The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 12

bYIm7jP

Tittle     :  THE PATHETIC EX-LOVER’S CLUB (Chapter 12)

Author  :  PJ

Cast       :

  • Oh Hana (OC)
  • Byun Baekhyun
  • KAI /Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Fluff and Romance

Poster : kristal15/ TMLGS

 

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. Ini hasil  translitanku  yang kedua dari  fanfic  favorite ku ‘ The Pathetic Ex-Lover’s Club  by angelb2uty ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

 

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/1138561/12/the-pathetic-ex-lovers-club-fluff-romance-originalcharacter-exo-baekhyun

Previous chapter

 

HAPPY  READING  !!

 

Chapter 12

Only then, life will get better

 

Apa aku pernah mengatakan betapa menyebalkannya senyuman kemenangan  Baekhyun yang kurasakan seperti memakan wajahnya?

Yikes. Itu terdengar salah sekali.

Omong-omong, senyuman malu-malu itulah hal pertama kali yang kulihat ketika aku melangkah memasuki ruang meeting dan kami berdua saling memandang satu sama lain pikiran saling bermain dengan semua pikiran-piran pendek. Aku tidak mengenalnya tapi aku tahu. Pertanyaan  awal tadi hanya membuktikan tujuanku.

Aku hampir melupakan Jinae dan ini –aku melihat padanya dari kepala sampai ujung kaki dan harus kukatakan, dia seperti tipikal tampang kdrama –laki-laki yang benar-benar tinggi dengan kedua telinga mencuat  berada di ruang yang sama dengan kami, dan hanya menyadari ketika Jinae mengulurkan tangan terhadap Baekhyun, memutus pandangan yang dia miliki terhadapku.

Pertemuan kami berjalan mulus. Baekhyun bermain bersama ketika aku bertingkah seperti kita bertemu untuk pertama kalinya, meskipun aku sadar bagaimana dia membuat raut muka “Oh, menarik” ini terhadap tingkahku. Aku sangat membencinya untuk itu karena itu hanya membuat segala hal menjadi lebih tidak nyaman. Dan membuatku tampak …bodoh?

Danm, kenapa aku gugup?

“Bagaimana kalau kita atur janji lainnya jika itu okay denganmu, Mr Park?” kataku disaat aku mengisi semua informasi kedalam bukuku, membuat semuanya lebih jelas bagiku untuk memulai pekerjaanku. “Kita bisa bicarakan tentang bahan-bahan kemudian, atau beberapa perubahan yang ingin kau buat, dan juga draf struktur yang lebih baik seperti yang telah kau minta dan kemudian, kita akan lihat bagaimana kelanjutannya.”

“Ye –“

“Itu akan sangat menyenangkan.” Baekhyun menginterupsi.

“Setuju.” Jawabku, menyorotkan sebuah senyuman jengkel yang palsu padanya sebelum mengubah perhatianku kembali pada Chanyeol. “Aku akan mengirim staffku, Minji untuk mengatur tanggal dimana kita berdua akan bertemu.”

“Amis. Sesuatu berbau amis.”

Sekarang jam-jam kantor telah berlalu, setelah pertemuan kami, sebenarnya Jinae membuat dirinya nyaman  duduk diatas mejaku, menggantungkan  kedua kakinya sambil  mengunyah   gummy bearku.

“Kau  ingin  sashimi atau apa?” kuraih satu bagian  dari toples di tangannya.

“Bukan!” kedua matanya yang melotot keluar mengejutkanku. “Itu kau!” sekarang, dia memukulku hanya untuk membuatku kesal. “Apa yang kulewatkan tentang pria ini?”

Kuputar bola mataku. “Tidak ada.”

Dia baru saja akan mengatakan sesuatu tapi ringtone ponselnya menginterupsi kami dan aku bersyukur sekali, bukan karena aku suka melarikan diri dari konfrontasi tapi sebelum apapun yang kita bicarakan tentang orang asing yang bernama Byun Baekhyun ini –yang bilang padaku satu kenyataan takdirnya pertemuan kami beberapa hari yang lalu –menjadi konyol. Aku lebih baik memilih teman baikku yang cantik ini yang pergi.

Mendesah, dia mengeluarkan ponselnya dan mendesah lagi disaat dia menggeser tombol hijau itu.

“Kau mendesah karena kekasihmu menelpon. Itu baru!” komentarku dan dia mengerutkan hidungnya padaku dengan rasa jengkel. “Aku pergi.” Dia berucap tanpa bersuara, mengatur/menyiapkan  semuanya  sebelum meninggalkanku sendirian didalam kantorku.

“Jangan lupa untuk mematikan semuanya. Aku tidak akan senang jika kita harus membayar ekstra untuk tagihan listrik.”

“Yes, ma’am.” Aku berteriak, tidak masalah dia mendengar atau tidak.

~~~

Ini akan jadi malam yang panjang.

Aku tidaklah  suka kerja lembur  tapi sejak aku memintanya, kemudian tidak ada yang bisa kulakukan tentang hal ini. Hal-hal harus selesai malam ini, harus diselesaikan malam ini. Dengan berat  kuhembuskan napas berat, melangkah menuju pemberhentian bus disaat matahari mulai tenggelam.

Apa yang tidak kuharapkan adalah –

“Butuh  tumpangan?”

“Baekhyun? Apa yang masih kau lakukan di sini?”

Dia mengedikan bahunya dari dalam mobil. “Pikir kau mungkin butuh tumpangan.”

~~~

“Ini terlihat cantik.”

“Dan aku tidak membutuhkan itu.” Kurebut permadani  darinya dan menaruhnya kembali kedalam tumpukan. Dia menyentuh hampir semua barang yang ada dalam toko dan aku hanya khawatir mungkin dia membuat masalah karena wajahnya tidak terlihat apapun kecuali masalah.

Baekhyun meraihnya kembali dan mengamankannya ke dalam genggamannya dengan aman, seolah takut aku mungkin mengambilnya lagi sekali lagi. “Aku tidak peduli jika kau tidak membutuhkannya, aku mungkin membutuhkannya.” Dia menjelaskannya sendiri.

“Apa yang akan kau lakukan dengan itu?” tanyaku.

Kulihat kedua matanya menelisik, menemukan sesuatu untuk satu serangan balik  dan dia melompat dengan lega ketika dia menemukan jawabannya. “Permadani. Aku akan –apa yang bisa kulakukan dengan permadani ini?” gumamnya dibalik napasnya dan aku terkekeh, melihat betapa menyenangkannya dia terlihat sekarang. Beginikah yang dia rasakan ketika dia melihatku cemas  dan mendramatisir.

“Hana.”

Aku berbalik, meninggalkan dia sendirian, mencari tahu permadani  apa yang bisa lakukan baginya ketika aku mengirimi senyuman menyenangkan  pada Yixing, sekarang pekerjaanku hampir selesai untuk malam ini. “Okay, aku sudah mencetak surat pengajuan pembayaran tersebut. Tolong bisakah kau cek alamatnya lagi dan juga untuk persediaan-persediaan  yang kau minta?”

Aku menatapnya dan Yixing tidak ketinggalan untuk bertanya padaku tentang laki-laki yang tidak familiar ini. “Jinae tidak ada?”

“Tidak, kita sedikit ketinggalan hari ini jadi aku tidak punya pilihan lain kecuali melakukannya tanpa dirinya.” jawabku, berfokus pada menyakinkan semuanya sudah dalam daftar.

“Biasanya, jika tidak ada Jinae, pasti akan ada Sehun, dan ini …?”

Kuikuti arah matanya pada Baekhyun, dan sekarang dia sedang disekitar area lampu meja, satu tangannya sibuk membalik  on dan off lampu  itu dan tangan lainnya menyentuh lampu-lampu yang lain, melihat sambil membuat raut muka tidak senang dengan barang itu.

“Maaf. Kurasa dia hanya tidak bisa menjaga tangannya sendiri.”

Yixing tertawa kecil. “Tidak apa.”

“Ini. Aku sudah menanda tanganinya.”

“Okay, kalau begitu aku akan mengirim pekerjaku untuk mengirim barang-barang sesuai yang dijanjikan.”

“Besok.”

“Besok pagi-pagi sekali.”

Aku berterima kasih pada Yixing sebagai balasan dan mempercepat kecepatanku menuju Baekhyun dan berkata. “berhentilah menyentuh barang-barang.” Diantara eratan gigiku dan berjalan keluar toko dengan rasa malu.

Baekhyun berhasil membawaku untuk makan malam, bukannya aku mengeluh karena aku lapar –aku membuatnya jelas ketika aku menerima tawarannya dengan “Hanya karena aku lapar” dan dia menjawab dengan “Okay” – kita menuju ke toko ini yang membuat rebusan  seenak ini dan aku tidak tahan kecuali terkejut akan rasanya, membuat dia tertawa terhadap raut muka tak ternilaiku.

“Menakjubkan, aku tahu.” Dia mendiskripsikan ekspresiku dengan kata-kata disaat dia  menumpahkan  semangkok penuh nasi kedalam rebusan  dan mencampurnya bersama-sama.

Aku mengikuti aksinya dan termenung untuk sesaat untuk memulai percakapan sementara dia jelas-jelas menikmati makanannya. “Katakan padaku, kau sungguh  menjanjikan  Chanyeol untuk mendekorasi ulang interior Cafennya sebagai hadiah pembukaannya?”

“Sungguh.”

“Dan setelah tiga tahun.”

“Setelah tiga tahun. Aku tidak memiliki cukup uang kala itu. Aku hanya seorang murid, mayor pada sesuatu yang benar-benar tidak kuminati dan disamping itu, secara harfiah aku benar-benar senang menulis dan membuat satu debut tapi itu tidak terjual. Chanyeol tidak lebih baik tapi paling tidak dia berani, sekali dia memiliki lisensi barista, dia langsung mempertaruhkan semua uangnya tanpa memikirkan konsekuensinya, membuka sebuah toko dan disinlah dia.”

“Jadi kau seorang penulis.”

“Iya. Aku terkenal. Aneh saja kau tidak mengenalku.”

“Aku benar-benar tidak suka membaca.”

Dia mengangguk, setuju dengan penjelasanku. “Yeah, wajahmu mengatakan kau sunguh bukan orang kutu buku.”

“Oh, kau bilang wajahku menunjukkan kekurang pintaranku?”

“Aku tidak mengatakan begitu!”

Kami makan, dan sekali kami bicara, dan kemudian kami bercekcok karena kami hanya suka saling membuat gugup dan mungkin menyadari diri kami sedang berjalan. Atau lebih seperti kami suka bercanda bahwa ini adalah pertemuan club mingguan karena hanya itulah kami berdua bisa tersambung.

“Lebih seperti sekumpulan dukungan. Dan aku akan seperti, kita semua dalam kebersamaan ini, memberkatimu dan memberkati kita semua. Okay selanjutnya siapa yang ingin  menggerutu  tentang hubunganmu yang gagal dan mantan tidak bergunamu?” dia menaikkan satu tangannya, bicara bukan pada siapa-siapa, menghadap pada sungai yang tenang.

Aku tertawa, sunggu keras dan aku harus memukul lengannya beberapa kali untuk membuatku tetap tenang dan membuatnya diam. “Aku berharap mereka bahagia, sungguh.”

“Sungguh?”

“Sungguh. Terkadang, kau hanya harus terbuka dan menerima kenyataan dan hanya kemudian kau bisa move on.” Karena begitulah bagaimana aku move on ketika aku kehilangan orang tuaku. “Ketika kau melepasnya, hidup menjadi lebih baik setelah itu.”

“Dan datanglah kencan buta yang sukses!” bunyinya, pura-pura membuat ekspresi senang di wajahnya.

“Tidak ada kemajuan.”

“Tidak ada kemajuan?” sekarang bahwa kami duduk saling berdampingan di atas salah satu anak tangga, cukup dekat bisa kurasakan pengkuan kami saling bersentuhan, kedua mataku berfokus pada jemari-jemariku yang bermain yang kuletakkan diatas pangkuanku disaat aku tersenyum dengan getirnya pada diriku sendiri.

“Nope.”

“Apa yang tidak dia lihat dalam dirimu?” tanyanya, dia berfokus hanya padaku dan harus kukatakan pandangannya yang dalam terhadapku, menganalisaku dalam diam membuatku merona.

“Ini hanya aku.” Ini benar. Tidak ada yang salah tentang Kim Minseok. Dia sempurna dan dia terbuka untuk kencan selanjutnya tapi akulah yang menahan diriku. Untuk alasan yang tidak bisa kutemukan.

“Aku tidak melihat apapun yang salah denganmu.” Gumamnya dan hal selanjutnya yang kutahu, kurasakan tubuh seseorang padaku dan kedua tangan yang melingkar padaku, menarikku padanya. Bisa ku cium aromanya yang begitu harum yang kurasa aku  tidak akan pernah mudah untuk melupakannya ketika kepalaku mendarat dengan benar di dadanya dan aku merasakan kepalanya berada di atas kepalaku, jari-jarinya yang panjang  menggosok-gosok  lenganku.

“Ada apa dengan pelukan ini?”

“Aku hanya berpikir aku berhutang satu pelukan atas apa yang terjadi di pernikahan itu.”

Meskipun terperangkap berada dalam pelukannya, aku berhasil mendongakkan kepalaku untuk melihat padanya. Aku tidak bergerak  atau melawan untuk keluar karena aku ingat betapa hangatnya rasanya memilki seseorang yang memelukmu ke dalam pelukannya yang aku hampir tidak ingin membiarkan momen ini pergi.

Berharap tetap seperti ini sedikit lebih lama lagi.

 

TBC

 

 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “The Pathetic Ex-Lovers Club |Chapter 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s