The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 9

bYIm7jP

Tittle     :  THE PATHETIC EX-LOVER’S CLUB (Chapter 9)

Author  :  PJ

Cast       :

  • Oh Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • KAI /Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Fluff and Romance

Poster : kristal15/ TMLGS

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. Ini hasil  translitanku  yang kedua dari  fanfic  favorite ku ‘ The Pathetic Ex-Lover’s Club  by angelb2uty ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/1138561/9/the-pathetic-ex-lovers-club-fluff-romance-originalcharacter-exo-baekhyu

 

Previous chapter

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 9

Aftermath

 

Seharusnya kutangkap raut muka Jinae ketika kutanyakan tentang Kim Minseok. Karena itu sia-sia saja.

Sejak kemudian, Jinae membicarakan tentang laki-laki ini yang aku hampir tidak tahu dalam setiap percakapan yang kami miliki, bahwa aku mulai berpikir dia diam-diam naksir padanya. Dia begitu senang ketika dia memasangkan  tanggal dan waktu yang spesifik, menjadi penengah antara kami dan itu membuatnya  bahkan lebih seperti sebuah kencan buta.

Aku akan pergi  ke kencan buta.

“Apa makan siang hari kamis oke bagimu?” Jinae bicara saat dia memunculkan kepalanya ke kantorku sementara aku sedang sibuk bekerja, jadi  aku hanya mengangguk untuk menyingkirkan dia dariku. Aku bukanlah orang yang banyak bertanya dan dia adalah kekhawatiranku yang terakhir sekarang.

Tapi yakin itu bukan membuatku lebih baik ketika dia mengingatkanku di hari senin.

“Makan siang besok?” seruku tidak percaya. “Kapan aku berkata begitu?” masih tidak percaya, aku bertanya. Dia pasti sudah menyebutkan suatu hari sebelumnya dan aku tidak menyadarinya tapi aku tidak bisa saja menerimanya sebagai kesalahanku  selama aku bisa menaruh semua kesalahan padanya.

“Jalang kau, aku bilang padamu hari rabu terakhir!” teriaknya, walaupun itu bukanlah teriakan secara harfiah disaat dia tetap  merendahkan suaranya tapi kata-katanya penuh dengan kemarahan. Sebagai catatan, aku senang kita memiliki makan malam dengan Kyungsoo karena jika tidak, dia mungkin akan menyumpahiku sekarang ini. Memiliki seorang kekasih  malaikat tidaklah jelek sama sekali. Itu membuatnya berperilaku.

“Kudengar kau bertemu Minseok besok.” Kyungsoo muncul dengan dua gelas air putih untuk kita sambil kita menunggu pesanan kami tiba.

Bagus! Aku menyukainya disaat semua orang tahu aku berkencan dengan orang asing. “Yeah, Mom and Dad.” Kataku, terdengar penuh sarkas tapi dari tatapan wajah Kyungsoo, dia tidak senang sama sekali. Jika aku tidak mengenalnya dengan baik, dia tidak mengambil kata-kata ketusku dengan baik. Oop, mungkin dia benar-benar tidak.

Jinae mendorong sisiku, membuatku tersentak karena kaget disaat dia menggerakkan mulutnya dengan kata-kata yang tidak dapat kupahami, karena sungguh aku tidak bisa membaca gerak bibir orang-orang jadi kuangkat saja bahuku dan mengabaikan dia. Dan kemudian kudengar “Bagaimana Vietnam?” dari Jinae dan aku mendesah berat tanpa pasangan ini sadari. Mulai lagi.

Harus kukatakan, mereka memilih Restauran yang bagus malam ini. Makanan ini yang kupesan adalah sebuah teman yang baik yang bahkan aku tidak peduli pada semua tawa geli dan komentar-komentar cheesy yang terlempar antara mereka berdua, tidak sampai ketika fokus kembali terhadapku.

“Kudengar kau tidak sendirian di pernikahan Jongin.”

Serius, Jongin? Apa Kyungsoo Ibumu bahwa kau harus menceritakan semua padanya?

“Yeah, aku dengan seseorang.” Jawabku acuh tak acuh, tapi aku berkeringat dingin karena fakta apa lagi yang muncul. Seseorang sialan dengan spesifik rambut pink ini.

“Koreksi. Mereka berasumsi.”

“Dia bilang padaku dia adalah kekasihmu.”

“Kau –“

“Mereka berasumsi …..jadi.” kupotong Jinae sebelum dia menjadi panik dan diluar kendali. “Dia hanya seorang teman.” Kucoba memunculkan  penjelasan tapi semua itulah yang bisa munculkan karena aku tidak kenal pria Baekhyun ini.

“Kenapa aku tidak tahu tentang teman ini?” Oh, Jinae. Kututupi wajahku dengan telapak tanganku secara mental karena semua yang kuharapkan dia tidak mencoba menginterogasiku juga. Memang apa yang terjadi pada omongan “Aku selalu di sisimu.”? Si  jalang penghianat ini.

“Karena ….dia adalah,” kuangkat bahuku dengan biasa seolah aku tidak panik sama sekali. “Temanku?” kutekan kata-kata “ku” untuk membuat  satu tujuan dan tertawa dengan canggung sementara mereka berdua menatapku seperti aku baru saja kehillangan akalku.

Aku benar-benar bodoh

~~~

12:00

Waktunya makan siang. Bisa kurasakan kegugupan sekarang –bukan rasa senang, aku yakin –karena kenyataan bahwa aku tidak tahu siapa laki-laki ini. Semua ini tergesa-gesa, kan? Kubuat sebuah keputusan yang tergesa-gesa, benarkan? Aku hanya begitu sakit hati setelah pulang dari Okinawa dan aku –aku pikir mungkin dengan ini, aku bisa benar-benar melepaskan Jongin untuk kebaikan.

Dia pasti memiliki sebuah bulan madu yang indah, romantis disuatu tempat tipe seperti Hawaii atau Maldiva dan disinilah aku,  pergi berkencan makan siang dengan seorang asing.

Gambaran Jongin dan Yerin mengaburi pikiranku –sial khayalan-khayalan luasku –dan kuhapus semua gambaran-gambaran menjauh dariku dengan rasa marah.

Aku juga bisa seperti itu, dan untuk sekarang, kutinggalkan takdirku pada laki-laki ini.

“Selamat berkencan!” Jinae menimpali  sambil melambaikan tangan, mengantarku seperti seorang Ibu yang bangga.

“Kau!” kugerakkan mulutku saat kuberbalik dengan tatapan mematikan, membuatnya bergidik ketika dia hanya bertingkah dia tidak melihat itu, kembali ke meja kerjanya. Bagus, sekarang semua orang punya sesuatu untuk digosipkan selama jam makan siang.

Aku keluar dari taksi ketika aku tiba di depan Restauran fancy yang dipesan Minseok untuk makan siang kami. Kuluruskan bawahan pendekku. Kubenahi rambutku sedikit disaat benakku meraba-raba  dengan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin bukan ide yang baik.

Bagaimana jika dia berpikir aku tidaklah cukup cantik?

Bagaimana jika dia bukan –apa aku di tempat ini begitu pilih-pilih? Kau tidaklah sebagus dirimu sendiri –cukup tipeku?

Dia bisa jadi sebosan Kyungsoo. Aku tidak mau kekasih seperti Kyungsoo. Kukerutkan hidungku ketika memikirkan itu. Meski mereka berteman.

“Reservasi atas nama Kim Minseok?” aku bilang pada staff yang sedang berdiri di podium, dia menunjukkan jalan padaku hampir langsung ke meja dan disana sudah ada seorang pria, mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas meja dengan jenaka saat dia menunggu kencannya.

Staff tersenyum padaku dan aku menggumamkan “Terima kasih.” Sebelum aku menuju tempat duduk kosong disebrangnya. Apa yang harus kulakukan? Memperkenalkan diriku sekarang?

“Hana-sshi?” dia langsung berdiri ketika dia melihat kehadiranku. “Kim Minseok.” Dia ulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan butuh beberapa detik bagiku saat kupandanginya dalam rasa bingung  sebelum kuraihnya.

“Senang bertemu denganmu.” Gumamku dengan  canggung dan melepaskan tanganku disaat kududukkan diriku dengan nyaman.

“Senang bertemu denganmu juga. Aku hampir berpikir aku tidak punya kesempatan bertemu denganmu sama sekali.” Jawabnya. Sekarang kulihat dia dengan dekat, dia adalah laki-laki yang tampan, bagaimanapun terlihat cukup pendiam  dan penuh sopan santun dari cara dia bicara, mungkin itu hanyalah bagaimana orang-orang sukses berbicara. Dia tidak berbau kopi tapi tangan-tangan itu seperti dia pembuat kopi yang baik.

“Well, disinilah aku.” Kuberi gestur selebrasi kecil dengan lambaian sebagai respon atas pernyataannya. Dia memujiku dan aku tidak nyaman. Seorang pelayan kemudian datang ke kami dengan beberapa menu, dan kami mengambil kesempatan untuk benar-benar melaluinya dalam keheningan.

“Jadi apa rekomendasi Chef hari ini?” tanyanya dan mendengar dengan intens ketika pelayan itu sedang menjelaskan padanya.

Untuk sesaat, aku sebenarnya mengagumi  pandangan ini  tapi tidak lama kemudian dia membangunkanku dari lamunanku, bertanya padaku jika aku sudah memutuskan. “Aku pilih sama saja. Terima kasih.”

“Kau terlihat tegang.” Dia berkomentar.

Kukibaskan tanganku. “Aku baik-baik saja.” Ini tidak bisa. “Sebenarnya,” kuambil napas dalam-dalam sebelum mengaku. “Ini canggung sekali.” Kutekan kata ‘sekali’ dan aku pasti terlihat lucu sekali  karena Minseok tetap saja tertawa kecil padanya. “Biar kuluruskan disini, okay.”

“Okay.”

“Aku tidak bisa melakukan ini.” Kedua matanya melotot keluar ketika dia mendengarnya, tidak ada tawa kecil lagi. “Maksudku, bukan aku tidak bisa melakukan ini.” Kukoreksi sendiri, memberi gestur pada kita. “Aku tidak bisa bertingkah seperti ini. Jinae tetap bicara bagaimana sopannya kau dan bagaimana aku harus bertingkah laku dan tidak menunjukkan sisi diriku yang ini, yang suka mengomelkan omong kosong yang tidak penting tapi ini lebih nyaman, kau lihat, bicara tanpa berpikir. Meski, kuberi sedikit pikiran.”

Dia meledak tertawa diwaktu aku selesai, dan aku senang aku benar-benar sukses menghiburnya dengan tingkah lakuku, dan dia menenangkan dirinya tidak lama setelah itu disaat dia bergumam “Aku lebih suka yang seperti ini. Kau cute sekali.”

“Well, kurasa komentar itu lebih  menyirat padamu  karena kau pastinya lebih lebih dan lebih cute ketimbang diriku,” itulah yang meluncur dan ketika kulihat dia baru saja menatapku dengan senyuman lembut, aku langsung melihat ketempat lain juga, hawa panas merayapi kedua pipiku.

Makanan tiba tidak lama setelah itu, dan kami makan dengan nyaman yang mengejutkan disaat kami mulai bicara tentang pekerjaan kami. Dia tinggal diluar negeri untuk beberapa waktu dan dia bertemu Kyungsoo selama salah satu dari konferensi-konferensinya dan mereka menjadi berteman  karena alasan mereka berdua sama-sama orang Korea. Bagaimanapun, dia kemudian memutuskan untuk kembali ke Korea, menetap dengan membuka sebuah Cafe di area prestise  Gangnam.

“Maukah kau mengunjungi kapan-kapan? Aku bisa membuatkan secangkir kopi untukmu.” Tawarnya.

“Dengan senang hati. Itu akan jadi satu kehormatan memiliki seorang pemenang kompetisi internasional membuatkan secangkir kopi untukku.” Jawabku dan  menjadi dirinya yang down-to-earth (membumi),dia cukup  merona ketika kusebut titel/jabatan.

Dia mendengarkanku bicara tentang obsesiku, dengan penuh perhatian dan secara intens, yang benar-benar aku terhanyut dan tidak untuk sekali, dia terlihat bosan olehnya.  “Aku akan menyimpan ini.” Dia mengambil coretan-coretan  yang kugambar di atas kertas tissue sambil kami membicarakan interior coffee shop impianku.

“Apa yang Jinae katakan tentangku?”

Minseok penasaran ketika aku mengeluh padanya pada bagaimana Jinae menghujaninya dengan  pujian-pujian  disekitarku sepekan penuh setelah aku setuju untuk bertemu dengan Minseok. “Katanya jika dia tidak berkencan dengan Kyungsoo, dia pasti akan jatuh cinta denganmu. Itu langsung mengarah bahwa aku sangat yakin  dia diam-diam punya rasa padamu.”

“Aku mengacau  jika Kyungsoo mendapatkan informasi ini.”

“Aku tahu benar!” aku setuju. “Tapi, bukanlah ide yang buruk untuk membiarkan dia tahu. Aku penasaran seperti bagaimana tampang  Kyungsoo  yang mengamuk. Pasti menyenangkan melihat dia sedikit lebih …ekspresiv.”

“Kulihat kau benar-benar  tidak menyukai Kyungsoo.”

“TIDAK! TIDAK, TIDAK, TIDAK SAMA SEKALI!”  sangkalku dengan sepenuh hati bahwa aku tidak benci. Bagaimana aku bisa? Apa sejelas itu?

Disaat kukumpulkan kembali diriku karena konfrontasi yang mengejutkan, tidak bisa kutinggalkan kekehan dari orang-orang dibelakangku dan secara harfiah bisa kurasakan kursi seseorang bergoyang dibelakangku. Aish, penguping ini benar-benar membuatku gugup. Aku tidak tahu orang-orang kaya bisa menjadi  picik.

“Omong-omong, kau tidak usah terlalu yakin. Jinae selalu memilih  pada seorang laki-laki yang baik.” Kataku, bertingkah seperti pembelaan diriku yang dramatis  dan  tingkahku yang berlebihan tidak terjadi  pertama kali. Dengan gugupnya, kupegang penaku  disisiku dan mencoret-coret  kertas tisu dengan canggung.

“Kalau begitu laki-laki macam apa tipemu?”

“Aku sungguh tidak punya tipe.”

“Tidak harus spesifik. Bisa jadi –“

“Kusadar kearoganan adalah menyebalkan.” Aku bicara sebelum dia bahkan bisa menyelesaikan ketika kuingat sesuatu- atau seseorang. “Seseorang yang memotongku setiap kali aku bicara, memicu  argumen-argumen  denganku  setiap waktu, membuatku gugup untuk setiap alasan  dimana –“

“Aku hanya ingin tahu seperti apa laki-laki tipemu.”

“Tapi,” disaat aku terbangun dari kebingunganku, aku menjawab “Benar. Dia tidak harus tinggi sekali, kau tahu. Hanya begitulah nyaman jika aku bisa menatap wajahnya, senyumnya yang selalu membuatku senang, aku suka laki-laki dengan senyum yang indah, itu hanya membuatku melayang, dan dia begitu menyenangkan secara menyebalkan dan nakal  setiap kali sehingga membuatku ingin memukul wajahnya kadang-kadang tapi menikmati kehadirannya disaat yang bersamaan. Aku juga benci laki-laki  sombong tapi…. kurasa itu membuatnya menarik.”

“Kelihatannya lebih seperti kau membicarakan seseorang ketimbang hanya tipe secara umum.”

Kulepas penaku dan tertawa dengan canggungnya karena semua itulah yang kutahu untuk menjauh dari situasi canggung ini.

“Bisa permisi sebentar?” kutunjuk pada arah toilet/kamar kecil.

“Yeah, aku akan membayar tagihannya jadi kita bisa pergi setelah – kau selesai.”

“Tentu. Itu akan bagus.”

Dengan cepat aku menuju ke kamar kecil, menggenggam erat kertas tisu yang kusadari sendiri telah kucoret-coret sementara aku menceritakan pada Minseok –lebih seperti aku terhanyut pada- tipe idealku. Aku sendiri bahkan tidak bisa menyadari mengatakan itu dengan keras sekali. Itu bukanlah tipeku.

Kubuang kertas tisu itu ke wastafel dan itu  memperlihatkan sebuah sketsa yang familiar bahkan tanpa ku sadari. Skatsa itu menatapku kembali dan bisa kurasakan sebuah seringaian muncul jika dia dia ada disana, menyaksikan semua ini.

“Memang kau datang dari mana?” kubentak diriku sendiri di dalam kamar kecil/toilet. “Kau hanya muncul entah dari mana, tiba-tiba,” kuronta-ronta  kedua tanganku dengan menyedihkan dalam rasa  frustrasi seolah-olah dia berada disana, mendengarkan kata-kata kasarku. Kutarik napas dalam-dalam dan mengipas-ngipas diriku dengan tanganku  karena rasa panas dingin dalam diriku. Aku menggerutu  pada sketsa inosen seperti orang – “Kau brengsek!”

Aku berteriak dan entah dari mana, seorang wanita datang dengan wajah  terkejut, menatapku aneh dan cepat-cepat kupalingkan wajahku  dan berharap  aku mati saja seketika itu. Ketika kudengar suara dari pintu ruang kecil itu tertutup, kuhela napas  yang kutahan tadi dan menyalahkan Baekhyun atas segalanya meskipun dia mungkin hidup damai di sisi yang lain tanpa mengetahui  apa yang terjadi.

“Sekarang aku benar-benar terlihat seperti orang gila.” Gumamku dan  dengan cepat kubasuh tanganku dengan air dingin untuk menenangkan diriku. Aku melangkah keluar sebelum aku harus menghadapi wanita yang ada dalam ruanga kecil itu dan mungkin aku menjadi tergesa-gesa juga karena hal berikut yang kutahu, aku menabrak seseorang, dan tanpa memberi  satu lirikan, aku berkata “Maaf” dan pergi menuju tempat dimana Minseok menunggu.

Dan aku berpikir apa yang telah merasukiku?

 

TBC

 

Okay, di chapter ini tidak ada Baekhyun tapi ini berkaitan dengan chapter selanjutnya, jadi aku masih butuh komentar kalian. Dan aku tahu beberapa dari kalian memang tidak tertarik pada ff ini tapi asal kau tahu, ff ini menjadi salah satu nominasi Best Baekhyun Fic di EXO FANFICTION AWARDS 2016.

Btw, tentang blind date, you know what, authornya juga ikutan blind date beberapa hari yang lalu wkwkwkwk…*poor me* tapi berjalan lancar sih *smile* bukannya aku males mencari pengganti si-X yang udah married duluan, authornya juga pingin move on and pingin hidup normal seperti yang lainnya *tsk, kenapa jadi curcol/plak* ah sutralah…… comment please……

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 9

  1. Laaahhh jadi jadi jadi.. Mams? 😨
    Ok lupakan, haha
    Well, kenapa aku pikir klo seseorang yg menguping itu baekhyun? 😏
    Dan dia juga yg ditabrak di depan toilet hmmm
    Wew, kasian minseok jadi korban curhatan, eh?
    Tapi lebih cocok jadi teman haha sorry minseok oppa 😘😜
    Faigting mams 😘😘😘😘

    Like

  2. aku engga tau ini perasaaa aku aja atau gimana, tapi terjemahan di sini agak sedikit aneh ya kak? beberapa ada yang kurang nyambung? tapi engga apa-apa aku suka, ini udah mulai konflik atau belum ya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s