The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 13a

mlomb 2

 

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 13a)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/426081/13/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeo

Previous

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 13a!

A Bittersweet Goodbye

 

Empat bulan telah berlalu dan ini waktunya upacara kelulusan LuHan dan Minseok dimulai. Kau menerima undangan untuk datang dan melihat  kedua oppa paling favoritmu dalam pakaian akademiknya, siap menerima gelar mereka dengan bangga, senyuman buta pada wajah-wajah mereka. Tapi untuk beberapa alasan, hal-hal menjadi sedikit diluar kendali jadi kau –dan juga kekasihmu, Mr. Byun Baekhyun –telah ketinggalan upacara dan hampir membuatnya tidak tepat waktu untuk memberi selamat pada mereka berdua secara perorangan.

Upacara baru saja secara resmi berakhir di saat kau melangkahkan kakimu ke dalam aula luas yang didekorasi dengan baner universitas dan bunga-bunga yang indah di setiap pojokan ruangan. Kebanyakan dari orang yang lulus telah berjalan keluar melalui pintu keluar, tersenyum dan menghargai  momen dengan teman-teman dekat mereka dan keluarga mereka. Kau melirik meneliti seluruh ruangan dan tidak berhenti sampai kau melihat laki-laki berambut pink memakai topi akademik di atas kepalanya.

“Oppa!”

Kau tidak menyediakan Luhan waktu untuk melihat tampang wajahmu sebelum kau melompat ke dalam pelukannya, menyerangnya dengan pelukan teddy bear yang besar –yang hampir meremukan tulang. Kau melakukannya dengan begitu banyak paksaan; kau hampir menindihnya ke tanah.

“Whoa!” jerit Luhan  terkejut. “Kau menakutkanku –“

“SELAMAT ATAS KELULUSANMU!” Kau menjerit di telinganya, tertawa dengan riang saat kau lingkarkan kedua tanganmu di lehernya dan mengecup dengan ringan pipinya. “Aku bangga sekali padamu, Lu Hannie –Oppa!”

“Akhirnya, Hyung,” Baekhyun berbunyi, terlihat keren dan santai dengan kedua tangannya di dalam sakunya. “Setelah empat setengah tahun berpesta  berhubungan seks dengan beberapa gadis sembarangan, dan hanya setengah tahun belajar, kau akhirnya lulus  dari universitas ini.”

“Apa kau sungguh harus menjelaskannya seperti itu, Baekhyun –ah?” Luhan cemberut, mengerutkan hidungnya. “Hey, Sweetheart, control your man!”

Kau putar bola matamu tapi mencondong untuk memeluknya lagi. “Maaf kami terlambat untuk melihat upacara kelulusanmu, Oppa.” Kau meminta maaf, “ Kami sedang, uhh, sibuk.”

“Jika kata-kata ‘uhh sibuk’ menunjuk pada kalian berdua yang sedang melakukan sebuah penerbangan (=sex) cepat di salah satu ‘kamar mandi’ laki-laki, aku akan melemparmu, sumpah, aku akan melemparmu,” kata Luhan, dan kau mencubit hidungnya sampai wajahnya mengerut  semuanya. “Tapi aku senang kau di sini. Chanyeol dan Minseok sudah pergi dengan kekasih mereka untuk makan malam lebih awal, bilang bahwa mereka ingin merayakan atau apa.” Luhan dengan jenaka  mengerucutkan bibirnya padamu. “Aku kesepian, cium aku~”

“Ugh, menjijikkan.” Kau menjauhkan wajahnya darimu dengan telapak tanganmu. “Tapi kenapa kau masih di sini, kalau begitu?”  tanyamu, memiringkan kepalamu kesamping, terlihat penasaran.

“Oh, well, aku ….” Luhan menyelinapkan  lirikan cepat ke suatu tempat di sisi kananya sebelum dia mendaratkan pandangannya kembali padamu. Kau mengerutkan dahimu dan mencoba  melihat  pada apa yang coba dia periksa. Kau mengerjap beberapa kali ketika kau melihat satu kerumunan kecil berkumpul di tempat duduk depan. Gadis Aljabar di sana, berdiri di tengah-tengah grup itu dengan senyuman lemah  melekat pada wajahnya. Walaupun dia terlihat senang, kau berpikiran bahwa sesuatu terasa sedikit tidak benar dengannya. Hal yang lucu tentangnya, sungguh; kapanpun dia tersenyum, dia selalu membuatmu bagaimanapun ingin memeluknya dan mengatakan padanya semuanya baik-baik saja bahkan  di saat kau tidak tahu apa yang salah dengannya.

“Apa kau menunggu dia untuk memberi selamat padamu atau apa, Hyung?” tanya Baekhyun. “Karena jika itu yang kau tunggu, dan kau  terlalu membuat wanita untuk bergerak duluan, aku bisa saja membawanya ke sini dan melakukan keinginanmu.”

“Tidak, itu bukan –“ Luhan mendesah, terlihat  letih dan lelah. “Baiklah. Kau tahu? Mari pergi saja. Baozi dan geng lainnya sedang menunggu kita.”

Kau ambil tangannya sebelum laki-laki berambut pink itu bisa bergerak dan meninggalkanmu tanpa penjelasan. “Apakah benar? Apa kau menunggu dia?”

“Tidak, aku –“ Luhan ragu-ragu, sedikit merona. “Aku hanya ingin meyakinkan dia baik-baik saja.”

Kau  mengerutkan dahimu. “Kenapa dia tidak akan baik-baik saja?”

“Kau tidak akan mengerti,” jawab Luhan, memalingkan wajah dengan malu-malu.

Kau menghembuskan napas dengan tidak sabar. “Oppa, jika kau menunggu dia, kurasa kau harus menghampirinya terlebih dahulu. Ini mungkin bisa jadi kesempatanmu yang terakhir untuk bicara padanya, kau tahu –“

Tawa Luhan yang tiba-tiba itu memotong kata-katamu. Dia tidak tertawa karena sesuatu yang menyenangkan baru saja terjadi padanya. Tawanya terdengar terlalu dipaksakan, terlalu palsu, dan terlalu  menyedihkan untuk itu; itu membuatmu merasa ngeri.

“Ini tidak akan jadi kesempatan terakhirku untuk bicara padanya, okay,” kata Luhan, suara diwarnai  dengan rasa sakit, kesedihan, tapi kebanyakan rasa marah. “Dan kau tahu kenapa?”

Kau dan Baekhyun tetap menutup mulut kalian dalam keheningan karena nada suara Luhan yang digunakan tidak terlihat butuh satu jawaban. Itu jelas sebuah pertanyaan retorik.

“Karena Minseok akan melangsungkan pernikahan dan dia baru saja memintanya ke sana,” kata Luhan dan suaranya bergetar dengan kemarahan. “Dan oh, bahkan yang lebih baik! Kekasihnya baru saja memintanya menjadi salah satu pengiring pengantin wanita. Pikirkan itu!”

Baekhyun terlihat bingung tapi kau tahu yang sebenarnya apa yang Luhan bicarakan. Gadis Aljabar menolak Luhan karena dia jatuh cinta dengan Minseok, tapi dia sudah jatuh cinta –dan bertunangan, tampaknya –dengan teman dekatnya sendiri. Dan seolah itu tidaklah sudah cukup mengajari, teman baiknya a.k.a istri masa depan Minseok baru saja memintanya dengan hormat menjadi salah satu pengiring pengantin wanitanya.

“apa dia bilang iya?” tanyamu dengan hati-hati.

“Tentu saja, dia bilang iya,” jawab Luhan, melotot tidak tahu pada siapa. “Dia terlalu baik untuk menolaknya. Dan Minseok di sana, jadi bagaimana bisa dia bilang tidak?”

“Sebenarnya aku sedikit masih tidak mengerti di sini,” omel Baekhyun dan kau meraih tangannya dan memberinya pijatan ringan, mengindikasikan bahwa dia seharusnya berhenti saja bicara saat itu.

“Kau baik-baik saja?” tanyamu pada Luhan, mengusap-usap tangan kanannya ke atas dan ke bawah untuk menenangkannya.

Luhan melihat padamu dan tersenyum setelah menghela napas dengan lembut. Kedua matanya merasa sakit dan dipenuhi dengan derita yang membuatmu melangkah kedepan dan merangkulnya dengan kedua tanganmu melingkari pinggangnya.

“Aku hanya merasa begitu menyesal padanya, kau tahu?” bisiknya di telingamu.

Kau mengangguk dengan lemah dan menepuk-nepuk punggungnya. “Aku tahu, Oppa. Aku tahu.”

Luhan tidak bicara banyak untuk malam seterusnya. Ketika kalian bertiga bergabung dengan Chanyeol, Minseok, dan kekasih mereka kemudian di malam itu, Minseok akhirnya bilang padamu tentang pertunangannya. Menyedihkan dia sudah melamarnya sekitar setahun yang lalu dan juga sudah memutuskan tanggal resmi pernikahan mereka.

“Ini hanya akan jadi satu pesta kecil, okay?” kata Minseok, menghadapi teman-temannya dengan kekasihnya yang duduk tepat di sampingnya dan sedikit merona di kedua pipinya. “Kami hanya akan mengundang keluarga kami dan teman-teman dekat kami. Jadi kalian semua lebih baik ke sana ke pernikahanku atau aku putus persahabatan kita juga.”

“Hyung, Hyung!” Chanyeol menaikkan satu tangannya dengan rasa tertarik.

“Ya, Yeol –ah?”

“Apa akan ada fondu permen-permen dan coklat?” tanya Chanyeol, kedua mata berkilauan  bahagia.

Minseok tertawa kecil dan memberikan satu anggukan sebagai jawaban. “Ya, Chanyeol –ah, kau bisa makan fondu (fondu=makanan khas switzerland) sebanyak yang kau mau.”

Dan hampir semua orang tertawa ketika Chanyeol menepukkan kedua tangannya bersama-sama  dalam rasa senang. Kau dan Luhan bukanlah salah satu dari mereka. Laki-laki Chinna itu sibuk memandangi ponselnya dengan tatapan khawatir yang sama yang terlihat pada wajahmu saat kau memandang dia berdiri dengan bebas di tempat duduknya.

“Luhan,” panggil Minseok dan laki-laki tersebut menjadi sangat dingin  di tempat duduknya.

Luhan menelan napasnya. “Y –yeah?”

“Kau belum mengatakan apapun sementara,” komentar Minseok, “Yang mana aneh karena ini tugasku untuk menutup mulutmu kapanpun kau mulai melarikan mulutmu, dan aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Aku akan menikah di sini, Luhan, jangan membuatku dianggurkan.

Ini pertama kalinya kau pernah mendengar Minseok bergurau tentang sesuatu, membuat lelucon pada temannya sendiri. Jadi baginya bertingkah seperti ini sekarang pasti penting untuk menghapus kecanggungan antara mereka.

“Oh, umm …”Luhan mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke dalam sakunya sebelum dia lempar senyuman takut pada teman baiknya. “Tidak ada, sungguh.”

Minseok memberinya tatapan tahu. “Luhan, kita sudah berteman lima tahun. Aku tahu  ada sesuatu yang salah denganmu malam ini.”

Kau hanya memandangi Luhan yang terlihat seperti  dia adalah seekor rusa yang tertangkap dalam sorotan lampu. Tapi pada detik selanjutnya, warna wajahnya berubah drastis. Dia mengeratkan rahangnya, bahkan hampir mengeratkan giginya, dan kedua alisnya menaut dengan rasa jengkel. Kau ingin terjun pada percakapan dan mengubah topik sebelum dia bisa penyerang dengan perasaannya yang sebenarnya, tapi Luhan mengalahkanmu untuk itu.

“Jika kau harus tahu,” kata Luhan, “Aku merasa marah sekarang karena semua hal tentang pernikahanmu.”

“Oh?” tanya Minseok. “Kenapa?”

kau tiba-tiba tertawa dengan canggungnya, mencoba membawa semua perhatian kembali padamu. “Hai semuanya, kenapa kita tidak –“

“Kau bukanlah siapa-siapa kecuali seorang brengsek yang arogan, kau tahu itu?” katanya, suara galak, dan semunya nya menjadi terdiam dan dingin. “Kau menjulukimu seorang physiolog, tapi kau tidak tahu apapun tentang perasaan orang-orang –“

Oppa!” teriakmu, berdiri  dari tempat dudukmu mengulurkan tangan untuk menyentuh pundak Luhan, ingin menggoyangkannya terbangun. Luhan mengibaskan tanganmu dengan mudah

“Apa yang coba kau katakan, Luhan?” Minseok mulai terlihat tegang  dan juga marah.

Luhan secara tidak sadar menggebrakkan satu tangannya di atas meja sampai  beberapa gelas bergoyang, giginya terlihat marah. “Kucoba bilang bahwa begitu bodohnya kau –“

Jangan katakan, Luhan, jangan katakan tentang dia(gadis itu). Kau akan menyakiti perasaannya.

“ –belum memintaku untuk menjadi pendamping priamu,” Luhan menyelesaikan dengan senyuman sombong yang tiba-tiba di bibirnya, dan kau tidak tahu apakah kau harus bernapas lega atau merasa menyesal padanya  saat itu. Kau yakin sangat terkejut meski. Tapi untuk sekarang, kau bersyukur.

Thank you, Oppa.

Minseok memahaminya dan kau menyadarinya bahwa mungkin, ini pertama kalinya Luhan pernah berbohong langsung padanya –atau berbohong pada siapapun, sungguh. Ketika kau melihat pada laki-laki Chinna itu, dia terlihat seperti dia juga kecewa pada dirinya sendiri. Tapi itu adalah semacam kebohongan yang perlu; itu tidak dapat tertolong.

“Serius, Hyung?” ejek Baekhyun. “Itukah semua yang ingin kau katakan? God, kau ini si ratu drama sekali!”

“Aku baru saja pada topik itu, Luhan, bersabarlah,” kata Minseok, cekikikan. “Biar kuminta kau dengan baik. Luhan, dengan hormat maukah kau menjadi pendamping priaku?”

“Hanya jika kau berjanji padaku kau masih akan mencintaiku bahkan ketika aku menjadi jelek dan gendut, dan masih terus berhubungan seks denganku sampai detik terakhir kehidupan kita,” jawab Luhan, wajah benar-benar serius. Ketika semua orang menatap padanya, dia tertawa geli dan mengibaskan tangannya di udara. “Oh maaf, kupikir kau memintaku menjadi istrimu. Bercanda ~”

Hanya satu orang yang benar-benar tertawa pada gurauannya yang mengerikan adalah Chanyeol.

“God, Hyung, itu buruk sekali,” guman Baekhyun  dengan keras, mengusap-usap  dahinya.

Minseok menggelengkan kepalanya tapi mengiriminya senyuman simpel sebelum berkata, “ Itulah Luhan yang kuingat.”

Luhan tersenyum kembali dan menaikkan satu gelas anggur untuk bersulang. “ Semoga kau hidup bahagia, Kim Minseok.”

Kau tidak gagal untuk menyadari bagaimana cepatnya senyuman Luhan yang telah bimbang dan tergantikan dengan racun di momen Minseok memalingkan wajahnya.

***

Di beberapa hari berikutnya, kau dipaksa untuk membuka kedua matamu dan bangun dari tidur lelapmu ketika sinar matahari menyemburat melalui ventilasi kamarmu. Kau memicingkan  matamu pada sinar pagi dan bergerak dengan lemahnya di tempat tidurmu, mencoba ingin tidur beberapa menit lagi. Tapi di saat kau mengubah posisi tidurmu, menghindari sinar itu, kau di hadapkan dengan sosok Byun Baekhyun, tidur dengan nyenyak disampingmu.

Kulitnya lembut dan seputih susu, yang mutlak kontras pada warna pink bibir tipisnya yang sekarang sedikit terbuka(menganga) dalam tidurnya. Dada polosnya bergerak naik dan turun dalam gerakan lambat yang tenang dan kau mendengar dengan intens suara napas halusnya di saat dia tetap tenggelam dalam dunia mimpinya.

Melamun,  kau menelusurkan jari-jarimu pada sisi wajahnya, menelusuri dengan ringan dari pipinya ke rahangnya, sebelum akhirnya mendaratkan sentuhanmu pada kelembutan bibirnya. Kau teringat beberapa hal yang terjadi tadi malam; berapa kali bibir indah itu mencetak  kata-kata manis, kata-kata cinta dan membiarkan nya mengalir ke telingamu saat dia bercinta denganmu.

Perlahan, Baekhyun membuka kedua matanya, masih terlihat buram  dan ngantuk. Dan kau hanya langsung tersenyum pada sosok itu karena tidak ada yang lebih baik dari  melihat Baekhyun, semua keimutan  dan seperti-puppy, begitu awal di pagi hari seperti ini.

“Hai,” katamu, masih menelusuri  garis bibirnya dengan ujung-ujung jarimu.

Dia hanya bergumam merespon dan menutup mata ngantuknya kembali, tapi di saat kau baru saja akan menyingkirkan tanganmu, dia tetap diam di tempat yang sama dan menggerakkan bibirnya untuk menekan beberapa ciuman lembut pada setiap ujung-ujung jarimu.

“Apa yang kau mimpikan?” tanyamu, membuat percakapan kecil, dan kasual seperti biasanya. Baekhyun mengangkat jari-jarimu dari bibirnya dan merenda  jari-jarimu dengan miliknya.

“Kau, menjeritkan namaku dengan senangnya,” jawab Baekhyun, suaranya terdengar parau dan rendah. “Oh sayangnya, itu bukanlah mimpi. Itu sebenarnya terjadi tadi malam.”

“Ugh, diamlah,” katamu, menampar dada polosnya dan menutupi dirimu  dengan bed cover, tiba-tiba merasa tidak aman pada fakta bahwa kau juga  hanya masih memakai pakaian dalammu.

Baekhyun cekikikan dan setelah kau membalikkan tubuhmu –jadi kau tidak akan menghadapi senyuman manisnya –Baekhyun menarikmu kembali ke dalam pelukannya, berbisik, “Kemarilah.”

Kau membiarkan dia menekan dadanya di punggungmu dan bersyukur atas kehangatannya. Kau  tertawa geli di saat dia bernapas dalam aroma rambutmu. “Kau ingin tahu apa yang telah kulakukan kemarin?” tanya Baekhyun, suara tenang dan halus sebelum merubahnya dengan dengan jenaka. “Selama hari itu, maksudku, karena jelas sekali kau tahu apa yang sedang kulakukan tadi malam dan itu melibatkanmu  pada kedua lututmu dengan milikku –“

“Lewatkan rincian itu, please!”

Baekhyun mengeluarkan tawa kecil, menghembuskan napas hangatnya yang menyentuh kulit halus tengkukmu. “Well, aku sedang sibuk mencoba mengabaikan Mrs. Kim.”

“Dia masih tidak membiarkanmu dengan mudah, huh?” tanyamu, tersenyum. “Setelah pengakuan besar yang kau lakukan itu.”

“Nope.” Baekhyun menghembuskan udara. “Ingatkan aku untuk tidak menarik hambatan  gila semacam itu lagi di masa depan.”

“Tapi kenapa? Aku suka –tidak, aku sangat menyukai pengakuanmu.” Kau tersenyum menggoda sebelum kau memutar tubuhmu lagi sehingga sekarang kau bisa menghadapinya langsung  dalam pelukannya, mengiriminya kerlingan menggoda. “Apa itu tadi yang kau katakan? Jika aku tidak memikirkanmu dalam hariku, aku akan melihatmu dalam tidurku –“

Kedua pipi Baekhyun memanas karena malu. “Jangan, hentikan –“

“Bahwa tidak ada satu katapun di seluruh jagat raya ini yang bisa mendiskripsikan betapa aku sangat mencintaimu –“

“Aku akan menyumpal mulutmu dengan bantal jika kau tidak diam, aku bersumpah –“

“Apa kau akan meneruskan ala Celine Dion padaku? Aku tidak bisa mengingatnya.” Kau menggeliatkan  dirimu dari pelukannya dan duduk sebelum mulai bernyanyi dengan keras –dengan  begitu berlebihan  juga, walaupun  itu pada jam 7 pagi –dengan kedua tanganmu di dadamu. “YOUUUUUU’REEEEE HEREEEE, THERE’S NOTHING I FEAAAAAR ~”

Baekhyun langsung bangun dari tempat tidur dan membungkam mulutmu dengan tangannya. “Oh Tuhan! Apa kau gila?!” dia menarikmu kembali ke dadanya –hampir memiting –dan memakumu di atas tempat tidur sementara kau tertawa kecil  seperti patung. “Kau akan membangunkan seluruh dorm!”

Kau tertawa, menggelengkan kepalamu dan menepis tangannya. “Aku berkencan dengan seorang cheeseball ~” kau bersenandung dan mencium telapak tangannya dengan ringan.

Pandangan mata Baekhyun melembut di saat bibirmu menyentuh kulitnya. “You’re unbelievable.”

“But you love me,” balasmu, merasa sedikit senang hari ini. “Seperti halnya yang kau katakan di depan tiga ratus orang itu dalam ruangan itu.”

“Oh God,” Baekhyun mengerang, menutupi wajah merahnya dengan kedua telapak tangannya. “Kurasa aku dikuasai.”

Kau cekikikan lagi pada ekspresi imutnya. Biasanya, Baekhyunlah yang menggodamu tentang tiga –kata –delapan –huruf tapi hari ini dia kelihatannya berada dalam mood yang lebih baik dan membiarkanmu  mengolok-olok dia untuk satu perubahan.

“Apa kau harus pergi ke suatu tempat hari ini?” tanyanya, menarik diri  dari  pelukan –punggungmu lagi; napas mulutnya menjauh dari belakang lehermu. “Atau bisakah kita tetap saja di sini dan memesan makanan? Aku lapar sekali.”

“Aku ada latihan dance satu jam lagi,” jawabmu, mendesah dengan tenang ketika menyelinapkan kedua tangan disekitar  pinggangmu, menutupimu menyeluruh dengan kehangatannya sekali lagi.

“Lagi? Tapi pertunjukan musim semimu sudah selesai, kan?”

“Yeah. Dan aku tidak punya pertunjukan panggung lagi, tapi –“

“Kemudian lewatkan saja dan tinggal di sini bersamaku,” tawar Baekhyun, menyangga satu sikunya di atas tempat tidur sehingga dia bisa meletakkan dagunya di atas pundakmu. “Jika kau tinggal, aku bahkan akan membawakanmu sarapan.”

“Menggoda, tapi tidak,” katamu, tersenyum ketika kau melihatnya cemberut. “Aku tidak bisa, Baek, jongin akan datang mencariku.”

Jongin?” warna cheery pada wajahnya tiba-tiba tergantikan dengan warna yang lebih gelap.

“Yeah, dia partner tariku sekarang.” Kau terbaring dengan benar di atas tempat tidur di saat Baekhyun merangkak di atasmu.

“Kenapa dia partner tarimu?” tanya Baekhyun,  nada suaranya terdengar kaku.

“Karena dia asisten guru tari dan itu adalah tugasnya untuk dia lakukan seperti yang guru katakan,” jawabmu langsung, “Dan Mrs. Jung menginginkan dia menjadi partner tariku. Aku adalah penari terbaik di kelas tari modern  contemporary  yang kuambil tahun lalu, jadi dia memintaku untuk memasuki kelasnya di saat aku tidak sibuk dan membantu nya mendemonstrasikan bagaimana melakukan dance contemporary dengan satu partner untuk menyerasikan gerakanmu.

“Dan dia menugaskan Jongin sebagai partnermu?” tanya Baekhyun, hampir cemberut.

“Ya, dan berhentilah melihatku seperti itu,” kau tertawa geli, mencubit salah satu pipinya. “Kau terlihat seperti seekor puddle yang menjengkelkan, kau tahu itu? Itu tidaklah cantik, Baekkie ~”

“Well, semakin beralasan aku tidak akan membiarkanmu pergi hari ini kalau begitu,” kata Baekhyun –pada satu tujuan, dia hampir meraung –sebelum dia menyerang kulit lehermu dengan bibir, lidah dan giginya. Terasa tergesa-gesa, berbahaya, dan sangat baik, dan kau baru saja akan memberinya dan membiarkannya membawamu dalam cara yang dia inginkan seperti apa yang kau lakukan tadi malam.

Tapi seseorang harus bertanggung jawab pada momen seperti ini. Jadi kau raih rambutnya dan menjambak kepalanya ke belakang sampai dia menggerutu  dan tidak menyerangkan bibirnya untuk menciptakan lagi tanda di kulitmu.

“Aaaaaw,” dia merengek  dengan kekanak-kanakan saat dia mengusap-usap rambut di kepalanya. “Itu sakiiiiiiit.”

“Berhentilah merengek, kau bukanlah anak umur 7 tahun lagi.” Kau putar bola matamu tidak sabar. “Dan releks, mau kan? Jongin adalah pria yang baik.”

“Oh tentu, bisa kulihat dia mengejar kupu-kupu diluar sana dengan senyuman senang di wajahnya.” Jawab Baekhyun ketus dengan sarkas. “Dia tidaklah baik, percayalah.”

“Well, percaya atau tidak, dia sebenarnya adalah temanku.” Kau lipat kedua tanganmu di depan dadamu. “Dan aku tidak suka mendengar temanku di hina seperti itu.

“Hey, hey, Sweetheart,” kata Baekhyun, tersenyum tanpa malu saat dia menarikmu kembali dalam pelukannya, “Tenanglah. Ayo kembali ke tempat tidur saja, okay?” dia mencium bahu polosmu sebelum dia menelusurkan mulutnya dan  giginya di sekitar daun telingamu.

“Tidak, Baek,” kau mendorongnya, tidak terlalu halus. “Jongin dan aku hanya partner tari, kau harus mengerti itu dan biarkan aku melakukan pekerjaanku. Bisa kau lakukan itu untukku?”

Baekhyun menghembuskan udara dengan keras saat kau menuruni tempat tidur. Dengan cepat kau memakai kemejanya karena itulah yang tergeletak di tempat yang terdekat dari posisimu berdiri saat itu. Kau bisa mengatakan bagaimana kedua matanya menjelajahi  tubuhmu saat kau berdiri tegak, dan kau merasakan cara napasnya yang sedikit berat  atas sosok fantasinya yang menjadi hidup sekali lagi.

“Berbaiklah,” kau bilang padanya, menunjuk padanya untuk duduk dengan patuh di pinggir tempat tidurmu. Jujur saja kau bisa membayangkan Baekhyun menatapmu dengan sepasang  telinga puppy di atas kepalanya. “Tidak ada trik kotor, Byun Baekhyun, atau aku akan melarang mu untuk seks selama seminggu.”

Kedua telinga puppy imajinasinya menjadi turun dalam kekesalan. “Tapi …aku tidak suka Jongin saat kau bersamanya. Aku tidak menyukainya, periode,” gumamnya, cemberut.

“Baekhyun,” kau mendesah, “Ini bukan tentang Jongin, okay? Ini tentang kau yang tidak percaya padaku. Aku bisa berteman dengan pria manapun ketimbang dia dan kau masih tidak akan senang dengan itu jika kau tidak percaya padaku.” Kau dengan santainya  bergerak berdiri di depannya sebelum kau mencondong ke depan untuk mencium dahinya. Menepuk-nepuk dengan halus kepalanya, kau meyakinkan dia, “Dengar, aku tidak akan berselingkuh darimu, Baekhyun. Tidak akan. Apa kau percaya padaku?”

Baekhyun mendongak untuk melihat kedua matamu, mencondong pada sentuhanmu. “tentu saja, aku percaya padamu. Aku hanya tidak percaya pada dia.”

Kau tersenyum dengan sengaja dan mengetuk-ngetuk jari-jarimu pada kedua pipinya saat kau menangkup wajahnya dengan kedua tanganmu. “ Tidak semua orang sejelek yang kau pikirkan, Baek. Bahkan jika dia tertarik padaku, Jongin sudah tahu aku sudah mempunyai kekasih. Kurasa dia cukup gentelmen untuk tidak membuat gerakan pada seseorang yang sudah milik orang lain.”

Baekhyun tersenyum dengan manis ketika dia mendengar kau mengatakan istilah ‘kekasih’. Laki-laki itu melingkarkan kedua tangannya pada pinggangmu dan menarikmu lebih dekat sehingga dia bisa menyandarkan kepalanya di dadamu. “Jika kau katakan padaku kau mencintaiku, mungkin aku akan melepasmu.”

Kau gelengkan kepalamu tidak percaya walaupun kau sendiri menyadari tertawa geli pada bagaimana cutenya dan dia menjadi lembut. “Kenapa aku harus mengatakannya terlebih dahulu?” tanyamu, meletakkan kedua tanganmu di atas rambutnya dan berproses membentuk rambut halusnya menjadi sebuah jambul. Kau selalu melakukan itu kapanpun kalian berdua mandi bersama, dan kau berharap kau bisa mendapatkan sebotol jel atau sabun jadi model rambutnya akan berdiri tegak seperti itu seharian.

Baekhyun menaikkan kain kemejamu sedikit sehingga dia bisa menelusurkan  bibirnya pada nipelmu. “Karena kau akan pergi menari dengan laki-laki yang tidak kusukai. Kurasa aku pantas untuk mendengarnya duluan,” jawabnya, dan kau memegang erat sedikit rambutnya ketika dia baru saja memberikan gigitan halus tepat di samping pusarmu.

“Baiklah,” kau menghembuskan napas dengan berat saat kehangatan mengumpul pada lubang  perutmu. “Aku mencintaimu.”

“Lebih keras,” tuntut Baekhyun, dan ada sesuatu yang begitu seksi dalam cara yang dia katakan dan kau sedikit suka ketika dia menjadi sedikit posesiv seperti ini.

“Aku mencintaimu,” ulangmu lebih keras kali ini dan terperanga di saat Baekhyun menggigitmu melintasi tulang pinggul, menandai daerah kekuasaannya.

Ketika laki-laki itu mendongak, ada sinar  kecemburuan dan sedikit kemarahan yang tersembunyi dalam matanya, tapi dia tersenyum padamu dan menaikkan tanganmu ke atas sehingga dia bisa mencium buku-buku jarimumu. “Ingatlah bahwa kau adalah milikku, Sweetheart.”

***

“Kerjamu bagus hari ini,” kata Kim Jongin saat dia berjalan ke tempatmu berdiri dan menawarimu sebotol air mineral segar. Kelas tari baru saja berakhir dan kau berkeringat dan lelah tapi kau belum bisa merasakan kelelahan  merayap masuk ketulang-tulangnya, karena kelas hari itu sangat menyenangkan –sebagian karena kau mendapatkan partner tari yang mengagumkan dan baik seperti Kim Jongin.

“Kembali juga padamu,” katamu, tersenyum dan mengambil minuman darinya. “Kurasa kita terpaku pada  gerakan-gerakan tari itu. Secara keseluruhan menunjukkan pada mereka bagaimana itu berhasil!”

Jongin mengangguk setuju dan memberikan senyuman malu,  menawan ini. “Kau tahu, aku selalu memikirkan itu ketika kau menari,” katanya, “Itu seperti kau bukan ….well, menari, tapi lebih seperti kau sedang menceritakan sebuah cerita dengan gerakan-gerakan tubuhmu.”

“Oh, diamlah,” responmu, melemparkan handuk bersih padanya jadi dia bisa mengusap keringat di wajahnya. “Kau hanya mengatakannya sehingga aku bisa memujimu kembali dan memujamu sebagai si Dewa Perkasa dance contemporary.”

Dia tertawa kecil, suaranya ringan dan ramah. “Terima kasih karena menyetujui ini. Maksudku, mrs. Jung hanya tidak bisa menyuruh orang lain menjadi partnerku jika aku tidak menewarinya  secara khusus namamu.”

“Tunggu, kupikir  aku di daftar untuk ini karena aku tadinya top student tahun kemarin?” responmu, mengerutkan dahi. “Sial, aku ditipu!”

“Well, mungkin karena itu juga, tentu saja,” Jongin langsung saja mengoreksi kata-katanya dan tiba-tiba terlihat merasa bersa bersalah. “Tapi mungkin alasan lain kenapa dia memilihmu pada akhirnya karena aku bilang padanya aku ingin kau menjadi partnerku.”

“Oh?” kau menaikkan sebelah alismu. “Dan kenapa begitu?”

“Oh, uh ….” Jongin tersenyum malu-malu, terlihat sedikit canggung. “Karena lebih dari kenyataan bahwa kau adalah penari yang mengagumkan, aku juga merasa lebih nyaman menari denganmu dari pada dengan orang lain.”

Kau memberi tawa kecil. “Yeah, malahan semuanya juga terlihat seperti mereka ingin memakanmu. Terima kasih karena sudah merekomendasikan namaku, Jongin –ah.”

Laki-laki itu hanya tersenyum kembali. “Aku ingin minta bantuanmu, jika kau mau.”

“tentu. Ada apa?”

“Itu, umm….” Jongin menahan tangannya ke atas, memberitahumu untuk memberikan beberapa menit padanya untuk mencari sesuatu dalam tasnya. Di saat dia berdiri lagi, dia memberimu satu berkas kertas putih.

“Apa ini?” tanyamu, memeriksa kertas-kertas itu dan menyadari jawaban apa sebelum dia memberikan satu.

“Sebuah skrip,” katanya, “Aku mendapatkan peran dalam drama musikal tahun ini.”

“Oh wow, itu mengagumkan,” katamu dengan rasa kagum, dan membaca sedikit skripnya. “Red Riding Hood?”

Jongin mengeluarkan tawa kecil yang canggung. “Yeah, menceritakan kembali berdasarkan  kisah Red Riding Hood. Aku memainkan The Wolf.”

“Oh my, si Mata merah besar kau,” kau mengerling, menggodanya dan dia memberimu tawa kecil sebagai respon. “Kau tidak akan menjadi berbulu dan memakai taring  palsu yang besar di mulutmu, kan?”

“Tidak, tentu saja tidak. The wolf adalah laki-laki normal di musikal ini. Dia hanya bertingkah seperti binatang buas dan kehadirannya membahayakan  bagi semua orang yang di sampingnya, tapi akhirnya dia jatuh cinta dengan gadis yang memakai gaun merah walaupun dia ingin menyakitinya dulunya.

“Hmm….” kau mengetuk-ngetuk dagumu saat kau membaca kalimat-kalimatnya. Sebenarnya cukup bagus dan menarik. “Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan dengan ini?”

“Aku ingin tahu mungkin kau bisa membantuku latihan dengan kalimat-kalimatnya?” tanya Jongin, terlihat tidak yakin, mungkin berpikir kau tidak akan setuju tawarannya. “Aku bisa latihan sendiri bagian nyanyianku, tapi aku butuh partner untuk membantuku berakting. Plus, aku harus menari juga dan itu akan bagus jika kau bisa membantuku dengan itu. Maksudku, jika itu tidak terlalu –“

“Aku mau,” katamu dengan terburu-buru sebelum dia mengoceh lagi.

Jongin menghela napas lega. “Sungguh?”

“Sungguh, mr. Wolf,” ulangmu dengan keras, tersenyum padanya. “Ini terdengar menarik. Juga, aku tidak pernah memiliki teman yang seorang penari sebelumnya, jadi ini merasa semacam hebat bisa menari dengan seseorang yang nyaman bersamammu, bukankah itu benar?”

Kedua mata Jongin bersinar dengan setuju, terlihat benar-benar bersyukur. “ya.”

“Bagus,” katamu, mennggantungkan handuk yang sudah terpakai di sekitar pundakmu. “SMS saja aku kapanpun kau memiliki waktu untuk latihan. Aku akan mampir. Kau punya nomorku, kan?”

“Ya, terima kasih banyak!” kedua mata Jongin bersinar dengan antisipasi dan pikirmu dia terlihat menggemaskan. “Kau lebih dari sebuah bantuan!”

“Senang mendengar itu,” katamu, mengambil tasmu dan barang-barangmu dari lantai dan siap berjalan keluar studio. “Sampai jumpa nanti, Jongin –ah.”

***

Pernikahan Kim Minseok di adakan pada hari minggu pagi itu dan pengantin laki-laki itu sendiri mengundangmu dan gengmu yang lainnya ke sana tepat waktu untuk pernikahannya. Sayangnya, kau muncul terlambat sekitar sejam karena Baekhyun menjadi seperti biasanya dia dan dia lebih suka tidur ketimbang menghadiri pernikahan salah satu teman baiknya. Si brengsek itu.

Kau memakai sebuah gaun bergelombang tanpa lengan warna peach putih yang cantik, di kombinasi dengan high heel ankle-strap  warna putih dan sebuah kalung yang indah melingkar di lehermu. Baekhyun berpakaian dengan simpelnya khakis abu-abu gelap dengan sebuah kemeja  putih dan pasangannya blazer abu-abu di atasnya. Walaupun rambutnya acak-acakan dan tidak teratur, paling tidak dia punya kesopanan memakai  sepatu pantofel hitamnya ketimbang flip-flop kotornya jadi kau sudah merasa bersyukur untuk itu.

Pernikahan tidak diadakan di sebuah gereja yang sangat besar dengan begitu banyak dekorasi mewah  atau apapun, tapi itu tidak membuatmu merasa tidak kagum olehnya karena semua hal sangatlah indah. Tempat tidaklah masalah; makanan atau dekorasi tidak berarti apapun ketika dibandingkan dengan bagaimana pergerakan momen itu disaat pengantin laki-laki dan pengantin perempuan saling bertukar sumpah pernikahan mereka dan mengatakan ‘aku bersedia’.

Sumpah pernikahan Minseok indah dengan sangat. Kau bisa merasakan betapa tulus  cintanya padanya dan ketika dia bicara tentang perasaan menyeluruhnya, bisa kau bilang semua orang dalam ruangan itu tersenyum atau menangis karena bahagia juga –kecuali mungkin Baekhyun, karena dia tidur hampir seluruh upacara. Si brengsek ini.

Kau ingat tampang yang kau lihat pada wajah Luhan ketika dia berdiri di sana disamping Minseok di atas altar. Dia berpakaian dengan formal dan kau tidak pernah melihatnya menjadi setampan ini seumur hidupmu, bahkan disaat rambutnya masih berwarna pink yang tidak dapat disangkal. Walaupun secara fisik dia mempesona, itu jelas dia merasa sakit secara mental. Kedua matanya menunjukkan kebanyakan dari perasaannya saat itu di saat dia menanamkan kedua matanya pada Gadis Aljabar yang sedang menangis dengan halus di samping pengantin perempuan Minseok. Kau takjub –dan juga menyesal begitu dalam –pada pandangan karena kontras sekali antara kedua pasangan itu: Minseok dan pengantin wanitanya yang memiliki momen paling bahagia dalam kehidupan mereka, sementara Luhan sedang mencoba melawan keinginannya untuk tidak lari ke sisinya dan merengkuhnya dengan satu pelukan nyaman.

“Luhan –hyung terlihat berantakan,” kata Baekhyun tiba-tiba dengan suara yang berat karena mengantuk saat dia duduk dengan benar disampingmu di tempat duduk depan. “Maksudku, dia selalu terlihat berantakan menurut upinoku, tapi hari ini dia terlihat lelah dan hanya ….menyedihkan.”

Jadi bahkan Baekhyun, yang mungkin setengah -tidur saja, melihatnya.

“Kau boleh mencium pengantin wanita,” kata pastur, dan kau kembali fokus pada pasangan bahagia itu.

Minseok terlihat gugup saat seluruh ruangan menjadi hening dan hanya hal yang bisa orang-orang dengar adalah sebuah melodi yang halus  berasal dari sebuah piano besar, memainkan lagu indah ini yang tidak pernah kau dengar sebelumnya tapi kau langsung jatuh cinta dengannya di saat terdengar telingamu. Walaupun kedua tangannya terlihat gemetar, kedua mata Minseok terpancar cerah dengan bahagia dan kau tidak pernah melihatnya sebahagia ini sebelumnya. Ketika dia melangkah mendekat pada pengantin wanita, senyumnya bahkan menjadi semakin lebar dan lebar sampai dia mendesah dengan lembut tapi masih bisa terdengar bagi seluruh ruangan, “I love you.”

Dari tempat kau duduk, bisa kau katakan bagaimana pengantin wanita Minseok sedikit bernapas berat  disaat air mata terlepas dari kedua matanya. Senyumannya saja selebar dan seindah itu. “I love you too, Kim Minseok.”

Dan di saat dia menciumnya, kau tidak tahan kecuali menangis pada sosok itu karena segalanya sangat indah dan kau tak tertahankan dengan perasaan-perasaan ingin mengalami hal yang sama. Bukan pernikahan, tapi cinta sejati yang mereka saling miliki.

Dengan cepat kau menutupi wajahmu dengan kedua tanganmu disaat air mata turun dengan cepatnya, kau merasakan bahumu sedikit bergetar dengan jahatnya langsung  Baekhyun mulai panik di tempat duduknya.

“H –hey,” katanya, suara terkejut. “Ada apa? Kau baik-baik saja?”

“Aku …”kau menangis tersedu-sedu, memaksakan tawa lemah yang terdengar lebih seperti sesegukan, sungguh. “Aku baik-baik saja. Hanya indah sekali, aku ….aku hanya tergerak, itu saja.”

Baekhyun terlihat tidak yakin dengan jawaban semacam itu dan kau mencoba menenangkan dirimu setelah kau mengatakan padanya alasan itu. Kau  tidak berbohong saat kau mengatakan itu, tapi yang sangat beralasan bagimu untuk tidak bisa berhenti menangis adalah karena ada satu pertanyaan yang tetap muncul dalam benakmu:

Apa akhir bahagia semacam ini yang akan kudapatkan di masa depan, atau akankah hubunganku dengan Baekhyun akan berakhir sia-sia?

Karena hadapilah, ketika kau bilang padanya kau mencintainya, dia pergi. Baekhyun melarikan diri berhari-hari, tanpa meninggalkan semacam pemberitahuan sebelumnya. Dan walaupun dia telah mengatakan kata-kata itu kembali, kau tidak bisa menghapus perasaan takut dalam dadamu bahwa mengatakan padamu mungkin Baekhyun akan lari lagi di masa depan atas situasi yang sama. Kau  sudah berkencan dengannya tiga tahun tepat, dan tahun berikutnya akan jadi tahun terakhirmu di Kampus ini, jadi normal saja bagimu memikirkan tentang masa depanmu setelah ini.

Rasa penasaranmu mengambil alih mulutmu sebelum pikiranmu bisa mengambilnya.

“Aku ingin tahu apakah kita akan berakhir seperti mereka suatu hari nanti?” tanyamu pada Baekhyun dan di saat dia mendengar pertanyaan, kedua matanya sedikit menjadi melebar dan dia membuka bibirnya terkejut sebelum dengan cepat dia mengembalikan  ketenangannya dan berpaling.

Kau menunggu dan tidak seorangpun yang menjawabmu.

Di saat kau bawa pandanganmu kembali ke pangkuanmu, kau merasa seperti menampar dirimu sendiri karena sialnya, kau baru saja merusak segalanya. Kenapa kau tidak bisa menunggu? Kenapa kau tidak bisa diam saja dan berpura-pura kau tidak memikirkan apapun tentang ini?

“Aku …” kau merasa ada sesuatu yang menyekat dalam tenggorokanmu, membuatnya lebih sulit untuk membentuk satu syllabe. “Aku hanya bercanda, kau tahu.” Kau mengeluarkan sebuah tawa, dan sebut saja canggung bahkan jika tidak dipotong. “Mak –maksudku, aku tidak memintamu untuk menikahiku atau apapun –“

Postur Baekhyun menjadi kaku dan wajahnya menjadi pucat seolah dia ingin pingsan, tapi dia tetap membungkam mulutnya rapat , menutup kata apapun yang bisa keluar dari mulutnya.

“Baekhyun, aku hanya bercanda, okay?” kau menjadi putus asa untuk membuatnya baik-baik saja. “Aku –aku hanya bicara sembarangan, jangan diambil serius, kumohon.”

Baekhyun masih tidak mengatakan apapun. Dia hanya sibuk mencoba melekatkan pandangannya pada sosok Minseok dan istri barunya yang menerima julukan resmi sebagai suami dan istri. Dia terlihat  gelisah dan tidak nyaman dengan kacaunya.

“Baekhyun,” panggilmu dengan lembut,merasakan tanganmu sendiri menjadi dingin dan berkeringat saat kau coba meraih tangannya.

Baekyun tidak menggerakkan wajahnya tapi kedua matanya melirik ka samping, melihat pada tanganmu yang sekarang menyentuh miliknya. “Hmm?”

Kau sulit menelan pada ekspresi tegarnya. “Kau belum mengatakan apapun kembali. Kau baik-baik saja?”

Baekhyun akhirnya melihat padamu dan dia tersenyum, jelas-jelas mencoba menutupi perasaan dia yang sebenarnya dengan itu, dan berkata, “Maaf, aku terlalu meresapi upacara. Tentu saja, aku baik-baik saja. Kenapa aku tidak baik-baik saja?”

Baekhyun bisa saja memilih satu kebohongan yang lebih baik tapi kebohongan yang dia pilih menjadi lebih jelas ketika dia menggerakkan tangannya menjauh dari peganganmu. “Aku hanya, umm –“ dia berdehem, tidak melihat pada kedua matamu saat dia bicara, “Aku akan mencari udara segar.”

“Apa –“ tenggorokanmu tiba-tiba merasa lelah. “Apa kau ingin aku ikut bersama atau –“

“Tidak, hanya saja …” Baekhyun sudah keluar dari tempat duduknya tanpa benar-benar menyelesaikan jawabanya, meninggalkanmu menggantung begitu saja.

Dan begitulah tadi. Perasaan memilukan, perasaan lemah  yang kau rasakan kembali di saat kau masih  tetap pada tempat dudukmu. Dan itu lebih besar dari yang pernah terjadi.

***

Baekhyun sebenarnya tidak melarikan diri atau apapun. Dia kembali sekitar lima belas menit kemudian, tapi dia tidak benar-benar mengetahui kehadiranmu lagi. Kau tidak bicara dengan Baekhyun sampai matahari tenggelam karena dia mencoba menyibukkan dirinya dengan memberi selamat pada Minseok atas pernikahannya atau bercanda dengan Chanyeol, itu bukanlah seolah dia menghindarimu –dia sebenarnya duduk di sana disampingmu sepanjang waktu, bergurau dan tertawa, tapi percakapannya kelihatanya tidak pernah melibatkanmu didalamnya.

Pertama, kau merasa bersalah karena tiba-tiba melempar pertanyaan semacam itu tapi sekarang kau sadar bahwa dia hanya menjadi kekanak-kanakan dan konyol. Jadi ketika Chanyeol dan kekasihnya terganggu  dalam mencoba mendapatkan buket bunga pengantin wanita, dan kebanyakan tamu sudah pergi , kau menghadapi  Baekhyun dengan bertatap muka  langsung.

“Okay, Baek,” katamu, suara keras  dan wajah lurus. “Aku minta maaf jika aku menakutimu dengan pertanyaan semacam itu sebelumnya, okay? Aku minta maaf. Jadi bisakah kita lupakan saja sekarang?”

Baekhyun benar-benar terlihat gugup. “Aku tidak takut –“

“Ya, kau takut! Kau benar-benar tidak menatap mataku, dan kau tetap bicara pada Chanyeol dan mengabaikanku –“

“Whoa, whoa!” dia menahan tangannya keatas, terlihat jengkel. “Maaf, apa aku tidak diijinkan bicara pada temanku sendiri?”

“Bukan itu, itu –“ kau mendesah dengan keras dengan rasa kesal. “Dengar, aku tidak memintamu menikahiku, okay? Aku bahkan tidak membayangkan kau menikahiku –“

Dia tersentak  pada kata ‘menikah’ tapi dia menutupinya dengan cepat dengan mengirimimu semacam tatapan  oh-sungguh?, menaikkan sebelah alisnya dan memicingkan matanya padamu. Kau melawan rasa ingin memutar bola matamu padanya.

“Okay, fine, mungkin aku memang membayangkan,” kau mengakui dengan kasar, “Tapi aku hanya menjadi konyol, jadi bisakah kau berpura-pura seperti aku tidak mengatakan apapun?”

Kedua mata Baekhyun terlihat tidak terpengaruh  tapi kau merasakan bahwa dia masih sedikit takut dengan seluruh hal-hal pernikahan. “Baiklah,” akhirnya dia berkata, hampir terdengar mengejek ketika dia mengatakan kata-kata berikutnya, “Apapun yang kau inginkan, Sweetheart.”

Kau tidak puas –dan bahkan menjadi jengkel – dengan jawaban semacam itu dan jadi kau terpaksa  pada rencana akhirmu untuk membuatnya mengerti bahwa kau hanya tidak memperdulikan satu hal pun  tentang segala hal –walaupun sebenarnya kau peduli –dan kau mencoba untuk membuatnya melupakannya. “Ayo bercumbu.”

What?” rahang Baekhyun jatuh karena terkejut. “Kita berada dalam gereja!”

“Well kalau begitu,” kau berdiri dan mendudukkannya pada tempat duduknya dengan menekan kedua tanganmu pada pundaknya. Itu tadi setelah kau mengangkang ke  pangkuannya dengan sukses bahwa kau berbisik dengan nakalnya dengan sebuah seringaian pada bibirmu, “Ayo bercumbu dalam gereja.”

Dan kau mengklaim protes dia selanjutnya dengan mulutmu yang menekan dengan hotnya di mulutnya.

 

TBC

 

okay, as always, leave your commnets baelow after reading the story above, okay? i love you….

ps: have anice vacation in Hawaii someone out there. have some rests, nice days and…. don’t make out or have sex or kissing with mrs x, it’ll really2 hurts me. just enjoy your self with your friends…. okay, B?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

14 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 13a

  1. Daddy butuh belaian/? :v
    Ah konyol mah si baek, au ah nikah aja coba sama luhan, wkwkwk
    Suka karakter luhan disini
    Dan ya ampun tempat ibadah itu :’v
    Makin kece mak, makin suka, hasil translate nya jadi makin keren, yg dulu awalnya masih agak bingung dan mikir maksud kata2nya gimana tapi sekarang udah nggak gitu, ah gimana ya ngomong nya? Intinya jadi nggak berasa baca ff transletan/? Ah gitu lah, huaaaa maaf semalem aku ketiduran, :3 makasih udah ngeupdate ff ini
    Fighting neee.. Love u.. ❤

    Like

  2. Aku aku jadi bener2 penasaran sama kisah cintanya luhan, wah mesti baca keknya. Dan baekhyun, dia mau ngucapin cinta kmren aja hrs kabur dulu. Nggak ngehubungin si cewek, apalagi ditanya soal pernikahan haha

    Like

    1. sebenernya ada note nya sih, kalo lebih afdolnya sebelum baca chapter ini, sebaiknya baca luhan’s side story, biar konek gitu but thank u for reading and leave comment 🙂

      Like

  3. Done ..
    Ahhaa ,, baek kenapa jadii imutz disini mom??
    Duuhh ,, di gereja mereka bercumbu?? :O ditempat ibadah?? *tutupmata*
    Ciieeciiee ,, mom panik. Daddy ada di hawaii ahahhaa tenang mom, ada sie jangkung -chanyeol- yg pantau 😛

    Like

    1. they don’t really care abot the place about to make out, and they did! 🙂 i’m panicked as hell, you know? aku tahu ada si tiang listrik di sana, tapi….tetep aja bikin jantung dugun dugun 😦

      Like

  4. FUCK!!udah comment panjang” eh pas mau send bad signal..akhh astaga bikin emosi sumpah trs tulisanny ilang semua:'( jd harus nulis lagi-.aiish

    Luhan..si sang namja kasiian bgt btw hiiks sabar ya mas. suka bgt sm karakter gege disini dewasa banget”♥♥#misshunhan

    tetot tetot#backsound tukang cilok aaah ada jojong dududu aah kangen liat dia dance lg sedih jg gabisa ikut perform lotto berasa ada yg kurang klo dia gaikut ngedance:'( abisnya dia tuh bandel..i know you want to show the best performance but please keep your healty..jan sampe cidera lg..pokokny anak” eksoh jan ada yg kenapa” lg pliis:'( :'(*imisshimtoo

    sebenerny aku mau comment ini aja..haaah itu BONCABE pliis jadi cowo ga peka amat-. aah syuka greget sendiri sm dia hufft
    demi bulu ketek soman itu masa iya mereka kissing di tempat ibadah sih…pliis kaya gada tempat lain-.-
    duh sebenerny commentny panjang tp apalah daya udh lupa mau nulis apa looll
    pokokny dtunggu next chap ny aja..makin penasarinXD btw ada bebrpa typo..gwechana msh bisa dpahami ko… GANBATE!!!

    Like

  5. wahh kangenn udahh lama gak bacaa baru sepet sekarang 😂😂😂
    ahh baek mahh super nyebelin orang nyaa
    hanya pertanyaan bukan tuntutan baek udah ciut duluann .. tapi itu akhir nyaa bikin fantasi ini bangkit lohh aduhh 😵😵
    semangat terus pokok nya author gak sampe berhenti baca ini ff nyaa 😚😚😚❤❤❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s