The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 15b

dwbthrr

 

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 15b)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/426081/15/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

Previous

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 15b!

Answers

 

Meskipun pagi –yang-tidak-begitu-menyenangkan –menurut Baekhyun lagipula –sisa pagi hari sebenarnya berjalan baik. Itu bukanlah biasa bagi Baekhyun ingin bangun dan sarapan pagi-pagi sekali bersamamu di hari Minggu pagi, tapi kemudian lagi, sejak insiden Jongin itu terjadi, segalanya terlihat berubah. Setelah Baekhyun melihat Jongin menciummu dengan paksa di mulutmu tanpa ijin, dia menjadi lebih intim, sedikit terlalu memanjakan, dan paling akhir, protektiv.

Dia masih memberimu ruang dan tidak melihat pada Chanyeol seperti dia ingin membunuhnya dalam tidurnya kapanpun laki-laki dengan tinggi 184 cm itu merangkul pundakmu. Tapi Baekhyun menjadi lebih waspada dan dingin terhadap beberapa laki-laki yang mencoba berbicara padamu. Dia tidak melakukan apapun yang jahat pada mereka, sungguh. Baekhyun hanya menatap dan tatapan matanya bahkan bukanlah tatapan menghakimi atau apapun, tapi kau bisa merasakan ketegangan di balik kedua matanya. Dan kebanyakan laki-laki, yang lebih besar darinya  atau tidak, lebih suka menjauh saja darimu ketimbang berurusan dengan apa yang dia punya di toko dibalik  kedua mata sengit itu, kau merasa seperti tiba-tiba saja memiliki bodyguard pribadi sendiri.

Dan ketika kau bilang Baekhyun menjadi lebih intim, kau tidak bercanda. Waktu yang lama sudah berlalu sejak insiden Jongin, dan dia masih bertingkah seperti kau berada di batas kepatahan  dan terluka karena semua yang terjadi disekitarmu. Kau tidak tahu kenapa, tapi Baekhyun terlihat lebih peduli akhir-akhir ini. Sebelum sesuatu dengan Jongin terjadi, Baekhyun tidak pernah mengajakmu keluar untuk makan malam yang fancy, atau bahkan hanya berjalan bergandengan tangan sepanjang jalan pada saat kau kembali ke dorm (terkadang, dia memang memegang tanganmu, tapi hanya setelah kau berinisiatif duluan).

Tapi sekarang …

“Kau kedinginan?” tanya Baekhyun, mengaitkan jari-jarimu dengan miliknya sebelum dia memasukkan tanganmu ke dalam saku mantelnya, “Baikan?”

Dan dengan bodohnya kau hanya menatap untuk sesaat. “Y-yeah…”

Kedua mata Baekhyun melembut disaat dia tertawa kecil. “Okay kalau begitu.”

Momen seperti ini selalu membuatmu merona, tidak masalah berapa kali dia telah melakukannya dari sekarang. Karena ketahuilah, Byun Baekhyun benar-benar bukanlah semacam  itu tipe kekasih yang peduli-dan-tidak-takut-untuk-menunjukkan-cinta-nya-di tempat umum, kan? Mungkin dia bertingkah imut, bermanja-manja, dan lovey-dovey ketika kalian berdua bersama-sama  di dalam kamarmu, tapi dia jarang menunjukkannya diluar.

“Sesuatu telah berubah tentang dirimu,” katamu disaat kalian berdua berjalan beriringan di trotoar.

Baekhyun menghembuskan udara dingin, menciptakan kepulan yang tampak dari napas hangatnya. “Yeah?”

“Aku tidak tahu …” kau mengedikan bahu. “Kau menjadi lebih lovey-dovey dan lainnya –“

Dan Baekhyun langsung menjatuhkan tanganmu, menjauhkan tangan lebih besarnya darimu malah membenahi kerah mantelnya. Tidak ada yang perlu dibenahi, sejujurnya.

“Aku, umm –“ dia berdehem tapi tidak menyelesaikan kalimatnya.

Kau menahan tawamu dengan satu tanganmu. “Bukankah sudah sedikit terlambat untuk bertingkah malu sekarang, ByunBaek?”

“Diamlah,” gumamnya, melihat ke bawah dan membenamkan hidungnya dibalik kerah tinggi mantelnya. “Dan jangan panggil aku itu. Itu sudah cukup mengesalkan ketika Chanyeol memanggilku seperti itu.”

“Kemudian aku harus memanggilmu apa?” tanyamu, bergerak mendekat padanya sambil kau mengaitkan jari-jarimu kembali dengan miliknya dalam diam. “Dan tidak apa. Aku menyukainya ketika kau menjadi lovey-dovey seperti ini.” Kau tersenyum malu-malu, sebelum kau menambahkan, “Baekgu.”

“Aku bilang diamlah,” Baekhyun mendesis sebagai balasan, masih terlihat sedikit merona tapi tidak melepas tangannya darimu. “Dan apa, haruskah itu  menjadi nama panggilanku?”

“Yep, itu artinya ‘white puppy’. Sangat cocok padamu, kan? Kau puppy kecilku Baek ~ Yah!”

Baekhyun mencubit pipimu berulang-ulang  dan membuat kulitmu sakit sampai kau tidak bisa mengatakan kata-kata dengan jelas. “Kenapa kau menyebalkan sekali? Panggil saja aku dengan namaku.”

“Tapi itu tidak adil ~” kau meringis, mengusap-usap pipimu setelah dia melepaskannya. “Kau selalu memanggilku ‘Sweetheart’. Dan kau tahu, Baekgu?” Baekhyun mengerang pada nama panggilannya yang baru tapi kau meneruskan dengan acuh tak acuh, “Aku juga menerima dirimu yang baru. Rasa peduli, protektiv, dan sisi cemburumu yang langsung ini. Kurasa ini lucu dan baik-baik saja, ini membuatku merasakan segalanya menghangat didalam.”

Kau cekikikan sebelum kau merasa dia kembali menatap, membosankan  kedua matanya kedalam tengkorakmu. Itu ketika kau menyadari kau baru saja mengatakan sesuatu yang sangat memalukan. Kau tidak cukup berani untuk menghadapinya setelah mengatakan salah satu kalimat tercheesy  di dunia ini.

Segalanya menghangatkan didalam?” Baekhyun akhirnya mendengus, menahan tawanya.

Diamlah!”

***

“Okay, sekarang aku kenyang,” katamu dan berhenti untuk sesaat untuk mengusap saus strawberry di bibirmu dengan serbet. “Aku ingin tahu kenapa kau tiba-tiba saja mengajakku keluar untuk kencan.”

“Apa, seorang laki-laki tidak bisa dengan normal mengajak gadisnya pergi berkencan di Minggu pagi?” jawab Baekhyun dengan ketus, memakan giggitan terakhir pancake choco banananya.

“Well,” kau mengedikan bahu, “Kau jarang mengajakku keluar. Maksudku, kau selalu lebih suka melakukan aktivitas di dalam ruangan –“

“Kau berpikir tentang seks, kan?” dia mengerling dan berdecak dengan seduktiv padamu.

“Tidak.” Kau melotot, menghakiminya dengan kedua matamu. “Maksudku seperti menonton film bersama-sama sambil tiduran di atas tempat tidurku, berpelukan, memainkan Temple Run dengan kepalamu di pangkuanku –“

“Aku melakukan semua hal itu?” Baekhyun terdengar asli terkejut. “Sial, ternyata aku seorang pemalas.”

“Yeah, memang,” kau setuju. “Jadi kenapa tiba-tiba berubah?”

“Well,” Baekhyun memulai, mencondongkan tubuhnya di atas meja. “Kau tahu bagaimana kita akan lulus dari kuliah besok, kan?”

“Yeah,” katamu, tersenyum ketika kau teringat fakta yang hampir terlupakan. Bagaimanapun, kau terlalu bingung dan terkejut dengan undangan Baekhyun yang tiba-tiba mengajak keluar bahwa kau tidak ingat kau seharusnya siap untuk upacara kelulusan kuliahmu. Well, kau sudah menyiapkanya sejak sebulan lalu, mungkin –membeli gaun indah dan menemukan make-up yang sempurna  untuk pesta kelulusan yang akan kau miliki dengan Chanyeol dan kekasihnya setelah itu.

“Jadi, sekarang kau tahu,” Baekhyun meneruskan, meraih tanganmu dengan miliknya dan sebentar kemudian  mencium buku-buku jarimu. “Aku ingin menghabiskan hari terakhirku di kampus ini denganmu.”

Kau mencoba menahan senyummu karena mencoba membelah wajahmu menjadi dua. “Aku tidak tahu jika aku seharusnya merasa tersanjung  dan berpikir bahwa kau menjadi seorang kekasih yang sepenuhnya sekarang ini,” katamu, “Atau haruskah aku khawatir karena mungkin kau merencanakan sesuatu yang menakutkanku? Apa kau akan mengerjaiku nanti, Baekgu? Aku tidak menghargai penghinaan  umum.”

Dia membuat tatapan lagi. “Bisakah berhenti dengan nama panggilan memalukan itu? Dan tidak, tentu saja tidak,” Baekhyun langsung berkata. “Kenapa aku akan mempermalukan  kekasihku sendiri?”

Dan kau memberinya satu tatapan. Kau tidak bisa menggunakan jari-jarimu lagi untuk menghitung berapa kali dia telah mengerjaimu. “Baiklah. Apa rencanamu hari ini?”

“Aku tidak tahu, kau bilang saja padaku.” Jawab Baekhyun, mengambil  beberapa uang dari dompetnya dan menaruhnya di atas meja. Dia memakai kembali mantelnya sambil dia berdiri dan mengulurkan tangannya padamu, tersenyum. “Ayolah, Sweetheart, kejutkan aku.”

Tapi kau sungguh tidak memiliki banyak untuk mengejutkannya. Sama dengan Baekhyun, kau benar-benar bukan tipe petualang –kecuali ketika berkaitan dengan seks. Kau lebih suka menghabiskan waktu sendirian dengan kekasihmu  dimana kalian berdua  bisa bicara, membagi pikiran yang sama dan kebiasaan-kebiasaan, dan hanya banyak tahu dan lebih mengeksplor tentang kekasihmu. Meninggalkan kencan yang spontan, dan kreativ bagi Park Chanyeol dan kekasihnya –kau bukanlah seorang yang suka sekali keluar untuk memulai.

Tapi ada satu hal yang benar-benar ingin kau lakukan.

“Ice-skating,” katamu, menarik  tangannya sehingga  dia akan berhenti berjalan di trotoar dan melihat pada mu. “Aku ingin bermain ice-skating.”

Wajah Baekhyun menjadi tegang dan dia tidak menemukan ide itu menyenangkan. “Dari semua hal yang bisa kau pilih, kau memilih ice-skating?”

Kau lipat kedua tanganmu didepan dadamu, sedikit tersinggung. “Apa salahnya dengan ice-skating?”

Baekhyun mengusap-ngusap belakang lehernya, mengedikan bahu. “Well, tidak ada yang salah, hanya saja … ada banyak hal-hal yang lebih baik yang bisa kita lakukan selain itu, Sweetheart.”

“Yeah?” kau membantah. “Kemudian tolong katakan.”

“Aku tidak tahu, seperti …” baekhyun melihat sekeliling sebelum dia melihat sesuatu disebrang jalan. “DI sana. Kita bisa pergi ke sana dan bersenang-senang.”

Kau ikuti arah yang dia tunjuk dengan jarinya sampai pandangan matamu mendarat pada sebuah toko kecil itu, kau yakin, menjual semua macam pakaian dalam wanita, bra dan celana dalam. “Baekhyun,” katamu, mencoba membuat wajahmu sedatar mungkin. “Apa kau menunjuk pada toko lingeri?”

“Yep,” Baekhyun tersenyum geli.

Dan kau tersenyum dengan senang padanya, menaikkan satu tanganmu untuk membelai pipinya. “Tolong katakan padaku sesuatu sebelum aku memukul tepat perutmu, Baekhyunnie inosenku,” katamu, suara sangat seksi  dan manis tapi membuatnya menelan salivanya karena sentuhanmu. “Hanya apanya yang menyenangkan yang kau asumsi kita bisa ke sana?”

“Well, maksudku,” dia letakkan tangannya diatas milikmu hanya untuk memastikan keamanannya. “Kau bisa mencoba beberapa lingeri seksi dan aku akan mencoba membantumu memilih yang terbaik.” Itu lebih seperti satu pertanyaan ketimbang satu pernyataan, sungguh.

“Dan aku akan melucutinya sendiri di depanmu?”

“Well, tentu saja,” kata Baekhyun, masalah-fakta. “Maksudku, itulah bagian yang menyenangkan.”

“Dan kau akan menyukai itu, kan?” kau tersenyum kembali sebelum menghempaskan tangannya dan memukul tepat pipinya –tidak cukup keras untuk menjadi memar, tapi cukup untuk menghentikan dia  karena berpikir seperti seorang brengsek yang terangsang. “Aku ingin pergi ice-skating!”

“Ugh, fine!” Baekhyun mendesah kesal  sebelum dia meraih tanganmu kembali dengan miliknya dan berjalan.

Sekitar empat puluh-lima menit kemudian, kau tiba di Bundang Olympic Sport Center, yang  memiliki sebuah gelandang  indoor yang menawari  berbagai  pilihan skating termasuk, speed skating, figure skating dan pelajaran-pelajaran tentang hockey ice. Kau senang pada pandangan area besar dan bagaimana tempat itu tertutup dengan salju warna putih. Ada banyak pasangan yang bergandengan tangan, ber-ice-skating dengan mudahnya  dari sudut sampai tengah gelandang es  dengan senyuman-senyuman dan cengiran-cengiran  di wajah mereka. Beberapa anak yang menggemaskan ada di sana juga, wajah mereka yang terjatuh pertama karena mereka baru saja belajar bagaimana ber ice-skating, dan ibu-ibu mereka yang khawatir akan  berebut  di tempat mereka, menanyakan “Honey, kau baik-baik saja?” dengan berulang-ulang kali.

“Oh my God, aku senang sekali!” serumu, melompat-lompat kegirangan. “Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku pergi ice-skating! Baek, kita harus mencari penyewaan skate kita!” dan tanpa menunggu persetujuannya, kau sudah berlari, mencoba mencari tempat penyewaan.

“Tenanglah,” Baekhyun menarikmu kembali dengan menarik kerah mantelmu, memperlakukanmu seperti anak kecil. “Apa, apa kau lupa? Kita bahkan belum membeli tiket.”

“Oh benar. Maaf, aku terlalu senang~” kau memukul dadanya dengan jenaka beberapa kali. “Yaay, akhirnya bisa melakukan ice-skating dengan kekasihku~ aku ahli dalam hal ini, jadi siap-siap saja kalah, big boy!”

“Yaay, aku  senang sekali,” Baekhyun hanya merespon dengan datar, kedua mata bosan dan tidak senang. “Tetaplah di sini. Aku akan membeli tiket kita.”

Jadi kau menunggu, dan sepuluh menit kemudian, Baekhyun kembali dengan dua kertas tiket di tangannya dan dua pasang skate –warna pink dan biru dongker. Kau tertawa geli dalam rasa senang  dan bergegas mengganti sepatumu ke dalam skate itu. “Aku ambil yang biru!”

What?” itu hampir seperti jeritan  seorang gadis yang berasal dari mulutnya dan kau memberinya satu tatapan menghakimi.

“Aku hanya bercanda, Baek,” katamu,”Tidak harus menjerit sepeti seorang gadis.”

Dia hanya membalas langsung  dengan mencubit pangkal hidungmu sampai kau tidak bisa bernapas dan kau memukul tangannya.

Kau selesai mengganti sepatumu kurang dari dua menit –sementara Baekhyun butuh selamanya –dan kau memberinya perintah untuk menumpuk  sepatumu dalam loker sepatu dengan aman.

“Kau seharusnya menaruh sepatumu dulu ke dalam loker sebelum kau memakai skatemu!” Baekhyun mengerang pasrah karena loker sepatu berlokasi dekat gelanggang es  dan itu artinya  dia hanya  harus melepaskan skatenya –skate yang sudah susah payah dia pakai –lagi.

“Aku lupa! Aku terlalu senang,” katamu, tertawa geli setelah kata-kata terakhirmu. “Jadi, taruh mereka ke dalam loker untukku, please?”

“Kenapa kau tidak lakukan sendiri?”

“Karena aku ingin ber-ice-skate sekarang!”

“Apa kau menikmati ini?” tanya Baekhyun, mengeratkan giginya sambil dia mencubit kedua pipimu. Dia kelihatannya memiliki satu ketrampilan  untuk memijit pipi tembemmu dengan jemari-jemarinya. “Kau  suka menyuruh-nyuruhku, kan, Sweetheart?

Kau menggeliat  karena sentuhannya dan hanya menempatkan satu kecupan kecil di ujung bibirnya. “Itulah gunanya kekasih, kan? Untuk bermanja-manaja  menarik hati  mereka, kekasih cantik?” kau mengedip-ngedipkan bulu matamu dan dia berdecak, pura-pura membuat tatapan  jijik.

“Maksudmu, kekasih yang menyebalkan, dan kurang ajar?” dia mengacak-acak rambutmu dengan kedua tangannya sampai kau merasa rambutmu kusut dan jelek. Dia meninggalkanmu setelah kau merengek atas rambut-rambut halusmu yang berantakan dan kau tidak menunggunya untuk masuk ke gelanggang es  bersama-sama.

Kau merasa sangat bahagia  dan senang sekali ketika pisau-pisau  ice skatemu bertemu dataran es, dan tanpa menaruh banyak dukungan, kau memutar tubuhmu pada permukaan keras dan kau tersenyum ketika kau masih memaku trik-trik lamamu. Senyum Luhan tiba-tiba saja melintas di kepalamu disaat memori-memori masa kanak-kanakmu menghantammu. Luhan lah yang mengajarkan mu semuanya tentang ice-skating, dan mungkin dia bukanlah guru terbaik di dunia ini, tapi dia tidak pernah mentertawaimu ketika kau terjatuh, dan dia tidak pernah melepaskan tanganmu, selalu mencoba menjagamu dengan aman. Kau merasakan hatimu tersentak pada pikiran itu tapi kau putuskan untuk meredam  perasaan-perasaan takut  itu untuk sekarang dan mengubur mereka ke tempat yang tidak akan kau lupakan di masa depan.

Ah, pikirmu, jadi itulah kenapa dia menjadi pemarah  ketika kubilang padanya untuk melakukan ini. Laki-laki malang itu tidak tahu bagaimana ber ice-skating, kan?

Kau dengan mudahnya meluncur  ke sisinya. “Ehem,” katamu, berdehem.

Baekhyun tidak melihat padamu tapi rona merah di pipinya menjadi lebih tampak di momen dia menyadari kehadiranmu. “Diamlah,” dia mendesis dengan kasar bahkan sebelum kau bisa mengatakan sesuatu.

Sulit untuk tidak menggoda the High and Mighty Byun Baekhyun ketika dia berada di kondisi terendahnya. “My, my, kau terlihat kesusahan, Grandmother!”

“Aku bilang diamlah!” Baekhyun balas membentak, sekarang melotot padamu. “Aku tidak bisa konsentrasi jika kau tetap bicara padaku.”

Kau kembali tertawa padanya. “Akhirnya aku temukan sesuatu yang kau tidak ahli disamping berada dalam hubungan!”

“Oh fuck you, kau tidak membantu sama sekali,” gerutunya. “Inilah kenapa aku lebih suka opsi  toko lingeri lebih baik!”

“Toko lingeri tidaklah pernah sebuah opsi, dasar pervert!” kau memelintir belakang lehernya dan dia tersentak, tersandung  pada langkah-langkahnya bahkan lebih, “Whoa, hati-hati!” dia hampir saja terjatuh dengan wajahnya duluan ke tanah tapi kau raih tangannya dan membantu dia menjaga  keseimbangannya. “Kau baik-baik saja?”

“Damn it,” gumam Baekhyun dibalik napasnya, wajah merona dan bibir bawahnya gemetaran  karena  rasa jengkel yang dia miliki untuk dirinya sendiri. “Aku terlihat patetik, kan?”

Kau tersenyum dengan sungguh-sungguh  dan mengapit tangannya dengan milikmu. “Tidak, kurasa kau terlihat menggemaskan,” katamu, “Kau tidak harus mencoba menjadi tegar sekali dan manly sepanjang waktu, Baek. Semua orang punya kelemahan mereka sendiri.”

“Yeah, tapi ini memalukan saja,” gumamnya, mendesah. “Jika saja aku bisa berskate, kita bisa seperti pasangan lainnya di sini.”

“Hey, hey,” kau menghentikannya untuk mengatakan kata-kata lainnya dan meluncur  dengan hati-hati sampai kau berdiri di depannya. “Kenapa kau terdengar sedih sekali?”

“Karena kau seharusnya bersenang-senang,” jawab Baekhyun, melempar satu tangannya dalam rasa jengkel. “Aku ingin kau merasa senang dengan kencan kita, tapi sekarang aku menjadi seperti ini dan satu hal yang kulakukan sekarang hanya menyusahkanmu –“

“Berhentilah di sana, Baek,” katamu, “Kau pikir aku tidak bersenang-senang? Kau pikir aku kecewa karena aku tidak bisa berskate sambil memegang tangan kekasihku?”

“Well –“

“Aku sudah senang sekali karena menghabiskan hariku bersamamu, Baekhyun,” kau letakkan kedua tanganmu diatas kedua pundaknya dan  menggoyang-goyangkannya. “Aku tidak butuh kau harus ahli ber ice-skating –pada kenyataannya, aku mungkin akan kesal jika kau  berskating lebih baik dariku. Kau tahu bagaimana kompetitivnya aku, kan?”

Dia tersenyum lemah. “Yeah.”

“Jadi berhentilah menyerah dan berhentilah merengek seperti seorang gadis,” katamu, mengecup pipinya berulang-ulang sampai dia meraih tanganmu dan menggenggamnya. “Dan  bukan hanya aku saja yang seharusnya bersenang-senang hari ini, Baek. Kita lah yang seharusnya  bersenang-senang hari ini.”

“Okay, okay, kemarilah,” Baekhyun tertawa dan meraih pundakmu dengan kedua tangannya. Dia menaruh satu ciuman simpel di sisi dahimu. “Maafkan aku karena –WHOA!”

Kau mengeluarkan satu teriakan yang memekakkan  dikala Baekhyun tiba-tiba saja tersandung  pada kakinya dan  merobohkanmu ke tanah. Kau terjatuh terlentang dan kau mengerang dengan keras ketika belakang tengkorak kepalamu bertemu lantai yang keras. Baekhyun berhasil menempatkan kedua tangannya ke setiap sisi kepalamu sebelum dia menindihmu dengan berat badannya dan dia menggulingkan dirinya sebelum dia mendarat di atasmu.

“Apa yang baru saja terjadi?” kau mengerang, mengusap-usap belakang kepalamu.

Baekhyun langsung berdiri. Menautkan kedua alisnya dengan rasa marah ketika dia berteriak, “Siapa yang mendorongku?!”

Kemudian kau melihat dua anak laki-laki kecil, dengan senyuman kurang ajar yang menyebalkan pada wajah mereka, bergegas pergi dengan  berteriak, “Dia marah! Dia marah! Lari!” pada yang lainnya.

“Hey, kembali kemari!” Baekhyun berteriak lagi, mencoba kembali pada skatenya tapi gagal total. “YAH! Kau pikir lucu mendorong orang –“

Baekhyun menghentikan dirinya ketika dia mendengar suara lain. Sampai kau tidak sadar dia sedang melihat padamu dengan tatapan menghakimi yang kau ketahui dia berhenti menjerit pada anak-anak kecil kurang ajar itu karena dia menangkap kau tertawa padanya.

“Maafkan aku, maafkan aku,” katamu, mencoba menghentikan dirimu dari tertawa kecil. “Aku tidak mentertawaimu, aku hanya –“ dan kau meledakkan tawa lagi.

“Yah!” Baekhyun memautkan bibirnya, menonjolkan bibir bawahnya dalam cara yang paling menggemaskan. “Berhentilah tertawa!”

“Maafkan aku, hanya saja itu –“ kau mencoba bernapas diantara tawamu yang tak terhentikan. “Kau sadar kau dibuli oleh anak-anak, kan? Kau membuli seorang raksasa seperti Park Chanyeol di Kampus, tapi sekarang, kau dibuli oleh sekumpulan anak berumur 5 tahun. Mereka bahkan tidak separoh dari tinggimu, Baek.”

“Ah, jadi seperti inikah yang harus Chanyeol rasakan ketika aku membuli dia,” Baekhyun menganggukkan kepalanya mengerti, dengan imutnya mengetuk-ngetuk dagunya.

Kau cekikikan dengan keras. “Dan bagaimana yang kau rasakan sekarang?”

“Benar-benar kesal.”

“Jadi sekarang kau tahu~” katamu, melempar satu kerlingan padanya dan kembali berdiri. “Ulurkan tanganmu, aku akan menarikmu.”

Baekhyun merona, jelas-jelas malu bahwa dia harus membuat kekasihnya membantunya untuk berdiri, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak ingin menghabiskan sisa kencannya hanya duduk di atas es yang dingin, kan?

“Inilah kenapa aku benci anak-anak,” gerutu Baekhyun dengan marah  sambil dia menerima  tawaranmu, menggenggam tanganmu dengan erat  disaat kau menariknya bangkit.

“Terlihat cantik, Putri!” seorang anak kecil –salah satu dari dua anak kecil kurang ajar yangmenyadapmu  tadi –meluncur, memutar dengan mulusnya diatas skatenya disaat dia melempar satu senyuman mengejek pada Baekhyun. “Butuh bantuan dari Pangeranmu?”

Partnernya dalam kejahatan  meluncur  ke sisinya juga, meniupkan raspberry  pada kekasihmu. “Bayi malang itu butuh bantuan dari kekasihnya!”

Kau harus melingkarkan kedua tanganmu ke pinggang Baekhyun untuk menjauhkan dirinya karena menguliti anak-anak mischievous itu hidup-hidup. “KEMBALI KE SINI, ANAK-ANAK  KURANG AJAR!”

Kau tidak tahu berapa lama kau tertawa di samping kekasihmu yang marah  saat itu. Kau berutang pada anak-anak kecil itu karena membuat ketegangan antara kau dan Baekhyun mengendor, walaupun bagian dirimu juga ingin mengetuk  kepala-kepala mereka yang sedikit nakal.

 

TBC

 

Fluffy! Fluffy!….. are you guys enjoy the fluffy? I hope you still enjoyed this chapter anyway. Can i have another comments from you all? Please pretty please? I love you all, guys~~~

Ps : still, there is the last chapter i remind you, kekeke…..

Pps : i don’t know why i really miss baekhyun nowdays huhu…

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 15b

  1. this is fluffy part best ever kyaaaa(histeris macam ibu kost yg nagih kostan akutu)wkwkkk

    btw salpok”there is the last chapter i remind you”??what it means that????? i can’t imagine this ff end hiiks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s