The Pathetic Ex-Lovers Club|Chapter 11

bYIm7jP

Tittle     :  THE PATHETIC EX-LOVER’S CLUB (Chapter 11)

Author  :  PJ

Cast       :

  • Oh Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • KAI /Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Fluff and Romance

Poster : kristal15/ TMLGS

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. Ini hasil  translitanku  yang kedua dari  fanfic  favorite ku ‘ The Pathetic Ex-Lover’s Club  by angelb2uty ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/1138561/11/the-pathetic-ex-lovers-club-fluff-romance-originalcharacter-exo-baekhyun

Previous chapter

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 11

Fate, again?

 

Seharusnya sudah kuduga Jinae akan melompat padaku di momen aku kembali ke kantor. Memikirkannya, itu menyesakkan dengan segala pertanyaan yang dia hujankan padaku, itu terasa seperti sebuah mimpi buruk. Dari “Bagaimana?” sampai “Apa yang kalian bicarakan?” sampai “Bagaimana menurutmu?” sampai terbawa ke pertanyaan “Apa dia mengantarmu kembali? Aku tidak melihat mobilnya.”

“Tidak. Aku kembali kemari sendiri.”

“Kenapa tidak? Aku yakin dia menawari tumpangan jadi ada apa denganmu?” tanyanya, tidak senang dengan jawabanku.

“Coffee shopnya ada di arah lain. Bagaimana aku bisa membuatnya menyetir kemari dan menyetir kembali dengan dua kali jarak?”

“Kau membuatnya terdengar seperti dia harus mengantarmu berjalan kaki kemari.” Jinae memutar bola matanya pada alasanku tapi dia tidak mengatakan apapun karena sebenarnya aku tidak membuat alasan yang tidak masuk akal. “Jadi, apa kau mengatur makan siang lainnya, mungkin?”

“Tidak.” Wajahnya langsung terjatuh ketika dia mendengar itu. “Tapi aku janji untuk mengunjungi tokonya suatu saat.”

Wajahnya terlihat cerah sekali, aku tidak punya hati untuk mengatakan padanya bahwa aku tidak merasakan apapun yang dia harapkan padaku untuk rasakan setelah bertemu dengan laki-laki ini untuk satu kali. “Ini akan berhasil. Aku punya perasaan yang kuat ini akan berhasil. Aku sangat senang.” Dia berbunyi  seperti seorang fangirl yang baru saja menerima satu tanda tangan dari idolanya.

“Bisa aku kerja sekarang?”

“Yeah, yeah tentu saja. Kembali bekerja.” Jawab Jinae dan kembali ke tempatnya sambil bergumam sendiri. “Aku tidak sabar untuk menceritakan pada Kyungsoo tentang hal ini.” Dia terlihat  super pusing seperti dialah yang memiliki kencan yang sukses.

Kukeluarkan satu desahan dikala dia pergi dari pandanganku. “Aku sangat bahagia padamu!” tiba-tiba dia kembali dan bicara dengan nada suara yang tinggi yang membuatku sangat shock sebelum dia benar-benar pergi.

“Itu menakutkanku.” Gumamku rendah, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungku yang panik. Kuraih ponselku yang ada diatas meja sebelum duduk dengan nyaman di kursi bulu, mengecek beberapa pemberitahuan baru yang kulewatkan dan setelah kulakukan itu, pikiranku menuju pada suatu tempat yang membuatku penasaran  pada  tambahan kontak baru pada daftar kontakku.

Tidak ada yang ekstra ordinari disaat dia menaruh sebuah nama yang simpel Byun Baekhyun dan menunjukkan satu nomor di bawahnya. Seolah aku akan menghubunginya.

~~~

“Katakan padaku apa yang Jongin lakukan padamu!”

“Dia tidak melakukan apa-apa!”

“Tidak akan apa-apa jika kau menghubungiku ditengah malam sambil menangis meminta pada Eomma!”

Kupukul kepalanya karena suara  kerasnya  yang semakin keras, menggemparkan  seluruh apartemen. Sehun pulang lebih awal malam ini –akhirnya –dan bahkan tanpa menyapa, dia melompat ke sofa disampingku sementara aku sedang mengganti-ganti chanel tv dan menyerbuku dengan pertanyaan.

“Sekarang bahwa aku disini,” dia menutup kedua bibirnya rapat. “Kau tahu aku selalu bisa memberimu satu pelukan jika kau terluka.” Gumamnya.

“Sudah kubilang aku baik-baik saja.” Kudorong dada bidangnya menjauh dariku, kedua mataku fokus pada tv. Sebuah bunyi  yang halus terdengar dan kulihat sehun berakhir dengan terbaring di atas sofa, meluruskan kaki-kaki panjangnya di atas sofa disaat kedua kakinya dengan nyaman berada di atas pangkuanku. “Anak kurang ajar ini.” Kupukul kakinya tapi dia bahkan tidak bergerak sama sekali untuk menyingkirkannya. “Bagaimana pekerjaan?”

“Itulah pertanyaan favoritmu, kan?” dia menguap, bergabung denganku menonton pertunjukan.

“Karena aku telah hidup seluruh  hidupku untuk satu-satunya adik laki-lakiku.”

“Pengertian sekali.” Jawabnya. “Bagaimana Okinawa?”

“Itulah pertanyaan favorit semua orang, kan?” kuulang kata-katanya. “Aku sungguh baik-baik saja, sudah kubilang padamu. Aku bahkan pergi berkencan dengan seorang laki-laki bernama Kim Minseok.”

“Terdengar seperti orang yang brengsek.”

“Kau sungguh  salah.” Protesku padanya. Sejak aku putus dengan Jongin, dia bilang setiap laki-laki didunia ini terlihat seperti orang yang brengsek baginya. Bahkan Kyungsoo tidak lepas dari itu.

Dia orang yang brengsek.”

“Tidak ada yang pernah menjuluki Kyungsoo orang yang brengsek. Jinae akan mengelupas rambutmu jika dia mendengar itu. Dia seorang malaikat baginya.”

“Kenyataan dia seorang malaikat itulah kenapa dia orang brengsek. Lihatlah tingkah nya itu. Dia tidak dapat dipercaya.”

Seperti dialah orang yang dipatahkan hatinya oleh seorang laki-laki.

“Dia benar-benar orang yang baik dan bisa kurasakan dia sedikit tertarik padaku.” Kutunjukkan padanya jumlah ketertarikan Minseok yang mungkin hanya secubitan jariku, memberi alasan bahwa Minseok bukanlah seperti yang dia katakan. Mungkin.

Sehun duduk, menyilangkan kakinya seperti pertama kali dia datang dan melotot padaku. “Jadi, kau bilang kau menyukai Kim Minseok ini.”

“Maksudku bukan seperti itu.” Sangkalku. “Itulah yang membuatnya aneh. Dia sangat baik dan berbicara halus, sangat gentelmen dan juga tampan, tapi kenapa aku tidak merasakannya? Disini?” kuletakkan telapak tanganku pada hatiku. “Aku sangat yakin dengan diriku bahwa Jongin tidak lagi mengefek bagiku lagi. Karena ada satu garis yang  jelas yang menghentikanku sekarang.”

~~~

Hariku dimulai dengan wajah Jinae yang lelah yang jarang bicara sejak kami berjalan keluar dari kantor  dan menuju pada perjanjian   kami di Cafe yang sudah kami atur dengan klien kami. Aku sadar dia bahkan tidak memakan kue yang dia ingin sekali pesan beberapa hari yang lalu dan bermain-main dengan  lapisan  gula  dengan menggunakan garpu.

Kuabaikan dia terlebih dahulu dan menikmati minuman tehku sambil mengeluarkan barang-barangku dari dalam tas, tapi tampang yang dia miliki bukanlah tampang yang diminta untuk tidak diketahui. Dia menungguku untuk bertanya.

“Ada apa?” dan aku benar-benar bertanya.

Dia bahkan tidak ragu untuk menjawab dan aku tahu bahwa aku benar. Aku kenal Uhm Jinae seperti punggung tanganku tapi dia hampir tidak mood meski begitu.

“Kau tahu tentang hari cuti yang kau janjikan padaku setelah kau kembali dari Okinawa?”

Aku pura-pura memberi tatapan lupa ketika aku ingat dengan sangat baik apa yang telah kukatakan. Sekarang bahwa  baru sebentar sejak aku pulang dan sejak dia tidak menyebutkannya sama sekali, kurasa kesepakatan itu tidak lagi berlaku. Jujur saja, kuharap dia tidak akan ingat bahwa tidak bisa kulihat bagaimana aku akan mengerjakan semuanya tanpa dirinya. kau sudah berjanji jadi setujui hal itu.

“Aku hampir lupa.” Aku bilang padanya. “Itukah kenapa kau sedih?” aku penyebabnya?

“Bukan tentang itu.” Dia mendesah. “Kyungsoo tidak mau mengambil beberapa hari cuti saat itu. Dia begitu terbawa pekerjaannya akhir-akhir ini, kau tahu.”

“Bukankah itu bagus?”

“Bagus apanya? Dia melupakan aku!” dia merengek  frustrasi. “Aku mulai berpikir mungkin dia hanya menggunakan pekerjaannya sebagai alasan untuk menjauh dariku.”

Kulebarkan kedua mataku terkejut. “Dari mana datangnya itu?” kataku  dan kuseret kursiku mendekat padanya. Ini lebih serius dari yang kupikirkan.

“Sudah berapa lama kami bersama?”

“4 tahun?”

“Ya. 4 tahun, 4 bulan dan 11 hari. Ini tentang waktu dia mulai lelah padaku.” Emosinya mulai diluar kendali.

“Apa dia terlihat begitu?”

“Tidak juga.”

“Lalu?”

“Dia memilih pekerjaan ketimbang aku!” dia terus merengek, membuktikan maksudnya. “Aku bertemu Minyoung beberapa hari yang lalu. Ketika kuceritakan padanya bagaimana Kyungsoo selalu pergi keluar negeri untuk bekerja, dia bilang aku tidak seharusnya terlalu yakin dia pergi untuk bekerja. Hubungan kami dalam fase hangat, katanya. Kemudian, kami akan menjadi  pasangan menikah yang tua ketika kami  mencapai 5 tahun kebersamaan kami.”

“Kenapa kau akan percaya padanya ketimbang kekasihmu sendiri?”

“Karena dia meyakinkan. Kyungsoo terkadang memintaku untuk dewasa. Dia mulai merasa tidak puas denganku.”

“Dan kau sungguh berpikir Kyungsoo akan lakukan hal itu?”

“Dan itu tidak terlihat seperti aku bagian dari masa depannya. Dia selalu bicara tentang cita-citanya untuk masa depan tapi tidak satupun itu aku. Aku tidaklah penting baginya.” Oh my, air mata itu.

Aku bukanlah orang yang baik untuk di tanyai tentang saran hubungan ketika milikku sendiri adalah  sebuah kegagalan, ketika hubunganku cukup menunjukkan bahwa perasaan-perasaan itu memudar. Tapi aku tahu Kyungsoo bukanlah seperti itu. Itulah yang kupercayai begitu dan kenapa dia  mulai akan ragu dimana orang lain yang hampir tidak mengenal  Kyungsoo itu bicara  hanya karena mayoritas populasi laki-laki seperti itu?

Well mereka bilang, orang didalam gambar tidak akan pernah bisa melihat keseluruhan gambar.

“Apa kau ingin melewati pertemuan ini? Kurasa aku bisa menanganinya sendiri jika kau tidak siap untuk ini.” Ku usap-usap lengannya memberinya beberapa kenyamanan, menenangkan dirinya.

Menghapus dengan kasar air mata dari wajahnya yang berwarna, dia mendongak padaku dan membuat satu senyuman, lebih seperti memberanikan dirinya bahwa dia baik-baik saja, dia berkata “Tidak. Aku bisa melalui ini.”

~~~

Aku semakin dan semakin waspada  setiap waktu bahwa aku tetap memfokuskan mata waspadaku  pada Jinae setelah ledaka yang dia buat itu. Dia melalui semuanya dengan normal, datang bekerja 15 menit sebelumnya, mengupdate  padaku semua update-update yang dia kumpulkan sebelum aku tiba, kami masih memiliki sesi gosip yang normal, dan sebanyak aku ingin mencocokkan hubungannya kedalam percakapan kami, aku menghentikan diriku untuk melakukanya juga.

Mungkin semuanya sudah ditetapkan.

Kyungsoo masih menjemputnya dari  kerja setiap petang. Tidak ada yang luar biasa jadi kurasa, ini hanya dia yang memiliki momen ketidak amanan terhadap dirinya sendiri saat itu.

“Kurasa warna-warna itu baik.” Jinae berkomentar pada draftku disaat dia bersandar pada kursi panjang  dan kedua matanya bergerak-gerak pada gambar untuk melihat ada yang lain yang kurang.

“Kurasa  juga begitu.” Jawabku.

“Jadi, apa ini semua yang kita beli?” dia mengambil daftar barang-barang yang harus kita beli setelahnya.

“Yeah. Aku akan pergi keluar kantor besok, hari yang bagus kedepan.” Aku pura-pura tertarik, memiliki Jinae yang membalas  tertawa kecil padaku atas reaksiku.

Mengesampingkan pekerjaan, Jinae menjadi dia si rapi yang menakutkan, dia menyusun  semua masing-masing dokumen, memberi gestur untuk menyimpannya sehingga aku tidak akan ketinggalan apapun. “Apa?” tanyanya dengan biasa, tertangkap lengah pada pertanyaannya yang tiba-tiba itu.

“Apa, apa?” tanyaku kembali dengan cemas.

“Kau pikir aku tidak menyadarinya?” lemparnya, memberiku satu tatapan yang membuatku menumpahkan  segalanya. Mendesah, dia menyandarkan punggungnya pada kursi lembut lagi, tetap menatap. “Seperti inilah rasanya. Punya perasaan ragu-ragu pada kekasihmu sendiri. Tidak lucu sama sekali.” Dia memautkan bibirnya sedikit.

“Kenapa tidak kau keluarkan saja itu?”

“Aku tidak bisa.” Protesnya. “Lagi pula, dia akan bilang aku kekanak-kanakan.”

Sebuah ketukan pada pintu membuatku berhenti untuk menjawab Jinae untuk berhenti menjadi begitu paranoid atas Kyungsoo, karena tanpa kami sadari, kedua kepala kami menoleh pada suara itu. “Maaf mengganggu tapi kita ada klien di bawah.”

Jinae melirik padaku dengan manutkan alis di wajahnya sebelum  dia melesat  kembali pada staff junior kami, Minji yang terlihat baru saja terintimidasi oleh kehadiran  yang hanya kita berdua. Sumpah kami terlihat seperti  manusia  paling kejam  di muka bumi ini jadi aku tidak tahu kenapa dia merasa seperti itu, masih. “Kurasa kita tidak memiliki  janji saat ini, kan?” bagian akhir kalimat mengharapkan sebuah jawaban dariku tapi aku hanya mengedikan bahu.

“Kurasa baik-baik saja kemudian, kita bisa luangkan waktu untuk itu sebelum kita pergi.”

“Hana, aku lebih suka kita mengikuti jadwal kita. Kita benar-benar kekurangan waktu.”

“Kita akan menyelesaikan ini hari ini, apapun masalahnya.”

“Tapi aku –“

“Jangan khawatir, aku bisa menangani semuanya sendiri jika kau tidak ada.”

“Bagaimana jika ini proyek besar? Siapa nama klien ini?”

“Byun Baekhyun.”

Aku hampir tersedak air liurku sendiri. “BYUN BAEKHYUN?” kataku tidak percaya, mungkin sedikit terkejut sekali karena  mereka berdua hanya memberiku tatapan tanya pada ledakanku. Ini sedikit terlambat untuk bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa disaat aku hanya menjeritkan namanya seperti itu.

“Siapa Byun Baekhyun?”

Oh well, selama aku bisa menjauh dengan hal ini,akan kulakukan.

“Bukan siapa-siapa.” Jawabku,  bagi Jinae itu begitu mencemaskan. “Minji-ssi, bisa kau bawa orang ini ke ruang meeting dan memberinya kopi, aku akan ke sana.” Dan ketika kulihat Jinae menajamkan kedua matanya padaku, tidak setuju dengan apa yang kulakukan, kukoreksi sendiri. “Kita akan ke sana.”

Dia terganggu, dengan semua kata-kata yang keluar yang melanda kesadaranku. Inilah kenapa aku butuh Jinae bersamaku. Meskipun  kekanak-kanakannya, dia selalu menjadi orang yang melihat hal-hal melalui sebagai seorang  pembuat seluruh keputusan yang baik  dan seorang penasehat yang baik. Juga tidak bisa meninggalkan fakta bahwa daftar perusahaan ini ditangani dia,begitu  jelas  dengan fakta  bagaimana dia selalu bicara tentang kami yang akan bangkrut.

Aku membuatnya terdiam  dan keluar dari kantorku menuju koridor dan mengintip ke bawah. Kulihat dia(byun baekhyun) dan pria lain, yang kuingat sebagai pria yang memanggilnya di restoran, berbicara pada Minji sebelum mereka mengikutinya ke ruang meeting.

Apa dia masih ingin menyebut ini takdir?

 

TBC

 

Komen jusseo……..gomawo.

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “The Pathetic Ex-Lovers Club|Chapter 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s