The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 14b

tumblr_mhtb2rzg611qgxuxro1_500

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 14b)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : M

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/426081/14/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

Previous

HAPPY  READING  !!

Chapter 14b

Realization

“Maaf karena datang terlambat!” kata Kim Jongin di momen dia melangkahkan kakinya masuk ke studio tari. Dia terengah-engah, dengan butiran-butiran keringat yang terbentuk di keningnya, membuat poninya lengket pada kulit tan itu. “Aku berlari ke pusat kota untuk mendapatkan kopi untuk kita dan –“ dia berhenti ketika dia melihatmu duduk di atas lantai kayu, memeluk kakimu yang kau tekuk dan mencoba menahan air mata marah yang panas  terjatuh ke wajahmu.

“Apa …” dengan hati-hati dia berjalan ke sisimu. “Apa yang terjadi?”

“Tidak ada,” katamu, langsung menghapus air mata  tidak tumpah dari kedua ujung telingamu sebelum kau mendongak untuk bertemu dengan kedua matanya. “Ada apa?”

“Umm…” Jongin sendiri tertangkap melihatmu dan dia menggelengkan kepalanya, tiba-tiba mencoba terlihat  sibuk dengan kantong kertas yang dia bawa dari supermarket. “I –ini, kuharap kau menyukai kopi kaleng,” katanya, tersenyum lembut saat dia menawari mu sekaleng kopi Nescafe.

“Bukan favoritku tapi akan kuambil  yang bisa kudapat,” katamu, membalas senyumnya dengan senyuman yang sama dan mengambil minuman dingin dari tangannya. “Thanks.”

Jongin duduk disampingmu setelah dia meminta ijinmu. Kau tertawa karena sungguh, setelah mengenalnya hampir setahun dan bertemu dengannya secara reguler dua bulan, dia masih meminta ijinmu hanya untuk duduk disampingmu.

“Kau baik-baik saja?” tanya nya ketika waktu menjadi sepi sekali.

“Sebaik  sebisaku,” jawabmu dengan biasa, menyesap kopimu dan sedikit meringis  setelah rasa  jatuh ke lidahmu. Kau selalu lebih suka kopi sungguhan ketimbang yang ini dan laki-laki berambut –coklat itu hanya tertawa pada reaksimu.

“Kau tidak harus menghabiskan munumanmu jika kau tidak ingin,” katanya.

“Tidak, aku harus. Kau telah melalui banyak masalah untuk mendapatkan ini untukku –“

“Oh, tidak, tidak, jangan pikirkan aku –“

“Diamlah, Jongin –ah, dan biar kuselesaikan minumanku,” dengan jenaka kau melotot padanya dan dia kecicikan lagi.

Setelah itu, dia menarikmu berdiri dan mulai memutar musik sehingga kalian berdua bisa memulai latihan tarimu. Jongin punya satu koreographi baru dan kau harus menyelaraskan gerakanmu. Menjadi pasangan dansanya selalu mudah tapi juga sulit disaat yang bersamaan: mudah, karena Jongin adalah seorang pemimpin yang hebat dan dia peduli dan cukup sabar melatihmu melalui setiap gerakan; dan sulit, karena, dia adalah seorang penari yang mengagumkan secara sungguh-sungguh, dan kadang-kadang kau harus terkejut oleh improvisasinya yang tiba-tiba itu tapi itu selalu semacam kejutan yang baik. Kadang  sulit bagimu untuk berkonsentrasi. Kau juga selalu kagum atas ketrampilan tarinya. Cara dia bergerak  cepat sampai tak bisa dipercaya  tapi juga anggun  dan indah sekali untuk dilihat. Kau sampai terpesona  oleh setiap ubahan kecil atau putaran-putaran yang dia buat dan wow, ekspresi-ekspresi yang dia taruh diwajahnya itu disaat dia  menari adalah seperti menonton porno untuk anak laki-laki.

Kau gelengkan kepalamu dari samping ke samping. “Jawaban dibalik pertanyaan ‘kenapa kau belum terkenal?’ adalah sesuatu tidak bisa kumengerti ketika itu berkaitan denganmu, Kim Jongin.”

Dia hanya tertawa sebagai  balasan dan kau pikir dia seharusnya tertawa seperti ini ke publik  lebih sering. Kau selalu menganggap dia sebagai pria yang menggemaskan dan benar-benar bertalenta yang bisa membuat semua orang jatuh cinta dengannya.

Latihan tari ini mengambil dua jam sampai meninggalkan kau berdiri dengan punggungmu yang banjir dengan keringat. “Istirahat! Istirahat!” pintamu, mengambil napasmu, dan Jongin langsung menganggukkan kepalanya setuju, terlihat khawatir tapi kau melemparnya dengan sebuah senyuman dan gestur acungan jempol.

Kalian berdua meneruskan dengan latihan dialog dari skrip. Kadang kau mengerutkan hidungmu ketika kau harus membaca dialog yang cheesy dan Jongin bahkan terlihat lebih canggung dalam meresponnya sampai kalian berdua tertangkap saling memandang satu sama lain dengan tatapan mata menghakimi dan pada akhirnya  mengeluarkan ledakan tawa. Rasanya enak menari dan tertawa  dan hanya menghabiskan waktu yang lebih dengan seseorang yang nyaman denganmu. Sejak Luhan pergi, kau semakin dekat dengan Jongin walaupun kau tahu kekasihmu akan jengkel tentang ini  jika dia tahu tentang hal ini. Kau sungguh tidak pernah cerita pada Baekhyun seberapa dekatnya kau dan Jongin  hampir beberapa minggu berlalu.

“Kau tahu apa yang telah ingin kulakukan?” tanyamu, mengusap keringatmu  di pipimu dengan handuk kecilmu. “Pergi ke pesta ballroom yang sangat megah dengan kekasihku dan melakukan dansa waltz.”

“Apa yang menahanmu, kalau begitu?” responnya, menelan beberapa tegukan air mineral segar.

“Baekhyun  benar-benar bukan pengagum tarian dan hal lainnya,” jelasmu, menghembuskan udara. “Aku hanya berharap dia paling tidak akan mencoba, kau tahu?”

“Hmmm….”Jongin tiba-tiba melarikan kakinya menjauh dari tempat dimana kau duduk dan ketika kau menjadi penasaran apa yang sedang dia lakukan, itu berubah bahwa dia sedang memutar musik yang dengan sempurnanya bisa cocok  bagimu untuk melakukan dansa Waltz.

“Mungkin aku bukanlah kekasihmu.” Dia tersenyum seperti seorang yang gentelmen dan membungkukkan kepalanya saat dia menawarkan tangannya padamu. “Tapi bolehkah aku berdansa denganmu, Nona?”

Senyummu cerah dan membutakan ketika kau menerima tawarannya. “Kenapa ya, Tuan, kau boleh.”

Dia cekikikan dengan suara rendah yang dia punya dan dia mendongak dengan malu-malu untuk melekatkan kedua matanya pada milikmu. “Siap?”

“Selalu siap.” Kau kembali menyeringai dan membiarkan dia menarikmu lebih dekat melalu melingkarkankan tangan kepinggangmu.

“Maafkan aku,” katanya, terlihat sedikit merasa bersalah dan gugup saat kau berdiri tidak lebih dari sejangkauan tangan darinya, “tapi dansa  tipe ini semacam membutuhkan  kita menjadi sedekat ini.”

“Jongin, aku bukan orang bodoh. Aku tahu.” Kau memutar bola matamu menggodanya. “Meski aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, jadi melembutlah  denganku?”

Jongin mencoba menahan tawanya, tapi senyuman itu tetap saja muncul. “Kau konyol.” Dia dengan cepat meletakkan tangan kanannya dengan ringan dibawah  tulang belikat dengan lengan kanannya memengang saat sudut  90-derajat ke tubuhnya.

“Whoa, kupikir kau hanya tahu bagaimana melakukan ballet,” komentarmu saat dia menaikkan tangan kirinya sehingga  kau bisa meletakkan tanganmu dengan ringan di dalamnya. Dia letakkan tangannya dan pergelangan tangannya sedatar mungkin hampir lebih atas dari tengah punggungmu.

“Aku tidaklah profesional pada ini, tapi aku tahu hal—hal dasar,” responnya. “Letakkan tangan kirimu dekat  pundak kananku.”

“Okay.” Kau melakukan seperti yang dia katakan. “Kemudian apa?”

“Kau seharusnya melihat melalui bahu kananku untuk keseimbangan yang lebih baik,” katanya, tersenyum dengan meyakinkan. “Dan santai saja.”

Dan kemudian dia mulai bergerak, memimpinmu dengan benar dan memulai dengan kecepatan yang nyaman. “Hey~” katamu, tertawa kecil. “Ini rasanya enak/bagus.”

“Benarkah?” dan tiba-tiba dia memutarmu dua kali sampai merasa pusing dan hampir terjatuh ke lantai tapi dia menangkapmu tepat waktu dan memegang pinggangmu.

“Brengsek,” katamu, tertawa sambil memukul dadanya dengan jenaka. Dia meniru senyumanmu dan menarikmu kembali berdiri dengan benar.

“Hey, aku ingin menanyakan sesuatu,” katanya, “Tapi aku takut jika aku melintasi batas disini.”

“Bertanyalah apa yang ingin kau tanyakan, Kim Jongin. Kau selau berpikir berlebihan tentang hal-hal.”

“Apa kau …” dia memulai, terlihat canggung. “Apa kau menangis diawal tadi?”

Jujur saja kau terkejut pada pertanyaannya yang tiba-tiba itu, tapi kemudian kau sadar bahwa itu  Kim Jongin sekali yang menjadi  menggemaskan dan peduli pada orang-orang. “Nope,” jawabmu acuh tak acuh. “Aku hanya mencoba untuk tidak menjadi Hulk di Kampus bodoh ini.”

“Bertengkar lagi dengan kekasihmu?”

“Yep,” katamu dan dia mulai bergerak lagi, memimpinmu pada dansa lainnya. Kali ini, lebih biasa dan menyenangkan, hanya mengayunkan  tubuhmu dari sisi kesisi bersamanya.

“Apa karena aku lagi?” tanyanya, menaikkan satu tangannya diatas kepalamu untuk memutarmu lagi, dan kau tersenyum sambil melakukannya.

“Uh-huh,” kau setuju, “Seperti biasanya. Dia, menjadi terlalu cemburu. Maksudku, ini jelas-jelas bahwa kita hanya berteman.”

Jongin hanya tidak mengatakan apapun untuk sesaat dan menarikmu lebih dekat ke tubuhnya. “Dimana dia sekarang?”

“Berharap di neraka,” katamu dengan pahitnya, menonjolkan bibir bawahmu dengan rasa jengkel.

“Hey, jangan mengatakan ha-hal seperti itu.”

“Well, itu salahnya karena menjadi menyebalkan sekali, okay?” balasmu dengan ketus. “God, seandainya  aku bisa mengencani seseorang  yang lebih mudah saja kadang-kadang.”

“Mungkin kau lebih baik mengencani seseorang seperti diriku.”

Kau lempar tawa mudah yang lainnya, memikirkan kata-katanya sebagai lelucon yang sederhana. “Yeah, itu akan membuatku tidak strees mungkin.”

Kedua mata Jongin mengkilat  kedalam sesuatu yang tidak pernah kau lihat sebelumnya. “Lalu kenapa kau tidak?”

“Apa –“

Dan tiba-tiba saja dia menciummu tepat di bibir.

Butuh beberapa detik bagimu untuk sadar bahwa seseorang yang sedang menciummu sekarang ini, kemudian, dan detik lainnya untuk sadar bahwa tidak, dia bukanlah Baekhyun dan ini tidaklah benar. Ini tidaklah merasa benar. Dan ini harus dihentikan.

“Jongin –“ kau protes ketika dia memutus ciuman untuk meraup udara dan kau gunakan waktu untuk mendorongnya menjauh. Kau dorong dengan keras pada dadanya, tapi walaupun kau taruh kekuatan penuh, dia masih tidak bergerak bahkan tidak sedikitpun. Jongin  lebih, lebih kuat dari yang kau pikirkan. “Jongin, apa yang kau lakukan –“

Jongin memutus dan dia meraih dagumu dengan jari-jarinya, mendongakkan wajahmu untuk melihat kedua matanya. “Berhentilah membohongi dirimu sendiri dan biarkan saja aku menciummu.” Dia merundukkan lagi kepalanya saat dia berbisik, “Aku tahu kau menginginkan ini juga,” hanya sebelum dia menciummu lagi dimulut. Bahkan lebih keras kali ini.

Dan kau panik. Kau tidak menginginkan ini. Satu-satunya orang yang pernah kau inginkan adalah Baekhyun dan pria ini – pria yang sedang menciummu sekarang ini –tentunya bukan dia. Kau merasa jijik oleh ciuman itu dan kau tetap mencoba mendorongnya tapi usahamu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kekuatannya.

Kau gigit bibir bawah Jongin sampai dia mengerang dan memutus ciuman, menggigit bibir bawahnya yang memar dan merasakan asin  dimulutnya karena sedikit tetesan darah yang terbentuk di bibir memarnya. Pandangan Jongin menjadi lebih dingin dan kau merasa bergidik. Kau hampir menjerit meminta tolong ketika dia menangkap pergelangan tanganmu lagi dan memaksamu untuk lebih dekat pada tubuhnya. “Jongin, tidak –“

Lepaskan dia.”

Dan gerakan kalian berdua berhenti tiba-tiba disaat terdengar bunyi sebuah suara yang familiar memotong atmosfer tegang diruangan itu. Jongin berbalik untuk melihat sumber suara itu. Salah satu tangannya masih menggenggam pergelangan tanganmu dengan paksa. Kau tidak menyadari betapa kau gemetaran karena rasa takut sampai Jongin melepas tanganmu dan kau jatuh terduduk.

Tidak ada air mata dikedua matamu tapi tenggorokanmu membuat isakan kecil dan rengekan saat kau memeluk dirimu sendiri dan menatap kosong pada lantai. Kau mengumpulkan cukup keberanian untuk akhirnya menatap pada laki-laki dengan suara serak yang sekarang berjalan lurus ke tempatmu. Dan rasanya seperti semua udara dalam paru-parumu tercekat dalam dadamu ketika kau melihatnya dan tatapan yang dia taruh di wajahnya.

Baekhyun tidak pernah terlihat begitu marah sebelumnya.

Dia berjalan melewati Jongin tanpa mengatakan apapun tapi kau bisa melihat bagaimana rahangnya mengeras, mencoba menahan rasa amarahnya, mungkin. Baekhyun meraih pergelangan tanganmu dan kau tersentak pada bagaimana eratnya genggamannya pada kulitmu, tapi dia bahkan tidak menyadarinya, dia langsung mengabaikannya. Kau dipaksa berdiri dan kau sadar Baekhyun masih tidak menatapmu langsung ke arah mata.

Tanpa sadar Jongin mundur selangkah, dan meski dia menjadi yang lebih tinggi dan lebih besar dari pada Baekhyun, laki-laki itu tidak melakukan apapun untuk kembali  melawan. Meski cemberutnya Jongin  berubah jahat, tapi untuk sesaat disana, kau bersumpah kau bisa melihat dia sedikit gemetaran/ketakutan dibawah pandangan mata Baekhyun yang berat.

Menyentuhnya lagi,” kata Baekhyun, “Aku akan membuatmu buta.

Kau merasakan merinding mengalir disetiap bagian tubuhmu. Kau tidak  pernah mendengar dia bicara seperti ini sebelumnya –bagaimana suaranya tiba-tiba terdengar lebih dalam dan galak. Kau tidak bisa membayangkan akan bagaimana rasanya menjadi akhir penerimaan dari perlakuan itu dan tatapan yang membekukan-pikiran itu.

Itu tadi ketika Jongin memutus kontak mata mereka Baekhyun mulai melangkah pergi, menyeretmu bersamanya dengan satu tarikan kasar pada tanganmu. Kau tidak berani mengatakan satu katapun karena kau terlalu takut padanya sekarang –dan itulah yang mengatakan sesuatu, berhubung kau adalah orang yang tidak pernah  dikuasai dengan mudah olehnya seperti ini.

Itu Sampai kalian berdua sampai ke ruanganmu dia menjatuhkan tanganmu dari genggamannya.

“Duduklah,” kata Baekhyun, hampir dalam sebuah bisikan.

Kau mulai panik. “Baek, maafkan aku –“

Duduk,” ulangnya, suara dalam dan bergemuruh  melalui udara seperti sebuah petir, dan tanpa menunggu beberapa detik berlalu, kau menjatuhkan dirimu ke sofamu, merasakan kedua lututmu melemas karena ketegangan  gelap yang dia akhiri.

Ini bukan main-main. Dia sungguh  marah tentang hal ini. Kau pernah melihatnya marah denganmu sebelumnya tapi itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan pada bagaimana dia sekarang ini. Dan walaupun kebanyakan waktu kau masih bisa menemukan cukup keberanian paling tidak untuk membalas bicara padanya, kau sungguh tidak bisa menemukan suaramu untuk beralasan dengannya saat itu. Kau terlalu tidak berani untuk melakukannya juga.

Baekhyun masih tidak menatap kedua matamu. Dia hanya berdiri di sana dengan jaket kulit hitamnya, jeans ketat dan sepasang sepatu high- top hitam. Dia mencoba menenangkan napasnya, mengusap mulutnya dengan satu tangannya sebelum dia bicara dengan nada yang rendah. “Sudah kubilang untuk menjauh darinya.”

Kau meringis pada nada suaranya dan tergagap ketika kau bicara, “Aku –aku tahu, maafkan aku –“

“Sudah kubilang dia berbahaya,” terusnya seolah kau tidak pernah bicara. “Tapi kau tidak mendengarkan aku.”

“Baekhyun,” pintamu, terdengar patetik dan putus asa untuk perhatiannya. “Kubilang aku minta maaf.”

“Pikirkan  saja apa yang akan terjadi jika aku tidak disana untuk menghentikannya?” tanyanya, masih tidak menatap pada kedua matamu, dan melainkan mendongak menatap langit-langit disaat dia menghela napas dengan berat. “Pikirkan  saja apa yang akan terjadi jika aku datang terlambat.”

Baekhyun –“

Tiba-tiba saja kalimatmu  berakhir  dengan sebuah jeritan kau langsung membungkamnya dengan telapak tanganmu. Baekhyun tiba-tiba saja melayangkan kaki kanannya dan menghantam bagian bawah meja makan dengan begitu banyak tenaga;membuatnya terjatuh ke bawah, membuat suara-suara derapan  disaat barang-barang yang tadinya berada diatas meja  berserakan kemana-mana, menghantam lantai marbel begitu keras. Dan kau merasakan hatimu bergemuruh didadamu ketika mug kopi jatuh ke lantai juga, pecah berkeping-keping.

“SUDAH KUBILANG UNTUK MENJAUH DARINYA!”

Kau langsung menutup kedua matamu, tubuh bergetar  dengan kejamnya dengan rasa takut. Cara suaranya yang menggema terdengar dalam ruangan membuat jantungmu berdetak ribuan kali lebih cepat, dan kau bersumpah kau hampir bisa mendengarnya memukul-mukul dikedua telingamu. Kau takut, takut dengan sangat.

“Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku?” teriak Baekhyun, suara penuh dengan amarah  dan rasa kecewa. “Aku sms kau, dan kau tidak menjawabnya. Kutelpon kau dari waktu ke waktu tapi kau selalu tidak mengangkatnya. Kucoba untuk memperingatkanmu dan kau pikir aku hanya menjadi si brengsek yang terlalu cemburu  dan sekarang lihat apa yang baru saja terjadi! Bagaimana jika kau diperkosa?!”

Kau hanya tetap diam, terlalu shock bahkan untuk membentuk sebuah kata. Kau tidak tahu bagaimana merespon situasi saat ini  karena kau ketakutan sampai ke tulang-tulangmu.

“Apa kau pikir mudah bagiku jauh mengetahui kau menghabiskan kebanyakan waktumu dengan Kim Jongin?!” Cara dia menyebutkan namanya dipenuhi dengan racun. “Apa kau pikir aku bisa hanya menghabiskan hari-hariku dengan normal ketika aku tidak bisa meraihmu dengan menelpon  karena kau terlalu sibuk melakukan yang kau juluki rehearsal drama dengannya?! Damn it! Aku tahu sesuatu  muncul!” baekhyun memutar tubuhnya, menjambak rambutnya dengan putus asa. “God, kenapa sulit sekali bagimu hanya untuk menjauh –FUCK!” dia hantam buku-buku jarinya pada dinding terdekat dan itu terjadi.

Dalam seperdetik, kau sadari kau menangis, melengkungkan kedua tanganmu diatas pangkuanmu disaat kau menggigit bibir bawahmu untuk meredam isakanmu. Kau gigit dengan keras bibir bawahmu, menahan dirimu karena menangis bahkan lebih keras. Kau memeluk dirimu dengan erat, wajah yang menatap pangkuanmu dan air mata yang membanjiri kedua pipimu.

Kau tidak berani  mendongak untuk melihat ekspresi macam apa yang dia taruh di wajahnya, tapi ruangan menjadi sunyi senyap. Satu hal yang bisa kau dengar adalah suara hujan, meremang di  sisi jendelamu dan suara rengekanmu yang tertekan.

Kau mendengar dia bergerak, melintasi sisa jarak antara kalian berdua dan kau harus menghentikan dirimu untuk mencoba melarikan diri. Ada keheningan yang panjang memenuhi ruangan disaat Baekhyun menjatuhkan lututnya didepanmu jadi wajahmu sama tinggi dengannya. Bisa kau bilang dia mencoba meningkatkan napasnya, mengontrol amarahnya, tapi kau masih takut. Kau tahu dia tidak akan menyakitimu dalam cara apapun tapi ada saja sesuatu yang memberimu  tidak bisa berkata  apa-apa dan mematung di tempat dudukmu –bahkan tidak berani untuk mencuri tatapan padanya.

Kau masih menutup kedua kelopak matamu ketika kau merasakan Baekhyun mengambil tangan-tangan gemetarmu dalam tangannya yang  lebih besar. Dia tidak mengatakan apapun ketika dia mengulurkan satu tangannya ke wajahmu, menelusurkan  dengan halus jari-jari panjangnya ke kulit lembut pipimu dan bahkan tidak berhenti ketika kau tersentak dibawah sentuhannya.

Dan kemudian dengan halusnya, dia bertanya, “Apa aku menakutimu?”

“Maafkan aku,” kau megap-megap, masih takut untuk menatap padanya langsung tapi tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulutmu. “maafkan aku, Baekhyun, maafkan aku.”

Dia menenangkanmu dengan lembut dan menarikmu ke dalam sebuah pelukan, melingkarkan satu tangan pada pinggangmu dan yang satunya menyelipkannya pada rambut-rambut halusmu yang berantakan. Kau mencoba untuk releks dalam pelukannya dan akhirnya menangis dengan keras di dadanya.

“It’s okay,” bisiknya di telingamu, masih melarikan tangannya pada rambutmu dalam gerakan yang menenangkan. “Maaf jika aku terlalu menakutimu.” Kau tidak tahu kenapa kau harus bohong tentang hal ini, tapi kau coba untuk menggelengkan kepalamu, mengatakan padanya bahwa itu baik-baik saja –bahwa kau tidak takut padanya –walaupun kau masih belum berhenti gemetaran  karena teriakan dia   yang sebelumnya.

Baekhyun  langsung melihat melalui kebohongan-kebohonganmu tapi dia tidak membuat satu  komentarpun atas hal itu.

“Maafkan aku,” kau meminta maaf lagi diantara isakan tangismu, merasakan paru-parumu sakit karena terlalu banyak menangis. Air mata hanya tidak bisa berhenti dengan mudahnya dan bagian yang paling dari hatimu masih bergetar  dalam rasa takut karena aksinya sebelumnya. “B-Baekhyun, maafkan aku sekali, aku tidak tahu bahwa dia akan –bahwa dia sedang…”

“Apa dia menyentuhmu?” tanya Baekhyun, suara lembut dan tidaklah diwarnai  dengan amarah  sama sekali, tapi kau ragu begitulah yang dia rasakan dilubuk hatinya.

Terakhir kali kau coba berbohong, itu berakhir seperti ini, jadi kau putuskan hanya untuk menyatakan kebenaran. “Tidak,” kau tersedak, merasakan tenggorokanmu serak dan kering, “Tapi dia menciumku.”

Baekhyun menarik diri dari pelukanmu dan  menyibak ponimu dari kedua matamu dengan ramah. Kau masih menatap ke bawah pada kedua tanganmu di atas pangkuanmu. “Pandanglah aku,” suruhnya dan kau langsung melakukan apa yang dia katakan.

Baekhyun terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Petunjuk-petunjuk kecemburuan dan rasa marah masih ada disana, tapi tatapan yang paling  jelas yang bisa kau temukan dalam kedua matanya adalah perasaan kekhawatiran dan ketakutan. Dia terlihat seperti dia takut akan sesuatu juga. “Kupikir aku kehilanganmu.”

Kau tersedak lagi. “Maafkan aku.”

Baekhyun mendesah,dia menarik kepalamu lebih dekat sehingga dia bisa menempelkan keningnya pada milikmu. Dia pejamkan kedua matanya dan dengan lembut berkata, “Kau terlalu ceroboh –kau selalu menjadi  ceroboh sekali ketika bersangkutan dengan laki-laki.”

“Aku tahu,” jawabmu dengan cepat, menutup kelopak matamu juga dan menenggelamkan dirimu pada perasaaan sennang karena memiliki Baekhyun yang dekat denganmu seperti ini. “Maafkan aku.”

“Kau seorang gadis. Kau tidak bisa selalu menurunkan pelindungmu disekitar laki-laki seperti itu.” Baekhyun berbicara/mengajari, “Kami bukanlah sebaik itu, Sweetheart.”

Kau menganggukkan kepalamu dengan lemah. “Aku..aku mengerti.”

“Belajarlah menduga yang terburuk dari orang-orang, okay?” katanya, mengusap-usapkan ibu jarinya sepanjang tulang pipimu disaat dia membingkai wajahmu dengan satu tangannya. “Jadi kau tidak akan terluka pada akhirnya. Kau boleh berpikir kau kuat, dan aku tahu kau memang, tapi ada hal-hal yang tidak bisa kau tangani sendiri.”

“Baekhyun…” bisikmu saat dia mencondong untuk mencium keningmu, membiarkan bibir hangatnya menempel disana untuk beberapa saat sebelum dia mendesah dengan lembut di kulit dan memelukmu lagi.

“Aku tidak ingin kau terluka,” gumamnya di telingamu.

Kau menganggukkan kepalamu beberapa kali, menangis  dengan halus di dadanya.

“Aku sangat marah sekarang; kau bahkan tidak tahu betapa aku ingin membelah kepalanya menjadi dua,” kata Baekhyun, dan walaupun kata-katanya, nadanya lemah lembut dan sebenarnya menenangkan. “Tapi perasaan tidak kehilanganmu kelihatannya menjadi satu-satunya hal yang kupedulikan saat itu. Aku hanya senang kau tidak terluka.”

Kau kembali memeluknya sampai kau merasa dia adalah sebagian dari dirimu, memeluk erat sampai ke belakang jaket kulitnya saat kau meminta maaf lagi dengan bisikan.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya, menepuk-nepuk dengan halus diatas kepalamu dan kau mengangguk sebagai jawaban. Baekhyun menghela napas lega sekali lagi. “Hanya hal itulah yang kupedulikan sekarang.”

“Maafkan ak –“ dan kau tidak  bisa menyelesaikan kata-katamu karena kau mulai menangis  sekali lagi. Kau tidak dapat mengerti kenapa Baekhyun menjadi begitu baik dan dewasa tentang hal ini. Jika kau berada di posisinya, menemukan dia berciuman dengan gadis lain –walaupun dia mencoba menghindarinya –seperti ini, kau tidak tahu apa yang akan kau lakukan, tapi pastinya menampar si jalang itu akan jadi aksi pilihan utama.

“Berhentilah menangis, tolong,” Baekhyun memohon, “Sumpah aku tidak akan menyakitimu atau apapun.”

“Aku bukan menangis karena aku takut padamu,” responmu dengan halus, melepas pelukannya dan menghapus air matamu dengan satu tanganmu, “Aku hanya… kenapa kau tiba-tiba menjadi tenang sekali tentang hal ini sekarang?”

Tenang?” ulang Baekhyun, mendengus. “Aku tidak tenang tentang semua hal ini, okay? Aku sangat, sangat marah padamu sekarang karena tidak mendengarkan aku, tapi kau menangis, dan itu tidak adil sama sekali.” Dia sebenarnya cemberut ketika dia mengatakan kata-kata selanjutnya. “Kau tahu bagaimana lemahnya aku dengan air matamu.”

Bagaimanapun, bertele-tele  membuatmu sedikit tertawa. “Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak menangis?”

“Jujur?” Baekhyun menghembuskan udara. “Mungkin aku akan menguncimu di kamar mandi sampai kau mengerti hal-hal yang kau lakukan salah.”

Kau hanya tersenyum. “Sungguh?”

“Tidak.” Dia mencondong dengan mulusnya dan menciummu tepat di bibir, dan untuk sesaat di sana, tubuhmu kaku  karena rasa hangat bibirnya di bibirmu karena  itu mengingatkanmu pada bibir Jongin yang dingin. Baekhyun menyadari itu juga jadi dia menarik dirinya kembali dan menelusurkan ibu jarinya sepanjang bibir bawahmu.

“Apa dia menciummu di sini?” tanyanya dalam sebuah bisikan dan kau mengangguk dalam rasa malu disaat kau menenggelamkan dirimu dalam  kebersalahan. “Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika dia menciummu?”

“Bahwa dia bukan dirimu,” jawabmu simpel dan kedua mata Baekhyun berkilauan  pada kata-kata itu.

“Dan bagaimana jika dia bukan diriku?” tanya Baekhyun lagi, mencondong lebih dekat sampai bibirnya menempel dengan milikmu tapi tidak benar-benar menciummu. “Jawab aku…”

Kau bernapas berat di bibirnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kau menjadi intim seperti ini. “Aku tidak menginginkan dia jika dia bukan dirimu.”

“Itu benar.” Baekhyun mengerang dengan halus ketika dia menghubungkan bibirnya dengan milikmu, membentuk menjadi satu seolah-olah bibir itu tidak pernah terbuka sebelumnya. Kau berpegangan pada pundaknya seolah kau sedang mempertahankan kehidupan tercinta, dan dia melenguh dengan bernapas di mulut terbukamu ketika kau raih rambutnya.

“I miss you,” Baekhyun terengah-engah; buru-buru menciummu kembali secara tergesa-gesa  lagi sebelum kau bisa menggumamkan apapun kembali. “I miss you so much.”

“Me too,” kau megap-megap ketika dia tiba-tiba saja mengangkatmu dan menggendongmu dalam kedua lengannya. “I miss youu too, Baekhyun.”

Baekhyun bernapas dengan berat ketika dia meletakkanmu di atas permukaan kain dingin tempat tidurmu. hembusan napas panasnya jatuh ke kulit dimana lehermu bertemu  pundakmu disaat dia menciummu di sana, mencium di kulit sensitiv. Kau larikan jari-jarimu sepanjang rambut coklatnya, merasakannya lembut dan ringan di bawah ujung-ujung jarimu.

Dia mendesah senang ketika kau menariknya kembali untuk sebuah ciuman, ingin menghapus setiap ciuman  Jongin yang mengganggu  dari bibirmu dan Baekhyun  lebih dari berkeinginan untuk melakukannya. Dia menyapukan  lidahnya sepanjang garis luar bibirmu, menelusuri bagian  bibir lebih bawah sebelum kau menyerah sepenuhnya pada ciumannya dan membiarkan saja dia yang mengendalikan, menyerang  mulutmu dan  menjelajah lagi.

Kedua gerakan kalian terburu-buru dan dipenuhi dengan nafsu saat pertama kali, hanya ingin saling menanggalkan  pakaian satu sama lain dan buru-buru  menekankan kulit polosmu di kulit polosnya. Tapi ketegangan berkurang dengan setiap detik berlalu. Setelah saling bertukar  ciuman-ciuman  senang, ciuman yang hot di mulutmu, Baekhyun menarik diri dan memelankan kecepatannya. Dia menelusurkan bibirnya di permukaan mulus kedua rahangmu, sampai ke kulit bawah tenggorokanmu, dan mulai turun dan turun sampai dia menetapkan ciumannya pada salah satu garis-V mu. Pakaianmu sudah terlempar entah kemana pada awal pemanasan bersamaan dengan jaketnya dan kaos atasnya. Dan kau merinding karena dinginnya badai yang lebat  yang hanya semakin  lebat dan lebih lebat di luar ruanganmu. Lampu di ruanganmu mati, jadi ketika halilintar menyambar di malam itu, tersorot/bersinar  dengan jelas  memenuhi rungan itu. Untungnya, kau benar-benar tidak takut pada halilintar.

Baekhyun melihat  kau bergetar  ketika udara dingin menerpa  kulit polosmu. “Apa kau kedinginan?”

Kau sedikit merona ketika kau mengangguk dan dia tertawa kecil pada pandangan itu. Menempelkan ciuman halus lainnya di bibirmu, dia menarik bedcover warna  gadingmu ke atas  sampai membungkus kalian berdua seluruhnya, dari kepala sampai ujung kaki. Baekhyun tersenyun dengan malu-malu  disaat dia merangkak diatasmu dengan kain tebal yang meyelimuti sisi belakang dia keseluruhan. Dia letakkan kedua tangannya disetiap sisi kepalamu untuk menahan dia karena menindihmu dengan berat badannya, walaupun kau meragukan dia seberat itu.

Bahkan dalam ruangan dengan cahaya yang remang-remang ini, Byun Baekhyun masih terlihat cantik luar biasa.

“Lebih baik?” katanya, bagaimanapun nada suaranya terdengar kekanak-kanakan dan menyenangkan tapi kau terlalu terpesona  dengan cara dia tersenyum dan sederhana saja suka cara dia menatapmu.

Kau ulurkan satu tanganmu dan membelai  salah satu sisi pipinya. “I love you.”

Pandangan matanya melembut dan dia miringkan wajahnya sedikit ke samping sehingga dia bisa mencium telapak tanganmu. “I love you too,” bisiknya disaat dia pejamkan kedua matanya dan menutup punggung tanganmu dengan miliknya. “Aku merindukan ini. Aku rindu bersamamu seperti ini.”

“Aku juga,” kau mengeluarkan isi hatimu. “Aku merindukan kita.”

Senyuman lembutnya berubah menjadi senyuman kekanak-kanakan. “Katakan seberapa banyak kau merindukan aku.”

Kau abaikan hawa panas yang tiba-tiba muncul di kedua pipimu, dan menahan dirimu  karena merona bahkan lebih keras, kau putuskan untuk menjawab pertanyaannya dengan sesuatu yang lain ketimbang dengan kata-kata. Kau selipkan satu tanganmu pada rambut halusnya dan menarik kepalanya kebawah sebelum kau benturkan bibirmu pada bibirnya. Baekhyun mendengung kedalam ciuman dengan imutnya, membuka bibirnya dan membiarkanmu mengendalikan ciuman untuk beberapa detik sebelum dia menjadi agresiv sekali lagi dan melarikan lidahnya sepanjang gigimu. Kau merespon dengan cepat, menghisap bibir bawahnya ketika dia baru saja akan memutus ciuman panas itu.

Ketika dia menarik diri untuk meraup udara, dia menempelkan keningnya pada milikmu dan tersenyum kecil dengan pandangan kedua matanya yang mengarah langsung  ke dalam matamu. “Kenapa terburu-buru, Sweetheart? Aku tidak pergi kemana-mana.”

Kau tidak bermaksud menggesa-gesakan  ciuman itu. Kau pasti sudah bertingkah diatas dorongan. Mungkin kau didominasi oleh keinginan yang besar untuk menghapus setiap jejak  ciuman paksa Jongin di bibirmu. Hanya memikirkannya membuatmu ingin melemparkan  dan kau menjadi tak tertahankan oleh rasa bersalah sekali lagi.

“Maaf karena tidak mendengarkanmu,” ucapmu lagi dan releks ketika dia bermain-main dengan jemari-jemarimu yang masih  meninggalkan  jejak  lembut di kulitnya. “Maaf karena menjulukimu  over-protektiv.”

“Well, aku memang bermaksud menjadi over-protektiv kadang-kadang,” kata Baekhyun, cekikikan dengan ringan dan membiarkan bibirnya  menggesek  buku-buku jarimu disaat dia bicara. “Tapi hanya ketika itu berkaitan dengan orang-orang yang tidak kupercaya. Kau tidak melihatku marah tanpa alasan denganmu ketika kau terlalu dekat dengan Luhan, kan?”

“Tidak,” katamu, bersyukur karena pengertiannya. “Dan itu Luhan-Hyung bagimu, Baek.

Dengan canda dia mengerang, “Ugh, sudah cukup itu.”

Kau tertawa kecil untuk menemani tawa kecilnya sebelum kau sibak poninya dari kedua matanya. “Rambutmu berantakan.”

“Well,” dia mendesah dengan dramatis dan meneruskan kata-katanya dengan melakukan gestur-gestur tangan yang berlebihan, “Aku berlari sangat kencang dari Airport untuk melihatmu, dan whoops, lihat apa yang kudapatkan! Kau berciuman dengan bad boy terhot di kota ini.” Tentu saja kalimat terakhir penuh dengan nada sarkas.

“Kubilang, aku minta maaf,” kau memautkan bibirmu dan Baekhyun mencubit hdungmu sebagai balasan. “Dan bukankah kau bad boy terhot di kota ini?”

“Aku bad boy terhot di seluruh Korea Selatan, baby,” dia mengerling dengan manisnya dan kau tertawa keras sekali untuk kebaikanmu sendiri.

“Jadi kau tidak lagi marah padaku?” tanyamu disaat dia mulai kembali meninggalkan jejak ciuman kupu-kupu dari tulang selangkamu sampai ke nipelmu.

“Mungkin tidak,” jawabnya dan  terperanga menyebut namanya karena terkejut ketika suara halilintar terdengar ditelingamu tepat bersamaan dengan Baekhyun membenamkan  giginya dengan ringan  pada ujung tulang pinggulmu sebelah kiri. “Tapi kau punya banyak hal untuk dilakukan untuk memperbaikinya padaku, Sweetheart.”

TBC

Otte? Puaskah? Leave some comments below after reading the story, guys, please? Untuk chapter selanjutnya mungkin akan kubagi sampai tiga bagian karena ceritanya paaaaanjaaaang…. that’s for your information , thanks.

Ps : bahasanya makin amburadul….. maaf ya, ada kata-kata yang aku tidak tahu kekekeke…..

Advertisements

21 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 14b

  1. aiisshh si anjir..aing kalah gregetan ning..ketika unfinished lebih kejam daripada tbc:O
    astagfirullah sadar km mas km ngpain cium” sagala,lah malah diany yg baper jiiir cowo jaman sekarang emang baperan da ekwkwkk
    eh btw si ayang embek nyempil diakhir noh:-) jd kangen ayang.deh:( hiiks ayoo lanjutkan. fighting

    Like

  2. Ini kenapa harus unfinished kak?? 😦
    Itu itu kenapa my sexy dance nyium2 gitu??
    Dan itu di akhir pasti ayang bebek pan kak?!
    Mana moment *uhuuk sensor* itu kak???
    Kagak sabar akuuu >< hahhaa 😀
    Semangat my sweetheart :* 😘

    Like

      1. Huuuaaa ><
        Ini buat aku dag dig dug seerrr ahaiide 😂
        Suka bagian baekhyun bilang "aku bad boy TERHOT di Korea Selatan baby" O. M. G aku mikir yang tidak-tidak masa? Hahhaa 😄
        Chapter ini bikin aku 'makin ngeres' hahhaaa *maapkan aku mom* /nyengir kuda.
        Chapter selanjutnya akan sepanjang kereta kah?? Sampe dibikin 3bagian?! Huaa gak sabar nie, semangat kak 💪😘😊

        Like

      2. yup! tiga bagian untuk tiga emosi … kenapa begitu? ‘untuk spoiler aja ‘ ada rate -m nya, ada lovey-dovey nya, dan jg ada angst nya, pokoknya siapin aja deh mentalnya wkwkwkwk…. *padahal blm aja di kerjain* kekekeke…. thanks anyway 😉

        Like

  3. KIM JONGIN …kenapa kesel sekali sama diaaa menyebalkannn terkutuk lahh kauuu …
    darii awal gak suka part kalau lagi sama jongin..gak relaaa..
    memang gak semua kecemburuan itu buruk … kan sekarang kebukti busuk nyaaa kim jongin
    ahhhh lbih niki sterr nyaaa kataa UNFINISHED datang 😂😂😂😂
    author nyaaa semangat yahhh aku sangat menantikan lanjutan nyaaa ❤❤❤😍😍😍😚

    Like

  4. Tuhhh kaaaannn..!!!
    Insting cowok emang bener, baekhyun selalu benar wkwkwk
    Dan tulisan UNFINISH sedikit menyebalkan kali ini huh.. 😭
    Ntah kenapa aku malah berharap itu sehun, eh 😂 (untuk seseorang yg minta jongin melepaskan/?)
    Sepertinya aku mulai merindukannya di dunia ff, sebenarnya banyak sih seingat ku ff unfinish tentang dia yg belom kelar ku baca, tapi ah sudah lah aku sudah tak berminat utk mencarinya lagi pasti sudah ketimbun sama ff yg baru, 😥
    Mams sorry aku baru baca haha
    Sekarang mau baca ff satunya lagi 😘

    Like

      1. Waw, kenapa aku senang itu baekhyun, senang karna dia marah dan si aku ini ketakutan dan merasa bersalah? Itu ganjaran karna terlalu percaya pada manusia yg namanya lelaki dan tak mendengarkan kata2 kekasih mu yg jelas paham gelagat mencurigakan dari jongin 😤
        Tapi adegan terakhir, eeee aku jadi merasa melihat adegan dewasa dari orang tua sendiri, ntah lah aku kehilangan feel kalau baekhyun itu eee sebagai kekasih, tapi lebih seperti ayah, aaahhh aku jadi aeri sungguhan

        Like

  5. asdfjklmnorpjg hadu ini baru pemanasan*anu*nya btw wkwk hayoo can’t wait next chapternya
    woow dibagi 3part seriously?aah kusuka yg panjang2 btw/ehh haah otakku mulai ngeres nih+bacany tengah malem gini haduXD

    Like

    1. wkwkwk….minta tanggung jawab tuh ama si bebeb 🙂 yup, kubagi 3 dear, soalnya emang panjang, n semua rasa?/ ada wkwkwk… *apaan rasa?emang nano-nano?!* anyway, just brave your self for the next one, okay? thx for comment, again *wink*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s