The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 6

bYIm7jP

 

Tittle     :  THE PATHETIC EX-LOVER’S CLUB (Chapter 6)

Author  :  PJ

Cast       :

  • Oh Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • KAI /Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Fluff and Romance

Poster : kristal15/ TMLGS

 

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. Ini hasil  translitanku  yang kedua dari  fanfic  favorite ku ‘ The Pathetic Ex-Lover’s Club  by angelb2uty ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/1138561/6/the-pathetic-ex-lovers-club-fluff-romance-originalcharacter-exo-baekhyun

Previous chapter

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 6

Comfort Talk With Stranger

 

Aku berjalan ke arah aula ruang makan untuk makan siang, berharap tidak seorangpun berjalan  dibelakangku. Itu adalah sebuah pertemuan tak terduga dengan seseorang yang mantan –kekasih Yerin. Apa itu semacam tanda? Bahwa pernikahan ini harus ditunda  apapun masalahnya?

Jangan gila. Tapi itu semua bukanlah sebuah ide yang buruk. Jika orang lain –yang benar-benar mengerti perasaan  sakit ini melihat mantan –kekasihku tersenyum bahagia pada kehadiran individu baru  seperti bagiamana aku biasanya membuat dia merasakan –dia akan bilang aku kehilangan kesempatan sekarang ini.

Tapi, dengan pria itu? Aku lebih baik tidak melihat dia lagi. Itu cukup memalukan untuk dikenal sebagai mantan dari pengantin pria oleh orang asing. Cukup dengan tampang yang kuterima dari orang-orang yang kukenal yang berada disekolah yang sama denganku. Aku tidak butuh orang yang tahu tentang hubunganku yang terdahulu dengan Jongin dan mungkin mengasihaniku dibelakangku.

Kuambil sebuah piring kosong dan mulai mengisinya dengan semua makanan yang telah disediakan –aku bukanlah seorang yang pecinta makan dan dengan yakinnya menikmati makanan gratis – aku mulai berharap aku punya tangan lagi di tubuhku jadi aku bisa dengan mudahnya memegang segelas jus jeruk tanpa resiko dan seolah harapanku terkabul, sebuah tangan muncul dan mengambil gelasku dari genggamanku.

Dia tersenyum. Pria ini tersenyum padaku. Kukerutkan dahiku, terasa aneh masih memiliki dia bersamaku tapi sebelum aku sempat bertanya, dia berjalan dengan susah payah  ke arah meja kosong. Dengan membawa jus jerukku.

Sekarang aku tidak punya pilihan kecuali mengikutinya.

Aku duduk bersebrangan dengannya dan sekali kulihat dia menyesap minumanku, aku membentak “Hey, itu punyaku!”

Dia menelan dan bergumam “Sorry.” Dia menyodorkan gelas di sampingku.

“Tidak apa.” Kataku, tidak mengharap berbagi satu gelas dengan seorang asing.

“Jadi, apa kau …diundang?” tanyanya ragu-ragu, kusadari bagiamana dia mencoba tetap merendahkan dirinya  di saat dia melihat pada sekeliling dari pada membuat kontak mata denganku.

 

Dan aku masih ingin tahu pertanyaan macam apa yang akan dia berikan padaku dan apa yang dia lakukan di sini.

Hanya kemudian, itu mengenaiku. “Oh my God, kau tidak diundang.” Aku membelalakkan kedua mataku, dan memberi jawaban yang mendramatisir.

“Diamlah.” Dia mendesis. “God, kenapa aku  tetap di kelilingi orang-orang yang mendramatisir?”

“Kau menakutkan.” Komentarku.

“Tunggu, apa?”

Percakapan kami terganggu di saat figur lain masuk ke dalam nya gambaran –Hyeri sebenarnya –duduk di sampingku, menyilangkan kakinya dengan tatapan yang bisa kubaca apa yang muncul padaku. Dia mengeluarkan desahan marah sebelum dia berkata, tidak melihat padaku dengan tangan yang dilipat di depan dadanya sekarang. “Aku tidak menduga kau akan sejauh ini!” dia menyalak di depan wajahku.

“Apa kau tahu? Tentu saja, itu mungkin bagi seseorang sepertimu memiliki keinginan yang besar untuk menghentikan pernikahan ini  apapun masalahnya. Aku mengeti kamu sepenuhnya tapi!” dia menarik napas dalam-dalam tidak lagi marah-marah. “Kau membuat pekerjaanku bermasalah sekarang ini!” dia berteriak, dan bisa kurasakan beberapa mata tertuju pada kami  pada komentar marahnya.

Sebelum aku bahkan bisa menjelaskan sendiri, menanyakan padanya apa yang terjadi, dia memotong dan menjawab keingintahuanku. “Serius, kembalikan video pernikahan padaku.” Dia mengulurkan tangannya, memberi tampang jengkel padaku.

“Aku tidak punya video itu.” Aku bilang padanya, mencoba membuktikan aku tidak bersalah.

“Hana.” Dia mendesah, dan kata “Hana.” Lagi diikuti setelahnya, sebuah senyum mischievous pada wajah pria  itu dan aku hampir menampar wajah menyebalnya untuk menghapus senyuman itu.

“Oh my,” Hyeri berkomentar, sekarang  benar-benar kehilangan fokus terhadapku saat dia bertemu dengan pencuri jus jerukku ini yang mencoba mengusik kehidupanku. “Aku tidak tahu kau memilki seorang yang menemani, Hana.” Suara bernada tinggi ini tidak pernah jadi sebuah tanda yang baik.

Tapi paling tidak sekarang, dia membiarkan kasus itu lepas sesaat dia melihat pria ini di mejaku. Aku ingin tahu apa yang dia lihat yang membuat dia berseri-seri  dengan kedua matanya bersinar seperti seorang fangirl sekolah menengah.

Baiklah. Aku tidak buta. Meskipun dia sedikit pendek dari tipeku, dia sungguh menggemaskan.

Aku tidak hanya mengatakan itu!

Senyuman matanya indah dan aku suka seorang laki-laki dengan senyuman indah, itu membuatku saja terjatuh kedalam adorasi  setiap kali aku melihatnya …. kurasa aku mulai mengeluarkan omong kosong.

“Siapa laki-laki dengan tampang hot ini, Hana?”

Kedua alisnya naik ke atas, setinggi yang bisa dia raih dengan senyuman bangga pada wajahnya, mendengar nama panggilan yang Hyeri berikan padanya. Hana, wake up!

“Hot? Pria perambut pink ini?”

“Memang apa salahnya dengan rambutku?” bentaknya. “Kau! Jangan menilai!” tegurnya.

Hyeri melihat bolak-balik antara kami, memutar bola matanya tanpa menanyakannya lagi. Dia hanya mengibaskan tangannya, membuat tatapan bosan pada wajahnya sebelum dia kembali menatap padaku lagi, kedua matanya mengeras mengarah lurus padaku membuatku merinding. “Jangan pikir aku benar-benar percaya padamu tapi sekarang kubiarkan kau lepas.” Dia mengibaskan rambutnya dan meninggalkan tenpat duduknya.

“Sudah kubilang aku tidak memilikinya!” kataku dengan keras, mencoba meyakinkan dia lagi tapi tentu saja, tidak berguna. Melihat kembali pada pria itu, menatap kedua mata yang sama-sama mengeras merasa bosan sampai ke jiwanya, aku semacam mengetahui siapa lagi yang akan melakukannya jika itu bukan aku. “Itu kau, kan?”

Dan respon yang kudapatkan, adalah menaikkan bahu acuh tak acuh berasal darinya dan itu pastinya sangat menyebalkan buatku.

~~~

“Kita seperti klub mantan kekasih yang patetik.” Dia menaruh kedua tangannya diudara, menggambarkan kata-kata  pada sisi kolam renang sementara aku terlalu lelah mendengar  omong kosongnya, sekarang membayangkan seperti apa  rasanya jika kudorong dia kedalam kolam.

Aku mungkin sudah mengungkapkan  sedikit pada kisahku dan Jongin, tidak banyak yang kuyakini, dan begitulah dia, datang dengan satu penyelesaian dengan satu nama bodoh yang aku tidak tahu dari mana datangnya.

“Aku tidak mendaftar untuk itu.” komentarku, membuat dia meloleh padaku, setiap kali kulihat senyumannya, kutemukan bahwa aku membuat dia senang dengan semua jawabanku.

“Oh. Kau tidak harus. Kaulah penemu klub itu.” Dia terkekeh, benar-benar menikmati membuat jengkel padaku. “Jadi, seperti yang kau bilang, kau dan Jongin berkencan selama tiga tahun dan kalian berdua putus karena dia tidak merasakan hal yang sama lagi –“

“Yeah, yeah, kau tidak harus mengingatkanku.” Aku cemberut.

“Aku mulai merindukan tingkah laku  baikmu ketika kau bicara tentang hubunganmu baru saja.” Komentarnya. “Seperti yang kubilang,” katanya dengan keras, hanya untuk mengesalkan ku menunjukkan bahwa dia belum selesai dengan kata-katanya. “Apa yang membuatmu datang kemari?”

“Aku bisa menanyakanmu pertanyaan yang sama.”

“Kenapa sulit sekali mendapatkan satu jawaban sekarang ini?” dia meringis, menjadi frustrasi. “Kau bisa menanyakanku setelah ini tapi jawab aku dulu.”

Melihat ekspresi frustrasinya membuatku menjadi jahat saat aku mundur kembali pada kebiasaanku yang tenang. Baiklah, memang salahku. “Jongin  ingin kita selalu untuk mengingat sebagai teman bahkan setelah kita putus. Sejak teman baikku –“  Kyungsoo juga temanku. “Teman baik kami berkencan, kami rasa itu tidaklah baik melibatkan mereka kedalam masalah kami.”

“Tapi itu bukan sesuatu yang kau inginkan.”

“Aku harus menerimanya dengan tenangkan, apapun masalahnya dan menghormati keputusannya. Disamping itu, aku lelah mendengar orang-orang tetap menanyakanku untuk move on ketika aku sepenuhnya jadi aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa mereka salah.”

“Tapi kau tidak.”

Aku mendesah dengan berat. “Seperti yang kau ketahui.” Aku mengakui. Dia menunjukkan senyuman kemenangannya ketika dia mendengar balasanku dan memandang pemandangan kolam renang yang kosong di depanku. “Kujawab pertanyaanmu jadi ….?”

“Jadi …”  dia menirukan dan dia terkekeh lagi pada ekspresiku. “Aku benar-benar sudah selesai dengannya.”

“Oh sungguh? Datang tak diundang, mencoba membakar aula –“

“Kubilang aku tidak sengaja melakukannya!”

Mengabaikannya, aku meneruskan “Mencuri video pernikahan,”

“Asal kau tahu, akulah yang memutuskan dia.” Katanya dengan keras, mengalahkan kerasnya suaraku dan ketika dia selesai, sebuah keheningan yang benar-benar  menyelimuti kami. Senyuman di wajahnya hilang dan tergantikan dengan tetapan meyebalkan, aku merasa aneh melihat wajah menggemaskan itu bisa begitu mengeras, itu tidaklah cocok dengannya.

“Dia ingin sebuah pernikahan tapi aku belum siap untuk berkomitmen. Mantan kekasihmu mungkin juga tidak tapi ayolah, dia dari keluarga kaya. Siapa yang akan melepas kesempatan ini, aku benarkan?”

“Jongin pasti sangat mencintai dia.”

“Dia bukanlah pria yang baik.”

“Kau tidak kenal dia.”

“Aku mungkin tidak kenal tapi jika Jongin adalah orang yang berorientasi pada masa depan, bisa kukatakan aku tahu semua trik-triknya di bawah lengan bajunya.” Jawabnya, berjalan melewatiku, meninggalkanku berpikir.

Itu membuatku tersadar. Yerin memiliki segalanya yang tidak kumilki. Aku seorang yatim piatu. Hidup sendiri sejak sekolah menengah, membantu adikku sampai sekarang, biaya hidupku masih  terbatas. Jongin berasal dari keluarga rata-rata juga. Bersama dengan seorang wanita sepertiku, pria bodoh macam apa yang mencoba akan membuat hidupnya lebih sulit dengan bersamaku di saat dia bisa mendapatkan kesempatan dengan seorang wanita yang bisa memberikannya segalanya?

“Itulah kenapa kau di sini?” gumamku tidak pada siapapun, benar-benar sadar  bahwa mungkin dia sudah pergi.

“Tidak.” Jawaban singkat itu mengejutkanku dan aku berbalik untuk melihat dia berdiri di belakangku, satu tangannya di masukkan ke dalam sakunya saat dia mencondongkan wajahnya ke bawah pada wajahku. Dia mungkin melihat air menggenang dalam kedua mataku. “ Apa orang-orang pernah bilang bahwa kau itu si ratu drama?” ujung bibirnya melengkung membuat senyuman senang, tidak cukup yakin apakah dia mencoba menghidupkan moodku atau berencana menjadi terbuka.

“Aku hanya sedikit sensitiv.” Aku merunduk, mencoba mengusir air mataku. “Aku akan kembali ke kamarku.” Aku memberi tahu, mengetahui tempat yang pasti tidak akan dia ikuti.

~~~

Malam itu aku turun untuk makan malam, kulihat Hyeri bersama Yerin sambil melihat-lihat booklet menu oleh podium di pintu masuk. Aku sangat tahu  bahwa dia pasti memiliki masalah yang belum terselesaikan denganku sehubungan dengan kecurigaannya padaku atas sabotase pernikahan tapi melarikan diri tidaklah membantu, kan? Mungkin aku terlihat lebih seperti  aku melakukan hal yang salah, yang mana aku tidak melakukannya.

Aku duduk di sampingnya, dan dia melihatku ketika dia mendengar  suara kursi yang bergeser dari meja. Dia tidak mengatakan apa-apa meski seharusnya aku yang memulai duluan. “Apa kau sudah menemukan videonya?” tanyaku ragu-ragu.

“Aku bisa menanyakan pertanyaan yang sama sebenarnya.” Dia memberikan hembusan napas yang jengkel. “Sungguh, bukan kau?” paling tidak, dia pikir aku bisa tidak bersalah.

“Aku tidak datang jauh-jauh dari Seoul hanya untuk mengacaukan sebuah pernikahan.” Jawabku, sebenarnya tidak jujur tapi sungguh, aku tidak mencurinya jadi aku butuh  petunjuk untuk membuktikan ketidak bersalahanku.

Begitu saja, Hyeri sekali lagi hanya menghembuskan napasnya, kali ini dengan ringan dan berpaling, anggap saja kekalahan. “Kami punya dukungan lagi pula jadi tidak masalah lagi.” Gumamnya.

“Itu bagus.” Kataku. Walaupun aku tidak melakukannya hanya untuk menghentikan pernikahan, aku sedikit kecewa mengetahui pernikahan benar-benar terjadi sekarang. Kurang dari 24 jam. Kurasa aku tidak cukup kuat melihat laki-laki yang kucintai berada di altar, mengatakan  sumpahnya pada wanita lain.

Sebenarnya aku sudah berhenti berpikir bahwa itu seharusnya diriku, tapi itu bukan berarti aku sudah benar-benar selesai dengannya. Mungkin karena pikiranku memikirkan sesuatu yang lain saat itu.

“Aku punya satu pertanyaan.” Mulaiku, dan  dia melihat padaku dengan kedua alis yang naik. “Secara tehnik kau kenal orang-orang yang berada di sini, kan?” sejauh yang kukhawatirkan, Hyeri adalah tipe orang yang berisik jadi dia akan kenal setiap individu di sini dan tentu saja, dia akan kenal dari sekarang siapa laki-laki yang berambut pink itu. Khususnya ketika laki-laki itu adalah ….. well, tampang lumayan.

“Ya, dan kenapa?”

“Apa kau kenal siapa laki-laki yang bersama kita selama makan siang?” tanyaku, mengharapkan sebuah jawaban tapi malah jawabannya membuatku takut.

“Ini aneh.” Kubelalakkan kedua mataku. “ Oh tidak, spekulasi-spekulasi. “Akulah yang seharusnya bertanya padamu itu. Kupikir dia adalah temanmu?”

“Tidak.” Jawabku berlebihan. “Aku tidak kenal dia.”

“Kenapa kau tidak menanyakan namanya?” tanyanya.

“Kenapa aku harus?”

“Karena kau ingin tahu namanya!”

Kemudian kuputuskan itu tidaklah masalah lagi karena mungkin aku tidak akan melihat laki-laki itu lagi. Aku bukanlah seorang yang introvert dan kurasa itu senang memiliki orang-orang yang berkeinginan ngobrol denganku. Disaat aku mengenalkan diriku tentang kisahku dengan Jongin –minus bagian kencan selama tiga tahun, kurasa mulutku yang bodoh ini telah mencecar  kalimat  bersama dengan si rambut pink itu dan cocok.

“Aku kenal semua teman Yerin di sini tapi aku tidak pernah kenal seorang tertentu dengan rambut pink.” Salah satu bibinya bergumam dan aku hanya menganggukkan kepalaku, melihat sekeliling dengan canggungnya. “Katakan, apa yang kau lakukan untuk mata pencaharian?”

Memutar-mutar gelasku, kujawab dengan acuh tak acuh. “Aku seorang designer interior.”

“Bekerja di bawah perusahaan mana?”

“Punyaku sendiri sebenarnya. Aku yakin kau belum mendengarnya. Kami baru sekali. Kubuka bisnis itu setahun yang lalu dengan seorang teman dekatku, yang mana temannya Jongin juga –“

“Kyungsoo?”

“Kekasihnya Kyungsoo, lebih tepatnya.”

“Jinae.”

Kuambil waktu untuk sesaat untuk menjawabnya. “Kau kenal mereka.”  Mulaiku dengan tatapan langsung melainkan menanyakannya, membiarkan kenyataan tenggelam dalam diriku. Ada begitu banyak hal yang terjadi di belakangku tanpa kuketahui. Aku merasa ….

Dikhianati.

“Yeah,mereka datang sekali untuk sebuah perkumpulan. Pasangan yang manis, kuharap melihat mereka yang selanjutnya.”

Aku menjadi suram di saat percakapan itu  mengaburkan  pikiranku. Datang kemari bukanlah pikiran yang mudah untuk mengakhiri masa lalu karena sekarang, kurasa aku bahkan tidak bisa melihat wajah teman baikku tanpa menympahinya karena melakukan ini dibelakangku.

Ya, Jongin bukanlah apa-apa bagiku untuk dia bicarakan tapi aku tahu alasan yang sebenarnya kenapa aku tidak tahu. Karena dia takut dia mungkin menyakitiku. Dan aku benci dia mmeperlakukakku seperti sebuah barang yang rentan, yang akan pecah di saat kumendengar namanya. Aku bukanlah apa-apa kecuali sebuah kasihan padanya.

“Design interior, punya perusahaan sendiri, kau tidaklah jelek-jelek amat.” Aku mendongak dan kulihat laki-laki berdiri di sampingku, muncul entah dari mana dengan sebuah wajah yang menyenangkan, kecuali bahwa dia tidak tersenyum tapi masih menyenangkan.

Kuberikan sebuah lirikan, bergerak menjauh darinya langsung yang disusul dengan cepat dibelakangku dengan sebuah pernyataan. “ Aku tidak bermaksud menjulukimu si ratu drama.” Dia merasa menyesal.

“Itu bukan tentang itu. Pergilah.” Kubilang padanya.

“Kau yakin? Karena  sekarang saja kau baru saja mengelilingi seluruh aula, mencoba mencari tahu namaku.” Laki-laki ini benar-benar menakutkan. Bagaimana bahkan dia tahu itu? Apa dia sudah menguntitku selama ini? Dia bahkan tidak bermasalah dengan wajah terkejutku pada pembukaannya. Melainkan dia pergi sambil mengusap-usap debu pada blezernya, tidak membiarkan bekas kotor tertinggal pada pakaian warna hitamnya itu membuatku sadar dia cukup rapi.

“Aku di sini, kau tahu. Kenapa tidak kau tanyakan saja padaku?”

 

TBC

 

Berkenaan meninggalkan komentar setelah membaca cerita di atas, terima kasih……

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 6

  1. Baekhyun ngebet ahh, :v
    Aku jadi curiga si jongin memang niatnya jahat, *aku memang membencinya :v
    Tapi aku masih nggak bisa nebak baek datang ke situ mau ngapain :3 nggak diundang pula Ha Ha poor daddy
    Udah lama banget maakk, aku lumutan *nggak deng
    Kangen banget sama ff nya emak, entah itu hasil translate atau karya orisinil.. huaaaaaa
    Fighting fighting fighting ‘^’)9

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s