The Pathetic Ex-Lover’s Club |Chapter 1

bYIm7jP

 

Tittle     :  THE PATHETIC EX-LOVER’S CLUB (Chapter 1)

Author  :  PJ

Cast       :

  • Oh Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • KAI /Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Fluff and Romance

Poster : kristal15/ TMLGS

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. Ini hasil  translitanku  yang kedua dari  fanfic  favorite ku ‘ The Pathetic Ex-Lover’s Club  by angelb2uty ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/1138561/1/the-pathetic-ex-lovers-club-fluff-romance-originalcharacter-exo-baekhyun

Prolog

 

HAPPY  READING  !!

Chapter 1                    

Denial

 

Katakan saja aku memiliki hidup yang sempurna adalah sebuah pernyataan. Seperti apa bukti sempurna itu? Tapi, ada beberapa momen dimana aku biasanya berpikir hidupku adalah pada puncaknya, dimana aku merasa seperti berada di langit ke sembilan, terbang dengan cinta seumur hidupku.

Biasanya.

Kata siapa kau harus mempunyai kehidupan cinta untuk menjadi bahagia? Aku bahagia. Hidupku mungkin tidak sempurna, tidak pernah sempurna lagi pula, aku hanya dibutakan oleh cinta yang membuatku berpikir begitu. Sekarang, aku adalah contoh wanita mandiri dengan satu karier yang stabil, single, liar dan bebas, hidupku benar-benar mengagumkan.

“Ambil anggaran yang benar lagi.” Dan mungkin sedikit tertekan. “Satu karpet impor dari Turki? Sungguh?”

Kuputar bola mataku. “Dia suka Timur Tengah.”

“itu benar-benar mahal. Itu diluar anggaran kita. Banyak sebenarnya, tidak bisakah kau lihat?”

Aku menghentikan pekerjaan menggambarku sepenuhnya dan keluar dari meja kerjaku, sebagai gantinya aku duduk di pinggir meja. “Jinae,” aku mendesah. “Penting untuk menyenangkan pelanggan kita dengan hasil terbaik yang bisa kita bawa. Itu bagian dari strategi pemasaran.” Aku beralasan.

“Kita mungkin berakhir menutup perusahaan jika kau tetap begini.” Jawab Jinae dengan marah. Dia sungguh berani jadi kuputuskan itu bukanlah ide yang bagus untuk kembali melawan. “Kita punya pinjaman untuk dibayar, Hana. Kita punya tagihan untuk disiapkan. Kita tidak bisa selalu berada diujung dengan finansial. Kita mungkin aman untuk satu atau dua bulan, tapi kita mungkin bisa tamat di bulan berikutnya.”

Dia benar. “Aku tidak bagus dalam hitung-hitungan,” dengan malu-malu kuakui. “Aku minta maaf.”

“Hitung-hitungan? Kau bahkan tidak mendapatkan matematika dasar yang baik.” Jinae mencemooh dengan tanpa ketegangan seperti dia sebelumnya.

Jinae telah bersamaku sejak dulu. Dialah orang yang mendengarku mengomel dengan semua omong kosong yang telah kuhadapi, orang yang membagi film-film favorit yang sama, suka model pakaian yang sama, suka rasa es krim yang sama. Lebih singkatnya, kita benar-benar soulmate.

Kami memiliki begitu banyak hal kesamaan kecuali, kekasihnya yang belum mencampakkan dia.

Mengesampingkan bisnis, Jinae keluar dari gayanya sebagai partner bisnis dan malahan menjadi Jinae si best friend saat dia duduk dipinggir meja di sampingku. “Kau tahu ada satu teman Kyungsoo ini yang bergaul bersama kami. Hm, dia seorang Barista, orang yang benar-benar terkenal, dia sudah memenangkan kompetisi internasional sebelumnya.”

Kurasa aku tahu dimana ini berlanjut.

“Dia berumur 27 tahun, seorang laki-laki  yang kecil imut-imut tapi super kharismatik.”

“Tidak, Jinae.” Tolakku sebelum dia bisa meyelesaikan rentetan panjang diskripsinya.

“Dia single dan aku ingin mengenalkannya padamu.” Tegasnya.

“Aku bilang aku tidak mau.”

“Kenapa? Dia berhati manis.”

“Aku suka pria tinggi. Dia bukan tipeku.”

“Tidak, secara spesifik kau tidak menyukai laki-laki tinggi. Kau hanya menyukai Jongin.” Jinae mengoreksi.

“Aku sudah move on, Jinae.”

“Terserah kau ingin percaya apa, Honey.” Jawabnya dengan kedua alisnya naik, mengedikan bahu. Dia bisa jadi menyebalkan kadang-kadang dan kadang-kadang aku heran bagaimana aku  bisa berhasil bertahan dengan gadis ini selama ini. Tidak perlu dikatakan, dia adalah lebih dari sekedar gadis menyebalkan yang bisa membuat kita berada disini  hari ini.

Kami memimpikan menjadi rekan bisnis selama kami berteman. Kami biasanya membicarakannya sepanjang koridor, tertawa pada imajinasi kami. Selalu ada kami berdua, kami tidak butuh lagi teman. Tidak sampai, dimana satu hari, Jinae membawa topik  lain dalam percakapan kami.

Kami mengobrol tentang laki-laki. Laki-laki yang tampan. Ada di mana-mana dalam Universaitas kami yang berkeliaran di Universitas yang mengerling pada mereka, hanya  setelah ditemukan  mereka sudah mempunyai kekasih, sungguh mengecewakan.

Perlahan hal-hal itu berubah dan kutemukan Jinae berkenalan dengan Kyungsoo, yang sungguh tak terduga karena dia adalah salah satu laki-laki cute di sekolah. Tapi tak sampai ketika Jinae menceritakan padaku satu teman Kyungsoo yang lebih cute, lebih keren, lebih tinggi dan lebih hot telah naksir/suka padaku.

“Sungguh.” Jinae menekan kata-katanya saat kubilang itu tidaklah lucu membuat lelucon padaku.

Hal-hal diantara kami meningkat cukup cepat dan lihat sampai dimana itu membawaku.

Patah hati dan single. Mendesah.

“Kukatakan padamu Kim Minseok ini adalah tangkapan yang bagus.” Jinae mengerucutkan bibirnya saat dia melihatku mengabaikan dia dengan sengaja, tidak mengetahui lagi kehadirannya. “Hana.” Rengeknya.

Kuputar bola mataku. “Aku tidak peduli dia tangkapan yang bagus atau tidak. Aku bilang aku tidak mau. Bisakah kau dan Kyungsoo berhenti menggangguku dengan skema perjodohan ini jika aku berhenti mencurimu darinya? Baiklah, setelah ini, aku akan pergi makan siang sendiri. Belanja sendiri. Jadi bisakah kau hentikan?”

“Hey, aku tidak mengatakan itu.” Dia membela diri.

“Itulah yang terlihat bagiku.”

***

Honk Jinae tersenyum saat dia mengenali suara honk yang familiar itu. Melalui dinding kaca yang besar, dia melihat mobil kekasihnya sendiri dan dia melirik tangga depan dimana kantor Hana berada, merenung dia harus berpamitan padanya atau tidak.

Tebak, tidak hari ini.

Dia raih tas diatas meja dan tersenyum pada beberapa staf yang mereka miliki sebelumnya sebelum keluar menuju mobil dengan senyuman antusias  pada wajahnya saat dia masuk ke dalam. Kyungsoo yang menjadi kekasih yang manis, dia mencondong untuk memasang sabuk pengaman padanya, tidak pernah ketinggalan untuk mencium bibirnya.

“Hari yang melelahkan,huh?” tanyanya saat dia keluar dari kawasan sewaan itu.

“Tidak juga. Apa wajahku terlihat sebaliknya?” tanyanya dengan mata melebar, ingin tahu jika dia benar-benar terlihat lelah.

Dengan acuh tak acuh, Kyungsoo hanya menjawab “Begitulah.” Mata berfokus pada jalan.

Jinae mengambil kartu undangan warna kuning keabu-abuan yang terletak di bawah pemutar radio dan tanpa pikir panjang membukanya. “Bagaimana aku akan mengatakan padanya? Aku merasa aku menghianatinya kau tahu, jika aku pergi.” Kedua matanya murung, perasaan bertentangan.

Tentu saja dia harus pergi. Dia tidak bisa membiarkan kekasihnya pergi sendiri sementara yang lainnya mungkin mencoba saling mengenal pasangan masing-masing dan kekasihnya akan seperti “Kekasihku  tidak bisa datang karena tampaknya dia takut pada temannya yang tidak bisa melupakan mantannya satu tahun akan menjadi si brengsek jika dia menemukannya. Well, mungkin temannya lebih penting dariku.”

Kasihan kekasihnya harus melalui semua itu.

“Well, kau tidak harus sesedih itu karena aku tidak bisa pergi jadi kau tidak harus pergi.” Kyungsoo bicara, mengejutkannya.

“Kenapa tidak? Kau pendamping prianya.”

“Karena aku akan keluar negeri saat itu. Tidak bisa dibatalkan, ini perjanjian yang bagus.” Jelasnya.

“Teganya kau?” kedua alisnya menaut, memberi kekasihnya tatapan menuduh.

Kyungsoo mengecup garis tipis pada dahinya sambil tertawa kecil, berkata. “Ayolah, kau senang itu terjadi begini. Kau mungkin akan berterima kasih pada Bossku karena menugaskanku pekerjaan ini.”

“Aku tidak mengatakan itu.”

“Kau akan mengatakannya. Bukankah itu melegakan?”

Dia menyandarkan punggungnya dengan malas pada kursi mobil dengan sopan yang santai, dia berkata. “Bicara jujur, itu cukup melegakan.”

***

 Home sweet home.

Tapi itu tadi sampai kudengar suara bising dari arah dapur, mengganggu kedamaian. “Kau pulang. Kau dapat surat banyak di sana.” Sehun menunjuk dengan dagunya ke arah depan pada lemari dekat pintu saat tangannya kelihatannya cukup sibuk. Dia terlihat menarik, dengan apron pink ku –yang terlihat sedikit kekecilan baginya –menggantung di tubuhnya dan sebuah spatula pada tangan satunya.

“Hentikan kepura-puraanmu, Hun. Aku tidak akan memberimu uang jika itu yang kau rencanakan dalam otak kecilmu.” Kata-kata meluncur melalui eratan gigi saat kulepas stiletto ku, merasa benar-benar senang bisa keluar dari neraka. Bisa kurasakan bibirnya mengerucut  dahi mengerut saat dia mendengarnya tapi aku mengabaikannya seperti tidak melihat apa-apa.

“Bagaiamana kau bisa berpikiran itulah hal pertama saat kau melihatku?” tanyanya, berpura-pura terlihat sakit.

Kuraih semua surat-surat yang ada di atas lemari dan berjalan melewatinya dengan melihat satu per satu. Tagihan. Tagihan. Tagihan. Aku mengerang dengan keras saat kudaratkan tubuhku pada sofa yang lembut, halus. Tidak sampai kulihat amplop yang terlihat benar-benar berbeda dari yang lain, dan well, tercium sedikit harum untuk sebuah tagihan.

“Aku tidak melihatmu dalam tiga hari, Hana dan jadi aku berpikir memiliki makan malam denganmu. Dan ya, “ dia menyembulkan kepalanya dari dapur untuk melihatku yang berada di ruang tamu. “Aku tidak punya uang untuk membawamu ke restoran mahal untuk merayakan pekerjaan baruku, jadi itulah yang akan kubutuhkan untuk menunggu sampai aku mendapatkan gaji.”

Kutaruh amplop ke samping, rasa penasaranku pada itu bisa menunggu  ketika secara harfiah aku semakin tersentuh pada kata-kata adikku. Kami sudah hidup sendirian sejauh yang bisa kuingat aku bisa berhasil mensuport diriku dan kehidupan lainnya. Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki.

“Simpan uang itu berjaga-jaga jika bisnisku bangkrut jadi kau bisa mendukung kita dan menjadi pencari nafkah untuk keluarga.” Jawabku ketus dengan sebuah dengusan.

Kedua matanya mejadi melebar. “Itu mustahil, kau tahu itu!”

Aku cekikikan karena senang pada ekspresinya. Kami telah menjalani hidup  paling susah, dimulai dengan melakukan pekerjaan paruh waktu sejak sekolah. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kami berhasil bertahan sampai sekarang. Dari wajahnya, dia yakin tidak ingin kembali ke masa kita hidup di dunia yang kejam.

“Apa yang kau buat? Butuh bantuan?” aku berdiri dan menaruh surat-suratku di atas meja terdekat saat aku sampai ke dapur untuk melihat apa yang dibuat oleh si anak kurang ajar ini.

“Aku bisa lakukan sendiri.” Sehun berdiri di depanku, menghadangku untuk menghampiri kompor.

“Yakinkan mie nya matang dengan sempurna. Kau tahu bagaimana mengecek apakan matang atau tidak kan?”

“Aku bukan anak kecil. Aku tahu.” Dia mengerutkan dahi.

Saat makan malam siap, dia yakin atas kata-katanya. Dia taruh satu piring untuk spaghetti kimchi buatannya sendiri di depanku dan itu terlihat  lezat. Dia memberiku garpu setelah itu dan menaruh satu gelas air di samping piringku, dan aku tidak bisa merasakan kekanak-kanakan karena fakta dia akhirnya kembali ke rumah.

Menggulung-gulung mie pada garpu, kugigit dengan percaya dirinya dan wajahku pasti cerah sekali saat  kulihat dia tertawa kecil padaku karena aku telah membuat suara, yang terdengar menyenangkan. “Bagaimana pekerjaanmu berlangsung?” tanyaku sambil mengunyah makanan.

“Mengagumkan.” Bisa kulihat pancaran di kedua matanya saat dia mengatakan itu dan aku senang. “Aku harus berterima kasih pada Dahee untuk rekomendasi itu, sungguh. Jika tidak, aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan terisolasi  dari dunia, berdiri di belakang meja bar, mencampur minuman untuk penghasilan.” Terusnya.

“Kupikir kau suka menjadi seorang Bartender.”

“Benar, karena itulah satu-satunya yang kubisa dan aku menghasilkan banyak uang dengan itu tapi ada lagi yang ingin kujelajahi dan Photografi memberiku peluang. Aku tidak sabar untuk proyek selanjutnya, sejujurnya.”

“Traveling menyenangkan.”

“Memang.”

“Dan modelnya juga.”

“Well,” dia tersenyum malu-malu. “Itu sebuah bonus.” Aku tertawa kecil. Tipikal dia.

Dengan jenaka kuputar bola mataku padanya saat aku berbalik pada amplop di sampingku. Menyobeknya dan mengeluarkan kartu warna kuning keabuan yang terlihat seperti –

“Woah, sebuah pernikahan.” Sehun bicara saat dia melihatnya. “Seseorang akan bersembunyi seperti kepiting tapa setelah  ini ketika sebuah undangan reuni Universitas datang.” Katanya, senang akan situasiku.

“Diamlah.” Kataku saat kubuka kartunya. Namaku adalah hal pertama yang kulihat pada kartu dan saat kulanjutkan membaca kata-katanya, yang dihiasi dengan huruf cetak miring yang indah, kulihat orang terakhir yang kuduga namanya muncul pada kartu itu.

Kim Jongin.

“What. The. Fuck?” gumamku rendah tapi dari kata-kata yang kugumamkan dan tampangku, Sehun melompat dari tempat duduknya dan berdiri di belakangku dengan rasa penasaran.

“GOD!” serunya, dan menarik napas dalam-dalam sebelum meneruskan. “Kim Jongin ini adalah Kim Jongin, Kim Jongin yang ku ke –kenal, Kim Jongin, KIM JONGIN MANTAN –KEKASIH mu?” dia meninggikan suaranya dengan tidak percaya di akhir ketika dia menyebut nama beberapa kali dalam satu kalimat seperti nama itu baru saja terjebak kenyataan darinya.

“Siapa lagi kalau bukan itu?” teriakku dengan frustrasi.

“Baru saja setahun!” Sehun menunjukkan. “Kau bahkan belum saja move on sepenuhnya.”

“Aku sepenuhnya selesai dengannya!” dan sekarang, kami saling berteriak satu sama lain.

Sehun mengetuk-ngetuk dagunya, seolah memikirkan sesuatu. “Hmm, ini sedikit mencurigakan. Aku bertaruh gadis yang dinikahinya hamil.”

Dan mengetahui  gadis lain yang sedang mengandung anak dari mantan –kekasihku tidak membuat situasi lebih baik.

“Apa? Orang-orang selalu  melakukan itu.” Sehun mengedikan bahunya saat dia menerima tatapan tajam mematikan dariku.

“Apa yang dia pikirkan mengundangku ke pernikahannya? Apa tunangannya baik-baik saja dengan itu? Tidak dapat dipercaya.”

“Well, kau bukanlah yang terancam.” Sehun berkata acuh tak acuh dan mengerang “Ouch” saat kuberi dia pukulan keras pada lengannya.

Dia benar. Aku bukanlah apa-apa yang mengancam wanita lain untuk iri padaku atas apapun. Aku bukanlah tercantik, atau populer, tidak lincah dan apapun yang tidak seperti gadis yang kebanyakan laki-laki impikan. Jongin terlalu baik untukku, tampaknya begitulah yang orang-orang katakan dan bahkan tidak ada yang terkejut jika kami putus.

Itu tadi akan terjadi lagi pula.

Dia mungkin telah menemukan yang lebih baik, mungkin wanita yang lebih baik dariku, seseorang yang cocok dengan tampang tampannya, seseorang yang cocok dengan level tinggi kemampuan berpikirnya dan seseorang yang orang-orang akan katakan “Mereka pasangan yang serasi.”

Karena aku bisa mengacaukan itu. Kenapa dia pernah tertarik padaku sebelumnya?

“Mungkin dia masih memikirkanmu sebagai teman.” Sehun menyebutkan, menjawab pertanyaanku.

Berteman. Mari jangan menyimpan perasaan sulit masing-masing. Kita bisa berteman. Maksudku itu akan baik untuk Kyungsoo dan Jinae dari pada susah memikirkan sisi mana mereka harus berpihak. Dan aku, Hana. Aku sangat peduli padamu, tidak sedikitpun dari aku sebelumnya.

Kata-kata itu bahkan membuatku lebih buruk, kuguyur tubuhku dengan air malam itu, menggunakan punggung Sehun untuk kenyamanan.

Aku patetik dan pecundang, dan aku tetap sama.

“Aku ingin istirahat.” Gumamku saat kukumpulkan barang-barangku untuk kubawa ke kamarku. “Aku baik-baik saja.” Kataku, bukan yang Sehun tanyakan saat aku berjalan menuju ke kamarku.

“Kau tidak baik-baik saja.” Kata Sehun pada dirinya sendiri saat dia melihat-lihat kartu itu dengan rasa tidak tertarik. “Kau sungguh tidak baik-baik saja.” Melihat pada bagaimana bahu Hana yang merosot ke depan, dia tahu gadis ini hanya menunggu untuk itu untuk mencapai batasnya. “3 …..2 –“

“ARGHHHHHHHH!” Hana  menjambak rambutnya dengan frustrasi mengejutkan Sehun sebelum Hana lari ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras sekali.

Sehun mengangguk-ngangguk sendiri. “Itu lebih seperti dia.

***

Aku bangun di pagi harinya, merasakan satu tekad yang baru dalam diriku. Aku melangkah keluar dari kamarku, menuju dapur, melihat adikku sudah berpakaian rapi, siap untuk bekerja, menyiapkan sendiri sarapan.

Aku duduk di kursi bersebrangan dengannya dan menyodorkan mangkuk berisi sereal ke arahku setelah dia selesai menuangkan susu ke dalamnya. Dia mematung untuk sesaat ketika dia melihatku makan dengan sendok penuh tapi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, aku mengalahkannya untuk itu.

“Aku akan ke pernikahannya.” Kataku smabil mengunyah sereal.

“Yeah, itu bukan berarti kau bisa –“

“Dia ingin berteman? Baiklah, aku bisa menjadi temannya. Aku ingin pergi ke sana dan menunjukkan padanya menjadi wanita apa aku.” Sendok penuh lainnya masuk ke dalam mulutku dan kulihat Sehun menelan salivanya  menontonku tapi aku tidak bisa lagi terganggu olehnya. “Aku adalah Enterprener yang sukses, seorang designer yang baik yang segera –menjadi terbaik di negara ini, aku tidak butuh seorang laki-laki karena aku wanita mandiri yang bisa hidup pada kehidupannya sendiri dan bahagia pada kehidupan sekarang.” Kunaikkan sendok, penuh dengan semangat dan kuakhiri pidatoku  yang mana Sehun tidak peduli sama sekali.

“Jika kau mandiri, buatlah sarapan sendiri!” ancamnya padaku.

“Apa kau bahkan mendengarku, Sehun?”

Dia mulai mendesah dengan berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, memakan sisa yang ada di mangkuk saat dia menskrol ponselnya, mengabaikan kakaknya yang gila.

 

 

TBC

 

Chapter pertama sudah jadi, kuharap kalian suka 🙂 ini awal jadi jika kalian mengharapkan kedua laki-laki ( Byun Baekhyun atau Kim Jongin) muncul, mereka belum ada di chapter ini. Tapi berjalannya chapter akan ada hal yang menarik, kujamin itu. Okay, i’d try my best so i hope you like it. Put some comments guys, thank you :)))

 

 

 

 

Advertisements

26 thoughts on “The Pathetic Ex-Lover’s Club |Chapter 1

  1. Hahahhahahahaha duhhhhhh sehunn jadiii adiknyaaa,, wkwkwkwkkw lucuuuu bangettttttttttt 😉
    🙂

    Yaaaa
    Byun baekiiee
    Dongg
    😀

    Like

  2. Thanks for tag me, yahhh sehun jadi dedek gemes, tapi aku masih blom bisa move on dari fanfic yg lama :3
    Well, menarik lumayan lah, soalnya Hana tuh nggak terduga hhhh.. Baekhyun blom muncul, tapi bentar si jongin yg ngenalin ke Hana siapa? Aku jadi bingung, abisnya sehun ngomong gitu pas dia lagi syok :3
    Fighting yaaaa ku tunggu kelanjutannya

    Like

    1. okay, baekhyun emang blm muncul, trus soal jongin, hana kenalan ama dia lewat kyungsoo, lebih pendeknya , dua kupel (kyungsoo-jinae n jongin-hana) itu berteman sampe skrg. tapi hub hana-jongin udah putus n jonginnya mau nikah, gitu….

      Like

  3. Ahhhh ada sehunie 😀
    Bener2 yahhh jongin sebegitu kah pesona nyaa sampe2 hana gak bisa dan gak mau move on kaya nyaa 😂😂😂
    Semogaa baek menjadi obat pelipur lara hati myaa hanna dan ituu gak tau kapan terjadi 😄😄
    Tetap semangat author keceh kuu lovelove 1000 % ❤❤❤ 😚😚😚

    Like

  4. Entah cuma q yg merasa, tp kamu ditranslit ini rapi, enak bgt dibacanya , kayak lancar aja, mungkin karna beda author jd agak beda gaya. Dibanding sama yg mr.byun chap 10b sm chap 12- klo gak salah- pengen bgt komen disana, tp uda ngetik byk g msk, ksel mo nangis :”””(((
    Dsni Lebih rapi, menurutku sih, tp q sdh terlanjur jatuh cinta sm mr byun disana. Uhh, q tdk bisa memilih, tp semoga dua2nya lancarr,karna uda mau translitin cerita yg bagus2 buat readers2 km ini,semoga kamu dberi kesehatan, biar g slow update oke. ;)))))) HWAITINGG!!!!!

    Like

  5. Mav baru baca kak ..
    Dsini ada Kyungsoo?? Huuaaa seneng akut *walau sebenernya ada kiss scene yg bikin Drop* but whatever.
    Awalnya aku kg paham sama jalan cerita’nya kak, masih membingungkan. Yg aku tau Jongin -mantan hana- mau menikah dan Hana belum bisa move on gitu, benar seperti itu tak?? *Duuh alamat sakit kg sembuh2 begini nie, jadi kg conek2*.
    Tapi, Mr.Byun belum munculkah?? Kira2 yg jadi Barista itu Byun kah??!
    Hmm .. seMangat terus kak 🙂 and i don’t know what do you feel? But i care.
    And i think all your readers is the same. So , please don’t think otherwise, okay??

    Like

  6. yeey kopel baek-na again.
    sumpah ini transletny makin rapih aja enak banget dibaca btw.. tapi jujur masih binggung di chap 1 nya karena g nyeritain flashbackny dulu(?) but it’s okay.tapi tetep aku udah terlanjur kepincut sama cabe internasionaly mr byun baekhyun.hehe but i like it so much semua ff mu ka..btw next dtunggu banget nih.fighting

    Like

  7. aku pas ngubek” blog kamu pusing, banyak banget FF yang udah chapter 15an on going dan aku terlalu telat untuk baca. Jadi aku pilih yang masih awal banget, nemu deh ini.
    Duh mantan, mantan mah emang sesuatu buat dibicarakan. Kalo ibarat kata mantan itu cuma orang yang numpang lewat doang di kehidupan kita. Jadi yaa tunggu aja sampe orang lewat lagi dan netap lebih lama atau bisa jadi menetap selamanya.
    aku mau menjelajah lagi byeee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s