The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 15c

tumblr_n08e392n6n1sz6du8o2_1280

Tittle     :  THE  MARRIAGE  LIFE  OF MR  BYUN BAEKHYUN (Chap 15c)

Author  :  PJ

Cast       :

  • You (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan
  • Park Chanyeol
  • and other member of EXO

Rate       : PG -17

Length  :  Chapter

Genre  :  Romance  , comedy

Greeting  !!  Hello  guys  i’m back again. STILL, dengan  hasil  translitanku  dari  fanfic  favorite ku ‘ The  Marriage Life  Of Mr Byun  by sundaysundaes ‘.   Walaupun  tidak  se bagus  aslinya, tapi tetep saja  telah  menguras otakku sangat  keras, dan semoga  kalian  bisa  menikmatinya, ya..walaupun  agak  berantakan  bahasanya,just keep reading  guys, dan jangan  lupa  like and comentnya, Oya ,kau bisa  cek  Original  storynya di sini,

Link  : http://www.asianfanfics.com/story/view/426081/15/the-marriage-life-of-mr-byun-romance-you-exo-luhan-humor-baekhyun-chanyeol

Previous

HAPPY  READING  !!

Chapter 15c!

Answers

“Kau tahu apa yang ingin kulakukan selanjutnya?” tanyamu, menyerutup kopi panasmu dan tersentak ketika minuman panas  membakar lidahmu. “Damn it!”

Baekhyun menyingkirkan kopi menjauh dari tanganmu dan menawari mu  Slusheenya. Kau meneguk minuman dingin  itu untuk membasuh rasa  terbakar itu, tapi sekarang kau malah membuat otakmu membeku.

“Kau payah,” komentar Baekhyun disaat kau mengerang dan mencoba menggoyang rasa dingin dengan melompat-lompatkan kakimu –seolah itu membantu. “Apa yang ingin kau lakukan? Kuharap kau tidak memintaku untuk pergi ke kompetisi tari ayunan atau apa, karena itu sudah terlambat dan aku merasa tidak cukup lancang  untuk memakai celana kulitku malam ini.”

“Haha, lucu,” responmu, memutar bola matamu. “Tapi bukan, bukan itu yang ingin kulakukan.”

“Kemudian apa?”

“Ikutlah denganku,” jawabmu, meraih tangannya dan memimpin dia ke dalam sebuah taman yang indah, dimana rumput hijau yang gelap terbentang dengan sempurnanya seperti karpet di bawah langit yang berbintang. Karena ini sudah larut –sekitar jam sembilan malam –Taman hampir sepi. Hanya ada beberapa bangku yang sedang diduduki dengan beberapa pasangan yang secara diam-diam saling melakukan hal-hal tidak senonoh di tempat umum dan kau mengerutkan hidungmu dengan rasa jijik pada mereka.

Kau mencoba mencari tempat yang sempurna dimana kau bisa memandang langitnya malam tanpa ada orang-orang yang mengganggumu. Setelah menelisik sekeliling sekitar maksimal dua menit, kau putuskan hanya membentangkan mantelmu di atas rumput yang halus –sehingga itu tidak bisa menodai pakaianmu atau membuat kulitmu terasa tertusuk duri–dan kau duduk di atasnya, memberi sinyal pada Baekhyun untuk duduk juga.

“Ini idemu dari sebuah kencan?” tanyanya, melihat dengan curiga pada tempat dimana kau duduk. “Bagaimana kalau ada ular atau cacing atau sesuatu yang bahkan lebih –“

“Oh, diamlah dan duduk saja, Baek,” kau menariknya dengan secara tidak lembut sehingga dia terjatuh dengan lututnya terlebih dahulu dan secara proses menjatuhkan slusheenya.

“Damn it!” Baekhyun meringis, melihat pada gelasnya yang setengah beisi Slushhe menjadi tumpah ke rumput yang dingin itu. “Lihatlah apa yang telah kau lakukan! Kau membuatku kehilangan minumanku,” dia menggerutu disaat dia duduk disampingmu.

“Sorry, sorry,” katamu, menepuk-nepuk lengannya dengan cara yang nyaman disaat kau membaringkan punggungmu. “Woaaaah~ begitu banyak bintang di langit malam ini! Ini pasti hari keberuntunganku~”

Baekhyun menghembuskan udara pada kata-katamu tapi kau menagkap dia menyembunyikan sebuah senyuman dari melihat ekspresi senang di wajahmu. Dia meregangkan kedua tangannya, menggerutu  dengan keras pada malam sebelum dia melepaskan mantelnya dan menutupi tubuh bagian atasmu dengan itu.

“Gentleman sekali,” tambahmu, menyeringai dengan menggodanya padanya.

“Diamlah,” dia balas membentak di saat dia melempar dirinya sendiri ke sampingmu dan menghela napas dengan panjang dan berat. “Ini satu omongan klise yang kau tarik, Sweetheart. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir  aku akan terbaring dengan kekasihku di taman seperti ini.”

“Ya, baiklah, ini semacam klise, tapi aku tahu kau diam-diam menyukainya, Baekgu~” kau tertawa geli sambil bergeser lebih mendekat padanya, mencoba lebih mencari kehangatannya disaat kau memakai mantelnya seperti sebuah selimut. “Apa kau ingat ketika kita pergi menonton Iron Man bersama-sama? Aku harus memohon padamu agar kau meminjami jaketmu, tapi lihatlah kau sekarang~” kau mencondong ke atas untuk mencubit pipinya. “Laki-laki yang baik sekali~”

“Memang ada apa denganmu?” dia menggerakkan tubuhnya ke samping dan menggelitiki perutmu sampai kau merasa ingin mati karena tertawa.

“Jadi, seperti,” kata Baekhyun di saat kedua matanya menelisik dari satu titik terang di langit ke yang lainnya. “Apa yang kita lakukan? Memandang bintang?”

“Yep,” jawabmu, “Bukankah ini bagus?”

“Tidak. Ini membosankan.”

Kau mengerutkan hidungmu padanya. “Mungkin seharusnya kuundang saja dua anak kurang ajar itu untuk membuat hidupmu lebih berwarna.”

Baekhyun mendesah disaat rasa jengkel menghantamnya sekali lagi. “Aku akan membunuh anak-anak kurang ajar itu.”

Kau hanya tertawa dan menggerakkan tubuhmu untuk  tidur miring, sehingga kau bisa mengagumi  profil sisinya. “Baekhyun?”

“Hmm?”

“Kemana kau akan pergi setelah kau lulus?”

Dan Baekhyun mematung karena pertanyaan itu. Kau bisa lihat bagaimana dia menarik napas dengan tajamnya, tapi dengan cepat mengumpulkan dirinya dengan benar untuk menjawabmu. Dia tidak melihat ke arahmu, hanya menetapkan pandangan matanya pada langit yang berbintang itu. “Aku masih tidak tahu, sebenarnya. Maksudku aku tahu aku ingin mewujudkan impianku menjadi seorang musisi, tapi …”

“Tapi apa?”

“Tapi aku tidak tahu dimana tujuanmu,” katanya dan memutar tubuhnya ke samping juga, menghadapimu langsung. “Ke mana kau akan pergi?”

“Kenapa itu masalah ke mana aku pergi?” tanyamu, suara ringan dan jenaka karena kau hanya menangkap secercah  kesedihan dan ketidak pastian dalam kedua matanya. “Apa karena kau tidak bisa hidup tanpaku? Kau tidak bisa bernapas tanpaku? Kau tidak bisa –“

Dia memotongmu dengan sebuah ciuman yang keras, dan menyesakkan di bibirmu. Itu tidaklah singkat. Tidaklah inosen. Itu semacam ciuman bibir-yang mememarkan. Ciuman yang selalu membuatmu terengah-engah dan menginginkan  lebih setelah dia menarik dirinya.

“Kau menjadi lebih dan lebih sepertiku, apa kau tahu itu?” tanya Baekhyun, menyeringai di bibirmu sebelum dia mulai menggigit bibir bawah seperti biasanya. “Tapi kita hanya butuh satu orang yang menjadi orang yangmenyebalkan, arogan  dalam hubungan kita, dan posisi itu sudah diambil, Nona.”

“Akhirnya kau akui bahwa kaulah orang brengsek?” tanyamu, menyusupkan jari-jarimu ke dalam rambutnya. “Oh, dunia indah lagi.” Kau tersenyum kedalam ciuman dan hanya lebih mencoba mendalaminya sekali lagi tapi dengan hati-hati dia menarik dirinya.

Wajah Baekhyun tidak menunjukkan rasa senang bagaimanapun. Tatapan matanya melembut disaat kedua matanya menelisik pada setiap bagian wajahmu, tapi dia terlihat serius ketika dia membisikkan, “You’re beautiful.”

Dan kau merona karena Baekhyun benar-benar tidak pernah mengatakan hal-hal romantis seperti ini dengan semua keseriusannya dan itu hanya mengejutkanmu. “Ada apa dengan semua keseriusan, Baekgu?” kau mencoba terdengar jenaka, bahkan menambahkan nama panggilannya yang baru untuk menggodanya.

Baekhyun tidak mengeluh atau menjawab untuk beberapa saat. Dia hanya membelai rambutmu dengan lembut, menyibak ponimu dari kedua matamu dan menatap kedua matamu. Cara dia menatapmu membuatmu merasa seperti kaulah dunia baginya. Kau berpaling, tiba-tiba merasa gugup dan malu ketika kau berpikir bahwa mungkin dia bisa melihat hal yang sama dalam matamu.

“Kau tahu,” Baekhyun memulai, mengusap-ngusap sisi wajahmu melingkar dengan ibu jarinya dengan nyaman, “Aku baru sadar aku benar-benar tidak pernah mengatakan itu dengan keras. Bahwa kau cantik. Bahwa kau sangat cantik.” Dia pejamkan kedua matanya dan menyatukan dahinya padamu. “Dan kau pantas untuk mengetahui itu. Aku seharusnya mengatakn hal-hal seperti ini lebih sering, maafkan aku.”

Kau menangkup wajahnya dan mengarahkan bibirnya padamu, menekannya ke dalam cara yang paling inosen. Setelah dia mundur ke tempatnya semula, akhirnya kau menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.

“Aku juga tidak tahu, Baek. Tentang ke mana aku pergi setelah kelulusan, maksudku.” Kau tersenyum dengan lembut dan membiarkan dia bermain-main  dengan  jemari-jemarimu. Situasi ini terasa saja seperti bagaimana hari pagimu bersamanya seperti biasanya. “Oh Tuhan, kita lulus besok, dan aku masih tidak memiliki satupun petunjuk tentang apa yang akan kulakukan dengan hidupku.” Kau akhiri kalimatmu dengan satu tawa kecil yang canggung.

“Apa kau takut?” tanya Baekhyun, menelusurkan jari-jarinya sepanjang rahangmu dengan lembut.

“Tentang apa?” tanyamu, mendesah dibawah sentuhannya yang menggoda.

“Tentang masa depan?” ulangnya dengan jelas sekali lagi. “Tentang kita dewasa? Tentang hidup?”

Kau tersenyum lagi, memejamkan kedua matamu disaat dia selipkan rambut-rambut halus di belakang telingamu. “Aku selalu takut dengan masa depan, Baek. Kita tidak tahu apapun tentangnya, itulah kenapa aku takut. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan tentangnya, kan?”

Baekhyun hanya membalas bergumam setuju.

Ada satu pertanyaan yang ingin kau tanyakan padanya, dan itu terlihat seperti dia  ingin menanyakannya juga. Tapi kalian berdua tetap menutup mulut kalian dan hanya saling menikmati pertemanan untuk sesaat.

Bagaimana tentang kita? Apa kau takut tentang apa yang akan terjadi pada kita di masa depan?

Kau dalam diam  menjawab kembali pikiranmu sendiri, terlalu halus bagi Baekhyun untuk didengar.

Ya.”

***

“Ada satu hal terakhir yang ingin kulakukan sebelum kita pulang,” kata Baekhyun di momen kalian berdua melangkah tepat di depan lorong utama kampusmu. Saat itu sudah jam dua pagi, dan jujur, kalian berdua seharusnya sudah berada di tempat tidur karena tujuh jam dari sekarang, upacara kelulusanmu akan dimulai. Setelah seharian tertawa dan bercekcok satu sama lain, kau seharusnya merasa lelah dan  mengantuk  saat itu, tapi tidak satupun lari ke pembuluh darahmu. Tulang pipimu masih terangkat begitu tinggi di wajahmu; sebuah senyum masih terlihat dengan terang-terangan  di bibirmu. Kau tidak merasa lelah  sama sekali, hanya rasa senang, kebahagiaan, dan hanya satu yang  bisa kau pedulikan saat itu adalah Byun Baekhyun dan hanya dia.

Kau bahkan meringis pada ke-cheesy-an pikiranmu sendiri.

“Yeah?” tanyamu, “Dan apa itu?”

“pejamkan matamu,” katanya, menyeringai dengan simpel ketika kedua matanya melekat padamu.

Kau picingkan kedua matamu dengan rasa curiga. “Kau tidak akan meninggalkanku sendirian di sini, kan?”

Baekhyun menghela napas dengan keras dan memutar bola matanya. “Kapan kau pernah akan mempercayaiku? Aku tidak akan mengerjaimu, sumpah.”

“Baiklah,” kau mendesah dan memejamkan kedua matamu.

“Jangan mengintip.”

“Okaaay.”

“Jika kau mengintip, aku akan menutup matamu dengan kain dan –“

“Diamlah dan pergi saja dengan apapun yang ingin kau lakukan, Baek.”

“Okay,” akhirnya dia berkata, cukup mempercayaimu untuk tetap menutup matamu disaat dia letakkan tangannya kelingkari matamu. “Tetaplah pejamkan matamu dan ikuti aku.”

“Kemana kita pergi?” tanyamu disaat dia menarikmu ke depan dan kau putuskan hanya untuk mengikutinya untuk sekarang. “Apa kau akan membawaku ke tempat di mana kau akan membunuhku, Byun Baekhyun?”

“Ha-ha, lucu,” jawabnya, dan kau bisa membayangkan dia sekali lagi memutar matanya padamu. “Diam saja, dan kau akan tahu ketika aku biarkan kau tahu.”

“Ooh, penyuruh  sekali,” tambahmu, cekikikan. “Kau hot sekali ketika kau menjadi menuntut, kau tahu itu?”

“I’m always hot, baby, please,” selorok Baekhyun dengan sebuah tawa. “Hati-hati. Menginjak batu.” Dia naikkan tanganmu lebih tinggi dan kau meniru gerakannya dengan menaikkan kakimu lebih tinggi disaat kau berjalan, melewati batu loncatan.

Kau mendengar suara derakan  kunci-kunci dan kau tautkan kedua alismu disaat kau bertanya, “Apa kita pergi ke Aula utama?”

“Lebih seperti Auditorium,” katanya, “Apa kubilang padamu tentang diam?”

“Bagaimana kau mendapatkan kunci itu?”

“ku minta Mrs. Kim untuk meminjamiku ini.”

“Bukankah dia membencimu?”

Baekhyun mengeluarkan satu tawa kecil dan suaranya menjadi lebih dekat dan lebih dalam ketika dia merespon, “Kau juga membenciku kala itu, tapi sekranag kau mencintaiku, kan?” dan dia tidak memberimu kesempatan untuk menjawabnya karena dia sudah menanam bibirnya padamu. Dia memberimu  salah satu ciuman tersingkat –tapi tidak kurang menyesakkan –yang tidak pernah kau miliki sebelumnya sebelum dia menarik dirinya dengan tawa kecil yang halus. “Katakan saja apapun itu mungkin ketika Mr. Byun melakukan kharismanya.”

Dan ya, kau telah kagum  begitu intens olehnya bahwa kau tidak tahu apa yang akan kau lakukan jika dia keluar dari hidupmu. “I am thoroughly amazed, Mr. Byun.”

.

.

Sorry guys, unfinished ……..

.

Advertisements

6 thoughts on “The Marriage Life Of Mr Byun Baekhyun |Chapter 15c

    1. yup! sorry, karena akhir2 ini authornya super sibuk, ini aja hasil beberapa bulan yg lalu, karna merasa utang sama para reader, jadi aku update aja meski blm finish 🙂 kagak pa2 kan? thx udah baca n komen

      Like

  1. Sweeeettt banget ini sih baekhyun 😣
    Aku sampai terbawa suasana, senyum-senyum sendiri, membayangkan itu benar-benar terjadi padaku hahhaa 😂
    Terbayar sudah rasa rindu ku dengan moment sweet ini, thanks mom sudah kembali 😘😘

    Like

  2. wow baekhyun akan melamar kah?? jika iya, yess marriage life akan segera datang. ngarep banget thor.
    iya nih nungguin trus, lama bgd gk update kira in dah angkat tangan.. huhu..
    semangat translatenya biar diupdate trus haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s