The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 12b

mroie

 

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 12b)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : https://www.asianfanfics.com/story/view/426081/12/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeo

Previous

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 12b

Love’s Not A Competitions But I’m Winning

 

Kau bangun di hari Jumat paginya dengan mata lelah. Kau hanya mendapatkan 3 jam untuk tidur tadi malam karena pikiranmu tidak bisa beristirahat dan berhenti berpikir bagaimana kekasihmu benar-benar tidak bicara padamu hampir satu minggu. Kau periksa ponselmu, berharap ada satu pesan baru darinya atau apa, tapi kau mendesah dan merebah di bantalmu saat tidak ada pesan baru atau apapun.

Hari ini adalah harinya. Konser piano Baekhyun. Dan belum, dia masih belum mengatakan apa-apa.

Flashback melintas dalam kedua matamu saat kau tetap menutup kelopak matamu.

“Kau berat, apa kau tahu?” katamu hanya sesaat setelah Baekhyun meletakkan kepalanya di atas pangkuanmu. Kapanpun dia melihatmu duduk di atas sofa, dia hanya akan langsung duduk di sampingmu dan meregangkan kedua tangannya seperti seekor kucing sebelum dengan malasnya dia gunakan pahamu sebagai bantal pribadinya sendiri. “Sumpah, kepalamu mungkin lebih berat dari pada tubuhmu yang lain.”

“Kau ingin tahu kenapa berat?” tanya Baekhyun, tersenyum menggoda.

“Tidak, jangan katakan –“

“Itu karena terlalu dipenuhi dengan pikiran-pikiran aku merindukanmu,” kata Baekhyun, ditambah dengan kerlingan manis diakhir.

Kau mengerang dan memutar bola matamu, “Tidak. Itu mungkin karena kau si bodoh yang keras kepala.”

“Hey ~” Baekhyun bersenandung, mencubit pangkal hidungmu, “Asal kau tahu, aku mendapatkan beasiswa penuh di tempat ini. Yakin aku bukanlah si bodoh.”

dengan bingung kau mulai mengelus-elus rambutnya –itu mulai menjadi satu kebiasaan barumu, “Wow, apa aku mengencani Einstein masa depan?”

“Beethoven, mungkin,” Baekhyun cekikikan. “Yeah. Well, sejak keluargaku secara praktis meninggalkanku terus, aku hanya harus menghidupi diriku sendiri. Itu tidaklah mudah, tapi aku telah berhasil sejauh ini.”

Kau tersenyum dengan penuh harapan. “Aku bangga padamu, Baekhyun.”

Satu ujung mulutnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman sombong. “Aku bagus pada apa yang kulakukan, kau tahu.”

“Aku tahu.”

Itu tidaklah benar-benar sesulit itu bagimu untuk mengakui bahwa Baekhyun bagus pada apa yang dia lakukan. Vokalnya dan keahlian berpianonya tidak berarti harus diabaikan. Hampir semua orang di Universitas ini tahu bahwa Baekhyun adalah keajaiban musik di generasimu. Dia mendapatkan beasiswa penuh, dan walaupun dia tidak terlihat seperti semacam murid terbaik (dia melewati pelajaran kadang-kadang, dia mengerjakan pekerjaan rumahnya pada jam terakhir dan beberapa hal yang tidak sopan lainnya seperti berhubungan seks di perpustakaan). Baekhyun benar-benar cerdas dalam apa yang dia kerjakan.

Universitas bahkan memberinya satu pekerjaan di mana dia, dan musisi top lainnya di tempat ini, akan menyelenggarakan satu konser amal untuk mengumpulkan banyak uang untuk meningkatkan fasilitas di Kampus ini. Mereka menyelenggarakannya setahun sekali, dan ini adalah kedua kalinya Baekhyun tampil di atas panggung besar. Kau tidak melihat  performennya yang pertama karena kau harus menghadiri kelas tari yang diadakan di pinggir kota lain, dan kau telah begitu menyesal sekali kala itu.

“Datang lihatlah aku bermain, okay?” tanya Baekhyun, menelusurkan jari-jarimu bersama dan tersenyum secara laki-laki. “Kau telah menjanjikanku itu.”

Kau tertawa sedikit, “Apa kau begitu menginginkanku sekali ke sana?”

“Mungkin,” Baekhyun menyeringai sebelum menurunkan kepalamu untuk sebuah ciuman. “Tapi sejujurnya, aku menginginkanmu ke sana, jadi tepati janjimu, okay?”

Kau  buka kedua matamu dan berpikir, apa kau masih menginginkanku ke sana sekarang?

Mengingat apa yang terjadi di hari kemarin di Studio musik, mungkin dia benar-benar tidak menginginkanmu untuk datang dan melihatnya.

Kau mendesah dan meletakkan pergelangan tangan kirimu di atas dahimu, tiba-tiba merasa lelah lagi. Kau ingin melihatnya, tentu saja. Kau ingin meyakinkan bahwa dia baik-baik saja dan siap-siap memukau  penonton dengan penampilan fantastisnya. Tapi jika dia tidak memberimu ijin untuk itu, lalu ……

Pinky promise?

Kau teringat hari dia membuatmu berjanji seperti itu tepat bersamaan ponselmu mulai berbunyi, mengingatkan bahwa ada satu pesan baru baru saja masuk. Kau berguling di atas tempat tidur dan menggenggam ponselmu dengan kedua tanganmu, mengecek mailbox.

Itu dari Baekhyun.

Kau tidak sadar kau sedang menahan napasmu saat kau membaca teksnya.

Kau janji padaku bahwa kau akan datang. Aku mengharapkanmu ke sana. –Baekhyun.

Tidak ada ‘Good morning’. Tidak ada ‘Hai, maaf telah mengabaikanmu berhari-hari’. Tidak ada ‘I miss you, Sweetheart’. Teks bahkan bukanlah sebuah awal percakapan, atau pertanyaan yang baik apakah kau masih akan datang ke konsernya atau tidak. Tidak, itu adalah sebuah perintah.

Kau ingin marah sepanjang hari, kecuali mungkin tidak, mengingat hatimu baru saja menjadi  sedikit lebih senang karena fakta dia masih menginginkanmu untuk datang ke konsernya. Tapi kemudian, teks lain muncul dan kau cepat-cepat mengklik ‘open’.

I ‘m sorry –baekhyun.

Kau tidak tahu untuk apa dia meminta maaf: insiden pengakuan, atau insiden di Studio Musik? Tapi kau hanya merebah di atas tempat tidurmu dan berpikir  bahwa ini sudah cukup.

Ini cukup untuk sekarang.

***

“Hey, Bestie!”  celoteh temanmu  dengan senang sesegera kau membuka pintu ruanganmu untuknya. Dia berpakaian dengan cantiknya dalam gaun lipatan  warna putih dan rambutnya diikat memutar, membuat aura inosennya berdiri lebih jelas. Dia memakai make-up ringan disekitar mata coklatnya, membingkainya dengan eyeliner tipis dan bibirnya di warnai dengan merah natural. “Apa kau siap untuk pergi?”

“Oh, umm …” kau merasa sedikit terintimidasi oleh bagaimana dia terlihat sekarang. Kau rasa tidak suka memakai  gaun terbaikmu dan make-up mengingat betapa  menyedihkannya kau saat itu. Ada begitu banyak –terlalu banyak –pikiran yang berputar-putar dalam benakmu karena menilai  bagaimana malam akan berlangsung. Apa yang akan kau lakukan saat kau melihatnya di depan matamu? Apa yang akan kau katakan saat temanmu membawamu ke belakang panggung untuk memberi selamat padanya atas performennya? Tampang macam apa yang harus kau taruh pada wajahmu saat kau bicara padanya?

Kau lihat dirimu sendiri dan kau meringis. Kau memakai gaun sekat ketat gemerlap berwarna marun  yang membungkusmu tepat pada setiap lekuk tubuhmu. Gaunnya oke, paling tidak, tapi make-upmu kacau. Kau tidak menaruh eyeliner atau maskara apapun –kau bahkan tidak masalah mewarnai bibirmu dan malah hanya memakai lip-gloss .

“Oh, honey,” temanmu mendesah berat. “ kau baik-baik saja?”

“Aku hanya …..” kau melusuhkan bahumu. “Aku hanya merasa tidak ingin pergi. Aku tidak tahu bagaimana aku akan bisa melihat dia setelah semua yang terjadi.”

“Kemarilah,” katanya dan menarikmu kedalam pelukan ramah. “Dia masih menginginkanmu ke sana, kan? Maksudku, kau bilang dia meng sms mu.”

“Yeah, tapi ….” kau merasa seperti kau berada di ujung rengekan seperti seorang bayi atas situasi ini dan kau marah dengan dirimu sendiri saat kau sadar betapa banyaknya kau telah berubah. Kau bukanlah selembut ini dan lemah sebelum kau bertemu dnegannya. “Rasanya seperti dia sebenarnya tidak menginginkanku ke sana. Dia mungkin merasa buruk karena dia sudah membuatku berjanji untuk datang ke bermainnya.”

“Dengar,” katanya, melepas dengan cepat untuk menepuk-nepuk pipimu. “Tidak masalah apakah dia menginginkanmu ke sana atau tidak. Apa kau ingin ke sana?”

“Tentu saja,” kau mendesah, “Hanya – tidak sesimpel itu.”

Dia menenangkanmu dan menekan satu tangan untuk membungkam mulutmu. “Lakukan saja apa yang kau inginkan. Ini hidupmu –bukan miliknya. Jika kau ingin datang, maka datang saja melihatnya.”

Kau mengerjap, sedikit mematung dengan cara dia bisa mengatakan kata-kata itu dengan percaya diri seperti itu. Dia begitu dewasa sekali, pikirmu, karena kau masih teringat hari-hari di sekolah itu ketika dia selalu mengikutimu dibelakangmu, terlihat rapuh dan takterlindungi. Tatapan keras  di kedua matanya sekarang sepenuhnya sebaliknya dari bagaimana dia muncul kala itu.

Sebelum kau mengetahuinya, dia menyeretmu kembali ke dalam kamarmu dan mendorongmu turun sehingga kau bisa duduk dengan nyaman di atas sofa. Dia raih peralatan make-upnya dari dompetnya, dan tersenyum ketika kau menatap padanya dengan gugup.

“Aku akan membuat dia menyesal karena tidak mengawalmu ke tempat itu sendiri.”

***

Ada suara ketukan pintu yang keras berasal dari sisi lain pintumu dan temanmu menautkan kedua alisnya dengan konsentrasi saat dia menaruh eyeliner di bawah kedua matamu dengan hati-hati. “Tunggu sebentar!” katanya, tidak menghentikan aksinya. Suara ketukan pintu juga tidak berhenti –jika apapun, bahkan menjadi semakin keras. Menjengkelkan, dia berteriak, “KUBILANG, TUNGGU SEBENTAR!” dan kau harus memegang ujung  tempat dudukmu, karena sial, dia begitu menakutkan ketika dia menjadi marah.

Siapapun yang berada di depan pintu kelihatannya menyadari itu juga karena ketukan pintu tiba-tiba saja berhenti.

“Okay, selesai,” katanya, menyingkir darimu dengan sebuah senyuman puas. “Kau sudah tertata dan cantik sekarang! Yaaay untuk kita semua!” dia mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil terimut dan kau tidak tahan kecuali tersenyum pada itu.

“Thanks,” katamu, merasa lebih dari bersyukur saat kau lihat dirimu sendiri pada cermin. Dia telah melakukan satu pekerjaan hebat, sungguh. Dia dengan sukses telah mengubah penampilan mu sebelumnya pucat dan lelah di wajahmu, menjadi tampang yang lebih percaya diri, terlihat segar. Jangan lupakan, cantik yang elegan juga.

Temanmu tersenyum lagi dan menggenggam tanganmu. “Ayo, kurasa Chanyeol sudah ke sini,” katanya, dan dan cepat-cepat menarikmu dari tempat dudukmu. “Kita harus pergi sekarang. Ayo, ayo!”

“Okay, okay,” kau cekikikan, meraih dompet dan berjalan sendiri ke depan pintu.

Saat kau membuka pintu, kau lihat Chanyeol berdiri di depannya, menunggu dengan sabarnya padamu dan kekasihnya. Dia berpakaian dengan elegan juga, dengan sepasang sepatu pantofel yang terlihat mahal, dan rompi hitam yang dikombinasi dengan kemeja putih yang dikancingkan sampai atas. Dia belum memakai pasangan blazer hitamnya, dan malah hanya menyampirkannya pada salah satu lengannya. Dia menggulung lengan kemejanya sampai siku, emnunjukkan lengan kekarnya dan dia juga memakai sebuah jam tangan CK Men’s Bold Chronograph pada pergelangan kirinya. Kau tahu Chanyeol sangat kaya raya, tapi wow, kau benar-benar tidak pernah melihatnya berpakaian lengkap dan terlihat begitu high class sebelumnya –tidak sampai sekarang.

“Wow, kau terlihat –“ Chanyeol mengerjap dan bibirnya terbuka terpukau. “Kau terlihat menakjubkan.”

Kau mengeluarkan tawa malu-malu. “Thanks. Kau sendiri juga tidak jelek-jelek amat.”

“Dan bagaimana denganku?” kekasinya cemberut, menginginkan perhatiannya. “Apa kau tidak akan mengatakan  sesuatu padaku  juga?”

Chanyeol kelihatannya sulit untuk mengalihkan pandangannya darimu, tapi waktu dia mendaratkan kedua matanya pada figur kekasihnya, dia menjadi Chanyeol penyerang cinta yang  biasanya  sekali lagi.

“I love you,” katanya, dan dia tertawa kecil karena Chanyeol seharusnya berterima kasih  pada  dia tentang penampilannya. Dia membiarkan kekasihnya menhancurkan  wajahnya dengan ciuman-ciuman lembut, sebelum akhirnya dia menekan mulutnya di mulut kekasinya, bahkan tidak peduli tentang bagaimana lipsticknya akan tercoreng setelahnya.

Kau menguap dengan dramatisir.

“Oh, maukah kau lihat waktu,” katamu, suara datar. “Ini sudah lewat aku –bercumbu –dengan kekasih –ku – seperti –kelinci – yang –terangsang siang, kurasa kita harus pergi.”

“Sorry,” kata temanmu dan dia dengan halus mendorong Chanyeol menjauh. Dia tertawa kecil saat Chaneyol mencium ujung hidungnya dan mencuri kecupan lain dari bibirnya.

“Lanjutkan ini nanti?” tanya Chanyeol, tersenyum ala laki-laki.

“Nanti,” janjinya, mengangguk dan menirukan senyumnya.

Chanyeol mencondong untuk memberikan ciuman lain pada pipinya sebelum dia berkata, “Kau terlihat begitu cantik hari ini.”

Kau lipat kedua tanganmu didepan dadamu, menggelengkan kepalamu tak berdaya pada pasangan bodoh tapi tersenyum juga. Itu semacam rasa senang melihat bagaiaman kedua orang bisa begitu dengan tulusnya  dalam cinta seperti mereka. Kau merasa sedikit terhantam cemburu dalam dadamu, tapi kau juga senang karena tanda mereka yang menjadi saling tersenyum dan tertawa satu sama lain.

Jika saja Baekhyun bisa seperti itu denganmu juga ….

“Hey, kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol, mematahkanmu dari pikiran-pikiranmu. “Masih di sana?”

“Huh? Oh, yeah ….” kau taruh rambut halusmu dibelakang telingamu sebelum kau bergumam, berdehem. “Sorry, apa kita siap pergi sekarang?”

“Hey,” kata Chaneyol dengan lembut, membungkuk sedikit sehingga dia bisa meningkatkan kedua matanya pada milikmu. “Akan baik-baik saja, okay? Baekhyun akan sadar betapa dia begitu mencintaimu cukup segera. Kau jangan khawatir.”

Kau mengerutkan  hidungmu padanya dengan jenaka. “ Hanya seberapa banyak kau tahu tentang kehidupan cintaku dengan Baekhyun? Kau ahjumma penggosip!” kau cubit hidungnya dan dia sedikit melompatkan kaki panjangnya. “Ayo, kalian lovebird, pertunjukan akan dimulai.”

Hatimu tidak merasa seberat sebelumnya dengan kedua idiot ini di sampingmu.

***

Aula Auditorium S.M University sangat besar dan didominasi oleh warna merah. Hampir semua di ruangan ditutupi dengan warna yang sama dari gaunmu –dari tempat duduk penonton yang berbaris rapi (Auditorium menawari sekitar kurang lebih, tiga ratus tempat duduk di atas dua tingkat), pada tirai  lebar berwarna  yang cukup panjang menyembunyikan seluruh panggung di baliknya. Ruangan sedikit dingin bagimu dan kau bersyukur ketika Chanyeol menaruh blazernya sekitar pundakmu.

“Kulihat kau kedinginan,” katanya, kedua matanya mempedulikan.

“Ruangan bahkan tidak sedingin itu, apa kau baik-baik saja?” tanya temanmu, terlihat khawatir juga.

“Aku baik-baik saja, guys, kalian tidak harus mengawasiku 24 jam,” katamu walaupun kau tetap mengirimi mereka senyuman menyenangkan.

Dia mengedikan bahu. “Well, okay. Kami hanya khawatir.”

“Thanks, Mom.”

Dia mengerutkan hidungnya padamu pada komentarmu dan meraih tanganmu. Dia menyeretmu pada tempat duduk, mengetuk-ngetuk dagunya sambil dia berpikir tempat mana yang terbaik untk menonton seluruh pertunjukan. Tidak ada banyak pilihan, sungguh, mengingat ruangan hampir penuh dengan orang-orang.

Kebanyakan tamu telah mengambil tempat duduk mereka dan temanmu menggerutu karena tempat duduk depan sudah dipenuhi. Dia menepukkan kedua tangannya saat dia melihat  sebenarnya ada tiga tempat duduk kosong yang tersisa di baris ketiga. Tempat duduk itu berlokasi paling pinggir ruangan –bukan tempat yang terbaik untuk menonton panggung tapi paling tidak mereka cukup dekat padanya. Chanyeol segera mengikuti langkah-langkah nya, duduk di sampingnya tanpa harus diperintah. Kau duduk di sampingnya yang lain, hanya tepat di akhir barisan.

“Aku begitu tergetar,” temanmu mencicit  dengan senangnya, “Aku tidak pernah berada di konser amal sebelumnya.”

“Tidak ada yang terlalu hebat, sungguh. Jangan biarkan dirimu terlalu tertarik.” Chanyeol cekikikan dengan suara beratnya. “Ini hanyalah seperti sebuah gala kecil dimana wanita tua bisa berpakaian seperti prostitusi kelas tinggi dan menonton pertunjukan gratis, berharap mereka bisa bercinta setelahnya dengan beberapa anak kuliahan  murahan, yang tampan.”

Kekasihnya memberinya sebuah tatapan.

“Apa?” Chanyeol mengedikan bahunya dengan tidak  mudah. “Itulah yang Lu Han –Hyung katakan padaku.”

Kau hanya meletakkan senyuman yang terjaga pada bibirmu sambil memainkan tombol ponselmu. Kau tetap mengecek apakah ada pesan baru dari Baekhyun atau tidak. Menyedihkan bahwa kalimat tadi benar.

Kau mendesah dan memandang dengan malasnya saat presenter malam itu muncul ke panggung. Kau tidak peduli mendengar perkenalannya dan tujuan pertunjukan atau bahkan tentang amal sendiri. Kau hanya berharap konser ini akan segera berakhir, jadi kau bisa membawa dirimu pulang untuk tidur. Karena kemudian, kau tidak harus akan setuju dengan rasa sakit yang besar yang kau rasakan dalam dadamu kapanpun pikiran-pikiranmu melayang kembali pada seseorang dengan huruf besar B sabagai inisialnya.

Kau tidak begitu ingat apa yang terjadi pada malam itu, tapi kau teringat momen ketika Byun Baekhyun akhirnya tiba di atas panggung berbaris panjang dengan beberapa musisi lainnya.

Napasmu tercekat di tenggorokanmu saat kedua matamu menelisik pada wajahnya dan sisa figur dirinya. baekhyun terlihat tampan dengan eloknya malam itu. Dia memakai pakaian formal, berpakaian dengan rapi dengan kemeja yang di pasangi dasi hitam yang membuat penampilannya saja terlihat bahkan lebih tajam dan tampan –walaupun kelelahan dan kelelahan  di kedua matanya  menghianatinya. Rambutnya ditarik kebelakang, menciptakan arogan tipis ini terlihat di wajahnya, dan membuat dia terlihat seperti seorang pewaris dari keluarga kerajaan.

Sesegera dia memasuki panggung dan tetap berdiri dengan sempurnanya di samping presenter, dia pasang kedua matanya pada penonton, meneliti dengan jelas  setiap wajah pada kerumunan dan mencari sesuatu –atau seseorang – kau tidak tahu. Kau ingin mengatakan sendiri bahwa dia sedang mencarimu tapi kau tidak ingin memberikan  terlalu banyak harapan pada dirimu sendiri.

MC menyuruhnya memperkenalkan dirinya dan dia hanya tersenyum dengan mempesona  setelah dia membungkuk pada penonton dan mengucapkan namanya. Walaupun dia tersenyum, kau bisa mengatakan betapa dia gugup dan tidak mudah dari tatapan kedua matanya. Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga sekali pada hidupnya. Itu butuh pengendalian – dirimu untuk tetap tenang di tempat dudukmu dan tidak hanya lari ke atas panggung dan menggenggam tangannya dengan meyakinkan.

Ketika MC menyuruh  musisi lainnya   untuk memperkenalkan diri mereka juga, Baekhyun mencari di kerumunan lagi dan dia menjadi lebih dan lebih gelisah  saat dia masih tidak bisa menemukan apa yang sedang dia cari.

Sampai dia mendaratkan kedua matanya padamu.

Itu terasa seperti waktu benar-benar berhenti untuk beberapa detik, dan kau tidak berpikir bahwa itu perlu untuk bernapas saat itu. Momen dia melihatmu, dia terlihat seperti seseorang yang baru saja terangkat dari berton-ton beban di pundaknya, walaupun dia tidak tersenyum; dia bahkan tidak memberi tanda lega atau melakukan sesuatu yang sama pada itu. Dia hanya tetap membiarkan wajahnya teguh dan kedua tangannya diam, membuatmu ingin berpikir kembali pada situasi berulang lagi. Apa dia atau dia tidak mencarimu saat itu?

“Mari beri tepuk tangan pada penampil pertama!” MC tiba-tiba berteriak melalui mikropon dan kau merasakan perutmu mulai teraduk saat dia mengumumkan nama, “Byun Baekhyun!”

Pembawa acara dan musisi lainnya menuruni panggung, meninggalkan dia berdiri di sana dengan panggung kosong tanpa apapun kecuali sebuah piano besar dan satu mike  yang berdiri di atasnya. Piano sudah dilengkapi dengan satu mikropon yang diletakkan dengan rapi di atasnya jadi penampil bisa bernyanyi dan bermain dalam waktu yang bersamaan. Baekhyun membungkuk sekali lagi pada penonton sebelum dia duduk dibelakang piano yang besar, elegan.

Kau genggam kain gaunmu saat kau menunggunya untuk memulai performennya. Dia terlihat begitu tegang dan gugup –dia tidak pernah seperti ini kapanpun dia sedang tampil untuk seseorang. Baekhyun adalah seorang artis yang sebenarnya. Dia kharismatik dan selalu penuh percaya diri kapanpun dia memiliki mikropon ditangannya atau kunci-kunci piano dibawah jari-jari ahli panjangnya. Jadi kenapa dia menjadi seperti ini sekarang?

Come on, Baekhyun, you can do it.

Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Dia baru saja akan memukul nada pertama ketika dia menghentikan  aksinya sendiri dan tiba-tiba saja berdiri.

“Sebenarnya, guys –“ Baekhyun terdengar buru-buru saat dia mengambil langkah ragu pada mikropon yang berdiri yang seharusnya hanya digunakan oleh MC. “Ada perubahan rencana. Umm……” dia berdehem dengan canggung dan terlihat sedikit bertentangan dan tiba-tiba gugup. “Bisakah aku dapatkan waktu mu? Hanya sepuluh menit, mungkin? Ada sesuatu yang ingin kukatakan.” Baekhyun menunggu satu anggukan pada penjaga waktu pertunjukan, dan dia tersenyum, memperlihatkan giginya, saat dia mendapatkan kata iya.

Kau melihat padanya dengan mata khawatir,tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya.

Baekhyun mengeluarkan tawa kecil yang gugup pada mikropon. “Dengar, seharusnya aku memainkan  Pathetic Second Movement dari Beethoven malam ini, tapi kurasa itu sedikit bersifat susah diatur  hari ini jadi aku hanya akan lempar saja ke jendela dan mengubahnya ke dalam laguku sendiri, jika itu oke bagimu.” Seluruh ruangan menjadi terdiam, hanya beberapa orang yang mulai bertukar gumaman halus yang tidak bisa kau dengar dengan baik. Tapi ketika Baekhyun mengerling pada salah satu penonton yang sedang duduk di tempat duduk depan dan berkata, “Masih terlihat cantik disana, Mrs. Kim. Apa itu gaun baru?”, orang-orang mulai tertawa kecil karena jelas bahwa Baekhyun mencoba memenangkan hati gurunya lagi. “Oh, ayolah, Mrs. Kim, ini konser amal. Orang-orang tidak datang kesini untuk mendengar nada sedih, nada menyiksa; mereka ingin merasakan cinta! Jadi cinta adalah apa yang ku sajikan pada mereka.” Kemudian dia cekikikan dan menghadap pada semua penonton. “ dia berkata iya, aku akan ditendang nanti oleh sepatunya, tapi katanya iya untuk sekarang.”

Penonton tertawa beberapa lagi walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi. Wajah Baekhyun sedang terbuka dan lebih santai sekarang, dan dia melakukan aksi sedikit imut ini membuat kebanyakan gadis-gadis di tempat duduk depan secara praktis melempar diri mereka padanya –Mrs. Kim adalah yang paling mirip salah satu dari mereka.

“Jadi,” Baekhyun memulai, mencari perhatian semua orang lagi. “Sebelum kumulai, aku ingin menceritakan pada kalian sebuah cerita. Ini tentang temanku dan kekasihnya, yang terjadi tidak terlalu lama yang lalu. Cerita mereka telah menjadi inspirasiku untuk menulis sebuah lagu –lagu yang akan kunyanyikan pada kalian nanti. Jadi kuharap itu mungkin akan menjadi inspirasi kalian juga.” Kemudian Baekhyun meletakkan satu tangannya pada  dadanya dan menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya  “wow, aku gugup. Kalian semua cantik sekali, kurasa aku akan pingsan.” Ada tawa lainnya yang merayapi ruangan dan kau tidak bisa menghentikan dirimu untuk tersenyum karena ini semua begitu Baekhyun sekali. Cara dia menghibur orang-orang dengan kata-katanya, cara dia menaruh senyum panggungnya, cara kedua matanya memancar dengan gairah dan percaya diri saat dia berdiri di atas panggung.

Tapi serius, apa yang sedang dia lakukan?

“Cerita ini, para hadirin.” Kata Baekhyun dengan suara melodi yang bagus, “Dimulai dengan satu pasangan bahagia, sebut saja mereka laki-laki dan gadis. Mereka memulainya sangat kasar pertama kali, selalu bergurau  satu sama lain, melempar pukulan kesini dan ke sana. Jujur? Mereka saling membenci, seperti, begitu banyak, kau bahkan tidak tahu. Bahkan aku mulai frustrasi! Tapi kemudian, sesuatu terjadi!” Baekhyun menambahkan satu perangaan yang mendramatisir, bahkan menutup mulutnya dengan satu tangannya dan membuka matanya lebar-lebar. Kau merasakan senyum merayapi bibirmu sementara orang-orang lainnya tertawa pada tingkah buruknya. “Mereka jatuh cinta! Yaay ~” Baekhyun sebenarnya menggoyangkan kedua tangannya diudara dengan senang. “Walaupun mereka saling merasakan hal yang sama, tidak ada diantara mereka yang cukup berani untuk maju duluan dan mengatakan pada yang lain. Laki-laki itu berpikir itu tidak harus di katakan. Dia pikir gadis itu sudah bisa melihat perasaannya  tanpa dia mengucapkannya dengan keras secara langsung. Ada alasan lain kenapa dia tidak mengatakan langsung padanya bahwa dia mencintainya, tapi sebelum itu, aku akan menanyakan satu pertanyaan di sini.”

Baekhyun berhenti untuk meraih mikropon dan menuruni panggung untuk bertanya pada seorang gadis yang duduk di tempat duduk depan terdekat. “Apa yang kau pikirkan tentang laki-laki itu, Miss? Apa kau pikir dia payah karena tidak ingin menyatakan cintanya?” tanyanya, tersenyum dengan ramah.

Ada beberapa tawa kecil dan tawa geli bagi pilihan rendah kata-kata Baekhyun. Dia memberinya mikropon dan dia menjawab, “ Aku tidak akan mengatakan ‘dia payah’, tapi ….”

Baekhyun memutar bola matanya dengan jenaka saat itu dan merespon, “It’s okay, aku tidak akan mengatakan padanya. Kurasa dia payah brengsek sekali, seseorang harus sudah memanggil polisi,” dan penonton tertawa lagi.

Gadis yang duduk di depan mengeluarkan tawa geli yang paling imut ini yang bagaimanapun menjengkelkanmu. Jelas bahwa dia sedang main mata dengannya. Gadis itu meneruskan kata-kata dia sebelumnya, “ Tapi tidakkah seharusnya laki-laki itu mengatakan pada perempuan bagaimana yang mereka rasakan terlebih dahulu?”

Well, menurutku sendiri sebagai seorang pendukung dari persamaan jenis kelamin, jadi kurasa perempuan harus mengambil tindakan terlebih dahulu, hanya untuk sebuah perubahan,” kata Baekhyun dengan natural yang baik. “Seperti halnya dalam kisah ini: gadis itu mengatakan pada laki-laki itu terlebih dahulu. Katanya dia mencintainya dan laki-laki itu ketakutan dan pergi.” Baekhyun terperanga lagi. “Oh, horror!”

Kau benar-benar terpesona dengan cara Baekhyun yang sedang memainkan kata-katanya dan gerakan tubuhnya. Dia tahu bagaimana menarik perhatian orang-orang dan dia tahu bagaimana untuk tidak membiarkan mereka berpaling.

Tapi semakin kau terserap pada cerita, semakin kau menyadari ini tentang kau dan dia. Dan kau mengepalkan tanganmu diatas pangkuanmu karena kau tidak menyiapkan dirimu untuk ini.

“Ingin menebak kenapa si brengsek tiba-tiba saja pergi, Miss?” Baekhyun bertanya pada gadis lain diantara penonton.

Dia menjawab dengan gugup, “Karena dia tidak membalas mencintainya?”

“Salah!” Baekhyun merespon sedikit keras. “Kau baru saja kehilangan satu kesempatan pergi ke Lotte World, tolong kemasi tasmu dan pergi. Ada sukarelawan lain?” Baekhyun baru saja akan pergi ketika dia berbalik dan berkata pada gadis sebelumnya, “Aku bercanda, kau terlihat cantik malam ini.” Dan dia lempar kerlingan menggoda padanya. “Ada yang lain yang ingin mengungkapkan pikirannya?”

Kau tidak sadar kau telah menaikkan tanganmu diudara sampai pandangan Baekhyun jatuh padamu dan dia menjadi terdiam untuk sesaat.

“Yes, Miss?” pandangan mata Baekhyun melembut dan dia tersenyum dengan benar kali ini, dan kau merasakan jantungmu tersentak karena kau tidak pernah melihat senyuman macam itu padanya untuk sementara sekarang. Dia mmeberimu mikropon dan ketika jari-jarimu tersentuh, dia terlihat sedikit terluka tapi juga menginginkan lebih.

“Karena,” kau rasakan ternggorokanmu terbakar saat kau bicara pada mikropon. “Karena dia tidak ingin berkomitmen pada gadis itu?”

Baekhyun terlihat sakit dengan kata-katamu. Saat dia mengambil mikropon kembali, kedua matanya tetap memandang padamu, dan berkata dengan dinginnya. “Maaf, Miss, tapi kalimat itu tidak bisa lagi salah.”

Dan kau langsung merasa menyesal karena melarikan mulutmu dengan ceroboh sekali seperti itu.

“Masalahnya adalah, para hadirin,” kata Baekhyun, sekarang mengahadap  penonton hanya kali ini dengan kedua mata yang sama-sama tertarik, kau bisa melihat rasa sakit tersembunyi diantara matanya. “Laki-laki itu sangat, sangat mencintainya, rasanya seperti hatinya ingin meledak setiap kali dia melayangkan pandangan matanya padanya.” Baekhyun berhenti sekali lagi melihat lurus pada kedua matamu. “Dia peduli padanya banyak, pada initinya dia akan berkeinginan melakukan segalanya untuk nya.

Perutmu terasa teraduk-aduk tapi bukan karena kalimatnya, tapi melainkan kata-kata yang tak terucapkan yang muncul dalam kedua matanya.

“Tapi laki-laki itu seorang pengecut,”  lanjutnya. “Itulah kenapa dia pergi. Saat dia setuju untuk mengencani gadis  itu, dia tidak berpikir hubungan mereka akan maju begitu cepat dan mulus seperti ini. Jadi ketika gadis itu mengatakan kata L dengan keras, dia ketakutan karena dia belum siap untuk ini. Dia sedang membuat persetujuan besar darinya, aku tahu, tapi baginya, mengatakan kata-kata itu adalah seperti membuat sebuah janji. Dan dia tidak takut karena dia membuat satu janji untuk berkomitmen pada satu orang. Dia takut karena jika dia melakukan –jika dia mengatakan padanya  dia balas mencintai –dia akan mengecewakannya di masa depan.”

Kau merunduk menatap pangkuanmu dan merasakan tangan temanmu yang mulai memberikan pijatan meyakinkan pada tangan kananmu. Setiap kali Baekhyun bicara, dia terlihat dia gembira dan tertarik untuk menceritakan cerita pada penonton, tapi sekarang bahwa kau memalingkan pandanganmu darinya, kau bisa katakan hanya ada rasa sakit dan kesedihan dalam suaranya.

“Lihatlah, laki-laki itu tidak mempercayai dirinya sendiri saat disekitarnya. Itulah yang dia katakan padaku. Gadis itu sempurna –terlalu sempurna untuk laki-laki itu bahkan untuk mendiskripsikan bagaimana dia. Dan laki-laki itu merasa dia bukanlah apa-apa dibandingkan dengan dia. Laki-laki itu merasa tidak aman dan khawatir mungkin dia menyesali janjinya di masa depan. Dia takut kehilangan dia.” Baekhyun tertawa kecil dengan malu-malu saat dia meneruskan, “Satu waktu, gadis itu bahkan menamparnya tepat di wajahnya karena selalu berpikir terlalu rendah tentang dirinya. Aku disana melihatnya, dan oh, kurasa aku juga ingin meninjunya sampai ke tanah. Tapi kemudian laki-laki itu bilang padaku bahwa tidaklah mudah hanya memaafkan dirinya sendiri karena dia telah melakukan hal buruk padanya. Itu mengherankan, sungguh, karena gadis itu cukup ramah untuk memaafkannya. Tapi masalahnya adalah, para hadirin, laki-laki itu hanya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang dia lakukan padanya. Jadi natural saja baginya untuk tidak cukup mempercayai dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyakitinya di masa depan.”

Saat Baekhyun berhenti berbicara, seluruh Auditorium menjadi sunyi senyap, Baekhyun perlahan melangkahkan kakinya kembali ke panggung dan menaruh mikropon kembalai pada mike berdiri, “ Jadi,” kata Baekhyun, berdehem. Dia tidak tersenyum secerah sebelumnya. Dia terlihat sedikit melankolis sekarang, dan kau tidak berpikir itu adalah sebuah akting. “Kutulis lagu ini untuk mempersembahkan perasaan laki-laki itu pada gadis itu. Perasaan dia yang sebenarnya, maksudku. Perasaan yang belum dia ucapkan pada gadis itu –bahkan tidak sampai sekarang. Jika ada diantara kalian di sini yang mengalami hal yang sama, kuharap lagu ini bisa mengirimi hal-hal yang ingin kalian dengar. Karena tidak masalah siapa yang mengatakannya  duluan, satu hal baik yang selalu didengar bahwa kau dicintai.”

Baekhyun menaruh senyuman lembut pada bibirnya dan kau berhenti bernapas ketika dia memasangkan pandangan matanya padamu untuk beberapa detik saat dia berkata, “Lagu ini berjudul Angel. Kumohon dengar baik-baik.” Dia berbalik dan duduk di balik pianonya. Dia benahi mikropon dan setelah meregangkan jari-jarinya sedikit, Baekhyun menekankan jari-jarinya pada kunci piano, menciptakan  nada –nada lembut, familiar ini yang pernah kau dengar sebelumnya dalam hidupmu.

Itu adalah lagu itu. Eternally Lost.

“As if i was reborn as a child who doesn’t know everything

I thought it was a dream so i closed my eyes and opened them again”

Suara Baekhyun selembut sutra –semacam suara yang akan membuatmu tertidur. Dan kau rasakan dirimu tersenyum tapi juga ingin menangis  disaat yang bersamaan. Bagaiamana bahkan  itu mungkin?

“Even if it’s a small thing,

I want to protect you for always

So you won’t ever have to suffer

I’m eternally loved

Dia mengubah liriknya untukku, pikirmu saat kau mendengar dan merasakan hatimu tertarik dalam cara paling menyenangkan mungkin. Suatu tempat dalam benakmu, kau percaya bahwa  itu bukanlah hanya Baekhyun yang menyanyikan kata-kata itu untukmu. Kau juga menyanyikan ini kembali padanya –menjanjikan dia kata-kata ini.

“As your guardian angel, i will block out that strong wind

Even if everyone turn their back against you

On hard days, i will wipe away your tears

If only i can be that kind of person

Wherever we go, it’ll be heaven”

Kau sembunyikan kedua mata basahmu dibawah tanganmu dan tertawa kecil dengan lembut, “You graesy bacon ….”

“I have come to love you now

There’s no place for me to go back

My wings have been taken away

Even if lost eternal life, the reason why i’m happy

Is because my forever is now you

Eternally love”

Katika lagunya berakhir, ruangan dipenuhi tanpa apapun kecuali suara tepukan tangan dan siulan orang-orang dan kagum pada nya, tapi Baekhyun tidak terlihat sombong atau terkesan tentangnya. Laki-laki itu  dengan cepat hanya pergi ke belakang panggung, hanya kembali tidak lebih semenit kemudian dengan seikat bunga –mawar putih dan merah –di tangannya.

Kau membatu, duduk seperti patung di tempatmu saat dia menuruni panggung dan berjalan ke tempat dudukmu.

“Oh my God –“ temanmu mencicit  di tempat duduknya. “Apa dia akan –oh my God!”

Baekhyun sekarang sedang berdiri di sampingmu dengan mawar-mawar merah-putih itu yang menghiasi kedua tangannya. Dia melarikan pandangan matanya ke bawah sesegera kau mendaratkan kedua matamu padanya, melihat seluruh tingkat kegugupan yang baru.

“Umm ….” Baekhyun berdehem, kedua mata tertuju pada kakinya. Suaranya masih  cukup bisa terdengar ke seluruh ruangan karena mikropon pribadinya yang masih pada kerah bajunya. Wajahnya semerah mawar ketika dia menyodorkan bunga-bunga itu ke arahmu. “Laki-laki itu memintaku untuk memberikan ini padamu.”

Oh my God!” temanmu hampir berdiri, menepukkan kedua tangannya dengan rasa tertarik sampai semua orang dalam ruangan mulai menenangkannya.

“Sssh, kau mengacaukan momen,” kata Chanyeol dengan rendah, menariknya turun.

“Silahkan,” Baekhyun memberanikan diri saat kau masih membeku di tempat dudukmu. “Ambil bunganya.”

“Aku –“ kau jelas-jelas tidak bisa berkata apa-apa. Ini tidaklah menyerangmu bahwa Baekhyun sebenarnya melakukan ini di depan hampir tiga ratus orang di ruangan ini. Kau melihat ini dengan kedua matamu sendiri, tapi masih berusaha percaya.

“Aku ingin kau memberikan bunga ini pada gadis itu,” kata Baekhyun, suara sedikit bergetar saat wajahnya menjadi semakin memerah. Dia masih tidak cukup melihatmu. “Dan katakan padanya, dia menyesal.”

Kau bisa mendengar temanmu berbisik dengan antusiasnya pada kekasihnya, “Oh my God, Yeollie, ini cute sekali!”  diikuti dengan suara menenangkan lainnya yang banyak.

Kau merasakan kedua matamu mulai basah dengan air mata, “Apa kau, pesuruh mereka?”

“Singkatnya,” jawabnya, akhirnya melihat ke dalam matamu dengan sebuah senyum kecil, malu-malu  dan rona merah yang menyebar di kedua pipinya. “Kau bisa katakan itu.”

Kau mengeluarkan tawa kecil saat kau mengambil bunga-bunga dari tangannya. “ Dan apa ada pesan lain yang harus ku kirim  juga?”

“Ya, ada lagi.” Kata Baekhyun, dan menarik napas dalam-dalam sebelum kedua matanya terjatuh padamu dan menguncinya di sana. Tiba-tiba kau merasakan perasaan senang lainnya yang berputar-putar dalam dadamu saat dia tersenyum dengan lembutnya dan membuka mulutnya untuk bicara.

I love you,” ujar Baekhyun dengan keras, membuat kata-kata itu terdengar lebih berat dan lebih berarti dari pada yang seharusnya. “I love you and it makes me feel ridiculous because i’ve never felt this before. I love you so much that i can’t stop smiling at my own reflection because everytime i see my self, i see you, i remember you.”

Obrolan tidak jelas  bisa terdengar saat kau rasakan pandangan semua orang terjatuh padamu. Bahkan saat Baekhyun mengatakan kata-kata berikutnya dalam nada yang rendah, setiap orang dalam ruangan ini kelihatannya bisa mendengarnya.

 “Masa bodoh, Sweetheart, aku sangat mencintaimu pada intinya aku menulis sebuah lagu tentang seorang laki-laki yang dengan sia-sia jatuh cinta dengan seorang gadis, walaupun aku benci menulis hal-hal tolol seperti itu.”

Kau tersenyum, mengingat bagaimana lagu ini –Angel –ditulis dalam lirik yang benar-benar  berbeda dari yang sebelum.

“Dia memanggilnya ‘sweetheart’!” temanmu tertawa geli seperti gadis 13 tahun yang memiliki rasa naksirnya yang pertama. “Dia benar-benar bicara tentang dia dan bukan –“

“Honey, kita sudah tahu itu,” kata Chanyeol, meletakkan telapak tangannya pada mulut kekasihnya.

Kau tidak mendengar beberapa dari itu, meski. Kau tetap memfokuskan pandanganmu padanya dan hanya mendengar kata-katanya. Itu tidaklah berlebihan  untuk mengatakan itu saat itu, waktu seolah berhenti dan hanya  kalian berdua yang berdiri dalam ruangan itu.

Semua yang kukatakan adalah,” lanjut Baekhyun, melangkah mendekat padamu. “Aku sangat mencintaimu, yang menginginkanku menjadi egois dan menyimpanmu untuk diriku sendiri. Dan aku sangat sangat mencintaimu  bahwa sebenarnya aku merasa lelah karena memikirkanmu dan merindukanmu sepanjang waktu bahkan ketika kau berada di sampingku. Tapi aku harus, karena jika aku tidak memikirkanmu dalam hariku, aku akan melihatmu dalam tidurku dan yang hanya akan membuatku menginginkan lebih. Untuk mu. Untuk senyuman tidak jujurmu, untuk tawa kecilmu, untuk pancaran menggoda itu yang kau sembunyikan dalam kedua matamu.”

Baekhyun sekarang berdiri  tidak jauh dari jangkauan tangan dari tempat kau berada. Dia mengulurkan  untuk menyentuh wajahmu tapi dia ragu-ragu, mungkin berpikir bahwa kau mungkin menarik diri, jadi dia menyerah malah  bermain-main dengan rambut halusmu sebelum menyelipkannya dengan rapi dibelakang telingamu.

Aku mencintaimu dan kau bahkan tidak tahu seberapa banyak,” dia mendesah, mengucapkan kalimatnya dalam sebuah bisikan walaupun mikroponnya –mikropon yang terpasang dikerah bajunya –sebenarnya tidak bisa merahasiakannya. “Karena tidak ada satu katapun di seluruh jagad raya ini yang bisa mendiskripsikan betapa aku sangat mencintaimu.”

Kau pejamkan kedua  matamu dan kau tidak ingat apakah kau sedang menangis atau tidak saat itu, karena semua yang bisa kau lakukan  di  ingatanmu adalah Baekhyun dan semua  yang sedang dia lakukan dan telah dia lakukan.

Kau masih teringat bagaimana kau tetap tersenyum  begitu, begitu lebarnya sampai kau bisa rasakan kedua tulang pipimu mulai sakit. bahkan kemudian, kau masih tidak bisa berhenti tersenyum.

“Apa laki-laki itu mengatakan padamu semua hal-hal itu?” tanyamu, tersenyum malu-malu saat dia menempelkan keningnya padamu.

“Y –yeah,” kata Baekhyun, akhirnya menangkap fakta yang baru saja dengan sungguh-sunguh  dia lepaskan dan menuangkan setiap hal yang seharusnya tetap dia sembunyikan dalam kepalanya sendiri.”Maksudku, mungkin aku menambahkan beberapa hal sedikit –k –kau tahu, improvisasi. Dia menulis pidato itu untuknya, aku –“

“SUDAH CIUM SAJA DIA, DUDE! GOD!” suara Chanyeol tiba-tiba menggema keseluruh ruangan, membuatmu melompat secara tidak sengaja  kedalam pelukan Baekhyun. Itu ironis, sungguh, karena tangan kanan Chanyeol yang masih membekap mulut kekasihnya untuk menahan dia bicara, tapi yang dia lakukan lebih parah dari yang telah dilakukan kekasihnya.

Ruangan pecah ke dalam gelak tawa, dan Baekhyun mengusap-usap tangannya pada sisi wajahnya, menandakan kekesalan. “Aku akan membunuhmu nanti, Park Chanyeol.”

“Tidak, cium dia,” seorang perempuan, mungkin sudah berusia 40an, berkata dengan senyuman pengertian. “Penonton semacam ini butuh sedikit drama dan romansa dalam kehidupan mereka.”

Rahang Baekhyun jatuh saat wajahnya cukup merona dengan jelas. “Tapi –kami –“

Tapi dia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengatakan lagi karena kau berjinjit, melingkarkan kedua tanganmu ke lehernya dan meletakkan kecupan singkat pada bibirnya.

Baekhyun terlihat mematung walaupun ciuman tidak lebih lama dari sedetik. Dia mengerjap beberapa kali dalam setiap detik berlalu dan dia tidak bisa membentuk kata-kata yang koherensiv pada saat itu.

Kau tersenyum dan memeluk pinggangnya dengan cutenya. “Gadis itu bilang, I love you too.”

Ketika Baekhyun tersenyum, begitu lebar bukan main dan mempesona dan hanya indah, kau tidak bisa memberi perhatian pada sekitarmu. Saat dia mengeluarkan tawa kecil halus, menggemaskan ini, kau tidak bisa mendengar apapun lagi –bahkan ketika orang-orang sedang bersorak sorai pada  kalian berdua; bahkan suara tepukan tangan mereka yang menulikan.

Duniamu terlihat  hanya memutar  disekitarnya saat itu.

Kau bersumpah tulang-tulang pipi Baekhyun akan naik melebihi  keningnya jika dia tetap tersenyum padamu seperti itu. Tanpa mengatakan sepatah katapun, dia meraih tanganmu, memijatnya dengan jari-jari panjang dan lentiknya, dan berproses pergi keluar ruangan. Orang-orang tetap bersiul dan menepukkan tangan mereka saat kau buru-buru mengikuti langkahnya, sampai  tubuhnya melesat ke pintu keluar, dan kau dengan gerakan cepat menyusulnya.

Sesegera kalian berdua berada di tempat yang lebih privasi, berdiri  di sisi  korodor yang sepi dan terang, Baekhyun manarikmu ke dalam pelukan dan dia mendesah dengan rasa syukur disamping telingamu. “I love you,” katanya lagi, menutupi bahumu dengan kedua tangannya. “I love you.”

Air mata akhirnya meluncur dari kedua ujung matamu dan kau merasakan dirimu sedikit sesegukan karena kau merasa begitu lega bahwa dia masih di sini. Bahwa dia memelukmu seperti ini. Bahwa dia jatuh cinta denganmu dan tidak takut untuk mengatakannya dengan keras.

Baekhyun melepas  ketika dia merasakan tubuhmu gemetar dalam pelukannya, dan dia manaruh satu ciuman meyakinkan pada sisi  wajahmu, hanya di bawah bulu matamu yang basah. “I love you,” katanya, mencondongkan bibirnya ke depan sampai dia mendaratkan ciuman pada  dahi tangahmu. “Maaf karena terlalu lama untuk mengatakan ini, tapi aku mencintaimu.”

“Kau meninggalkanku menggantung terlalu lama,” katamu, menangis tersedu-sedu saat Baekhyun mengecup ujung hidungmu. Kau sandarkan kepalamu di dadanya saat  dia melingkarkan kedua tangannya di pinggangmu. Kau bisa merasakan tubuhnya memanas menguar melalui pakaian.

Baekhyun memberikan tawa kecil saat dia menangkup kedua pipimu dengan kedua tangannya dan menekan dahinya padamu. “Kemudian aku akan mengatakan kata-kata ini lagi dan lagi sampai aku bisa memperbaiki waktu saat aku pergi.”

 

TBC

 

I hope you enjoy this chapter as well. Thank you for reading, and please leave some comments down there, okay? Thank you and I LOVE YOU ~~~~

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

33 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 12b

  1. Ya ampun kok baekhyun nya kok berubah jadi romantis sih…kan aku jadi iri sama si ceweknya hahha😂 d depan bnyk org lagi…potek potek dah

    Like

  2. Oohhh my god, sumpah aku melted, awal part pingin rasanya aku abisin stok sepatu di rumah ntah milik siapa buat nimpukin kepala daddy, but yeehhh woowwww lah so sweet, I can’t explain what I feel… Kyaaaa daddy, romantis banget, aku meleleh meleleh muehehehehe, awwww kyaaaa… 😄 makin keren ih, kebawa suasana, nggak kerasa kayak hasil karya translate soalnya bisa sampe gini keren nyaaaa.. Sumpah makin keren, nggak salah lah pilihan emak, kemampuan emak juga makin kece baday muehehehe… Kyaaaa nggak sabar buat baca chapter yg ada part mereka nikah aaaaaa pasti romantis abis hueeee… Fighting yaaaa makasih udah ditag, aku jadi terharu hueeee semangat semangat semangatttt 😄

    Like

    1. kekekeke….tunggu aja chapter berikutnya, ih emang kamu kagak salah milih emak, dady aja kagak salah milih emak buat bininya wkwkwkwk…… thanks anayway, i’ll try my best deh 🙂

      Like

  3. best chapter senangnyaaa .terharu, beneran masuk karakter cewe nyaa jadi seperti ini .baekhyun nyaaa merusak pertahanan setia pada bias ku.. pesona baekhyun sudah memenuhi otak ini ..
    sukaa bangetr samaa inii sukaaaaaaaa makasih udahh ngtag 😚😚😚
    terus semangat pokoknyaaa buat author i love you 😂😂😍

    Like

  4. SUMPAH KAK , AKU NANGIS BACA NIE CHAPTER. SAKING BAHAGIA’NYA ..
    ASTAGA…..?!! Aku beneran masuk ke karakter nie perempuan. Bener2 merasakan apa yg ada dichapter ini. BAHAGIA BANGEEETT !! Jadii, pen bawa baekhyun pulang(?)
    Huuuuaaa chapter kemaren dbikin Nyesek n’ dchapter nie malah makin NYESEK karna BAHAGIA !! Alur’nya suka , kata2 baek juga suka, aarrgghh pokoknya AKU SUKA BANGET chapter ini !! Thank’s kak , udh buat aku NANGIS BAHAGIA 🙂 Love you more more more :* :* :*

    Like

  5. OH MY GOOD…pliis ini chapter terparah pecaaaaahh banget
    ya Tuhan kenapa cabe level internasional begitu mempesona:'(:'( sumpah ini mah bikin melting sampe ke ubun-ubun ya Tuhan..pen garuk garuk tenbok rasanya..baca chap ini beneran nangis bombay+senyum” bego#lebay terhura banget masuk banget ke karakter ciwinya aaaah♥♥ pen karungin behaXD siapa suruh bikin anak orang pingsan anjiir kata”ny geeezzz cheesy&lovable banget ya Tuhan…..
    makin pecah aja transletanny..good job!! I LOVE YOU MORE MORE MORE MORE cabe kesayangan♥♥:-*

    NB: TUHAN TOLONG SISAIN BYUN BAEKHYUN COWO CABE LEVEL INTERNASIONAL!!!

    Like

    1. sorry, i’d saved him for my self wkwkwkwk…..makasih banget ya… aku jadi ikutan seneng deh bacanya, so i did it better, didn’t i? i’ll try my best in the future 🙂

      Like

  6. Oh my god~I LOVE YOU TOO BYUN 😘😘
    Astaga~aku rasa tulang pipiku tertarik sampe ke jidat dah. Ini sweet banget aaaaa 😍😍
    Baekhyun akhirnya jujuuur.
    Kyaaaa gk sabar buat next chapt na!
    Fighting kaaak!!

    Like

  7. G bs brenti senyum abis bc part ini, baper2 deh pokoknya, dr yg tadinya ikut2 stess dan capek, terbawa si aku, huuuh, digantungin emang g enak bgt mr.byun, tp itu smua terbayar, waktu akhirnya dg perjuangan berat, baek pun nyatain, lega dan seneng, pake bunga, lagu, sm ciuman pula, itu si aku sih.
    Q seperti ada dsana dan ngalamin itu semua, oh ini indah, ini delusi. Dan q mulai lebay.

    Tp q g mau brenti, JADI bwt kamu authornim (bingung mo manggil apa) jangan cape2, jgn bosen2, bwt nglanjutin ini ya, jgn down gegara siders, doain aja biar mereka cepet sadar, oke?

    I LOVE YOU TOO…

    Like

  8. Sumpah demi neptunus, aku suka bengt part ini. Gmn ya…cara baekhyun ngungkapin perasaannya lebih dari so sweet. Aku sendiri sering bayangin di tembak dengan cara yang wow gitu…*ah lupakan yg terakhir* pokoknya ini jjang!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s