Mr Balcony |Chapter 6

tumblr_ntqnr7blsh1suyhhho1_1280

Tittle       : Mr  Balcony ( Chapter 6)

Author    : PJ

Cast         :

  • Kim Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Park Chanyeol
  • Other member of EXO

Lenght     :  Chapter

Genre      :   Romance

Rate         : PG -17

Poster  : cr. exoplosion

NOTES  :  Anything  that  seems similiar  to other stories is  pure  coinsidence. This  story  is  purely  my  own  idea  and  i do  not  own  anything  except  for  the OC  and  story. PLEASE  DON’T  PLAGIARIZE  OR  STEAL  in  anyway. Have  fun reading  and  enjoy !

Summary  :  Kim  Hana ( 29) seorang  wanita  karier  yang  polos  yang  tidak  pernah  berkencan  dan  berinteraksi  dengan  laki-laki  seumur  hidupnya. Hidupnya  berubah  saat  dia  bertemu  dengan  seorang  laki-laki , Byun Baekhyun (26) yang  tidak  sengaja  masuk  kedalam  apartemennya  lewat  balkon  karena  melarikan  diri  setelah  kepergok  berselingkuh  dengan  kekasih  orang (yeoja apartemen  sebelah).Sejak  saat  itu Hana  merasakan perasaan  yang belum  pernah  dia  rasakan, yaitu  fall in love with  Baekhyun .

First Encounter | Why i got you in my mind? |Confession |Ignorance and Awkwardness |Friends? |

HAPPY  READING  !!!!

 

Chapter 6!

First Gift

I ‘ll  never  feel  this  way  since  i  met  you

You’d  changed  my  world

I  love   you ,  ‘cause  you  are  amazing

Just  the  way  you  are

 

“Aku tidak tahu kau ternyata berteman dengan Park Chanyeol. Apa kau tahu apa yang dia lakukan di saat sekolah menengah, Hana? He’s unbelieveable.” Baekhyun cekikikan, bayangan memori-memori mereka terdahulu terlintas di benaknya, membuat dia tersenyum senang. “Dan ternyata sekarang dia sudah menikah. Betapa tahun berjalan begitu cepat, tidakkah kau pikir?” tanya Baekhyun, yang dijawab oleh keheningan.

Baekhyun baru menyadari kalau sedari tadi dia bicara sendiri, tidak ada Hana di sekitarnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencarinya. “Eh? Di mana dia?”

Baekhyun memutar tubuhnya kembali ke arah semula dan mulai menyusuri jalan yang dia lalui tadi sambil mengedarkan pandangan matanya pada sekitarnya. Untuk beberapa menit dia berjalan, dan akhirnya dia melihat figur seorang wanita yang familiar sedang jongkok di depan Petshop. Sepertinya, wanita itu sedang bermain-main dengan seekor hewan, jika dilihat Baekhyun seperti itu.

“Akhirnya, kutemukan kau, Hana.” Gumamnya, setelah mengenali  wanita yang dia lihat di depan Petshop itu. Laki-laki itu berjalan mendekatnya.

“Eew, cutenya.” Gumam Hana, kedua matanya melekat pada seekor anak anjing pomeranian putih yang lucu yang mengibas-ngibaskan ekornya, bagaimanapun senang bahwa seseorang telah memperhatikannya. Senyuman mengembang di wajah wanita itu di saat dia membelai dengan halus kepalanya. Anak anjing itu menyodorkan mulutnya pada telapak tangan Hana dan mendesah dengan senang. Rasa senang meledak dalam dada Hana sambil dia tertawa kecil, semua pikiran-pikiran tentang Baekhyun tiba-tiba saja muncul di benaknya. Bagaimana  tampang lucu hewan yang ada di depannya mengingatkannya pada laki-laki itu. Senyuman mata sipitnya yang seperti bulan sabit, pipinya yang menggembung disaat dia mengerucutkan bibirnya cemberut, dia menyukainya, menyukai semua tentangnya. He’s so cute, i love him.

“Yah!”

Suara yang familiar terdengar di telinganya. Dia tidak berbalik, tetap memasangkan pandangan matanya pada hewan yang ada di depannya. “Hm?” gumamnya.

“Yah! Hana!” panggil Baekhyun lagi, cemberut ketika dia melihat bagaimana terkesimanya Hana dengan anak anjing itu. Dia tidak tahu bahwa wanita itu sangat menyukai binatang kecil itu dan bagaimana perhatiannya ditumpahkan pada hewan itu. Bagaimana dia menarik perhatian wanita itu lagi? Dia tidak tahu harus melakukan apa.

“Kau menyukainya?” pertanyaan itu dengan sukses membuat Hana menolehkan wajahnya pada laki-laki itu, tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.

Ah, dia menyukai hewan itu. “Apa kau akan berlama-lama jongkok di situ? Kau tidak akan kembali ke kantor?” tanya Baekhyun pada Hana, ikut memandang hewan kecil itu, dan jujur saja dia menyukai  anjing, dan dia mempunyai satu ekor, di rumah lamanya.

“Hewan ini mengingatkanku pada vivi. Sayangnya dia sudah mati  waktu aku masih kecil.” Kata Hana, mulai berdiri dan berjalan pelan meninggalkan Petshop itu. “Apa kau tahu? Berapa lama aku bisa menghilangkan rasa sedihku karena kehilangan dia?” tanya Hana.

Baekhyun menggelengkan kepala, “Tidak tahu.”

“Dua tahun. Butuh dua tahun untuk move on.”

“Apa kau ingin mempunyainya lagi?” tanya Baekhyun, berjalan beriringan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Aku tidak tahu. Mungkin tidak, sejak aku sekarang sibuk bekerja dan tidak punya waktu yang cukup untuk memeliharanya.” Hana menjelaskan, dia mendesah dengan berat sebelum berkata lagi, “Tapi kadang aku ingin mencobanya lagi.” Katanya, menolehkan wajahnya untuk melihat Baekhyun dan tersenyum.

***

Diluar sudah mulai gelap, dan sedikit berangin. Hana bisa mendengar suara gesekan-gesekan ranting-ranting  pohon pada jendelanya disaat dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih. Untuk mengusir udara dingin dan sedikit penat dalam dirinya, dia memutuskan untuk mandi dengan air hangat.

Di saat dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, terdengar suara bel pintunya. “Sebentar!” teriaknya, sambil mengikat kencang tali bathrobe di tubuhnya, menyembunyikan tubuh telanjangnya. Bel pintu itu berbunyi beberapa kali membuat wanita itu mengerang kesal. Sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah itu, dia berjalan cepat menuju arah pintu.

Bel itu berhenti disaat Hana memegang knob pintu dan membukanya. Dan menemukan sosok Byun Baekhyun di depan pintu dengan senyuman mata sipitnya.

“Baekhyun? Ada apa?” tanya Hana padanya, heran. Dia tidak menyangka jika Baekhyun akan berkunjung ke Apartemennya, melalui pintu depan.

“Hai.” Sapanya, “Boleh masuk?” tanyanya pada Hana, dan wanita itu mundur untuk memberi ruang padanya, pertanda dia mempersilahkan laki-laki tersebut masuk.

Baekhyun  menelan salivanya disaat dia memasang pandangan matanya pada raut wajah Hana yang shock. Dengan hanya memakai bathrobe dan rambut yang masih meneteskan air karena habis mandi, dia mencoba yang terbaik untuk tidak melihat pada kaki telanjangnya dan lagi, pada tubuh polos yang berbalut kain bathrobe itu.

Ruangan itu tiba-tiba terasa panas.

“Ada keperluan apa kau kemari, Baek?” tanyanya, melipat kedua tangan di depan dada.

“A-aku –“ dia terbata-bata, “Hey, aku bawakan sesuatu untukmu.”

“Sesuatu?” hana menautkan kedua alisnya.

“Tunggu sebentar.” Baekhyun membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan itu, sesaat kemudian dia kembali dengan membawa sebuah sangkar kecil yang berisi seekor anak anjing. Dia mengeluarkan hewan itu dan menunjukkannya pada Hana. “Aku membawakan ini untukmu. Kau menyukainya?”

Seekor Pomeranian warna putih. Yup, hewan yang dia sukai disaat dia berada di depan Petshop tadi siang.

“Kau mendapatkannya?” tanya Hana, Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. “Dan ini untuk –“

“Ini untukmu. Ini hadiah dariku atas pertemanan kita. Bagaimana, kau menyukainya, kan?” tanyanya dengan antusias.

Absolutely, love it!” jawabnya dengan girang, tapi raut mukanya berubah seketika, “Tapi aku tidak bisa memeliharanya. Aku tidak bisa, Baekhyun.” Jelasnya sambil memberi gestur penolakan dengan kedua tangannya.

Baekhyun memautkan bibirnya cemberut, “Oh, ayolah. Kenapa tidak mau? Aku tahu kau menyukainya, kan? Dia lucu. Kau pasti bisa, aku yakin. Aku akan membantumu, memeliharanya. Jadi aku punya alasan kemari.” Baekhyun membujuknya sambil memberikan senyumannya yang khas itu, dan bagi Hana, dia tidak bisa menolaknya.

“Tapi –“

“Noona~” Baekhyun menempatkan wajah anak anjing itu sejajar dengan wajahnya, dan dia memautkan bibirnya, mencoba terdengar seimut mungkin, seolah puppy itu punya keahlian berbicara. “Aku hanya ingin sebuah rumah. Noona, ayolah, bawa aku bersamamu. Aku tidak akan pipis sembarangan di dalam apartemenmu, aku janji. Baekhyun-Hyung mengajariku segalanya. Please, please~” semakin lama Baekhyun terbawa dengan gaya bicara seperti ini, membuat wanita itu semakin tidak khawatir dengan situasinya sekarang jika dia mengadopsi anak anjing itu.

He’s cute.

“Ambillah. Ini milikmu. Aku akan membantu memeliharanya.” Kata Baekhyun dengan suara normalnya dan menyodorkan anjing itu ke dada Hana, dan wanita itu menerimanya. “Lihat, sepertinya dia menyukaimu.” Katanya lagi, masih melihat padanya dengan tatapan mata senang. Hana sedikit bermain-main dengan puppy itu, dan tanpa sengaja hewan itu menyibakkan kain bathrobe bagian dada yang membuatnya memperlihatkan sedikit belahan dada Hana, dengan tetesan-tetesan air yang terjatuh dari ujung rambutnya yang basah ke bagian tersebut. Dipihak lain, Baekhyun yang melihatnya membuatnya menelan salivanya sebelum dia berdehem dan berpaling , kedua pipinya jelas-jelas bersemu merah. “Kau lebih baik berganti pakaian dulu sebelum kau terkena flu.”

Kedua pipi Hana merona karena merasa malu. Dia baru sadar kalau sedari tadi wanita itu masih memakai bathrobe yang menutupi tubuh telanjangnya. Dia menyodorkan puppy itu kembali pada Baekhyun dan buru-buru menuju ke kamarnya.

Aish, memang apa yang dia bayangkan?

Beberapa saat kemudian

Thanks for the puppy.” Kata Hana di saat dia kembali dengan memakai hotpants dan kaos oversize.

“Sama-sama.” Jawabnya sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya, sepertinya dia baru saja menelpon seseorang di saat Hana masuk ke kamarnya. “Aku lapar. Bisa kau masakkan sesuatu untukku?”

“Kau datang kemari untuk makan?” Hana menuntut, mengiriminya tatapan mematikan. “Biasanya kau yang memasak tanpa kusuruh, kan?”

Baekhyun hanya memutar bola matanya. Ini pasti pertama kalinya dia memintanya.

“Aku hanya ingin mencoba menikmati masakan buatanmu. Itu saja.”

“Well, sorry, tapi aku tidak bisa memasak seenak dirimu, Baek.”

Raut muka Baekhyun berubah. Dia mulai memandanginya dengan kedua mata seperti puppy dan memautkan bibirnya yang membuat wanita itu merinding. Dia meringis  dan mulai berteriak. “Fine! Aish, hentikan pandangan itu! Menyebalkan! Baiklah, aku akan memasak!”

Baekhyun langsung melengkungkan kedua ujung bibirnya ke atas tersenyum. “Thanks.”

“Hanya jangan salahkan aku kalau masakanku tidak enak.” Jelasnya, langsung menuju ke dapur. Untungnya, dia sudah memenuhi kulkasnya dengan semua yang dia butuhkan. Dia meraih panci penggorengan dan meletakkannya diatas kompor. Dia taruh beberapa minyak sayur dan memandang dengan kosong pada telur-telur yang ada di depannya.

“Jangan bilang kau tidak tahu  bagaimana cara membuat dadar telur.” Baekhyun berbicara tiba-tiba di belakangnya, membuatnya terkejut.

“Jangan menilaiku .” gumamnya dalam rasa malu, sementara itu Baekhyun hanya tertawa kecil.

Benar-benar nih anak. “Berikan spatula itu padaku, Hana.”

Wanita itu cepat-cepat meraih spatula dan memberikannya pada Baekhyun. Dia mengamatinya saat laki-laki itu dengan ahlinya memecahkan telur dan meletakkannya diatas panci penggorengan. Baekhyun mulai memasak tanpa kesulitan, karena memang dia sudah ahli dalam hal itu. Dia merasa cemburu melihat betapa terampilnya Baekhyun menggunakan alat-alat dapur, dia seorang perempuan, tentu saja.

“Piring.” Baekhyun memerintah lagi dan dia menurutinya tanpa mengeluh. Baekhyun memindahkan dadar telur yang sudah matang ke atas piring dan mulai menggoreng untuk telur yang berikutnya. Hana mengamatinya dengan rasa penasaran.

“Boleh aku mencobanya?” tanya Hana di saat Baekhyun akan melakukan hal yang sama pada telur ketiga.

“Tentu.” Baekhyun mundur dari depan kompor itu dan memberi tempat untuk Hana. Hana mulai memecahkan telur itu seperti yang Baekhyun lakukan sebelumnya dan menaruhnya di atas panci penggorengan. Dia raih spatula dan menggenggamnya erat-erat, tidak yakin kapan dia akan menggerakkan telur itu atau tidak. Dan tiba-tiba saja dia merasakan sebuah tangan yang memegang pergelangan tangannya dari belakang untuk membantunya, membuat dia sedikit tersentak  akan sentuhannya.

Baekhyun yang melihat reaksi itu hanya tersenyum, dan mulai menggerakkan tangannya yang diikuti gerakan tangan Hana. “Aku akan membantumu,” Bisiknya di telinganya. “Lakukan seperti ini.” Gumamnya cukup dekat disaat dia mengajarinya bagaimana memasak dengan benar. Hana membiarkan dia mengarahkannya. Tubuh mereka secara praktis saling bersentuhan satu sama lain, meski detak jantungnya yang berubah cepat , perhatiannya masih berfokus pada tugas di tangannya. Baekhyun meletakkan satu tangannya pada sisi Hana yang lain membuat dia merasa terpenjara diantara kedua tangannya. Kedekatan semacam ini membuat detak jantung mereka berdua berlomba-lomba berpacu dengan tidak normal, dan hawa panas mulai merayap di sekujur tubuh Hana.

“Aku ingin membaliknya.” Gumam Hana dan baekhyun membantunya mengabulkan keinginannya. Laki-laki itu tersenyum ketika dia mendengar Hana tertawa geli atas  aksinya yang sukses tadi.

Dadar telur itu akhirnya matang dan Baekhyun mengarahkan tangan Hana disaat dia memindahkannya ke atas piring. “Done.” Ucapnya dengan senang akan hasil kerjanya. Hana berbalik untuk menghadapi laki-laki dibelakangnya, dia mematung disaat dia menyadari bagaimana dekatnya mereka berdiri satu sama lain.

Baekhyun mengerjapkan kedua matanya dan begitu juga Hana. Dengan jarak wajah mereka yang hanya beberapa inci, mereka berdua bahkan bisa merasakan terpaan hembusan napas hangat mereka. Laki-laki itu memandang wajah wanita itu dengan tatapan intens membuat detak jantunngnya meletup-letup seperti ingin keluar dari sarangnya. Dan pandangannya terjatuh pada bibir plum nan tipis wanita yang ada di hadapannya. Ada keinginan besar yang muncul dalam dirinya, dia ingin merasakan bagaimana rasanya kedua bibir indah itu, ‘gila, ini memang gila’ itu yang ada dalam pikiran baekhyun saat itu. Dengan insting, dia mulai mencondongkan wajahnya.

Hidung mereka bahkan hampir bersentuhan ketika seseorang berdehem dengan keras, membuat Baekhyun berhenti.

Hana memalingkan wajahnya dengan rasa malu. Dia sangat yakin Baekhyun akan menciumnya tapi seseorang datang padanya untuk menyelamatkannya di menit terakhir. Rasa marah dan senang bercampur jadi satu dalam dirinya. Jujur saja, Hana ingin sekali Baekhyun melakukan hal itu tapi rasa gengsi mengalahkan. Dia dengan jelas mendengar laki-laki itu mengutuk dibalik napasnya karena seseorang yang menjadi cockblocker dan  menghentikan aksinya.

Hana menoleh pada sumber suara itu dan melihat figur seorang wanita setengah tua yang sedang berjalan menghampiri mereka. “Well, well, well, apa yang kudapati di sini? Anak gadisku hampir saja melakukan make-out session,” kata nyonya Kim, kedua mata berbinar-binar dan nada suara yang antusias, membuat kedua wajah mereka merona karena malu. Secara otomatis, Hana dan Baekhyun membuat jarak sedikit menjauh satu sama lain.

Wanita tua itu meletakkan bawaannya ke atas meja makan. Dia melirik pada Baekhyun sebelum  menyapa, “Oh, hai  lovely boy.” Sapanya pada baekhyun yang dengan segera di sambut dengan membungkukkan tubuhnya setengah dengan rasa hormat dan sopan.

“Annyeong haseo.”

Wanita itu tersenyum, “Kurasa waktuku tepat ke sini. Kalian mau makan malam?” tanyanya, mulai membuka kotak plastik berukuran medium. Sepertinya berisi kimchi. “Kubawakan ini, kuyakin kalian pasti menyukainya. Kau suka kimchiguksu, lovely boy?” tanyanya memberi lirikan pada Baekhyun dengan senyuman ringan.

Dengan malu-malu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Baekhyun menjawab, “Y –ye. Aku suka kimchiguksu. Tapi bukan dengan mentimun.” Dia mengatakan kalimat terakhir dengan pelan dan hati-hati, takut menyinggung perasaan wanita tua itu.

“Oh, tenang. Aku juga tidak suka mentimun.” Kata nyonya Kim.

“Eomma~” rengek Hana karena merasa terabaikan.

“Oya, kulihat seekor anjing di ruang tamu. Apa itu milikmu, Hana?” tanya Ibunya sambil menuangkan makanan itu pada sebuah mangkuk besar dan menaruhnya di atas meja makan. Sementara Hana hanya menjawabnya dengan gumaman dan anggukan kepala. “Kau membelinya?” tanya Ibunya lagi.

“Tidak.” Jawabnya singkat. Mereka bertiga mulai duduk di meja makan dan siap untuk makan malam.

“Tidak?”

“Itu hadiah.” Katanya lagi, mulai menggigit kimchi beberapa gigitan. Ibunya, dipihak lain hanya mengerutkan dahinya, Hana melihatnya lalu meneruskan berkata, “Hadiah dari –si lovely boy.” Sambil memberi satu lirikan pada orang yang dimaksud. Mendengarnya membuat Baekhyun sedikit tersedak akan makanannya.

“Aigoo..aigoo…pelan-pelan saja makannya, bisa kan? Kau tidak harus terburu-buru.” Katanya sambil menyodorkan segelas air putih pada Baekhyun dan laki-laki tersebut dengan cepat meraih dan meminumnya untuk menghilangkan sedakannya.

“Oh iya, bagaimana kencanmu dengan Oh Sehun?” lagi, pertanyaan yang meluncur dari mulut Ibunya membuat Baekhyun menyemburkan minuman yang ada di mulutnya. Melihatnya, Hana hanya meringis  merasa tidak enak hati, sebelum dia memberi tatapan peringatan pada Ibunya, sementara itu Ibunya hanya membalasnya dengan tatapan tanya “Apa?”padanya. kemudian, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran, sebelum bertanya pada Baekhyun, “Kau tidak apa-apa, kan?”

Baekhyun menganggukkan kepalanya, berkata, “Tidak apa-apa.”

***

Hana meneguk beberapa susu dari dalam kulkas dan menatap pada langit-langit. Kepalanya dipenuhi dengan kekacauan, hatinya juga, meski sedikit, dan suara berisik dari apartemen sebelah tidaklah membuatnya releks lagi. Apalagi setelah dia menghabiskan waktu istirahatnya untuk mengerjakan tugas yang dibutuhkan besok.

Dia menaruh gelas itu ke dalam wastafel setelah meminum isinya dan kembali ke kamarnya. Masih, suara lenguhan dan rintihan terdengar ditelinganya. Bahkan semakin keras berhubung suasana tengah malam yang semakin sepi membuat suara-suara itu semakin terdengar.

“Apa harus sekeras itu?” keluhnya pada suara-suara itu. Dia tahu persis siapa yang membuat suara yang tidak nyaman ditelinganya. Dia mendesah dengan berat dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang nyaman itu, meski suasana tidak nyaman yang dia rasakan. Setelah menghabiskan beberapa jam berbincang-bincang dengan ibunya, sebelum dia pergi, setelah berdebat dengan Baekhyun yang berkeinginan keras untuk bermalam di tempatnya dan akhirnya dia menolaknya, akhirnya dia hanya mempunyai dua jam untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai tengah malam. Dia ingin sekali tidur dengan nyenyak, sungguh tapi suara-suara berisik dari apartemen sebelah  membuatnya sulit.

Dia bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidur, mencari posisi yang nyaman buatnya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menutupi telinganya dengan satu bantalnya berharap dia tidak akan mendengar suara desahan dan lenguhan dari wanita dan pria yang berasal dari apartemen sebelah. Dan berjalannya waktu akhirnya dia berhasil menuju alam mimpinya.

~~~

Hyejin melenguh disaat dia membalikkan badannya dan melihat jam digital yang berada dekat tempat tidur. Jam 12 tengah malam, tapi wanita itu tidak mengantuk lagi. Dia duduk dengan tegak dan menghapus keringat di dahinya. Dia merasakan sakit, sangat mengerikan tapi juga aneh. Hyejin benar-benar merasa baik-baik saja ketika dia tidur beberapa malam sebelumnya. Dia membaringkan tubuhnya lagi berharap perasaan itu akan menghilang dan dia akan tertidur kembali. Tapi yeah, itu harapannya, tentu saja itu tidak terjadi.

Wanita itu bergerak gelisah di atas tempat tidur sepanjang waktu. Dia membalikkan tubuhnya dari sisi ke sisi lain, berulang beberapa kali, dan akhirnya kembali seperti posisi semula karena hanya menjadi semakin buruk. Dia mendengar suaminya  mengerang disampingnya jadi dia mencoba sedikit diam untuk sesaat karena dia tidak ingin membangunkan suaminya ditengah malam. Laki-laki itu bisa menggunakan waktu tidurnya lebih dari apapun.

“Hyejin-ah?” gumamnya saat dia menghadapinya, mata setengah terbuka. Hyejin memautkan bibirnya dan memberinya tatapan menyesal.

“Maaf, Honey.” Katanya sambil meringis menahan rasa sakit yang kembali lagi.

“Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol. Dia mencondong lebih dekat padanya dan menaruh punggung tangannya pada dahinya. “Sweetie, kau berkeringat. Apa kau merasa sakit?” Hyejin mengangguk pelan sambil memegang perutnya. “Aigoo…” gumamnya disaat dia mengusap-usap punggung istrinya dengan tangannya. “Kau seharusnya tidur yang lebih, kau akan merasa baikan setelah itu.” Jelasnya tapi wanita itu menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah mencobanya tadi.” Chanyeol menautkan kedua alisnya padanya.

“Berapa lama kau sudah merasakan seperti ini?”

Hyejin melihat pada jam digitalnya. “Sekitar 30 menit yang lalu.”

“Yah! Kenapa kau tidak membangunkan aku?” tanyanya sambil memijit kedua lengan wanita itu dengan lembut.

“Karena aku tidak mau membangunkanmu. Kau tahu kau tidak bisa diganggu ketika kau sedang tidur.” Jelasnya lagi sambil memautkan bibirnya cemberut.

“Tapi tetap saja kau harus membangunkan aku disaat kau seperti ini. Bagaimana jika terjadi apa-apa –“ kalimatnya terpotong setelah melihat ringisan di wajah istrinya yang semakin parah. “Apa sakit sekali?”

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Hmm.” Gumamnya

“Tunggu sebentar, akan kuambilkan obat dan air minum. Tetaplah di sini.” Chanyeol mulai turun dari tempat tidur tapi Hyejin meraih pergelangan tangannya sehingga laki-laki itu menatap padanya.

“Aku tidak mau tinggal di tempat tidur lagi.” Dia meringis dan Chanyeol hanya mendesah.

“Baiklah, kalau begitu mari pindah ke sofa saja.” Hyejin menganggukkan kepalanya saat dia mengikuti Chanyeol dari belakang. Tapi sesegera dia keluar dari kamarnya, dia merasakan mual pada perutnya. Dia membalikkan tubuhnya dan bergegas menuju ke kamar mandi. Kedua kakinya lemas dan dia memuntahkan semua isi perutnya ke dalam toilet. Napasnya tersengal-sengal sesudah memuntahkannya dan memijit kedua matanya yang terpejam.

“Hyejin-ah!” teriak Chanyeol yang berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi khawatir. “Apa kau merasa sedikit lebih baik sekarang?” tanyanya sambil membelai-belai dengan halus rambutnya untuk membuatnya lebih releks.

Hyejin menggelengkan kepalanya dan menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya, ini tidaklah normal. “Honey …” dia melenguh dan Chanyeol duduk didekatnya  sambil melingkarkan kedua tangannya padanya dan mengusap-usap punggungnnya.

“Sebaiknya kita kembali ke sofa. Kau harus minum obat, biar rasa sakitmu hilang.” Dia mengangkatnya dan bersama dengannya, mereka berdua menuju ke sofa dan duduk di sana. Laki-laki itu memberinya obat, Hyejin meraihnya dan meminumnya. “Tidurlah di sini.” Suruhnya sambil menepuk-nepuk pangkuannya menyuruhnya untuk tidur di pangkuannya. Wanita itupun menurut apa yang disuruh Chanyeol,”Apa sudah merasa lebih baik?” tanyanya setelah beberapa saat.

Dengan kedua mata terpejam, dia menjawab.”Hmm, sudah lumayan.”

Mendengarnya, Chanyeol menghembuskan napas lega.

***

KRIIIIING KRIIIIIIIING KRIIIIING!

Alarm di atas nakas berbunyi dengan sangat nyaring sampai memekakan telinga. Hana dengan mata yang masih terpejam membalikkan tubuhnya setengah pada arah sumber suara itu. Dengan tubuh yang berbalut selimut tebal, dia  kesusahan, dan akhirnya membuka matanya sedikit, dan meraih benda yang berbunyi memekakkan telinga itu dan mematikannya.

“Iima menit lagi.” Lirihnya, meminta  pada dirinya sendiri. Dia merasa masih  mengantuk dan dia memutuskan untuk tidur beberapa menit lagi. Tapi aktivitas sehari-harinya sepertinya tidak mentolerir hal itu.

Oh shit!!” Hana terperanjat dan bangun seketika disaat bola matanya tertuju pada jarum jam di sampingnya. Dia tidak ingin terlambat pergi bekerja. Meskipun rasa ngantuk masih dirasakannya, tapi dia harus memaksakan dirinya untuk bangkit dari tempat tidur. Dia segera berjalan menuju kamar mandi. Sebentar kemudian wanita itu keluar dengan handuk putih yang melilit tubuh rampingnya. Segera ia berganti pakaian dan merapikan diri. Jam kamar bahkan sudah menunjukkan pukul 07.30. Hana segera melesat keluar dengan membawa tas dan lain-lain. Bahkan sampai lupa sarapan pagi.

Wanita dengan berpakaian blazer warna pastel itu dengan cepat melangkahkan kakinya menuju pintu apartemennya, tapi terhenti ketika dia teringat  sesuatu.

“Oh ya, kimchi!” sambil mengeklikkan jarinya. Hana teringat pesan Ibunya untuk memberikan satu kotak kimchi yang di bawanya tadi malam untuk tetangganya. Dia tidak tahu untuk tatangganya yang mana, tapi dia berasumsi bahwa Ibunya menyuruhnya untuk memberikan kimchi itu pada Baekhyun, karena dia pernah bilang pada Ibunya bahwa Baekhyun adalah tetangganya.

“Apa aku harus memberikan itu padanya?” gumamnya ragu, tapi dia bahkan tidak tahu dimana Baekhyun tinggal.

Dia membalikkan tubuhnya kembali menuju dapur dan mengambil kimchi itu dari dalam kulkasnya, dan berjalan lagi menuju pintu apartemennya. Dia tidak ambil pusing dimana Baekhyun tinggal, jadi dia memutuskan untuk memberikannya pada tetangga sebelahnya. Meskipun dengan berat hati. Lagi pula, dia ingin membuktikan rasa penasarannya pada gadis yang Baekhyun sukai itu.

Dengan langkah ragu-ragu, dia akhirnya berada di depan pintu tetangganya. Dengan ragu pula dia ingin mengetuk pintu itu tapi akhirnya melakukannya juga.

Tok. Tok. Tok. Tidak ada jawaban.

Dia melakukannya untuk kedua kali. Dia menunggu, dan dia mendengar samar-samar seseorang berteriak ‘sebentar’ dari arah dalam apartemen itu, suara seorang perempuan, dia yakin. Sesaat kemudian, pintu itu terbuka, dengan sosok seorang perempuan yang dilihat dari penampilannya, seorang itu baru saja habis mandi.

“Hai.” Sapa Hana padanya, sedkit canggung.

“Hai.” Sapa gadis itu pada Hana, dengan masih membenahi tali bathrobe yang melilit tubuhnya, rambutnya yang panjang yang masih basah, masih meneteskan air. Sepertinya Hana membuat gadis itu buru-buru mengakhiri mandinya, mungkin itu yang Hana pikirkan.

“Hmm…” Hana menggaruk tengkuknya merasa canggung, “Ibuku menyuruh untuk memberikan ini padamu.” Dengan tersenyum tipis, Hana menyodorkan kotak plastik berisi kimchi pada gadis itu. Sementara gadis itu menerimanya dengan tatapan bingung.

“Terima kasih kimchinya. Oya, bagaimana dengan kotak –“ kalimatnya terpotong karena sebuah suara yang berasal dari dalam kamar.

Apa kau lihat kemejaku?” sebuah suara yang sangat familiar bagi Hana, dan Hana takut untuk mengakui bahwa suara itu adalah-

Byun Baekhyun.

Hana melihat figur seorang laki-laki bertelanjang dada muncul dari dalam kamar dengan hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, mengeksposkan dada polosnya. kelihatannya laki-laki tersebut juga baru saja habis mandi.

Laki-laki itu, Byun Baekhyun, tersentak, kaget dan langsung menghentikan langkahnya ketika dia melihat Hana bersama dengan pemilik apartemen itu.

Hana mengalihkan pandangannya dari Baekhyun ke gadis itu lagi. Mereka berdua terlihat baru saja habis mandi.

Mereka berdua mandi bersama? Apa mereka berdua yang tadi malam membuat suara berisik yang membuatku susah tidur?

Memikirkan hal itu, entah kenapa ada perasaan marah dan sedih membuncah dalam dirinya. Dadanya  terasa sesak dan ingin menangis. Meski Hana tahu mareka mempunyai hubungan khusus, tapi dia berharap tidak melihatnya sendiri.

“Se-sebaiknya, a-aku pergi dulu. Aku sudah terlambat.” Kata Hana dengan gugup, raut muka sedih. Tanpa pikir panjang, dia melesat keluar dari apartemen itu tanpa berpamitan dengan tangan membekap mulutnya, menahan isakan tangis keluar dari mulutnya.

***

 “Shit, shit, shit!” hana mengutuk sepanjang jalan setelah apa yang dia lihat tadi di tempat tetangganya.

Hana  sudah tahu kalau hal itu mungkin memang terjadi setiap kali berhubung Baekhyun sering kali menghabiskan waktunya bersama seseorang yang dia cintai. Tapi kenapa baru sekarang hatinya terasa sakit melihat mereka berdua dengan kedua matanya sendiri? Ini sangat menyakitkan sampai tidak tertahankan. Tanpa disadari, pandangan matanya berkaca-kaca, entah sejak kapan air mata itu  terbentuk di kedua matanya.

Seharusnya aku menolak permintaannya. Yang dia maksud mungkin disaat Baekhyun memintanya untuk memulai sebagai teman terlebih dahulu.

Seharusnya memang aku harus menghindarinya sejak awal. Karena dia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan.

Seharusnya aku tidak menyukainya. Tapi mungkin takdir tidak berkata seperti itu.

Dengan berbagai macam pikiran yang mengganggu benaknya, tanpa disengaja salah satu heelnya tersangkut pada lubang kecil penutup gorong-gorong dan hampir membuatnya terjatuh disaat berjalan.

Oh great!” teriaknya frustrasi. Dia berusaha melepaskan heelnya itu tapi kelihatannya sulit. Hana memaksa mengeluarkan sepatunya dari jepitan lubang kecil itu tapi karena paksaan itu membuat heel itu terlepas dari sepatunya dan membuatnya rusak.

“Oh bagus! Sekarang apa?! Apa aku harus memakainya hanya sebelah?!” teriaknya sambil menatap sepatunya yang patah dengan tidak percaya. Untung saja jarak kantornya dengan tempat dia berada sekarang hanya beberapa meter. Dia melepas stelettonya yang satunya membuatnya berjalan dengan kaki telanjang. Dia menjinjing sepasang stelettonya seperti seekor kepiting, dengan raut muka yang cemberut, berjalan memasuki gedung dimana dia bekerja.

“Good morning, Hana!” sapa Jongdae, salah satu teman kerjanya.

“Good morning, Jongdae.” Hana balas menyapanya, suara lemah dan raut muka cemberut.

“Yah, ada apa dengan raut muka itu? Kau lagi PMS?” tanya Jongdae dengan jenaka, Hana hanya menyebikkan bibirnya sebagai respon. Laki-laki tersebut melihat Hana yangberjalan dengan kaki telanjang dengan tangan yang menjinjing sepatunya, membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

“Yah! Apanya yang lucu?!” Hana memukul lengan laki-laki itu dengan jenaka mencoba untuk menghentikan tawanya, tapi malah semakin keras. “Apa kau percaya setelah kau melihat sesuatu yang tidak sopan membuat harimu sial?”

Pertanyaan itu membuatnya berhenti tertawa. Dia mengedikan bahunya dan berkata, “Aku tidak tahu itu.”

But i did! Aku –aku melihat sesuatu yang –“ dia membayangkan seolah dia melihat a couple having sex di depannya, membuatnya mengerang kesal, “Aarrggh! Ah, sudahlah. Aku tidak mau membayangkannya!” teriaknya kesal, sambil menghentak-hentakkan kakinya dia menuju meja kerjanya, sementara Jongdae, dipihak lain hanya mengedikkan bahunya tidak mengerti.

Tanpa mereka sadari, ditempat lain tidak jauh dari tempat mereka, ada seorang yang dari tadi memperhatikan mereka berdua. Raut muka senang terplester di wajahnya setiap kali melihat aksi mereka yang terkadang membuatnya menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Tidak lain dan tidak bukan, laki-laki itu adalah Manager mereka, Oh Sehun.

Laki-laki tersebut merogoh ponselnya yang ada dalam sakunya, dan menghubungi seseorang. “Noona, tolong kirim steletto keluaran terbaru kemari.” Katanya pada receiver.

Yah, Sehun-i, kenapa kau memesan steletto? Apa itu untuk kekasihmu?” tanya receiver itu dengan canda.

“Sudahlah Noona, jangan banyak bertanya. Kirimkan saja barang itu kemari. 10 menit.” Kata Sehun lagi.

10 menit? Yang benar saja?! Yah! Sehun-i. Aku noonamu, bukan pelayanmu, apa kau lupa?” teriak receiver itu dengan kesal. Sementara laki-laki tersebut hanya memutar bola matanya.

“Karena kau noonaku, makanya aku minta tolong padamu. Baiklah kalau begitu, 15 menit barang itu sudah sampai ke sini. That’s final.”

Aish, anak kurang ajar ini. Kenapa sifat Eomma ada padamu?” gerutunya, yang dengan jelas terdengar oleh Sehun sendiri.

“Tentu saja karena aku anaknya!” Sehun balas berkomentar, dia mendesah dan meneruskan berkata. “Steletto keluaran terbaru dengan ukuran –“ dia berhenti sejenak, berpikir kira-kira berapa ukuran kaki Hana. Oh, apa aku bicara tentang Hana adalah wanita yang dia maksud? Tentu saja, untuk siapa lagi steletto itu? “Kira-kira sama dengan ukuran Noona.” Katanya lagi.

Apa aku harus menambahkan  sesuatu yang lain? Maksudku, kalimat  atau apa?” tanya receiver itu .

“Tidak perlu.” Jawabnya, bernapas lega. Akhirnya mereka tidak lagi berdebat. “oya, satu lagi.”

Apa lagi, Sehun-i?” tanya receiver itu dengan kesal.

“Gomawo, noona. Saranghae.” Ucap Sehun dengan senang sebelum dia mengakhiri telponnya. Dan dia bisa membayangkan receiver itu memutar bola matanya padanya.

***

Seperti biasanya, ‘Tiga Serangkai’ Park Chanyeol, Shin Hyejin a.k.a Mrs. Park dan Kim Hana sedang makan siang di Restoran yang sama dan waktu yang sama yaitu jam istirahat kantor. Chanyeol sebisa mungkin menyempatkan dirinya untuk selalu makan siang bersama mereka, berhubung dia bekerja sebagai Komposer di Gedung S.M Entertainment yang tidak jauh dari gedung kantor dimana kedua wanita itu bekerja. Atmosfer di Restoran itu sangat nyaman, damai dan sempurna saja untuk melakukan sedikit bincang-bincang.

“Kau tahu, salah satu BoyBand dari perusahaanku akan mengadakan konser besar minggu ini.” Kata Chanyeol, mengalihkan pandangan matanya pada Hana dan Hyejin bergantian. “Kalau kalian berminat, aku bisa mengusahakan tiket untuk kalian.”

“Kau tahu kalau aku tidak suka BoyBand, Yeol.” Ucap Hana setelah menelan makanannya. “Kau tahu kalau aku lebih suka musik western dari pada –“ belum sampai Hana selesai bicara, Chanyeol sudah memotongnya.

“Ya, ya, aku tahu. Karena kau tidak kenal mereka, makanya kau tidak suka,” sahut Chanyeol, memutar bola matanya malas sebelum  dia meneruskannya lagi. “Apa kau tahu pepatah ‘tidak kenal maka tidak sayang?’ mungkin itulah yang kau alami, Hana. Kadang kau harus mencoba menerima pendapat yang lain.”

“Baiklah, baiklah. Itu benar! Tapi apa kau lupa kalau aku punya penyakit trauma sama kerumunan ribuan orang, Yeol?” jawab Hana tidak mau kalah.

“Aku tahu, jangan khawatir. Aku bisa memesan tiket vip, dengan begitu kau tidak berada di kerumunan banyak orang.” Jelas Chanyeol, tersenyum. “Aku yakin kau akan menyukainya.”

“Ajak saja salah satu dari priamu, Hana?” tanya Hyejin tiba-tiba, membuat Hana tersedak dengan makanannya. Entah kenapa tersedak  menjadi salah satu hobinya akhir-akhir ini.

Hana melototkan kedua matanya lebar pada Hyejin, setelah itu memautkan bibirnya cemberut, “Dari mana datangnya ide itu?” Hana balas bertanya sambil mencebikkan bibirnya.

“Wow, aku tidak tahu kau memiliki banyak pria. Apa aku kenal salah satu dari mereka?” tanya Chanyeol pada Hana, dan sekali lagi pertanyaan itu membuat Hana tersedak makanannya sendiri, lagi. “Aku tidak tahu kenapa  ternyata tersedak sekarang menjadi hobimu, Hana.”

“Karena kau bertanya hal-hal yang membuatku tersedak, bodoh.”

“Aku berasumsi aku mengenal salah satu dari mereka, bukan begitu?” Chanyeol berkesimpulan disertai tersenyum menggoda.

“Tidak, tidak! Bukan begitu! Maksudku –“

“Ada yang mencurigakan di sini. Apa aku mengenalnya juga, Hana?” tanya Hyejin bergabung, membuat Hana tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak ingin memberitahukan pada mereka kalau Mr Balcony yang mereka kenal adalah Baekhyun. Wanita itu tidak bisa membayangkan jika mereka tahu kalau dia menyukai teman lama Chanyeol. Dia pasti akan mengejek atau mengolok-olok berhubung dia mengetahui masalah kehidupan cinta laki-laki itu sejak awal, dan sampai sekarang jika Hana berasumsi seperti itu.

“Aku tidak bisa mengajak salah satu dari mereka.” Hanya itulah yang keluar dari mulut Hana. Menghindari pandangan mereka berdua, Hana merunduk kembali memfokuskan lagi pandangannya pada makanannya yang ada di depannya. Tapi dia jelas-jelas mendengar bisikan mereka berdua ‘kita harus mendiskusikan ini nanti di rumah, honey’. Dan Hana tahu apa arti dari kalimat itu, yang berarti mereka mulai menerka jika dugaan mereka benar.

“Sudahlah, yang penting kita bisa bersenang-senang nanti.” Kata Hyejin, disaat pelayan membawa makanan pesanannya. Dia memesan Carbonara, menjadi salah satu makanan Itali favoritnya.

“Bon appetit.” Kata pelayan muda itu, tersenyum. Hyejin menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan sopan. Chanyeol melihat pada Hyejin dengan bengong.

“Apa dia baru saja tersenyum padamu?” tanya Chanyeol.

So, what? Aku tidak akan menikahi dan punya anak dengannya.” Jawab Hyejin dengan dingin. “Ngomong-omong, itu memberitahukanku bahwa aku masih mempesona tanpa sebenarnya mencoba, setelah beberapa tahun.”

Chanyeol masih saja belum mengerti pada omongan Hyejin. Dia menatap Hana, tapi wanita itu sibuk pada makanannya. “Pura-pura saja ini tidak pernah terjadi.”

Hyejin diam-diam tersenyum, mendapati bagaimana imutnya suaminya yang sedang cemburu. Disaat dia baru akan mengambil beberapa gigitan pada makanan enak di depannya, bau makanan itu mengganggu hidungnya, membuat dia menjatuh kan garpunya ketika dia buru-buru menuju toilet dengan tangan yang membekap mulutnya. Makanan enak itu membuatnya sakit. chanyeol dan Hana langsung menghentikan aksi mereka dan melihat pada Hyejin yang berjalan terburu-buru sebelum menghilang dari pandangan mereka. Mereka berdua terdiam, hanya saling memandang satu sama lain dengan ekspresi wajah yang bingung.

“Apa makanannya tidak enak?” gumam Chanyeol, memecah kesunyian. Hana meraih garpu dan mencoba menyicipi makanan tersebut, tapi untuk rasa ketidak percayaan  mereka, makanan itu lebih dari enak. Hana merasakan makanan itu dan langsung tersenyum.

“Makanan ini lezat, dan begitu juga baunya. kurasa bukan ini yang membuatnya sakit.” Hana memberinya diagnosa yang profesional berdasarkan sedikit investigasi yang dia lakukan.

“Oh,” seru Chanyeol ketika dia melihat figur istrinya yang kembali ke tempat duduknya. “Apa kau baik-baik saja, sweetie?”

“Aku pasti sudah memakan sesuatu beberapa hari yang lalu  dan sekarang membuatku sakit. jadi, kurasa aku harus meninggalkan kalian sendirian. Kuharap kalian tidak keberatan?” kata Hyejin.

“Tidak, tidak. Pergilah dan beristirahatlah. Dan kabari kami tentang kondisimu, okay?” kata Hana meyakinkan, tersenyum dengan asli. Chanyeol mengangguk setuju.

“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat dan meminum obat.” Kata Hyejin. “Maukah kau mengantar Hana, honey? Antarkan dia kembali ke kantor.”

“Kau bisa menyetir sendiri? Aku bisa mengantarmu pulang.” Kata Chanyeol, merasa khawatir tentang istrinya. Hyejin mengangguk dengan tersenyum lemah.

“Hanya, nikmati makan siang kalian, aku bisa pulang sendiri. Tolong pamitkan aku pada Tuan Manager, Hana.” Hana mengangguk, Hyejin  mencium pipi suaminya dan melambai pada mereka sebelum melangkah keluar.

~~~

Tepat setelah memasang sabuk pengaman pada tubuhnya, Hyejin menempelkan dahinya pada stir mobil. Menghembuskan napas dengan dalam, dia menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan bergerak meninggalkan tempat itu. Mengendarai menyusuri jalan-jalan, dia berhenti di toko obat untuk membeli obat. Sambil membayar obat itu, dari ujung matanya dia melihat alat test kehamilan. Dia membeli dua tipe, hanya untuk memastikan  pikiran  itu. Setelah membayarnya, dia menggerakkan lagi mobilnya menuju apartemennya. Melepaskan sepatunya di koridor, cepat-cepat dia bergegas menuju kamar mandi.

‘Okay, aku tahu ini tidak bisa menjadi alasan aku sakit, tapi aku ingin kepastian. Kau bisa melakukan ini, Hyejin. Kau bisa melakukan ini.’

Dengan kedua tangan yang gemetar, dia mengambil satu alat tes itu dan mengikuti petunjuk pemakaian.

“Oh Tuhan, kenapa aku gugup sekali? Tidak ada alasan menjadi gugup, kan? Ini hanya sakit, dan bukankah terlambat datang bulan pernah terjadi sebelum.” Hyejin merasa ketakutan, dan dia paling menyangkal akan kemungkinan.

‘Tinggal dua menit lagi.’

“Tapi … bagaimana jika benar? Bagaimana reaksi Chanyeol nanti?” Hyejin ingintahu, bersandar pada dinding kamar mandi yang dingin sambil menunggu hasil yang muncul.

“Reaksi apa?” tanya Chanyeol yang tiba-tiba saja muncul, membuat Hyejin gugup.

“Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau dengan Hana? Kau sudah mengantarnya?” tanya Hyejin dengan gugup, mencoba mengubah topik pembicaraan.

“Hana sangat khawatir padamu, jadi dia menyuruhku untuk melihatmu. Dan jangan khawatir, aku sudah mengantarnya ke tempat kerjanya dan menelpon bosmu karena kau pulang lebih awal.” Jawab Chanyeol, mencium keningnya. “Sekarang, kenapa kau takut tentang reaksiku? Reaksiku pada apa?” Hyejin menunduk menatap pada lantai dingin itu, sambil  memainkan jemarinya.

“Bisa beri waktu sebentar?” Chanyeol mengangguk, sementara Hyejin tersenyum ketika laki-laki  itu meninggalkannya sendirian di kamar mandi. Dia mengunci pintu itu dan bersandar sebelum menarik napas dalam-dalam dan menghadapi kebenaran. Dia sudah berasumsi bahwa Chanyeol sudah tahu akan hal ini sekarang.

‘Positif. Ini positif. Aku hamil. Oh my God, aku hamil.’

Wanita itu merasa senang, dan juga sedih disaat yang bersamaan. Perasaannya campur aduk. Dia merasa belum siap, berkebalikan dengan Chanyeol yang memang sudah menginginkan hal ini. Tapi dia harus menghadapi kenyataan. Mendesah, dia membuka pintu itu untuk menghadapi Chanyeol yang sudah menunggunya di depan kamar mandi sedari tadi. Melihat ekspresi sedikit khawatir pada wajah istrinya, dia sudah menduga apa yang terjadi. Melainkan bicara, Chanyeol tersenyum dengan senang dan memeluk istrinya erat-erat.

“Honey, aku …”

“Sssh, jangan katakan apapun, Sweetie. Aku sudah tahu.” Dia mencium dahinya beberapa kali dan menghapus air mata yang entah sejak kapan keluar dari kedua mata Hyejin. “I love you, Sweetheart.” Kedua matanya penuh dengan kebahagiaan. Hidupnya akan semakin sempurna dengan adanya calon juniornya.

 

NOTE : UNFINISHED…

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Mr Balcony |Chapter 6

  1. Entah kenapa aku ngerasa kk nulis ini terlalu terburu-buru, benarkah??
    Aku ngerasa kurang fell kak, but over all, very good 👍
    Itu kenapa sie daddy demen banget bikin hana bad hurt?! 😞
    Aseek ada mas chanyeol junior nie kkkk~ eh, tapi tapi kenapa hyejin gak mau punya anak dulu kak?? Dede sehun, cuma bentar nongolnya haseemm ‘.’
    Ditunggu kak, kelanjutan episode selanjutnya hahhaa semangat yah kak 😚😘😘
    Ps : sssstt,, besok aku mau jemput daddy yeeyy!! 😄😁😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s