The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 13b

tumblr_mlpmm1pbbh1qhmxnlo1_1280

Tittle   : THE MARRIAGE LIFE OF MR BYUN BAEKHYUN (Chapter 13b)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/426081/13/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

Previous

HAPPY  READING  !!

Chapter 13b

A Bitter Sweet Goodbye

Ketika Luhan bilang padamu dan teman baiknya yang lain bahwa dia pergi ke Beijing di hari berikutnya untuk beasiswa pasca-kelulusannya, bisa dibilang bahwa kau terkejut akan menjadi pernyataan abad. Kau mendapatkan semua perasaan campur aduk didalam dadamu –dari  pergi atau ditinggalkan, sampai pergi dengan sedih dan marah, atau bahkan tanpa tujuan, tidak tahu harus bereaksi apa karena  sejujurnya kau tidak menyangkanya. Kau tahu Luhan punya masalah dengan keluarganya –itulah kenapa dia memutuskan untuk belajar di sini di Seoul –jadi baginya karena tiba-tiba memiliki perubahan hati dan kembali ke kampung halamannya seperti ini cukup mengejutkan.

Kau menangis untuk kedua kalinya hari itu, membenamkan wajahmu pada curuk leher Luhan sambil kedua tanganmu menggenggam kemeja putih berkancingnya begitu keras, itu menjadi megerut  di bawah jari-jarimu.

“I hate you,” kau bergumam diantara sesegukanmu, dan itu mulai menjadi lebih sulit untuk bernapas ketika Luhan cekikikan dengan ringan dan mencium keningmu.

“Well, sayang sekali, karena aku mencintaimu. Sangat, sangat banyak,” katanya, meletakkan kembali kepalamu diatas pundaknya. “Selalu dan akan selalu.”

“K –kapan kau akan kembali?”

“Aku tidak tahu.” Luhan memejamkan kedua matanya dan mendesah dengan dalam. “Aku tidak tahu, tapi aku akan memikirkanmu setiap hari, kau ingat itu.”

“Aku akan merindukanmu, Oppa.”

“Aku akan merindukanmu juga.”

Dan kau tidak bisa mengingat dengan banyak yang terjadi setelah itu karena hanya hal yang bisa kau fokuskan adalah Luhan tidak akan di sana untukmu lagi dan kau mencintainya dengan sangat bahwa itu menyakitimu begitu disayangkan mengetahui bahwa malam ini akan jadi terakhir kali kau bisa memeluk dan bicara padanya bertatapan langsung seperti ini lagi.

“Baekhyun,” panggilmu tepat setelah kau membungkuk dengan sopan pada Minseok dan istrinya, mengatakan pada mereka bahwa kau akan  berpamitan. Chanyeol dan kekasihnya sudah pergi dua puluh menit lebih awal untuk sebuah makan malam yang terlambat, sementara Luhan baru saja pergi sendiri tidak terlalu lama dengan blazernya yang menggantung disekitar pundaknya.

Kekasihmu bergumam bertanya. “Hmm?”

“Apa kau keberatan jika aku menghabiskan beberapa waktu sendirian dengan Luhan malam ini? Maksudku, dia pergi besok.”

Baekhyun, yang sedang berdiri dengan diam disampingmu sambil menggandeng tanganmu, menolehkan kepalanya kesampinh untuk melihat wajahmu dengan baik. Tatapan matanya melembut di saat dia melihat kedua matamu  dilingkari dengan warna merah dan terlihat sedikit sembab  karena tangisan yang kau lakukan dalam satu hari.

“Aku benci melihatmu menangis,” bisik Baekhyun, menaikkan jari-jarinya untuk membelai dengan lembut pipimu. “Kau terlihat berantakan ketika kau menangis.”

Kau cekikikan dengan lembut, mencondong pada sentuhannya. “Salahkan saja si brengsek itu karena membuatku menangis seperti ini.”

“Aku yakin akan menendang bokongnya sebelum dia terbang besok,” kata Baekhyun, tersenyum sebelum dia mencium dahimu. “Jangan pulang terlalu  malam. Yakinkan dia mengantarmu kembali  ke dorm dengan aman, okay?”

“Okay,” bisikmu dan memejamkan kedua matamu saat dia menekankan sebuah ciuman kecil,  perpisahan lama  pada bibirmu. “Sampai jumpa besok, Baekhyun.”

“Tunggu.” Dia melepas blazernya dan memakainya dengan lembut di sekitar bahu polosmu. “Cukup hangat?”

“Ya.” Kedua ujung mulutmu melengkung  pada kasih sayangnya. “Thanks.”

Baekhyun menepuk-nepuk kepalamu dan dengan hati-hati menyibak poni dari kedua matamu. “SMS aku saat kau kembali. Aku akan khawatir jika kau tidak .”

“Tentu.” Kau tersenyum dengan sipinya dan melepaskan tangannya sebelum kau berbalik dan sesegera menyusul Luhan. Dia berjalan sekitar beberapa meter darimu didepanmu, sibuk sendiri dengan ponselnya. “Oppa!”

Laki-laki China itu  membalikkan tubuhnya untuk melihat pada pemanggil, dan dia tersenyum dengan lemah ketika dia melihatmu melangkah sedikit cepat, menghampirinya dengan senyuman ceria dan  kepulan napas  yang berasal dari mulutmu itu cukup jelas pada udara dingin Seoul. Kau berhasil melihat sekilas  pada ponselnya sebelum dia mematikannya dan memasukkannya kembali ke sakunya. Pikirmu dia sedang mengsms seseorang, tapi tidak. Dia sedang melihat sebuah gambar tapi kau tidak cukup cepat untuk mengetahui siapa didalamnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Luhan, menyelipkan rambutmu yang menjuntai dibelakang telingamu saat kau menelusupkan kedua tanganmu kedalam lengan blazer Baekhyun dengan baik. “Bukankah kau kembali dengan Baek?”

“Nope, aku ingin menghabiskan waktu berkualitas  sendirian dengan bro favorit  ku,” jawabmu dengan riang.

Luhan mendengus, menahan tawanya, “Janji padaku kau tidak akan memanggilku bro lagi.” Dia dengan lancarnya melingkarkan satu tangannya sekitar pundakmu saat dia dia melangkah, membawamu bersamanya. “Aku akan sangat merindukanmu, nak,” katanya, mengacak rambutmu sebelum dia menanam satu kecupan kecil pada puncak kepalamu.

Kau tertawa geli dan melingkarkan satu tanganmu pada pinggangnya saat kalian berdua berjalan saling  berdampingan. “Aku akan merindukanmu juga, Oppa. Tapi mari kesampingkan saja fakta bahwa kau pergi besok dan hanya, aku tidak tahu, bersenang-senang seperti biasa kita lakukan dulu ketika kita masih kecil.”

Kau berjanji sendiri bahwa malam ini, kau akan membuat dia melupakan segala yang telah mengganggunya sejak awal hari, walaupun kau benar-benar tidak tahu apa  atau siapa yang menyebabkannya –kau mengira bahwa mungkin Gadis Aljabar adalah alasan utama, tapi itu masih tidak bisa menjelaskan kenapa Luhan akan tiba-tiba saja pergi dan kembali ke Beijing tanpa memberitahu siapapun sebelumnya.

Kedua mata Luhan masih terlihat lelah dan penuh dengan derita  tapi ketika dia mendengar suaramu, kedua mata itu cukup berkilauan dengan rasa senang dan mungkin bahkan menggoda. “Apa yang ada dalam benakmu?”

“Hmm ….” kau mengetuk-ngetuk dagumu, bergumam. “Ah! Ingat Su Tang Bei Jing?”

“Oh holy shit ~” Luhan tertawa saat perasaan nostalgia muncul berkumpul kedalam pikirannya. “Permen krispi itu! Kita biasanya banyak memakan itu saat kita masih kecil. God, aku merindukannya. Tidak pernah menjumpai orang-orang menjual permen itu disekitar sini.”

“Tepat sekali,” katamu, membenturkan pundaknya dengan jenaka. “Ingin berlari mengitari kota mencarinya? Ayolah, demi masa lalu, Oppa~”

“Itu tidak terdengar ide yang jelek sama sekali,” jawab Luhan, mengangguk setuju. “Walaupun, kurasa tidak menyukai berlari. Kau bilang kita lakukan demi masa lalu, kan?”

“Yeah, jadi?

Luhan mengerling. “Aku punya sebuah ide yang lebih baik.”

***

Ide yang lebih baik itu berubah menjadi ketukan kembali pada pintu toko Bubble Tea Oh sekitar pukul sepuluh malam di tengah-tengah dinginnya malam. Toko hampir tutup dan kau merasa semacam canggung dan tidak mudah berdiri di sini mengetuk pintu rumah orang (karena toko teh berhubungan langsung pada rumah keluarga Oh).

Seorang anak laki-laki yang familiar dengan kedua mata ngantuk dan rambut pirang cerah membuka pintu dengan sebuah apron pink yang menggantung disekitar pinggangnya. Dia terlihat lelah dan tanpa emosi setelah seharian  bekerja dan hidungnya mudah memerah karena udara dingin. Kau melirik cepat pada nametagnya dan bernama Oh Sehun.

“Apa yang kau lakukan di sini, Hyung?” anak laki-laki –Oh Sehun –bertanya, menggosok kedua matanya seperti anak umur lima tahun yang tidak mendapatkan cukup tidur. “Dan kau bisa menggunakan pintu depan, kau tahu. Aku tidak akan mendengar kau mengetuk jika aku tidak saja akan mengambil sampah.”

“Sehunnie~” Luhan bersenandung saat dia mendongak untuk memiting si muda sebelum dia mengacak-ngacak rambut pirangnya. “Maaf aku tidak bisa melihatmu di toko hari ini. Kau merindukanku?”

“Hyung~” dia meringis, mendorong si tua menjauh dan membenahi kembali rambutnya seperti semula. “Hentikan, Hyung, aku bukan anak kecil lagi.”

Luhan memautkan bibirnya dengan menggemaskan dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Huh! Kau hanya berakting seperti ini karena dia –“ dia menusuk ibu jari ke arahmu, “ –melihat kita. Jika tidak, kau akan bertingkah lovey-dovey denganku!”

Hyung!” sebenarnya Sehun sedikit merona –tapi kau tidak yakin. Mungkin karena udara dingin dan kepucatan kulitnya.

“Aku hanya bercanda, anak kurang ajar~” olok-olok Luhan, mencubit salah satu lengannya dengan jenaka. “Kenalkan adik tercintaku, sehunnie.” Laki-laki China itu mendorong tubuhmu ke depan sampai kau cukup dekat untuk bersalaman dengan anak laki-laki itu. Dia sedikit lebih tinggi dari Luhan, dan karena sedekat ini, kau bisa melihat betapa sempurna struktur tulang wajahnya dan bulu matanya yang indah yang membuatmu iri untuk sesaat di sana. Sehun imut dan tampan disaat yang bersamaan.

“Hai,” sapamu, tersenyum sebelum kau memperkenalkan namamu.

Sehun meraih tanganmu dan menggoyangkannya dengan ringan setelah dia membungkukkan kepalanya dengan sopan. “Annyeonghaseyo, Noona.”

Kau ingin tertawa geli ketika dia memanggilmu noona karena dia terlihat muda sekali dan manja, tapi juga menjadi tanpa emosi sepanjang waktu.

“Kenapa kaku sekali, Sehuna?” goda Luhan, menyodok perut Sehun dengan sikunya. “Jangan bilang kau sudah menyukainya?”

“Hyuuuung~” Sehun memautkan bibirnya dan kau ingin saja melupakan kenyataan bahwa kalian berdua baru saja melewati langkah pertama saling mengenal nama masing-masing dan hanya menggencet pipinya dengan jari-jarimu. “Apa yang kau lakukan saja di sini, Hyung? Aku harus kembali. Toko tutup.”

“Ah ya,” respon Luhan. “Aku ingin meminjam sepedamu, Sehunnie, jika itu okay denganmu.”

“Sepedaku?” tanya Sehun, mengerjapkan mata sayunya. “Kenapa?”

“Karena aku membutuhkannya.” Luhan menarikmu ke sisinya dengan merangkul pundakmu dengan tangan kanannya. “Kami ingin berkeliling kota dan karena biasanya kita bersepeda saat kita masih kecil, kita sepertinya membutuhkan itu sekarang.

“What?” protesmu, walaupun pikiran itu terlihat menawan. Kau tidak tahu dia akan membuat rencana semacam ini untuk kalian berdua. “Oppa, aku memakai gaun dan –“

“Ssssshhhh,” Luhan menekan satu jarinya pada bibirmu sebelum dia membawa perhatiannya kembali pada anak laki-laki muda itu. “Jadi, Sehuna, boleh? Boleh boleh boleh~?”

“Tidak bisakah kau naik saja bus atau apa, Hyung?” anak laki-laki berambut pirang itu malah bertanya.

“Nope.” Luhan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin. Maksudku, apa senangnya di itu?”

“Oppa!” kau menyingkirkan jari Luhan dan meneruskan protes. “Aku memakai gaun!”

“Kau bisa duduk saja di boncengan. Aku akan menjadi gentelmen di sini dan hanya mengayuh,” kata Luhan ketus, mencubit  pangkal hidungmu untuk tetap menutup mulutmu sebelum dia berfokus lagi pada Sehun. “Jadi, Sehunnie, bolehkan?”

Walaupun Sehun terlihat teguh dan dingin, bisa kau katakan dia benar-benar berhati lembut di dalam karena ketika Luhan mengerjapkan mata kilaunya padanya, anak laki-laki muda itu mendesah dan dengan mudahnya mengabulkan permintaannya. “Baiklah, Hyung.”

***

“Kurasa kita  benar-benar terlihat konyol,” komentarmu, meringis ketika Luhan menabrak sebuah gundukan kecil di atas tanah dan itu membuatmu terlonjak di tempat dudukmu. Kau berusaha  untuk tetap melingkarkan kedua tanganmu pada pinggangnya untuk mencegahmu terjatuh. Luhan mengendarai seperti seorang laki-laki yang marah, dan kau bisa melihat  butiran-butiran keringat mulai terbentuk di keningnya saat dia mengayuh melalui malam. Walaupun udara dingin, Luhan merasakan kehangatan yang menyenangkan dan jadi kau meringkuk  bahkan lebih dekat ke tubuhnya

“Tidak, kurasa kita terlihat terburu-buru,” katanya, bernapas keras saat dia mencoba mengatur keseimbangan sepeda. Suaranya terdengar jelas –dan terengah-engah –walaupun suara gerakan beberapa mobil dan orang-orang yang berbincang-bincang di sisi jalan masih keras. Itu hampir tengah malam tapi kota Seoul terlihat menjadi salah satu kota yang tidak pernah tidur. “Maksudku, aku tidak tahu tentangmu, tapi aku selalu terlihat terburu-buru.”

“Kau baik-baik saja, Oppa?” tanyamu disaat dia tersengal-sengal untuk udara lagi. Mencoba menggerakkan kayuh sepeda sendiri dengan berat badan manusia dibelakang dia mulai menganggabnya sebagai korban  padanya. “Kau terlihat seperti akan pingsan.”

“Kau berat sekali!” keluh Luhan dengan tiba-tiba, dan kau memutar bola matamu karena baru saja sekitar sepuluh menit sebelumnya, dia mengklaim sendiri untuk menjadi seorang yang gentel dan berkeinginan melakukan semuanya tapi sekarang dia bilang seperti ini.

“Kau benar-benar tidak punya stamina,” jawabmu, “Kau tidak pernah berolah raga, huh?”

“Hey, aku berolah raga, okay!”

“Seks tidaklah terhitung.”

Aku tahu itu! Aku akan mengatakan soccer.”

“Kemudian ini seharusnya mudah bagimu.”

“Aku bermain soccer, bukan menggendong bayi gajah di punggungku!” teriak Luhan di tengah-tengah lenguhan untuk udara lagi. “Sumpah kau terlihat kecil tapi berat badanmu satu ton!”

“Yah!” kau memautkan bibir bawahmu dan menyodok tulang rusuknya. “Itu sungguh kasar!”

Luhan berusaha bahkan lebih setelah kau menyodok perutnya dengan satu jari dan sepeda terhuyung-huyung saat kalian berdua berteriak sia-sia pada malam.

“LUHAN, HATI-HATI!”

“KAU MEMECAH KONSENTRASIKU –“

“TEKAN  REMNYA! REMNYAAAAA!”

“TIDAK BERHASIL!”

“LUHAN, TRUK!”

“SHIIIIIIIIIT –“

Kau memejamkan kedua matamu rapat-rapat saat Luhan memutar kemudinya kesamping dan kau hanya berdoa pada Tuhan dan hal-hal suci lainnya jadi kau tidak akan kehilangan hidupku dikemudiannya, dikemudiannya. Karena sebaliknya, Baekhyun akan menghidupkan kembali dirimu  sehingga dia bisa membunuhmu lagi. Kau berteriak seperti orang gila saat kau eratkan peganganmu pada kemeja depan Luhan dan tetap melakukannya sampai Luhan akhirnya mengatasi situasi –masih sayangnya, tapi paling tidak hidup tidak –terancam. Sepeda masih bergerak tidak stabil sampai beberapa tujuan, Luhan membenturkan roda depan pada bagian bawah tiang listrik.

“Holly shit –“ Luhan megap-megap ketika sepeda akhirnya berhenti bergerak. “Holly fucking shit, kita masih hidup.”

Holly fucking shit juga,” gumammu dengan diam, memandang dengan kosong pada punggung Luhan dan berterima kasih pada Tuhan keras sekali dalam hidupmu untuk membiarkan kau masih hidup setelah semua ini. “Godness, Baekhyun akan membunuhku jika dia tahu apa yang kita lakukan.”

“Kemudian dia adalah si brengsek yang tanpa hati karena secara harfiah ku pertaruhkan hidupku untuk tetap membuatmu tetap aman dan tentram.”

“Kau pertaruhkan hidup kita, bodoh!” kau pukul belakang kepala Luhan sampai dia mengerang dengan keras. Itu tadi ketika kau sadari beberapa orang menontonmu tapi ketika kau melihat kembali pada mereka, mereka berpaling dengan canggung dan tatapan menghakimi pada wajah mereka sebelum mereka kembali pada urusan mereka sendiri.

“Itu tadi bukan salahku sepeda tidak memiliki rem!” keluh Luhan, memukulkan kepalan tangannya pada rem dan dia menyesalinya segera setelahnya disaat baja keras, dingin membentur buku-buku jarinya. “Aww, fuck, tanganku!”

“Tidak dapat dipercaya.” Kau geleng-gelengkan kepalamu dan mencoa menenangkan detak jantungmu dan mengabaikan kecepatan  adrenalin yang masih sebagian mengalir ke  kedua telingamu. “Aku tidak akan menaiki apapun denganmu lagi, aku bersumpah. Kurasa aku baru saja kehilangan sepuluh tahun hidupku.”

Kau mendengar tawa Luhan memenuhi udara –walaupun itu terdengar lebih seperti  sebuah tangisan karena dia juga masih  meringis karena luka yang dia terima karena kebodohannya sendiri. “Kau tahu? Mungkin kita seharusnya berjalan saja.”

“Yeah, dan mungkin kita seharusnya mencukur kedua alismu karena tidak memeriksa apakah sepeda punya rem atau tidak terlebih dahulu,” katamu dengan kejam, memelintir  tengkuknya sampai dia berteriak. “Aku akan turun.”

Disaat kau melompat turun dari sepeda, kau melihat sesuatu sedang menyentak pada bawahanmu saat kau mencoba menyingkir. Ketika kau melihat ke bawah, kau melihat bahwa garis ujung gaun bergelombangmu menyangkut  pada roda belakang sepeda. Simpulan  kelihatannya mustahil untuk diuraikan.

“Oh, honey,” kata Luhan, berdecak dan cekikikan saat dia turun dari sepeda dan menyadari masalahmu. “Itu tidaklah bagus. Kau akan pulang telanjang.”

“Aku akan meninjumu,” ancammu, melotot padanya. “Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Ini gaun favoritku.”

“Well, tidak ada cara lain kecuali melakukan ini,” kata Luhan, berjongkok dekat roda belakang saat dia meraih  garis ujung gaunmu dan tanpa tanggung-tanggung merobeknya  dari roda.

Kau terperanga dan menatap dalam horor saat bawahanmu menjadi robek dengan tidak indahnya. “Lu Han!

“Itu Luhan –Oppa bagimu,” katanya, bangkit berdiri sambil membersihkan telapak tangannya. “Dan sama-sama.”

Kau meringis  dan mengeluh dan melempar pukulan –tidak –terlalu –halus  pada perut Luhan tapi Luhan hanya tertawa dan tertawa dan tertawa sampai kau mulai tertawa kecil sendiri. Itu bukanlah semacam malam yang kau harapkan, tapi malam ini pastinya akan  terukir  ke ingatanmu selamanya.

“Ayolah, mari cari permen itu,” kata Luhan, tersenyum saat dia merangkul pundakmu.

Kau tidak ingat  berapa lama kau menghabiskan waktu mencari manisan Beijing itu karena Luhan tetap mengatakan hal-hal bodoh (“kau tahu? Jika kau eja ‘jesus’ kebelakang, itu terdengar ‘sosis’ dan sekarang aku kelaparan karena sosis.”) dan melempar lelucon kakek-kakek yang membuatmu merasa ngeri  tapi masih tertawa pada akhirnya (“Apa yang gelombang lakukan ketika mereka saling bertemu?” –“Apa?” –“Tidak ada, mereka hanya melambai. Paham?”)

Itu tadi sampai kau merasakan kakimu mulai sakit karena berjalan kaki yang kau lakukan dengan high heel yang akhirnya kau berhenti tertawa. Luhan menyadarinya ketika kau mulai pincang saat kau berjalan.

“Kenapa kau berjalan seperti kau baru saja berak di celanamu?” tanya Luhan dan kau cemberut sebagai balasan.

“Aku mendapatkan lecet-lecet  pada belakang sepatuku,” kau mengakui, menyentak saat kau melangkah lagi. “Sepatu ini membunuhku.”

Luhan mendesah dengan keras. “Inilah kenapa aku tidak mengerti kenapa wanita akan memakai benda semacam ini.”

“Well, mereka membuat kedua kakiku terlihat lebih panjang.” Kau mengedikkan bahumu dengan biasa. “Dan kau tahu apa yang mereka katakan, beauty is pain.”

“Dan kau tahu apa yang mereka katakan, kau orang yang bodoh.” Luhan menyentil dahimu. “Benda brengsek ini tidak membuatmu terlihat cantik; mereka membuatmu terlihat seperti kau mencoba berjalan dengan manik-manik anal  melekat dalam pentatmu.”

Kau merona dengan marah  ketika kau menyadari orang-orang berbisik di belakang karena kata-kata Luhan yang keras. “Apa kau harus mengatakan hal-hal seperti itu?” kau mendesis, menghentakkan kakimu dengan ujung high heel kananmu dan tekanan karena gerakan itu membuatmu mengerang kesakitan.

“God, kau sia-sia sekali.” Kata Luhan saat dia melepas sepatunya, meninggalkan dia berdiri di sisi jalan tanpa memakai apa-apa kecuali pink nya –ya, kaus kaki pink –kaus kaki yang menutupi kakinya. “Ini, pakai ini.”

“Aku tidak akan memakai sepatu baumu! Eew!” kau membuat tatapan dan dia mencubit kedua pipimu.

“Mereka tidak bau dan kau seharusnya berterima kasih padaku, anak kurang ajar!” dia menggencet kulit halus sampai menjadi merah dan kau menepis tangannya.

“Tidak bisakah kau gendong saja aku di punggungmu?” tanyamu, mengerjap-ngerjapkan bulu matamu padanya. “Seperti masa lalu, kan?”

“Tidak, jika kulakukan itu, kau akan menindihku sampai mati karena berat badanmu.”

“Kau keterlaluan sekali~” kau berpura-pura menangis, melihat padanya dengan kedua mata puppy yang kau pelajari dari Baekhyun.

“Hey, kau memakai gaun,” gumam Luhan, memutar bola matanya. “Kecuali kau ingin memperlihatkan  celana dalam putih –bergambar kelinci mu itu pada seluruh jagat raya kalau begitu –“

“Putih –“ kau merona dengan sangat. “Kau melihat  pakaian dalamku!”

“Itu murni sebuah kesalahan,” Luhan megibaskan tangannya dengan biasa padamu. “Dan tenang, kau terlalu kekanak-kanakan untuk tipeku. Memang siapa yang masih memakai celana dalam bergambar pada umur tiga puluhan?”

“Aku dua puluh –tahun!”

“Well, kau tampak tiga puluh,” gurau Luhan, memeletkan lidahnya menggoda dan kau menyerangnya dengan  beberapa pukulan kecil saat dia tertawa.

Kau akhirnya  memasukkan kakimu ke dalam pantofel hitamnya dan kau terkejut mengetahui bahwa sepatu tidaklah lebih besar dari ukuran biasamu. “Kakimu kecil!” katamu, cukup keras untuk orang-orang dengar. Wajah luhan kemarah-merahan ketika beberapa gadis –seumuran dia, mungkin –tertawa geli pada pernyataanmu.

“Diamlah, mau kan?” bentak Luhan kembali, wajah memerah. “Dan aku tidak memiliki kaki kecil; milikmu saja yang besar. Kau sungguh gendut!”

What?!” kau menautkan kedua alismu dengan jengkel. “Well, kau tahu apa yang mereka katakan tentang laki-laki dengan kaki kecil? Mereka memiliki kemaluan kecil juga.”

Hey, maaf!” wajahnya menjadi lebih merah saat kau mulai tertawa kecil.

Sisa malam itu terdiri atas kau bermain-main seperti anak kecil dengan favorit oppa mu di dunia ini dan untuk sesaat di sana, kau pikir bahwa Luhan sebenarnya melempar senyuman asli padamu. Yakin dia telah tersenyum dan tertawa sepanjang waktu, tapi sebagian banyak dari itu, bisa kau katakan ada sesuatu yang salah dengan senyumannya dan tawanya. Itu tidak terlihat dipaksakan atau apapun, tapi sesuatu baru saja merasa sediki  tidak benar.

“Ini,” tawar Luhan setelah dia keluar dari toko terdekat. Kau mendongak padanya dari sisi bangku dimana kau duduk dan tersenyum dalam rasa senang ketika dia membelikanmu sepasang sandal. Kau menyatakan terima kasih  dan langsung memakainya ke kakimu.

“Dan aku membelikanmu ini juga,” tambah Luhan, memberimu satu kantong makanan kecil permen krispi bulat-bulat coklat Korea dan kau menautkan kedua alismu  pada kantong makanan, benar-benar tidak puas.

“Tapi Oppa~”  kau merengek, cemberut. “Aku ingin Su Tang Bei Jing~”

Laki-laki lebih tua itu hanya mengecup pipi kananmu dan menghembuskan udara dengan keras, membuat kepulan kecil udara yang tampak dalam malam yang dingin. “Berterima kasih saja, anak kurang ajar. Kita menghabiskan tiga jam mencari permen itu, dan aku sudah cukup. Kurasa aku terkena flu karena ini.” Dia bersin dan mengusap hidungnya dengan lengan bajunya yang digulung.

“Eew, kau menjijikkan!” teriakmu pada aksinya dan Luhan hanya memutar bola matanya dan mengarahkan lengan bajunya  yang kotor ke arahmu.

“AH!”Luhan tiba-tiba saja berteriak pada udara dingin setelah beberapa saat; suaranya memecah kesunyian. “Kita lupa membawa kembali sepeda sehun!”

***

Ketika Luhan mengantarmu kembali ke dorm, itu sudah janm satu pagi. Dia sedang menjadi seorang yang cukup gentle untuk benar-benar menemanimu kembali ke pintumu dan kau mengucapkan selamat tinggal padanya, pandangan matanya melembut dan tatapan sedih yang sama, dan melankolis yang dia pakai diawal pada upacara pernikahan kembali di kedua matanya.

“Kau baik-baik saja?” tanyamu, ingin meraih dan menelusurkan jari-jarimu pada sisi pipinya seperti halnya yang selalu kau lakukan pada Baekhyun kapanpun kekasihmu sedang marah atas sesuatu.

Luhan hanya mendesah dan tersenyum dengan lemah. “Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan padamu, tapi kurasa sepertinya aku tidak harus melakukannya. Apa kau tahu perasaan semacam itu?”

“Aku tahu,” katamu, menyetujui dengan seluruh hati sementara bagian dari pikiranmu kembali ke Baekhyun dan seluruh hal komitmen-pernikahan yang selalu kau coba simpan topik itu untuk dirimu sendiri sehingga dia tidak akan ketakutan. “Tapi aku adalah pendengarmu, jika kau ingin membicarakannya padaku. Kau selalu tahu itu, kan? Bahkan jika kau berada di China dan aku berada di sini, kita selalu bisa bicara.”

“Tentu saja,” Luhan tertawa kecil dan melarikan satu tangannya pada cengkeramanmu. “Apa kau ingat bahwa  ketika kita masih muda, kau selalu bilang kau ingin menikahiku?”

Kau membekap mulutmu dengan telapak tanganmu untuk menampung tawamu. “Memang,” katamu, setengan cekikikan. “Itu ketika aku masih memikirkanmu sebagai Romeo yang murni, dan inosen.”

“Dan siapa aku sekarang?” tanya Luhan, suaranya menggoda. “Casanova?”

“Aku berpikir tentang seorang brengsek yang mesum, tapi pasti,” kau mengedikan bahumu, melempari senyuman canda, “Jika kau ingin menjadi Casanova, kemudian kau adalah Casanova.”

Luhan menggelengkan kepalanya saat dia menaikkan ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tapi disaat tawa merembes,  kedua matanya menjadi terjaga  tapi juga peduli dengan sungguh-sungguh disaat yang bersamaan. “Kau bahagia dengan Baekhyun, kan?”

“Aku …” aku bahagia, tapi disaat yang bersamaan aku takut dan aku tidak yakin dengan masa depan kami, dan aku tidak tahu bagaimana menanganinya. “Ya,” katamu karena kadang-kadang hal-hal lebih baik tidak usah diucapkan. “Aku bahagia.”

Luhan tidak memperhatikannya, bahkan tidak untuk sedetik. “Bisa kubilang kau kesusahan dengan sesuatu di sini dan jika kau tidak ingin membicarakannya denganku sekarang, tidak apa. Tapi berjanjilah padaku satu hal: bilang padaku jika dia menyakitimu dalam cara apapun, okay?”

Walaupun kedua matanya dipenuhi dengan ketulusan dan janji-janji, kau tidak tahan kecuali  membuat lelucon atas keseriusannya untuk sedikit. “Dan apa yang akan kau lakukan, kemudian? Memintanya untuk naik sepeda denganmu dan mengendarai sediri bersama-sama masuk  dalam truk yang berkecepatan tinggi?”

Laki-laki China itu mengerutkan hidungnya dengan imutnya pada gurauanmu. “Well, aku berpikir lebih seperti meninju mukanya, tapi hey, aku selalu terbuka pada saran-saranmu.”

Kau tertawa dengan samar sebelum kau mencondong untuk memeluk pinggangnya. “Serius  aku  akan merindukanmu.”

“Sama disini.” Dia menyambutmu kedalam pelukannya dan mengusap-usap tangannya sepanjang punggungmu dengan perilaku yang  menenangkan dan ramah. “Sekarang masuk ke dalam. Sudah  larut malam  dan dingin, dan aku benar-benar harus kembali. Belum benar-benar selesai mengemasi barang-barangku.”

Tubuhmu tidak bergeming saat realisasi mengenaimu. Dia sungguh-sungguh akan pergi besok. “Kenapa kau tidak bilang padaku tentang ini lebih awal?”

“Well, seperti yang kubilang –“

“Jangan beri aku jawaban yang jelek  seperti ‘aku tidak ingin membuatmu khawatir padaku’,Oppa. Please,” pintamu, suara menjadi diam seolah kau baru lari  karena menangis. Yakin merasa seperti itu, meski. “Aku ingin kebenaran.”

“Kebenaran?” tanya Luhan; menyelipkan tangan kanannya antara rambut-rambut halusmu. “Kebenarannya adalah, aku tidak yakin bahwa aku akan kembali juga. Maksudku, aku sudah mempersiapkan ini –mengemasi kebanyakan barang-barang milikku, memesan tiket pesawat, bicara pada Sehunnie tentang ini jadi dia tidak akan terkejut dan menangisinya –tapi aku sungguh  tidak berniat  untuk benar-benar pergi. Paling tidak tidak sekitar, tujuh jam yang lalu.”

Kau menarik dirimu dari pelukannya tapi masih tetap melingkarkan kedua tanganmu pada pinggangnya. “Apa maksudmu?”

“Aku …..”luhan menarik napas tajam. “Dengar, kurasa aku tidak  ingin membicarakannya. Bisakah kita hanya, umm, bicarakan sesuatu yang lain?”

Kau habiskan lima detik selanjutnya melihat lurus ke dalam mata coklatnya. Kedua matanya itu masih terlihat seindah biasanya tapi keduanya itu tidak berkilauan lagi. Kedua mata itu tak tergoyahkan  tapi memandangnya seperti ini sudah membuat kedua matamu ingin menangis.

“Well….okay,” akhirnya kau berkata, menyerah walaupun hatimu bicara padamu untuk tetap mencobanya. Tapi itu privasinya dan kau tidak ingin menyerangnya seperti itu saja. “Kurasa aku tidak bisa memaksamu untuk menceritakannya padaku.”

“Terima kasih,” bisiknya dengan lembut dan kau hanya menawarinya satu desahan yang dikombinasi dengan sebuah senyuman sebagai balasan. “Dan maukah kau membantuku? Jangan melihatku di Airport. Kau akan membuatnya semakin sulit bagiku untuk pergi.”

Kau tidak berjanji padanya; kau terlalu sibuk mencoba menahan air mata panasmu untuk tidak terjatuh, jadi kau hanya mengangguk. Untuk menutupi kesedihanmu, kau memijit kedua lengannya dengan jenaka dan berkata, “Kurasa, ini sungguh-sungguh perpisahan, kalau begitu?”

“Ya, kurasa begitu,” kata Luhan, menghapus air mata dari mata kananmu dan kau tidak tahu kau sedang menangis sampai kemudian. Kau tidak sesegukan atau menangis keras sekali dalam cara yang bisa membuat tenggorokanmu terasa lelah, tapi tubuhmu merinding dan kau tidak bisa menahan  rengekan kecil keluar dari bibirmu. Luhan memelukmu lagi dan menekan ciuman lama pada keningmu untuk menenangkanmu. Dia hanya melepaskanmu ketika dia yakin kau baik-baik saja.

Kau berjinjit dan memberinya satu ciuman perpisahan pada pipinya. “Goodbye.”

“Goodbye.”

Kau hanya berdiri di sana, melihat kedalam dua matanya untuk beberapa detik terlalu lama sampai  otakmu mulai bekerja lagi dan mengatakan padamu untuk membuka pintumu dan membuat dirimu masuk ke dalam. Jadi setelah mengiriminya satu senyuman terakhir, kau balikkan tubuhmu dan mulai mmebuka pintumu.

Kau tidak masuk ke dalam ruanganmu, meski, karena Luhan tiba-tiba saja memelukmu dari belakang. “O –oppa?” dia tidak menjawabnya dengan kata-kata, tapi ada suara yang cukup sama pada tangisan kecil atau rengekan-rengekan  dan kau bisa merasakan kedua tangannya gemetar saat dia melingkarkannya pada perutmu.

Aku bilang padanya aku mencintainya,” ledakan Luhan tiba-tiba, bicara cepat dan terengah-engah. “Kubilang padanya aku mencintainya dan aku berjanji sendiri aku akan tinggal di sini demi dia, demi kamu, demi semua orang yang kucintai di sini jika dia bilang padaku dia balas mencintaiku –atau paling tidak memberiku satu kesempatan untuk bersama dengannya. Itulah akhir keputusanku. Tapi dia melakukannya. Dia marah padaku karena mengaku padanya seperti ini ketika aku tahu akau harus meninggalkan dia di hari berikutnya. Dia marah, tapi dia tidak memintaku untuk tinggal.”

“Kemudian tinggallah,” katamu, melepaskan kedua tangannya dari tubuhmu sehingga saja kau  bisa berbalik dan memeluknya dengan benar. “Tinggallah. Aku memintamu untuk tinggal.”

“Aku tidak bisa –“ suara Luhan begitu halus dan hati-hati, dan disaat yang bersamaan, menyiksa. “Aku tidak bisa saja tinggal, itu tidak –“

Lulu,” kau terkejut sendiri ketika kau tiba-tiba memanggilnya dengan nama panggilan lamanya tapi itu tidak masalah kemudian karena Luhan terdengar seperti ingin menangis. “Jika kau pergi hanya karena dia tidak membalas  perasaanmu kemudian –“

“Ayahku sekarat,” kata Luhan, suara bergetar dan dipenuhi dengan tekanan. “Aku ….aku tahu hubunganku dengan Ayahku tidak pernah baik –maksudku, kita banyak saling bertengkar dan itulah alasanna kenapa kuputuskan untuk pergi belajar ke luar negeri. Kau tahu itu, kan? Aku mencoba menghindari  konflik masa depan dengannya, dan Ibuku sebenarnya terlihat cukup lega ketika aku pergi ke sini. Tapi kemudian, sekitar dua tahun yang lalu, dia menelponku, cerita padaku bahwa Ayahku sakit dan dia bilang dia merindukanku tapi aku tetap menghindarinya.”

Luhan berhenti untuk menarik napas dan kau menangkup kedua pipinya, menciptakan lingkaran nyaman pada pipinya yang halus dengan kedua ibu jarimu. “Hey, it’s okay,” bisikmu, menatap ke dalam kedua matanya.

“Seminggu yang lalu,” terusnya, suara bahkan menjadi lebih diam, “Aku dapat telepon lagi dari rumah dan kupikir itu Ibuku yang menelponku, tapi kemudian kudengar suara Ayahku di sambungan itu. Katanya dia semakin membaik –dia terdengar benar-benar sehat, sungguh, tapi dia juga terdengar lelah dan aku merasa menyesal karena aku adalah anak satu-satunya mereka dan aku tidak pernah sungguh-sungguh peduli begitu banyak tentang perasaan mereka. Aku benci diriku karena itu.”

Kau turunkan kedua tanganmu ke pundaknya dan memberinya pelukan.

“Ayahku memintaku untuk pulang karena dia merindukanku –dia bahkan bilang padaku dia menyesal karena membuatku tidak nyaman dalam rumahku sendiri dan dia berjanji padaku bahwa dia akan berubah untuk kebaikan. Katanya –“Luhan berhenti untuk mengeluarkan tangisan kecil yang coba dia sembunyikan dengan mengeratkankan giginya, dan kau merasa kau tidak bisa bernapas karena betapa eratnya dia memelukmu saat itu. “Dia bilang dia tidak punya waktu yang tersisa, dan dia ingin memperbaikinya dengan melakukan hal-hal yang benar denganku. Itu membuatku memikirkan kembali keputusanku berulang lagi, dan  walaupun aku tidak ingin, kurasa aku harus pulang. Aku punya kehidupan di sini –tidak, hidupku di sini, tapi aku tidak bisa saja lari dari keluargaku juga. Jadi aku tidak yakin tentang semuanya dan kukatakan pada diriku untuk cepar-cepat membuat keputusan sebelum semuanya terlambat, dan aku janji sendiri bahwa jika dia ingin aku untuk tinggal, kemudian aku akan tinggal. Di sini.”

“Apa pedulinya apa yang dia katakan?” kau mundur selangkah untuk melihat wajahnya. Dia tidak sedang menangis, tapi kedua matanya sudah memerah, penuh dengan air mata. “Aku ingin kau tinggal. Kita semua ingin.”

“Itu bagus.” Dia mencoba mengerjapkan air matanya, tidak ingin air mata itu terjatuh. “Tapi sungguh, jika bahkan aku tidak bisa memegang janji yang kubuat sendiri, bagaimana aku bisa  membuktikan janji-janji orang lain?”

“Lu Han –“

“Tidak, itu final,” dia memutuskan, menggoyangkan kepalanya dan mencoba menahan protesmu. “Aku tidak bisa selalu seperti ini. Disamping itu, aku mendapatkan beasiswa di sana, ingat? Masa depanku sudah diputuskan di sana.”

“Tapi –“

“Mungkin Ibuku sudah mengatur pernikahanku dengan gadis yang baik di sana juga dan –“

Oppa!”

STOP!” tiba-tiba Luhan berteriak saat dia mengepalkan telapak tangannya, dan tepat saat itu kau tidak tahu apakah dia sedang marah padamu atau dengan dirinya sendiri. “Ini keputusanku dan aku ingin kau menghormatinya, okay? Jangan membuat ini semakin sulit bagiku dari yang sudah.”

Kau terkejut pada suaranya yang tinggi tiba-tiba itu, jadi kau hanya merundukkan pandanganmu pada kakimu dan menggigit bibir bawahmu. “Aku …aku minta maaf.”

“Oh, shit,”  kata Luhan dibalik napasnya dan cepat-cepat melingkarkan kedua tangannya pada tubuhmu. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud berterika, aku –“ dia menghembuskan napas dengan berat, terlihat benar-benar merasa bersalah dan menyesal. “Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, okay? Jika bisa kubawa kau ke dalam sakuku, aku akan melakukannya. Tapi aku tidak bisa tinggal. Ini tidak benar.”

Kau hanya menganggung saat kau keraba-raba dengan kedua tanganmu yang gemetar dibawah pelukannya. Saat kau melingkarkan  tanganmu pada pinggangnya, kau temukan kedua tanganmu mencengkeram belakang bajunya keras sekali; kau merasa kuku-kuku jarimu mulai menggigit kulit telapak tanganmu, walaupun kain.

“Ada kesempatan besar mereka tidak membiarkanku kembali ke sini lagi, tapi kau bisa saja mengunjungi kampung halamanku kapanpun kau ingin, kau tahu?” terus Luhan, cekikikan dengan halus untuk menghapus ketegangan. “Mungkin kemudian, kita akan mendapatkan permen krispi brengsek itu.”

Kau tetap menganggukkan kepalamu lagi dan lagi karena sebenarnya kau tidak bisa mengatakan apapun saat itu. Tidak dengan semua perasaan ini yang bercampur dalam dadamu. Tidak disaat kau merasa tersedak karena air mata yang coba kau tahan, karena walaupun Luhan tidak sedang menangis saat itu, kau merasa dia akan menangis disaat kau biarkan dirimu menangis  seperti seorang anak yang ditinggalkan. Jadi kau mencoba untuk kuat, tidak untuk dirimu, tapi untuk dia.

Kau janji sendiri untuk tidak menangis atas dirinya. luhan tidak akan menginginkan itu. Dia ingin kau bahagia, ingat?

Luhan telah melalui banyak, dan kau –walaupun kau mengklaim menjadi teman baiknya –benar-benar tidak tahu banyak tentangnya, tidak sampai sekarang. Kau seharusnya sudah tahu bahwa Luhan suka menyimpan hal-hal untuk dirinya sendiri. Dia tidak pernah berbohong. Ya, itu benar. Dia hanya memilih untuk tidak membicarakan segala yang dia rasakan.

“I love you, Lulu,” bisikmu, merasa sangat menyesal karena kau belum pernah banyak mengatakan itu  dalam beberapa tahun yang lalu.

Tapi Luhan hanya menarik napas dalam-dalam, seolah dia bisa menelan kata-katamu dan tetap menyimpannya ke dalam dadanya selamanya. “I love you too, Little dongsaeng.”

***

Kau baru saja menutup pintumu dan menyandarkan punggungmu padanya dengan napas berat turun sampai  memisahkanmu, memecahkan bibir, ketika ponselmu berbunyi; ringtone nya memotong malam dengan tajamnya. Kau tidak menyadari kedua tanganmu gemetar sampai kau pegang ponselmu dengan telapak tangan kananmu untuk memeriksa ID pemanggil.

Byun Baekhyun berada di sambungan telpon itu.

Kau tekan tombol answer dan kata ‘hello’ sudah berada diujung lidahmu, tapi kau kesusahan  hanya sulit  untuk mengucapkannya dengan keras. “H –hello?”

Kau tidak tahu apa yang Baekhyun dengar dalam suaramu, tapi momen kau mengeluarkan kata sapaan dari mulutmu, tiba-tiba dia menarik napas dengan tajam dan suaranya rendah dan benar-benar serius ketika dia berkata, “Tunggu aku. Aku akan ke sana sekarang juga.”

Dan mungkin tidak butuh lebih dari lima menit hidupmu sebelum Baekhyun ke sana, mengetuk pintumu berulang kali. Baekhyun terengah-engah, sedikit berkeringat karena berlari turun ke ruanganmu dan rambut poninya yang berantakan mulai lengket di dahinya. Dia masih memakai  pakaiannya  sebagai tamu  pernikahan –minus blazer, karena kau masih  memakainya –dan yang membuatmu sadar bahwa Baekhyun telah menunggumu berjam-jam ketimbang naik ke tempat tidurnya untuk tidur.

Setelah kau membiarkan dia masuk dan menutup pintumu, dia melihat padamu dengan mata yang menelisik sebelum dia langsung menarikmu ke dalam pelukannya, menarik   belakang  tengkorakmu dengan satu tangan dan menelusurkan jari-jarinya sepanjang rambut halusmu.

Dan di saat dia berkata, “It’s okay, aku di sini,” dalam sebuah bisikan halus, kau hanya menyerah atas janjimu, dan membiarkan dirimu menangis dengan keras di dadanya. Kain kemejanya meredam suara yang kau buat dari mulutmu, tapi dalam kepalamu kau menjerit begitu keras. Begitu banyak hal yang terjadi dalam satu hari. Begitu banyak perasaan yang kau miliki  untuk dibayangkan  dalam satu malam. Itu tidaklah adil sama sekali.

Tapi Baekhyun tidak pernah mengatakan apapun saat itu. Dia hanya membiarkanmu membasahi kemeja putihnya dengan air mata  panasmu yang menyengat dan hanya melingkarkan kedua tangannya pada tubuhmu dengan hati-hati. Kau tidak mengatakan apapun juga, karena kata-kata tidaklah cukup sempurna untuk mendiskripsikan perasaanmu dan untuk waktu, kau hanya bersyukur atas kehadirannya.

Karena seperti halnya bagaiamana Luhan menggenggam tanganmu dengan diam saat  pemakaman ibumu, Baekhyun hanya menawarkan apa yang bisa dia berikan; bahu untuk menangis.

Dan itu cukup.

 

TBC

 

HELLOOOOOO MY PRETTY READEEEEEEEERSSSS ……

Sehun and Luhan in the house yoo…. maaf  menunggu lama banget karena begitu sibuknya diriku ini. I’m busy enough with my work, i just couldn’t find enough time to translite or write my stories,and i’m really, really sorry guys, i hope you’ll understand. As always please leave some comments below and thank you, i love you, mwaaaahhhhh ~~ *wink*

 

 

Advertisements

22 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 13b

  1. Kyaaa >< Unfinished??
    Aku kira sudah lengkap kkkk~
    Ini scene luhan eoh? Menyengkan!! Ada sehun nongol 😀
    Senyum2 sendiri baca scene ini, mereka seperti adik-kakak sungguhan hehhee ..
    Tapi , kenapa luhan pergi? Dy akan kembali lagi kn kak??

    Like

      1. Kak 😦 kenapa setelah baca ver complete’nya perasaan ku campur aduk???
        God !! Nie sukses buatt perasaan ku seperti masuk kedalam cerita. Campur aduk!! Kg bisa berkata apa-apa kecuali Menangis 😥 huuuuaaaaa hikss..

        Like

  2. Sepeda sehun malang yg terlupakan :’v
    Mungkin dia lagi nangis di pojokan, ah kalian berdua kejam :’v
    Curiga nanti kalo luhan udah balik ke china, sehun yg bakal gantiin posisinya wkwkwk ah ekspektasi ku berlebihan, efek gagal move on Ha Ha heehh.. 😥
    Tapi kalo gitu saingan baekhyun nambah, si jongin kelihatannya juga..
    Ahhhh suka banget moment bareng luhan eugh so sweet, malah ngalahin jalan bareng kekasih sendiri *read baekhyun Ha Ha
    Fighting mak, ditunggu versi komplitnya talak…
    Fighting fighting fighting ❤

    Like

      1. Maaakkk tanggung jawab gue nangis hueeee
        Jadi keinget kan ught, oktober pula baper lah baper aku aaaaa luhaaaannnn jangan pergiiiiii hiks hiks hiks 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

        Like

  3. GODNESS..SUMPAH YA CHAP INI ASFJKLVSABML
    DEMI SENDAL JEPIT SWALLOW IJONYA OH SEHUN INI SWEEEEET BANGET KA BIKIN AING DIABETES:O SYUUUKA BANGET SAMA BROTHERSHIP MEREKA FEELNYA DAPET BANGET JIIR♥♥♥♥OEMJI PESEN BROTHER CEM LUHAN DIMANA YA:-D KALO ADA BOLEH KALI PESEN SATU#PLAAK
    ASTOGEH UNFINISHEDo_O AAAH DTUNGGU BANGET COMPLETENYA YAYAYA
    BTW KUKIRA INI EPEP GABAKAL LANJUT JIR ABISNYA UPDATENY LAMA BANGET…ZZZZ…TAPI HAMDALLAH UPDATE JUGA EKWKKWK AIISH POKOKNYA DTUNGGU BANGET COMPLETENYA WAJIB!!! OKE BUAT KAKA KEEP WRITING YAH

    Like

  4. kata paling menyeramkan kedua setelah TBC ya ini UNFINISHED .. tapi gak kecewa sihh sweet banget sihh mereka ahhhh jadi kepengen deh mengenang masa lalu 😂😂😂
    luhan oppa kenapa kelihatan putus asa nyaa .gak usahh balik ke cina mending ke sini aja ke rumah aku . di jamin aku gak bakalan mengecewakan 😁😁😁
    makasihbanyak buat author nyaa yang mau transletin ini ff .kalau gak yakin gak bakal tau dan gak bakalan secinta ini sama ff nyaa
    terus semangat pokok nyaa 😙😙😙❤
    jangan lupa lanjutan nyaa di tunggu

    Like

  5. sumpah demi apa ini udah complete…..zzz astajim kenapa malem ini aing begitu potek huwaa :'(( yawla jadi baper ot12 miss lulu ku:'(( udah potek ama si BONCABE yg melakukan pfffftt u know what i mean astaga ingin BERKATA KASAR :(( :(( :(( :((
    EEH KETAMBAH INI LG PARTNYA GEGE SYEDIH BANGET AKUTU GABISA DIGINIIN NANGIS BOMPAYAH
    YEAAH I KNOW YOU VERY BUSY AUTHORNIM BUT THANKYOU VERY MUCH FOR TRANSLATE THIS FF….I REALLY PROUD OF YOU I ALWAYS SUPPORT YOU I HOPE YOUR REAL LIFE SUCCESSFULL!! KEEP WRITING FIGHTING!!!!! sorry for my bad grammar:’)

    Like

  6. kalau tau lanjutan nyaa sesedih ini ahh kenapa gak di skip aja jadi galau nangis pagi2 kann . ahh bener dehh ini ff kenapa sakit nyaa kerasa banget yah ke hati lulu nyaaa kenapa di bikin kaya gini 😭😭😭😭
    udah ahh sedihh kalau di inget2 😂😂😂
    author nyaaaa terus semangat pokok nyaa gak mau sampe berhenti transletin harus sampe tamat pokok nyaa
    ❤❤❤❤

    Like

  7. Pokoknya ku tunggu kelanjutannya untuk ff ini. Karena ini nyebelin banget, knp lu ge hra balik ke china? Dan di bilang apa? Bakal dihalangin buat blik ke Koriya??? i’ll miss you a lot ge. Tapi aku ngerti ko gmn kalo aku di posisimu. Ahhh….lu ge. Knp km membuatku jadi tambah pingin punya kakak laki”? Apalagi yang kaya kamu *kecuali mesummu tentunya* di tunggu next chap nya. jgn buru” kalo gk bisa, nanti hasilnya gk bagus. Tapi jangan kelamaan juga nanti dakuh lumutan nunggunya😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s