceria, dan semacam laki-laki yang tidak pernah peduli pada dunia, jadi melihatnya seperti hidupnya baru saja terhisap keluar dari tubuhnya sedikit membuat gugup dan bingung.

“Bisa kita bicara?” tanyanya kemudian dia menggelengkan kepalanya dan memberi senyuman rentan. “Atau lebih seperti,  maukah kau mendengar? Aku harus mengeluarkan ini dari dalam dadaku dan kau satu-satunya orang yang bisa kupikirkan  saat itu.”

“T –tentu,” jawabmu, membiarkan dia masuk ke dalam kamarmu. Dia duduk di atas sofa coklat, kecil dan kau duduk dengan diam di sampingnya.

“Apa yang terjadi?” tanyamu, wajah khawatir.

“Cinta itu menyebalkan. Itulah yang terjadi.” Luhan mendesah. “Kenapa aku harus jatuh cinta padanya disaat ada begitu banyak gadis-gadis di luar sana yang berkeinginan akan mengorbankan apapun untukku?”

Kau akan mendengus pada kata-katanya jika dia tidak terlihat sesakit dia sekarang. Kau tahu batasan-batasanmu. “Gadis Aljabar? Maaf untuk mengatakan ini, tapi kupikir kau tidak mencintai dia, Oppa. Kau hanya memiliki rasa suka yang besar padanya. Ada perbedaan.”

Sebenarnya dia tertawa, tapi dipenuhi dengan sarkas dan kemarahan. “Kau selalu berpikir aku hanya melihatnya karena aku menginginkan dia begitu, huh? Kau pikir aku hanya akan melupakannya setelah aku mendapatkan kesempatan tidur dengannya?”

“Apa aku salah?” tanyamu, dan dia menghembuskan napasnya dengan keras, terdengar seolah dia lelah secara mental seperti fisiknya.

“Katamu,” kata Luhan, memejamkan kedua matanya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Kau tahu, saat aku sendirian, semua yang bisa kupikirkan adalah tentang dia. Dan mungkin, kau berpikir yang benar-benar aku cari adalah tubuhnya, tapi bukan itu. Karena aku baru saja menyadari bahwa saat kupejamkan mataku seperti ini, hal pertama yang muncul dalam benakku adalah cara dia tertawa saat temannya baru saja menceritakan cerita lucu padanya. Ada kerutan-kerutan lucu di kedua ujung matanya saat dia tersenyum. Dan aku juga melihat bagaimana dia suka menggigit ujung tutup penanya saat dia memikirkan sesuatu untuk dituliskan di bukunya. Dan kadang-kadang, saat dia menulis di notepadnya, dia akan menautkan kedua alisnya sampai dia menyadari hal-hal yang telah dia lewatkan dan kemudian memujinya sendiri untuk itu. Apa kau tahu dia suka menaikkan rambutnya? Meski, tidak setiap hari. Hanya pada hari selasa, kamis, dan kadang-kadang di hari jumat tapi hanya jika dia merasa ingin memakai sneaker merah.”

Kau mengerjap beberapa kali tidak percaya. Apa dia baru saja mengatakan semua itu dengan serius?

“Aku bicara padanya hari ini. Kali ini dengan baik-baik,” kata Luhan, membuka kedua matanya tapi membiarkan setengah terpejam saat dia menatap langit-langit. “Aku mengajaknya keluar denganku. Dengan dasar hanya mengatakan padanya betapa cantiknya hari ini –seperti hari-hari yang lainnya –memintanya dengan normal –tidak ada trik, trik yang cheesy, trik yang dramatisir kali ini. Dan dia tersenyum saat kujelaskan padanya tentang rambutku: bagaimana aku mewarnai rambutku pink agar dia bisa melihatku. Katanya aku adalah seorang idiot.”

“Kau adalah seorang idiot,” katamu, tersenyum bergurau walaupun kedua matamu lebih dari rasa simpati pada kata-katanya.

Luhan tidak menaruh semacam reaksi apapun. Dia hanya meneruskan bicara dengan kilauan sedih di kedua matanya. “Aku katakan padanya aku menyukainya, dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar tidak terlihat jijik karena pengakuanku dan malah mengatakan terima kasih. Aku terkejut, jujur saja. Dan kupikir akhirnya aku punya kesempatan dengannya. Tapi kemudian dia menolak ajakanku dan mengatakan dia tidak bisa pergi denganku. Aku memintanya untuk memberiku kesempatan dan mencoba, dan aku berjanji padanya aku tidak akan mengecewakannya, tapi dia tetap mengatakan tidak. Kau tahu kenapa?”

Meskipun Luhan mengharapkan sebuah jawaban, kau tetap diam dalam keheningan. Ini merasa salah untuk bicara kali ini seperti ini. Kau takut kau mungkin akan mengatakan sesuatu yang tanpa sengaja akan menyinggungnya dan mematahkan hatinya berkeping-keping. Dia sudah terlihat begitu patah saat ini.”

Dan cukup meyakinkan, dia meneruskan kata-katanya tanpa menunggu sebuah jawaban.

“Katanya dia menyukai orang lain,” katanya, menghembuskan napasnya dengan berat pada kalimatnya. “Katanya ada orang lain jadi itu tidak akan baik untuk memberiku harapan seperti itu karena dia tahu itu tidak akan berhasil pada akhirnya. Aku kesal, sungguh, tapi kemudian rasa penasaran –dan rasa cemburu, mungkin –mengambil alihku dan kutanya namanya. Dia sedikit ragu, tapi mungkin dia sadar bahwa aku hanya akan mengomel padanya soal nama, jadi dia menyerah dan menyatakan dua kata yang terasa begitu familiar di telingaku.”

Kau punya satu tebakan, dan kau berharap itu tidak benar.

Kim Minseok,” Luhan mengaku, rahangnya mengeras sedikit saat dia mengatakannya. “Dia jatuh cinta dengan Minseok. Dengan Baozi. Teman baikku sendiri.

Kau ingin meraih dan menggenggam tangannya hanya untuk menghiburnya, tapi kau tidak melakukannya karena Luhan mengepalkan kedua tangannya. Kedua tangannya sedikit bergetar, mungkin karena amarah yang coba dia simpan sendiri.

“Ini seperti sebuah lelucon.” Luhan tertawa kecil, keras tanpa ada kelucuan di dalamnya. “Dan bahkan tidak lucu. Ini menyedihkan. Bukan karena dia jatuh cinta dengan teman baikku, tapi karena Minseok sudah memiliki gadisnya dan aku tahu berapa banyak dia mencintai kekasihnya, jadi tidak ada kesempatan untuknya, sungguh. Dan bahkan, dia masih tidak ingin memberiku kesempatan untuk mengisi kekosongan karena dia mencintainya begitu banyak. Ini satu lelucon yang mengerikan.

Jujur kau tidak tahu apa yang harus dikatakan. Mungkin kau hanya benar-benar tidak harus mengatakan apa-apa. Kadang-kadang, apa yang seseorang butuhkan hanyalah seorang teman yang mendengarkan masalahnya. Jadi itulah yang kau lakukan saat ini: menjadi seorang teman.

“Baozi dan aku lulus lima bulan lagi,” jelas Luhan, suaranya sedikit bergetar. “Kelulusanku sudah diambang pintu dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan setelah itu. Baozi, bahkan, telah merencanakan segalanya. Katanya dia akan melamar sesegera di mendapatkan pekerjaan yang layak. Katanya dia sudah siap. Menikah dan berkomitmen dengan satu gadis seumur hidupnya. Memiliki anak dan mengajari mereka bagaimana berhitung dan membaca. Dan aku –“ Luhan tiba-tiba saja menendang meja yang terletak di depan sofamu, dan kau melompat ditempat dudukmu. Suara detakan jantungmu yang cepat terdengar di kedua telingamu saat Luhan berteriak pada kedua tangannya. “Aku tidak mendapatkan apapun dan juga dia!”

Itulah saat kedua pundak Luhan mulai bergetar dalam rasa marah, kesedihan dan rasa kecewa kau memberanikan dirimu untuk memeluknya dari samping. Kau tidak bicara apapun kecuali memeluknya sampai napasnya tenang.

“Aku benar-benar peduli padanya, bisa kau percaya?” tanya Luhan, kedua tangannya meredam suaranya saat dia membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya. “Itu menyakitiku  berpikir aku  tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Segalanya diluar jangkauanku. Apa yang harus kulakukan?”

Kau tidak bisa mengatakan bakwa kau tidak terkejut mendengarnya mengutamakan kebutuhan gadis itu dibanding miliknya. Luhan sedikit peduli pada diri sendiri kebanyakan waktu, walaupun iya, dia adalah tipe orang yang peduli tapi hanya orang-orang terdekat dan cukup penting baginya. Mungkin dia benar-benar mencintai gadis itu.

Saat Luhan terus mencurahkan hatinya, kau terlarut dalam pikiranmu sendiri. Ada satu hal yang bisa kau ambil dari insiden Luhan –Gadis Aljabar ini:

Mengatakan ‘ i love you’ tidak selalu berarti kau akan mendapatkan balasan kembali.

Dan saat kau berpikir lagi dan lagi tentang Baekhyun, kau menjadi ingin tahu apakah dia akan membalas  mengatakannya.

***

Baekhyun berunjung ke ruanganmu baru 20 menit kemudian setelah Luhan pergi. Dia terlihat lelah secara fisik, tapi kedua matanya bersinar dengan riang dan gembira. Disaat dia membuka pintumu dengan kuncinya sendiri, dia meneriakkan kata-kata “coba tebak  siapa yang baru saja terpaku gladi bersih hari ini?” dengan semangat tinggi.

“Kau?” katamu, tersenyum dengan lemah saat dia menarikmu kedalam pelukannya dan mencium puncak kepalamu.

“Yep,” katanya, tersenyum lebar. “Kau akan datang ke konserku minggu ini, kan? Janji kau akan datang! Janji, janji, janji padaku kau akan datang!”

Kali ini, saat kau membiarkan bibirmu melengkung keatas, sungguh tidak membutuhkan dukungan banyak karena melihat Baekhyun melompat-lompat dengan gembira seperti anak berumur –lima –tahun sungguh menggemaskan. “Tentu, aku akan datang.”

“Pinkie promise?” tanyanya, menaikkan jari kecilnya.

Kau mengaitkannya dengan milikmu. “Pinkie promise.”

Cara Baekhyun senang padamu hampir secara harfiah terlalu mempesona untuk dilihat. Dia tidak pernah terlihat sesenang hari ini, jadi sesuatu yang sungguh baik pasti telah terjadi pada rehearsalnya. Melihat bagaimana dia dalam mood yang bagus, kau hanya tidak bisa menampung perasaanmu lagi dan hanya bicara tanpa berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan yang telah mengusikmu sejak Luhan datang ke ruanganmu.

“Baekhyun,” kau memulai, sedikit ragu tapi masih mencoba untuk meneruskannya. “Bisa kita ….bicara sebentar?”

“Tentu ~” jawab Baekhyun, melepas jaketnya dan meletakkannya di atas sofa, hanya di samping tasnya. “Ada apa?”

“Aku ingin –“ tiba-tiba saja tenggorokanmu terasa seperti terbakar. “Aku ingin bicara tentang kita.”

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya penasaran, tapi menggoyang-goyangkannya, menyeringai. “Apa ini tentang hadiahku karena terpaku rehearsal hari ini? Aku memilih untuk shower sex lagi, karena terakhir kali kita melakukannya, menakjubkan dan –“

“Tidak,” potongmu, terlihat benar-benar serius sampai Baekhyun menautkan kedua alisnya padamu. “Tidak, bukan itu. Aku ingin bicara tentang kita. Tentang hubungan kita.”

“Err …okay,” gumam Baekhyun. Satu alisnya sedikit naik lebih tinggi dari yang satunya. “Tentang apa?”

Napasmu tercekat ditenggorokanmu dan kau memberanikan dirimu. Situasi semacam ini adalah sekarang –atau –tidak sama sekali. Jika dia layak atas waktumu, dia akan tinggal. Dia tidak akan melarikan diri. Jika dia orangnya, ini akan membuat segalanya lebih jelas dan lebih mudah.

Tapi jika tidak, lalu ….

“Sweet heart?” panggil Baekhyun dan kau mengerjapkan kedua matamu dua kali, sadar bahwa kau baru saja terlarut dalam pikiranmu sendiri. “Hay, kau baik-baik saja?”

“Aku ….aku baik-baik saja, hanya …” kau tertawa gemetar karena gugup. “Ini sedikit rumit untuk ditanyakan.”

Dahi Baekhyun mengerut. “Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

“Tidak,” jawabmu, langsung menggelengkan kepalamu. “Bukan itu. Ini ….ini hanya pertanyaan yang berdasarkan rasa penasaran, okay, Baekhyun? Aku tidak mencoba untuk memulai pertengkaran, atau mencoba menakutimu dengan apa yang akan kukatakan, ini hanya …”

“Apa yang coba kau katakan?”

“Okay, begini ….” kau menarik napas dalam-dalam untuk beberapa kali. “Baekhyun, kau tahu kita tidak berada di sekolah menengah lagi, kan?”

“Err……” Baekhyun memandangmu dengan canggung. “Yeah, tentu saja.”

“Kita sudah dewasa. Hubungan kita –ini, maksudku –bukanlah sebuah permainan bagiku. Aku tidak mengencanimu hanya untuk bersenang-senang, atau untuk seks, a –atau hanya jadi aku bisa memiliki sebuah kencan untuk pesta penyambutan.” Kau mencoba begitu keras untuk tidak gagap atau merona dibawah tekanan pandangan matanya. “Aku hanya ingin tahu apakah kau seserius aku dalam hubungan kita.”

Dia sedikit menjadi tegang saat realisasi jatuh padanya. “Komitmen,” dia menghembuskan napas, “Kau ingin bicara tentang komitmen.”

“Ya,” kau membenarkan, menatap kembali pada kedua matanya yang tertutup hoody, “Aku tahu, kau takut pada –“

Takut?” ulang Baekhyun, mencemooh dengan keras membuatmu tersentak. “Aku tidak takut, aku hanya  tidak berpikir itu perlu untuk dibicarakan. Jika kau meminta berkomitmen denganmu, tidakkah kau pikir ini sedikit terlambat sekali untuk itu? Kita sudah berkencan hampir, aku tidak tahu, setahun dari sekarang, dan melalui semua ini, apa kau pernah melihatku berselingkuh? Apa kau pernah melihatku melihat gadis lain?”

“Tidak.” Kau anggukkan kepalamu dengan halus. “Dan aku bersyukur untuk itu, tapi –“

“Apa lagi yang kau inginkan?” nada suara Baekhyun tajam dan sedikit tidak berperasaan. “Kita berkencan dan aku tidak berselingkuh darimu, bukankah itu bagian paling penting disini?” dia jengkel dengan topik ini, kau mengerti itu, tapi kau hanya tidak bisa membiarkan ini. Tidak sekarang, tidak disaat kau sudah sejauh ini.

“Kau pikir begitu saja?” tanyamu, mengambil nada suara yang sama. “Kau pikir bahwa karena tidak ada diantara kita yang selingkuh, hubungan kita baik-baik saja?”

Dia menghembuskan udara, terlihat sedikit tidak senang dengan percakapan ini. “Itulah tujuanmu, bukan?”

“Kau mengatakan seolah tidak ada perasaan di dalamnya.”

“Tentu saja ada perasaan di dalamnya,” katanya, berani memutar bola matanya padamu. “Jelas sekali, aku tidak berselingkuh darimu karena aku tidak ingin menyakitimu.”

“Oh? Jadi, jika kau kuberi ijin untuk berselingkuh, kau akan melakukan itu untukku? Jika aku meyakinkan kamu bahwa aku tidak sakit walaupun kau berselingkuh atau tidak, kau hanya akan mengatakan, okay, bagus, sekarang kita bisa tidur dengan orang lain dan saling berkencan. Itukah yang ingin coba kau katakan?”

Kedua mata Baekhyun berkilauan dalam rasa benci. Baekhyun tidak pernah ingin kalah dalam berdebat, jadi saat dia mengedikan bahunya dan berkata dengan tenang, “Tentu saja,” aku tidaklah terkejut, walaupun itu masih sangat menyakitimu.

Jadi kau membentak.

“Lihatlah sekelilingmu, Baek!” kau hampir menghentakkan kakimu dengan amarah. “Milikmu ada dimana-mana daalam kamarku. Aku pergi ke kamar mandi, kulihat sikat gigimu ada disamping milikku. Kubuka lemari, kulihat pakaianmu. Aku duduk di sofa, kulihat kertas-kertas musikmu berserakan di atas meja. Dan aku bisa mencium aromamu di setiap sudut tempat tidurku karena betapa seringnya kau menghabiskan malam di sini dan bukan di kamarmu sendiri. Jika hubungan kita sedangkal itu, menurutmu kenapa semua ini terjadi?”

Baekhyun melarikan pandangan matanya dari sisi ruangan ke sisi lainnya, meneliti barang-barangnya untuk membuktikan apa yang baru saja kau katakan. Dia terlihat mematung dan sedikit gugup saat dia menyadari bahwa kau benar, tapi lebih dari itu, dia terlihat seperti dia sedang panik.

Tapi kau tidak berhenti bicara. “Kenapa kau merawatku saat aku sakit, Baekhyun? Kenapa kau tetap menanyakanku pertanyaan tentangku? Kenapa kau suka menyelinap ke kamarku untuk melihatku tidur? Jika kau pikir hubungan kita tidak berarti apa-apa bagimu ketimbang apa yang baru saja kau katakan, kemudian coba dan jelaskan itu.”

Baekhyun terlihat susah bernapas. Kedua matanya bergerak-gerak berulang-ulang, karena mencari milikmu  untuk melihat sekelilingnya. Bibirnya sedikit terbuka dan jika ruangan tidak sedingin ini malam itu, akan ada butiran-butiran keringat terbentuk di keningnya.

Baekhyun cenderung memiliki sedikit serangan panik kapanpun dia memiliki begitu banyak pikiran berat yang berputar-putar di benaknya. Kau merasa menyesal karena kau tahu seberapa banyak dia tidak siap mendengarkan ini, dan kau tidak perhatian untuk menyakitinya seperti itu.

“Hey, hey,” katamu, meraih tangannya. Tangannya sudah dingin membeku dan berkeringat, tidak lupa sedikit gemetar. “Baekhyun, aku bukan mencoba menakutimu, okay? I love you.”

Begitu. Kau mengatakannya.

I love you,” kau mengulangnya lagi, memastikan bahwa dia mendengar kata-katamu dengan baik. Baekhyun melihat padamu. Matanya lebar, penuh dengan rasa terkejut dan mungkin, kebingungan. “Baekhyun, i love you so much. Itulah kenapa aku membicarakan ini denganmu. Kau bukan hanya seseorang yang kukencani untuk bersenang-senang. Aku peduli padamu, aku ingin bersamamu, dan aku hanya ingin yakin bahwa kau merasakan hal yang sama. Aku tahu kau merasakan begitu, walaupun kau tidak mengatakan rahasia-rahasia padaku, dan kau tidak melakukan hal-hal yang baru saja kusebutkan itu. Aku hanya ingin kau  menyadari bahwa kau merasakan sama.”

Bibirnya tertutup rapat sampai sedikit kebiru-biruan. Kau sedikit berjinjit untuk menangkup kedua pipinya dengan kedua tanganmu dan mendekatkan wajahnya dengan milikmu. “Aku tidak memintamu untuk menikahiku atau apapun,” katamu, mencoba menghapus ketegangan dengan sebuah tawa kecil, terpaksa. Tapi semua itu membuatmu merasa negri dan bahkan membuatnya semakin panik. “Aku tidak memintamu untuk melakukan apapun, sungguh. Aku hanya ingin kau meyakinkanku bahwa kau tidak akan meninggalkanku saat kau selesai dengan ini. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau akan tinggal, tidak peduli seberat apapun masalah kita. Bahwa kau tidak akan melarikan diri.”

Baekhyun memejamkan matanya saat kau menyatukan keningmu dengan miliknya, dan dia mencoba untuk bernapas dengan benar.

“Baekhyun,” bisikmu saat kau merasa dia tenang. Bibirnya hanya beberapa inci darimu. “I love you, and i want you to feel the same way too.”

Jantungmu berdetak keras sekali membuat  dadamu terasa tidak nyaman. Kau basahi bibir bawahmu dan mecoba berharap saat kau berbisik, “Please, say something.”

Baekhyun mengambil napas tajam, tetaap diam untuk sesaat. Kau berpikir dia akan menciummu dan mengatakan tiga kata kecil itu kembali padamu. Tapi semua yang dilakukan adalah melepaskan wajahnya dari pegangan tanganmu dan menarik dirinya. kedua matanya tidak pernah bertemu dengan milikmu(=dia tidak melihatmu).

“Aku harus pergi,” itulah hal terakhir yang kau dengar darinya sebelum dia berjalan keluar dari pintu.

Kau tidak melihatnya berhari-hari setelah itu.

 

TBC

 

Okay, please leave some comments here after reading the story above, thank you …….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

28 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 10b

  1. Kyaaaaaaa >_<
    Di saat lagi serius2nya malah UNFINISHED ???
    Pleaseee kak, jangan buatt aku penasaran weehh -_- kk mah selalu begitu !!

    Like

      1. Yeah, that’s good kak ..
        It’s hurt me !! Kau membuat ku menangis ditengah malam begini?? Huuuaaaa neo nappeun 😥
        Kenapa jadi begini kak?! Why why why ???
        Kau harus tanggung jawab !!!
        Pass bangett lagi aku lagii dengerin lagu’nya Chen ft Chanyeol-If i love again 😦

        Like

  2. Huuu kasian babang luhan, eh mana nih gadis aljabar…pengen ngelabrak rasanya hahaha cuma dia yg bisa buat babang luhan merana😭

    Like

  3. Ahh nYes deh ke hati sakit 😭😭😭
    luhan jangan sedih masih ada aku kok setia menunggu kelanjutann ceritaa nyaaa maksudnyaaa
    Authorr jangan kelamaan lanjutannya please semangat author lovelovelove 😍😚

    Like

  4. Kyaaaaa ahirnyaa update juga ><
    Cerita Luhan bikin sedih. Dia mengasihani dirinya sendiri dan juga gadis aljabar itu. Oh so kind luhan ge 😔
    Sebenernya baek kenapa gk bisa bales kata² itu? Rada kesel juga sama sikap baek yg kya gitu.
    Next chapt bakal sedih kah ka? aigo~gk sabar .
    Fighting yaa kaaak~

    Like

  5. Aku mau nangis aku mau nangis aku mau nangis hiks huaaaaaa… Dadaku sesek Baca ini hiks, memang klo abis denger curhatan orang apalgi soal masalah ekhm percintaan, pasti bakal mikir juga bandingin dg kondisi sendiri hiks yah klo dijabarkan ya macam cerita part ini hiks tisu mana tisu… Huaaa maaf baru baca hiks nyesek eh, tetep stay dg gaya translate gini yaa aku udah nyaman bacanya soalnya makasi juga udah slalu di tag di fb, for baek i really wanna call u monster, hampir seharian aku nonton video comeback stage mereka part gregetin pas mau ending part chen dan di sana baek dg tampang mesumnya naikin sebelah alis sambil mainin lidah huanjay kenapa tingkat ketampanannya meningkat/? Haha apalah ini 😂
    Fighting yaaaa

    Like

    1. apalagi tingkat kemesumannya, wkwkwkwk…. apa yg dialami oc mah pernah dialami *ehem* nunjuk diri sendiri,kekeke… but just forget it, skrng mah udah move on, aish kenapa jd curhat?/ btw, thx ya udah baca n komen 🙂

      Like

  6. THIS CHAPTER TOTTALY IT’S HURTS ME…mewek weeh..anjaay chapter ini sumpah yah…errrr no comment
    aduuh melow banget si gege kesiann ih siapa sih gadis aljabar yg udah bikin gege nyeriue hatee!!!duh tuh cewek belagu bgt gamau ngasih kesempatan ke gege.#saveourgege
    aduuh najisin banget sumpah cabe di chapter ini pen nampol rasanya….ngomong “i love you” sesulit itukah?? yakali cewe mana yg ga mau dapet sebuah” komitmen” didalam hubungan..sebenerny inti dari sebuah hubungan kan untuk membangun sebuah komitmen!
    lol emang 1thn waktu terlalu singkat untuk bilang ” i love you” yah.ckk think again please!
    eeh btw ini ko mlah curcoll sh..ehehe miaan abis kesel sumpah sama cabe.huhu maap y commentny panjang bgt
    tp btw msh ada typony dikit .hhe but it’s okay..translateny makin bagus kak.fighting!

    Like

  7. Okeeeeeee, jadi kenapa Baekhyun kaya gitu? maksudnya kenapa kok kayaknya susah banget buat bilang I Love you too. emang kek yang malumaluin gitu kali ya buat dia? -____- makin suka dan kayaknya mereka bakal berantem lagi deh kek nya. Hadooohhhh yasudah deh Baekhyun emang ngeselin sih kali-kali harus di pukulu tuh kepalanya wkwkwkwkwkwk

    Like

  8. Ngga ngerti deh sama jalan fikirannya baekhyun mau nya gimana masa mau ngelakuin 4 kata ssss tp ngga ada kejalasan pernikahan misal wanita kan butuh kepastian

    Like

  9. Oke, aku ngeryi baek, kalo bales kata “i love you” gk semudah mbalik telapak tangan kalo di posisimu. Tapi cewek ttp cewek. Hanya dgn tindakan gk cukup. Cuma I love you too, empat kata aja. Itu udh buat cewekmu seneng bingo…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s