The Pathetic Ex-Lover’s Club |Chapter 2

bYIm7jP

 

Tittle     :  THE PATHETIC EX-LOVER’S CLUB (Chapter 2)

Author  :  PJ

Cast       :

  • Oh Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • KAI /Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Fluff and Romance

Poster : kristal15/ TMLGS

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. Ini hasil  translitanku  yang kedua dari  fanfic  favorite ku ‘ The Pathetic Ex-Lover’s Club  by angelb2uty ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/1138561/2/the-pathetic-ex-lovers-club-fluff-romance-originalcharacter-exo-baekhyun

Previous chapter

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter  2                    

Realisation

 

Uhm Jinae.

Aku menggumamkan beberapa makian dengan nama dalam kalimat yang sama sepanjang jalan sambil aku bersiap-siap untuk pergi kerja. Saat aku memasuki kantor, hal pertama aku berjalan dengan susah payah ke mejanya, dan tidak peduli dia sedang mendiskusikan beberapa barang dengan salah satu karyawan, kupegang tangannya dan menariknya bersamaku.

“Kau punya banyak penjelasan untuk kau lakukan, Breangsek!” kulihat Jinae takut dibawah tatapan mataku ketika dia mendengar kamarahan dalam nada suaraku, juga membisikkan “Apa yang telah kulakukan?” takut dengan semua terimaan yang kutaruh.

Kubuang tasku ke atas sofa kulit, menarik napas dalam-dalam  dan menghembuskannya karena pergi bekerja dengan transportasi umum selalu seperti berada di neraka. Aku berkacak pinggang dan berbalik untuk melihat wanita, yang mengerjap berulang-ulang, tidak dapat menduga apa yang akan terjadi.

“Kenapa kau tidak katakan padaku?” tanyaku.

“Apa?”

Kumasukkan tanganku ke dalam tasku dan kulempar kartu ke atas meja. Dia mencondong ke depan dengan rasa penasaran dan kedua matanya membelalak lebar saat dia melihat kartu yang sama yang memberinya sakit kepala. “Dia hanya tidak –“

“Dia memang.” Koreksiku padanya. “Kau pasti sudah tahu begini sebelum diriku. Kyungsoo adalah teman baiknya dan mungkin dia akan menjadikannya pendamping pria dan kau akan pergi ke pernikahannya dengannya dan kau berencana pergi tanpa sepengetahuanku?”

“Aku baru saja akan mengatakan padamu –“

“Kapan?”

Dia mendesah. “Aku tidak pergi. Kyungsoo tidak bisa ke pernikahannya saat itu jadi aku tidak harus pergi.”

“Jika kau hanya merasa ini karenaku –“

“Tidak.” Dia menjelaskannya sendiri. “Aku tidak punya alasan untuk pergi jika Kyungsoo tidak pergi. Kau temanku. Hana, ini bukanlah satu pilihan, kan?” bagian kata-kata dari kalimat itu di tanyakan langsung pada undangan.

“Aku pergi.”

“Jangan! Apa kau gila?”

“Well, dia cukup gila memberiku undangan pernikahannya.

“Kau akan membodohi dirimu sendiri. Kurasa kau tidak bisa menahan dirimu jadi jangan membuat masalah. Itu baik untuk kalian berdua.”

“Itulah kenapa aku harus pergi. Aku ingin menunjukkannya padamu bahwa aku benar-benar selesai dengannya. Kenapa sulit sekali orang-orang untuk percaya bahwa aku sungguh selesai dengannya? Apa aku terlihat seperti masih terjebak dalam drama putus cinta yang telah terjadi setahun yang lalu? Ini sudah setahun!” kutekan pada waktu yang telah berlalu. “Jika dia bisa maju sebanyak ini dalam setahun, aku yakin bisa melakukan hal yang sama. Aku bisa melakukan hal yang sama. Aku tidak butuh laki-laki untuk tinggal dan aku tidak butuh cinta untuk bahagia. Tergantung pada seseorang yang telah berjanji  untuk memberikan  semua dari dirinya  yang bisa melemahkanku dan aku harus berdiri lagi dan menjadi wanita kuat seperti aku biasanya.”

Jinae tidak memberikan respon untuk itu tapi tatapan matanya, tatapan kasihan yang kubenci membuatku memalingkan wajah.

“Pergilah,” kukibaskan tanganku padanya. “Aku harus mendapatkan satu tiket penerbangan ke Okinawa.” Kutatap kembali padanya setelah kukatakan itu. “Apa dia orang Jepang?”

“Tidak.”

“Duh. Apa seromantis itu menikah di Okinawa?” cemoohku pada pilihan tipe tempat pernikahan.

“Kau biasanya memikirkannya begitu.”

“Tidak lagi!”

Dia menjeda sesaat sebelum bergumam. “Kau yakin?” dengan rendah padaku. Maksudnya keputusan yang kubuat sekarang dan nada suaranya membuatku tidak percaya diri dari bagiamana diriku pagi ini saat kupikirkan tentang hal itu.

“Aku yakin.”

Well, sebenarnya aku tidak serasional saat kusebutkan pada Jinae di awal. Seharian berlalu dengan diriku dan pikiranku yang berputar-putar dalam benakku, bahkan sampai salah satu staff datang mengingtakanku pada janji, sebenarnya kubatalkan dan menyuruh semua orang untuk tidak menggangguku untuk satu alasan aku butuh ruang untuk inspirasi.

Lebih seperti satu inspirasi untuk mengacaukan pernikahan mantan –kekasihku.

Dia yakin membuat satu keputusan yang salah mengundangku.

Mungkin aku punya sedikit perhatian untuk melihat dia sengsara. Sebodoh kedengarannya, aku punya tab lain di laptopku di samping webside pembayaran online tiket penerbangan, yang ku google “Bagaimana mengacaukan pernikahan –mantanmu?” dan sial, membaca melalui postingan-postingan di blog, aku bukanlah satu-satunya yang terjebak dalam fase perpisahan.

Ada begitu banyak kasus patetik ketimbang diriku. Itu membuatku merasa membaik.

“Hana.”

Kuabaikan panggilan, kuperas otakku untuk metode yang lain untuk membuat pernikahan berakhir buruk. Jika mereka tidak jadi menikah, itu akan lebih baik.

  1. Rusak gaun pengantinnya. PS. tanpa menimbulkan kecurigaan tentu saja.

Hanya ada satu hal tentang satu spesies bernama wanita. Setiap wanita di dunia ini menginginkan pernikahan yang terbaik yang bisa mereka miliki. Mereka memimpikannya menjadi yang sempurna, menjadikan hari kehidupan mereka akan membuat mereka tersenyum saat mereka mengingatnya. Meski tidak bisa menyalahkannya, pernikahan terjadi hanya sekali.

Tentu saja untuk orang yang beruntung.

Jadi omong-omong saat aku memikirkan, saat itulah itu akan menjadi semakin memburuk. Mereka mulai percaya pada tahayul paling konyol. Wanita adalah tipe yang mendramatisir, dan mengalami  tanda-tanda buruk terus menerus akan membuat mereka ketakutan.

Kemudian, kemungkinan pernikahan yang dibatalkan akan lebih besar.

Aku mulai tersenyum sendiri saat kusimpulkan hal itu. Aku tahu bagaimana menggunakan otakku dengan benar.

“Oh Hana.”

“Apa?” aku mengerang, marah karena aku diinterupsi. Bukankah sudah kujelaskan pada siapapun untuk tidak mengganggu wilayahku?

“Ini sudah lewat jam 6. Makan malam?” Jinae menaikkan sebelah alisnya, aku hanya tidak melakukan apapun kecuali mengerjap dan menatap padanya. “Cepatlah, Kyungsoo sedang menunggu di luar!”

Aku berpikir untuk sesaat sebelum aku berdiri dan meluruskan rokku. “Okay.”

~~

“ …….Mereka harus menggigitnya dari pusar orang lain.”

“Itu menjijikkan.” Jinae menimpali jawaban dengan wajah jijik dengan kedua matanya yang indah, seolah dia tidak bisa mendapatkan cukup darinya. Mereka berdua tidak pernah bisa saling terlepas. Siapapun yang melihat mereka mungkin akan berpikir mereka adalah pasangan dari surga dan aku menjadi pihak ketiga  kebanyakan waktu, aku dengan yakin berpikir mereka memang begitu.

Mengapa mereka belum saja memutuskan untuk menikah? Tidak ada diantara mereka yang memunculkan topik itu. Aneh tapi itu urusan mereka aku tidak harus mengkhawatirkannya.

“Jadi kau akan ke luar negeri segera untuk konferensi lain?” tanyaku, mencoba membuat mereka sadar akan kehadiranku sebelum mereka bisa lebih jauh dalam dunia mereka yang penuh dengan fluffy. Aku hanya harus melakukan itu setiap kali kulihat mereka mulai saling menyentuh satu sama lain. Hanya saja canggung, bagi diriku.

“Ya, benar.” Aku menyadari tanda dari tatapan wajah Kyungsoo pada Jinae saat dia menjawabku, mungkin ingin tahu jika aku mengetahui berita pernikahan Jongin. Senyum yang dia berikan seolah aku cukup bodoh tidak melihat , itu membuatku terganggu.

Kyungsoo adalah laki-laki yang sangat baik. Dia belajar mesin kembali dengan Jongin di masa-masa Universitas tapi akhirnya tidak mengejarnya saat dia sadar betapa dia lebih bergairah, ingin berkontribusi pada masyarakat  melalui kerjasama dengan para pemuda. Dia sekarang bekerja dengan satu organisasi non-profit, mencoba menggerakkan ide-ide individu muda pada dampak yang bisa mereka bawa pada dunia. Katakan padaku bagaimana yang dia lakukan tidak terlihat mulia.

An Jinae mendukung sekali  atas apa yang dia lakukan, bahkan di saat dia tidak menghasilkan banyak uanag saat pertama kali dia bergabung sebuah organisasi yang baru di mulai hanya karena dia merasa mudah berbagi impian yang sama dengan yang lainnya yang terlibat.

Tapi kenyataan dia tidak akan pernah beralih dari sisi teman baiknya, menggangguku setiap kali aku melihatnya. “Jongin tidak seperti itu. Aku mengenalnya.” “Aku yakin ada alasan kenapa dia berperilaku seperti itu.” “Itu tidak baik mengungkapkan sesuatu yang cukup rahasia, kurasa.” “Menjadi negativ tidaklah menyehatkan.”

“laki-laki selalu omong kosong tentang teman baik mereka untuk tujuan bersenang-senang. Tapi si mulia itu yakin tidak menemukan itu lucu, hanya tahu bagaimana membuatku merasa bersalah di detik selanjutnya. Dan dia pesti tahu  bagaimana menyeret teman baikku ke dalamnya juga.

“Oh aku lupa bilang padamu. Kami baru saja punya satu pertemuan di ekspansi dan dikonfirmasikan bahwa kami membuka cabang di Gwangju. Aku berpikir memberi proyek ini padamu untuk mendesign interior kantor. Aku ingin menunjukkanmu pada team managemen.”

“itu bagus!” Jinae benar-benar tertarik saat dia mendengar itu. Apa kami benar-benar akan hancur di bulan selanjutnya? “Bagaimana menurutmu, Hana?” Jinae berbalik paadku.

“Mungkin kita bisa mengatur pertemuan dan mendiskusikan lebih lanjut.”

“Baiklah. Aku akan memberitahumu.” Jawab Kyungsoo.

***

“Kita bisa mendapat tumpangan dari Kyungsoo, kau tahu.” Jinae cemberut, mengeluh kakinya sakit karena berjalan kaki beberapa blok dengan steletto(high heel). Tidak bisa dipungkiri, ini memang sakit. tapi tumpangan dengan Kyungsoo bukanlah apa-apa dibanding dengan ini.

Mungkin inilah kenapa mereka pikir aku belum  bisa melupakannya. Semua atmosfer menjadi canggung setelah aku putus dengan Jongin. Melainkan bergaul seperti kita biasanya, Jinae harus bolak-balik dari kekasihnya dan aku, hanya karena aku menjadi tidak nyaman seperti kenyataan.

Well, salahkan saja Kyungsoo yang menjadi seorang teman baik yang super setia pada Jongin.

“Aku tidak memintamu ikut denganku.” Jawabku ketus, tatapan pura-pura seolah aku benar-benar tidak menghargai kehadirannya.

“Kau tahu Kyungsoo, dia tidak akan punya hati membiarkanmu berjalan sendri pulang ke rumah. Dan dia bahkan tidak keberatan memberikan tumpangan karena dia tahu begitu banyak kau tidak mengharapkan dia berada di sekitar.” Jinae mendesah beberapa kali sampai tak terhitung, dicampur dengan rengekan karena lecet-lecet yang dia miliki selama berjalan.

Kyungsoo  mengingatkanku padanya.

Kusimpan itu dalam diriku, tahu Jinae akan meributkan soal itu.

Aku berjalan duluan, mengabaikan gerutuannya dan hanya ketika itu benar-benar menggangguku karena dia tetap mengeluh dan menyalahkanku –yang mana aku tidak dalam mood untuk menyembuhkannya –kuminta ponselnya dan dia memberiku tatapan tanya, meskipunitu dia masih mengeluarkannya dan memberikannya padaku.

Kutekan nomor 1 cukup lama sampai sang hero dari teman baikku muncul dan menunggu di sisi lain untuk menjawab telponku.

“honey?”

Kuhembuskan udara. “Ini aku, Hana. Aku berada tepat di Coffee Shop dekat Stasiun bawah tanah. Bisa kau jemput kekasihmu di sini dan membawanya pulang. Karena dia sangat menjengkelkanku sekarang ini.”

“Hana –“

“Kuhargai keramahanmu, Kyungsoo, bawa saja Jinae pulang dengan selamat untukku, okay?” kututup dan mengembalikan ponselnya kembali. “Sudah, kesatriamu yang berlapis baja akan segera ke sini jadi duduk saja dan lepaskan sepatumu.”

“Aku punya banyak hal yang ingin kukatakan padamu tapi kurasa itu akan menjadikanmu marah.” Dia meringis.

“Bagus. Jadi, jangan katakan.” Ujung bibirku melengkung ke atas. “Sampai jumpa besok.” Lalu aku menuju ke eskalator dan melambai padanya sekali lagi sebelum meluncur ke bawah.

Ada satu keuntungan tentang berada dalam hubungan. Walaupun aku punya Sehun atau Jinae untuk pergi ketika kurasa kubutuhkan, itu bukan apa-apa dibandingkan pada seseorang yang akan menginginkanmu merasakan yang terbaik disaat kebanyakan waktu. Tiba-tiba saja, kurasakan hatiku kosong. Dan itu terasa lebih kosong saat kuterima pesan suara dari sehun yang mengatakan dia akan pergi bekerja untuk beberapa hari, mengetahui aku akan sendirian di rumah.

“Hana. Kurasa mungkin kau sudah menerimanya, undangan. Kyungsoo mengehntikanku tapi kurasa aku harus mengundangmu juga karena kau adalah temanku juga. Itulah yang kita janjikan kan saat kita putus?”

Tapi tidak ada yang bisa membandingkan kekosongan saat kudengar suara Jongin.

“I miss you.”

Begitu pecundangnya aku ketika membiarkan air mata meluncur dari kedua mataku sekali lagi.

***

Dihari lainnya berlalu dan kuhabiskan hari itu dalam kantorku dengan proyek-proyek banyak menumpuk, menunggu untuk disentuh. Aku mulai memberikan pikiran  lain untuk menerima proposal Kyungsoo tapi Jinae mungkin akan berpikir aku menghindari Kyungsoo tanpa alasan lagi.

Kalimatnya ‘aku punya begitu banyak hal yang ingin kukatakan padamu.’ tadi malam ada sesuatu yang melibatkan Kyungsoo dalam satu cara jadi aku tidak ingin tetap menjelaskan sendiri dan memilih  satu percakapan yang tidak pernah berakhir karena aku akan menyangkalnya sampai akhir.

Tapi kita tidak punya pilihan kecuali menolaknya jika Kyungsoo punya deadline yang segera dipersiapkan karena aku hanya –

“5 hari cuti?” Jinae membanting pintu terbuka dan berteriak tidak percaya. “Kau akan meninggalkan sendirian di sini selama 5 hari?” dia menekan fakta dia akan  menangani bisnis sendirian.

“Well, sebenarnya 3 hari minus akhir pekan.” Aku menunjukkan.

“Apa bedanya lagi pula?” dia mengerutkan dahi.

“Angka hari-hari. Tiga, lima, tidak bisakah kau lihat?”

“Hana!” tegurnya seolah aku terlihat aku tidak menganggap serius padahal jelas-jelas aku serius.

“Aku sudah bekerja sejak kita memulai ini dari nol. Katakan kenapa aku tidak pantas mendapatkan 5 hari istirahat?”

“Lalu bagaimana denganku?”

Kupijit kening kepalaku dan menghadapi figur yang sedang berdiri dnegan tangan dilipat di depan dada. “Okay, seperti ini. Ketika aku kembali setelah 5 hari, kau boleh mengambil 5 hari, 11 hari, aku tidak peduli, kau bisa merencanakan liburan romantismu di Bahama dengan Kyungsoo, silahkan jadi biarkan aku ambil beberapa hari cuti.” Kupicingkan kedua mataku menunggu responnya atas tawaranku. “Apa itu oke bagimu?”

Jinae jelas-jelas sedikit merona pada tawaran karena apapun yang melibatkan  Kyungsoo pasti berhasil. Mencoba terlihat seperti dia tidak terpengaruh sama sekali, acuh tak acuh dia berkata, “Masih, kau harus memperbaikinya untukku.”

Aku tersenyum dengan lebar saat kuketahui aku menang. “Bagaimana dengan Sushi?” bibirnya melengkung, menirukan ekspresiku. “Aku tahu kau suka Sushi.”

“Kau bersungguh-sungguh dengan apa yang baru saja kau katakan, kan?”

“Tentang Sushi? Tentu saja.”

“Tidak,” dia merengek dengan kekanak-kanakan. “Tentu saja yang kumaksud adalah hari cuti.” Aku mengangguk dengan semangat, mengkonfirmasi bahwa aku benar-benar bersungguh-sungguh pada setiap kata yang kuucapkan sebelumnya, walaupun sejujurnya, itu adalah semacam keputusan impulsiv hanya untuk membuatnya berhenti. “Nanti saat kau kembali dari Okinawa, jangan salahkan aku untuk tidak menghentikanmu jika kau menyesalinya, aku sudah bilang padamu juga.”

“Okay, aku mengerti. Bisa kita makan Sushi sekarang?”

***

Aku tiba di Okinawa sesaat lagi. Tiba di siang hari, yang mana waktu yang sempurna di siang hari, pemandangan dan suara laut yang menyesakkan. Tentu, ini adalah salah satu tempat indah jika kau memiliki sebuah pernikahan di sini.

Kamarku sudah diatur saat aku mencapai Venue dan aku tidak tahan kecuali berpikir begitu banyaknya hal-hal telah berubah setelah setahun bagi Jongin. Dari mana dia mendapatkan uang ini? Di saat itu ketika aku biasanya berkencan dengannya, dia tidak sekaya ini.

Kupantulkan diriku langsung ke atas tempat tidur yang ringan, bahkan tidak peduli dengan koperku yang masih ditangan staff hotel. Kudengar dia menggumamkan sesuatu, tapi jikapun aku mendengarnya, aku tidak akan memahami dia lagi pula.

Melihat sekeliling kamar, tanda balkon menarikku, membuatku melangkah menuju keluar. Saat kugeser pintu terbuka, suara orang-orang yang sibuk mengatur tempat di bawah sana membuatku melihat ke bawah. Kulihat wanita berumur 50an mungkinmenyuruh laki-laki denganberton-ton bunga ke lokasi dimana mereka seharusnya meletakkan bunga-bunga itu dan seorang wanita muda, yang kemungkinan anak perempuannya berdiri di samping, melihat sekeliling pada lingkungan yang sibuk.

Pertanyaan-pertanyaan tetap tertuju padanya dan semua yang kulihat adalah anggukan kepalanya dengan antusias, setuju pada apa yang mereka lakukan.

Akan dibilang satu kebohongan kalau aku tidak pernah memilki fantasi apapun pada bagaimana terlihatnya pernikahan yang kuinginkan. Kami biasanya membicarakannya pada satu tujuan karena mustahil untuk melewatkan topik dimana kami berada dalam hubungan selama 3 tahun, dan saat itu, scene hampir sama seperti apa yang kubayangkan sendiri.

Tiba-tiba kedua mataku terpatahkan oleh figur seorang laki-laki dengan t-shirt abu-abu, dengan lengan baju yang diangkat ke atas sampai ke siku cocok dengan sepasang celana hitam berjalan, menghampiri wanita muda itu.

Itukah  Jongin?

Aku benar-benar tidak bisa melihatnya dengan jelas tapi satu pikiran muncul padaku, ada sekali dimana aku sellau terlihat seperti itu dengannya. Saat dia melingkarkan tangannya pada pinggangku, memberi tatapan suka, kedua matanya melengkung keatas dengan senyuman indah itu, mengatakan padaku dia mencintaiku.

Untuk apa balas dendam? Aku mungkin ke sini karena aku hanya berpikir mungkin aku bisa memilikinya kembali.

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Advertisements

17 thoughts on “The Pathetic Ex-Lover’s Club |Chapter 2

  1. Kau tau, mungkin aku sudah pernah mengatakannya, tapi jujur, aku begitu kelewat senang saat tau dia ingin mengacaukan pernikahan mantannya, hahaha ntah lah seperti.. Apa yg sebenarnya aku pikirkan benar2 akan terjadi hahaha itu suatu kesalahan ok, saat dia berusaha mengundang mantan ke acara pernikahannya terutama mereka pernah berkencan selama 3 tahun, well itu bukan waktu yg lama dan pasti meninggalkan bekas yg lumayan dalam, makasih karena sudah memposting ini, aku merasa bersyukur karna ini bagai obat peringan rasa sakit dari fanfic yg sebelumnya ku baca tentang byun baek, ah menyebalkan, kau tau lagu dari Hivi! – pelangi? Ah, lagu itu benar2 cocok ditujukan untuk baekhyun yg dg sialannya di dalam cerita dia masih memikirkan mantannya sementara dia baru saja menyatakan perasaan pada gadis lain, gadis yg menaruh harapan juga padanya, dan parahnya mereka berciuman dan kejadian itu dilihat langsung oleh si gadis, gadis ini tak pernah menangis sebelumnya dia begitu mandiri, tapi karna byun baek dia jadi sering menangis, what the… Bahkan usia hubungan mereka belum ada seminggu!!! Asdddfkkkkdlkeodnnx.. I’m sorry for this.. Jujur aku lega banget ada fanfic yg kamu posting kendati ada hurt2nya/? Tapi jujur ini begitu mengobati rasa sakit hati, ntah aku sensitive akhir2 ini.. Hahaha semangat yaaaa, ku tunggu kelanjutannyaaaaaa fighting..!!!

    Like

    1. aku kagak tahu lagu itu, pernah denger sih kekeke… btw, cerita yg kamu omongin angst banget, epep kah? kalo epep kasih judulnya dong? aish, ini maniak epep banget. kkkkk … back to story, kau pasti kagak bisa bayangin apa yg akan terjadi di pernikahan si mantan, kan? tunggu saja ntar ada si baek tuh di situ, kkkkk… spoiler… thx udah kasih komen yg panjang kali lebar kkkkk but i love it 🙂

      Like

  2. Wih cepet nih kak postnya, syukur deh hahaha
    Iya ga prnh bayangin dateng k pesta pernikahannya mantan, jlebbb bnget pasti😂😦

    Like

  3. wah hana terobsesi banget sma jongin sampe niat sekali menghancurkan pernikahan nyaa
    berpikir bahwa hana gagal menghancurkan pernikahan mantan nyaa dan ketemu sama baekhyun .. greget sama hana nyaa kenapa tergilagila sama jongin sihhh 😂😂 gak rela dehhh …
    terus semangat author ❤❤
    ditunggu lanjutan nyaa 😍😍😚

    Like

  4. anjaay kalo bicara tentang mantan entah kenapa gue sensitif#seketikabaper:'(
    btw ceritanya hampir sama ky aing di real:'( XD tapi untung gue putus ama doi putus pas doi blon nikah..wkwkwk#apainiabaikan
    haduuh kesian ya si hana, pasti potek bgt tuh hatinya yawla bayangin aja diundang ke pernikahan mantano_O mantan cooyy…haha maapkeun saya klo berhubungan yg sama namanya mantan sensitif banget:-\
    tp bagus ko epep nya dtunggu kedatangan beha yeee…semangat buat authornya.

    Like

  5. aku kira cowo yg pake tuxedo merah tua berambut pink” itu beha…#seketikaingetexolution soalny style nya mirip.-.
    chap ini pendek bgt kak huhu tp rapopo msh ttep bagus ko..next ny beha tunjukkan dirimu…btw mr balconny ko g update ka?

    hgg ngemengin ttg mv aku pusing sendiri huhu..gilsss beha tolong ekspresi mukanny kondisikan…zzz pen ku caplok bibirnya….haha
    itu apa”n dah mentang” punya papan.cucian meuni gapake baju sagala:O damn it lebih badboy dr monster

    Liked by 1 person

    1. aku suka beha kalo smirk gitu makin sehseh and hotnya gak ketulungan 😀 kalo mr balcony emang blm update, di kerjain aja blm wkwkwkwk… nunggu idenya muncul, mungkin 282834482 hari lagi wkwkwkwk……. *just kidding* thanks ya udah nungguin epep absurd itu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s