The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 10

bYIm7jP

Tittle     :  THE PATHETIC EX-LOVER’S CLUB (Chapter 10)

Author  :  PJ

Cast       :

  • Oh Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • KAI /Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Fluff and Romance

Poster : kristal15/ TMLGS

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. Ini hasil  translitanku  yang kedua dari  fanfic  favorite ku ‘ The Pathetic Ex-Lover’s Club  by angelb2uty ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/1138561/10/the-pathetic-ex-lovers-club-fluff-romance-originalcharacter-exo-baekhyun

Previous chapter

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 10

We Meet Again

Baekhyun

“Akhirnya, kau keluar dari sel bawah tanahmu. Bagaimana rasanya melihat matahari?”

Tidak disangkal, para gadis mengaguminya. Tapi si Baekhyun yang mengurung dirinya dalam bagian kamarnya sendiri adalah sepenuhnya tidak menyenangkan. Itulah yang selalu Chanyeol katakan. “Kau, tidak keluar dari kamarmu berhari-hari, terlihat seperti orang yang kacau yang tidak mengharapkan diganggu sangat tidak menarik. Itulah kekuranganmu dibandingkan diriku.”

Well, kontras bagiku, aku punya pekerjaan terseksi di bumi ini.” Biarkan laki-laki malang itu memimpikan apappun yang dia inginkan.

Chanyeol bicara ketika dia melihat Baekhyun melangkah memasuki Cafe. Baekhyun mengedikan bahunya disaat dia duduk di salah satu kursi, melihat Chanyeol yang sedang mengerjakan seni lattenya sebelum dia memerintah staffnya untuk memberikannya pada masing-masing  meja.

Baekhyun memberi salah satu senyuman terkenalnya pada seorang gadis disaat dia datang untuk memilih minuman di bar itu. Aksinya menyebabkan gadis itu sangat merona dan Chanyeol memberinya satu tatapan pada baekhyun, yang mana dia melebarkan kedua matanya dengan tanya.

“Dia baru saja lulus sekolah menengah awal tahun ini.”

“Kenapa kau beri tahu aku itu? Aku tidak akan menyerangnya.” Baekhyun membela diri. “Tapi aku tidak bisa lakukan apapun jika dia temukan aku menarik.” Gumamnya, membuat temannya menggelengkan kepalanya dan mereka memberi tawa kecil ringan padanya. “Ya, raksasa, lepaskan apronmu dan ayo makan siang.”

Chanyeol menautkan kedua matanya. Baekhyun telah mengubahnya menjadi budaknya lagi akhir-akhir ini. “Aku bukan kekasihmu yang bisa kau seret kemana-mana. Aku sibuk.”

“Ayolah, kau tahu betapa aku benci makan sendirian.”

“Pesanlah sesuatu dari sini.”

Baekhyun mendesah, “Aku benci mengatakan ini, buddy …tapi makananmu payah. Bagaimana kalau kau cari seseorang yang benar-benar bisa memasak –“

“Long time no see, Baekhyun!”

“Hey, man! Apa kabarmu?” dia melambai. Ada satu jawaban samar “Baik-baik saja” dari arah dapur tapi Baekhyun mengabaikannya dan beralih kembali pada Chanyeol yang memberinya tatapan tahu. “Aku hanya menjadi obyektiv.” Katanya padanya tanpa menjadi tertindas  karena rasa bersalah.

Chanyeol tidak bisa bilang tidak pada Baekhyun. Lebih seperti Baekhyun tidak menerima apapun ketimbang yang dia inginkan. Kadang kala Chanyeol tidak bisa mengerti, selalu ada mereka  bertiga dalam lingkaran kecil pertemanan mereka tapi kenapa Baekhyun malah tidak pernah menyeret Jongdae?

“Omong-omong di mana Jongdae?” tanya Baekhyun disaat dia  mendekati  Restoran.

“Kau tidak tahu?” Chanyeol balik bertanya.

“Kemudian kau tahu? Pria itu tetap muncul di sini dan di sana, kemudian menghilang begitu saja, aku tidak bisa tetap melacaknya lagi.”

“Dia sedang menikmati hidup.”

“Benar.”

Mereka memesan pesanan mereka disaat Baekhyun berjanji akan membayarnya, Chanyeol yakin dia memesan makanan paling mahal di sana, membuat Baekhyun memelototkan kedua matanya pada si brengsek yang ada di hadapannya tapi dia tetap saja diam karena dia tidak mungkin bisa membuat keributan di depan pelayan. Itu akan memalukan.

Merasa mengalah , dia melihat daftar menu dan disaat dia sedang merenungkan  pilihannya, dia mendengar samar-samar  “Hana –sshi?” dan itu membuatnya benar-benar mematung untuk sesaat.

Ini tidak mungkin, kan?

Tapi tidak akan buruk meski bisa bertemu dia lagi.

“Baek? Kau belum selesai?” Chanyeol membuatnya tersadar.

“Aku hanya akan memesan risotto.” Dia menyerahkan kembali menu pada pelayan itu.

“Kau baik-baik saja? Aneh melihatmu melamun.”

Dia mengibaskan tangannya. “Baik-baik saja. Aku baik-baik saja.”

Dan Baekhyun benar-benar bertingkah aneh sepanjang makan siang. Pertama, dia sedang mencoba begitu keras untuk melihat meja yang ada dibelakang mereka yang sebenarnya memicu  rasa penasaran Chanyeol, membuat dia mengggaruk  kepalanya untuk melihat, yang mana tidak diketahui oleh Baekhyun karena dia terlalu fokus pada pemandangan satu pasangan itu.

“Apa kau percaya pada takdir, Chanyeol?” Baekhyun tiba-tiba saja bertanya, entah dari mana.

Chanyeol terus menerus mengerjap disaat dia mencoba mencerna  apa yang baru saja Baekhyun tanyakan. “K-kita bicara tentang takdir?” dengan tidak percaya, dia masih mencoba mencari tahu apa yang membuat si  teman brengseknya terlihat begitu berbeda. Dia tidak seperti ini ketika mereka bertemu di Cafenya.

“Ya.”

“Dan kau percaya?”

“Kurasa aku mempercayainya sekarang. Betapa lucu.”  Dia terkekeh saat dia mengatakan itu.

“Apa kau sakit?” tanya Chanyeol tidak percaya.

Kemudian bahkan mulai lebih aneh ketika Bakehyun terlihat seperti mencoba menguping pada  mereka.”Apa yang coba kau lakukan, Baekhyun?” tanya Chanyeol, menautkan kedua alisnya.

“Tidak ada.” Jawabnya acuh tak acuh.

“Okay.” Jawab Chanyeol.

“TIDAK! TIDAK, TIDAK, TIDAK SAMA SEKALI!”

Itulah Oh Hana yang kukenal. Baekhyun hampir dapat membayangkan seperti bagaimana Hana harus terlihat ketika dia menjadi sangat panik, kedua tangan meronta-ronta  dan kedua mata melebar, mengacaukan  tampang luarnya yang tenang yang telah dia simpan untuk membuat laki-laki percaya padanya. Sedramatis seperti biasanya. Dia coba begitu keras untuk menahan tawanya yang membuat seluruh tubuhnya bergetar tapi ketika kedua matanya bertemu dengan  tatapan tanya Chanyeol lagi, dia berdehem dan melanjutkan makan makanannya.

Chanyeol terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi berakhir dengan menelan kata-katanya kembali ke tenggorokannya ketika Baekhyun bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Baekhyun lebih dari senang bahwa Chanyeol tidak memutuskan untuk melakukan begitu. Apa yang harus dia katakan tentang Hana pada Chanyeol? Dia bahkan hampir tidak mengenalnya.

“Benar. Dia tidak harus tinggi sekali, kau tahu. Hanya begitulah nyaman jika aku bisa menatap wajahnya, senyumnya yang selalu membuatku senang, aku suka laki-laki dengan senyum yang indah, itu hanya membuatku melayang, dan dia begitu menyenangkan secara menyebalkan dan nakal  setiap kali sehingga membuatku ingin memukul wajahnya kadang-kadang tapi menikmati kehadirannya disaat yang bersamaan. Aku juga benci laki-laki  sombong tapi…. kurasa itu membuatnya menarik.”

Dia tidak pernah bisa begitu yakin tapi dia tidak tahan kecuali tersenyum ketika dia mendengar itu.

~~~

Baekhyun menahannya seperti dia tidak ingin melepaskannya.

Dia berbalik dan dia melihat Hana bercakap-cakap dengan Minseok disaat mereka berjalan menuju keluar. Dia tidak berencana untuk tiba-tiba menghalangi /mengganggu  kencan mereka tapi dia hanya berharap Hana akan melihatnya. Ini salah baginya untuk melakukan ini, tapi mungkin ini tidak akan terjadi lagi.

Dia tidak ingin membiarkan ini lewat tanpa melakukan apapun tentang ini.

Hana melihatnya, dan kedua matanya melebar seterkejut  pandangan matanya yang tetap diam  padanya. Hampir terlihat tidak percaya. Meski Minseok masih bicara padanya, tapi dia kelihatannya seperti dia sudah lama lupa dimana dia meninggalkan percakapan mereka yang bahkan tidak dia pedulikan.

Untuk pertama kalinya, Baekhyun gelisah.

Bibirnya melengkung keatas tersenyum. Baekhyun suka raut wajah yang dia buat, terlihat seperti dia begitu senang melihatnya setelah pertemuan terakhir mereka di Okinawa, hanya kemudian sadar dialah yang tersenyum dengan lebar yang membuatnya tersenyum kembali padanya. Mungkin diluar kesopanan.

“Kejutan yang menyenangkan melihatmu di sini.”  Katanya saat dia melangkah lebih mendekat pada pasangan itu, secara tanpa sadar.

“Aku tidak menyangkanya sama sekali.”

“Aku juga.”

Seolah dia baru sadar dia punya seseorang yang lain bersamanya, dia berbalik pada Minseok yang tidak tahu menahu  pada situasi itu. “Hmm, Minseok-sshi, ini Baekhyun.”

“Byun Baekhyun.” Dia ulurkan tangannya.

“Kim Minseok.” Laki-laki itu memberinya senyuman ramah, membalas jabatan tangan. “Hana-sshi, makan siang hampir selesai. Boleh aku mengantarmu?”

Begitu saja? Baekhyun ingin meminta  pada hana beberapa waktu tapi tentu saja gengsinya tidak akan membiarkan dia melakukan itu, dan terkejutnya dia, dia tidak harus memintanya sama sekali.

“Aku lebih suka pulang sendiri. Disamping itu, kantorku tidak  searah denganmu.”

“Baiklah, kalau begitu.” Baekhyun melihat semburat  rasa kecewa pada wajah Minseok.

“Aku akan mengunjungimu kadang kala seperti yang kujanjikan. Jadi, sampai  jumpa kalau begitu?”

“Sampai jumpa kalau begitu.” Jawab Minseok. “Ini makan siang yang menyenangkan, aku banyak bersenang-senang. Bye.” Dia melambai dengan malu-malu  sebelum dia mundur  dan membungkuk dengan ringan pada Baekhyun sepanjang jalan.

“Bye.” Jawab Hana.

Yang hanya meninggalkan mereka berdua. “dia terlihat tampan. Bahan  kencan buta sekali.” Dia goyang-goyangkan kedua alisnya, ditemani senyuman nakal itu. “ACK! SIAL!” dia usap-usap perutnya yang terasa sakit yang baru saja menerima satu pukulan keras dari wanita yang berdiri di sampingnya. Bagaimana bisa seorang wanita punya begitu banyak energi? Dia hampir saja pingsan karena terkejut.

“Itukah hal pertama kali yang ingin kau lakukan ketika bertemu denganku? Menggodaku?” ancamnya, tidak punya jejak gurauan sama sekali di wajahnya atau di nada suaranya.

“Aku tidak menggodamu!” dia meninggikan suaranya, memperlihatkan dia sedang frsutrasi pada apa yang dia perbuat. “Kerasnya. Aku hampir memuntahkan makananku. Aku baru saja makan, kau tahu. Bagaimana kau bisa bertingkah begitu cantik didepan Minseok, kemudian berubah menjadi seperti banteng didepanku? Aku juga seorang laki-laki.”

“Ah, sungguh? Aku hampir lupa.” Jawabnya, memberi tatapan mengejek. Bicara tentang seseorang yang membuat dia kesal,wanita yang berada di sini ini, didepannya adalah orangnya. Sekarang, dia tidak bisa mengerti dirinya sendiri kenapa dia mengharapkan bertemu dengannya saat pertama kali.

“Baekhyun! Aku sudah membayar parkir. Ayo pergi!” sebuah suara menginterupsi mereka berdua, Hana berbalik pada suara dulu dan dia melihat bagaimana cemberut terbentuk di wajah Hana pada wajah yang tidak familiar memanggilnya.

“Kau duluan.” Dia mengusir Chanyeol tanpa ragu. “Aku akan pulang sendiri!” Chanyeol mengerang frustrasi, pergi bahkan tanpa menanyakan kenapa. Baekhyun menebak dia sudah membuat Chanyeol cukup jengkel seharian dan seharusnya memberinya waktu istirahat bagi hari-harinya. “Apa kau punya mobil?”

“Tidak.”

Baekhyun melebarkan kedua matanya pada jawabannya. “Kemudian, bagaimana kau datang kemari?”

“Dengan taksi. Tapi aku berencana naik bus saat kembali ke kantor.”

“Bus.” Dia ulang kata itu.

Sadar betapa tidak nyamannya dia pada sebutan bus, dia tersenyum malu-malu dan menggodanya. “Ku pikir kau berolah raga. Berjalan beberapa blok ke penghentian bus bukan apa-apa. Apa kau hanya berolah raga untuk lengan-lenganmu? Bisep, pantatku.” Dia menggeram keras  padanya dan dengan sombong  berjalan  mendahuluinya menuju ke pemberhentian bus.

Aish, wanita ini. Dia benar-benar memintaku yang terburuk. “Aku seharusnya menanyakannya terlebih dahulu sebelum mengusir Chanyeol. Aku tidak akan melakukan ini jika aku tahu.” Gerutunya pada dirinya sendiri tapi meskipun demikian, dia mempercepat kecepatannya untuk menyusul wanita tersebut.

Ini perjalanan yang mengenakkan walau begitu, dia akan mengatakan. Tentu saja mereka tidak bisa lepas dari percekcokan kekanak-kanakan mereka karena kata-kata iri hati  mereka terhadap satu sama lain tapi  baik untuk sekali, saling bertemu di luar Okinawa. Hana terlihat berbeda dengan pakaian kantornya. Dia terlihat lebih dewasa dan profesional dari pada wanita yang dia lihat selama pernikahan.

Baekhyun pikir Hana tidak akan kehilangan apapun untuk tidak memiliki Jongin. Dia baik-baik saja sendiri.

Ketika Hana menginformasikan dia bahwa mereka harus mencapai kantornya, dia ingin tahu kenapa mereka tidak berjalan sampai pintu masuk tapi Hana mengalahkannya sebelum dia bisa menanyakannya. “Jinae akan panik jika dia melihatku bersamamu ketika aku pergi makan siang dengan Minseok.”

“Kenapa tidak? Kau mungkin terlihat seperti seorang gadis pada umumnya tapi kau pasti akan mempermainkan  ‘perasaan’ banyak laki-laki. Kau pemain.”

“Kapan aku mempermainkan? Jika kita bicara tentang pemain disini, jelas-jelas itu kau. Wajahmu saja memperlihatkan semuanya.”

Baekhyun tidak bisa memberikan  serangan balasan untuk itu. “Terserah. Bisa pinjam ponselmu sebentar?” tanyanya.

“Kau tidak punya ponsel?”

“Bisakah kau berhenti menanyakan begitu banyak pertanyaan dan biarkan saja aku?”

Dengan gerutuan, Hana meraih ponselnya yang ada dalam tas tangannya dan memberikannya pada Baekhyun. Baekhyun menelpon nomor yang familiar dan mereka berdua menunggu dengan sabarnya sampai receiver menjawab tapi terkejutnya Hana, sebuah ringtone terdengar. Menjadi Baekhyun yang mischievous, dia bertingkah seolah lega yang mana tidak mengesankan Hana sama sekali.

“Ada di sini. Kupikir aku kehilanganya untuk sesaat.” Dia mengeluarkan ponselnya dari saku belakangnya.

Hana pura-pura tertawa dan berkata, “Cara mendapatkan nomor seorang gadis. Aku akan masuk. Aku sudah terlambat. “ dia berbalik menuju gedung.

“Yakinlah kau menelponku.” Baekhyun mengingatkan dia.

Hana membalikkan tubuhnya untuk menghadap padanya dan berjalan mundur darinya. “Kenapa aku harus?”

“Kau ingin tahu satu fakta? Ada kurang lebih 10 juta yang tinggal di Seoul dan aku bertemu dengan banyak orang setiap hari tapi tidak sekalipun aku bertabrakan dengan mereka lagi selama aku mengingatnya. Bagaimana ini mungkin bahwa aku bertabrakan dengan seseorang yang kutemui di Okinawa sekarang di Seoul?” dia memicingkan  kedua matanya  menggoda, bersamaan dengan senyuman mischiecous padanya sambil dia mengatakan itu. Itu akan membuat seorang gadis merona tapi tidak berhasil bagi Hana, pastinya dari  tatatapannya.

Dia kebal  terhadap Baekhyun, dia berpikir begitu.

Hana hampir meringis pada pernyataan itu dan wajahnya. “Kau konyol sekali.” Dia tertawa dengan pahit  pada hal itu saat dia berpamitan padanya dan bergegas masuk ke dalam gedung kali ini sungguhan.

TBC

Sorry, bahasa makin berantakan. Please leave some comments after reading the story, and i hope u like it.

Advertisements

7 thoughts on “The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 10

  1. Cieee baekhyun, modus demi nomor ponsel, modus mau satu kendaraan bareng eh malah naik bus haha, konfliknya belom keliatan ah, kayaknya minseok tertarik dengan Hana 😏
    Jujur masih agak bingung nentuin ini percakapan bagiannya siapa, kedua kali baca baru ngeh itu part siapa muehehehe kelamaan gk baca fanfic ya gini efeknyaaa 😭
    Ugh maaf kan aku

    Like

    1. tsk, atas kan ada tulisan ‘baekhyun’ di garis bawah, so mungkin ini pov nya si bebeb, yeah, modusnya kuno wkwkwk…. mungkin kalo doi minta nmr secara lngsung takutnya kagak di kasih kali hehehe…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s