The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 14a

tumblr_mhtb2rzg611qgxuxro1_500

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 14a)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/426081/14/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

Previous

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 14a

Realization

 

“Okay, Sweetheart,” kata Baekhyun, menautkan jari-jari indahnya bersama saat dia meletakkannya diatas meja kayu berukuran –medium. Laki-laki itu baru saja menyelesaikan makan malamnya sendiri –sepiring besar Kung Pao Scallops dengan ekstra black pepper –dan kau merasa cemburu karena dia bisa makan layaknya seekor babi dan masih tidak menambah berat badan. “Aku akan menjadi seorang kekasih yang baik dan menanyakanmu tentang harimu.”

Dengan jenaka kau putar bola matamu padanya saat kau mengambil beberapa gigitan pada salad buahmu. Kau seharusnya memesan sesuatu yang mengenyangkan seperti chicken cordon bule yang dikombinasi dengan French fries dan keju manis  untuk makan malam, tapi sedihnya, kau sedang dalam program diet. “Kau tahu,” katamu, “Kau tidak harus berpura-pura tertarik pada apa yang kulakukan selama hariku jika –“

“Well, aku sudah tahu apa yang kau lakukan pada malam harimu,” Baekhyun memotongmu, mengerling, “atau lebih seperti, seseorang –“

“Aku sudah cukup dengan lelucon itu –“

“ –jadi kurasa, ya, aku memang ingin tahu. Ceritakan padaku apa yang telah kau lakukan sepanjang hari sementara aku pergi.”

“Well, okay, baiklah”  kau berhenti untuk menyesap cepat green tea jepangmu –menerutkan hidungmu ketika rasa pahit terjatuh pada lidahmu. “Aku harus menjadi Red Riding Hood hari ini.”

Baekhyun mendongak dengan sebuah kerutan didahinya. “Hmm? Bagaimana bisa?”

Kau mengetuk-ngetuk jemarimu dengan gugup diatas meja. Masalahnya adalah, kau tidak menceritakan pada Baekhyun tentang aktivitas terakhirmu dengan Kim Jongin. Kau telah membantu Jongin dengan pertunjukan musikalnya –kau membantunya mengucapkan  kalimat-kalimatnya dan kau bahkan melakukan beberapa akting sendiri. Jongin bukanlah apa-apa kecuali orang yang ramah, manis dan kau merasa nyaman berada disekitarnya. Dia juga memiliki perlakukan-perlakuan ini yang selalu berhasil membuatmu tersenyum kapanpun kau berada disekitarnya. Kau tahu Baekhyun membencinya begitu banyak untuk alasan tanpa jelas  jadi kau pikir bahwa mungkin kau harus tetap merahasiakan pertemuanmu dengan Jongin hanya antara kalian berdua.

Disamping itu, apa yang dia tidak ketahui tidak akan menyakitinya, kan?

“Baekhyun,” kau memulai, menelan napasmu dengan susahnya, “Kau tahu aku mempercayaimu, kan?”

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya, menganalisa wajahmu  selama tiga detik sebelum akhirnya dia berujar, “Apa Jongin melakukan sesuatu padamu?”

“Apa?” kau hampir terperanga pada bagaimana tajamnya  pikiran  Baekhyun  bekerja. “Tidak, tentu saja tidak! Aku hanya mengatakan  bahwa, umm, aku telah membantunya dengan kalimat-kalimatnya untuk permainan musikalnya. Kami latihan bersama. Itu saja.”

Kedua mata Baekhyun berkilau  dengan bahayanya, membuatmu sedikit merinding. “Bukankah sudah kubilang untuk menjauh darinya?”

“Baekhyun,” kau mendesah, tiba-tiba merasa lelah dan capek. “Kau menjadi delusi, okay? Jongin adalah laki-laki yang baik, dan asal kau tahu, dia tidak pernah membuat gerakan padaku bagaimanapun, jadi kumohon –“

“Tidak, kaulah yang delusi.” Kekasihmu menghembuskan udara dengan kasar. “Aku tahu, okay? Aku laki-laki. Aku tahu kerja pikiran laki-laki. Dia hanya baik padamu karena dia ingin bercinta.

Kau mulai menjadi frustrasi. “Baekhyun, kita sudah melalui  percakapan ini sebelumnya.”

“Dan aku masih tetap pada pendirianku,” ujarnya dengan tegas. “Aku tidak mempercayainya dan aku ingin kau menjauh darinya.”

Bagaimanapun, itu membuat dadamu terasa sesak dan kau tiba-tiba memiliki keinginan mendesak untuk menjerit padanya karena menjadi konyol. Baekhyun tidak kenal Jongin seperti dirimu –dia bahkan belum memperkenalkan  dirinya dengan baik padanya –jadi sungguh, dia tidak punya hak untuk menuduh Jongin atas hal-hal yang bahkan tidak dia lakukan

Jadi ketika kau menjawab dengan sinis, “Tidak semua laki-laki berpikiran sepertimu,” kau tidak menyesalinya begitu banyak. Walaupun  tatapan sakit pada wajah kekasihmu hampir merubah pikiranmu. Hampir. “Kau tahu, Baekhyun? Kadang-kadang kau terlalu posesiv padaku.

“Terlalu posesiv?” Baekhyun sebenarnya tertawa. “Jika aku terlalu posesiv, aku akan menjauhkanmu dari Luhan, Yeol, dan bahkan Minseok –Hyung, tapi kau tidak melihatku melakukan itu, kan? Bahkan tidak ketika Luhan menciummu –“

“Apa kau tahu, ini bukanlah pembicaraan yang layak,” kau menginterupsi, memegang satu tangan untuk menghentikannya. “Intinya adalah, aku bukanlah sesuatu yang bisa kau simpan dan suruh, okay? Aku punya kehidupan sendiri dan sebagian darinya tidak melibatkanmu didalamnya. Jadi, jangan menyuruhku dengan siapa aku  bisa dan tidak bisa berteman?”

“Laki-laki Jongin itu bahkan tidak ingin berteman denganmu!” teriak Baekhyun kesal. “Dia hanya ingin –“

“Apa, tidur denganku?” kau menaikkan suaramu, melempar tatapan dingin dengan kedua matamu. “Hanya karena alasan utama kau ingin lebih mengenalku adalah ingin tidur denganku, bukan berarti setiap laki-laki berpikiran sama!”

Baekhyun membuka mulutnya tapi tidak ada satupun kata yang keluar. Dia hanya menatap dengan intens pada kedua matamu, sebelum akhirnya  meraih dompetnya dan mengeluarkan beberapa uang untuk membayar  mekam malam kalian berdua.

“Ayo,” katanya, suara dingin dan hampir keterlaluan, “Kita harus kembali sebelum  larut malam.”

Kau hanya mengeraskan rahangmu saat kau sadari dia tidak menatapmu ketika dia bicara.

***

“Kau kelihatannya sedih,” kata Jongin, mengejutkanmu dan menyentakmu kembali dari pikiran-pikiranmu sendiri.

Kau langsung menolehkan kepalamu ke arahnya dan menyadari bahwa dia sedang berdiri disampingmu dengan satu kaleng lemonade segar di kedua tangannya. Kedua matanya terlihat khawatir dan walaupun dahinya tertutup oleh keringat, dia masih tercium seperti dia baru saja mandi.

“Itu untukku?” tanyamu, tersenyum dan menunjuk pada minuman yang ada ditangannya. Dia mengangguk dan dengan halus menyodorkan minuman dingin itu ke tanganmu

“Jika kau merasa tidak enak badan, kita bisa melewatkan latihan hari ini,” kata Jongin, “Maksudku, aku tidak ingin memaksamu untuk melakukan –“

“Hey, percaya atau tidak,” kau menginterupsi dengan mulusnya, “Berlatih kalimat-kalimat dan menari denganmu akan jadi satu rencana yang bagus untuk membuatku melupakan kekasih bodohku dan sisi over-protektivnya, jadi kumohon, jangan mengusirku.”

“Okay, tidak akan.”  Jongin mengelurakan tawa kecil, yang sopan. “Kekasihmu laki-laki yang bereyeliner itu, kan? Kulihat dia dikelas kita semester yang lalu. Dia terlihat seperti orang yang berani.”

“Oh, bahkan kau tidak kenal,” komentarmu, menghembuskan udara dan memutar bola matamu.

Jongin tersenyum dengan senangnya pada itu. “Belum melihat dia hari-hari sekarang ini, meski.”

“Yeah, dia sibuk dengan kerja part-timenya dan hal-hal yang  tidak aku peduli.” Kau mengibaskan tanganmu acuh tak acuh. “Omong-omong, jangan bicara tentang dia.”

“Oh, sorry ..” Jongin berdehem dengan canggung. “Aku jadi berisik sekali.”

“Bukan, bukan begitu –hanya saja ….” dia menghela napas dengan berat dan mencubit pangkal hidungmu. “Bodoh saja, sungguh, dia cemburu padamu karena menghabiskan banyak waktu denganku.”

“Dia tidak menyukaiku, huh?” tanya Jongin, tersenyum dengan tidak mudahnya.

“Dia tidak suka orang-orang pada umumnya, sejujurnya,” jawabmu, membentuk senyuman setengah. “Jadi, siap mulai latihan?”

Jongin masih terlihat sedikit khawatir tapi meskipun begitu dia menganggukkan kepalanya setuju.

***

Itu bukanlah perhatianmu untuk mulai menghindari kekasihmu sendiri, tapi itulah yang telah kau lakukan beberapa minggu yang lalu. Baekhyun selalu mencoba memulai satu percakapan, dan kau hanya menjawabnya dengan jawaban sederhana pada beberapa tujuan, dia menjadi frustrasi dan bertanya what the fuck was going on. Kau tidak menjawab apapun dan itu bahkan membuatnya lebih marah. Well, itu bukanlah salahmu –atau paling tidak, itulah yang kau sendiri pikirkan  –karena setiap percakapan yang Baekhyun coba mulai denganmu selalu melibatkan Jongin didalamnya dan itu mengesalkanmu.

Tidak ingin memilih pertengkaran, kau putuskan untuk tenang saja dan mengabaikannya, yang mana akhirnya benar-benar menuju menghindarinya. Baekhyun, yang hanya  semarah dirimu, tidak ingin minta maaf atau membenahi ketegangan antara kalian berdua, dan menurut kenyataan bahwa itu kurang dari satu setengah bulan   dari kelulusanmu, kalian berdua telah sibuk dengan urusan kalian  masing-masing. Baekhyun bahkan tidak menyelinap ke kamarmu dan bersenggama denganmu di malam hari lagi. Dia mendapatkan begitu banyak audisi, tampil di panggung-panggung, dan tawaran kerja yang harus dia setujui. Pada kenyataannya, Baekhyun berada di Jeju sekarang ini –untuk pertunjukan terakhirnya atau apa, yang tidak banyak kau pedulikan untuk kau dengar, tapi kau sadar dia telah  pergi untuk berhari-hari dari sekarang.

Jadi untuk kesimpulan, bahkan lebih sulit bagimu untuk membuat hal-hal yang beralasan dengannya dengan perihal-perihal kampus ini yang terjadi disekitarmu. Baekhyun tetap meng sms mu untuk tetap menjauh dari jangkauan Jongin sekali-kali dan kau selalu memutar bola matamu kapanpun kau mendapatkan salah satu pesan-pesan itu.

“Ayo homey~” Chanyeol berceloteh dengan senangnya saat dia tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia mencoba menyelaraskan langkah panjangnya dengan langkah pendekmu saat dia berjalan di sampingmu. “Ada apa? Bertengkar lagi dengan ByunBaek?”

“Kau akan ingin tahu itu, kan?” katamu, menyikutnya tepat di usus. “Dasar kau ahjumma penggosip!”

“Hey, aku hanya khawatir padamu~” dan kau memutar bola matamu pada alasannya. “Apa yang Baek lakukan kali ini?”

“Dia menjadi seorang brengsek yang over-protektiv, begitulah,” katamu, menghembuskan udara sambil memasukkan ponselmu kembali ke dalam saku jeansmu. “Dan dimana Mrs. Park? Apa kau bertengkar juga?”

“Kita pura-pura bertengkar, ya,” Chanyeol sebenarnya tertawa geli dengan suara dalamnya, dan kau sadar dia tidak merona atau terlihat sedikit malu ketika kau menyebut teman baikmu Mrs. Park –seolah dia sudah terbiasa mendengarnya.

“Pura-pura bertengkar?”

“Yep! Kita berpura-pura bahwa saat ini  aku berselingkuh dibelakangnya dan dia akan memarahiku kemudian karenanya. Oh Tuhan, ini begitu menyenangkan!”

Kau mengerutkan kening, terperanga tidak percaya. “Apa kau seorang masokis yang menakutkan?”

“Hmm?” Chanyeol memiringkan kepalanya kesamping, terlihat bingung. “Apa itu?”

Kau mengusap-usap keningmu, mendesah dengan kerasnya. “Oh, hell, dimana Lu Han ketika kau butuh dia untuk mengajarimu  hal-hal yang tidak sopan?”

“Aku merindukan Lu Hannie –Hyung juga,” kata Chanyeol, mata lebar yang menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi sedih. “Apa dia sudah menelponmu akhir-akhir ini?”

“Nope, tapi kita saling mengirim pesan setiap malam walau begitu,” jawabmu, “Aku tidak ingin mengganggunya begitu banyak.”

“Yeah, sama disini.” Chanyeol menganggukkan kepalanya. “Kenyataannya, tadi malam, dia mengajariku seni sexting.”

“Apa?”

“Sexting,” ulangnya, “Kau tahu, pesan(sms) kotor dan seksi. Seperti mengsms –“

“Aku tahu apa itu sexting, Park Chanyeol,” potongmu dengan kasar, memutar bola matamu. “Yang ingin kuketahui kenapa dia masih mempengaruhimu hal-hal buruk seperti ini dimana dia jauh di sana di China? Pria itu benar-benar tidak belajar apa-apa, benar kan?”

“Aku tidak tahu tapi itu menyenangkan!” laki-laki tinggi itu tertawa dan dengan biasanya merangkul pundakmu dengan satu tangannya disaat kalian berdua berjalan bersama-sama menuju kelas Bahasa Prancis kalian. “Dia janji mengajariku bagaimana melakukan phone sex lain waktu  kita saling menelpon.”

“That’s it, aku putus persahabatan kita,” katamu, menyingkirkan tangannya dengan dorongan keras.

“Oh, tidak,” Chanyeol tertawa dengan menggemaskan  dan bahkan menarikmu lebih dekat. “Jadi, ByunBaek cemburu, huh? Kenapa?”

Kau cemberut, tidak menyukai topik ini sama sekali. “Karena aku telah hang out dengan pria ini yang bernama Kim Jongin.”

Kim …. Jongin?” kemudian dia terperanga; rahang menggantung rendah diwajahnya sebelum kedua matanya menjadi melebar dan secara harfiah dia mulai berteriak. “BAGAIMANA BISA KAU HANG OUT DENGAN SESEORANG SEPERTI DIA –DEMI TUHAN DIA MEMBANGUN BOM NUKLER MISSILE –OH TIDAK OH TIDAK OH TIDAK –

Oh my God, Chanyeol!” kau membungkam mulutnya dengan satu tanganmu, satu cara efektiv untuk membuatnya diam. Kau melihat beberapa murid menatap padamu jadi kau  mendorong Chanyeol ke sisi aula. “Itu Kim Jongun, idiot! Orang yang kubicarakan adalah Jongin! JONG-IN!”

“Oh ….” Chanyeol menaruh satu tangannya didadanya, mencoba menenangkan dirinya. “Oh thank God! Maaf, aku hanya …. Nukler adalah buruk,” katanya, kedua mata serius saat dia menaruh kedua tangannya dipundakmu, menggoyangkannya untuk menekan kata-katanya. “Seperti, benar-benar buruk.”

Kau cemberut  padanya. “Chanyeol –“

“Seperti, kita semua akan mati, kau tahu?” terusnya, menggoyang-goyangkan bahumu bahkan lebih keras.  “Apa kau pernah mendengar apa yang terjadi pada Perang Dunia II? My God, aku hampir pipis ketika –“

“Aku akan menamparmu.”

“Okay, okay,” katanya, langsung menyerah. “Jadi, uhh, siapa Kim Jongin?”

“Asisten Guru tariku.”

“Ooooh~” Chanyeol bersiul seperti srigala, tersenyum lebar, perubahan perilakunya yang tiba-tiba itu selalu membuatmu menanyakan beberapa penjelasan serius. “Musisi versus Penari. Siapa yang akan memenangkan hati si Juliet? Stay tune di MBC untuk beberapa episode lagi –“

“Diamlah!” kau memukul belakang kepalanya dengan skrip The Red Ridng Hood yang kau pegang di tanganmu.

“Aaw, itu sakit~” dia meringis seperti anak kurang ajar, kontras sekali jika dibandingkan dengan suaranya yang seperti paman-paman. “Apa itu?”

“Skripnya Jongin,” jawabmu, menawarinya sebundel kertas. “kami sudah berlatih bersama-sama untuk membantunya memaku  penampilannya diakhir bulan ini.”

“Apa, seperti sebuah skrip drama?” Chanyeol mengambil kertas itu dan membacanya sedikit. “Woooah, drama musikal! Jadi dia akan , bernyanyi dan menari disaat yang bersamaan?”

Kau memutar kedua bola matamu. “Bukan, melainkan dia akan menampilkan seni Wushu.”

“WHOA DIA BISA MELAKUKAN WUSHU –AAW!”

Kau mengusap-usap buku-buku jarimu sendiri karena tengkorak Chanyeol yang hanya sekeras batu. “Aku hanya sarkas, dasar bodoh.”

“Kau tahu, sejak Luhan –Hyung pergi, kau menjadi lebih keterlaluan,” laki-laki-yang-tidak-lama lagi-berambut-mie itu memautkan bibirnya dengan imutnya saat dia mengusap-usap belakang kepalanya yang baru saja kau pukul. Rambut Chanyeol baru saja dipotong dan diwarnai hitam, membuatnya semakin kelihatan lebih jantan/manly dan tampan. Temanmu, dipihak lain, baru saja mewarnai rambut panjangnya pirang dan membuatnya bergelombang. Tidak butuh waktu lama bagimu untuk menyadari bahwa mereka baru saja pergi ke salon rambut bersama-sama. Cute.

“Nope,” kau mengoreksi dia saat kau memasuki kelas dan mengambil dua tempat duduk kosong di belakang kelas untumu dan dia. “Aku hanya menjadi lebih keterlaluan sejak Baekhyun menjadi over-posesiv seperti ini. Aku bukanlah salah satu barang miliknya yang bisa dia simpan untuk dirinya sendiri –aku punya teman sendiri juga, kau tahu. Semua yang dia bicarakan kapanpun kami saling bertemu adalah tentang Jongin.”

Chanyeol duduk dan terperanga sebelum dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya seperti cewek. “Plot berubah! Menyedihkan bahwa si Musisi jatuh cinta dengan si Penari. Cinta homoseksual berkembang seperti bunga di musim semi! Dan sekarang si Juliet sendirian dan patah hati –oh, siapa yang akan membawanya pulang? Tuhan, tunjukkan kami –“

Park Chanyeol-sshi,” suara Madam LeFevre tiba-tiba saja memotong diudara, dan membuat Chanyeol mematung ditempat duduknya dengan kedua tangannya masih menjulang  diudara dengan dramatisnya. Guru bahasa Prancismu masih tersenyum, tapi kedua matanya  bisa membunuhnya dengan hanya tatapan matanya. “Itu terdengar menakjubkan, dan aku yakin kau akan jadi seorang aktor yang fantastis. Maaf memberitahukanmu ini tapi kelas sudah dimulai.”

“Kerja yang bagus, Chanyeol,” kau balas bersiul padanya dan dia merona saat dia sedikit meringkuk  ditempat duduknya.

Suara Chanyeol menjadi sedikit diam saat dia menggumamkan, “Maafkan aku.”

“Bicaralah dengan bahasa prancis, Monsieur Park,” katanya, bicara dalam bahasa prancis.

Chanyeol terlihat terguncang dan kau bilang padanya, “Dia memintamu meminta maaf dalam bahasa prancis.” Dan kedua matanya menyala  mengerti.

Je suis ….”Chanyeol melirik kesamping, memohon bantuanmu tapi kau terlalu sibuk tertawa. “…..etudiant?”

“Itu artinya kau seorang murid,” Madam LeFevre merespon dalam bahasa Korea sebelum dia sebenarnya mendesah dan memutar bola matanya. “Je suis desole.”

Je suis desole, Madam-sshi.”

Madam.”

“Madam.”

***

“Mereka baru saja bilang padaku pesawat ditunda sejam,” Baekhyun bicara di sambungan lain di telpon. “Dan itu menyebalkan, kupikir aku bisa pulang ke Seoul malam ini. Maksudku, ini hanya satu jam –penerbangan. Aku sudah bisa ke sana sebelum matahari terbenam jika pesawat tidak ditunda seperti ini.”

“Patience is a virtue, my queen,” jawabmu,mengatakan kata-kata yang pernah dia katakan padamu. “Dan lagi pula kenapa terburu-buru? Hal yang paling penting adalah kau bisa pulang dengan selamat, kan?”

“Tapi –“ Baekhyun terdengar seperti ingin mengatakan sesuatu lagi tapi mengubah keputusannya di detik terakhir.

“Apa?” kau mendorongnya untuk mengucapkan kata-kata yang tersembunyi.

“Well, aku ….” Baekhyun berdehem sebelum dia mengakui  kata-kata selanjutnya secara diam-diam, “Aku rindu padamu.”

Dan begitu saja, dia berhasil menghapus semua amarah dan jengkelmu dan menggantikannya dengan perasaan halus  yang menghangatkan hati  berputar-putar dalam  dadamu, membuat beberapa kupu-kupu di lubang perutmu.

“Aku juga rindu padamu,” katamu, hampir dalam sebuah bisikan juga dan kau tidak tahan sendiri karena merasa malu/merona.

Baekhyun cekikikan dengan ringannya. “Apa kita menjadi bodoh?”

“Well, kaulah yang menjadi bodoh,” godamu, menekan kata ‘kaulah’. “Aku masih menjadi diriku sendiri yang mengagumkan.”

“Whoa, dari mana datangnya kepercayaan diri itu?” jujur kau bisa membayangkan Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya karena kata-katamu. “Kau bergaul dengan Luhan terlalu banyak, Sweetheart.”

Itu Luhan –Hyung bagimu, Baekhyun-ah!” dengan kasihannya kau menirukan suara Luhan yang mengganggu dan kekasihmu tertawa pada peniruanmu. “Aku sangat merindukannya, Baek.”

“Aku tahu,” katanya dan kau memejamkan kedua matamu, membayangkan dia memelukmu dan dengan lembut melarikan jemari-jemari indahnya pada rambut panjangmu dengan cara yang menenangkan. “Aku juga sangat merindukannya, tapi jangan pernah bilang padanya itu, okay?”

Kau tersenyum. “Oh seandainya kau bisa di sini bersamaku sekarang ini.”

“benarkan?” tanya Baekhyun, cekikikan lagi. “Mungkin  sebaiknya kita tetap saja bicara di telpon seperti ini sampai pesawatku ke sini.”

“Aku  tidak bisa,” kau menolak  tawarannya walaupun kau benar-benar ingin melakukan apa yang dia katakan. “Aku ada ….” kau potong sendiri karena mengatakan kebenaran, karena kebenarannya adalah kau menunggu Jongin untuk memulai latihan lagi kalimat-kalimat (dialog) hari itu. Laki-laki tersebut sedikit terlambat, dan sehingga kau menunggunya di sini, sendirian di studio tarimu dengan kekasihmu yang bicara di telpon. “Aku ada hal yang kukerjakan,” kau mengakhiri dengan bodohnya.

“Hal apa?” Baekhyun bukanlah tipe yang bisa dibodohi dengan mudahnya. Memang siapa yang coba kau bodohi? Baekhyun adalah guru dalam seni menipu orang-orang.

“Hanya hal,” kau bahkan menambahkan mengangkat bahu sebelum kau menyadarinya bahwa dia tidak bisa melihatnya. “Kau tahu, hal-hal cewek.”

Baekhyun tidak mengindahkannya sama sekali. “Hal-hal yang berhubungan dengan Kim Jongin?”

Dan hanya seperti itulah, Baekhyun berhasil sekali lagi, membuatmu jengkel langsung kau  ingin melemparnya dari puncak Himalaya. “Kenapa segalanya harus berhubungan dengan Kim Jongin?”

“Karena tanpaknya akhir-akhir ini, semua itulah yang kau lakukan,” balasnya ketus dengan mudahnya. “Dan aku benar, kan? Kau menunggu dia sekarang ini.”

“Ya, okay! Fine!” kau mengerang kesal. “Aku menunggunya untuk membantunya latihan dialognya seperti biasa.”

“Bagus,” kata Baekhyun, dan meskipun tempatmu dipisah ratusan kilometer jauhnya, kau bisa merasakan aura gelap yang mengelilinginya tepat saat itu.

Kau mendesah dengan dalam. “Kau marah padaku, kan?”

“Nope.”

“Ya, kau marah.”

“Tidak, aku tidak marah.”

“Ya.”

“Tidak.”

“Baiklah, kau tidak marah,” katamu, suara datar. “Bagus kalau begitu.”

“Mengagumkan.”

“Kau terdengar ceria sekali, omomg-omong.”

Baekhyun tetap diam setelah itu. Kau hanya bisa mendengar suara napas kasarnya. Kau tahu dia marah tentang semua ini.

Dan setelah dua menit berlalu kalian berdua masih menekan ponsel kalian di telinga kalian masing-masing tapi tidak saling mengatakan apapun, kau ingin menjambak rambutmu sendiri

“Akui saja kau marah padaku, Baek!” teriakmu dnegan keras.

“Oh maaf, apa kau ingin aku marah padamu?” kata Baekhyun dengan biasa dalam nada jengkelnya. “Kupikir kau sudah cukup bertengkar denganku lewat telpon.”

Kau mendesah dengan keras. “Kau tahu, kuputus sambungan –“

“Kau bohong padaku!” teriak Baekhyun sebelum kau menekan tombol ‘end call’. “Kau bohong padaku tentang rehearsal(gladi bersih) dengan Jongin dan bilang kau ada hal-hal cewek yang dikerjakan. Kenapa kau bohong padaku?”

“Karena aku tidak ingin ini menjadi pertengkaran lain, jelas-jelas!” teriakmu kembali, siap hilang kendali kemarahanmu.

Baekhyun mengejek. “Dan itu berhasil, kan?”

Kau pejamkan kedua matamu dan mencoba mengendalikan amarahmu. Jadilah yang dewasa, jadilah yang dewasa. Jadilah yang dewasa saja dan biarkan saja. “Baekhyun, aku lelah. Bisakah… bisakah kita turunkan saja ini?”

“Kenapa tidak kau  turunkan saja celana Jongin ke tanah dan bermain dengannya?” Baekhyun membalas mengeluarkan kata-kata pedas  dengan getirnya. “Aku tahu itulah yang kau inginkan.”

Kau menutup mulutmu dan menunggu.

“Aku –aku tidak bermaksud –“ Baekhyun terdengar merasa bersalah saat dia bergagap. “Maafkan aku, aku –“

Jadilah yang dewasa, pantatku.

“Kuharap pesawatmu terjatuh diperjalan ke sini, Baek.”

Dan kau menutup sambung telponnya.

 

TBC

 

OTTE? Leave some comments below, guys, i beg you, please…..

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

26 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 14a

  1. Huuaaa di chapter ini adalah momentnya Baek cemburu hahhaa *aku senang aku senang* :v Baek klo cemburu begitu yah?? Kkkk~
    Dan apa itu Chanyeol?? Sumpah demi Baekhyun yg menangis malam ini karna Exo memenangkan Daesang Artist Of The Years -dan akupun ikut menangis- *oke, abaikan yg ini* aku NGUKUK dengan perkataan Chanyeol wkwkkwkk :v dy terlalu LEBAY dan itu sukses dengan rasa malu yg dirasakan oleh ‘sie kamu’ hahhaa aku kg bisa berhenti ketawa sama kelakuan Chanyeol..
    Oke, ini masih TBC. Aku tunggu ver full alias lengkap hehhee 😛
    Semangat terus kan and miss u :* ^-^

    Like

  2. Uwahhhh makin seru aja nih authornim 😄 penasaran ma next chapternya 😄 smoga next chapternya ga lama ya 😉
    Authornim Fightinggggg 😉

    Like

  3. yawla uuunchh banget byunbaek klo lg ambek jadi pen bawa pulang deh:)ciee yg jadi possesive bamget btw hmmzz
    sumpah demi nyai sooman ngakak so hardXD duh itu park pea mau lawak bangetXD hahaha
    duuh ditunggu keposesivean” cabe koreanya#plaak fighting

    Like

  4. jujur walaupun ini translatetan, tp feelnya dapet bgt, aku suka thor
    next chap ditunggu ya, hihi
    .
    mereka sebenernya manis bgt, semoga pesawat baek gk jatuh beneran

    Like

  5. Wakakaka, klo pesawatnya jatuh beneran gimana? Well, tapi baek ada benernya loh, umumnya cowok baik deket2 ke cewek pasti ada maunya, it’s mean, baik bukan berarti ingin menjalin sebuah pertemanan yg sehat, seperti ingin menjadi lebih dari sekedar teman dekat, yeah aku pernah ngalamin soalnya, dan itu menyebalkan saat dirinya yg baper hanya karna aku baik padanya, bahkan dia sering memuji ku di depan ibunya, well aku makin illfeel kau tau karna hal itu ku dengar dari ibu ku, ibukuuu.. Argh seandainya aku tak tau kalo dia berharap lebih aku tak akan mempermasalahkan itu, tapi aku merasa jadi perempuan kejam di sini, argh, ok, lupakan
    Ehm.. Mamii i’m sorry, baru beneran bisa baca sekarang, love love lah aku sebenernya kangen berat sama ff yg mami publish semuanya haha aahh tapi akhir2 ini aku banyak pikiran sulit memilah mana yg sebaiknya dikerjakan dulu dan endingnya malah gk ada yg dikerjain 😭😭😭😭
    Tetep semangat ya mams, love u

    Like

  6. Meskipun menyebalkan tapi baekhyun ada benernya loh, menurut pengalaman sih, meskipun gk separah sampai gitu juga tapi kesamaan nya disini adalah “seorang cowok bersikap baik ke cewek untuk mendapatkan sesuatu” kecuali kalau mereka sudah berteman sejak lama sejak kecil misalnya
    Masalah umum sih salah satu pihak bakal ada yg baper wkwkwk mainstream sekalee
    Tapi itu bener, beneran, meskipun aku yg selalu jadi pihak yg jahat, huft
    Boleh aku request? Jika ada waktu atau inspirasi, bisakah mami nulis ff yg tokoh utamanya seorang antagonis? Well, sebenarnya aku sedikit muak dengan ff yg selalu memojokkan tokoh antagonis, seperti ff oneshot yg pernah ku baca, judulnya antagonis dan aku sangat menyukainya, haha ntah tapi aku tak puas dg endingnya karna dia lebih memilih mengalah dan membiarkan dua tokoh protagonis bahagia, padahal mereka lah penghianat, sebenarnya tokoh prianya saja sih, tapi tetap memuakkan menurut ku, aku hanya ingin karma yg nyata
    Ehm.. Maaf minta aneh2 padahal ff yg ini aja baru sekarang ku baca, aku memang jahat 😭
    Semangat mami, ku tunggu karya mu.. Miss u 😘

    Like

    1. ide yg bagus tuh, kadang terlintas sih cerita yg main cast nya tuh antagonis, tp si tokoh berkarakter sprt itu terpengaruh ama lingkungan… good good…. dan aku jg pernah baca epep yg kayak gitu nggak one shot sih. aannddd….mr balcony aja buatnya seabad, apalagi buat yg baru ck…ck…i’m useless, u know, but it’s okay, i’ll try next time nnnnn…semangat! miss u too 😉

      Like

  7. baruu sempet bacaaa 😣😣😣
    dan ternyata orang yang cemburu itu menakutkannn ..
    aduhhhh chanyeol nyaa kenapa jadii so cute gituu gemesgemes jadinyaa 😍😍😍

    author nyaaa semangatt yahhh semangattt aku gak bakalan pergii dan melupakan kerja keras mu inii *meski sangat terlambat* hahah lovelovelove buat author nyaa 😍😍😍😚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s